Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, September 19, 2013

KEBAHAGIAAN DAN KESUKSESAN


Ini cerita yang saya tulis untuk lomba. tapi gak menang wkak :D
temanya adalah "Goresan tinta yang menginspirasi"


Tiga orang anak manusia. Berpijak ditanah yang sama. Menghirup oksigen yang sama. Dan hidup untuk satu tujuan yang sama, yaitu kebahagiaan dan kesuksesan. Pertanyaannya adalah, bagaimana suatu tujuan itu bisa dicapai? Kebahagiaan dan Kesuksesan tidak diraih semudah membalikan telapak tangan. Butuh banyak usaha yang dikerahkan demi mencapai tujuan itu. Tapi benarkah yang kita butuhkan hanya usaha?
Ini adalah kisah tentang tiga anak manusia yang berjuang untuk menggapai tujuannya. Bahwa memang tak ada yang mudah untuk kebahagiaan dan kesuksesan yang bahkan ‘tidak sejati’. Tapi setiap orang berhak untuk kebahagiaan dan kesuksesan di hidupnya.


Kisah Manusia I
Sebutlah dia anak muda yang hidup dalam keluarga sangat mampu atau lebih dari cukup dalam materi. Sejak kecil, dia hidup dengan nyaman. Tak pernah ada yang menjadi beban untuknya. Bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan. Tak ada cobaan hidup yang berarti. Hidupnya mulus. Tapi, apakah ia bahagia? Apakah dia telah sukses menata kehidupannya? Jawabannya adalah tidak. Karena saat ini, ia masih memperjuangkan kebahagiaannya dan mencapai kesuksesan yang di inginkannya.
Mengapa ia tidak merasa bahagia? Semua itu bersumber dari kedua orang tuanya. Bagaimanakah seorang anak bisa merasa bahagia, jika tak pernah ada orang tua disisinya? Ia kesepian, diantara semua orang yang banyak disekelilingnya. Namun apalah arti orang-orang yang disebut sahabat dan kenalan itu, bila tak ada kedua orang tua. Ayah yang selalu menjaga dan melindungi kita, serta ibu yang telah melahirkan dan merawat kita. Setiap ia meminta perhatian, kalimat yang ia dapat adalah, “Kami lelah sehabis kerja, nak. Kami ingin beristirahat.”. Pernahkah mereka mempertanyakan tentang keadaan sang anak? Lukakah ia? Bahagiakah ia? Ia telah berusaha menggapai kebahagiaannya, tapi ia tak bisa. Usahanya belum sempurna. Ia tak bahagia.
Lalu, bagaimana dengan kesuksesan yang ingin digapainya? Untuk hal ini, sejenak ia melupakan tentang kebahagiaan yang belum ia dapatkan. Kesuksesan, setidaknya ia ingin memiliki itu. Apakah kali ini dia berhasil? Ia ingin seperti kedua orang tuanya yang sukses dalam dunia kerja. Apa yang dibutuhkan untuk mencapai itu semua? Yang ia tahu, jawabannya ialah berusaha. Dan itulah yang ia lakukan sekarang, berusaha. Namun usaha apa yang ia buat? Ia kuliah jurusan Management disalah satu Universitas ternama. Ia tak keberatan untuk membayar jutaan per semesternya. Toh, dia memilki materi melimpah. Ia bisa membayar berapapun dan siapapun dengan uangnya. Itu adalah usahanya. Nilai bagus dari semua tugas yang diberikan oleh Dosen sangat gampang ia dapatkan. Bagaimana bisa? Padahal hampir setiap hari ia membolos dan tidak benar-benar mendengarkan materi pelajaran yang disampaikan Dosen. Lalu darimana semua nilai bagus itu? Yang ia lakukan adalah membayar teman-temannya yang bisa membuat tugas itu untuknya, dan bersedia memberinya contekan saat ujian. Sangat mudah. Dengan usahanya ini, dia bisa lulus kuliah dengan nilai yang sangat baik. Hingga tibalah ia pada dunia kerja yang begitu diimpikannya. Ia tak mau berkerja di perusahaan milik orang tuanya. Lalu memilih bekerja di perusahaan lain. Dengan latar belakang pendidikannya yang baik, ia berhasil menduduki jabatan yang tinggi diperusahaan tempat ia bekerja. Sudah sukseskah ia?
Di bulan kedua ia bekerja di perusahaan tersebut, ia di pecat. Kenapa? Meski ia memiliki nilai baik serta lulus dari Universitas ternama, tapi kemampuannya dalam bekerja adalah nol besar. Ia telah gagal. Sekarang ia tahu, usahanya salah. Dan satu lagi, dalam setiap usaha yang dijalaninya, pernahkah ia berdoa? Ia telah melupakan tuhan yang telah memberinya banyak. Di saat ia pikir ia telah memperoleh kesuksesannya, segala nikmat. Satu hal, berusaha saja tidaklah cukup. Kita harus menyertainya dengan doa, agar dilancarkan jalannya dan diberi kemudahan. Dan ia tak menyertakan doa pada setiap usahanya. Pastaskah ia menuntut kesuksesan bagi usahanya, sedang ia tak pernah meminta pada Yang Maha Pemberi.


Kisah Manusia II
Ia terlahir di keluarga sederhana. Kehidupan keluarga yang begitu harmonis dan yang pastinya diimpikan banyak orang. Memiliki seorang Ayah yang bertanggung jawab serta begitu mengayomi. Seorang Ibu yang perhatian dan penuh kasih sayang. Dan dalam hidupnya, ia juga mengejar kebahagiaan dan kesuksesan. Tujuan pertama, kebahagian. Bahagiakah ia? Bagaimanapun ia hidup di dalam keluarga yang harmonis. Jawabannya adalah belum. Ia tidak cukup bahagia dengan keluarga harmonis yang ia miliki sekarang. Kebahagiaan yang ia impikan berasal dari kesuksesan yang akan ia peroleh nanti. Dan untuk kesuksesan dimasa depan, ia harus memulainya dari sekarang. Ia sadar, untuk mencapai semua itu tidaklah mudah. Ia butuh berusaha dan juga berdoa.
Ia belajar dengan giat untuk ujian SMA nya dan tak lupa berdoa. Ia lulus, lalu orang tuanya bahagia. Ah, ini baru awal. Saat kuliah, perjuangannya masih akan berlanjut. Ia masihlah ia yang sama, masih manusia yang mengejar impiannya. Ia mendapat beasiswa disaat kuliah dan tinggal jauh dari orang tuanya. Itu bukanlah hal yang sulit. Apapun ia lakukan demi menggapai impiannya.
Suatu hari ia mendapat kabar bahwa Ayahnya sakit dan memintanya untuk pulang kerumah sebentar. Tapi apa jawabnya? “Aku sedang sibuk dengan semua tugas kuliahku, Ayah. Aku tidak bisa pulang sekarang. Mungkin bulan depan.” Begitulah ucapnya. Tidak masalah, Ayahnya tersenyum kala itu. “Anakku sedang berusaha rupanya. Aku senang. Gapailah apa yang menjadi mimpimu. Itu yang menjadi bahagiamu, bukan? Ayah berdoa untuk kesuksesanmu, nak.”. Oh, tak tahukah ia bahwa Ayahnya sedikit menyampaikan luka pada kalimat bijaknya? Ia tahu, ia telah mendapat restu. Tujuannya mencapai kebahagiaan dan kesuksesan akan menjadi mudah.
Semuanya berjalan lancar seolah tak pernah terdapat hambatan, meski kecil. Sejak janjinya dihari itu, bahwa ia akan pulang, nyatanya ia tak kunjung datang menemui kedua orang tuanya, hingga kini ia berdiri dengan pakaian wisudanya. Ia telah lulus. Ibunya kembali memintanya untuk pulang dan mencari pekerjaan di kota tempat tinggal mereka. Tapi jawabannya adalah tidak. Ia akan mencari pekerjaan di kota kuliahnya saja. Tak apa, Ibunya tersenyum dan akan selalu mendukung semua kebahagiaan untuknya. Ia sangat senang, keluarganya benar-benar mendukungnya.
Tahun berikutnya, ia telah menjadi sukses. Ia berhasil mendapatkan kebahagiaannya dari kesuksesan yang ia miliki. Ibunya kembali tersenyum. “Ibu bangga.” Ujarnya. Tunggu! Mengapa hanya Ibu? “Ayahmu telah tiada, nak. Dulu saat ia sakit dan memintamu pulang, sebenarnya ia tahu bahwa hidupnya tak akan lama lagi. Tapi demi tak mempersulit perjuanganmu mencapai kesuksesan yang kau impikan, ia tahu, ia harus mengerti. Dan ketika ia telah pergi, kami telah berjanji untuk tak memberitahumu. Karena kami tak mau kau terganggu.”. Dan detik itu juga ia menangis. Yang ia cari selama ini adalah kebahagiaan. Tapi demi itu semua, ia membiarkan keluarganya tak bahagia. Tak tahukah ia? Kebahagiaan terbaiknya adalah keluarga yang selalu membuat semua orang iri. Kehidupan keluarganya yang harmonis,dulu.


