Showing posts with label MIPEL. Show all posts
Showing posts with label MIPEL. Show all posts

Thursday, May 3, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 28 (END)

After Two Years


LULUS!!!
Semua meneriakan kata itu. Ya, dua tahun telah berlalu. Kini aku sudah menyelesaikan pendidikan SMU ku, bersama teman-teman yang sama, Keyra, Radit, Jonash, Devand, Kenzi, Vivian, Idon, dan si kembar Kiran-Karin.

Dua tahun ternyata bukan waktu yang singkat. Semunya tidak berlalu begitu saja. Semuanya tidak berlalu tanpa arti. Selama dua tahun ini, ada banyak sekali kenangan dan kebahagiaan yang terukir. Setiap hari, selalu berharga untukku.

Selalu bersama, itulah janji persahabatan kami. Kami akan selalu bersama, dalam kondisi apapun. Karena itu, kami putuskan untuk masuk di satu Universitas yang sama. Meskipun kedengarannya sangat sulit, karena kualitas otak kami yang berbeda. Kami tetap optimis untuk mencobanya. Kalau nanti diantara kami, ada yang tidak berhasil masuk keperguruan tinggi negeri, maka kami putuskan untuk sama-sama masuk di perguruan tinggi swasta. Haha kedengarannya niat banget yah. Tapi itulah arti janji "selalu bersama" yang sudah kami ikrar kan. Sampai-sampai, Vivian menolak untuk di kuliahkan ke Jerman, hanya untuk kebersamaan persahabatan ini. Ya, memang tidak muda meninggalkan apa yang sudah menjadi jiwa kita.

"Udah dua tahun berlalu, tanpa Ruben." ujarku pelan.
"Iya yah, Nay. Lo hebat, bisa nunggu selama ini." ujar Radit salut.
"Kan ada kalian semua, meskipun gue sedang dalam penantian, tapi gue gak ngerasa kesepian berkat kalian semua." aku memeluk semua sahabatku itu.
"Ruben kapan pulang ya?" Kiran tak menujukan pertanyaan itu kepada siapapun. Karena memang tak kan ada yang bisa menjawab.
"Padahal udah dua tahun loh dia pergi." Karin menambahkan.
"Mungkin, apa yang dulu pernah di bilang Idon itu, bener. Ruben gak mungkin kembali buat cinta yang gak pasti, dia akan lebih memilih cinta yang nyata ada di depannya." ujarku putus asa.
"Astaga, Nay. Ternyata lo masih kepikiran sama kata-kata gue yang dulu itu?" Idon menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue kan udah bilang, Nay. Gue yakin, Ruben bukan orang yang kayak gitu. Kan di suratnya waktu itu, dia bilang kalo dia cinta dan sayang banget sama lo."
"Iya, Nay." Jonash menimpali. "Dan lo harus percaya sama Ruben. Dia bukan cowok yang kayak gitu kok."
"Ya, semoga aja." aku tersenyum tipis.
"Ya udah. Sekarang, gimana kalo kita makan-makan, buat ngerayain hari kelulusan kita ini." usul Vivian.
"Setuju." semua bersemangat menyambut usul Vivian.

Kami semua menuju kafe yang ada di dekat sekolah, untuk makan. Dan Vivian yang bakalan traktir kita semua. Ya, selalu begitu. Selalu Vivian. Karena memang dia yang paling tajir diantara kami semua. Dan yang pasti, cuma dia yang uang jajannya melampaui batas uang jajan anak SMU biasa, kayak gue dan temen-temen gue yang lain.

"Ini nih yang bikin gue setuju kalo kita harus satu Universitas." Idon mulai membuka kembali percakapan, saat kami sudah berada di kafe.
"Maksudnya apa, Don?" tanya Keyra.
"Ya gini, gue selalu di traktir sama Vivian." Idon tertawa puas.
"Dasar lo, Don." Devand mendorong bahu Idon.
"Eitsss, ada lagi nih yang bikin gue seneng kalo kita bareng-bareng terus." ujar Idon lagi.
"Apaan lagi?" tanya Keyra.
"Gue bakalan terus dapet contekan dari Kenzi yang pinter ini." Idon tertawa lagi.
"Oh, jadi gitu." Kenzi mengangguk-angguk paham.
"Bercanda kali, Ken." Idon mengangkat kedua jarinya, memberi tanda 'peace'.

Selesai makan-makan, kami semua pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah, aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke danau, seperti biasa. Dan aku di antar oleh sopirku.

Disana, aku selalu duduk sendiri di rumah pohon. Mengenang apa yang masih bisa kuingat. Liontin itu, tak pernah lepas sedetikpun dari leherku. Begitupun Diary itu. Dia selalu senantiasa ada di dalam tasku, kemanapun aku pergi. Hanya bedanya, sekarang Diary ini mulai terlihat lecek. Ini dikarenakan, aku selalu membuka setiap lembarnya, dan membacanya.

Setelah cukup lama aku merenung di atas rumah pohon ini, hujan pun turun. Cukup lama hujan tak turun. Dan begitu turun, hujannya sangat deras. Diiringi oleh suara gemuruh yang bersautan. Tak ada pilihan lain, kecuali berteduh di dalam rumah pohon ini. Meskipun ku rasa percuma, karena aku tetap basah oleh cipratan air hujan ini. Hujannya terlalu deras, hingga aku tak berani untuk berlari menuju mobil yang terparkir lumayan jauh. Akhirnya ku putuskan untuk menunggu hingga hujan reda.

Saking lelahnya menunggu, aku sampai ketiduran di rumah pohon ini.

Aku tak tau sudah berapa lama aku tertidur. Sampai saat aku terbangun, kulihat hujannya sudah reda. Dan hari mulai gelap. Air hujan yang jatuh ke atap rumah pohon ini, menetes ke bawah. Samar-samar aku mendengar ada suara orang yang memanggilku. Aku sangat mengenal suara itu. Tetapi yang pasti, itu bukanlah suara sopirku.

Akupun melihat kebawah. Ke asal suara yang memanggilku itu. Disana ada seorang cowok yang berdiri, sambil tersenyum lembut padaku.

"Nayla, ayo turun." ujarnya.

Aku masih tak yakin dengan seseorang yang bicara padaku itu. Aku mengucek-ngucek mataku untuk memastikan apakah ini nyata atau hanya khayalanku saja. Tapi seberapa kalipun aku mengucek mataku, orang itu tetap ada di tempatnya. Berarti, ini nyata.

"Nayla, ayo turun." seseorang itu mengulang kata-katanya.
"Ini bukan mimpi kan?" tanyaku.
"Bukan, ini nyata kok." jawabnya.
"Tapi kok bisa sih?" aku masih belum percaya.
"Ya bisa lah." cowok itu berusaha meyakinkanku. "Udah ah, ayo kita pulang. Kakak udah jauh-jauh dateng, eh pas nyampe rumah, kamunya malah gak ada. Kata mang ucup, kamu kesini. Ya udah kakak susul."

Aku tersenyum bahagia. Ya, yang datang itu adalah kak Rangga. Entah bagaimana, dia sekarang sudah benar-benar ada di depanku. Aku segera turun dari rumah pohon, dan memeluk kak Rangga. Aku benar-benar merindukannya. Setelah dua tahun, akhirnya dia menyempatkan diri untuk pulang ke Indonesia, di sela-sela liburnya.

"Gimana kabar kakak?" tanyaku, di sepanjang perjalanan menuju mobil.
"Ya seperti yang kamu lihat, kakak sehat." jawab kak Rangga lembut. "Kamu sendiri apa kabar?"
"Aku baik." jawabku.
"Iya, fisik kamu memang baik. Tapi hati kamu nggak kan?" terka kak Rangga.
Aku menghela nafas berat. "Udah dua tahun, kak. Dan Ruben belum juga kembali."
"Kamu yang sabar ya. Kakak yakin kok, suatu saat dia pasti bakalan balik lagi sama kamu."
"Mudah-mudahan ya, kak."

Kamipun sampai di mobil. Mang ucup sudah menunggu, dan kami segera pulang.

Kami sampai dirumah, tepat di jam makan malam. Jadi begitu sampai, kami sudah di suguhkan dengan makanan yang banyak banget. Mungkin karena kadatangan kak Rangga, Mama menyuruh bi Minah untuk masak yang banyak. Disini juga ada tante Mery dan Devand. Gak ketinggalan juga, om Agustira dan kak Viona. Kamipun makan malam bersama. Kak Rangga bercerita banyak hal tentang study nya di London. Semua mendengarkan dengan seksama. Disaat semua orang merasa kebahagiaannya lengkap di sini, aku tetap merasa ada yang kurang. Rasanya kebahagiaanku memang belum lengkap tanpa Ruben.

