Thursday, May 3, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 28 (END)

After Two Years


LULUS!!!
Semua meneriakan kata itu. Ya, dua tahun telah berlalu. Kini aku sudah menyelesaikan pendidikan SMU ku, bersama teman-teman yang sama, Keyra, Radit, Jonash, Devand, Kenzi, Vivian, Idon, dan si kembar Kiran-Karin.

Dua tahun ternyata bukan waktu yang singkat. Semunya tidak berlalu begitu saja. Semuanya tidak berlalu tanpa arti. Selama dua tahun ini, ada banyak sekali kenangan dan kebahagiaan yang terukir. Setiap hari, selalu berharga untukku.

Selalu bersama, itulah janji persahabatan kami. Kami akan selalu bersama, dalam kondisi apapun. Karena itu, kami putuskan untuk masuk di satu Universitas yang sama. Meskipun kedengarannya sangat sulit, karena kualitas otak kami yang berbeda. Kami tetap optimis untuk mencobanya. Kalau nanti diantara kami, ada yang tidak berhasil masuk keperguruan tinggi negeri, maka kami putuskan untuk sama-sama masuk di perguruan tinggi swasta. Haha kedengarannya niat banget yah. Tapi itulah arti janji "selalu bersama" yang sudah kami ikrar kan. Sampai-sampai, Vivian menolak untuk di kuliahkan ke Jerman, hanya untuk kebersamaan persahabatan ini. Ya, memang tidak muda meninggalkan apa yang sudah menjadi jiwa kita.

"Udah dua tahun berlalu, tanpa Ruben." ujarku pelan.
"Iya yah, Nay. Lo hebat, bisa nunggu selama ini." ujar Radit salut.
"Kan ada kalian semua, meskipun gue sedang dalam penantian, tapi gue gak ngerasa kesepian berkat kalian semua." aku memeluk semua sahabatku itu.
"Ruben kapan pulang ya?" Kiran tak menujukan pertanyaan itu kepada siapapun. Karena memang tak kan ada yang bisa menjawab.
"Padahal udah dua tahun loh dia pergi." Karin menambahkan.
"Mungkin, apa yang dulu pernah di bilang Idon itu, bener. Ruben gak mungkin kembali buat cinta yang gak pasti, dia akan lebih memilih cinta yang nyata ada di depannya." ujarku putus asa.
"Astaga, Nay. Ternyata lo masih kepikiran sama kata-kata gue yang dulu itu?" Idon menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue kan udah bilang, Nay. Gue yakin, Ruben bukan orang yang kayak gitu. Kan di suratnya waktu itu, dia bilang kalo dia cinta dan sayang banget sama lo."
"Iya, Nay." Jonash menimpali. "Dan lo harus percaya sama Ruben. Dia bukan cowok yang kayak gitu kok."
"Ya, semoga aja." aku tersenyum tipis.
"Ya udah. Sekarang, gimana kalo kita makan-makan, buat ngerayain hari kelulusan kita ini." usul Vivian.
"Setuju." semua bersemangat menyambut usul Vivian.

Kami semua menuju kafe yang ada di dekat sekolah, untuk makan. Dan Vivian yang bakalan traktir kita semua. Ya, selalu begitu. Selalu Vivian. Karena memang dia yang paling tajir diantara kami semua. Dan yang pasti, cuma dia yang uang jajannya melampaui batas uang jajan anak SMU biasa, kayak gue dan temen-temen gue yang lain.

"Ini nih yang bikin gue setuju kalo kita harus satu Universitas." Idon mulai membuka kembali percakapan, saat kami sudah berada di kafe.
"Maksudnya apa, Don?" tanya Keyra.
"Ya gini, gue selalu di traktir sama Vivian." Idon tertawa puas.
"Dasar lo, Don." Devand mendorong bahu Idon.
"Eitsss, ada lagi nih yang bikin gue seneng kalo kita bareng-bareng terus." ujar Idon lagi.
"Apaan lagi?" tanya Keyra.
"Gue bakalan terus dapet contekan dari Kenzi yang pinter ini." Idon tertawa lagi.
"Oh, jadi gitu." Kenzi mengangguk-angguk paham.
"Bercanda kali, Ken." Idon mengangkat kedua jarinya, memberi tanda 'peace'.

