Jadi pengurus mading sekolah itu gak gampang. Tapi Key selalu senang melakukannya. Key dan teman-teman pengurus yang lain harus mempersiapkan banyak bahan untuk di tampilkan setiap minggunya. Dan Key bertugas untuk mengisi kolom Cerpen. Meski terhitung mudah karena selama ini Key hanya mengambil cerpen dari tabloid maupun majalah mingguan, tapi untuk edisi minggu ini, Key harus memenuhi permintaan dari seorang cowok bernama Alva, untuk membuat cerpen hasil karya Key sendiri.
Gini nih ceritanya…
Pagi-pagi banget, Key udah
datang kesekolah, dan sibuk mengganti isi mading minggu lalu dengan yang baru.
Tiba-tiba seseorang menghampirinya.
“Ah, basi. Dari dulu,
madingnya gak pernah ada perubahan, gitu-gitu aja.” Ujar seseorang yang
tiba-tiba nongol di samping Key.
“Siapa lo?” tanya Key
ketus. “Seenaknya aja ngehina mading bikinan kita.”
“Sekali-kali, cerpennya
bikinan lo sendiri dong. Jangan ngambil yang di tabloid mulu, gak kreatif
banget sih.” Ujar si cowok sinis.
“Selama ini gak ada
anak-anak yang komplain kok soal cerpen yang di ambil dari tabloid.” Key
membela diri. “Kok jadi lo yang masalah banget gini.”
“Kalo lo emang pengurus
mading yang baik, tunjukin dong. Kalo lo emang bisa.” Tantang si cowok.
“Oke. Gue bakal buktiin
sama lo.” Key memenuhi tantangan si cowok. “Minggu depan, gue bakal nempelin
hasil cerpen buatan gue.”
“Ceritanya, harus tentang
kisah sedih ya.”
“Kenapa gitu?”
“Mau gue cap sebagai
pengurus mading yang baik , gak? Kalo mau, turutin tuh ide gue. Buat cerita
yang sedih!”
“Oke. Eh, tapi lo siapa?
Kok gue gak pernah liat lo sebelumnya di sekolah?”
“Gue anak baru. Baru hari
pertama disini. Nama gue Alva.”
“Ah sial. Jadi gue di
kerjain sama anak baru?”
“Weits, woles mbak.”
“Dasar!”
Nah, sejak hari itu Key
berfikir keras buat bikin cerpen bertemakan kisah sedih. Dan ini adalah hari ke
dua. Key belum juga bisa mendapatkan ide untuk cerpennya yang akan di terbitkan
di mading minggu depan.
“Gimana, udah dapet
idenya, belum?” tanya Alva yang tiba-tiba nongol di sebelah Key.
“Ih, kaget gue!” Key
mengelus-elus dadanya. “Lo datangnya kenapa selalu tiba-tiba gini sih?”
“Ya, biar keren aja!” ujar
Alva santai.
“Gue belum dapet ide nih.”
Ujar Key putus asa. “Kayaknya gue emang gak berbakat jadi penulis.”
“Dan sekarang lo mulai
berfikir kan? Kalo lo bukan pengurus mading yang baik.” Ejek Alva.
“Enak aja. Ini baru hari
kedua kan? Gue masih punya empat hari lagi sebelum mading edisi berikutnya
terbit.” Key kembali bersemangat.
“Iya, iya.” Alva tersenyum
tipis.
Bel pulang sekolah
berbunyi, Key berjalan gontai menuju gerbang sekolah. Dia masih menunggu
kakaknya, untuk menjemputnya. Dan lagi-lagi, Alva datang dengan tiba-tiba.
“Key.” Sapa Alva.
“Udah hafal gue, lo selalu
aja datang tiba-tiba.” Key memberengut kesal.
“Hehe. Keren kan, gue?”
“Nakutin sih, iya.”
“Gimana, udah dapet
idenya?”
“Kalo menurut gue sih,
kisah sedih itu,pasti kalo ceritanya tentang seseorang yang punya penyakit
serius, terus meninggal dan nyisahin kenangan buat yang masih hidup.”
“Jadi menurut lo, kisah
sedih selalu berakhir kehilangan?”
“Umunya sih gitu.”
“Apalagi kalo ditambah
kayak si meninggal yang belum sempat mengatakan sesuatu yang penting di dalam
hatinya, buat si hidup.”