Selesai makan, para orang tua ngopi dan ngobrol bersama di ruang tengah. Sedangkan kami yang anak-anak muda ini, berkumpul di gazebo belakang rumah.

"Oke, jadi mana nih oleh-olehnya?" tanya kak Yudha pada kak Rangga.

Haha, meskipun kak Rangga di London buat belajar, tapi kalo pulang, ya mesti ada oleh-olehnya dong.

"Ada di kamar gue. Bentar ya, gue ambil dulu." kak Rangga pun berlari menuju kamarnya.

Lima menit kemudian, dia datang dengan banyak barang di tangannya. Dan kemudian, dia membagikan barang-barang itu kepada kami. Kak Yudha dapet dua t-shirt dan satu sepatu yang keren banget. Aku dapet boneka dan dress coklat dengan pita pink di pinggangnya yang cute banget, dan asli dari London pastinya (jiah, sombong haha *peace). Kalo Devand dapet parfum sama topi yang kerennya gak usah di tanya lagi. Dan yang terakhir, oleh-oleh buat kak Viona. Kak Rangga ngasih wedges purple yang tingginya gak tau berapa centimeter -__-. Dan kalo kak Viona pake itu, pasti dia bakalan makin keren, dan kak Yudha bakalan makin terpesona sama cewek yang sekarang udah jadi model ini.

"Gue dapet oleh-oleh juga?" tanya kak Viona tak percaya.
"Iya." kak Rangga mengangguk malu. "Gue kan selalu denger cerita tentang lo dari kak Yudha. Dan gue sempet bingung mau ngasih apa. Abisan, kita kan gak pernah ketemu sebelumnya. Dan semoga, lo suka deh sama oleh-oleh itu."
"Gue suka banget. Makasih ya." kak Viona memeluk kak Rangga.

Semua terdiam melihat itu. Kak Yudha sampe gak bisa ngomong apa-apa.

"Ini pelukan buat calon adik ipar." ujar kak Viona, saat menyadari ada tatapan cemburu dari kak Yudha.
"Wah, gue nyesel banget nih, karena waktu itu udah nolak perjodohan kita." goda kak Rangga.

Kak Viona hanya tertawa, lalu memeluk lengan kak Yudha.

"Mungkin penolakan lo waktu itu emang adalah jalan gue, buat ngedapetin cinta sejati gue." kak Viona tersenyum tipis. Begitupun kak Yudha. Yaa, sebenernya kak Yudha juga cuma pura-pura ngambek. Semua orang tau, kak Yudha bukan orang seperti itu. Dan itulah yang membuat kak Viona tambah jatuh cinta sama kakak pertamaku ini.
"Oh iya, lo kapan balik lagi ke London, Ga?" tanya kak Yudha.
"Lo ngusir gue?" tanya kak Rangga sinis.
"Tau nih kak Yudha." aku menimpali. "Kak Rangga kan baru aja dateng, masa udah di tanyain kapan pulangnya sih?"
"Yee bukannya gitu. Kok lo berdua malah jadi salah paham gini sih?" kak Yudha menggaruk-garuk kepalanya. "Maksud gue nanyain Rangga kapan pulang itu, soalnya gue mau dia ada pas hari pertunangan gue."
"Hah! Lo mau tunangan, kak?" aku, Devand, dan kak Rangga kaget mendengar berita itu.
"Iya." jawab kak Yudha santai. "Biasa aja dong mukanya."
"Hmm, kalo menurut gue sih, emang udah saatnya kalian itu tunangan. Secara kan, kalian udah pacaran dua tahun." komentar Devand.
"Emang kapan acaranya, kak?" tanyaku.
"Satu minggu lagi." jawab kak Viona. "Kedua orang tua kita emang udah ngomongin, cuma belum di kasih tau ke kalian."
"Kok kedengarannya dadakan banget ya." ujar kak Rangga.
"Soalnya, bentar lagi gue bakalan berangkat ke Jerman." kak Yudha tersenyum tipis. "Gue dapet beasiswa S-2 di sana."
"Wah, keren banget." ujar Devand takjub.
"Terus kak Viona gimana?" tanyaku.
"Kakak ikut dong." jawab kak Viona semangat. "Jadi kan kita bisa sama-sama terus."

Semua orang bahagia mendengar kabar ini. Akupun juga. Aku senang, mereka tak kan terpisahkan. Meski sepertinya, itu semua berbanding terbalik denganku. Andai aja aku bisa seperti kak Viona, ikut dengan Ruben. Mungkin tak terlambat untuk menyusulnya sekarang. Tapi aku tidak mau, jiwaku sudah berada di Indonesia, bersama semua sahabat-sahabatku. Biarlah aku menuggunya. Jika memang jodoh, dia pasti kembali.

***

Selain aku mulai sibuk mengurus pendaftaran untuk masuk universitas bersama sahabat-sahabatku, aku juga di sibukkan dengan pesta pertunangan kak Yudha dan kak Viona yang semakin dekat. Beruntunglah aku punya sahabat-sahabatku yang selalu senantiasa membantuku. Mereka bersedia di repotkan dalam mengatur pesta, agar bisa berjalan dengan baik.

Sudah satu minggu ini, aku tidak datang ke danau. Rasanya sangat ingin pergi, tapi keadaan tak memungkinkan. Malam ini, pesta pertunangan itu akan berlangsung.

Semua datang dengan busana terbaik mereka. Aku juga memakai dress pemberian kak Rangga. Semua tamu mulai berdatangan. Ada yang sudah lama terlupakan, dan kini, dia kembali lagi. Siapa? Siapa lagi kalo bukan kak Andre. Akhirnya, terjadilah reuni singkat antara kak Rangga dan kak Andre.

"Rangga."
"Andre."

Mereka berdua berpelukan.

"Hai, kak Andre." aku ikut menyapa kak Andre.
"Hai, Nayla." dia balas menyapa. "Makin cantik aja nih." pujinya.
"Makasih." ujarku malu.
"Udah lulus SMA kan?" tanya kak Andre.
"Iya, kak." jawabku ramah.
"Udah dapet Universitas, belum? Daftar di Universitas kakak aja." kak Andre menawarkan.
"Hmm, aku sih ikut sama anak-anak aja, kak." jawabku.
"Oh, oke." kak Andre tersenyum tipis.
"Aku ke sana dulu ya, kak." aku menunjuk ke arah sahabat-sahabatku.
"Iya." kak Andre mengangguk.

Kak Andre kembali sibuk dengan beragam perbincangan dengan kak Rangga. Sedangkan aku, berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Dan tiba-tiba, om Agustira menghampiriku.

"Nayla." om Agustira menepuk bahuku.
"Ya. Ada apa, om?" tanyaku.
"Ada yang mau ketemu kamu tuh." om Agustira menunjuk ke arah halaman belakang rumah.
"Siapa?" tanyaku. lagi.
"Liat aja." om Agustira tersenyum tipis, lalu pergi.
"Siapa sih, Nay?" tanya Keyra.
"Gak tau nih, bentar ya, gue liat dulu." akupun berjalan menuju halaman belakang.

Halaman belakang rumah ini menjadi sedikit gelap dan hanya ada lampu-lampu kecil yang menjadi penerang. Karena semua pesta terfokus di ruang utama di dalam rumah. Aku melihat seseorang duduk di gazebo, dan aku segera menghampirinya.

"Permisi." ujarku hati-hati.

Seseorang yang ternyata adalah cowok itu, menoleh perlahan menghadapku. Dan begitu dia menoleh, aku benar-benar terkejut. Aku sampai mundur beberapa langkah dari tempat aku berdiri tadi. Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Meskipun hanya samar-samar cahaya lampu meneranginya, tapi aku bisa melihat dengan jelas, siapa yang kini berada di depanku.

"Ruben." aku mengucap nama seseorang yang ada di hadapanku ini.
"Hai." sapanya. "Apa kabar?"

Aku hanya diam. Meskipun aku sangat merindukan Ruben, tapi aku sama sekali tak tau apa yang akan aku ucapkan dan lakukan, jika suatu saat aku bertemu lagi dengannya. Seperti saat ini, aku hanya diam mematung. Dan sepertinya, Ruben kecewa dengan sikapku ini. Diapun berniat pergi.