Selesai makan-makan, kami semua pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah, aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke danau, seperti biasa. Dan aku di antar oleh sopirku.

Disana, aku selalu duduk sendiri di rumah pohon. Mengenang apa yang masih bisa kuingat. Liontin itu, tak pernah lepas sedetikpun dari leherku. Begitupun Diary itu. Dia selalu senantiasa ada di dalam tasku, kemanapun aku pergi. Hanya bedanya, sekarang Diary ini mulai terlihat lecek. Ini dikarenakan, aku selalu membuka setiap lembarnya, dan membacanya.

Setelah cukup lama aku merenung di atas rumah pohon ini, hujan pun turun. Cukup lama hujan tak turun. Dan begitu turun, hujannya sangat deras. Diiringi oleh suara gemuruh yang bersautan. Tak ada pilihan lain, kecuali berteduh di dalam rumah pohon ini. Meskipun ku rasa percuma, karena aku tetap basah oleh cipratan air hujan ini. Hujannya terlalu deras, hingga aku tak berani untuk berlari menuju mobil yang terparkir lumayan jauh. Akhirnya ku putuskan untuk menunggu hingga hujan reda.

Saking lelahnya menunggu, aku sampai ketiduran di rumah pohon ini.

Aku tak tau sudah berapa lama aku tertidur. Sampai saat aku terbangun, kulihat hujannya sudah reda. Dan hari mulai gelap. Air hujan yang jatuh ke atap rumah pohon ini, menetes ke bawah. Samar-samar aku mendengar ada suara orang yang memanggilku. Aku sangat mengenal suara itu. Tetapi yang pasti, itu bukanlah suara sopirku.

Akupun melihat kebawah. Ke asal suara yang memanggilku itu. Disana ada seorang cowok yang berdiri, sambil tersenyum lembut padaku.

"Nayla, ayo turun." ujarnya.

Aku masih tak yakin dengan seseorang yang bicara padaku itu. Aku mengucek-ngucek mataku untuk memastikan apakah ini nyata atau hanya khayalanku saja. Tapi seberapa kalipun aku mengucek mataku, orang itu tetap ada di tempatnya. Berarti, ini nyata.

"Nayla, ayo turun." seseorang itu mengulang kata-katanya.
"Ini bukan mimpi kan?" tanyaku.
"Bukan, ini nyata kok." jawabnya.
"Tapi kok bisa sih?" aku masih belum percaya.
"Ya bisa lah." cowok itu berusaha meyakinkanku. "Udah ah, ayo kita pulang. Kakak udah jauh-jauh dateng, eh pas nyampe rumah, kamunya malah gak ada. Kata mang ucup, kamu kesini. Ya udah kakak susul."

Aku tersenyum bahagia. Ya, yang datang itu adalah kak Rangga. Entah bagaimana, dia sekarang sudah benar-benar ada di depanku. Aku segera turun dari rumah pohon, dan memeluk kak Rangga. Aku benar-benar merindukannya. Setelah dua tahun, akhirnya dia menyempatkan diri untuk pulang ke Indonesia, di sela-sela liburnya.

"Gimana kabar kakak?" tanyaku, di sepanjang perjalanan menuju mobil.
"Ya seperti yang kamu lihat, kakak sehat." jawab kak Rangga lembut. "Kamu sendiri apa kabar?"
"Aku baik." jawabku.
"Iya, fisik kamu memang baik. Tapi hati kamu nggak kan?" terka kak Rangga.
Aku menghela nafas berat. "Udah dua tahun, kak. Dan Ruben belum juga kembali."
"Kamu yang sabar ya. Kakak yakin kok, suatu saat dia pasti bakalan balik lagi sama kamu."
"Mudah-mudahan ya, kak."

Kamipun sampai di mobil. Mang ucup sudah menunggu, dan kami segera pulang.

