Aku hanya diam, saat Willy menatapku. Aku harus bersikap tenang, meski tubuhku sedang tidak merasa begitu.
"Kenapa diem?" tanya Willy yang akhirnya memecah keheningan diruangan ini. "Lo gak mau ngasih tanggapan buat pernyataan gue tadi?" tambahnya.
"Tanggapan apa?" aku benar-benar gugup.
"Gue bilang, lo itu cewek yang special buat gue." dia mengulang kalimatnya.
"Ohh." aku tak mampu menatapnya, jadi aku memalingkan wajahku.
Willy yang tadi berdiri didekat jendela, segera berjalan mendekatiku. Aku yang menyadari itu, segera mundur untuk menjauhinya. Setelah dia benar-benar semakin dekat, dan jalanku untuk mundur sudah buntu, aku langsung membuka pintu ruangan ini, dan berniat pergi saja. Tapi sebelum aku sukses untuk menjauh dari Willy, dia segera menahan tanganku, agar aku berhenti. Ahh... jantungku berdetak makin kencang.
"Mau kemana sih?" Willy menatapku tajam.
"Gue... haus. Iya, haus. Jadi mau ambil minuman dulu kedapur." jawabku gugup.
"Biar gue suruh pembantu gue aja yang ambilin lo minum. Lo tetep disini." ujar Willy tegas.
"Ta... Tapi....." ucapanku terhenti, saat Willy memencet sebuah tombol pada dinding yang ada didekatku.
"Bawain minum kekamar saya." ujar Willy sambil mendekatkan mulutnya pada sesuatu yang menempel ditembok itu. Yang tadi dia menekan tombolnya. Bentuknya seperti speaker kecil. Entahlah, aku kurang mengerti bagaimana menjelaskan bentuknya.
Tak lama, minuman yang aku butuhkanpun datang juga. Hah! Apa-apaan ini? Bolehkan aku takjub pada semua hal yang ada dirumah ini? Ini benar-benar keren! Eh, tapi tunggu. Tadi Willy bilang suruh bawa minumannya kekamar dia. Berarti.... ahh jadi ini kamar Willy?
"Buruan minum. Tadi katanya lo haus." suara Willy membuyarkan lamunanku.
"Oh, i... iya." jawabku sambil meneguk habis minuman yang tadi dibawa oleh salah satu pembantu Willy.
Suasana kembali hening. Aku dan Willy hanya diam. Aku masih berdiri mematung, sambil bersender pada tembok dekat pintu kamar Willy. Sedangkan Willy duduk di ranjangnya, sambil menunduk memainkan jari-jarinya tak jelas.
"Will." akhirnya aku memecah keheningan ini. Willy segera menatapku, saat tiba-tiba aku memanggil namanya.
"Ya?" dia tersenyum. Astaga. Tolong berhenti memperlihatkan senyum seperti itu. Jantungku bisa meloncat keluar jika terus-terusan seperti ini. Dasar!
"Ehm... tolong jangan pecat pembantu lo yang tadi ya." ujarku ragu.
"Kenapa lo gak mau gue mecat dia?" tanya Willy.
"Kasihan." jawabku singkat. Karena memang itulah yang aku rasakan. Aku merasa kasihan pada pembantu Willy yang itu.
"Oke. Gue gak akan pecat dia." ujar Willy enteng.
"Hah!" aku membelalakan mataku. Benarkah? Semudah itu meminta Willy melakukannya? Aku pikir, tadi aku harus bersujud dulu didepannya, baru dia akan mengabulkan permintaanku untuk tidak memecat pembantunya itu. Tapi ternyata.... Ahh sudahlah!
Willy menatapku yang masih terkejut, kemudian bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiriku. Apa lagi kali ini? Aku tak punya alasan lagi untuk menghindar. Akhirnya aku hanya diam, menunggu Willy benar-benar sampai didepanku. Dan kini, dia sudah berada tepat dihadapanku. Dia sedang menatapku. Yang bisa aku lakukan, hanya menunduk. Tak berani menatap padanya.
