“Terkadang memang harus mengorbankan satu kebahagiaan, untuk kebahagiaan yang lain. Meskipun satu kebahagiaan yang aku korbankan itu, adalah mimpi terbesarku.”
Giska berjalan pelan
menuju rumahnya. Dia baru saja pulang dari sekolah. Pikirannya berkecamuk.
Mengingat semua hal yang terjadi di sekolah hari ini. Belum lagi mengenai ujian
akhir nasional, yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
“Ah, pusing!” Giska
memukul kepalanya sendiri. Lalu berjalan masuk ke halaman rumahnya yang di
penuhi tanaman dan bunga yang segar dan indah.
“Assalamualaikum.” seorang
wanita berumur 30 tahunan, yang sedang menyapu halaman itu, mengucapkan salam
pada Giska.
“Eh, Bunda.
Waalaikumsalam.” Sahut Giska malu. “Maaf ya Bun, Giska gak liat Bunda di sini.
Jadi, gak ngucap salam deh.”
“Kamu ngelamun ya?” tanya
Bunda.
“Nggak kok, Bun.” Jawab
Giska sembari tersenyum. “Giska masuk dulu ya, Bun. Mau mandi.”
“Iya.” Bunda kembali
meneruskan pekerjaannya.
Jam makan malampun tiba,
Giska, Ayah dan Bundanya, makan malam bersama.
“Gimana tadi di
sekolahnya, Gis?” tanya Ayah.
“Biasalah, Yah.” Giska
melahap nasinya. “Masih sibuk belajar buat UN.”
“Eh, UN nya tinggal enam
hari lagi ya?” Bunda ikut bertanya.
“Iya, Bun.” Giska menghela
nafas berat.
***
Hari pertama UN pun
akhirnya sampai juga. Suasana ruangan ujian sangat tenang. Semua siswa sibuk
dengan soal-soal yang harus mereka jawab. Begitulah hingga empat hari berlalu.
Dan UN pun selesai.
“Ah, lega gue.” Ujar
Farah, sahabat Giska. “Akhirnya UN selesai juga.”
“Tapi masih ada hari
pengumuman kelulusan.” Giska merangkul bahu sahabatnya itu.
“Iya sih.” Wajah Farah
kembali pucat. “Eh iya, Gis, rencananya lo mau kuliah dimana?”
“Gak tau, Far.” Giska
tertunduk lesu. “Lo kan tau sendiri gimana keadaan ekonomi keluarga gue.
Mungkin, gue gak akan bisa kuliah.”
“Yah, kok gitu sih, Gis.”
Farah ikut prihatin. “Lo kan pinter. Masa gak kuliah.”
“Abisnya mau gimana lagi.”
Giska pasrah.
“Oh iya, lo mau gak ikut
tes beasiswa?” Farah menawarkan. “Gue denger, lagi ada tes beasiswa buat anak
yang pinter, tapi kurang mampu gitu.”
“Beasiswa apa?” tanya
Giska semangat.
“Beasiswa S-1 di salah satu
perguruan tinggi di Sumatera.”
“Gue mau.”
“Oke, gimana kalo besok
kita ke tempat pendaftarannya?”
“Oke.”
Giska sangat senang
mendengar tentang tes beasiswa itu. Dia meminta izin pada Ayah dan Bundanya,
untuk ikut tes itu. Dan merekapun menyetujuinya.
Hari ini, Giska sudah
mendaftarkan diri untuk tes itu. Dan minggu depan, tesnya akan dilaksanakan.
“Aduh Far, gue deg degan
nih.” Ujar Giska.
“Semangat!” Farah memberi kekuatan
pada Giska. “Yang penting, lo belajar. Biar bisa ngerjain soal-soal tes nanti.”
“Oke.” Giska pun semangat
lagi untuk tes itu. “Bismillah.”
***
Hari pelaksanaan tes
beasiswapun akhirnya sampai pada waktunya. Giska harus berjuang mendapatkan
nilai yang baik, agar bisa terpilih menjadi salah satu siswa yang beruntung
untuk kuliah.
90 menitpun berlalu tanpa
suara. Giska akhirnya bisa menyelesaikan semua soal yang di berikan.
“Gimana, Gis?” tanya Farah
was-was.
“Soalnya susah banget.”
Giska menjawab lesu.
“Tetep optimis, Gis.”