Kami sampai dirumah, tepat di jam makan malam. Jadi begitu sampai, kami sudah di suguhkan dengan makanan yang banyak banget. Mungkin karena kadatangan kak Rangga, Mama menyuruh bi Minah untuk masak yang banyak. Disini juga ada tante Mery dan Devand. Gak ketinggalan juga, om Agustira dan kak Viona. Kamipun makan malam bersama. Kak Rangga bercerita banyak hal tentang study nya di London. Semua mendengarkan dengan seksama. Disaat semua orang merasa kebahagiaannya lengkap di sini, aku tetap merasa ada yang kurang. Rasanya kebahagiaanku memang belum lengkap tanpa Ruben.

Selesai makan, para orang tua ngopi dan ngobrol bersama di ruang tengah. Sedangkan kami yang anak-anak muda ini, berkumpul di gazebo belakang rumah.

"Oke, jadi mana nih oleh-olehnya?" tanya kak Yudha pada kak Rangga.

Haha, meskipun kak Rangga di London buat belajar, tapi kalo pulang, ya mesti ada oleh-olehnya dong.

"Ada di kamar gue. Bentar ya, gue ambil dulu." kak Rangga pun berlari menuju kamarnya.

Lima menit kemudian, dia datang dengan banyak barang di tangannya. Dan kemudian, dia membagikan barang-barang itu kepada kami. Kak Yudha dapet dua t-shirt dan satu sepatu yang keren banget. Aku dapet boneka dan dress coklat dengan pita pink di pinggangnya yang cute banget, dan asli dari London pastinya (jiah, sombong haha *peace). Kalo Devand dapet parfum sama topi yang kerennya gak usah di tanya lagi. Dan yang terakhir, oleh-oleh buat kak Viona. Kak Rangga ngasih wedges purple yang tingginya gak tau berapa centimeter -__-. Dan kalo kak Viona pake itu, pasti dia bakalan makin keren, dan kak Yudha bakalan makin terpesona sama cewek yang sekarang udah jadi model ini.

"Gue dapet oleh-oleh juga?" tanya kak Viona tak percaya.
"Iya." kak Rangga mengangguk malu. "Gue kan selalu denger cerita tentang lo dari kak Yudha. Dan gue sempet bingung mau ngasih apa. Abisan, kita kan gak pernah ketemu sebelumnya. Dan semoga, lo suka deh sama oleh-oleh itu."
"Gue suka banget. Makasih ya." kak Viona memeluk kak Rangga.

Semua terdiam melihat itu. Kak Yudha sampe gak bisa ngomong apa-apa.

"Ini pelukan buat calon adik ipar." ujar kak Viona, saat menyadari ada tatapan cemburu dari kak Yudha.
"Wah, gue nyesel banget nih, karena waktu itu udah nolak perjodohan kita." goda kak Rangga.

Kak Viona hanya tertawa, lalu memeluk lengan kak Yudha.

"Mungkin penolakan lo waktu itu emang adalah jalan gue, buat ngedapetin cinta sejati gue." kak Viona tersenyum tipis. Begitupun kak Yudha. Yaa, sebenernya kak Yudha juga cuma pura-pura ngambek. Semua orang tau, kak Yudha bukan orang seperti itu. Dan itulah yang membuat kak Viona tambah jatuh cinta sama kakak pertamaku ini.
"Oh iya, lo kapan balik lagi ke London, Ga?" tanya kak Yudha.
"Lo ngusir gue?" tanya kak Rangga sinis.
"Tau nih kak Yudha." aku menimpali. "Kak Rangga kan baru aja dateng, masa udah di tanyain kapan pulangnya sih?"
"Yee bukannya gitu. Kok lo berdua malah jadi salah paham gini sih?" kak Yudha menggaruk-garuk kepalanya. "Maksud gue nanyain Rangga kapan pulang itu, soalnya gue mau dia ada pas hari pertunangan gue."
"Hah! Lo mau tunangan, kak?" aku, Devand, dan kak Rangga kaget mendengar berita itu.
"Iya." jawab kak Yudha santai. "Biasa aja dong mukanya."
"Hmm, kalo menurut gue sih, emang udah saatnya kalian itu tunangan. Secara kan, kalian udah pacaran dua tahun." komentar Devand.
"Emang kapan acaranya, kak?" tanyaku.
"Satu minggu lagi." jawab kak Viona. "Kedua orang tua kita emang udah ngomongin, cuma belum di kasih tau ke kalian."
"Kok kedengarannya dadakan banget ya." ujar kak Rangga.
"Soalnya, bentar lagi gue bakalan berangkat ke Jerman." kak Yudha tersenyum tipis. "Gue dapet beasiswa S-2 di sana."
"Wah, keren banget." ujar Devand takjub.
"Terus kak Viona gimana?" tanyaku.
"Kakak ikut dong." jawab kak Viona semangat. "Jadi kan kita bisa sama-sama terus."