Kisah Manusia III
Dia berbeda dari dua manusia sebelumnya. Hidupnya bahkan jauh dari kata sukses dan bahagia. Dia punya orang tua? Jawabnya tidak. Sejak ia kecil hingga kini ia menginjak usia remaja, ia bahkan tak pernah melihat orang tuanya. Ia sebatang kara dan hidup nomaden. Apakah ia bersekolah? Lagi-lagi jawabnya, tidak. Ia tak tahu segalanya. Betapa luasnya dunia ini. Betapa canggihnya teknologi saat ini. Betapa banyaknya kasus yang disebut korupsi, merajalela. Ia tak pernah tahu itu.
Ia tak tahu apa yang orang-orang tulis pada pinggiran jalan atau pertokoan yang dilewatinya. Ia tak bisa membaca, apalagi menulis. Oh, seperti apakah hidup manusia ini? Ia bahkan tak berani bermimpi untuk bahagia, apalagi memperoleh kesuksesan. Ia takut kecewa. Tapi itu bukan berarti ia tak berusaha. Ia bahkan bekerja dan bisa menghasilkan uang dengan jerih payahnya untuk ia melangsungkan hidup. Dan ia senang, setidaknya ia mengenah satu hal. Tuhan. Adalah yang menciptakannya dan berhak atas dirinya. Setidaknya ia tahu bagaimana cara dekat dengan sang pencipta. Tempat dimana ia bisa meminta.
Suatu sore ia memandang hiruk pikuk kota. Disaat semua orang meninggalkan tempat mereka bekerja dan kembali kerumah. Namun ada juga yang baru berangkat bekerja dan meninggalkan rumah. Semua orang dengan segala kehidupan yang dijalaninya. Ia tak mengerti, apakah mereka semua bahagia? Ia menatap wajah itu satu per satu, untuk menemukan jawabannya. Seseorang dengan muka kusut dan lelahnya. Seseorang yang tampak sumringah dan bersemangat. Ia berpikir, harusnya orang-orang yang sedang ia perhatikan ini bahagia. Mereka bisa hidup dengan gaji lumayan bahkan lebih dari cukup dengan pekerjaan yang mereka miliki. Harusnya mereka bahagia dengan kesuksesan yang telah mereka raih. Namun ia tak yakin ia melihat itu pada orang-orang ini.
Ia tersenyum, lalu berkata, “Meski aku miskin, tapi hatiku kaya. Aku tidak seperti mereka yang selalu tersenyum dalam hati yang terluka. Aku bukan makhluk Tuhan yang menggunakan cara haram untuk mencari nafkah. Aku berusaha dengan caraku sendiri dan aku selalu berdoa agar Tuhan menyertai.”. Jeda sesaat. Ia masih memandang pada orang-orang itu. Langit senja mulai berganti menjadi sedikit gelap. Ia kembali berucap, “Dengan itu, aku bahagia. Dan akupun telah sukses menata hidupku dengan berusaha untuk tetap mencari nafkah dengan jalan yang diridho’i Allah SWT.”
Bisakah kita sadari? Kebahagiaan dan Kesuksesan yang sesungguhnya bukanlah hal yang bisa kita lihat dengan mata. Itu semua ada pada kita. Kenapa selama ini kita selalu merasa tak bahagia dan belum sukses? Jawabnya ialah, karena kita tidak mau melihat kebahagiaan dan kesuksesan kecil dahulu, sebelum melihat kebahagiaan dan kesuksesan yang besar.
***

Friday, April 12, 2013

HALTE BIS


Ini kisah tentang cinta pertama. Suatu kisah cinta sederahana yang dimulai dari pertemuan, perkenalan, lalu menjadi teman, dan seterusnya. Dan ini kisahku.

Namaku Larisa. Gadis biasa berumur 15 tahun yang jatuh cinta pada seorang anak laki-laki yang selalu kutemui di halte bis. Dia selalu datang pada waktu yang sama, menunggu bis yang sama, membawa gitar yang sama, senyum yang sama, dan aku jatuh cinta.

Hari ini, aku melihatnya lagi. Haruskah aku mengajaknya berkenalan kali ini? Apa harus aku yang memulai? Baiklah, kamu yang disana, mari kita memulai hari baru.

“Hai.” Sapaku. Tak ku lupakan memasang senyum manis.
“Hai.” Balasnya. Oh, aku tak tau bagaimana wajahku sekarang. Memerahkah? Semoga ia tak melihatnya.
“Namaku Larisa.” Ku ulurkan tangan kearahnya, bermaksud untuk mengajaknya berkenalan.
“Fito.” Dia menyambut uluran tanganku. Ish! Kenapa begitu dingin?
“Kita selalu bertemu di halte ini, setiap hari loh.” Aku memulai percakapan.
“Aku tau.” Jawabnya. Masih dengan wajah dan ucapan sedingin es.

Dan hari itu, cukup dengan beberapa dialog itu. Bis datang, dan kami berpisah. Ini... hari pertama.

***

Hari ini tidak boleh seperti hari kemarin. Aku harus bisa mengajaknya bicara lebih banyak. Begitulah, tekadku hari ini.

Aku berlari menembus derasnya hujan, sore ini. Dan disana, aku menemukannya. Seperti biasa. Dan hari ini, aku sudah tau namanya. Aku bisa memanggilnya Fito.

“Hai, Fito.” Aku langsung duduk disampingnya.
“Hai.” Dia menjawab, sambil memeluk gitarnya.
“Bisa main gitar ya?” tanyaku.
“Lumayan.” Jawabnya. Kali ini dibumbui senyum tipis pada bibirnya. Ini yang pertama.
“Mainin satu lagu dong.” Pintaku. Dia menoleh sebentar, lalu berpikir. “Anggap ini, sebagai tanda perkenalan dan... pertemanan kita.” Tambahku.

Dia mengangguk, kemudian mulai memainkan gitarnya.

Aku tau lagu ini. ‘Akhirnya ku menemukanmu’. Sebuah lagu pertemuan, perkenalan, dan pertemuan antara aku dan dia yang indah.

“Uangnya?” dia mengadahkan tangan kanannya didepanku. Aku melongo tak mengerti. Lalu kulihat dia terkekeh geli.
“Maksudnya?” tanyaku tetap mempertahankan wajah yang sama.
“Lupakan.” Dia berdiri, dan kemudian naik ke bis yang baru saja datang.
“Makasih.” Teriakku sebelum bis berjalan. “Untuk lagunya.” Tambahku.

Dia mengangguk, lalu tersenyum.

Semoga besok, aku bisa melihat senyum itu lagi.

***

Suasana halte bis hari ini benar-benar buruk. Sama seperti langit sore yang mendung ini. Lima belas menit yang lalu, aku sudah berada di halte, dan Fito tidak ada. Seharusnya, dia sudah duduk disini seperti hari-hari sebelumnya.

“Dia tidak datang.” Lirihku.

Dan disini, duduklah aku sendiri. Apa yang harus aku tuliskan pada buku diaryku hari ini? Tak ada Fito disini, berarti tak ada cerita. Padahal dua hari ini, aku selalu menulis tentangnya pada diaryku.

“Maaf telat.” Suara seseorang membuyarkan lamunanku. Akupun segera menoleh pada asala suara itu.
“Fito?” aku senang melihatnya datang. Will be a good day?
“Hari ini aku ulang tahun.” Ujarnya. “Would you be my girl, Larisa Indah?” tanya.

Apa? Dia tau nama lengkapku? Dan... apa barusan dia memintaku menjadi kekasihnya?

“Yes, I do.” Jawabku, sedikit tercekat. Hope is it not a dream!
“Namaku Fito Anggara. Aku selalu melihatmu di halte ini, dan aku jatuh cinta.” Dia tersenyum sangat manis. “I love you.”

Well, ini kisahku. Cinta pertamaku, dihalte bis.