"Kura-kura." panggilnya. Dan dengan terpaksa, aku menatap padanya. Sesuatu yang sejak tadi kuhindari.
"Ke... Kenapa?" tanyaku gugup.
"Gue laper." dia menyeringai. Aku menarik nafas berat.
"Gue juga." aku nyengir padanya, mencoba menetralkan suasana. Detik berikutnya, kami berdua sama-sama tertawa.
"Dasar!" Willy mengacak-acak rambutku. "Yuk, makan!" ajaknya, sambil menggandeng tanganku untuk keluar dari kamarnya. Kami menuju ruang makan.
Sampai diruang makan, Willy segera meminta para pembantunya untuk menyediakan makanan. Setelah siap, akhirnya aku dan Willypun makan bersama. Hari sudah sore. Aku bingung menyebut acara makan ini dengan apa. Makan siang kah? Makan sorekah? Atau makan malam? Terserah.
***
Malampun datang. Willy memintaku untuk memakai pakaian milik kakaknya lagi. Akupun menurut. Kupillih satu dari banyak baju yang ada dilemari besar itu. Setelah berpakaian rapi, aku segera beranjak menuju halaman belakang, tempat dimana pesta diadakan.
Begitu sampai dihalaman belakang, bisa kulihat, semuanya sudah berkumpul. Willy, Lucky, Bima, Bian, dan Lulu sudah duduk manis dimeja yang disediakan Willy. Mereka sedang berbincang dan juga minum bersama. Lulu bahkan bisa ikut larut dalam perbincangan mereka. Aku bergegas menghampiri mereka semua.
"Selamat malam." sapaku ramah. Mereka semua menoleh serentak kearahku.
"Malam." sahut mereka bersamaan. Kemudian kurasakan mereka semua menatap kearahku. Tatapan yang tak bisa kuartikan. Adakah yang salah denganku?
"Cantik." cetus Bian tiba-tiba.
"Sakura." Lucky menghampiriku yang masih berdiri tak jauh dari meja tempat mereka semua duduk. "Ayo, duduk." Lucky menarikku dan memberiku tempat disamping Willy untuk duduk.
Aku menatap pada Willy. Dia hanya tersenyum, lalu meneguk minuman ditangannya. Kualihkan pandanganku pada anak-anak yang lainnya. Bian dan Bima masih menatapku aneh. Aku sedikit takut dengan tatapan mereka berdua. Seperti serigala yang akan menangkap mangsanya. Dan Lucky, dia juga menatapku. Tapi hanya tatapan biasa. Sementara Lulu, menatapku seperti orang 'maaf' bodoh.
"Lulu." panggilku pada Lulu.
"Eh?" dia tersadar dari semua pemikirannya.
"Lo cantik." pujiku. Aku tak bohong. Kalau sedang memakai dress seperti ini, Lulu kelihatan lebih cantik. Rambutnya yang panjang terurai indah. Meski kacamata yang dipakainya masih sedikit mengganggu indah parasnya.
"Lo lebih cantik, Sa." Lulu balik memujiku.
"Kalian berdua sama-sama cantik." Lucky menengahi.
"Bisa mulai pestanya sekarang?" tanya Willy.
"Tentu." Lucky menangguk mantap. Diikuti oleh kami semua.
"Apanya yang dimulai?" tanyaku bingung.
Willy menarik tanganku, tanpa menjawab pertanyaanku barusan. Dia membawaku duduk disebuah kursi, yang didepannya ada sebuah microfon. Lucky, Bima, dan Bian juga ikut beranjak menuju tempat yang sama. Baru kusadari, disini terdapat dua buah gitar dan satu set drum. Juga dua microfon yang ada didepanku, dan didepan Willy yang saat ini sedang duduk disebelah kananku. Begitupun Lucky, dia berdiri disamping kiriku, dengan memegang gitar. Bian berdiri dibelakang Willy dengan gitar yang satunya lagi. Lalu yang terakhir, Bima. Dia sudah duduk manis dengan dua buah stick drum ditangannya. Bersiap untuk menggebuk drum yang berada dihadapannya itu.