“Tepat. Oke, gue bakal
nulis cerita yang kayak gitu.”
Tanpa meminta pendapat
ataupun komentar lagi dari Alva, Key langsung pergi dengan semangatnya
meninggalkan Alva. Dia segera menuju mobil kakaknya, yang telah datang
menjemputnya.
Sejak hari itu, Key mulai
sibuk menulis kisah sedihnya. Dan sejak saat itu juga, Alva tak pernah lagi
muncul tiba-tiba. Key hanya berfikir, mungkin saja Alva tidak masuk sekolah.
Ini adalah hari kelima,
Key hampir menyelesaikan tulisannya. Dan tiba-tiba dia teringat Alva. Ada satu
hal yang tak pernah ia tanyakan pada Alva. Kelas berapakah, Alva? Keypun
akhirnya memutuskan untuk mencari kelas Alva.
Key mencari kesemua kelas,
tapi di setiap kelas tak ada yang tau kalau ada anak baru yang datang, dan
bernama Alva. Key terkejut, dan langsung bertanya ke petugas Tata Usaha.
“Tidak ada siswa baru yang
masuk minggu ini, Key.” Jawab petugas Tata Usaha.
“Ada kok, bu. Namanya
Alva.” Key meyakinkan.
“Tidak ada yang bernama
Alva di sekolah ini, Key.” Petugas Tata Usaha menegaskan.
“Apa ibu yakin?” Key belum
bisa percaya.
“Saya yakin, seyakin
yakinnya, Key.” Tegas petugas Tata Usaha lagi.
Kali ini Key tak bertanya
lagi. Ini bukan lelucon. Petugas Tata Usaha itu dengan serius menjawab, tidak
ada siswa baru, apalagi yang bernama Alva. Keypun terpaksa mempercayainya. Dia
keluar dengan pikiran tak karuan mengenai Alva. Siapa Alva sebenarnya?
Sesaat baru keluar dari
ruang Tata Usaha, tangan Key di tarik oleh seseorang.
“Eh, siapa lo?” tanya Key
ketakutan.
“Gue Aldi.” Seseorang itu
memperkenalkan diri.
“Aldi siapa? Gue gak
kenal. Jangan-jangan, lo juga bukan siswa sini. Jangan-jangan, lo juga gak
nyata kayak Alva.” Tuduh Key kalut.
“Alva nyata.” Seseorang
yang bernama Aldi itu tertunduk lesu.
“Maksud lo?” Key semakin
bingung.
“Dia adik gue.” Ujar Aldi.
“Alva nyata. Tapi sekarang, dia memang lagi koma di rumah sakit.”
“Gue gak ngerti.” Key tertunduk
sedih. “Alva itu siapa? Kenapa dia suka datang tiba-tiba. Nantangin gue buat
bikin cerpen tentang kisah sedih. Ngaku sebagai anak baru disekolah ini. Gue
bingung.”
“Lo ikut gue sekarang. Gue
bakal nyeritain semuanya, nanti.” Aldi langsung menarik tangan Key dan
mengajaknya pergi.
Key menurut saja, dan ikut
kemana Aldi membawanya. Ternyata Aldi membawa Key kesebuah rumah sakit.
Merekapun sampai di sebuah ruang rawat. Disana terbaring kaku seorang anak
laki-laki seumuran Key. Key terkejut melihat sosok pucat yang tertidur di
ranjang rumah sakit itu.
“Alva.” Key menyebut nama
anak laki-laki tersebut.
“Seminggu yang lalu, dia
mengalami kecelakaan.” Kisah Aldi. “Beberapa bulan terakhir ini, dia selalu
pergi ke kios majalah yang ada di pinggir jalan dekat rumah, untuk melihat
seorang gadis yang juga rutin membeli majalah disana.”
“Gadis itu…” Key tak
melanjutkan ucapannya.
“Gadis itu adik kelas gue
di sekolah.” ujar Aldi. “Dia pengurus mading sekolah. Gadis itu… elo Key.”
Key menangis tersedu di
samping tubuh kaku Alva.