Monday, June 11, 2012

UNTUK CINTA




Dear Adrian,
Cinta itu bukan menunggu, tapi menemukan
Cinta itu bukan menangis, tapi membahagiakan
Cinta itu bukan sempurna, tapi istimewa
Cinta itu bukan hati, tapi perasaan
Cinta itu bukan dia, tapi aku…
Aku mencintaimu…

-CINTA-

Adrian masih menyelipkan senyum, ketika membaca tulisan dikertas putih itu. Kertas yang diberikan oleh sahabatnya, Cinta. Kertas itu baru saja Adrian temukan disaku tasnya, kemarin. Memang sangat terlambat, bila mengingat sang pemberi kertas, yang kini sudah tiada. Cinta meninggal, dua hari yang lalu. Karena sebuah kecelakaan.

Pikiran Adrian, kembali pada hari itu.

***

Cinta tak pernah berbeda, dia selalu sama, selalu ceria, seperti hari ini.

“Adrian!” sapa Cinta penuh semangat. “Pulang bareng, yuk!”
“Aduh.” Adrian menepuk jidatnya. “Maaf banget ya, Ta. Hari ini gue udah janji mau pulang sama Tiara.”
“Oh, ya udah deh!” ujar Cinta tanpa mengurangi semangatnya.
“Lain kali, gue pasti pulang bareng lo lagi kok, Ta.” Adrianpun segera berlalu, meninggalkan Cinta.

Adrian masih sempat melambaikan tangannya, dan dibalas oleh Cinta. Mereka berdua sama-sama mengukir senyum. Kemudian Adrian menghilang dalam tikungan menuju gerbang sekolah. Tinggal Cinta yang masih duduk termenung di salah satu kursi kelas. Lalu Farhan datang menghampirinya.

“Coba liat cewek yang ada disebelah gue ini.” Farhan membicarakan Cinta. “Cuma bisa menatap cintanya dari kejauhan. Padahal bisa dia dekati.”
“Maksud lo apa sih, Han?” Cinta mengerutkan keningnya. “Gak jelas banget deh!”
“Kenapa sih, lo gak bilang aja, kalo lo tuh suka sama Adrian.” Farhan menyarankan. “Gue tuh tau, kalo lo itu udah suka sama Adrian dari kita masih kelas satu.”
“Sok tau, lo!” kecam Cinta. “Kalo gue suka sama Adrian, kenapa juga gue bantuin dia waktu mau jadian sama Tiara.”
“Itulah bodohnya elo.” Farhan menunjuk pada Cinta. “Punya cinta, tapi di pendam aja dalem hati.”
“Itu karena cinta pake perasaan, Han. Bukan pake hati.” Cinta jadi mellow. “Kalo lo jadi gue, lo juga pasti akan ngelakuin hal yang sama.”
“Nggak, Ta.” Farhan menatap serius. “Kalo gue jadi lo, gue akan bilang perasaan gue yang sebenarnya sama Adrian. Apapun hasilnya nanti, meski gue cuma bertepuk sebelah tangan, setidaknya gue udah bilang sama dia, dan dia tau gimana sebenernya parasaan gue. Karena gue tau, kesempatan itu gak selalu dateng dua kali.”
“Pernah denger sebuah kalimat gak, Han?” Cinta melirik Farhan yang bingung. “Aku akan bahagia, jika melihat orang yang aku cinta bahagia. Meskipun bahagianya, bukan bersamaku.”
“Pernah mikir, gak?” tanya Farhan sinis. “Mana ada orang yang bahagia, liat orang yang dia cinta bahagia sama orang lain. Itu munafik, Ta.”
“Tapi gue bahagia kok, liat Adrian bahagia sama Tiara.” Cinta memaksakan senyum.
“Terserah lo deh, Ta.” Farhan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Gue harap, lo gak nyesel nantinya.”
“Menurut lo, gue masih punya kesempatan gak sih?” Cinta mulai berharap. “Soalnya, dulu gue pernah nyelipin sebuah kertas disaku tasnya Adrian. Bisa dibilang, itu ungkapan cinta gue sama dia. Tapi kayaknya, dia belum liat.”
“Lo yakin, dia belum liat?” tanya Farhan.
“Ya, kalo dia udah liat, pasti dia bereaksi dong.” Cinta mengira-ngira. “Tapi buktinya, dia sama sekali gak pernah ngebahas soal kertas itu.”
“Gue rasa lo belum terlambat, Ta.” Farhan meyakinkan Cinta. “Nyatain sekarang juga.”
“Oke.” Cinta tersenyum tipis. “Kalo gitu, gue kejar Adrian sekarang ya, Han.”

Cinta baru saja bangkit dari duduknya, dan berniat pergi. Tapi Farhan menahannya sesaat. Kini, tangan kiri Cinta berada dalam genggaman Farhan.

“Sebelum lo bilang tentang perasaan lo sama Adrian, gue juga mau ngomong satu hal sama lo, Ta.” Ujar Farhan serius.
“Apa, Han?” tanya Cinta penasaran.
“Gue cinta sama lo.” Jawab Farhan sungguh-sungguh. “Sama seperti perasaan lo sama Adrian, gue juga udah suka sama lo sejak kita kelas satu. Gue tau ini emang bukan waktu yang tepat buat ngomongin soal ini. Tapi gue gak tau kenapa, rasanya gue harus ngomong ini sekarang.”
“Farhan…”
“Lo gak perlu jawab kok, Ta.” Farhan menutup bibir Cinta. “Karena gue udah tau jawabannya. Dan sekarang, giliran lo yang ngomong sama Adrian.”
“Iya.” Ujar Cinta lantang. “Gue juga akan bilang hal yang sama dengan yang lo bilang sama gue tadi. Adrian gak perlu jawab, karena gue udah tau jawabannya.”
“Fighting!” Farhan tersenyum.
“Makasih ya, Han.” Cintapun memeluk Farhan.

Cinta melanjutkan langkahnya dengan mantap. Menyusuri jalan menuju rumah Adrian. Tapi siapa sangka, di jalan, dia bertemu dengan Adrian dan Tiara yang baru saja keluar dari sebuah warung makan pinggir jalan. Cinta tak ingin merusak kebahagiaan di wajah Adrian dan Tiara. Mereka berdua sedang berjalan sambil bercanda. Cinta menatapnya dari kejauhan. Selalu begitu. Hanya bisa dari kejauhan.

Tapi ketegangan mulai terjadi, saat Tiara menyebrang tanpa melihat kanan-kirinya yang ternyata ada sebuah mobil melaju kencang. Adrian berteriak, dan ingin berusaha menarik tubuh Tiara ke tepi, tapi dia di hadang oleh warga disitu, karena itu akan membahayakan nyawa dia dan Tiara.

Akhirnya Cintalah yang dengan cepat mendorong tubuh Tiara ke pinggir, tanpa membawa serta dirinya. Mobil dengan kecepatan tinggi itupun menabrak tubuh Cinta.

“Cintaaa…..” Adrian berteriak sekuat tenaga. Cintapun masih sempat memberi senyum pada Adrian, sebelum tubuhnya jauh terpental.

Semua orang yang berada ditempat kejadian, bergegas membawa Cinta kerumah sakit. Sedangkan Adrian dan Tiara hanya duduk lemas di pinggiran jalan. Tiara menepikan airmatanya, lalu memeluk Adrian.

Nasib Cinta mungkin memang tidak seberuntung itu. Sebelum berhasil sampai di rumah sakit, dia sudah tidak bernyawa.