"Ben," aku memberanikan diri menyapanya, demi menghentikan kepergian Ruben untuk yang kedua kalinya dariku.

Ruben mengurungkan niatnya yang akan pergi, lalu berbalik menghadapku. Aku berjalan perlahan menuju ke arahnya, lalu memeluknya.

"Tolong jangan pergi lagi." ujarku sambil menangis.

Ruben tak mengatakan apapun. Dia terus memelukku erat. Kini, pesta ini benar-benar terasa lengkap. Aku melepas pelukanku, dan membawa Ruben ke dalam suasana pesta. Semua terkejut melihat kehadiran Ruben, kecuali Mama-Papa dan om Agustira.

"Ruben." ujar kak Yudha tak percaya.
"Selamat ya, kak." Ruben memeluk kak Yudha.
"Makasih ya." ujar kak Yudha bahagia. "Kapan dateng?"
"Kemaren." jawab Ruben ramah.

Aku menatap Ruben. Harusnya, aku orang pertama yang menanyakan perihal itu. Tapi aku terlalu malu. Entah apa yang membuatku menjadi seperti ini.

Kak Rangga menghampiri Ruben. Dia tersenyum tipis, lalu memeluk Ruben. Merekapun tertawa, sambil melihat ke arahku. Dan itu berhasil membuatku salah tingkah.

Kemudian Ruben menyapa dan berpelukan dengan Papa dan Mama. Mama bahkan mencium pipi Ruben. Seperti seorang ibu pada anaknya. Ya, sejak kecil, Ruben pasti menginginkan kasih sayang seorang ibu.

Ruben lalu menghampiri para sahabatnya.

"Ruben." semua sahabatku berteriak tak percaya. Mereka semua berpelukan. Aku tak ikut dalam kebahagiaan itu. Aku malah pergi menuju kamarku.
"Ben, kita kangen banget sama lo." ujar Idon.
"Akhirnya lo pulang juga." Jonash menepuk bahu Ruben.
"Gue kangen banget sama kalian." ujar Ruben.
"Tapi, pasti lebih kangen banget sama si Mipel itu. Ya kan?" goda Keyra.

Ruben tersenyum malu.

"Eh, tapi ngomong-ngomong, Nayla mana ya?" Kenzi baru menyadari, aku tak ada dalam pesta.
"Tuh anak gimana sih, cowoknya pulang, dia malah ngilang." ujar Vivian sinis.
"Gue gak ngilang, kok." ujarku pelan.

Setelah dari kamar, dan mengambil sesuatu, aku kembali lagi ke dalam pesta. Aku berjalan pelan menghampiri Ruben, lalu memberikan sesuatu padanya.

"Ini apa?" tanya Ruben.
"Masa lo lupa, ini apa." ujarku.
Ruben tersenyum malu. "Ini surat gue." akunya.

Aku sudah membingkai kertas surat itu dalam pigura kayu. Di saat Ruben masih diam dalam malunya, aku kembali membuatnya merasakan hal yang sama. Di depan semua orang di pesta, aku mencium pipi Ruben. Semua mata tertuju pada kami. Kayaknya, yang jadi Raja dan Ratu malam ini, bukan kak Yudha dan kak Viona. Tapi aku dan Ruben.

Kak Rangga tersenyum tipis. Dia sudah bisa mengikhlaskan aku untuk bersama Ruben. 

"Ini maksudnya, apa?" tanya Ruben.
"Aku cinta kamu." ujarku mantap.

Semua orang bertepuk tangan. Ikut bahagia menyaksikan aku dan Ruben. Kak Yudha bahkan meminta Ruben untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya dan kak Viona. Ruben setuju, dan mulai bernyanyi dengan gitar yang sudah disiapkan. Lagu apa lagi yang akan dia nyanyikan? Hanya satu. Dan tetap sama seperti yang sering dia nyanyikan dua tahun lalu. "Selalu Menjagamu dari Keyla band". Semua orang menikmati permainan gitar dan suara Ruben. Malam ini penuh kebahagiaan.

***

Hari ini, aku bersemangat sekali untuk bangun pagi. Sebab, hari ini Ruben akan mengajakku jalan-jalan. Awalnya Ruben tak berencana untuk menetap kembali di Indonesia. Dia hanya berencana untuk berkunjung sebentar. Tapi ketika dia kembali dan mendapatkan lagi orang yang dia cintai, dengan mantap dia memutuskan untuk kembali menjalani hari-hari indahnya di Indonesia. Bersamaku, dan semua sahabat-sahabatnya.

Sebelum pergi jalan-jalan, kami harus ikut ke Bandara, mengantar kak Yudha dan kak Viona yang akan pergi ke Jerman. Juga kak Rangga yang memutuskan untuk kembali lebih cepat ke London. Sekarang tinggal aku sendiri yang berada di rumah, untuk menemani Mama dan Papa. Rumah akan semakin sepi tanpa kedua kakakku ini.

Setelah mengantar mereka ke Bandara, aku dan Ruben segera pergi menuju danau. Kebersamaan ini adalah awal dari kebersamaan indah yang lain. Dan setiap dari kebersamaan ini, akan ku tuliskan pada Diaryku, agar aku tak melupakannya.

Aku dan Ruben berjalan menuju ke rumah pohon, tapi sebelum naik ke rumah pohon, Ruben kembali memelukku.

"Mungkin kamu udah gak ingat kata-kata aku yang ini." ujar Ruben.
"Apa?" tanyaku.
"Jangan lupakan hari ini. Simpan hari ini di dalam hati kamu. Jangan simpan di pikiran kamu. Agar jika suatu saat kamu melupakannya, indahnya masih bisa kamu rasakan di hati."

Aku tersenyum, lalu mengulang kalimat yang sama. Rasanya benar-benar seperti aku pernah mendengar kalimat ini sebelumnya.

Lagi-lagi hujan turun. Dan bukannya berteduh, kami malah tetap diam di bawah rintikan hujan. Berlarian. Kebersamaan yang sulit untuk di lupakan. Akan kusimpan semuanya di dalam hatiku. Tak akan ku biarkan terlupakan, dan menjadi sia-sia.

I Love You, Ruben.

Aku merasa sangat beruntung memiliki orang-orang hebat di sekitarku. Ada Mama dan Papa yang begitu tabah menghadapi semua masalahku. Ada tante Mery yang bijaksana. Ada om Agustira yang sudah menjadi guru terbaik bagiku. Om Agustira mengajarkan banyak hal padaku. Ada kedua kakakku yang sangat menyayangiku. Dan juga sahabat-sahabat terbaikku yang selalu memberiku senyum dan kebahagiaan tanpa batas. Kalian semua adalah orang-orang terbaik. Kalian juga bisa menerimaku apa adanya. Meskipun aku ini adalah seorang Mipel, yang hingga kini tak kembali mendapatkan ingatannya. Terima kasih.

***

"Happy birthday." semua meneriakan kalimat itu padaku.
"Siapa yang ulang tahun?" tanyaku.
"Nayla." semua berteriak kesal. "Hari ini kan hari ulang tahun lo yang ke-19"
"Oh ya?"
"Dasar Mipel....!!!!"

-END-


Wednesday, May 2, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 27

Without You


Anak-anak membawaku pulang ke rumah. Mereka panik saat aku pingsan di bandara. Begitu tersadar, bi Minah langsung memberikan minum untukku. Setelah minum, aku melihat kesekitar. Aku melihat wajah teman-temanku satu per satu.

