Wednesday, June 6, 2012

SATU PENGORBANAN




“Terkadang memang harus mengorbankan satu kebahagiaan, untuk kebahagiaan yang lain. Meskipun satu kebahagiaan yang aku korbankan itu, adalah mimpi terbesarku.”

Giska berjalan pelan menuju rumahnya. Dia baru saja pulang dari sekolah. Pikirannya berkecamuk. Mengingat semua hal yang terjadi di sekolah hari ini. Belum lagi mengenai ujian akhir nasional, yang akan dilaksanakan sebentar lagi.

“Ah, pusing!” Giska memukul kepalanya sendiri. Lalu berjalan masuk ke halaman rumahnya yang di penuhi tanaman dan bunga yang segar dan indah.
“Assalamualaikum.” seorang wanita berumur 30 tahunan, yang sedang menyapu halaman itu, mengucapkan salam pada Giska.
“Eh, Bunda. Waalaikumsalam.” Sahut Giska malu. “Maaf ya Bun, Giska gak liat Bunda di sini. Jadi, gak ngucap salam deh.”
“Kamu ngelamun ya?” tanya Bunda.
“Nggak kok, Bun.” Jawab Giska sembari tersenyum. “Giska masuk dulu ya, Bun. Mau mandi.”
“Iya.” Bunda kembali meneruskan pekerjaannya.

Jam makan malampun tiba, Giska, Ayah dan Bundanya, makan malam bersama.

“Gimana tadi di sekolahnya, Gis?” tanya Ayah.
“Biasalah, Yah.” Giska melahap nasinya. “Masih sibuk belajar buat UN.”
“Eh, UN nya tinggal enam hari lagi ya?” Bunda ikut bertanya.
“Iya, Bun.” Giska menghela nafas berat.

***

Hari pertama UN pun akhirnya sampai juga. Suasana ruangan ujian sangat tenang. Semua siswa sibuk dengan soal-soal yang harus mereka jawab. Begitulah hingga empat hari berlalu. Dan UN pun selesai.

“Ah, lega gue.” Ujar Farah, sahabat Giska. “Akhirnya UN selesai juga.”
“Tapi masih ada hari pengumuman kelulusan.” Giska merangkul bahu sahabatnya itu.
“Iya sih.” Wajah Farah kembali pucat. “Eh iya, Gis, rencananya lo mau kuliah dimana?”
“Gak tau, Far.” Giska tertunduk lesu. “Lo kan tau sendiri gimana keadaan ekonomi keluarga gue. Mungkin, gue gak akan bisa kuliah.”
“Yah, kok gitu sih, Gis.” Farah ikut prihatin. “Lo kan pinter. Masa gak kuliah.”
“Abisnya mau gimana lagi.” Giska pasrah.
“Oh iya, lo mau gak ikut tes beasiswa?” Farah menawarkan. “Gue denger, lagi ada tes beasiswa buat anak yang pinter, tapi kurang mampu gitu.”
“Beasiswa apa?” tanya Giska semangat.
“Beasiswa S-1 di salah satu perguruan tinggi di Sumatera.”
“Gue mau.”
“Oke, gimana kalo besok kita ke tempat pendaftarannya?”
“Oke.”

Giska sangat senang mendengar tentang tes beasiswa itu. Dia meminta izin pada Ayah dan Bundanya, untuk ikut tes itu. Dan merekapun menyetujuinya.

Hari ini, Giska sudah mendaftarkan diri untuk tes itu. Dan minggu depan, tesnya akan dilaksanakan.

“Aduh Far, gue deg degan nih.” Ujar Giska.
“Semangat!” Farah memberi kekuatan pada Giska. “Yang penting, lo belajar. Biar bisa ngerjain soal-soal tes nanti.”
“Oke.” Giska pun semangat lagi untuk tes itu. “Bismillah.”

***

Hari pelaksanaan tes beasiswapun akhirnya sampai pada waktunya. Giska harus berjuang mendapatkan nilai yang baik, agar bisa terpilih menjadi salah satu siswa yang beruntung untuk kuliah.
90 menitpun berlalu tanpa suara. Giska akhirnya bisa menyelesaikan semua soal yang di berikan.