***

“Dri.” Seseorang menepuk bahu Adrian.
“Eh, elo, Han.” Ternyata seseorang itu adalah Farhan.
“Gimana, udah nemuin kertasnya?” tanya Farhan.
“Udah, Han.” Adrian menunjukkan kertas itu pada Farhan. “Udah gue baca juga.”
“Jadi lo udah tau, gimana perasaan Cinta yang sebenernya sama lo kan?” tanya Farhan lagi.
“Iya, Han.” Jawab Adrian. “Gue gak nyangka.”
“Tiara dimana?” Farhan melihat sekeliling.
“Gue disini.” Yang dicaripun akhirnya menampakan diri. Tiara segera menghampiri Adrian dan Farhan.
“Ada yang mau gue omongin sama kalian berdua.” Ujar Farhan serius. “Pertama, Cinta sebenernya suka sama Adrian dari kita masih kelas satu. Kedua, gue juga sebenernya suka sama Cinta, dan gue udah ngomong. Ketiga, gue yakin, Cinta nolongin Tiara, untuk cintanya pada Adrian.”
“Andai aja gue masih punya kesempatan buat ngasih cinta untuk Cinta.” Adrian tertunduk lesu. “Meskipun rasa sayang gue ke Cinta ini bukan rasa sayang sebagai cowok keseorang cewek, melainkan sebagai sahabat. Gue pengen ngasih satu hari terindah untuk Cinta, sebelum dia pergi untuk selamanya.”
“Andai aja gue masih diberi kesempatan buat bilang makasih ke Cinta.” Tiara menepikan airmata. “Gue akan balas semua kebaikan dia sama gue. Gue akan ngasih apapun yang terbaik untuk Cinta.”
“Kalo gue…” Farhan diam sesaat. “Gue rasa gue udah cukup dengan kesempatan mengatakan cinta, di waktu terakhir sebelum Cinta pergi untuk selamanya.”
“Cinta udah ngajarin gue, apa arti cinta yang sesungguhnya.” Tiara masih terisak. “Betapa cinta memang harus bisa berkorban untuk kebahagiaan cintanya. Memberikan yang terbaik untuk cintanya, agar cintanya tetap bahagia.”
“Cinta, makasih ya.” Adrian tersenyum pada langit. Seolah menatap wajah Cinta pada langit sana.

Tiarapun menangis dalam pelukan Adrian. Adrian ikut menangis. Sedangkan Farhan, dia mencoba melihat langit. Dia yakin, Cinta ada disana, melihat mereka semua. Dan Farhanpun mengukir senyum. Semua hal tentang Cinta, kini terputar diotaknya. Bagaimana seorang Cinta yang selalu tersenyum, Cinta yang ceria, Cinta yang dicintainya.

“Kita ke makamnya Cinta, yuk!” ajak Farhan pada Adrian dan Tiara.
“Yuk!” jawab Cinta.
“Tapi kita ke toko bunga dulu ya.” Ujar Adrian. “Gue mau beli bunga lili kesukaannya Cinta.”
“Oke.”

***

Dari Cinta…
“Adrian, aku melakukan ini karena cintaku kepadamu. Aku bahagia, bisa melihatmu tetap bahagia hidup bersama Tiara. Dan untuk Farhan, terima kasih untuk cintamu kepadaku. Aku tak pernah membayangkan, aku akan dicintai oleh orang sehebat kamu. Orang dengan hati yang tulus. Orang yang mengajarkanku tentang cinta yang sesungguhnya, sebelum aku pergi. Tiara, jangan sia-siakan cinta yang sudah kutitipkan padamu. Jaga Adrian untukku.”

“Aku akan menjaga Adrian untukmu, Cinta.” Ujar Tiara yang seolah-olah bisa mendengar suara-suara yang bergumam dilangit sana.

***

Dear Cinta,
Cinta itu seperti kertas putih
Cinta akan tetap putih, bila tak ada warna dari bahagia
Tapi Cinta akan kotor, bila warna yang diberi adalah luka
Cinta akan selalu memberi, meski tak menerima
Untukmu, akan ku jaga kertas putih ini
Agar selalu bersih
Akan kuberikan warna yang indah
Yang kau dapat dari bahagia

-ADRIAN-

Adrian menaruh kertas dan bunga lili itu di makam Cinta. Itu adalah balasan untuk kertas yang di berikan Cinta pada Adrian dulu. Adrian menuliskan itu untuk Cinta.

-END-

Wednesday, June 6, 2012

SATU PENGORBANAN




“Terkadang memang harus mengorbankan satu kebahagiaan, untuk kebahagiaan yang lain. Meskipun satu kebahagiaan yang aku korbankan itu, adalah mimpi terbesarku.”

Giska berjalan pelan menuju rumahnya. Dia baru saja pulang dari sekolah. Pikirannya berkecamuk. Mengingat semua hal yang terjadi di sekolah hari ini. Belum lagi mengenai ujian akhir nasional, yang akan dilaksanakan sebentar lagi.

“Ah, pusing!” Giska memukul kepalanya sendiri. Lalu berjalan masuk ke halaman rumahnya yang di penuhi tanaman dan bunga yang segar dan indah.
“Assalamualaikum.” seorang wanita berumur 30 tahunan, yang sedang menyapu halaman itu, mengucapkan salam pada Giska.
“Eh, Bunda. Waalaikumsalam.” Sahut Giska malu. “Maaf ya Bun, Giska gak liat Bunda di sini. Jadi, gak ngucap salam deh.”
“Kamu ngelamun ya?” tanya Bunda.
“Nggak kok, Bun.” Jawab Giska sembari tersenyum. “Giska masuk dulu ya, Bun. Mau mandi.”
“Iya.” Bunda kembali meneruskan pekerjaannya.

Jam makan malampun tiba, Giska, Ayah dan Bundanya, makan malam bersama.

“Gimana tadi di sekolahnya, Gis?” tanya Ayah.
“Biasalah, Yah.” Giska melahap nasinya. “Masih sibuk belajar buat UN.”
“Eh, UN nya tinggal enam hari lagi ya?” Bunda ikut bertanya.
“Iya, Bun.” Giska menghela nafas berat.

***

Hari pertama UN pun akhirnya sampai juga. Suasana ruangan ujian sangat tenang. Semua siswa sibuk dengan soal-soal yang harus mereka jawab. Begitulah hingga empat hari berlalu. Dan UN pun selesai.

“Ah, lega gue.” Ujar Farah, sahabat Giska. “Akhirnya UN selesai juga.”
“Tapi masih ada hari pengumuman kelulusan.” Giska merangkul bahu sahabatnya itu.
“Iya sih.” Wajah Farah kembali pucat. “Eh iya, Gis, rencananya lo mau kuliah dimana?”
“Gak tau, Far.” Giska tertunduk lesu. “Lo kan tau sendiri gimana keadaan ekonomi keluarga gue. Mungkin, gue gak akan bisa kuliah.”
“Yah, kok gitu sih, Gis.” Farah ikut prihatin. “Lo kan pinter. Masa gak kuliah.”
“Abisnya mau gimana lagi.” Giska pasrah.
“Oh iya, lo mau gak ikut tes beasiswa?” Farah menawarkan. “Gue denger, lagi ada tes beasiswa buat anak yang pinter, tapi kurang mampu gitu.”
“Beasiswa apa?” tanya Giska semangat.
“Beasiswa S-1 di salah satu perguruan tinggi di Sumatera.”
“Gue mau.”
“Oke, gimana kalo besok kita ke tempat pendaftarannya?”
“Oke.”

Giska sangat senang mendengar tentang tes beasiswa itu. Dia meminta izin pada Ayah dan Bundanya, untuk ikut tes itu. Dan merekapun menyetujuinya.

Hari ini, Giska sudah mendaftarkan diri untuk tes itu. Dan minggu depan, tesnya akan dilaksanakan.

“Aduh Far, gue deg degan nih.” Ujar Giska.
“Semangat!” Farah memberi kekuatan pada Giska. “Yang penting, lo belajar. Biar bisa ngerjain soal-soal tes nanti.”
“Oke.” Giska pun semangat lagi untuk tes itu. “Bismillah.”

***

Hari pelaksanaan tes beasiswapun akhirnya sampai pada waktunya. Giska harus berjuang mendapatkan nilai yang baik, agar bisa terpilih menjadi salah satu siswa yang beruntung untuk kuliah.
90 menitpun berlalu tanpa suara. Giska akhirnya bisa menyelesaikan semua soal yang di berikan.

“Gimana, Gis?” tanya Farah was-was.
“Soalnya susah banget.” Giska menjawab lesu.
“Tetep optimis, Gis.” Farah menepuk bahu Giska. “Lo kan udah berusaha. Insyaallah dapet.”
“Amin.” Giska mengamini. “Makasih banyak ya, Far.”

Farah mengangguk pelan, lalu mereka berpelukan.

Hasil tes itu akan diumumkan satu minggu lagi. Selama itu, Giska menunggu dengan sabar. Giska dan Farah juga sedang was-was menunggu hasil pengumuman kelulusan UN mereka.