"Jadi ini bukan mimpi." ujarku sambil kembali menangis. "Ternyata Ruben beneran pergi."
"Udah ya, Nay." Keyra menenangkanku.
"Dia pasti pergi gara-gara gue." aku menyalahkan diriku sendiri.
"Kenapa lo bisa mikir gitu?" tanya Jonash.
"Ya pasti karena dia ngerasa udah gak bisa bareng sama gue lagi. Makanya dia mutusin buat pergi." jawabku sambil terisak.
Idon tertawa. "Nayla, Nayla, lo ge'er banget sih."
"Mungkin itu juga adalah alasan kenapa dia mau pergi." ujar Kenzi. "Tapi bukan semata-mata karena itu kok, Nay. Ini semua juga buat masa depannya Ruben."
"Gitu yah." aku menghela nafas lega.
"Lo gak berniat buat nyusul, Nay?" tanya Kiran.
"Iya, Nay." Karin menimpali. "Pasti seru deh. Lo bisa barengan terus sama Ruben. Jadinya kalian berdua gak akan terpisahkan deh."
"Ih males banget." ujarku gengsi. "Ngapain juga gue nyusulin dia. Mendingan gue nyusulin kak Rangga."
"Hmmm." Radit mencolek dagu ku. "Gak usah gengsi deh, Nay. Kita udah tau kok, kalo lo tuh suka sama Ruben."
"Nggak kok." aku terus menyangkal.
"Yang bener?" Devand menggodaku. "Gimana yah kalo nanti, pas di Singapore, Ruben nemu cewek yang cantik, baik, ramah, dan gak pelupa pastinya. Terus Ruben jatuh cinta, dan mereka jadian, tunangan, abis itu nikah deh."
"Nggak." tanpa sadar aku berteriak. "Itu nggak boleh terjadi. Dan gue yakin itu gak mungkin terjadi."
"Kenapa gak mungkin?" tanya Vivian sinis.
"Ya karena...." aku tak melanjutkan ucapanku.
"Karena apa, Nay?" tanya Jonash. "Karena dia cinta mati sama lo?"
"Huh! Kalo gue jadi Ruben sih. Buat apa mikirin cinta cewek yang sama sekali gak pernah nganggep gue." Idon melirik sinis. "Mendingan gue ngeraih cinta yang udah nyata ada di depan gue."

Aku pun menangis mendengar ucapan Idon.

"Yah, Nay. Kok lo nangis sih." Idon mulai khawatir.
"Elo sih, Don." Keyra memukul bahu Idon.
"Kok gue yang di salahin sih?" Idon mengelus-elus bahunya yang habis di pukul Keyra.
"Ya soalnya omongan lo tadi udah pasti bikin Nayla sedih." ujar Radit.
"Aduh, kalo gitu kata-katanya gue tarik lagi deh, Nay." Idon merasa bersalah. "Kalo yang berbuat kayak tadi itu udah pasti gue. Kalo Ruben mah gak mungkin, gue yakin dia pasti setia kok."
"Nah itu baru bener." Devand tertawa mendengar ucapan Idon. "Akhirnya lo ngaku juga kalo lo kayak gitu, Don."
"Ah, rese lo, Vand." Idon kesal.

Setelah kondisiku membaik, semua teman-temanku pulang. Mereka bilang, Ruben gak akan pergi selamanya. Suatu saat, Ruben pasti akan kembali. Dan aku hanya perlu menunggu. Aku sendiri belum benar-benar yakin dengan perasaanku ini. Karenanya, aku rasa kepergian Ruben ini memanglah yang terbaik. Agar dia tidak terus-terusan tersakiti oleh perasaanku.

Setelah kepergian Ruben, aku terus menjalani hidupku dengan normal. Ingatanku tak juga kembali. Tapi aku beruntung, aku punya teman-temanku yang selalu senantiasa membantuku mengingat sedikit demi sedikit. Mereka menceritakan semua hal. Dan ternyata, ada satu hal yang tak pernah berubah dari ku. Aku tetaplah seorang Mipel. Mungkin itu memang sudah takdirku. Selamanya menjadi Mipel si Miss Pelupa.

Sekarang, aku adalah anak SMU kelas dua. Aku masih sekelas dengan Keyra, Radit, Devand, dan Idon. Tapi aku berpisah kelas dari Kenzi dan Jonash. Keyralah yang paling sedih dengan perpisahan kelas ini.

"Yeay, ternyata kita emang jodoh ya, Key. Kita sekelas lagi." ujarku penuh semangat.
"Iya, gue seneng. Tapi juga sedih nih." ujar Keyra manyun. "Soalnya gue harus pisah sama Jonash."
"Ya ampun, Key." aku menepuk jidatku. "Kan cuma pisah kelas."
"Tau nih kamu." Jonash mengelus rambut Keyra. "Kita kan cuma beda kelas. Nah, si Nayla sama Ruben malah udah beda negara."
"Ah, lo bikin gue jadi sedih aja, Jo." ujarku.
"Berarti sekarang gue yang paling bahagia dong." ujar Vivian. "Kan gue sekarang udah satu kelas sama Kenzi."
"Huuuuu...." anak-anak menyoraki Vivian.

Oke, semuanya menjadi lebih baik, sekarang. Meskipun aku harus menjalani hari-hariku tanpa Ruben, tapi aku tetap merasa bahagia. Karena aku punya mereka semua. Teman-temanku, keluargaku, dan juga om Agustira. Aku sering sekali berkunjung ke kantornya om Agustira. Kami sudah seperti teman. Om Agustira juga menganggapku seperti anaknya sendiri. Apalagi setelah Ruben pergi, om Agustira jadi merasa kesepian. Om Agustira juga menceritakan banyak hal padaku. Tentang pertikaian itu. Tentang cintaku dan Ruben. Sampai kisah kak Rangga yang di laporkan kekantor polisi. Juga kecelakaan yang membuatku kehilangan ingatanku. Cerita jujur dari om Agustira benar-benar membantuku menjadi Nayla yang dulu.

Om Agustira juga bercerita tentang almarhum istrinya, yaitu tante Arinda, yang sangat jago memasak. Sejak itu, aku juga mulai belajar memasak, lalu memberikan hasil masakanku pada om Agustira. Om Agustiralah yang menjadi saksi dari beragan masakanku yang gagal, sampai yang sedikit berhasil alias lumayan.

Om Agustira juga semakin sering datang kerumah untuk makan malam bersama keluarga kami. Sambil membicarakan usaha Restoran mereka yang baru berjalan dua bulan. Om Agustira juga sering mengajakku untuk mengunjungi makam tante Arinda, istri dari om Agustira yang juga adalah Mamanya Ruben. Dan meski om Agustira sudah memberiku nomor telepon Ruben yang di Singapore, tapi aku tak pernah sekalipun berani menghubunginya. Aku akan membiarkan Ruben menjalani dengan tenang, pendidikannya di Singapore.

Ada lagi kabar bahagia lainnya. Sejak kak Yudha putus dari pacarnya, Papa menjodohkan kak Yudha dengan kak Viona, anaknya om Faisal, yang dulu sempat akan di jodohkan dengan kak Rangga. Dan kak Yudha maupun kak Viona menyetujui perjodohan itu. KakViona bilang, andai dulu dia jadi di jodohkan dengan kak Rangga, dia tak akan menyetujuinya. Sebab dia tidak menyukai kak Rangga. Dia malah lebih menyukai kak Yudha yang dewasa dan bijaksana. Kak Yudha juga mulai menyukai kak Viona. Pokoknya, aku yakin mereka akan jadi pasangan yang bahagia.

Selain itu, semenjak kepergian kak Rangga ke London, akhirnya Papa mulai mempekerjakan seorang sopir untuk mengantar kemanapun aku pergi. Karena kak Yudha udah gak mungkin lagi bisa mengantarku seperti dulu. Initinya, sekarang kak Yudha udah pensiun jadi sopirku, haha. Soalnya, sekarang kak Yudha udah mulai sibuk dengan kuliahnya yang mungkin selesai dalam dua tahun lagi.

***

"Nayla." Vivian memanggilku. "Rencana kita udah lo laksanain, belum?"
"Rencana apa?" tanyaku.
"Aduh Nayla. Jangan bilang, lo lupa!" terka Vivian.
"Apaan sih, Vi?" tanyaku panasaran.
"Nayla, hari ini tuh hari ulang tahunnya Kenzi. Kan kemaren gue udah bilang, lo mesti pura-pura minta di temenin sama dia ke danau. Dan nanti disana, kita bakal kasih dia kejutan." Vivian menjelaskan.
"Astaga, Vi." aku menepuk jidatku sendiri. "Gue lupa."
"Tuh kan. Lo gimana sih, Nay." Vivian mulai kesal.
"Ya udah, kalo gitu, sekarang gue nyamperin Kenzi buat bilang gitu." aku segera berlari untuk mencari Kenzi.
"Jangan sampai salah ngomong ya, Nay." Vivian berteriak. Tapi aku sudah berlari terlalu jauh, dan tak mendengar teriakan Vivian.
"Aduh, Nayla bisa gak ya?" Vivian bertanya pada dirinya sendiri. "Semoga gue gak salah nyuruh orang deh."

Vivianpun segera berlalu dari tempatnya berdiri, setelah berusaha meyakinkan keputusannya.

Akupun akhirnya menemukan Kenzi yang sedang duduk sambil membaca buku di perpustakaan.