"Ini apa?" tanyaku bingung.
"Kita nge-band bareng, Sakura." Bimalah yang menjawab pertanyaanku.
"Winter feat Sakura." ujar Bian antusias.
Aku menoleh pada Willy, meminta penjelasannya. Oke. Winter. Aku tau kalau itu adalah nama band Willy bersama ketiga temannya ini. Aku tau itu dari Lulu, dihari pertama aku membuat masalah dengan Willy. Dihari yang sudah ditakdirkan untukku, hingga bisa mengenal mereka semua.
"Anggap aja, ini salah satu latihan kita untuk drama musikal nanti." ujar Willy. Tapi itu sama sekali tak menjawab pertanyaan yang berada diotakku.
"Kita duet." Lucky berbisik padaku. "Lo sama Willy." Lucky menunjuk pada Willy.
"Udah ngerti?" tanya Willy sinis. Aku menatapnya tajam. "Bisa lagu Boys Like Girls feat Taylor Swift yang judulnya 'Two is better then one'?" tanya Willy.
Aku mengangguk. Ya, aku bisa lagu itu. Bahkan aku menyukainya.
Tak lama, musik mulai dimainkan, dan Willy mulai menyanyikan bagiannya. Lalu disambut olehku. Kami duet menyanyikan lagu itu.
I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought
"Hey, you know, this could be something"
’Cause everything you do and words you say
You know that it all takes my breath away
And now I’m left with nothing
So maybe it’s true
That I can’t live without you
And maybe two is better than one
There’s so much time
To figure out the rest of my life
And you’ve already got me coming undone
And I’m thinking two is better than one
I remember every look upon your face
The way you roll your eyes
The way you taste
You make it hard for breathing
’Cause when I close my eyes and drift away
I think of you and everything’s okay
I’m finally now believing
That maybe it’s true
That I can’t live without you
And maybe two is better than one
There’s so much time
To figure out the rest of my life
And you’ve already got me coming undone
And I’m thinking two is better than one
I remember what you wore on the first day
You came into my life and I thought, "Hey,"
Maybe it’s true
That I can’t live without you
Maybe two is better than one
There’s so much time
To figure out the rest of my life
And you’ve already got me coming undone
And I’m thinking
I can’t live without you
’Cause, baby, two is better than one
There’s so much time
To figure out the rest of my life
But I’ll figure it out
When all is said and done
Two is better than one
Two is better than one
Sebuah lirik 'Two is better than one' menjadi penutup lagu yang indah ini. Syukurlah, aku bisa menyanyikannya dengan baik. Lulu langsung bertepuk tangan, begitu lagu selesai. Sedari tadi, dia hanya diam sambil menikmati penampilan kami.
"Gue rasa, kita perlu merekomendasikan lagu ini untuk masuk dalam daftar lagu di drama musikal nanti." ujar Willy tiba-tiba. Dia menatapku sekilas, lalu menatap pada ketiga temannya.
"Boleh juga." Lucky mengangguk.
"Iya nih. Udah gitu, kalian klop banget pas nyanyiin lagu ini." komentar Bian, sambil menunjuk padaku dan Willy.
"Perfect combination." Bima mengacungkan kedua jempol tangannya.
Aku tersenyum, lalu menatap Lulu. Dia juga ikut mengancungkan kedua jempolnya. Aku tersenyum padanya.
"Oke. Kalo gitu, sekarang waktunya makan." Willy bangkit dari duduknya, lalu beranjak menuju meja dimana Lulu duduk. Aku dan ketiga temannya, mengikuti langkah Willy.
Kami duduk bersama pada meja bundar yang lumayan besar ini. Willy menjentikkan jarinya, mengisyaratkan pada para pembantunya, untuk segera mengantar makanan kemeja kami. Tak lama, makanan itupun datang.
Kami segera menyantap makanan itu, dengan sedikit bicara. Suasana malam yang dingin, sedikit membuatku merasa kedinginan. Tapi dengan makanan panas yang sedang kusantap ini, rasanya jadi sedikit hangat. Menyenangkan juga tentunya.