Semua orang bahagia mendengar kabar ini. Akupun juga. Aku senang, mereka tak kan terpisahkan. Meski sepertinya, itu semua berbanding terbalik denganku. Andai aja aku bisa seperti kak Viona, ikut dengan Ruben. Mungkin tak terlambat untuk menyusulnya sekarang. Tapi aku tidak mau, jiwaku sudah berada di Indonesia, bersama semua sahabat-sahabatku. Biarlah aku menuggunya. Jika memang jodoh, dia pasti kembali.

***

Selain aku mulai sibuk mengurus pendaftaran untuk masuk universitas bersama sahabat-sahabatku, aku juga di sibukkan dengan pesta pertunangan kak Yudha dan kak Viona yang semakin dekat. Beruntunglah aku punya sahabat-sahabatku yang selalu senantiasa membantuku. Mereka bersedia di repotkan dalam mengatur pesta, agar bisa berjalan dengan baik.

Sudah satu minggu ini, aku tidak datang ke danau. Rasanya sangat ingin pergi, tapi keadaan tak memungkinkan. Malam ini, pesta pertunangan itu akan berlangsung.

Semua datang dengan busana terbaik mereka. Aku juga memakai dress pemberian kak Rangga. Semua tamu mulai berdatangan. Ada yang sudah lama terlupakan, dan kini, dia kembali lagi. Siapa? Siapa lagi kalo bukan kak Andre. Akhirnya, terjadilah reuni singkat antara kak Rangga dan kak Andre.

"Rangga."
"Andre."

Mereka berdua berpelukan.

"Hai, kak Andre." aku ikut menyapa kak Andre.
"Hai, Nayla." dia balas menyapa. "Makin cantik aja nih." pujinya.
"Makasih." ujarku malu.
"Udah lulus SMA kan?" tanya kak Andre.
"Iya, kak." jawabku ramah.
"Udah dapet Universitas, belum? Daftar di Universitas kakak aja." kak Andre menawarkan.
"Hmm, aku sih ikut sama anak-anak aja, kak." jawabku.
"Oh, oke." kak Andre tersenyum tipis.
"Aku ke sana dulu ya, kak." aku menunjuk ke arah sahabat-sahabatku.
"Iya." kak Andre mengangguk.

Kak Andre kembali sibuk dengan beragam perbincangan dengan kak Rangga. Sedangkan aku, berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Dan tiba-tiba, om Agustira menghampiriku.

"Nayla." om Agustira menepuk bahuku.
"Ya. Ada apa, om?" tanyaku.
"Ada yang mau ketemu kamu tuh." om Agustira menunjuk ke arah halaman belakang rumah.
"Siapa?" tanyaku. lagi.
"Liat aja." om Agustira tersenyum tipis, lalu pergi.
"Siapa sih, Nay?" tanya Keyra.
"Gak tau nih, bentar ya, gue liat dulu." akupun berjalan menuju halaman belakang.

Halaman belakang rumah ini menjadi sedikit gelap dan hanya ada lampu-lampu kecil yang menjadi penerang. Karena semua pesta terfokus di ruang utama di dalam rumah. Aku melihat seseorang duduk di gazebo, dan aku segera menghampirinya.

"Permisi." ujarku hati-hati.

