Ara hampir terlambat masuk kelas gara-gara masih usaha untuk menghabiskan bubur ayam yang di pesannya di kantin. Tapi lagi-lagi, waktu memaksanya untuk segera beranjak dari kantin dan segera masuk kelas. Beruntunglah bu Ani belum masuk ke kelas. Ara segera duduk di bangkunya. Barulah guru berumur tiga puluh tahunan itu masuk bersama seorang anak laki-laki yang tak di kenal sebagai siswa SMA ini.
"Anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru." ujar bu Ani. "Namanya Jovand Aditya."
"Hai, Jovand." sapa teman-teman sekelas Ara.
"Baiklah." bu Ani melirik kemeja Ara. "Kamu duduk di meja paling belakang itu ya, Jovand." bu Ani menunjuk ke meja Ara.
"Baik, bu." Jovand berjalan ke meja yang di maksudkan.
Ara menatapnya sinis. Jovand langsung duduk, tanpa beramah tamah pada Ara.
"Kita mulai pelajarannya." ujar bu Ani. "Buka halaman 52, ya."
***
Bel yang paling di tunggu itu berbunyi juga. Bu Ani keluar kelas, di susul anak-anak yang lain. Begitupun si anak baru itu. Ara sangat kesal dengan tingkahnya yang tengil. Denger-denger, katanya Jovand terpaksa pindah dari sekolah yang sebelumnya, gara-gara sering berantem sama temannya yang lain. Padahal, sekolahnya yang dulu masih dikota yang sama dengan yang sekarang ini. Mungkin Jovand memang di takdirkan untuk mengusik hidup Ara.
Setelah jam istirahat selesai, semua siswa kembali masuk ke dalam kelas. Ara lebih dulu duduk di bangkunya, barulah Jovand datang dan duduk di bangku sebelahnya. Menit berikutnya, bu Ratihpun masuk kelas dan memulai pelajaran kedua.
"Eh, lo." Ara mengajak bicara Jovand. Agak berbisik agar tak terdengar oleh bu Ratih.
"Nama gue, Jovand." ujar Jovand tanpa menoleh.
"Kita bakalan kayak gini terus nih?" tanya Ara.
"Kayak gini gimana?" Jovand balik bertanya.
"Ya gini, satu meja, tapi gak saling kenal satu sama lain, dan gak saling ngobrol."
"Ini, kita udah ngobrol. Gue juga udah bilang kalo nama gue, Jovand."
"Gak bakalan ngobrol kalo bukan gue yang mulai duluan. Lo pasti gak tau nama gue."
"Siapa?"
"Apanya?"
"Nama lo."
"A..."
Duarrr!! Meja itu di pukul oleh bu Ratih.
"Ini waktunya belajar, bukan ngobrol." bentak bu Ratih.
"Maaf, bu." ujar Ara.
"Awas ya, kalo sekali lagi kalian berisik." ancam bu Ratih. "Siap-siap untuk berdiri selama tigapuluh menit di lapangan."
Bu Ratih kembali ke depan kelas, dan melanjutkan pelajaran. Jovand dan Arapun diam, dan tak bicara lagi hingga pelajaran bu Ratih selesai.
Pulang sekolah, seperti biasa, Ara selalu pergi ke taman dekat rumahnya. Dan hari ini, di sana dia bertemu seseorang. Itu Jovand. Dia kelihatan sedang sedih. Awalnya Ara tak mau peduli. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara tangisan dari Jovand. Akhirnya Arapun memutuskan untuk menghampirinya.
"Nih." Ara menyodorkan sapu tangannya pada Jovand.
"Apaan nih?" tanya Jovand ketus.
"Ini buat ngelap keringat yang ada di bawah mata lo itu." ujar Ara cuek.
Sebenarnya Ara tak sebodoh itu, mengira bahwa air mata adalah keringat. Tapi Ara berusaha buat cari aman. Jangan sampai Jovand merasa malu karena ketahuan menangis. Arapun berniat pergi, setelah Jovand mengambil sapu tangannya. Tapi Jovand menahannya.
"Lo ngikutin gue ya?" tanya Jovand asal.
"Geer banget lo." bentak Ara.
"Terus, kenapa lo bisa ada di sini?" tanya Jovand lagi.
"Ini tuh taman favorite gue." Arapun duduk di sebelah Jovand. "Gue selalu kesini tiap pulang sekolah."
"Oh." Jovand menghapus air matanya. "Boleh gue cerita?"
"Silahkan!"
"Lo cewek terbego yang pernah gue temuin, karena bilang air mata ini keringat. Tapi menurut gue itu sopan. Makasih ya."
"Santai aja."
"Ini kedua kedua kalinya gue nangis."
"Hah!"
"Maksud gue, selama yang gue sadar. Yang masih bayi sih gak usah di hitung."
"Oh, oke."