Sesekali, aku melirik mereka semua yang sedang sibuk dengan makanannya, tanpa berbicara. Lulu. Tidakkah dia merasa bahagia? Dia duduk diantara Lucky dan Bima. Makan bersama empat cowok populer disekolah. Itu impiannya, bukan? Gadis seperti Lulu, berhak mendapatkan lebih dari ini. Lucky. Aku rasa, dia pantas menjadi pendamping Lulu. Aku tersenyum, lalu kembali pada makananku. Disampingku, tanpa ku sadari, Willy tengah menatapku lembut.
Pesta dilanjutkan dengan Bima dan Bian yang sibuk bermain kembang api. Lucky yang mengajari Lulu bermain gitar. Kurasa mereka mulai akrab, sekarang. Dan aku, awalnya aku hanya duduk sendiri dikursi yang ada dibawah pohon besar ini. Tapi kemudian Willy datang, dan duduk disampingku. Di tangannya, dia memegang sebuah jaket pink dengan bulu-bulu halus di bagian lehernya.
"Dingin?" tanyanya. Aku mengangguk.
Willy memasangkan jaket pink yang tadi dibawanya, padaku. Aku sedikit terkejut, tapi segera mengerti.
"Makasih." ujarku tulus.
Willy tersenyum, lalu menatap pada langit malam yang bertabur bintang. Sangat indah.
***
"Day 10"
Aku terbangun dari tidur singkatku. Mengapa ku bilang singkat? Karena semalam, Willy baru mengantarku kembali kerumah pada pukul 01:00 malam. Sebenarnya, pesta itu sudah berakhir sejak jam 11:00. Tapi aku masih punya tugas untuk membantu Willy membereskan semua yang dipakai dipesta. Padahal dia punya pembantunya yang membantu. Tapi dasar Willy! Dia selalu punya cara untuk menyiksaku. Terlebih lagi, saat dia harus mengantarku kerumah semalam, lalu berhadapan dengan Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu sama sekali tak marah padanya. Padahal Willy sudah membawa pulang anak gadis mereka sangat larut. Ah... sihir apa yang dipakai Willy?
Aku segera beranjak dari ranjangku, dan menuju kamar mandi. Setelah selesai bersiap dengan segala keperluan sekolah, aku segera turun kebawah, menuju meja makan untuk sarapan.
"Pagi, Ayah, Ibu." aku mencium kedua pipi dua orang yang sangat aku sayangi itu.
"Pagi sayang." ujar Ayah dan Ibu bersamaan.
Ibu segera memberikan sarapanku. Dan aku segera melahapnya. Baru dua suapan, aku sudah mendengar suara klakson dari mobil seseorang yang sangat kukenal. Willy. Seketika, aktivitas makanku terhenti.
"Itu, Willy?" tanya Ayah.
"Siapa lagi." Ibu melirikku dengan tatapan jahil.
Aku hanya mendengus kesal. Tidak bisakah Willy membiarkanku untuk menghabiskan sarapanku ini. Menyusahkan.
"Sudah. Sana temui Willy. Kasihan kalau dia nunggu lama." ujar Ibu.
"Tapi Sakura kan belum selesai sarapan, Bu." aku merajuk.
"Lanjut sarapan disekolah saja. Ayah kasih uang jajan tambahan." ujar Ayah sambil memberikan selembar uang seratus ribu padaku. Benarkan? Willy itu menyusahkan.
Aku mengangguk pasrah, lalu melangkah keluar rumah setelah berpamitan pada Ayah dan Ibu. Willy sudah menunggu dihalaman rumah.
"Kura-kura. Ayo cepet." Willy menarik tanganku untuk masuk kedalam mobilnya.
Menit berikutnya, mobil Willy sudah melaju meninggalkan halaman rumahku.
Disekolah....
Willy menyuruhku untuk membawakan tas dan bola basketnya sampai kelas.
"Kok lo nyiksa gue lagi sih?" aku memanyunkan bibirku.