Farah menepuk bahu Giska. “Lo kan udah berusaha. Insyaallah dapet.”
“Amin.” Giska mengamini.
“Makasih banyak ya, Far.”
Farah mengangguk pelan,
lalu mereka berpelukan.
Hasil tes itu akan
diumumkan satu minggu lagi. Selama itu, Giska menunggu dengan sabar. Giska dan
Farah juga sedang was-was menunggu hasil pengumuman kelulusan UN mereka.
***
“Giska.” Teriak Farah.
“Kita lulus, Gis. Kita lulus.”
“Iya, Farah.” Giska
tersenyum bahagia. “Alhamdulillah.”
“Akhirnya, setelah tiga
tahun kita belajar disekolah ini, kita ngedapetin hasil yang baik juga.” Ujar
Farah bijak.
“Iya, Far.” Giska tak bisa
berkata banyak. Dia benar-benar bahagia.
“Oh iya, hari ini juga
hari pengumuman tes beasiswa lo kan, Gis?” Farah bertanya ragu.
“Oh iya, Far.” Giskapun
baru menyadari itu.
“Yuk kita beli koran, kan
pengumumannya ada di koran.” Ajak Farah.
“Yuk!”
Merekapun pergi untuk
membeli koran. Dan begitu mendapatkannya, Giska dan Farah segera mencari kolom
pengumuman tes itu.
“Ah, lo lulus, Gis.” Teriak
Farah seketika. “Ini, nama lo di urutan ketiga.”
“Eh, iya. Gue lulus!”
teriak Giska senang. “Alhamdulillah.”
Giska pulang dengan
senangnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Giska terus memandang koran itu.
Besok, dia akan pergi ke Kantor Dinas Pendidikan, untuk kelanjutan beasiswanya
ini. Saking bahagianya Giska, dia tak sadar, sebuah mobil akan menabraknya.
Tapi beruntunglah,
seseorang menyelamatkan Giska dari tabrakan itu. Dan si penyelamatlah yang
harus merasakan tabrakan mobilnya.
Giska menjerit ketakutan.
Dia tak sanggup melihat tubuh berseragam SMU itu terpental dan berlumuran
darah. Dialah si penyelamat nyawa Giska.
Seketika itu juga, para
warga yang melihat, segera membawa anak laki-laki yang berseragam SMU itu ke
rumah sakit. Meski takut dan merasa bersalah, Giska tetap memberanikan diri
untuk ikut mengantar sang penyelamatnya itu ke rumah sakit. Ayah dan Ibu Giska
juga bergegas ke rumah sakit, begitu mendapat kabar dari Giska. Dan orang tua
anak laki-laki itu juga telah berhasil dihubungi.
“Giska takut, Bunda.” Ujar
Giska sambil terisak.
‘Gak apa-apa sayang. Kamu
jangan takut, ya.” Ujar Bunda menenangkan.
Tak lama, keluarga anak
laki-laki itupun datang, seiring dengan keluarnya dokter dari ruang UGD.
“Bagaimana keadaan anak
saya, Dok?” tanya seorang ibu yang masih sangat muda itu.
“Sepertinya, dia akan
mengalami kelumpuhan, Bu.” Jawab Dokter itu.
Ibu dari anak laki-laki
itupun menangis tersedu, dalam dekapan suaminya. Giska semakin merasa bersalah.
Hingga hari ketiga, anak
laki-laki itu masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Giska sudah
menceritakan semuanya, pada kedua orang tua anak laki-laki itu, dan
beruntunglah, mereka tak menyalahkan Giska. Tapi Giska merasa, dia tetap harus
bertanggung jawab.
Kemarin, Giska sudah
mengatakan caranya untuk bertanggung jawab pada anak laki-laki itu, pada Farah.
“Far, gue udah mutusin.”
Ujar Giska sungguh-sungguh.
“Mutusin apa, Gis?” tanya
Farah.
“Gue, gak akan ambil
beasiswa itu.” Jawab Giska.
“Apa?” Farah benar-benar
terkejut. “Tapi kan, Gis…”
“Mungkin beasiswa itu
bukan jalan gue.” Ujar Giska. “Biarlah beasiswa ini menjadi milik orang lain. Karena
gue gak mungkin pergi ke Sumatera, dan meninggalkan orang yang udah nyelametin
hidup gue disini.”
