Saturday, May 26, 2012

KISAH SEDIH




Jadi pengurus mading sekolah itu gak gampang. Tapi Key selalu senang melakukannya. Key dan teman-teman pengurus yang lain harus mempersiapkan banyak bahan untuk di tampilkan setiap minggunya. Dan Key bertugas untuk mengisi kolom Cerpen. Meski terhitung mudah karena selama ini Key hanya mengambil cerpen dari tabloid maupun majalah mingguan, tapi untuk edisi minggu ini, Key harus memenuhi permintaan dari seorang cowok bernama Alva, untuk membuat cerpen hasil karya Key sendiri.

Gini nih ceritanya…

Pagi-pagi banget, Key udah datang kesekolah, dan sibuk mengganti isi mading minggu lalu dengan yang baru. Tiba-tiba seseorang menghampirinya.

“Ah, basi. Dari dulu, madingnya gak pernah ada perubahan, gitu-gitu aja.” Ujar seseorang yang tiba-tiba nongol di samping Key.
“Siapa lo?” tanya Key ketus. “Seenaknya aja ngehina mading bikinan kita.”
“Sekali-kali, cerpennya bikinan lo sendiri dong. Jangan ngambil yang di tabloid mulu, gak kreatif banget sih.” Ujar si cowok sinis.
“Selama ini gak ada anak-anak yang komplain kok soal cerpen yang di ambil dari tabloid.” Key membela diri. “Kok jadi lo yang masalah banget gini.”
“Kalo lo emang pengurus mading yang baik, tunjukin dong. Kalo lo emang bisa.” Tantang si cowok.
“Oke. Gue bakal buktiin sama lo.” Key memenuhi tantangan si cowok. “Minggu depan, gue bakal nempelin hasil cerpen buatan gue.”
“Ceritanya, harus tentang kisah sedih ya.”
“Kenapa gitu?”
“Mau gue cap sebagai pengurus mading yang baik , gak? Kalo mau, turutin tuh ide gue. Buat cerita yang sedih!”
“Oke. Eh, tapi lo siapa? Kok gue gak pernah liat lo sebelumnya di sekolah?”
“Gue anak baru. Baru hari pertama disini. Nama gue Alva.”
“Ah sial. Jadi gue di kerjain sama anak baru?”
“Weits, woles mbak.”
“Dasar!”

Nah, sejak hari itu Key berfikir keras buat bikin cerpen bertemakan kisah sedih. Dan ini adalah hari ke dua. Key belum juga bisa mendapatkan ide untuk cerpennya yang akan di terbitkan di mading minggu depan.

“Gimana, udah dapet idenya, belum?” tanya Alva yang tiba-tiba nongol di sebelah Key.
“Ih, kaget gue!” Key mengelus-elus dadanya. “Lo datangnya kenapa selalu tiba-tiba gini sih?”
“Ya, biar keren aja!” ujar Alva santai.
“Gue belum dapet ide nih.” Ujar Key putus asa. “Kayaknya gue emang gak berbakat jadi penulis.”
“Dan sekarang lo mulai berfikir kan? Kalo lo bukan pengurus mading yang baik.” Ejek Alva.
“Enak aja. Ini baru hari kedua kan? Gue masih punya empat hari lagi sebelum mading edisi berikutnya terbit.” Key kembali bersemangat.
“Iya, iya.” Alva tersenyum tipis.

Bel pulang sekolah berbunyi, Key berjalan gontai menuju gerbang sekolah. Dia masih menunggu kakaknya, untuk menjemputnya. Dan lagi-lagi, Alva datang dengan tiba-tiba.

“Key.” Sapa Alva.
“Udah hafal gue, lo selalu aja datang tiba-tiba.” Key memberengut kesal.
“Hehe. Keren kan, gue?”
“Nakutin sih, iya.”
“Gimana, udah dapet idenya?”
“Kalo menurut gue sih, kisah sedih itu,pasti kalo ceritanya tentang seseorang yang punya penyakit serius, terus meninggal dan nyisahin kenangan buat yang masih hidup.”
“Jadi menurut lo, kisah sedih selalu berakhir kehilangan?”
“Umunya sih gitu.”
“Apalagi kalo ditambah kayak si meninggal yang belum sempat mengatakan sesuatu yang penting di dalam hatinya, buat si hidup.”
“Tepat. Oke, gue bakal nulis cerita yang kayak gitu.”