***

“Giska.” Teriak Farah. “Kita lulus, Gis. Kita lulus.”
“Iya, Farah.” Giska tersenyum bahagia. “Alhamdulillah.”
“Akhirnya, setelah tiga tahun kita belajar disekolah ini, kita ngedapetin hasil yang baik juga.” Ujar Farah bijak.
“Iya, Far.” Giska tak bisa berkata banyak. Dia benar-benar bahagia.
“Oh iya, hari ini juga hari pengumuman tes beasiswa lo kan, Gis?” Farah bertanya ragu.
“Oh iya, Far.” Giskapun baru menyadari itu.
“Yuk kita beli koran, kan pengumumannya ada di koran.” Ajak Farah.
“Yuk!”

Merekapun pergi untuk membeli koran. Dan begitu mendapatkannya, Giska dan Farah segera mencari kolom pengumuman tes itu.

“Ah, lo lulus, Gis.” Teriak Farah seketika. “Ini, nama lo di urutan ketiga.”
“Eh, iya. Gue lulus!” teriak Giska senang. “Alhamdulillah.”

Giska pulang dengan senangnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Giska terus memandang koran itu. Besok, dia akan pergi ke Kantor Dinas Pendidikan, untuk kelanjutan beasiswanya ini. Saking bahagianya Giska, dia tak sadar, sebuah mobil akan menabraknya.

Tapi beruntunglah, seseorang menyelamatkan Giska dari tabrakan itu. Dan si penyelamatlah yang harus merasakan tabrakan mobilnya.

Giska menjerit ketakutan. Dia tak sanggup melihat tubuh berseragam SMU itu terpental dan berlumuran darah. Dialah si penyelamat nyawa Giska.

Seketika itu juga, para warga yang melihat, segera membawa anak laki-laki yang berseragam SMU itu ke rumah sakit. Meski takut dan merasa bersalah, Giska tetap memberanikan diri untuk ikut mengantar sang penyelamatnya itu ke rumah sakit. Ayah dan Ibu Giska juga bergegas ke rumah sakit, begitu mendapat kabar dari Giska. Dan orang tua anak laki-laki itu juga telah berhasil dihubungi.

“Giska takut, Bunda.” Ujar Giska sambil terisak.
‘Gak apa-apa sayang. Kamu jangan takut, ya.” Ujar Bunda menenangkan.

Tak lama, keluarga anak laki-laki itupun datang, seiring dengan keluarnya dokter dari ruang UGD.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya seorang ibu yang masih sangat muda itu.
“Sepertinya, dia akan mengalami kelumpuhan, Bu.” Jawab Dokter itu.

Ibu dari anak laki-laki itupun menangis tersedu, dalam dekapan suaminya. Giska semakin merasa bersalah.

Hingga hari ketiga, anak laki-laki itu masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Giska sudah menceritakan semuanya, pada kedua orang tua anak laki-laki itu, dan beruntunglah, mereka tak menyalahkan Giska. Tapi Giska merasa, dia tetap harus bertanggung jawab.

Kemarin, Giska sudah mengatakan caranya untuk bertanggung jawab pada anak laki-laki itu, pada Farah.

“Far, gue udah mutusin.” Ujar Giska sungguh-sungguh.
“Mutusin apa, Gis?” tanya Farah.
“Gue, gak akan ambil beasiswa itu.” Jawab Giska.
“Apa?” Farah benar-benar terkejut. “Tapi kan, Gis…”
“Mungkin beasiswa itu bukan jalan gue.” Ujar Giska. “Biarlah beasiswa ini menjadi milik orang lain. Karena gue gak mungkin pergi ke Sumatera, dan meninggalkan orang yang udah nyelametin hidup gue disini.”
“Tapi, ini kan adalah mimpi terbesar lo, Gis.” Farah masih belum bisa menerima. “Lo mau kuliah. Lo mau jadi guru. Dan lo mau ngebahagiain Ayah sama Bunda lo.”
“Tapi kalo gue ambil beasiswa itu, sama aja dengan gue bahagia di atas penderitaan orang lain.”

Ucapan Giska yang terakhir, membuat mulut Farah tertutup rapat untuk mengatakan hal yang lain. Tentang mimpi Giska yang terbesar. Tapi kini harus dia relakan untuk kebahagiaan yang lain. Giska akan lebih bahagia, jika dia tak harus bahagia diatas penderitaan orang lain. Mungkin satu pengorbanan ini, akan membawa Giska pada bahagia yang lain. Yang sudah di rencanakan tuhan untuknya. Dan Giska sangat percaya itu.

Kini Giska sudah duduk di samping, tubuh lemah itu.

“Halo.” Sapa Giska. “Makasih ya, lo udah nolongin gue dari tabrakan itu. Gue bener-bener ngerasa bersalah dengan keadaan lo yang sekarang. Kata Farah, gue bodoh karena udah ngorbanin mimpi terbesar gue, demi lo. Tapi coba deh kita pikir lagi. Kalo aja hari itu lo gak nolongin gue, mungkin sekarang, gue juga tetep gak bisa menggapai mimpi terbesar gue itu.”

Giska menggenggam erat tangan anak laki-laki yang masih belum sadarkan diri itu.

“Pasti selalu ada makna, dari setiap kejadian.” Giska bicara lagi. “Semua ini sudah rencana tuhan. Kadang kita memang harus mengorbankan satu kebahagiaan, demi kebahagiaan yang lain. Meskipun satu kebahagiaan yang kita korbankan itu, adalah mimpi terbesar kita.”

***

Hari ini, Farah akan berangkat ke Jogja, untuk kuliahnya. Dan Giska datang ke bandara, untuk mengantarkan kepergiaannya.

“Gue terpaksa pilih kuliah di Jogja, karena Papa gue di pindah tugas kesana.” Ujar Farah pada Giska. “Tapi gue janji, kalo ada libur kuliah nanti, gue bakal kesini buat nemuin lo.”
“Iya. Udah deh, pokoknya lo kuliah yang bener aja.” Giska tersenyum tipis. “Lagian kan, Jakarta-Jogja gak jauh-jauh banget. Gak mesti lintas pulau, ataupun negara.”
“Iya deh.” Farah ikut tersenyum. “Salam ya, buat sang penyelamat lo itu. Semoga dia cepat sembuh.”
“Oke.” Merekapun berpelukan.

Farah melambaikan tangannya pada Giska.

Kini, sang penyelamat Giska sudah keluar dari rumah sakit. Tapi seperti yang dikatakan dokter, dia lumpuh. Dan Giskalah yang bersedia merawatnya, sampai suatu saat nanti, sang penyelamatnya itu sembuh. Nama sang penyelamat itu adalah Gavin. Dia seumuran dengan Giska. Saat kejadian tabrakan itu, Gavin juga baru saja merayakan kelulusannya.

“Gue gak nyangka kalo kejadiannya bakal kayak gini.” Ujar Gavin. “Dan gue juga jadi merasa bersalah, karena lo malah mau bertanggung jawab kayak gini.”
“Gue rasa, ini emang udah jadi kewajiban gue.” Giska tersenyum tipis. “Lo udah nolongin gue, jadi gue harus balas budi baik lo.”
“Makasih ya.” Gavin tersenyum bahagia.
“Sama-sama.”
“Oh iya, kemaren, gue minta sama Mama, buat beliin gue dua kalung dengan bandul huruf G. Yang satu buat lo, dan yang satu lagi buat gue.”
“Tapi, ini buat apa?”
“Gak buat apa-apa sih. Abisnya kan, gue pikir, nama kita itu di awali dengan huruf yang sama. Yaitu G. Dan huruf G, sama-sama ada di kata ‘Kebahagiaan’ dan ‘Pengorbanan’. Dua kata, yang udah mengajarkan gue banyak hal. Dan itu dari lo.”
“Makasih ya, Gavin.”
“Makasih juga ya, Giska.”

-END-

Tuesday, June 5, 2012

SATRIA UNTUK HELENA




Bulan November bisa jadi adalah bulan yang paling buruk bagi Helena. Karena di bulan ini, dia harus menerima kenyataan bahwa dia telah kehilangan dua orang yang paling di cintainya. Yaitu Ayah dan Ibunya. Helena juga harus menerima kenyataan bahwa rumah yang penuh kenangan indah bersama kedua orang tuanya itu, kini harus ia tinggalkan. Rumah itu harus membayar semua hutang semasa hidup Ayahnya. Tapi untunglah, ada Om Fadli dan Tante Siska yang bersedia menampung Helena di rumahnya. Om Fadli dan Tante Siska adalah teman baik almarhum Ayah dan Ibu Helena.