Seseorang yang ternyata adalah cowok itu, menoleh perlahan menghadapku. Dan begitu dia menoleh, aku benar-benar terkejut. Aku sampai mundur beberapa langkah dari tempat aku berdiri tadi. Aku tak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini. Meskipun hanya samar-samar cahaya lampu meneranginya, tapi aku bisa melihat dengan jelas, siapa yang kini berada di depanku.

"Ruben." aku mengucap nama seseorang yang ada di hadapanku ini.
"Hai." sapanya. "Apa kabar?"

Aku hanya diam. Meskipun aku sangat merindukan Ruben, tapi aku sama sekali tak tau apa yang akan aku ucapkan dan lakukan, jika suatu saat aku bertemu lagi dengannya. Seperti saat ini, aku hanya diam mematung. Dan sepertinya, Ruben kecewa dengan sikapku ini. Diapun berniat pergi.

"Ben," aku memberanikan diri menyapanya, demi menghentikan kepergian Ruben untuk yang kedua kalinya dariku.

Ruben mengurungkan niatnya yang akan pergi, lalu berbalik menghadapku. Aku berjalan perlahan menuju ke arahnya, lalu memeluknya.

"Tolong jangan pergi lagi." ujarku sambil menangis.

Ruben tak mengatakan apapun. Dia terus memelukku erat. Kini, pesta ini benar-benar terasa lengkap. Aku melepas pelukanku, dan membawa Ruben ke dalam suasana pesta. Semua terkejut melihat kehadiran Ruben, kecuali Mama-Papa dan om Agustira.

"Ruben." ujar kak Yudha tak percaya.
"Selamat ya, kak." Ruben memeluk kak Yudha.
"Makasih ya." ujar kak Yudha bahagia. "Kapan dateng?"
"Kemaren." jawab Ruben ramah.

Aku menatap Ruben. Harusnya, aku orang pertama yang menanyakan perihal itu. Tapi aku terlalu malu. Entah apa yang membuatku menjadi seperti ini.

Kak Rangga menghampiri Ruben. Dia tersenyum tipis, lalu memeluk Ruben. Merekapun tertawa, sambil melihat ke arahku. Dan itu berhasil membuatku salah tingkah.

Kemudian Ruben menyapa dan berpelukan dengan Papa dan Mama. Mama bahkan mencium pipi Ruben. Seperti seorang ibu pada anaknya. Ya, sejak kecil, Ruben pasti menginginkan kasih sayang seorang ibu.

Ruben lalu menghampiri para sahabatnya.

"Ruben." semua sahabatku berteriak tak percaya. Mereka semua berpelukan. Aku tak ikut dalam kebahagiaan itu. Aku malah pergi menuju kamarku.
"Ben, kita kangen banget sama lo." ujar Idon.
"Akhirnya lo pulang juga." Jonash menepuk bahu Ruben.
"Gue kangen banget sama kalian." ujar Ruben.
"Tapi, pasti lebih kangen banget sama si Mipel itu. Ya kan?" goda Keyra.

Ruben tersenyum malu.

"Eh, tapi ngomong-ngomong, Nayla mana ya?" Kenzi baru menyadari, aku tak ada dalam pesta.
"Tuh anak gimana sih, cowoknya pulang, dia malah ngilang." ujar Vivian sinis.
"Gue gak ngilang, kok." ujarku pelan.

Setelah dari kamar, dan mengambil sesuatu, aku kembali lagi ke dalam pesta. Aku berjalan pelan menghampiri Ruben, lalu memberikan sesuatu padanya.

"Ini apa?" tanya Ruben.
"Masa lo lupa, ini apa." ujarku.
Ruben tersenyum malu. "Ini surat gue." akunya.

Aku sudah membingkai kertas surat itu dalam pigura kayu. Di saat Ruben masih diam dalam malunya, aku kembali membuatnya merasakan hal yang sama. Di depan semua orang di pesta, aku mencium pipi Ruben. Semua mata tertuju pada kami. Kayaknya, yang jadi Raja dan Ratu malam ini, bukan kak Yudha dan kak Viona. Tapi aku dan Ruben.