“Gimana, Gis?” tanya Farah was-was.
“Soalnya susah banget.” Giska menjawab lesu.
“Tetep optimis, Gis.” Farah menepuk bahu Giska. “Lo kan udah berusaha. Insyaallah dapet.”
“Amin.” Giska mengamini. “Makasih banyak ya, Far.”

Farah mengangguk pelan, lalu mereka berpelukan.

Hasil tes itu akan diumumkan satu minggu lagi. Selama itu, Giska menunggu dengan sabar. Giska dan Farah juga sedang was-was menunggu hasil pengumuman kelulusan UN mereka.

***

“Giska.” Teriak Farah. “Kita lulus, Gis. Kita lulus.”
“Iya, Farah.” Giska tersenyum bahagia. “Alhamdulillah.”
“Akhirnya, setelah tiga tahun kita belajar disekolah ini, kita ngedapetin hasil yang baik juga.” Ujar Farah bijak.
“Iya, Far.” Giska tak bisa berkata banyak. Dia benar-benar bahagia.
“Oh iya, hari ini juga hari pengumuman tes beasiswa lo kan, Gis?” Farah bertanya ragu.
“Oh iya, Far.” Giskapun baru menyadari itu.
“Yuk kita beli koran, kan pengumumannya ada di koran.” Ajak Farah.
“Yuk!”

Merekapun pergi untuk membeli koran. Dan begitu mendapatkannya, Giska dan Farah segera mencari kolom pengumuman tes itu.

“Ah, lo lulus, Gis.” Teriak Farah seketika. “Ini, nama lo di urutan ketiga.”
“Eh, iya. Gue lulus!” teriak Giska senang. “Alhamdulillah.”

Giska pulang dengan senangnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Giska terus memandang koran itu. Besok, dia akan pergi ke Kantor Dinas Pendidikan, untuk kelanjutan beasiswanya ini. Saking bahagianya Giska, dia tak sadar, sebuah mobil akan menabraknya.

Tapi beruntunglah, seseorang menyelamatkan Giska dari tabrakan itu. Dan si penyelamatlah yang harus merasakan tabrakan mobilnya.

Giska menjerit ketakutan. Dia tak sanggup melihat tubuh berseragam SMU itu terpental dan berlumuran darah. Dialah si penyelamat nyawa Giska.

Seketika itu juga, para warga yang melihat, segera membawa anak laki-laki yang berseragam SMU itu ke rumah sakit. Meski takut dan merasa bersalah, Giska tetap memberanikan diri untuk ikut mengantar sang penyelamatnya itu ke rumah sakit. Ayah dan Ibu Giska juga bergegas ke rumah sakit, begitu mendapat kabar dari Giska. Dan orang tua anak laki-laki itu juga telah berhasil dihubungi.

“Giska takut, Bunda.” Ujar Giska sambil terisak.
‘Gak apa-apa sayang. Kamu jangan takut, ya.” Ujar Bunda menenangkan.

Tak lama, keluarga anak laki-laki itupun datang, seiring dengan keluarnya dokter dari ruang UGD.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya seorang ibu yang masih sangat muda itu.
“Sepertinya, dia akan mengalami kelumpuhan, Bu.” Jawab Dokter itu.

Ibu dari anak laki-laki itupun menangis tersedu, dalam dekapan suaminya. Giska semakin merasa bersalah.

Hingga hari ketiga, anak laki-laki itu masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Giska sudah menceritakan semuanya, pada kedua orang tua anak laki-laki itu, dan beruntunglah, mereka tak menyalahkan Giska. Tapi Giska merasa, dia tetap harus bertanggung jawab.

Kemarin, Giska sudah mengatakan caranya untuk bertanggung jawab pada anak laki-laki itu, pada Farah.

“Far, gue udah mutusin.” Ujar Giska sungguh-sungguh.
“Mutusin apa, Gis?” tanya Farah.
“Gue, gak akan ambil beasiswa itu.” Jawab Giska.
“Apa?” Farah benar-benar terkejut. “Tapi kan, Gis…”
“Mungkin beasiswa itu bukan jalan gue.” Ujar Giska. “Biarlah beasiswa ini menjadi milik orang lain. Karena gue gak mungkin pergi ke Sumatera, dan meninggalkan orang yang udah nyelametin hidup gue disini.”
“Tapi, ini kan adalah mimpi terbesar lo, Gis.” Farah masih belum bisa menerima. “Lo mau kuliah. Lo mau jadi guru. Dan lo mau ngebahagiain Ayah sama Bunda lo.”
“Tapi kalo gue ambil beasiswa itu, sama aja dengan gue bahagia di atas penderitaan orang lain.”