"Gue gak nyiksa elo kok. Gue kan cuma ngasih tugas buat asisten gue." kilah Willy.
"Lo bilang, kita temenan, sekarang." aku mengingatkan Willy pada kata-katanya kemarin lalu.
"Tapi lo tetep harus ngejalanin tugas lo sebagai asisten tuan muda Willy." Willy mempercepat langkahnya menuju kelas. Akupun hanya pasrah mengikutinya.
Sesampainya dikelas, aku kaget melihat seorang gadis yang duduk bersama Lucky, Bima, dan Bian. Gadis itu sedang bermain gitar, dibantu Lucky. Aku menatapnya lekat. Gadis yang cantik. Rambut panjang. Putih. Dan.... mata yang indah.
"Lulu." desisku.
Gadis itupun menoleh padaku. Dia tersenyum menyambut kedatanganku dipintu kelas. Dia melepaskan gitar ditangannya, lalu berjalan menghampiriku yang masih terdiam di pintu kelas. Sedang Willy, sudah duduk manis dibangkunya.
"Sasa." gadis yang benar-benar Lulu itu, segera memelukku.
Aku tak membalas pelukan Lulu. Bukan karena tak suka Lulu memelukku. Tapi karena tanganku yang masih penuh dengan barang-barang Willy. Juga karena aku sangat terkejut dengan perubahan penampilan Lulu. Dia... sangat cantik. Tanpa kacamata.
"Selamat pagi." Lulu melepas pelukannya, lalu menatapku sambil tersenyum.
"Lulu." aku menyebut namanya sekali lagi. "Lo, pake softlens?" tanyaku.
"Iya." Lulu mengangguk.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Kemaren malem, pas pulang dari pesta dirumahnya Willy, kacamata gue jatoh dikamar. Gak sengaja gue injek." Lulu nyengir.
"Jadi, lo mutusin buat pake softlens?" aku menyimpulkan.
"Iya." Lulu tertunduk malu. "Gak pantes ya, Sa?" tanyanya.
"Pantes kok." aku memegang bahu Lulu. "Lo jadi tambah cantik."
Lulu tersenyum malu mendengar pujianku. Akupun bisa bernafas lega. Karena sekarang, tak ada lagi yang bisa memanggil Lulu dengan sebutan 'kacamata'. Aku melirik Willy. Dia sedang menatap kearahku dan Lulu. Entahlah, mungkin dia sedang menatap pada Lulu dengan perubahan Lulu yang menjadi semakin cantik. Eh? Aku tidak sedang cemburu kan? Untuk apa? Lagi pula, kini Willy sudah kembali pada sifatnya yang dulu. Kembali menyiksaku.
***
Jam pulang sekolahpun tiba. Sesuai jadwal yang sudah diumumkan oleh bu Arini, hari ini adalah hari pertama kami mulai melakukan latihan untuk drama musikal yang tinggal 8 hari itu. Sepertinya, kami harus berlatih dengan sangat keras.
Kini, semua siswa yang kemarin berhasil lolos audisi, sedang berkumpul di Aula sekolah, untuk memulai latihan pertama. Bu Arini memberikan penjelasan tentang konsep drama yang akan kami tampilkan nanti. Aku mendengarkan setiap penjelasan bu Arini dengan seksama. Maklumlah, ini kali pertamaku berpartisipasi untuk acara sekolah ini. Jadi aku harus sungguh-sungguh.
"Sakura. Willy. Ibu percaya pada kalian." bu Arini memberikan senyumnya pada aku dan Willy.
"Kita akan berusaha nampilin yang terbaik, bu." ujar Willy mantap.
Bu Arini mengacungkan kedua jempolnya pada aku dan Willy. Willy menatapku, lalu menggenggam tanganku erat.
"Siap?" tanyanya. Aku mengangguk.
Latihan hari pertamapun dimulai.
***
Dua jam sudah kami semua latihan. Hari sudah menunjukkan pukul 5 sore. Bu Arini mempersilahkan kami untuk pulang.
"Terima kasih untuk hari ini. Sampai bertemu lagi, besok." ujar bu Arini, menutup latihan kami hari ini.