Kak Rangga tersenyum tipis. Dia sudah bisa mengikhlaskan aku untuk bersama Ruben. 

"Ini maksudnya, apa?" tanya Ruben.
"Aku cinta kamu." ujarku mantap.

Semua orang bertepuk tangan. Ikut bahagia menyaksikan aku dan Ruben. Kak Yudha bahkan meminta Ruben untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya dan kak Viona. Ruben setuju, dan mulai bernyanyi dengan gitar yang sudah disiapkan. Lagu apa lagi yang akan dia nyanyikan? Hanya satu. Dan tetap sama seperti yang sering dia nyanyikan dua tahun lalu. "Selalu Menjagamu dari Keyla band". Semua orang menikmati permainan gitar dan suara Ruben. Malam ini penuh kebahagiaan.

***

Hari ini, aku bersemangat sekali untuk bangun pagi. Sebab, hari ini Ruben akan mengajakku jalan-jalan. Awalnya Ruben tak berencana untuk menetap kembali di Indonesia. Dia hanya berencana untuk berkunjung sebentar. Tapi ketika dia kembali dan mendapatkan lagi orang yang dia cintai, dengan mantap dia memutuskan untuk kembali menjalani hari-hari indahnya di Indonesia. Bersamaku, dan semua sahabat-sahabatnya.

Sebelum pergi jalan-jalan, kami harus ikut ke Bandara, mengantar kak Yudha dan kak Viona yang akan pergi ke Jerman. Juga kak Rangga yang memutuskan untuk kembali lebih cepat ke London. Sekarang tinggal aku sendiri yang berada di rumah, untuk menemani Mama dan Papa. Rumah akan semakin sepi tanpa kedua kakakku ini.

Setelah mengantar mereka ke Bandara, aku dan Ruben segera pergi menuju danau. Kebersamaan ini adalah awal dari kebersamaan indah yang lain. Dan setiap dari kebersamaan ini, akan ku tuliskan pada Diaryku, agar aku tak melupakannya.

Aku dan Ruben berjalan menuju ke rumah pohon, tapi sebelum naik ke rumah pohon, Ruben kembali memelukku.

"Mungkin kamu udah gak ingat kata-kata aku yang ini." ujar Ruben.
"Apa?" tanyaku.
"Jangan lupakan hari ini. Simpan hari ini di dalam hati kamu. Jangan simpan di pikiran kamu. Agar jika suatu saat kamu melupakannya, indahnya masih bisa kamu rasakan di hati."

Aku tersenyum, lalu mengulang kalimat yang sama. Rasanya benar-benar seperti aku pernah mendengar kalimat ini sebelumnya.

Lagi-lagi hujan turun. Dan bukannya berteduh, kami malah tetap diam di bawah rintikan hujan. Berlarian. Kebersamaan yang sulit untuk di lupakan. Akan kusimpan semuanya di dalam hatiku. Tak akan ku biarkan terlupakan, dan menjadi sia-sia.

I Love You, Ruben.

Aku merasa sangat beruntung memiliki orang-orang hebat di sekitarku. Ada Mama dan Papa yang begitu tabah menghadapi semua masalahku. Ada tante Mery yang bijaksana. Ada om Agustira yang sudah menjadi guru terbaik bagiku. Om Agustira mengajarkan banyak hal padaku. Ada kedua kakakku yang sangat menyayangiku. Dan juga sahabat-sahabat terbaikku yang selalu memberiku senyum dan kebahagiaan tanpa batas. Kalian semua adalah orang-orang terbaik. Kalian juga bisa menerimaku apa adanya. Meskipun aku ini adalah seorang Mipel, yang hingga kini tak kembali mendapatkan ingatannya. Terima kasih.

***

"Happy birthday." semua meneriakan kalimat itu padaku.
"Siapa yang ulang tahun?" tanyaku.
"Nayla." semua berteriak kesal. "Hari ini kan hari ulang tahun lo yang ke-19"
"Oh ya?"
"Dasar Mipel....!!!!"

-END-


No comments:

Post a Comment