“Alva jatuh cinta sama lo,
Key.” Aldi bercerita lagi. “Sejak pertama kali dia liat lo beli majalah di
kios. Setiap minggunya, Alva selalu datang kesana, cuma buat liat lo. Tapi Alva
gak pernah berani buat nyamperin dan ngajak lo kenalan. Sampai pada hari itu,
saat dia datang ke kios seperti biasa. Dia terlalu semangat, sampai gak sadar
waktu mau nyebrang ada mobil dan dia ketabrak. Lalu koma, sampai hari ini. Dan
gue gak nyangka, ternyata rohnya pergi untuk nemuin lo.”
“Gue gak tau harus ngomong
apa.” Ujar Key sambil terisak. “Tapi Alva udah ngajarin gue buat jadi pengurus
mading yang baik. Kehadirannya mengubah gue. Gue harus ngucapin makasih sama
dia. Dan dia juga harus liat hasil tulisan gue. Karena itu, Alva harus bangun.”
***
Hari ini adalah jadwalnya
mading yang baru, terbit. Key menempelkan cerpen yang berjudul “Kisah Sedih”
buatannya di kolom cerpen.
“Key, edisi minggu ini,
cerpennya buatan lo sendiri ya?” tanya Siska, salah satu teman Key.
“Iya, Sis. Mulai edisi
ini, gue bakal isi kolom cerpennya dengan cerpen buatan gue sendiri.” Key
tersenyum tipis.
“Ceritanya bagus loh, Key.”
Puji Siska. “Gue setuju kalo cerpennya dibuat sendiri sama lo.”
“Makasih ya, Sis.”
Ini adalah minggu kedua.
Sebentar lagi, mading edisi berikutnya akan terbit. Key mulai sibuk menulis.
Dia sudah memberikan cerpen yang diminta Alva, ke rumak sakit. Key juga sudah
membacakannya di depan Alva, meski sekarang Alva sedang terbaring koma.
Terakhir kali Key mengunjungi Alva dirumah sakit adalah tiga hari yang lalu. Karena
setelah hari itu, Key mulai sibuk dengan tugasnya sebagai pengurus mading
sekolah.
Hari itupun datang. Key
kembali mengganti isi mading minggu lalu dengan yang baru. Tiba-tiba, petugas
Tata Usaha menghampiri Key.
“Key, ini data siswa baru
yang bernama Alva, yang kamu tanya waktu itu.” Petugas Tata Usaha itu
memberikan sebuah kertas pada Key. Harusnya data yang seperti itu tidak boleh
diperlihatkan pada Key. Tapi entah kenapa ini.
“Gimana bisa, bu?” tanya
Key bingung.
Petugas Tata Usaha itu
hanya tersenyum, lalu pergi. Key menatap pada kertas itu. Sepertinya, itu
benar-benar milik Alva.
“Gue nyata kan, Key?”
suara itu mengejutkan Key.
“Alva.” Key serasa ingin
pingsan melihat sosok yang saat ini berdiri di depannya.
“Mulai hari ini, gue
adalah anak baru disekolah ini, dan ini adalah hari pertama gue.” Ujar Alva
bersemangat.
“Lo emang selalu ngagetin
gue, Va.” ujar Key kesal.
Alva tertawa geli. “Gue
udah baca kisah sedihnya. Ya, lumayanlah buat penulis pemula kayak lo.”
Key memberengut kesal.
Saat Key mulai sibuk dengan mading edisi minggu ini, dia jadi tidak sempat
menjenguk Alva dirumah sakit. Dan saat itulah, ternyata Alva sadar dari
komanya. Dia akhirnya meminta untuk pindah kesekolah yang sama dengan abangnya,
Aldi.
“Lain kali bikin kisah
sedih lagi ya, Key.” Pinta Alva.
“Nggak ah, sekarang gue
mau bikin kisah bahagia aja.” Key tersenyum licik. “Ayo dong, Va. Bilang apa
yang sebenarnya mau lo omongin sama gue sebelum lo kecelakaan.”
“Apaan?” Alva tersenyum
malu. “Orang gue, gak mau bilang apa-apa kok.”
“Katanya kak Aldi, lo mau
bilang cinta sama gue.”
“Nggak kok. Kak Aldi bohong
tuh.”
“Jangan gitu kali, Va.
Kalo gak kesampaian, nanti kisahnya berakhir sedih loh.”
“Biarin.”
“Ih, kok gitu sih!”
-END-

No comments:
Post a Comment