"Hai, Ken." sapaku.
"Eh, hai Nay." wajah Kenzi langsung sumringah melihat kedatanganku. "Ada apa?" tanyanya.
"Ehm, gue mau minta di temenin sama lo nih." jawabku sembari tersenyum.
"Oh." Kenzi menarik nafas berat. Wajahnya tak lagi secerah tadi. Mungkin tadi, Kenzi berfikir kalau aku datang untuk memberinya ucapan selamat ulang tahun. Karena sampai saat ini, aku dan teman-temanku, belum satupun ada yang memberi ucapan selamat pada Kenzi. Kami sengaja pura-pura lupa. Tapi kalau aku, ya udah pasti lupa beneran lah. "Minta di temenin kemana?" tanya Kenzi setengah hati.
"Ke danau." jawabku.
"Ngapain?"
"Yaa gue lagi pengen aja. Soalnya gue kangen banget sama tempat itu. Itu kan tempat favorite-nya Ruben."
"Kan dua hari yang lalu lo baru aja kesana. Danau kan jauh, Nay."
"Yaa, kok lo gitu banget sih, Ken. Masa lo gak mau nemenin gue."
"Kenapa gak minta di temenin Keyra atau yang lain aja sih?"
"Mereka pada sibuk semua, Ken. Cuma lo yang sore ini free."

Kenzi berfikir sebentar, lalu dengan setengah hati bilang, "Oke, gue temenin."

"Yeay, makasih ya Kenzi Pramana." aku memeluk Kenzi. "Lo itu emang sahabat gue yang paling baik."
"Gak pake peluk-peluk kali, Nay." Kenzi melepaskan pelukanku. "Entar kalo Vivian liat, di sangkanya kita ada apa-apa."
"Ya gak mungkinlah, Ken. Kan ini juga Vivian yang nyuruh." *ups aku segera menuntup mulutku yang keceplosan ngomong ini.
"Vivian yang nyuruh? Maksudnya?" Kenzi bertanya sinis.
"Ehm, maksud gue, emang Vivian yang nyuruh gue buat ngajakin lo. Soalnya Vivian bilang, cuma lo yang hari ini free. Kan yang lain pada ada acara semua." ujarku ragu. Semoga Kenzi percaya dengan jawabanku ini.
"Oh." Kenzi hanya mendesah pelan.

Aku menarik nafas lega. Untung aja Kenzi gak curiga. Dan untung aja, otakku ini dengan cepat bisa memberikan ide untuk meyakinkan kecurigaan Kenzi.

Pulang sekolah, aku langsung mengajak Kenzi untuk pergi ke danau.

"Loh Nay, kita gak pulang kerumah dulu nih?" tanya Kenzi.
"Aduh, kalo kita pulang kerumah dulu, nanti bisa-bisa, kita nyampe danaunya kesorean. Kan lo sendiri yang bilang, danau tuh jauh." aku terus menarik tangan Kenzi.
"Tapikan kita mesti ganti seragam dulu, Nay." Kenzi menunjuk seragamnya.
"Gak usah deh, Ken. Kitakan buru-buru."

Kenzi tak bisa menolak lagi, aku segera menarik tangannya menuju gerbang sekolah. Disana sopirku sudah menunggu, dan kamipun segera berangkat menuju danau.

Seperti biasa, satu jam lebih perjalanan, akhirnya aku dan Kenzi sampai di danau. Kami berjalan masuk melewati jalan kecil menuju danau. Aku membawa Kenzi menuju ke tepi Danau. Di sanalah, anak-anak keluar dari tempat persembunyiannya dan mengejutkan Kenzi. Vivian membawa sebuah kue dengan lilin yang membentuk angka tujuh belas.

"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday Kenzi." kami semua bersama-sama menyanyikan lagu itu untuk Kenzi.

Kenzi keliatan sangat senang. Dan Vivian meminta Kenzi untuk meniup lilin di kue itu.

"Makasih ya semuanya." ujar Kenzi pada aku dan anak-anak. "Makasih ya, Vi." Kenzi mencium kening Vivian.
"Cieeee..." aku dan anak-anak menggoda mereka.
"Nah Ken, jadi ini tuh rencananya Vivian. Dia nyuruh gue buat ngajakin lo kesini." aku menjelaskan pada Kenzi. "Sekali lagi, selamat ulang tahun ya. Pokoknya, gue do'ain yang terbaik buat lo."
"Makasih ya, Nay." Kenzi tersenyum lembut.
"Oke, sekarang waktunya makan-makan." ujar Idon bersemangat.

Kamipun memakan makanan yang sudah di siapkan oleh Vivian. Disaat semua teman-temanku makan bersama di pinggir danau, aku malah memilih untuk makan di atas rumah pohon. Aku tak pernah bosan untuk datang ke tempat ini. Terutama ke rumah pohon ini. Mengunjungi tempat ini secara rutin, bisa sedikit mengobati kerinduanku pada Ruben.

"Nay." suara panggilan itu mengejutkanku.
"Hai, Vand." ternyata yang memanggil ku itu adalah Devand.
"Gue boleh ikutan naik keatas gak?" tanyanya.
"Ya boleh lah. Ayo sini." ujarku lembut.

Devandpun naik keatas rumah pohon.

"Hemm, pantesan lo seneng banget ada di sini. Ternyata, duduk di sini enak banget." komentar Devand. "Bisa liat pemandangan danau yang keren. Hembusan anginnya juga lebih kenceng. Adem banget lah."
"Iya dong." aku tersenyum bangga.
"Lo kangen gak sama Ruben?" tanya Devand.
"Kangen banget lah, Vand."
"Kalo sama kak Rangga?"
"Itu sih apalagi."
"Oh iya, Nay. Gue baru inget."
"Inget apaan?"
"Waktu kak Rangga mau pergi, dia sempet ngasih pesan ke gue."
"Pesan apa?"
"Katanya, gue harus bantu lo untuk jadi lo yang dulu. Tapi gue gak mau."
"Kenapa gak mau?"
"Karena gue pikir, lo yang sekarang itu lebih baik."
"Maksudnya?"
"Gue contohin satu ya. Misalnya kayak hubungan lo sama kak Rangga. Lo yang dulu itu kan benci banget sama kak Rangga. Dan gue rasa, itu gak baik buat hubungan kakak-adik lo berdua. Masa saudara saling benci. Nah, lo yang sekarang kan udah sayang banget sama kak Rangga. Dan udah ngelupain apa yang terjadi dulu. Ya meskipun sayang lo ke kak Rangga emang agak gak wajar."
"Kalo soal itu sih lo tenang aja. Gue sama kak Rangga udah memutuskan untuk ngelupain perasaan itu kok."
"Nah, makanya, gue rasa lo yang sekarang emang lebih baik dari lo yang dulu."
"Meskipun perasaan gue sama Ruben udah berubah?"
"Ya kalo soal cinta lo sama Ruben, gue percaya kok, kalo kalian emang jodoh, kalian pasti bakal bersatu lagi kayak dulu."
"Iya. Lo bener, Vand."

Ya, sekarang aku bisa lebih tabah meski ingatanku tak akan pernah kembali. Karena dulu ataupun sekarang, aku selalu di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu.

"Woy, ngapain lo berdua di situ?" Radit menujukan pertanyaan itu pada aku dan Devand. "Sini dong, gabung sama kita."
"Iya, iya." ujar Devand. "Yuk, Nay. Kita turun."
"Yuk."

Aku dan Devandpun turun dari rumah pohon. Dan bergabung dengan anak-anak yang lain, di tepi danau.

"Nay, tetep semangat ya. Meskipun lo harus ngejalanin hari-hari lo tanpa Ruben, tapi kan lo masih punya kita. Dan lo juga harus yakin, Ruben pasti bakal kembali, suatu saat nanti." Jonash menguatkanku.
"Siap." ujarku semangat.

***

Ini adalah malam minggu. So? Haha. Ya ini malam kayaknya emang cuma buat mereka-mereka yang punya pasangan. Kayak kak Yudha sama kak Viona. Malam ini, mereka bakalan dinner di salah satu Restoran. Sedangkan aku, malah menghabiskan malam minggu ini dengan nonton DVD di rumah.