Tanpa meminta pendapat ataupun komentar lagi dari Alva, Key langsung pergi dengan semangatnya meninggalkan Alva. Dia segera menuju mobil kakaknya, yang telah datang menjemputnya.

Sejak hari itu, Key mulai sibuk menulis kisah sedihnya. Dan sejak saat itu juga, Alva tak pernah lagi muncul tiba-tiba. Key hanya berfikir, mungkin saja Alva tidak masuk sekolah.

Ini adalah hari kelima, Key hampir menyelesaikan tulisannya. Dan tiba-tiba dia teringat Alva. Ada satu hal yang tak pernah ia tanyakan pada Alva. Kelas berapakah, Alva? Keypun akhirnya memutuskan untuk mencari kelas Alva.

Key mencari kesemua kelas, tapi di setiap kelas tak ada yang tau kalau ada anak baru yang datang, dan bernama Alva. Key terkejut, dan langsung bertanya ke petugas Tata Usaha.

“Tidak ada siswa baru yang masuk minggu ini, Key.” Jawab petugas Tata Usaha.
“Ada kok, bu. Namanya Alva.” Key meyakinkan.
“Tidak ada yang bernama Alva di sekolah ini, Key.” Petugas Tata Usaha menegaskan.
“Apa ibu yakin?” Key belum bisa percaya.
“Saya yakin, seyakin yakinnya, Key.” Tegas petugas Tata Usaha lagi.

Kali ini Key tak bertanya lagi. Ini bukan lelucon. Petugas Tata Usaha itu dengan serius menjawab, tidak ada siswa baru, apalagi yang bernama Alva. Keypun terpaksa mempercayainya. Dia keluar dengan pikiran tak karuan mengenai Alva. Siapa Alva sebenarnya?

Sesaat baru keluar dari ruang Tata Usaha, tangan Key di tarik oleh seseorang.

“Eh, siapa lo?” tanya Key ketakutan.
“Gue Aldi.” Seseorang itu memperkenalkan diri.
“Aldi siapa? Gue gak kenal. Jangan-jangan, lo juga bukan siswa sini. Jangan-jangan, lo juga gak nyata kayak Alva.” Tuduh Key kalut.
“Alva nyata.” Seseorang yang bernama Aldi itu tertunduk lesu.
“Maksud lo?” Key semakin bingung.
“Dia adik gue.” Ujar Aldi. “Alva nyata. Tapi sekarang, dia memang lagi koma di rumah sakit.”
“Gue gak ngerti.” Key tertunduk sedih. “Alva itu siapa? Kenapa dia suka datang tiba-tiba. Nantangin gue buat bikin cerpen tentang kisah sedih. Ngaku sebagai anak baru disekolah ini. Gue bingung.”
“Lo ikut gue sekarang. Gue bakal nyeritain semuanya, nanti.” Aldi langsung menarik tangan Key dan mengajaknya pergi.

Key menurut saja, dan ikut kemana Aldi membawanya. Ternyata Aldi membawa Key kesebuah rumah sakit. Merekapun sampai di sebuah ruang rawat. Disana terbaring kaku seorang anak laki-laki seumuran Key. Key terkejut melihat sosok pucat yang tertidur di ranjang rumah sakit itu.

“Alva.” Key menyebut nama anak laki-laki tersebut.
“Seminggu yang lalu, dia mengalami kecelakaan.” Kisah Aldi. “Beberapa bulan terakhir ini, dia selalu pergi ke kios majalah yang ada di pinggir jalan dekat rumah, untuk melihat seorang gadis yang juga rutin membeli majalah disana.”
“Gadis itu…” Key tak melanjutkan ucapannya.
“Gadis itu adik kelas gue di sekolah.” ujar Aldi. “Dia pengurus mading sekolah. Gadis itu… elo Key.”

Key menangis tersedu di samping tubuh kaku Alva.