“Nah, Len, ini adalah kamar kamu.” Tante Siska menunjuk kamar dengan pintu berwarna putih itu. “Semoga kamu suka ya. Tante udah hias kamar kamu dengan semua yang berwarna pink.”
“Makasih ya, tante.” Ujar Helena lembut.
“Iya, sayang.” Senyum terukir dari wajah tante Siska. “Kamu mandi dulu, abis itu siap-siap untuk makan malam ya. Tante dan Om tunggu kamu di meja makan.”
“Iya, tante.” Helena tersenyum tipis.

Helena berjalan pelan memasuki kamar itu. Semua terlihat asing disana. Semua yang ada di kamar ini, berbeda dengan milik Helena di rumahnya yang lama. Pertama, Helena tak suka warna pink. Dia suka warna biru. Tapi Helena sadar, hidupnya memang benar-benar sudah berubah, sejak kepergian kedua orang tuanya, akibat kecelakaan mobil. Helena yang baru saja memasuki masa baru menjadi remaja putih abu-abu, terpaksa pindah dari Jakarta ke Bandung, dan menetap di rumah om Fadli dan tante Siska.

Helena sudah selesai mandi dan berpakaian rapi, lalu dia beranjak menuju meja makan. Disana, om Fadli dan tante Siska sudah menunggunya.

“Len, ayo sini.” Ajak om Fadli. “Kita makan malam sama-sama.”
“Iya, Om.” Helena duduk di salah satu kursi di meja makan. Lalu dia melirik pada satu kursi  kosong disebelahnya.
“Yang satu itu, milik anak tante, Len.” Ujar tante Siska yang seolah mengerti dengan tatapan Helena pada kursi itu.
“Besok, dia akan kembali ke bandung loh, Len.”om Fadli menimpali. “Dia juga akan bersekolah di sekolah yang sama dengan kamu. Tapi dia sudah kelas dua.”
“Emangnya, sebelum ini, dia kemana Om?” Helena merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang anak ini.
“Ketika lulus SMP, dia memilih untuk melanjutkan sekolah di Jogja.” Kisah om Fadli.
“Oh.” Helena manggut-manggut.
“Dan dia sengaja kembali ke Bandung, biar bisa sama-sama kamu loh, Len.” Ujar tante Siska.
“Hah!” Helena kaget mendengar ucapan tante Siska.
“Kamu pasti sudah lupa dia deh.” Ujar om Fadli.

Helena hanya tersenyum. Dia baru saja ingat dengan anak laki-laki dari om Fadli dan tante Siska yang amat sangat bandel itu. Mereka pernah beberapa kali bertemu sewaktu kecil. Dan Helena selalu menjadi korban kejahilannya.

***

Harusnya, ini adalah hari pertama Helena masuk ke SMU barunya. Tapi dia terpaksa bolos, karena harus menjemput anak laki-laki om Fadli dan tante Siska di stasiun. Ditemani sopir dari om Fadli, Helena menunggu di stasiun.

Tak berapa lama, keretapun datang. Satu per satu, orang-orang di dalamnya turun. Helena dan mang Sapri si sopir, segera berdiri dari duduknya, dan melihat-lihat ke semua penumpang yang turun.

“Den Satria.” Panggil mang sapri, sambil melambaikan tangannya ke arah seorang cowok berbaju biru yang baru saja keluar dari kereta. “Ayo neng Helena, kita ketempatnya den Satria.”
“Oh, iya Mang.” Helena mengikuti langkah mang Sapri.
Mang Sapri dan Satria langsung berpelukan.

“Wah, Satria kangen banget sama mang Sapri.” Ujar Satria bersemangat.
“Iya, den. Mamang juga, kangen.” Ujar mang Sapri senang. “Den Satria makin kasep.”
“Ah, mang Sapri bisa aja. Mamang juga makin kasep.” Mereka saling memuji.

Helena menatap penuh kagum pada sosok yang kini berada di hadapannya. Satria yang sekarang, sangat berbeda jauh dari Satria di masa kecil dulu. Satria yang dulu itu, sangat gemuk dan hitam. Tapi kini, Satria sudah berubah menjadi cowok yang putih dan tinggi. Badannya pun sudah tidak gemuk lagi.

“Neng, Helena.” Panggilan Mang Sapri membuyarkan lamunan Helena.
“Eh, iya mang.” Helena merasa malu.
“Hai.” Sapa Satria sambil mengulurkan tangan kanannya, untuk bersalaman dengan Helena.
“Hai.” Sahut Helena, yang lalu menjabat tangan Satria.
“Udah lama banget ya, kita gak ketemu.” Ujar Satria.
“Iya.” Helena tersenyum malu.
“Ya sudah, ayo kita pulang den, neng.” Ajak mang Sapri.

Akhirnya, merekapun sampai ke rumah. Om Fadli dan tante Siska sudah menunggu di rumah. Satria langsung berpelukan dan mencium tangan kedua orangtuanya. Helena begitu terharu melihatnya. Dia tiba-tiba teringat pada almarhum ayah dan ibunya.

“Len.” Tante Siska memegang tangan Helena. “Ayo kita makan siang.”
“Oh, iya tante.” Helena mengikuti langkah tante Siska ke meja makan.

Dan merekapun makan bersama. Begitu banyak percakapan yang terjadi di meja makan, siang itu.
Sore harinya, Helena duduk santai di teras rumah, di temani secangkir teh hangat dan sebuah majalah. Lalu Satria datang menghampiri dan duduk di sebelahnya.

“Sore.” Sapa Satria.
“Sore.” Sahut Helena.
“Gue turut berduka cita, buat kedua orang tua lo ya, Len.” Ujar Satria tulus.
“Iya, makasih.” Helena tersenyum tipis.

Lalu merekapun sama-sama diam. Helena sibuk dengan majalahnya, dan Satria bingung harus bicara tentang apa lagi pada Helena. Satria bahkan bisa menyadari perubahan sikap Helena kini. Dia telah menjadi gadis remaja yang pendiam dan dingin.

***

Ke esokan paginya, Helena dan Satria sudah bersiap-siap untuk hari pertama di sekolah baru mereka. Helena duduk di kelas satu, dan Satria di kelas dua. Mereka pergi kesekolah, diantar oleh mang Sapri.

Satria menarik nafas berat, begitu mereka sampai di sekolah itu.

“Lo deg-degan gak sih, Len?” tanya Satria.
“Biasa aja. “ jawab Helena. “Emangnya kenapa?” dia balik bertanya.
“Nggak kenapa-kenapa sih. Biasalah, sindromnya para anak baru.” Satria tersenyum malu.

Helena tertawa kecil. Lalu mereka berdua berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Semua mata tertuju pada mereka.

Begitu bel tanda masuk berbunyi, Satria dan Helena di ajak masuk ke kelas mereka masing-masing, dan oleh wali kelas mereka masing-masing pula. Pelajaran jam pertamapun di mulai. Hingga hari pertama itupun berlalu juga. Semakin hari, Satria dan Helena menjadi semakin dekat. Mereka sudah seperti kakak dan adik sungguhan. Om Fadli dan tante Siskapun senang melihatnya.

Dan di sekolahpun, Helena hanya bisa dekat dengan Satria. Dia tak pernah bertegur sapa pada siapapun kecuali Satria.

***

“Hey.” Satria tiba-tiba saja duduk di sebelah Helena. Dia membawa dua botol minuman dingin. “Nih!” Satria memberikan satu botol pada Helena.
“Makasih ya, kakak.” Helena segera meneguk minuman itu.
“Sama-sama adekku.” Satria mengusap lembut rambut Helena.
“Lo harusnya gak usah sama-sama gue terus.” Ujar Helena tiba-tiba.
“Loh, kenapa?” tanya Satria bingung.
“Nanti, lo bisa gak punya pacar. Gara-gara mainnya sama gue terus.” Jawab Helena. “Gue udah gak apa-apa kok. Frekuensi sedih gue juga udah berkurang. Jadi lo gak usah terlalu sering hibur gue lagi. Mendingan lo cari cewek. Kalo sama gue terus, ntar gak ada cewek yang mau deket sama lo.”
“Biarin.” Ujar Satria cuek, sambil meneguk minumannya. “Orang gue gak butuh siapapun. Gue cuma butuh Helena Pratiwi di samping gue.”
“Lo suka ya, sama gue?” tanya Helena tiba-tiba.
“Iya.” Jawab Satria santai.
“Tapi kita kan kakak-adik.”
“Tapi bukan kakak-adik kandung kan?”
“Tapi gue gak enak sama om dan tante.”
“Tapi gue juga gak bisa buang rasa cinta gue sama lo.”
“Terus gimana dong?”
“Ya, kita pacaran.”
“Emangnya, lo yakin kalo gue juga suka sama lo?”
“Yakin banget.”
“Tapi kita jangan pacaran ya.”
“Loh, kenapa?”
“Karena gue udah nganggep lo sebagai kakak gue sendiri. Lagi pula, kita itu kan tinggal satu rumah.”
“Tapi, Len…”
“Kalo lo emang beneran cinta dan sayang sama gue. Tetaplah jadi satria buat gue. Satria yang selalu ngelindungin gue dan bikin gue bahagia. Biar nanti, waktu yang jawab semuanya. Kalo kita emang jodoh, kita pasti bakal bersatu.”
“Lo yakin?”
“Yakin banget.”