"Selamat malam." sapa kak Viona.
"Eh kak Viona, selamat malam." aku balas menyapanya. "Mau pergi sama kak Yudha ya, kak?"
"Iya. Tadi sih dia udah jemput kakak, eh malah balik lagi kesini." ujar kak Viona.
"Loh, emangnya kenapa, kak?" tanyaku.
"Dompetnya kak Yudha ketinggalan." jawab kak Viona.
"Ah dasar tuh kak Yudha." umpatku.
"Apa, dasar-dasar?" kak Yudha tiba-tiba nongol. "Huu... kamu ngomongin kakak ya?"
"Nggak kok." kilahku. "Udah ah, sana-sana pergi."
"Kamu sendiri gak jalan, Nay?" tanya kak Viona.
"Dia kan jomblo, Vi. Mana ada yang mau ngajakin dia jalan. Malam minggunya kelabu." ejek kak Yudha.
"Uh, kak Yudha nyebelin." aku melempar bantalku pada kak Yudha. Tapi dia berhasil menghindar, lalu segera pergi bersama kak Viona.

Dan tinggallah aku sendirian di rumah. Sebenernya sih, tadi aku udah inisiatif ngajakin temen-temen aku buat jalan-jalan. Tapi ternyata mereka pada punya acara sendiri sendiri. Kayak si Keyra sama Jonash, mereka jalan berdua. Vivian sama Kenzi juga. Idon sama Devandpun gak mau kalah, mereka ngajakin si kembar Kiran-Karin buat jalan bareng mereka. Disaat aku pikir Radit mungkin aja bernasib sama kayak aku, ternyata aku salah besar. Pas aku mau ngajakin dia buat jalan, eh ternyata dia udah ada janji sama cewek SMU sebelah. Arggghhh. Jadilah aku cuma nonton DVD sendirian di rumah.

Yah, beginilah hari-hari gue tanpa lo Ruben, batinku.

***


Sunday, April 29, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 26

Good Bye !


Pagi ini, seisi rumah keliatan sangat tegang. Aku dengar, Papa tak bisa tidur semalam, gara-gara memikirkan urusan aku dan kak Rangga. Bi Minah sudah menyiapkan sarapan untuk kami semua. Dan kami semua juga sudah berkumpul di meja makan. Tapi hingga menit ke sepuluh kami duduk di sini, tak seorangpun yang menyentuh makanan yang sudah susah payah bi Minah siapkan. Semua diam.

"Papa sudah memutuskan." kata Papa, akhirnya.

Setelah begitu lama keheningan itu menyelimuti, akhirnya suara Papa yang memecah hening itu. Semua tampak diam, dan serius mendengarkan apa yang akan menjadi keputusan Papa. Aku pun pasrah.

"Setelah lulus SMA nanti, Rangga akan kuliah di London." ujar Papa.

Semua sangat terkejut mendengar keputusan Papa, kecuali Mama. Karena Papa memang sudah membicarakan ini pada Mama, semalam. Aku sangat tidak rela dengan keputusan ini. Tapi aku sudah berjanji untuk berpasrah. Aku rasa, kak Rangga yang paling tidak setuju dengan keputusan Papa ini.

"Tapi, Pa..." kak Yudha ingin mencoba untuk bicara pada Papa.
"Keputusan Papa sudah bulat, Yud." ujar Papa mantap. "Adik-adikmu ini sudah salah jalan. Mereka sendirilah yang membuat Papa memberi keputusan ini."

Papa segera berlalu dari meja makan, dan pergi kerja bersama Mama. Kini hanya tinggal aku, kak Rangga, dan kak Yudha yang duduk mematung di meja makan.

"Ga." kak Yudha memegang bahu kak Rangga. "Gue rasa Papa benar. Ini keputusan yang tepat. Agar hubungan kalian tidak lebih jauh lagi. Kalian harus di pisahkan."
"Gue gak mau, Kak." kak Rangga tertunduk lesu. "Gue gak mau ninggalin, Nayla."
"Tapi itu harus, Ga." ujar kak Yudha tegas. "Lo tau kan, kalian gak mungkin bisa nyatu. Kalian punya hubungan darah. Kalian kakak dan adik. Lupain perasaan itu."
"Gue gak bisa, kak." suara kak Rangga terdengar parau.
"Kakak pasti bisa." ujarku lembut.
"Nayla." kak Rangga terkejut mendengar ucapanku.
"Aku rasa, ini memang yang terbaik buat kita." aku memaksakan senyum. "Meskipun aku cinta sama kak Rangga, tapi aku sadar, kita gak mungkin nyatu. Jadi, sekuat tenaga, aku akan melupakan perasaan ini."
"Tapi, Nay..." kak Rangga menatapku sedih.
"Kakak pasti bisa ngedapetin cinta kakak yang sejati." meski sedih, aku tetap memotivasi kak Rangga.

Hal ini, tentu saja semata-mata untuk membuat semuanya kembali bahagia. Meski aku lupa bahagianya masa lalu itu, tapi aku yakin, semuanya selalu akan baik-baik saja. Ini keputusan yang tepat.

***

Waktu berjalan begitu cepat. Sebentar lagi, kak Rangga dan anak-anak kelas tiga akan melaksanakan UN. Aku dan kak Rangga masih tetap berhubungan, malah semakin dekat. Tapi kami tetap memberi batas pada hubungan ini. Kak Rangga dan aku belum bisa melupakan perasaan yang ada diantara kami. Tapi kami bertekad untuk melupakannya. Meskipun sangatlah sulit.

Aku tetap menjadi siswa SMU biasa. Hanya bedanya, sekarang aku merasa sendiri. Sejak kejadian pemukulan hari itu, teman-temanku menjauhiku. Aku bahkan sudah tidak duduk sebangku lagi dengan Keyra. Mereka tak pernah lagi mengajakku bicara. Selain kakak kelas tiga yang akan melaksanakan UN, kamipun juga mulai di sibukkan dengan persiapan Ujian kenaikan kelas. Waktu kami banyak tersita untuk itu.

Pernah, suatu hari aku menyapa Ruben. Tapi dia malah mengacuhkannya. Kalau di tanya bagaimana perasaanku padanya, sejauh ini aku merasa, aku hanya bisa menyayanginya sebagai teman.

"Nay." seseorang menyapaku. Dan aku menoleh pada asal suara itu.
"Kak Rangga." ternyata yang menyapa adalah kak Rangga.
"Doain kakak ya. Semoga bisa ngerjain soal ujiannya, dan lulus."
"Pasti dong. Aku akan doain yang terbaik buat kakak."
"Makasih ya."

Hari ujian itupun datang. Sementara kakak kelas tiga melaksanakan ujian, kami yang adik kelas satu dan dua, di liburkan. Tapi di hari libur ini, rumah malah terlihat sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan sendirian. Dan entah mengapa, aku malah menuju gedung itu.

Akupun menyusup masuk kedalam gedung itu, dan naik ke atapnya. Sampai di sana, aku langsung duduk di pinggir atap. Melihat pemandangan kota yang indah. Tiba-tiba saja, aku teringat akan liontin pemberian Ruben, yang tak pernah lepas melingkar di leherku. Aku menatap liontin itu.

"Sekarang gue baru sadar, ternyata gue emang udah banyak banget nyakitin lo ya, Ben." aku mengoceh sendiri. "Kak Rangga bilang, liontin ini emang dari lo, dan Diary itu juga. Sekarang gue percaya, kalo dulu, kita emang punya masa lalu, yang sekarang udah hilang dari otak gue."

Aku mengambil Diary itu dari tasku, dan kembali membacanya. Entah sudah berapa kali aku membaca Diary itu berulang-ulang. Dan kini, aku membacanya lagi.

Tanpa sadar, air mataku menetes. Untuk menenangkan diri, aku berteriak sekuat tenaga dari atap gedung ini. Semuanya terasa lega. Dan tangisku semakin menjadi.

Andai aja kata maaf itu bisa mengembalikan hubungan baik kita, Ben, batinku.

Tapi aku sadar, itu tak mudah. Bisakah aku memperbaiki semuanya hanya dengan kata maaf?

Setelah puas berada di gedung itu, akupun segera turun dan lanjut pergi ke danau. Disini rasanya tenang. Akupun naik ke rumah pohon itu. Dan aku terkejut ketika sudah berada di atas. Di dalam rumah pohon ini, ada banyak sekali kertas putih dengan tulisan yang hanya di corat-coret. Rumah pohon ini jadi sangat berantakan. Juga ada sebuah gitar di sini. Aku mengambil kertas-kertas itu, dan melihat tulisannya. Meski sudah di corat coret, tapi aku masih bisa membaca tulisannya. Di kertas itu tertulis :

Good Bye, Nayla

Mungkinkah ini Ruben? Tapi kenapa dia menuliskan kalimat seperti itu. Apa itu artinya, dia sudah mengucapkan selamat tinggal untuk perasaan cintanya padaku? Jika benar, mengapa aku begitu sedih ketika mengetahui itu?