“Alva jatuh cinta sama lo, Key.” Aldi bercerita lagi. “Sejak pertama kali dia liat lo beli majalah di kios. Setiap minggunya, Alva selalu datang kesana, cuma buat liat lo. Tapi Alva gak pernah berani buat nyamperin dan ngajak lo kenalan. Sampai pada hari itu, saat dia datang ke kios seperti biasa. Dia terlalu semangat, sampai gak sadar waktu mau nyebrang ada mobil dan dia ketabrak. Lalu koma, sampai hari ini. Dan gue gak nyangka, ternyata rohnya pergi untuk nemuin lo.”
“Gue gak tau harus ngomong apa.” Ujar Key sambil terisak. “Tapi Alva udah ngajarin gue buat jadi pengurus mading yang baik. Kehadirannya mengubah gue. Gue harus ngucapin makasih sama dia. Dan dia juga harus liat hasil tulisan gue. Karena itu, Alva harus bangun.”

***

Hari ini adalah jadwalnya mading yang baru, terbit. Key menempelkan cerpen yang berjudul “Kisah Sedih” buatannya di kolom cerpen.

“Key, edisi minggu ini, cerpennya buatan lo sendiri ya?” tanya Siska, salah satu teman Key.
“Iya, Sis. Mulai edisi ini, gue bakal isi kolom cerpennya dengan cerpen buatan gue sendiri.” Key tersenyum tipis.
“Ceritanya bagus loh, Key.” Puji Siska. “Gue setuju kalo cerpennya dibuat sendiri sama lo.”
“Makasih ya, Sis.”

Ini adalah minggu kedua. Sebentar lagi, mading edisi berikutnya akan terbit. Key mulai sibuk menulis. Dia sudah memberikan cerpen yang diminta Alva, ke rumak sakit. Key juga sudah membacakannya di depan Alva, meski sekarang Alva sedang terbaring koma. Terakhir kali Key mengunjungi Alva dirumah sakit adalah tiga hari yang lalu. Karena setelah hari itu, Key mulai sibuk dengan tugasnya sebagai pengurus mading sekolah.

Hari itupun datang. Key kembali mengganti isi mading minggu lalu dengan yang baru. Tiba-tiba, petugas Tata Usaha menghampiri Key.

“Key, ini data siswa baru yang bernama Alva, yang kamu tanya waktu itu.” Petugas Tata Usaha itu memberikan sebuah kertas pada Key. Harusnya data yang seperti itu tidak boleh diperlihatkan pada Key. Tapi entah kenapa ini.
“Gimana bisa, bu?” tanya Key bingung.

Petugas Tata Usaha itu hanya tersenyum, lalu pergi. Key menatap pada kertas itu. Sepertinya, itu benar-benar milik Alva.

“Gue nyata kan, Key?” suara itu mengejutkan Key.
“Alva.” Key serasa ingin pingsan melihat sosok yang saat ini berdiri di depannya.
“Mulai hari ini, gue adalah anak baru disekolah ini, dan ini adalah hari pertama gue.” Ujar Alva bersemangat.
“Lo emang selalu ngagetin gue, Va.” ujar Key kesal.
Alva tertawa geli. “Gue udah baca kisah sedihnya. Ya, lumayanlah buat penulis pemula kayak lo.”

Key memberengut kesal. Saat Key mulai sibuk dengan mading edisi minggu ini, dia jadi tidak sempat menjenguk Alva dirumah sakit. Dan saat itulah, ternyata Alva sadar dari komanya. Dia akhirnya meminta untuk pindah kesekolah yang sama dengan abangnya, Aldi.

“Lain kali bikin kisah sedih lagi ya, Key.” Pinta Alva.
“Nggak ah, sekarang gue mau bikin kisah bahagia aja.” Key tersenyum licik. “Ayo dong, Va. Bilang apa yang sebenarnya mau lo omongin sama gue sebelum lo kecelakaan.”
“Apaan?” Alva tersenyum malu. “Orang gue, gak mau bilang apa-apa kok.”
“Katanya kak Aldi, lo mau bilang cinta sama gue.”
“Nggak kok. Kak Aldi bohong tuh.”
“Jangan gitu kali, Va. Kalo gak kesampaian, nanti kisahnya berakhir sedih loh.”
“Biarin.”
“Ih, kok gitu sih!”

-END-


No comments:

Post a Comment