Satria tertawa kecil. Lalu mengusap lembut rambut Helena.

“Oke. Selamanya, gue akan jadi Satria untuk Helena.” Ujarnya lembut.

Sejak hari itu, Satria benar-benar seperti kesatria yang melindungi Helena. Satria sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia akan menjaga dan melindungi gadis yang sangat dicintainya.

***

Suatu hari, Satria mengantar Helena ke makam kedua orang tuanya.

“Ayah. Ibu. Ini kak Satria.” Helenapun memperkenalkan Satria. “Dia anaknya om Fadli dan tante Siska. Ayah dan Ibu pasti ingat kan?”

Air mata Helenapun jatuh tak tertahan. Dan Satria segera menghapus air mata itu.

“Ayah. Ibu. Helena udah anggep kak Satria seperti kakak kandung Helena sendiri.” Ujar Helena lagi. “Helena juga bersyukur, karena kedua orang tua kak Satria, sayang banget sama Helena. Helena bahagia di sini. Dan Helena harap, Ayah dan Ibu juga bahagia di sana. Helena sayang kalian.”

Air mata Helena terus menetes. Dia tak sanggup lagi menatap kedua nisan itu. Dan Satria langsung menenangkannya.

“Udah ya.” Ujar Satria. “Yuk, kita pulang.”
“Iya.”

Merekapun meninggalkan makam, dan pulang.

Waktu semakin cepat berlalu. Satria sudah kuliah semester tiga. Sedangkan Helena baru saja lulus SMA, dan akan melanjutkan kuliah.

“Apa ini, Len?” tanya om Fadli bingung.
“Itu hadiah untuk om dan tante yang udah baik banget sama Helena.” Helena tersenyum.
“Sebenarnya gak perlu sampai seperti ini, Len.” Ujar tante Siska. “Om dan Tante ikhlas melakukan ini semua untuk kamu. Kami sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri.”
“Helena juga udah anggap om dan tante sebagai orang tua Helena sendiri.” Tante Siska langsung memeluk Helena.

Suasana menjadi haru. Satria yang menyaksikan itupun, ikut terharu.

“Ma, Pa.” sapa Satria tiba-tiba.
“Iya, sayang.” Tante Siska tersenyum lembut pada anak laki-lakinya itu.

Satriapun langsung memegang tangan Helena.

“Kak Satria….” Helena terkejut dengan apa yang di lakukan Satria.
“Ada apa ini, Sat?” tanya om Fadli.
“Kalo udah kayak gini, Satria boleh minta sesuatu gak?” tanya Satria hati-hati.
“Minta apa?” tanya om Fadli lagi.
“Kan, mama sama papa udah anggap Helena kayak anak sendiri. Begitupun Helena yang udah anggap mama sama papa kayak orang tua sendiri.” Satria diam sesaat, menarik nafasnya. “Sebenernya, Satria sama Helena itu saling sayang.”
“Apa?” om Fadli dan tante Siska terkejut.
“Boleh kan, kalo kita berdua pacaran?” genggaman tangan Satria semakin erat pada Helena. Helena sangat takut.
“Jangan. Kalian jangan pacaran.” Ujar om Fadli.
“Iya, lebih baik, kalian jangan pacaran.” Tante Siska menimpali.
“Tapi, Pa…”Satria tertunduk lesu.
“Papa pikir, lebih baik, kalian langsung tunangan saja.” Ujar om Fadli kemudian.
“Apa?” kini giliran Satria dan Helena yang terkejut.
“Sebenarnya, dulu, Papa, Mama dan kedua orang tua Helena sudah berencana untuk menjodohkan kalian.” Om Fadlipun bercerita. “Tapi setelah mama dan papa Helena meninggal, kami ragu untuk melanjutkan perjodohan itu. Kami takut mengecewakan Helena. Tapi kalau sudah begini, mama dan papa sangat bahagia.”
“Makasih ya, ma, pa.” Satria langsung memeluk kedua orang tua yang sangat disayanginya itu.
“Dari awal, Satria memang untuk Helena.” Tante Siskapun memeluk Helena.
“Makasih ya, om, tante.” Ujar Helena.

***

“Jadi, kapan kita akan melangsungkan acara pertunangannya?” tanya Satria dengan semangat.
“Terserah kalian saja.” om Fadli menyerahkan semua keputusan pada Satria dan Helena.
“Gimana kalo minggu depan.” Usul Satria.
“Hah! Cepet banget!” protes Helena.
“Kan lebih cepet, lebih baik.” Satria tersenyum licik.
“Oke.” Om Fadli menyetujui. “Kita akan adakan acara pertunangan, minggu depan.”
“Yeay……”

-END-

Monday, May 28, 2012

CINTA DAN KESEMPATAN KEDUA



"Pernahkah terbayang dalam pikiranmu, untuk meninggalkanku, Nadia?" tanya Bima suatu hari.
"Tidak!" jawab Nadia mantap. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan dan tidak ingin meninggalkanmu."
"Tapi bagaimana jika aku yang meninggalkanmu?" tanya Bima lagi.
"Aku tak pernah terpikirkan jawaban atas pertanyaan kamu itu." Nadia tersenyum tipis.

Bima memeluk Nadia erat.

"Apapun yang terjadi nanti, aku mau kamu tau, aku cinta kamu." ujar Bima tegas.
"Iya." ujar Nadia singkat.

***

Cinta tak pernah ikut menangis, ketika melihat cintanya menangis
Cinta tak pernah ikut terpuruk, ketika melihat cintanya terpuruk
Mengapa?
Karena cinta selalu akan membuat cintanya bahagia
Karena cinta selalu akan membuat cintanya kuat
Tapi bagaimanapun indahnya cinta,
Cinta pasti menyakitkan pada akhirnya
Kita hanya punya satu kesempatan untuk membuatnya bahagia
Kita hanya punya satu kesempatan untuk membuatnya kuat
Karena di kesempatan kedua,
Kita tak akan punya waktu yang sama

Nadia menangis membaca tulisan di kertas putih itu. Itu milik orang yang di cintainya. Bima Adiwidjaya. Dia telah pergi meninggalkan dunia, hari ini. Satu tahun lebih Bima melawan kanker di otaknya. Dan tuhan tak ingin dia lebih menderita lagi. Karena itu, Bima harus kembali pada yang memberinya hidup.

"Sabar ya, Nad." ujar Disa, teman sekolah Nadia dan Bima.
"Lagi gue coba, Dis." Nadia masih terisak.

Kemarin adalah hari pengumuman kelulusan bagi sekolah Nadia dan Bima. Mereka semua merayakannya dengan gembira. Tak ada yang menyangka, kalau kemarin adalah waktu terakhir Bima bersama-sama Nadia.

Nadia sedih, sangat sedih, tapi dia mencoba untuk kuat. Karena dia selalu mengingat kata-kata terakhir Bima padanya.

"Apapun yang terjadi nanti, aku mau kamu tau, aku cinta kamu."

Meskipun kini Bima telah pergi, tapi Nadia tau, Bima selalu mencintainya. Dan kini, Nadia mulai kuat menjalani hari-harinya sebagai seorang mahasiswa. Jika saja Bima masih di dunia ini, dia pasti akan sangat senang hidup sebagai seorang mahasiswa. Tak perlu pakai seragam sekolah lagi.

Nadia berjalan pelan memasuki wilayah kampusnya. Dia membawa sebuah gitar. Gitar pemberian Bima di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas waktu itu. Dan Nadia berjanji, akan menciptakan sebuah lagu untuk Bima, dengan gitarnya. Tapi begitu lagu itu selesai, Bimapun pergi dan tak sempat mendengarkan lagu itu di mainkan oleh Nadia. Akhirnya Nadia menyimpan lagu itu, tak pernah ia nyanyikan untuk siapapun.