Anak-anak yang lain, segera bersiap untuk pulang. Aku dan Lulu duduk disalah satu kursi di Aula itu. Beristirahat sebentar, sebelum pulang. Willy dan ketiga temannya, menghampiri kami.
"Kura-kura. Ayo pulang." ajak Willy padaku.
"Iya." aku berdiri dari dudukku, lalu mengambil tasku. "Gue duluan ya, Lu." aku pamit pada Lulu. Tak lupa juga pada ketiga teman Willy.
"Hati-hati ya." Lulu melambaikan tangannya.
Baiklah. Sepertinya, setelah hari ini, aku dan semua yang terlibat dalam drama musikal akan benar-benar sibuk. Terutama, tentunya adalah aku dan Willy yang menjadi peran utama. Kami akan sibuk menghafal koreo, lagu, dan juga naskah dramanya. Selain itu, aku juga harus melatih vocalku. Tak lupa dengan gerakan dance-ku yang masih sedikit kaku. Aku memang kurang bisa dibidang menari. Mungkin belum. Dan aku akan berusaha. Semangat!!!
***
"Day 11"
Mulai hari ini, tak banyak hal yang bisa kuceritakan. Aku tentu saja mulai sibuk dengan latihan drama. Meskipun aku juga tetap harus menjadi asisten Willy si popular boy itu.
"Day 12"
Sama seperti hari-hari sebelumnya. Pagi, aku dijemput Willy menuju sekolah. Disekolah, aku menghabiskan waktu dengan menerima perintah-perintah dari Willy. Pulang sekolah, aku latihan drama bersama teman-teman yang lain. Setelah latihan drama, aku diantar pulang kembali oleh Willy. Lalu malam datang. Dan aku tidur. Larut dalam mimpi.
"Day 13"
Dan pagi datang lagi. Lalu aktivitasku masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Aku masih Sakura dengan jabatan Asisten dari Willy si cowok populer nomer satu disekolah.
"Day 14"
Aku dan Lulu mulai memiliki lebih banyak teman. Senangnya.
"Day 15"
Lulu dan Lucky sepertinya semakin dekat. Dan itu membuat Bima dan Bian jadi cemburu. Ya. Sejak perubahan penampilan Lulu waktu itu, Lucky, Bima, dan Bian, sering mendekati Lulu. Terutama Lucky. Ah, tapi kalau Lucky sih, dia sepertinya memang sudah memperhatikan Lulu sejak mereka duduk semeja waktu itu. Semoga hubungan mereka lebih dari sekedar teman.
"Day 16"
Aku sudah semakin lama bersama Willy. Saling menatap. Saling memberi dukungan. Meski dia masih sering memerintahku. Entahlah. Tapi rasanya, aku semakin menyukai Willy. Entah dia?
"Day 17"
Oke. Ini adalah hari terakhir kami latihan drama. Besok, adalah hari penampilan kami. Dan kini, kami sedang melakukan latihan terakhir yang benar-benar menguras tenaga. Semuanya benar-benar serius. Bahkan, hari ini kami melakukan latihan hingga malam.
Bu Arini menghela nafas. Kini, kami semua sedang beristirahat, usai latihan akhir tadi. Aku duduk disebelah Lulu.
"Nih, minum." Willy memberikan sebotol air mineral untukku.
"Thanks ya, Will." aku menerima botol itu, lalu meminumnya.
"Buat gue mana?" Lulu mengulurkan kedua tangannya, yang menampakkan telapak tangannya yang halus pada Willy.
"Minta aja sama mereka." Willy menunjuk pada Lucky, Bima, dan Bian.
"Nih." Lucky memberikan sebotol air mineral pada Lulu.
"Makasih ya, Ky." Lulu menampilkan senyum manisnya pada Lucky.
"Yaaah, keduluan Lucky lagi deh." ujar Bima lemas, sambil memegang dua botol air mineral ditangannya.
