Monday, June 11, 2012

UNTUK CINTA




Dear Adrian,
Cinta itu bukan menunggu, tapi menemukan
Cinta itu bukan menangis, tapi membahagiakan
Cinta itu bukan sempurna, tapi istimewa
Cinta itu bukan hati, tapi perasaan
Cinta itu bukan dia, tapi aku…
Aku mencintaimu…

-CINTA-

Adrian masih menyelipkan senyum, ketika membaca tulisan dikertas putih itu. Kertas yang diberikan oleh sahabatnya, Cinta. Kertas itu baru saja Adrian temukan disaku tasnya, kemarin. Memang sangat terlambat, bila mengingat sang pemberi kertas, yang kini sudah tiada. Cinta meninggal, dua hari yang lalu. Karena sebuah kecelakaan.

Pikiran Adrian, kembali pada hari itu.

***

Cinta tak pernah berbeda, dia selalu sama, selalu ceria, seperti hari ini.

“Adrian!” sapa Cinta penuh semangat. “Pulang bareng, yuk!”
“Aduh.” Adrian menepuk jidatnya. “Maaf banget ya, Ta. Hari ini gue udah janji mau pulang sama Tiara.”
“Oh, ya udah deh!” ujar Cinta tanpa mengurangi semangatnya.
“Lain kali, gue pasti pulang bareng lo lagi kok, Ta.” Adrianpun segera berlalu, meninggalkan Cinta.

Adrian masih sempat melambaikan tangannya, dan dibalas oleh Cinta. Mereka berdua sama-sama mengukir senyum. Kemudian Adrian menghilang dalam tikungan menuju gerbang sekolah. Tinggal Cinta yang masih duduk termenung di salah satu kursi kelas. Lalu Farhan datang menghampirinya.

“Coba liat cewek yang ada disebelah gue ini.” Farhan membicarakan Cinta. “Cuma bisa menatap cintanya dari kejauhan. Padahal bisa dia dekati.”
“Maksud lo apa sih, Han?” Cinta mengerutkan keningnya. “Gak jelas banget deh!”
“Kenapa sih, lo gak bilang aja, kalo lo tuh suka sama Adrian.” Farhan menyarankan. “Gue tuh tau, kalo lo itu udah suka sama Adrian dari kita masih kelas satu.”
“Sok tau, lo!” kecam Cinta. “Kalo gue suka sama Adrian, kenapa juga gue bantuin dia waktu mau jadian sama Tiara.”
“Itulah bodohnya elo.” Farhan menunjuk pada Cinta. “Punya cinta, tapi di pendam aja dalem hati.”
“Itu karena cinta pake perasaan, Han. Bukan pake hati.” Cinta jadi mellow. “Kalo lo jadi gue, lo juga pasti akan ngelakuin hal yang sama.”
“Nggak, Ta.” Farhan menatap serius. “Kalo gue jadi lo, gue akan bilang perasaan gue yang sebenarnya sama Adrian. Apapun hasilnya nanti, meski gue cuma bertepuk sebelah tangan, setidaknya gue udah bilang sama dia, dan dia tau gimana sebenernya parasaan gue. Karena gue tau, kesempatan itu gak selalu dateng dua kali.”
“Pernah denger sebuah kalimat gak, Han?” Cinta melirik Farhan yang bingung. “Aku akan bahagia, jika melihat orang yang aku cinta bahagia. Meskipun bahagianya, bukan bersamaku.”
“Pernah mikir, gak?” tanya Farhan sinis. “Mana ada orang yang bahagia, liat orang yang dia cinta bahagia sama orang lain. Itu munafik, Ta.”
“Tapi gue bahagia kok, liat Adrian bahagia sama Tiara.” Cinta memaksakan senyum.
“Terserah lo deh, Ta.” Farhan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Gue harap, lo gak nyesel nantinya.”
“Menurut lo, gue masih punya kesempatan gak sih?” Cinta mulai berharap. “Soalnya, dulu gue pernah nyelipin sebuah kertas disaku tasnya Adrian. Bisa dibilang, itu ungkapan cinta gue sama dia. Tapi kayaknya, dia belum liat.”
“Lo yakin, dia belum liat?” tanya Farhan.
“Ya, kalo dia udah liat, pasti dia bereaksi dong.” Cinta mengira-ngira. “Tapi buktinya, dia sama sekali gak pernah ngebahas soal kertas itu.”
“Gue rasa lo belum terlambat, Ta.” Farhan meyakinkan Cinta. “Nyatain sekarang juga.”
“Oke.” Cinta tersenyum tipis. “Kalo gitu, gue kejar Adrian sekarang ya, Han.”

