Bulan November bisa jadi adalah bulan yang paling buruk bagi Helena. Karena di bulan ini, dia harus menerima kenyataan bahwa dia telah kehilangan dua orang yang paling di cintainya. Yaitu Ayah dan Ibunya. Helena juga harus menerima kenyataan bahwa rumah yang penuh kenangan indah bersama kedua orang tuanya itu, kini harus ia tinggalkan. Rumah itu harus membayar semua hutang semasa hidup Ayahnya. Tapi untunglah, ada Om Fadli dan Tante Siska yang bersedia menampung Helena di rumahnya. Om Fadli dan Tante Siska adalah teman baik almarhum Ayah dan Ibu Helena.
“Nah,
Len, ini adalah kamar kamu.” Tante Siska menunjuk kamar dengan pintu berwarna
putih itu. “Semoga kamu suka ya. Tante udah hias kamar kamu dengan semua yang
berwarna pink.”
“Makasih
ya, tante.” Ujar Helena lembut.
“Iya,
sayang.” Senyum terukir dari wajah tante Siska. “Kamu mandi dulu, abis itu
siap-siap untuk makan malam ya. Tante dan Om tunggu kamu di meja makan.”
“Iya,
tante.” Helena tersenyum tipis.
Helena
berjalan pelan memasuki kamar itu. Semua terlihat asing disana. Semua yang ada
di kamar ini, berbeda dengan milik Helena di rumahnya yang lama. Pertama,
Helena tak suka warna pink. Dia suka warna biru. Tapi Helena sadar, hidupnya
memang benar-benar sudah berubah, sejak kepergian kedua orang tuanya, akibat
kecelakaan mobil. Helena yang baru saja memasuki masa baru menjadi remaja putih
abu-abu, terpaksa pindah dari Jakarta ke Bandung, dan menetap di rumah om Fadli
dan tante Siska.
Helena
sudah selesai mandi dan berpakaian rapi, lalu dia beranjak menuju meja makan.
Disana, om Fadli dan tante Siska sudah menunggunya.
“Len,
ayo sini.” Ajak om Fadli. “Kita makan malam sama-sama.”
“Iya,
Om.” Helena duduk di salah satu kursi di meja makan. Lalu dia melirik pada satu
kursi kosong disebelahnya.
“Yang
satu itu, milik anak tante, Len.” Ujar tante Siska yang seolah mengerti dengan
tatapan Helena pada kursi itu.
“Besok,
dia akan kembali ke bandung loh, Len.”om Fadli menimpali. “Dia juga akan
bersekolah di sekolah yang sama dengan kamu. Tapi dia sudah kelas dua.”
“Emangnya,
sebelum ini, dia kemana Om?” Helena merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh
tentang anak ini.
“Ketika
lulus SMP, dia memilih untuk melanjutkan sekolah di Jogja.” Kisah om Fadli.
“Oh.”
Helena manggut-manggut.
“Dan
dia sengaja kembali ke Bandung, biar bisa sama-sama kamu loh, Len.” Ujar tante
Siska.
“Hah!”
Helena kaget mendengar ucapan tante Siska.
“Kamu
pasti sudah lupa dia deh.” Ujar om Fadli.
Helena
hanya tersenyum. Dia baru saja ingat dengan anak laki-laki dari om Fadli dan
tante Siska yang amat sangat bandel itu. Mereka pernah beberapa kali bertemu
sewaktu kecil. Dan Helena selalu menjadi korban kejahilannya.
***
Harusnya,
ini adalah hari pertama Helena masuk ke SMU barunya. Tapi dia terpaksa bolos,
karena harus menjemput anak laki-laki om Fadli dan tante Siska di stasiun.
Ditemani sopir dari om Fadli, Helena menunggu di stasiun.
Tak
berapa lama, keretapun datang. Satu per satu, orang-orang di dalamnya turun.
Helena dan mang Sapri si sopir, segera berdiri dari duduknya, dan melihat-lihat
ke semua penumpang yang turun.
“Den
Satria.” Panggil mang sapri, sambil melambaikan tangannya ke arah seorang cowok
berbaju biru yang baru saja keluar dari kereta. “Ayo neng Helena, kita
ketempatnya den Satria.”
“Oh,
iya Mang.” Helena mengikuti langkah mang Sapri.
Mang
Sapri dan Satria langsung berpelukan.
“Wah,
Satria kangen banget sama mang Sapri.” Ujar Satria bersemangat.
“Iya,
den. Mamang juga, kangen.” Ujar mang Sapri senang. “Den Satria makin kasep.”
“Ah,
mang Sapri bisa aja. Mamang juga makin kasep.” Mereka saling memuji.
Helena
menatap penuh kagum pada sosok yang kini berada di hadapannya. Satria yang
sekarang, sangat berbeda jauh dari Satria di masa kecil dulu. Satria yang dulu
itu, sangat gemuk dan hitam. Tapi kini, Satria sudah berubah menjadi cowok yang
putih dan tinggi. Badannya pun sudah tidak gemuk lagi.
“Neng,
Helena.” Panggilan Mang Sapri membuyarkan lamunan Helena.