"Ya udah, kalo gitu minumannya buat gue aja." Bian segera mengambil sebotol air mineral yang ada ditangan Bima. Awalnya, itu untuk Lulu.
Bima hanya diam, melihat Bian yang sudah meneguk air itu hampir habis. Aku, Willy, Lulu, dan Lucky yang melihat tingkah mereka berdua, hanya tertawa.
Tak lama, mata kami semua terfokus pada bu Arini. Sepertinya, bu Arini akan menyampaikan sesuatu yang penting. Kami semua meninggalkan segala sesuatu yang sedang kami kerjakan, lalu menatap pada bu Arini yang berdiri menatap kami semua.
"Akhirnya, kita sudah sampai pada latihan terakhir." ujar bu Arini, membuka pembicaraannya. "Ibu sangat bangga pada kalian. Kalian sudah melakukan latihan dengan baik. Rela pulang terlambat kerumah. Untuk itu, Ibu ingin mengucapkan terima kasih. Dan besok, adalah pertunjukkan yang sesungguhnya. Ibu yakin, kalian pasti akan menampilkan yang terbaik." bu Arini menghela nafas. Lalu melanjutkan.
"Sekarang, kalian semua boleh pulang. Istirahat. Dan bangun dengan semangat yang baru, esok pagi. Selamat malam." bu Arini menutup kata-katanya.
"Selamat malam, bu." ujar kami semua serentak.
Setelah itu, kami semua beranjak pulang. Seperti biasa, aku pulang diantar Willy. Lulu diantar Lucky. Sedangkan dua anak lucu itu (Bima dan Bian), mereka pulang berdua. Aku heran, mengapa anak populer seperti mereka berdua, tidak juga punya pacar.
Dirumah....
Willy mengantarku sampai rumah. Aku keluar dari mobil Willy, begitupun Willy.
"Mau mampir?" tanyaku, saat melihat Willy ikut keluar dari mobilnya.
"Nggak." dia menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah. "Cuma mau bilang selamat malam dan selamat tidur." Willy mendekatkan wajahnya padaku, lalu mengecup pipi kiriku sekilas.
Aku benar-benar terkejut, lalu menatap Willy dengan wajahku yang sudah memerah.
"Bye." Willy melambaikan tangannya, lalu masuk kedalam mobilnya dan pulang.
Aku memegang pipi kiriku yang dicium Willy. Apa maksudnya ini?
***
"Day 18"
Hari ini. Hari paling mendebarkan untukku dan juga untuk para siswa disekolah. Terutama yang ikut berpartisipasi dalam drama musikal. Sejak tadi pagi Willy menjemputku dirumah, kami tak saling bicara. Akh! Bagaimana ini? Kalau begini terus, bisa-bisa aku tidak maksimal dalam penampilan di drama musikal nanti. Willy..... ini gara-gara kau menciumku tadi malam. Aku jadi canggung berada didekatnya. Ahh semoga ini tak akan merusak penampilan di drama nanti.
Akhirnya, pertunjukkan yang paling ditunggu itu akan segera dimulai juga.
"Anak-anak." bu Arini memanggil kami. "Kalian sudah siap?" tanya bu Arini.
"Siap, bu." jawab kami semua serentak.
Bu Arini tersenyum, lalu menghampiri aku dan Willy.
"Sakura. Willy." panggil bu Arini.
Aku dan Willy segera menatap pada bu Arini.
"Kalian kenapa?" tanya bu Arini. Sepertinya, bu Arini menyadari perubahan sikapku dan Willy sejak tadi pagi. "Apapun yang terjadi diantara kalian, ibu harap tidak akan mengganggu performance kalian nanti. Ibu tau, kalian bisa menyelesaikannya." usai mengatakan itu, bu Arinipun pergi dengan tak lupa memberikan senyumnya.
Aku menoleh pada Willy, begitupun Willy. Kami saling memandang. Detik berikutnya, kurasakan Willy menggenggam tanganku.
"Gue minta maaf buat yang semalem." ujarnya. "Semoga itu gak akan ganggu perfom kita nanti. Kita ngelakuin ini buat sekolah kan? Urusan hati, kayaknya mesti kita kesampingin dulu deh." jelas Willy.