Aku mengambil gitar itu, dan mencoba memainkannya. Meski itu bukan kunci yang benar, dan aku cuma asal petik, tapi aku tetap merasa senang bisa memainkannya.

Gitar ini, mungkin juga milik Ruben, pikirku.

***

Sekali lagi ingin ku katakan, waktu benar-benar berlalu begitu cepat. Pesta kelulusan sedang berlangsung, hari ini. Kak Rangga, kak Andre, dan teman-temannya yang lain, sedang sibuk merayakan kelulusan mereka. Aku ikut bahagia, sekaligus sedih. Kini kak Rangga sudah lulus. Nama kak Rangga juga sudah terdaftar pada salah satu universitas di London. Besok, dia akan segera berangkat. Aku hanya bisa pasrah. Mungkin kepergiannya memang adalah yang terbaik.

Kak Rangga melihatku yang sedang memperhatikan mereka semua dari jauh. Dan dia datang untuk menghampiriku.

"Nay." sapanya.
"Selamat ya, kak." ucapku tulus.
"Iya, makasih ya." kak Rangga memelukku.

Dan Ruben menyaksikan itu.

"Ruben." aku terkejut melihat Ruben yang tak sengaja melihat aku dan kak Rangga berpelukan. "Hai." sapaku.

Tapi Ruben tak membalas sapaanku. Senyumpun tidak. Dia hanya menatap sinis, lalu pergi.

"Aku harus ngomong sama dia, kak." ujarku pada kak Rangga.
"Jangan sekarang." usul kak Rangga. "Mendingan kamu fokus dulu sama ujian kenaikan kelas yang tinggal bentar lagi."
"Hmm, iya juga sih." akupun menyetujui usulan kak Rangga.

Kami berdua pulang. Sampai di rumah, aku membantu kak Rangga untuk membereskan barang-barangnya.

"Apa lagi yah?" kak Rangga berfikir. "Kayaknya udah semua nih, barang-barangnya. Cuma tinggal berangkat aja."
"Eh, ada satu nih yang kakak lupain." ujarku.
"Apa?" tanya kak Rangga.
"Nih." aku menunjukkan sebuah foto pada kak Rangga. "Kakak gak boleh lupa buat bawa foto keluarga kita."
"Oh iya." kak Rangga mengambil foto itu, lalu memasukkannya dalam koper. "Kalo kangen, kakak bisa liat foto ini."

Aku mulai menangis.

"Kamu kenapa?" tanya kak Rangga.
"Ya sedih lah." jawabku.
"Sedih kenapa?"
"Setelah ini, kita bakalan lama banget gak ketemu."

Kak Rangga memelukku.

"Semua ini terjadi karena salah kita, Nay." ujar kak Rangga. "Kita harus tanggung akibatnya. Kan kamu bilang, ini keputusan yang terbaik."
"Iya, kak." aku mengangguk mantap. "Pokoknya, kalo udah di sana, jangan lupa hubungin aku ya, kak. Aku mau tau kabar kakak setiap harinya."
"Hmm, kalo harus terus ngehubungin kamu, gimana kakak bisa konsen belajar."
"Oh, iya juga yah. Ya udah deh, kapan kakak sempetnya aja."
"Siap, Mipel."
"Uh, kakak."

Waktu pertama kali dengar cerita kak Rangga tentang panggilan Mipel untukku itu, aku sampai tertawa terbahak-bahak. Sekarangpun., Pelupaku malah tambah parah. Ingatanku, semuanya hilang.

Hari keberangkatanpun tiba. Papa, Mama, tante Mery, kak Yudha, kak Andre, Devand, dan aku, mengantar kak Rangga ke Bandara.

"Ingat yah, kamu di sana buat belajar." pesan Papa.
"Belajar yang bener, dan jangan kecewain Mama sama Papa." ini adalah pesan dari Mama.
"Tetep jaga kesehatan." tante Mery juga memberi pesan.
"Jangan lupain gue ya, Ga." yang konyol ini, tentu aja pesan dari sahabat tersayang kak Rangga, yaitu kak Andre.

Kak Yudha baru aja mau nyampein pesannya untuk kak Rangga, tapi kak Rangga malah kasih pesan duluan sama kak Yudha.

"Titip Nayla ya. Jagain dia." pesan kak Rangga pada kak Yudha.

Kak Yudha mengangguk pasti. Kini giliranku. Aku memeluk kak Rangga erat. Seperti kak Rangga bakal pergi dan gak kembali lagi. Yang ini bisa di bilang pelukan yang berlebihan -__-

Devand hanya diam. Dan kak Rangga menghampirinya.

"Dev." kak Rangga menepuk bahu Devand. "Bantu Nayla buat balik lagi jadi dia yang dulu, ya."

Devand terkejut mendengar ucapan kak Rangga. Di saat yang sama, waktu kak Rangga untuk berpamitan pada kamipun habis. Kini tiba waktunya, untuk kak Rangga berangkat. Kak Rangga melambai-lambaikan tangannya. Entah kapan, kami akan berjumpa lagi.

Selamat jalan kak Rangga.

***

Setelah kepergian kak Rangga, aku kembali disibukkan oleh persiapan ujian kenaikan kelas. Temanku sekarang adalah buku-buku pelajaran. Sejenak, aku bisa melupakan masalah yang terjadi antara aku, Ruben, dan teman-temanku yang lain. Tapi setiap kali bertemu mereka di sekolah, dan melihat mereka yang selalu mengacuhkanku, aku menjadi sedih. Tapi untunglah, kak Rangga selalu memberiku semangat. Dia selalu menyempatkan untuk menelponku, disela-sela waktu belajarnya. Aku bersyukur akan hal itu.

Hubungan Papa dengan om Agustira? Baik-baik saja. Hanya hubunganku dan Ruben yang sedang tidak baik-baik saja. Tapi aku bertekad, akan menuntaskan semuanya, selesai dari ujian kenaikan kelas ini.

Hari ini, aku di tugaskan oleh bu Asti untuk mengantarkan beberapa buku ke perpustakaan. Meskipun cuma "beberapa", tapi satu buah buku ini, tebalnya bisa mencapai sepuluh centimeter. Nah loh, buku macam apa ini?

Karena keberatan bawa buku, di tambah juga berat badanku yang nambah 2kg. Karena stress, aku jadi doyan banget makan. Gak sengaja, aku nabrak Kenzi. Alhasil, buku-buku yang ku bawa, jatuh semua.

"Aduh maaf banget ya, Ken." ujarku sambil memunguti buku-buku itu.
"Iya, gak apa-apa." Kenzi ikut membantuku memunguti buku yang jatuh.

Tiba-tiba saja sebuah bayangan yang sama, terlintas dalam pikiranku. Di situ tergambarkan, aku dan Kenzi sedang mengalami kejadian yang sama seperti saat ini. Tiba-tiba Vivian datang.

"Ken, kamu ngapain disini?" tanya Vivian sinis. "Yuk kita pergi."

Vivian langsung menarik tangan Kenzi, dan membawanya pergi. Aku mulai kebingungan dengan kejadian yang terlintas di otakku tadi. Kemudian Jonash datang.

"Jonash."
"Lo gak apa-apa?" tanya Jonash penuh perhatian.
"Gak apa-apa, kok." aku tersenyum tipis.

Lalu Jonash pun pergi. Sedih rasanya, melihat semua teman-temanku menjauhiku seperti ini.

***

Fyuh!! Akhirnya aku bisa bernafas lega. Ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas. Semua soal di setiap mata pelajaran sudah kami kerjakan. Hanya tinggal menunggu hasilnya saja, saat pembagian rapor nanti.

Aku baru saja keluar dari kelas, dan bersiap untuk pulang. Aku melihat teman-temanku sedang berkumpul di parkiran sekolah. Mereka tertawa lepas. Seperti sudah tidak ada lagi beban. Berbeda denganku. Aku masih punya beban. Dan hari ini, aku harus menuntaskan beban itu.

Aku memberanikan diri untuk menghampiri mereka semua.

"Hai." sapaku.

Mereka semua tak menjawab sapaanku, dan malah memalingkan muka.