“Eh,
iya mang.” Helena merasa malu.
“Hai.”
Sapa Satria sambil mengulurkan tangan kanannya, untuk bersalaman dengan Helena.
“Hai.”
Sahut Helena, yang lalu menjabat tangan Satria.
“Udah
lama banget ya, kita gak ketemu.” Ujar Satria.
“Iya.”
Helena tersenyum malu.
“Ya
sudah, ayo kita pulang den, neng.” Ajak mang Sapri.
Akhirnya,
merekapun sampai ke rumah. Om Fadli dan tante Siska sudah menunggu di rumah.
Satria langsung berpelukan dan mencium tangan kedua orangtuanya. Helena begitu
terharu melihatnya. Dia tiba-tiba teringat pada almarhum ayah dan ibunya.
“Len.”
Tante Siska memegang tangan Helena. “Ayo kita makan siang.”
“Oh,
iya tante.” Helena mengikuti langkah tante Siska ke meja makan.
Dan
merekapun makan bersama. Begitu banyak percakapan yang terjadi di meja makan,
siang itu.
Sore
harinya, Helena duduk santai di teras rumah, di temani secangkir teh hangat dan
sebuah majalah. Lalu Satria datang menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Sore.”
Sapa Satria.
“Sore.”
Sahut Helena.
“Gue
turut berduka cita, buat kedua orang tua lo ya, Len.” Ujar Satria tulus.
“Iya,
makasih.” Helena tersenyum tipis.
Lalu
merekapun sama-sama diam. Helena sibuk dengan majalahnya, dan Satria bingung
harus bicara tentang apa lagi pada Helena. Satria bahkan bisa menyadari
perubahan sikap Helena kini. Dia telah menjadi gadis remaja yang pendiam dan
dingin.
***
Ke
esokan paginya, Helena dan Satria sudah bersiap-siap untuk hari pertama di
sekolah baru mereka. Helena duduk di kelas satu, dan Satria di kelas dua.
Mereka pergi kesekolah, diantar oleh mang Sapri.
Satria
menarik nafas berat, begitu mereka sampai di sekolah itu.
“Lo
deg-degan gak sih, Len?” tanya Satria.
“Biasa
aja. “ jawab Helena. “Emangnya kenapa?” dia balik bertanya.
“Nggak
kenapa-kenapa sih. Biasalah, sindromnya para anak baru.” Satria tersenyum malu.
Helena
tertawa kecil. Lalu mereka berdua berjalan menuju ruangan kepala sekolah. Semua
mata tertuju pada mereka.
Begitu
bel tanda masuk berbunyi, Satria dan Helena di ajak masuk ke kelas mereka
masing-masing, dan oleh wali kelas mereka masing-masing pula. Pelajaran jam
pertamapun di mulai. Hingga hari pertama itupun berlalu juga. Semakin hari,
Satria dan Helena menjadi semakin dekat. Mereka sudah seperti kakak dan adik
sungguhan. Om Fadli dan tante Siskapun senang melihatnya.
Dan
di sekolahpun, Helena hanya bisa dekat dengan Satria. Dia tak pernah bertegur
sapa pada siapapun kecuali Satria.
***
“Hey.”
Satria tiba-tiba saja duduk di sebelah Helena. Dia membawa dua botol minuman
dingin. “Nih!” Satria memberikan satu botol pada Helena.
“Makasih
ya, kakak.” Helena segera meneguk minuman itu.
“Sama-sama
adekku.” Satria mengusap lembut rambut Helena.
“Lo
harusnya gak usah sama-sama gue terus.” Ujar Helena tiba-tiba.
“Loh,
kenapa?” tanya Satria bingung.
“Nanti,
lo bisa gak punya pacar. Gara-gara mainnya sama gue terus.” Jawab Helena. “Gue
udah gak apa-apa kok. Frekuensi sedih gue juga udah berkurang. Jadi lo gak usah
terlalu sering hibur gue lagi. Mendingan lo cari cewek. Kalo sama gue terus,
ntar gak ada cewek yang mau deket sama lo.”
“Biarin.”
Ujar Satria cuek, sambil meneguk minumannya. “Orang gue gak butuh siapapun. Gue
cuma butuh Helena Pratiwi di samping gue.”
“Lo
suka ya, sama gue?” tanya Helena tiba-tiba.
“Iya.”
Jawab Satria santai.
“Tapi
kita kan kakak-adik.”
“Tapi
bukan kakak-adik kandung kan?”
“Tapi
gue gak enak sama om dan tante.”
“Tapi
gue juga gak bisa buang rasa cinta gue sama lo.”
“Terus
gimana dong?”
“Ya,
kita pacaran.”
“Emangnya,
lo yakin kalo gue juga suka sama lo?”
“Yakin
banget.”
“Tapi
kita jangan pacaran ya.”
“Loh,
kenapa?”
“Karena
gue udah nganggep lo sebagai kakak gue sendiri. Lagi pula, kita itu kan tinggal
satu rumah.”
“Tapi,
Len…”
“Kalo
lo emang beneran cinta dan sayang sama gue. Tetaplah jadi satria buat gue.