"Iya, Will. Kita harus nampilin yang terbaik buat ulang tahun sekolah ini." aku tersenyum pada Willy.
"Semangat." teriak Willy sambil mengangkat tangan kanannya dengan semangat.
Baiklah. Ini adalah pertunjukan yang sesungguhnya. Aku harus melakukan yang terbaik. Tak akan aku biarkan usaha kami selama seminggu terakhir ini menjadi sia-sia hanya karena perasaanku pada Willy. Aku harus menghilangkannya sesaat. Dan fokus pada penampilanku. Semangat!!
Pertunjukan dibuka dengan tarian memukau dari anak-anak. Lalu dilanjutkan dengan keluarnya aku, sambil menari pelan, dan bernyanyi. Semua melihat penampilan kami dengan tenang. Aku tak bisa memprediksi apa yang ada dalam otak semua penonton ini. Sukakah mereka pada apa yang kami tampilkan saat ini?
Aku sedikit gugup, tapi kemudian aku rasakan tangan Willy menggenggam tanganku erat. Mengajakku menari, lalu bernyanyi. Ini sangat romantis. Aku melihat pada bu Arini yang sedang menonton pertunjukkan ini. Bu Arini tersenyum. Aku anggap, itu semangat dari bu Arini. Aku akan melanjutkan pertunjukkan ini sampai selesai dan membuat semuanya berakhir sukses.
Riuh suara tepukan penonton, menggema diseluruh ruangan. Lampu yang tadinya gelap, kini kembali terang, usai penampilan kami. Kami semua yang berpartisipasi, menundukkan kepala, memberi hormat. Pertanda akhir dari pertunjukkan ini.
Kami semua kembali kebelakang panggung.
"Sasa, Willy, tadi kalian berdua keren banget." Lulu memelukku.
"Lo juga keren, Lu." aku membalas pelukan Lulu.
"Kalian semua hebat." terdengar suara bu Arini. Beliau langsung menghampiri kami. "Tadi itu adalah pertunjukkan yang sempurna. Kalian semua, hebat." ujar bu Arini, bangga pada kami.
Kami semua langsung memeluk bu Arini. Semua ini tak akan jadi hebat, kalau bukan karena bu Arini, bukan?
***
Malamnya, kami semua merayakan keberhasilan penampilan kami, di kafe milik keluarga Arisa. Masih ingat Arisa? Dia adalah gadis yang dulu pernah membuatku kesal dikantin sekolah. Sekarang, kami sudah menjadi teman. Dia juga ikut berpartisipasi untuk drama musikal tadi. Dan dia sungguh sangat berbaik hati, mengizinkan kami untuk merayakan keberhasilan kami di kafe nya. Ini gratis. Menyenangkan, bukan?
Usai merayakan keberhasilan di kafe milik keluarga Arisa, Willy mengantarku pulang seperti biasa.
Sesampainya dirumah...
"Pertunjukkannya udah selesai." ujar Willy. Kami masih berada didalam mobil.
"Iya." aku merasa lega.
"Lo seneng?" tanya Willy.
"Senenglah." jawabku singkat.
"Ini... hari ke-18 ya?" Willy menatapku. "Berarti, tinggal dua hari lagi."
"Berarti, penderitaan gue akan segera berakhir dalam waktu dua hari." aku tersenyum puas.
"Lo seneng, bebas dari gue?" tanya Willy sinis.
"Iyalah gue seneng." aku menyeringai.
"Ya udah, turun sana." usir Willy.
"Ihh... nyebelin." aku segera turun dari mobil Willy. Dan tanpa basa basi, segera masuk kedalam rumah.
***
"Day 19"
Hari ke-19 yah? Huh! Kenapa aku jadi lesu begini? Bukankah seharusnya aku bahagia? Nasib burukku akan segera berakhir, besok. Aku akan terbebas dari manusia semena-mena macam Willy. Tapi... benarkah aku akan terbebas?
-to be continued-

No comments:
Post a Comment