"Gue tau kalian marah. Karena itu, disini gue datang buat minta maaf." meskipun mereka tidak menggubris ucapanku, tapi aku terus saja berbicara. Aku tau, mereka mendengarnya. "Gue emang cinta sama kak Rangga. Gue gak tau apa yang terjadi dulu, sampai kalian membenci kak Rangga. Sekarang, gue udah bukan Nayla yang dulu lagi. Tapi gue bersedia menjalin persahabatan kita seperti yang dulu. Kalo kalian mau, tolong kasih gue kesempatan. Dan ceritain semuanya sama gue, apa aja kejadian yang udah gue lupain."

Keyra tidak bisa menahan air matanya untuk menetes.

"Kita mau kok, Nay." Keyra memelukku. Diikuti anak-anak yang lain.
"Maafin gue ya." ujarku.
"Lo jangan minta maaf sama kita, tapi lo minta maafnya sama Ruben." ujar Radit.
"Terus, sekarang Rubennya dimana?" tanyaku.
"Kayaknya dia udah pulang. Tadi dia keliatan buru-buru banget." jawab Devand.
"Kalo gitu, gimana caranya gue minta maaf?" aku sedikit putus asa.
"Ya samperin dia kerumahnya lah, Nay." usul Vivian.
"Hmm iya deh. Nanti gue bakal nyamperin dia ke rumahnya." aku kembali bersemangat.

Sesuai usul dari Vivian tadi, hari ini, aku datang ke rumah Ruben. Bi Narsih, pembantu Ruben, yang membukakan pintu untukku.

"Cari siapa, Non?" tanyanya lembut.
"Rubennya ada gak, bi?" aku malah balik bertanya.
"Oh, den Rubennya sedang keluar sebentar, Non."
"Bibi tau dia kemana, gak?"
"Wah, bibi ndak tau tuh, Non."
"Oh, ya udah deh, bi. Saya pulang aja."
"Loh, gak mau nunggu saja, Non."
"Gak usah, bi. Biar besok, saya kesini lagi. Makasih ya, bi."
"Iya, Non."

Aku melangkah gontai, keluar dari halaman rumah Ruben. Besok aku akan kesini lagi. Semoga Ruben ada.

***

Ini adalah hari ketiga aku berkunjung ke rumah Ruben, tapi dia selalu tidak ada di rumah. Hari ini, aku malah hanya bertemu dengan om Agustira.

"Nayla." sapa om Agustira.
"Eh, halo Om." aku balas menyapa.
"Cari Ruben ya?" tanyanya.
"Iya, Om." jawabku.
"Aduh, sudah hampir seminggu ini, Ruben sering pergi. Om juga gak tau dia kemana."
"Hmm, iya Om. Padahal, Nayla pengen banget ketemu sama dia."
"Oh iya. Harus Nayla. Kamu memang harus bertemu sama dia."
"Iya, om. Kalo gitu, Nayla pulang dulu ya."
"Hati-hati ya."

Untuk kesekian kalinya, aku pulang tanpa bertemu dengan Ruben.

Besok adalah hari pembagian rapor. Aku ingin datang lagi ke rumah Ruben, tapi aku takut Ruben tidak ada di rumah. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari dia saja. Aku mencari ke tempat-tempat yang dulu pernah aku dan Ruben kunjungi, sebelum aku dan dia tak saling sapa. Aku mencarinya kegedung, warung makan, dan yang terakhir, di rumah pohon. Tapi dia tidak ada di semua tempat itu. Aku tidak tau lagi tempat-tempat yang menjadi favorite Ruben. Amnesia ini benar-benar membuat aku menjadi orang yang tidak berguna.

Aku menangis, duduk di atas rumah pohon itu. Tiba-tiba aku menyadari satu hal. Kertas-kertas yang waktu itu pernah ku lihat berserakan di dalam rumah pohon ini, juga gitar itu, sekarang sudah tidak ada lagi. Itu berarti, seseorang pernah kesini sebelum aku. Tapi siapa? Mungkinkah Ruben?

Mataku tertuju pada sebuah kertas yang di selipkan pada salah satu sisi bangunan rumah pohon ini. Aku mengambil kertas itu, dan membaca tulisannya.

Dear Mipel,
Setiap hari, aku selalu ke tempat ini. Aku selalu memainkan gitar, dan menyanyikan lagu untuknya. Andai saja dia masih mengingat lagu itu. Aku tak pernah lelah untuk membantunya mengingat semua hal yang telah dia lupakan. Tapi dia tidak pernah mengindahkan usahaku. Dia malah menyakiti perasaanku. Sulit rasanya, bila aku harus  membencinya. Sudah ku coba untuk melupakan perasaanku padanya. Tapi selalu tak bisa. Aku ingin membencinya, tapi itu selalu malah membuatku sedih.
Suatu hari, dia menyapaku. Tapi aku mengacuhkannya. Rasanya sakit, ketika harus memperlakukannya seperti itu. Tapi ini semua aku lakukan, agar dia bisa bahagia bersama orang yang benar-benar dia cinta. Dan yang perlu dia tau, sampai detik inipun, aku masih mencintainya. Aku selalu memikirkannya. Aku selalu mengaguminya, melihatnya dari kejauhan. Saat dia terjatuh karena membawa banyak buku, aku meminta Jonash untuk menanyakan "Apakah dia tidak apa-apa?". Aku tidak pernah bisa membencinya. Aku tidak sungguh-sungguh mengacuhkannya. Bisakah dia tau itu?
Sekarang, tiba saatnya untukku pergi. Aku selalu ketempat ini, dan berharap dia juga datang kesini. Lalu aku akan memeluknya, dan mengucapkan selamat tinggal. Seperti yang dia lakukan pada seseorang, di bandara waktu itu. Tapi sampai hari terakhir aku berada di sini, aku tetap tak melihatnya. Hingga ku tuliskan surat ini. Berharap suatu hari nanti dia ingat tempat ini, dia menemukan surat ini, dan membacanya. Tapi aku tak berharap banyak darinya, ketika dia membaca surat ini. Aku tak akan memaksanya untuk kembali mencintaiku. Aku hanya ingin dia tau, cintaku masih sama besarnya seperti dulu. Dan aku tak pernah membencinya.


Aku menangis saat membaca tulisan itu. Ini dari Ruben. Tapi aku bingung, apa yang di maksudnya dengan mengucapkan selamat tinggal. Kemudian aku teringat akan kertas-kertas yang di corat coret waktu itu. Disitu, Ruben juga menuliskan "Good Bye, Nayla". Apa artinya ini semua?

Tiba-tiba handphone-ku berdering, ada telpon dari Keyra.

"Halo, Key?"
"Nay, lo dimana?"
"Gue lagi ada dirumah pohon."
"Hah! Ya ampun, jauh banget."
"Ada apa sih?"
"Aduh, Nay. Mendingan lo kebandara deh sekarang."
"Ngapain?"
"Ruben mau pergi ke Singapore. Dia bakal nerusin SMA di sana."
"Apa?"
"Iya, sekarang mendingan lo cepetan kebandara. Atau lo gak akan pernah ketemu sama Ruben lagi."
"Iya, iya. Gue ke sana sekarang."

Aku segera turun dari rumah pohon, dan bergegas ke bandara. Sepanjang perjalanan, aku terus menangis. Aku masih menggenggam surat dari Ruben. Semoga aku masih punya kesempatan untuk bertemu dengannya, meminta maaf, memeluknya, mengucapkan selamat tinggal, dan mengatakan kalau kini, aku mencintainya.

Satu jam lebih perjalanan, aku baru sampai ke bandara ini.  Jarak danau dengan bandara memang jauh. Dan aku tau, ini sangat terlambat. Kecuali jika penerbangannya delay, atau Ruben memutuskan untuk batal berangkat.

Aku berlari mencari Ruben dan yang lainnya. Air mataku semakin deras mengalir.

"Nayla." seseorang memanggil namaku. Dan aku segera menoleh ke asal suara itu.

Aku terdiam. Yang memanggil namaku tadi adalah Devand. Dia bersama yang lain. Mereka semua menghampiriku.

"Nayla." Keyra memelukku.
"Gue telat?" tanyaku sembari terisak.
"Iya, Nay." ujar Keyra, juga menangis.
"Gue..." aku tak sanggup lagi untuk berbicara. "Gue belum sempet minta maaf sama dia."
"Dia bilang, dia udah maafin lo kok, Nay." ujar Idon.

Aku masih menangis dalam pelukan Keyra. Tiba-tiba saja pandanganku kabur, dan aku pingsan.

Good Bye, Ruben.

***