Cinta baru saja bangkit dari duduknya, dan berniat pergi. Tapi Farhan menahannya sesaat. Kini, tangan kiri Cinta berada dalam genggaman Farhan.

“Sebelum lo bilang tentang perasaan lo sama Adrian, gue juga mau ngomong satu hal sama lo, Ta.” Ujar Farhan serius.
“Apa, Han?” tanya Cinta penasaran.
“Gue cinta sama lo.” Jawab Farhan sungguh-sungguh. “Sama seperti perasaan lo sama Adrian, gue juga udah suka sama lo sejak kita kelas satu. Gue tau ini emang bukan waktu yang tepat buat ngomongin soal ini. Tapi gue gak tau kenapa, rasanya gue harus ngomong ini sekarang.”
“Farhan…”
“Lo gak perlu jawab kok, Ta.” Farhan menutup bibir Cinta. “Karena gue udah tau jawabannya. Dan sekarang, giliran lo yang ngomong sama Adrian.”
“Iya.” Ujar Cinta lantang. “Gue juga akan bilang hal yang sama dengan yang lo bilang sama gue tadi. Adrian gak perlu jawab, karena gue udah tau jawabannya.”
“Fighting!” Farhan tersenyum.
“Makasih ya, Han.” Cintapun memeluk Farhan.

Cinta melanjutkan langkahnya dengan mantap. Menyusuri jalan menuju rumah Adrian. Tapi siapa sangka, di jalan, dia bertemu dengan Adrian dan Tiara yang baru saja keluar dari sebuah warung makan pinggir jalan. Cinta tak ingin merusak kebahagiaan di wajah Adrian dan Tiara. Mereka berdua sedang berjalan sambil bercanda. Cinta menatapnya dari kejauhan. Selalu begitu. Hanya bisa dari kejauhan.

Tapi ketegangan mulai terjadi, saat Tiara menyebrang tanpa melihat kanan-kirinya yang ternyata ada sebuah mobil melaju kencang. Adrian berteriak, dan ingin berusaha menarik tubuh Tiara ke tepi, tapi dia di hadang oleh warga disitu, karena itu akan membahayakan nyawa dia dan Tiara.

Akhirnya Cintalah yang dengan cepat mendorong tubuh Tiara ke pinggir, tanpa membawa serta dirinya. Mobil dengan kecepatan tinggi itupun menabrak tubuh Cinta.

“Cintaaa…..” Adrian berteriak sekuat tenaga. Cintapun masih sempat memberi senyum pada Adrian, sebelum tubuhnya jauh terpental.

Semua orang yang berada ditempat kejadian, bergegas membawa Cinta kerumah sakit. Sedangkan Adrian dan Tiara hanya duduk lemas di pinggiran jalan. Tiara menepikan airmatanya, lalu memeluk Adrian.

Nasib Cinta mungkin memang tidak seberuntung itu. Sebelum berhasil sampai di rumah sakit, dia sudah tidak bernyawa.