Ucapan Giska yang terakhir, membuat mulut Farah tertutup rapat untuk mengatakan hal yang lain. Tentang mimpi Giska yang terbesar. Tapi kini harus dia relakan untuk kebahagiaan yang lain. Giska akan lebih bahagia, jika dia tak harus bahagia diatas penderitaan orang lain. Mungkin satu pengorbanan ini, akan membawa Giska pada bahagia yang lain. Yang sudah di rencanakan tuhan untuknya. Dan Giska sangat percaya itu.

Kini Giska sudah duduk di samping, tubuh lemah itu.

“Halo.” Sapa Giska. “Makasih ya, lo udah nolongin gue dari tabrakan itu. Gue bener-bener ngerasa bersalah dengan keadaan lo yang sekarang. Kata Farah, gue bodoh karena udah ngorbanin mimpi terbesar gue, demi lo. Tapi coba deh kita pikir lagi. Kalo aja hari itu lo gak nolongin gue, mungkin sekarang, gue juga tetep gak bisa menggapai mimpi terbesar gue itu.”

Giska menggenggam erat tangan anak laki-laki yang masih belum sadarkan diri itu.

“Pasti selalu ada makna, dari setiap kejadian.” Giska bicara lagi. “Semua ini sudah rencana tuhan. Kadang kita memang harus mengorbankan satu kebahagiaan, demi kebahagiaan yang lain. Meskipun satu kebahagiaan yang kita korbankan itu, adalah mimpi terbesar kita.”

***

Hari ini, Farah akan berangkat ke Jogja, untuk kuliahnya. Dan Giska datang ke bandara, untuk mengantarkan kepergiaannya.

“Gue terpaksa pilih kuliah di Jogja, karena Papa gue di pindah tugas kesana.” Ujar Farah pada Giska. “Tapi gue janji, kalo ada libur kuliah nanti, gue bakal kesini buat nemuin lo.”
“Iya. Udah deh, pokoknya lo kuliah yang bener aja.” Giska tersenyum tipis. “Lagian kan, Jakarta-Jogja gak jauh-jauh banget. Gak mesti lintas pulau, ataupun negara.”
“Iya deh.” Farah ikut tersenyum. “Salam ya, buat sang penyelamat lo itu. Semoga dia cepat sembuh.”
“Oke.” Merekapun berpelukan.

Farah melambaikan tangannya pada Giska.

Kini, sang penyelamat Giska sudah keluar dari rumah sakit. Tapi seperti yang dikatakan dokter, dia lumpuh. Dan Giskalah yang bersedia merawatnya, sampai suatu saat nanti, sang penyelamatnya itu sembuh. Nama sang penyelamat itu adalah Gavin. Dia seumuran dengan Giska. Saat kejadian tabrakan itu, Gavin juga baru saja merayakan kelulusannya.

“Gue gak nyangka kalo kejadiannya bakal kayak gini.” Ujar Gavin. “Dan gue juga jadi merasa bersalah, karena lo malah mau bertanggung jawab kayak gini.”
“Gue rasa, ini emang udah jadi kewajiban gue.” Giska tersenyum tipis. “Lo udah nolongin gue, jadi gue harus balas budi baik lo.”
“Makasih ya.” Gavin tersenyum bahagia.
“Sama-sama.”
“Oh iya, kemaren, gue minta sama Mama, buat beliin gue dua kalung dengan bandul huruf G. Yang satu buat lo, dan yang satu lagi buat gue.”
“Tapi, ini buat apa?”
“Gak buat apa-apa sih. Abisnya kan, gue pikir, nama kita itu di awali dengan huruf yang sama. Yaitu G. Dan huruf G, sama-sama ada di kata ‘Kebahagiaan’ dan ‘Pengorbanan’. Dua kata, yang udah mengajarkan gue banyak hal. Dan itu dari lo.”
“Makasih ya, Gavin.”
“Makasih juga ya, Giska.”

-END-

No comments:

Post a Comment