Satria yang selalu ngelindungin gue dan bikin gue bahagia. Biar nanti, waktu
yang jawab semuanya. Kalo kita emang jodoh, kita pasti bakal bersatu.”
“Lo
yakin?”
“Yakin
banget.”
Satria
tertawa kecil. Lalu mengusap lembut rambut Helena.
“Oke.
Selamanya, gue akan jadi Satria untuk Helena.” Ujarnya lembut.
Sejak
hari itu, Satria benar-benar seperti kesatria yang melindungi Helena. Satria
sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia akan menjaga dan melindungi gadis yang
sangat dicintainya.
***
Suatu
hari, Satria mengantar Helena ke makam kedua orang tuanya.
“Ayah.
Ibu. Ini kak Satria.” Helenapun memperkenalkan Satria. “Dia anaknya om Fadli
dan tante Siska. Ayah dan Ibu pasti ingat kan?”
Air
mata Helenapun jatuh tak tertahan. Dan Satria segera menghapus air mata itu.
“Ayah.
Ibu. Helena udah anggep kak Satria seperti kakak kandung Helena sendiri.” Ujar
Helena lagi. “Helena juga bersyukur, karena kedua orang tua kak Satria, sayang
banget sama Helena. Helena bahagia di sini. Dan Helena harap, Ayah dan Ibu juga
bahagia di sana. Helena sayang kalian.”
Air
mata Helena terus menetes. Dia tak sanggup lagi menatap kedua nisan itu. Dan
Satria langsung menenangkannya.
“Udah
ya.” Ujar Satria. “Yuk, kita pulang.”
“Iya.”
Merekapun
meninggalkan makam, dan pulang.
Waktu
semakin cepat berlalu. Satria sudah kuliah semester tiga. Sedangkan Helena baru
saja lulus SMA, dan akan melanjutkan kuliah.
“Apa
ini, Len?” tanya om Fadli bingung.
“Itu
hadiah untuk om dan tante yang udah baik banget sama Helena.” Helena tersenyum.
“Sebenarnya
gak perlu sampai seperti ini, Len.” Ujar tante Siska. “Om dan Tante ikhlas
melakukan ini semua untuk kamu. Kami sudah menganggap kamu seperti anak kami
sendiri.”
“Helena
juga udah anggap om dan tante sebagai orang tua Helena sendiri.” Tante Siska
langsung memeluk Helena.
Suasana
menjadi haru. Satria yang menyaksikan itupun, ikut terharu.
“Ma,
Pa.” sapa Satria tiba-tiba.
“Iya,
sayang.” Tante Siska tersenyum lembut pada anak laki-lakinya itu.
Satriapun
langsung memegang tangan Helena.
“Kak
Satria….” Helena terkejut dengan apa yang di lakukan Satria.
“Ada
apa ini, Sat?” tanya om Fadli.
“Kalo
udah kayak gini, Satria boleh minta sesuatu gak?” tanya Satria hati-hati.
“Minta
apa?” tanya om Fadli lagi.
“Kan,
mama sama papa udah anggap Helena kayak anak sendiri. Begitupun Helena yang
udah anggap mama sama papa kayak orang tua sendiri.” Satria diam sesaat,
menarik nafasnya. “Sebenernya, Satria sama Helena itu saling sayang.”
“Apa?”
om Fadli dan tante Siska terkejut.
“Boleh
kan, kalo kita berdua pacaran?” genggaman tangan Satria semakin erat pada
Helena. Helena sangat takut.
“Jangan.
Kalian jangan pacaran.” Ujar om Fadli.
“Iya,
lebih baik, kalian jangan pacaran.” Tante Siska menimpali.
“Tapi,
Pa…”Satria tertunduk lesu.
“Papa
pikir, lebih baik, kalian langsung tunangan saja.” Ujar om Fadli kemudian.
“Apa?”
kini giliran Satria dan Helena yang terkejut.
“Sebenarnya,
dulu, Papa, Mama dan kedua orang tua Helena sudah berencana untuk menjodohkan
kalian.” Om Fadlipun bercerita. “Tapi setelah mama dan papa Helena meninggal,
kami ragu untuk melanjutkan perjodohan itu. Kami takut mengecewakan Helena.
Tapi kalau sudah begini, mama dan papa sangat bahagia.”
“Makasih
ya, ma, pa.” Satria langsung memeluk kedua orang tua yang sangat disayanginya
itu.
“Dari
awal, Satria memang untuk Helena.” Tante Siskapun memeluk Helena.
“Makasih
ya, om, tante.” Ujar Helena.
***
“Jadi,
kapan kita akan melangsungkan acara pertunangannya?” tanya Satria dengan semangat.
“Terserah
kalian saja.” om Fadli menyerahkan semua keputusan pada Satria dan Helena.
“Gimana
kalo minggu depan.” Usul Satria.
“Hah!
Cepet banget!” protes Helena.
“Kan
lebih cepet, lebih baik.” Satria tersenyum licik.
“Oke.”
Om Fadli menyetujui. “Kita akan adakan acara pertunangan, minggu depan.”
“Yeay……”
-END-

No comments:
Post a Comment