Cinta itu bukan menunggu,
tapi menemukan
Cinta itu bukan menangis,
tapi membahagiakan
Cinta itu bukan sempurna,
tapi istimewa
Cinta itu bukan hati, tapi
perasaan
Cinta itu bukan dia, tapi
aku…
Aku mencintaimu…
-CINTA-
Adrian masih menyelipkan
senyum, ketika membaca tulisan dikertas putih itu. Kertas yang diberikan oleh
sahabatnya, Cinta. Kertas itu baru saja Adrian temukan disaku tasnya, kemarin.
Memang sangat terlambat, bila mengingat sang pemberi kertas, yang kini sudah
tiada. Cinta meninggal, dua hari yang lalu. Karena sebuah kecelakaan.
Pikiran Adrian, kembali
pada hari itu.
***
Cinta tak pernah berbeda,
dia selalu sama, selalu ceria, seperti hari ini.
“Adrian!” sapa Cinta penuh
semangat. “Pulang bareng, yuk!”
“Aduh.” Adrian menepuk
jidatnya. “Maaf banget ya, Ta. Hari ini gue udah janji mau pulang sama Tiara.”
“Oh, ya udah deh!” ujar
Cinta tanpa mengurangi semangatnya.
“Lain kali, gue pasti
pulang bareng lo lagi kok, Ta.” Adrianpun segera berlalu, meninggalkan Cinta.
Adrian masih sempat
melambaikan tangannya, dan dibalas oleh Cinta. Mereka berdua sama-sama mengukir
senyum. Kemudian Adrian menghilang dalam tikungan menuju gerbang sekolah.
Tinggal Cinta yang masih duduk termenung di salah satu kursi kelas. Lalu Farhan
datang menghampirinya.
“Coba liat cewek yang ada
disebelah gue ini.” Farhan membicarakan Cinta. “Cuma bisa menatap cintanya dari
kejauhan. Padahal bisa dia dekati.”
“Maksud lo apa sih, Han?”
Cinta mengerutkan keningnya. “Gak jelas banget deh!”
“Kenapa sih, lo gak bilang
aja, kalo lo tuh suka sama Adrian.” Farhan menyarankan. “Gue tuh tau, kalo lo
itu udah suka sama Adrian dari kita masih kelas satu.”
“Sok tau, lo!” kecam
Cinta. “Kalo gue suka sama Adrian, kenapa juga gue bantuin dia waktu mau jadian
sama Tiara.”
“Itulah bodohnya elo.” Farhan
menunjuk pada Cinta. “Punya cinta, tapi di pendam aja dalem hati.”
“Itu karena cinta pake perasaan,
Han. Bukan pake hati.” Cinta jadi mellow. “Kalo lo jadi gue, lo juga pasti akan
ngelakuin hal yang sama.”
“Nggak, Ta.” Farhan
menatap serius. “Kalo gue jadi lo, gue akan bilang perasaan gue yang sebenarnya
sama Adrian. Apapun hasilnya nanti, meski gue cuma bertepuk sebelah tangan,
setidaknya gue udah bilang sama dia, dan dia tau gimana sebenernya parasaan
gue. Karena gue tau, kesempatan itu gak selalu dateng dua kali.”
“Pernah denger sebuah
kalimat gak, Han?” Cinta melirik Farhan yang bingung. “Aku akan bahagia, jika
melihat orang yang aku cinta bahagia. Meskipun bahagianya, bukan bersamaku.”
“Pernah mikir, gak?” tanya
Farhan sinis. “Mana ada orang yang bahagia, liat orang yang dia cinta bahagia
sama orang lain. Itu munafik, Ta.”
“Tapi gue bahagia kok,
liat Adrian bahagia sama Tiara.” Cinta memaksakan senyum.
“Terserah lo deh, Ta.”
Farhan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Gue harap, lo gak nyesel
nantinya.”
“Menurut lo, gue masih
punya kesempatan gak sih?” Cinta mulai berharap. “Soalnya, dulu gue pernah
nyelipin sebuah kertas disaku tasnya Adrian. Bisa dibilang, itu ungkapan cinta
gue sama dia. Tapi kayaknya, dia belum liat.”