***

“Dri.” Seseorang menepuk bahu Adrian.
“Eh, elo, Han.” Ternyata seseorang itu adalah Farhan.
“Gimana, udah nemuin kertasnya?” tanya Farhan.
“Udah, Han.” Adrian menunjukkan kertas itu pada Farhan. “Udah gue baca juga.”
“Jadi lo udah tau, gimana perasaan Cinta yang sebenernya sama lo kan?” tanya Farhan lagi.
“Iya, Han.” Jawab Adrian. “Gue gak nyangka.”
“Tiara dimana?” Farhan melihat sekeliling.
“Gue disini.” Yang dicaripun akhirnya menampakan diri. Tiara segera menghampiri Adrian dan Farhan.
“Ada yang mau gue omongin sama kalian berdua.” Ujar Farhan serius. “Pertama, Cinta sebenernya suka sama Adrian dari kita masih kelas satu. Kedua, gue juga sebenernya suka sama Cinta, dan gue udah ngomong. Ketiga, gue yakin, Cinta nolongin Tiara, untuk cintanya pada Adrian.”
“Andai aja gue masih punya kesempatan buat ngasih cinta untuk Cinta.” Adrian tertunduk lesu. “Meskipun rasa sayang gue ke Cinta ini bukan rasa sayang sebagai cowok keseorang cewek, melainkan sebagai sahabat. Gue pengen ngasih satu hari terindah untuk Cinta, sebelum dia pergi untuk selamanya.”
“Andai aja gue masih diberi kesempatan buat bilang makasih ke Cinta.” Tiara menepikan airmata. “Gue akan balas semua kebaikan dia sama gue. Gue akan ngasih apapun yang terbaik untuk Cinta.”
“Kalo gue…” Farhan diam sesaat. “Gue rasa gue udah cukup dengan kesempatan mengatakan cinta, di waktu terakhir sebelum Cinta pergi untuk selamanya.”
“Cinta udah ngajarin gue, apa arti cinta yang sesungguhnya.” Tiara masih terisak. “Betapa cinta memang harus bisa berkorban untuk kebahagiaan cintanya. Memberikan yang terbaik untuk cintanya, agar cintanya tetap bahagia.”
“Cinta, makasih ya.” Adrian tersenyum pada langit. Seolah menatap wajah Cinta pada langit sana.

Tiarapun menangis dalam pelukan Adrian. Adrian ikut menangis. Sedangkan Farhan, dia mencoba melihat langit. Dia yakin, Cinta ada disana, melihat mereka semua. Dan Farhanpun mengukir senyum. Semua hal tentang Cinta, kini terputar diotaknya. Bagaimana seorang Cinta yang selalu tersenyum, Cinta yang ceria, Cinta yang dicintainya.

“Kita ke makamnya Cinta, yuk!” ajak Farhan pada Adrian dan Tiara.
“Yuk!” jawab Cinta.
“Tapi kita ke toko bunga dulu ya.” Ujar Adrian. “Gue mau beli bunga lili kesukaannya Cinta.”
“Oke.”

***

Dari Cinta…
“Adrian, aku melakukan ini karena cintaku kepadamu. Aku bahagia, bisa melihatmu tetap bahagia hidup bersama Tiara. Dan untuk Farhan, terima kasih untuk cintamu kepadaku. Aku tak pernah membayangkan, aku akan dicintai oleh orang sehebat kamu. Orang dengan hati yang tulus. Orang yang mengajarkanku tentang cinta yang sesungguhnya, sebelum aku pergi. Tiara, jangan sia-siakan cinta yang sudah kutitipkan padamu. Jaga Adrian untukku.”

“Aku akan menjaga Adrian untukmu, Cinta.” Ujar Tiara yang seolah-olah bisa mendengar suara-suara yang bergumam dilangit sana.

***

Dear Cinta,
Cinta itu seperti kertas putih
Cinta akan tetap putih, bila tak ada warna dari bahagia
Tapi Cinta akan kotor, bila warna yang diberi adalah luka
Cinta akan selalu memberi, meski tak menerima
Untukmu, akan ku jaga kertas putih ini
Agar selalu bersih
Akan kuberikan warna yang indah
Yang kau dapat dari bahagia

-ADRIAN-

Adrian menaruh kertas dan bunga lili itu di makam Cinta. Itu adalah balasan untuk kertas yang di berikan Cinta pada Adrian dulu. Adrian menuliskan itu untuk Cinta.

-END-

No comments:

Post a Comment