“Tapi, ini kan adalah
mimpi terbesar lo, Gis.” Farah masih belum bisa menerima. “Lo mau kuliah. Lo
mau jadi guru. Dan lo mau ngebahagiain Ayah sama Bunda lo.”
“Tapi kalo gue ambil
beasiswa itu, sama aja dengan gue bahagia di atas penderitaan orang lain.”
Ucapan Giska yang
terakhir, membuat mulut Farah tertutup rapat untuk mengatakan hal yang lain.
Tentang mimpi Giska yang terbesar. Tapi kini harus dia relakan untuk
kebahagiaan yang lain. Giska akan lebih bahagia, jika dia tak harus bahagia
diatas penderitaan orang lain. Mungkin satu pengorbanan ini, akan membawa Giska
pada bahagia yang lain. Yang sudah di rencanakan tuhan untuknya. Dan Giska
sangat percaya itu.
Kini Giska sudah duduk di
samping, tubuh lemah itu.
“Halo.” Sapa Giska.
“Makasih ya, lo udah nolongin gue dari tabrakan itu. Gue bener-bener ngerasa bersalah
dengan keadaan lo yang sekarang. Kata Farah, gue bodoh karena udah ngorbanin
mimpi terbesar gue, demi lo. Tapi coba deh kita pikir lagi. Kalo aja hari itu
lo gak nolongin gue, mungkin sekarang, gue juga tetep gak bisa menggapai mimpi
terbesar gue itu.”
Giska menggenggam erat
tangan anak laki-laki yang masih belum sadarkan diri itu.
“Pasti selalu ada makna,
dari setiap kejadian.” Giska bicara lagi. “Semua ini sudah rencana tuhan.
Kadang kita memang harus mengorbankan satu kebahagiaan, demi kebahagiaan yang
lain. Meskipun satu kebahagiaan yang kita korbankan itu, adalah mimpi terbesar
kita.”
***
Hari ini, Farah akan
berangkat ke Jogja, untuk kuliahnya. Dan Giska datang ke bandara, untuk
mengantarkan kepergiaannya.
“Gue terpaksa pilih kuliah
di Jogja, karena Papa gue di pindah tugas kesana.” Ujar Farah pada Giska. “Tapi
gue janji, kalo ada libur kuliah nanti, gue bakal kesini buat nemuin lo.”
“Iya. Udah deh, pokoknya
lo kuliah yang bener aja.” Giska tersenyum tipis. “Lagian kan, Jakarta-Jogja gak
jauh-jauh banget. Gak mesti lintas pulau, ataupun negara.”
“Iya deh.” Farah ikut
tersenyum. “Salam ya, buat sang penyelamat lo itu. Semoga dia cepat sembuh.”
“Oke.” Merekapun
berpelukan.
Farah melambaikan
tangannya pada Giska.
Kini, sang penyelamat Giska
sudah keluar dari rumah sakit. Tapi seperti yang dikatakan dokter, dia lumpuh.
Dan Giskalah yang bersedia merawatnya, sampai suatu saat nanti, sang
penyelamatnya itu sembuh. Nama sang penyelamat itu adalah Gavin. Dia seumuran
dengan Giska. Saat kejadian tabrakan itu, Gavin juga baru saja merayakan
kelulusannya.
“Gue gak nyangka kalo
kejadiannya bakal kayak gini.” Ujar Gavin. “Dan gue juga jadi merasa bersalah,
karena lo malah mau bertanggung jawab kayak gini.”
“Gue rasa, ini emang udah
jadi kewajiban gue.” Giska tersenyum tipis. “Lo udah nolongin gue, jadi gue
harus balas budi baik lo.”
“Makasih ya.” Gavin
tersenyum bahagia.
“Sama-sama.”
“Oh iya, kemaren, gue
minta sama Mama, buat beliin gue dua kalung dengan bandul huruf G. Yang satu
buat lo, dan yang satu lagi buat gue.”
“Tapi, ini buat apa?”
“Gak buat apa-apa sih.
Abisnya kan, gue pikir, nama kita itu di awali dengan huruf yang sama. Yaitu G.
Dan huruf G, sama-sama ada di kata ‘Kebahagiaan’ dan ‘Pengorbanan’. Dua kata,
yang udah mengajarkan gue banyak hal. Dan itu dari lo.”
“Makasih ya, Gavin.”
“Makasih juga ya, Giska.”
-END-

No comments:
Post a Comment