“Lo yakin, dia belum
liat?” tanya Farhan.
“Ya, kalo dia udah liat,
pasti dia bereaksi dong.” Cinta mengira-ngira. “Tapi buktinya, dia sama sekali
gak pernah ngebahas soal kertas itu.”
“Gue rasa lo belum
terlambat, Ta.” Farhan meyakinkan Cinta. “Nyatain sekarang juga.”
“Oke.” Cinta tersenyum
tipis. “Kalo gitu, gue kejar Adrian sekarang ya, Han.”
Cinta baru saja bangkit
dari duduknya, dan berniat pergi. Tapi Farhan menahannya sesaat. Kini, tangan
kiri Cinta berada dalam genggaman Farhan.
“Sebelum lo bilang tentang
perasaan lo sama Adrian, gue juga mau ngomong satu hal sama lo, Ta.” Ujar
Farhan serius.
“Apa, Han?” tanya Cinta
penasaran.
“Gue cinta sama lo.” Jawab
Farhan sungguh-sungguh. “Sama seperti perasaan lo sama Adrian, gue juga udah
suka sama lo sejak kita kelas satu. Gue tau ini emang bukan waktu yang tepat
buat ngomongin soal ini. Tapi gue gak tau kenapa, rasanya gue harus ngomong ini
sekarang.”
“Farhan…”
“Lo gak perlu jawab kok,
Ta.” Farhan menutup bibir Cinta. “Karena gue udah tau jawabannya. Dan sekarang,
giliran lo yang ngomong sama Adrian.”
“Iya.” Ujar Cinta lantang.
“Gue juga akan bilang hal yang sama dengan yang lo bilang sama gue tadi. Adrian
gak perlu jawab, karena gue udah tau jawabannya.”
“Fighting!” Farhan
tersenyum.
“Makasih ya, Han.”
Cintapun memeluk Farhan.
Cinta melanjutkan
langkahnya dengan mantap. Menyusuri jalan menuju rumah Adrian. Tapi siapa
sangka, di jalan, dia bertemu dengan Adrian dan Tiara yang baru saja keluar
dari sebuah warung makan pinggir jalan. Cinta tak ingin merusak kebahagiaan di
wajah Adrian dan Tiara. Mereka berdua sedang berjalan sambil bercanda. Cinta
menatapnya dari kejauhan. Selalu begitu. Hanya bisa dari kejauhan.
Tapi ketegangan mulai
terjadi, saat Tiara menyebrang tanpa melihat kanan-kirinya yang ternyata ada
sebuah mobil melaju kencang. Adrian berteriak, dan ingin berusaha menarik tubuh
Tiara ke tepi, tapi dia di hadang oleh warga disitu, karena itu akan
membahayakan nyawa dia dan Tiara.
Akhirnya Cintalah yang
dengan cepat mendorong tubuh Tiara ke pinggir, tanpa membawa serta dirinya.
Mobil dengan kecepatan tinggi itupun menabrak tubuh Cinta.
“Cintaaa…..” Adrian
berteriak sekuat tenaga. Cintapun masih sempat memberi senyum pada Adrian,
sebelum tubuhnya jauh terpental.
Semua orang yang berada
ditempat kejadian, bergegas membawa Cinta kerumah sakit. Sedangkan Adrian dan
Tiara hanya duduk lemas di pinggiran jalan. Tiara menepikan airmatanya, lalu
memeluk Adrian.
Nasib Cinta mungkin memang
tidak seberuntung itu. Sebelum berhasil sampai di rumah sakit, dia sudah tidak
bernyawa.
***
“Dri.” Seseorang menepuk
bahu Adrian.
“Eh, elo, Han.” Ternyata seseorang
itu adalah Farhan.
“Gimana, udah nemuin
kertasnya?” tanya Farhan.
“Udah, Han.” Adrian
menunjukkan kertas itu pada Farhan. “Udah gue baca juga.”
“Jadi lo udah tau, gimana
perasaan Cinta yang sebenernya sama lo kan?” tanya Farhan lagi.