"Nadia." sapa Disa.
"Hai, Dis." Nadia sudah bisa tersenyum lagi.
"Wah, kebetulan nih lo bawa gitar." Disa melirik gitar yang dibawa Nadia. "Ntar lo yang mainin gitarnya, terus gue yang nyanyi yah."
"Emangnya mau nyanyi buat apa?" tanya Nadia.
"Buat di rekam, terus gue masukin ke youtube." Disa tertawa sendiri menanggapi idenya. "Siapa tau gue bisa terkenal kayak Justin Bieber atau Greyson Chance gitu."
Nadia tertawa geli. "Iya deh. Mudah-mudahan bisa terkenal kayak mereka ya."
"Amin." Disa mengamini ucapan Nadia.

Usai menepati janjinya pada Disa, Nadia berjalan menuju ruang musik kampusnya. Dia berniat untuk bermain gitar dengan tenang disana. Tapi begitu masuk keruang musik, dia melihat seseorang yang sedang memainkan piano disana. Permainannya sangat bagus. Dan sepertinya, seseorang itu tak menyadari kedatangan Nadia. Nadia masuk perlahan, lalu duduk mengahadap ke seseorang yang sedang bermain piano itu.

Seseorang itu adalah seorang laki-laki yang tampan. Tapi Nadia melihat sebuah kesedihan di wajah tampan itu. Begitu permainan piano itu selesai, Nadia bertepuk tangan. Dan seseorang itupun baru menyadari keberadaan Nadia.

"Siapa lo?" tanya laki-laki itu kasar.
"Ehm, sebut aja gue ini penggemar lo." ujar Nadia.
"Penggemar apa?" tanya laki-laki itu lagi.
"Penggemar permainan piano lo yang keren itu." Nadia mencoba untuk akrab.
"Oh." laki-laki itu hanya menjawab cuek, lalu pergi.

Nadia sedikit kesal dengan sikapnya. Tapi dia tak mau memaksakan agar laki-laki itu mau bicara dengannya. Karena Nadia sempat membaca kesedihan di raut wajah laki-laki itu. Dan sepeninggalan laki-laki itu dari ruang musik, Nadia mulai mengambil alih ruangan, dan memainkan gitar kesayangannya.

Tanpa sepengetahuan Nadia, laki-laki itu mendengarkan diam-diam permainan gitarnya. Diapun mengakui keindahan suara Nadia saat bernyanyi dengan gitarnya.

***

Keesokan harinya, tanpa sengaja Nadia bertemu lagi dengan cowok piano itu, di kampus.

"Piano." sapa Nadia.
"Eh, penggemar." ujar cowok piano itu.

Nadia tertawa mendengar sapaan cowok piano itu padanya.

"Kenapa ketawa?" tanya si cowok piano.
"Abisan lucu aja, denger lo panggil gue penggemar." jawab Nadia.
"Bukannya kemaren, lo sendiri yang nyuruh gue buat nyebut lo penggemar?" ujar si cowok piano sinis.
"Hem, iya." Nadia membenarkan.
"Itu gitar lo?" si cowok piano menunjuk gitar yang di bawa oleh Nadia.
"Iya." Nadia melirik gitar itu.
"Bisa main gitar?" tanya si cowok piano lagi.
"Bisa. Tapi gak sejago elo dengan piano lo itu." jawab Nadia.
"Berlebihan deh." ujar si cowok piano sinis.
Nadia hanya tertawa kecil. "Eh, lo mau keruang musik kan? Bareng aja, yuk!"
"Boleh deh." ujar si cowok piano santai.

Merekapun berjalan bersama menuju ruang musik.

"Ayo dong, mainin lagi pianonya. Penggemar lo mau denger nih." pinta Nadia.
"Gimana kalo lo duluan yang mainin gitar lo. Gue mau denger." si cowok piano tersenyum licik.
"Ehm, oke deh." Nadiapun mulai memainkan gitarnya.

Si cowok piano mendengarkan dengan serius. Dan dia bertepuk tangan, di akhir permainan gitar Nadia.

"Ehm, kayaknya gue juga bakal jadi penggemar lo nih." ujarnya malu-malu.

Nadia hanya tersenyum.

"Ngomong-ngomong, nama lo siapa?" tanya si cowok piano. "Atau lo lebih seneng gue panggil penggemar?"
"Nama gue Nadia. Lo?"
"Gue Bima."

Nadia terkejut mendengar nama itu. Dia hampir pingsan. Air matanya menetes tak tertahan.

"Nad, lo kenapa?" tanya Bima.
"Gue gak apa-apa kok." Nadia menghapus air matanya. "Bima."
"Ada yang salah, sama nama gue?" tanya Bima curiga.
"Nama lo, mirip sama nama cowok gue yang udah meninggal." air mata Nadia semakin deras menetes.
"Oh, maaf." Bima mulai bingung. "Kalo gitu, lo bisa tetep panggil gue piano."
"Gak apa-apa kok, Bim." Nadia menghapus air matanya. "Itu kan gak adil buat lo. Masa cuma karena nama lo sama, sama nama almarhum cowok gue, lo harus ganti nama jadi piano. Pokoknya gue bakal panggil lo Bima."
"Ya udah, terserah lo aja." Bima menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Nadia.

Sejak hari itu, Nadia mulai terbiasa bersama Bima si cowok piano. Bima yang satu ini sangat berbeda dari Bima Adiwidjaya. Bima yang satu ini bisa membuat Nadia tertawa, juga kesal dan marah. Bima yang ini juga selalu berusaha tegar, meski dia menyimpan masalah. Seperti saat pertama kali Nadia melihatnya di ruang musik. Ternyata saat itu, Bima sedih karena Mamanya yang mengajarkan piano padanya, sakit. Tapi untunglah, sekarang Mamanya sudah membaik.

Merekapun mulai sering menghabiskan waktu bersama di ruang musik. Nadia juga mulai mempercayai Bima untuk diceritakan tentang Bima Adiwidjaya yang di cintainya. Banyak hal yang belum sempat Nadia lakukan untuk Bima Adiwidjaya, di lakukannya pada Bima si cowok piano.

"Sekarang gue lebih ngerasa lega, Bim." ujar Nadia begitu mereka sampai di ruang musik.
"Lega kenapa?" tanya Bima.
"Impian gue buat ngelakuin banyak hal bareng almarhum Bima, akhirnya bisa gue wujudin sama lo." ujar Nadia bahagia. "Gue jadi ngerasa punya kesempatan kedua bareng almarhum Bima."
"Gue ikut bahagia kok, bisa bantu lo wujudin hal-hal itu." senyum tulus terukir di bibir Bima.
"Makasih ya, Bim." Nadiapun memeluk Bima.

Mereka menjadi teman baik, dan semakin dekat. Bima benar-benar menjadi penggemar permainan gitar Nadia. Bagitupun Nadia, pada permainan piano Bima. Hingga pada suatu hari, mereka berdua ditunjuk untuk mengisi acara pada hari ulang tahun kampus.

"Aduh Bim, gue deg-degan nih." Nadia terus menggenggam tangan Bima.
"Udah, santai aja. Kan ada gue." Bima menguatkan.

Sekuat tenaga Nadia menahan rasa groginya untuk tampil di depan semua penghuni kampus. Tapi untunglah, keberadaan Bima di sebelahnya membuat Nadia kuat. Mereka berhasil menampilkan yang terbaik dalam acara ulang tahun kampus.

***

"Nad," Bima memegang kedua tangan Nadia.
"Ada apa, Bim?" tanya Nadia.
"Gue suka sama lo." ujar Bima malu-malu. "Apa lo mau, menjalani kesempatan kedua sama Bima si cowok piano?"

Nadia terkejut mendengar pernyataan Bima. Dia tersenyum, lalu mengambil gitarnya dan bernyanyi. Itu adalah lagu yang dia ciptakan untuk almarhum Bima. Yang tak sempat dia nyanyikan untuk almarhum Bima. Kini, untuk pertama kalinya dia menyanyikan lagu itu. Dan itu kepada Bima si cowok piano.

"Lagunya bagus." komentar Bima, begitu lagunya berakhir. "Ciptaan lo sendiri?"
"Iya." Nadia menaruh kembali gitarnya. "Bima si cowok piano, gue juga suka sama lo. Dan gue mau ngejalanin kesempatan kedua sama lo."

Bima tak bisa berkata-kata lagi. Dia sangat senang mendengar jawaban Nadia.

"Terima kasih." ujarnya.

-END-