“Iya, Han.” Jawab Adrian. “Gue
gak nyangka.”
“Tiara dimana?” Farhan
melihat sekeliling.
“Gue disini.” Yang dicaripun
akhirnya menampakan diri. Tiara segera menghampiri Adrian dan Farhan.
“Ada yang mau gue omongin
sama kalian berdua.” Ujar Farhan serius. “Pertama, Cinta sebenernya suka sama Adrian
dari kita masih kelas satu. Kedua, gue juga sebenernya suka sama Cinta, dan gue
udah ngomong. Ketiga, gue yakin, Cinta nolongin Tiara, untuk cintanya pada
Adrian.”
“Andai aja gue masih punya
kesempatan buat ngasih cinta untuk Cinta.” Adrian tertunduk lesu. “Meskipun
rasa sayang gue ke Cinta ini bukan rasa sayang sebagai cowok keseorang cewek,
melainkan sebagai sahabat. Gue pengen ngasih satu hari terindah untuk Cinta,
sebelum dia pergi untuk selamanya.”
“Andai aja gue masih
diberi kesempatan buat bilang makasih ke Cinta.” Tiara menepikan airmata. “Gue
akan balas semua kebaikan dia sama gue. Gue akan ngasih apapun yang terbaik
untuk Cinta.”
“Kalo gue…” Farhan diam
sesaat. “Gue rasa gue udah cukup dengan kesempatan mengatakan cinta, di waktu
terakhir sebelum Cinta pergi untuk selamanya.”
“Cinta udah ngajarin gue,
apa arti cinta yang sesungguhnya.” Tiara masih terisak. “Betapa cinta memang
harus bisa berkorban untuk kebahagiaan cintanya. Memberikan yang terbaik untuk
cintanya, agar cintanya tetap bahagia.”
“Cinta, makasih ya.”
Adrian tersenyum pada langit. Seolah menatap wajah Cinta pada langit sana.
Tiarapun menangis dalam
pelukan Adrian. Adrian ikut menangis. Sedangkan Farhan, dia mencoba melihat
langit. Dia yakin, Cinta ada disana, melihat mereka semua. Dan Farhanpun
mengukir senyum. Semua hal tentang Cinta, kini terputar diotaknya. Bagaimana seorang
Cinta yang selalu tersenyum, Cinta yang ceria, Cinta yang dicintainya.
“Kita ke makamnya Cinta,
yuk!” ajak Farhan pada Adrian dan Tiara.
“Yuk!” jawab Cinta.
“Tapi kita ke toko bunga
dulu ya.” Ujar Adrian. “Gue mau beli bunga lili kesukaannya Cinta.”
“Oke.”
***
Dari Cinta…
“Adrian, aku melakukan ini
karena cintaku kepadamu. Aku bahagia, bisa melihatmu tetap bahagia hidup
bersama Tiara. Dan untuk Farhan, terima kasih untuk cintamu kepadaku. Aku tak
pernah membayangkan, aku akan dicintai oleh orang sehebat kamu. Orang dengan
hati yang tulus. Orang yang mengajarkanku tentang cinta yang sesungguhnya, sebelum
aku pergi. Tiara, jangan sia-siakan cinta yang sudah kutitipkan padamu. Jaga
Adrian untukku.”
“Aku akan menjaga Adrian
untukmu, Cinta.” Ujar Tiara yang seolah-olah bisa mendengar suara-suara yang
bergumam dilangit sana.
***
Dear Cinta,
Cinta itu seperti kertas
putih
Cinta akan tetap putih,
bila tak ada warna dari bahagia
Tapi Cinta akan kotor,
bila warna yang diberi adalah luka
Cinta akan selalu memberi,
meski tak menerima
Untukmu, akan ku jaga
kertas putih ini
Agar selalu bersih
Akan kuberikan warna yang
indah
Yang kau dapat dari
bahagia
-ADRIAN-
Adrian menaruh kertas dan
bunga lili itu di makam Cinta. Itu adalah balasan untuk kertas yang di berikan
Cinta pada Adrian dulu. Adrian menuliskan itu untuk Cinta.
-END-

No comments:
Post a Comment