"Tangis yang pertama, waktu abang gue keluar dari rumah dan hidup mandiri di luar sana, setahun lalu. Karena sejak itu gue jadi kesepian. Dan yang kedua, ya sekarang."
"Ohh."
"Yang ini karena cinta gue di tolak."
"Gitu doang nangis."
"Itu karena cewek yang gue cinta, malah lebih milih buat sama cowok lain. Rasanya gue pengen benci sama cowok itu. Tapi, cowok itu adalah abang gue sendiri."
Ara ikut sedih mendengar cerita Jovand. Tapi dia sadar, dia tak boleh ikut sedih. Dia harus menguatkan Jovand.
"Lo sedih, denger cerita gue?" tanya Jovand sinis.
"Biasa aja." jawab Ara asal. "Gak lebih menyakitkan, waktu gue harus kehilangan kelinci kesayangan gue yang mati ketabrak motor."
"Huh!" Jovand tertawa renyah. "Jadi, siapa nama lo?"
"Ara. Ara Dwinda Putri."
Begitulah awal keakraban mereka. Sejak hari itu, mereka selalu pergi ketaman setiap pulang sekolah.
"Ikut gue, yuk!" ajak Jovand.
"Kemana?" tanya Ara.
"Liat abang gue." Jovand menarik paksa Ara untuk ikut dengannya.
Merekapun sampai di depan rumah kontrakannya abang Jovand. Ada seorang laki-laki tinggi-putih, dan seorang gadis cantik-anggun, duduk bersama di teras rumah itu.
"Itu dia abang gue." Jovand menunjuk laki-laki berbaju biru. "Namanya Vino."
"Dan si cewek itu....." Ara menunjuk gadis berbaju putih.
"Dia sahabat, sekaligus cewek yang paling gue cintai." ujar Jovand. "Namanya Livia."
"Owh." Ara mengangguk-angguk paham.
"Mereka cocok banget kan?" tanya Jovand.
"Biasa aja." Ara menjawab cuek. "Lebih cocok pasangan Edward Cullen sama Bella Swan."
"Dasar."
Lagi-lagi Jovand harus tertawa dan menerima saja jawaban Ara itu.
"Ya udah, pulang yuk!" Jovand menarik tangan Ara untuk segera pergi.
***
Jovand menunggu Ara di gerbang sekolah. Seperti biasa, mereka akan pergi ke taman, di jam pulang sekolah. Tapi tiba-tiba, seseorang datang menemui Jovand.
"Livia." Jovand terkejut melihat gadis yang sekarang berada di depannya.
"Hai, Vand." Livia tersenyum tipis. "Maaf. Tapi kak Vino sama sekali gak tau kalo kita punya hubungan."
"Kak Vino emang gak boleh tau." ujar Jovand sinis. "Gue gak akan pernah tega nyakitin abang gue sendiri."
"Vand, aku bisa jelasin semuanya." Livia memegang tangan Jovand.
"Gue gak mau denger." Jovand melepaskan paksa tangannya yang di pegang Livia, lalu pergi.
"Jovand." Livia pasrah melihat kepergian Jovand itu. Dan dia juga memutuskan untuk pergi.
Ara berjalan menuju gerbang, karena tadi sempat ke toilet sebentar. Dan dia tak melihat Jovand di sana.
"Loh! Tuh anak kemana?" Ara menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Tadi katanya mau nungguin gue di gerbang."
Ara pergi ke taman sendiri, karena mengira Jovand telah pergi lebih dulu. Tapi begitu sampai di sana, Jovand tetap tidak ada. Ara tak bisa menghubungi Handphone Jovand, karena dia tidak punya nomornya. Akhirnya Ara memutuskan untuk pulang, setelah menunggu selama dua jam.
***
Keesokannya, Ara berniat untuk menanyakan perihal menghilangnya Jovand kemarin. Tapi sebelum pertanyaan itu terlontar dari mulut Ara, Jovand sudah memberikan jawabannya.
"Kemarin gue sakit perut. Jadi buru-buru pulang. Maaf!" jawabnya.
"Oh." Ara mengangguk paham.
Ara bisa melihat bahwa ada sesuatu yang terjadi kemarin. Tapi dia tak mau mengetahuinya. Jovand akan bercerita tanpa ditanya, jika dia ingin. Seperti saat dia menangis di taman waktu itu.
Dua minggu kemudian, kabar yang paling mengejutkan pun datang. Vino meninggal. Jovand mengajak Ara untuk melihat abangnya, dan Ara setuju untuk ikut.
Semua orang sedang menangis di salah satu kamar rawat rumah sakit. Begitupun Jovand. Dia langsung memeluk tubuh tak bernyawa itu. Tak ada yang bisa menghalanginya, hingga Jovand memang ingin berhenti sendiri. Begitulah sifat Jovand.
Jenazah itupun di kuburkan keesokan paginya. Ara juga datang, dan ikut ke tempat pemakaman. Seseorang yang dia ketahui, tapi tak pernah mengenalnya. Vino meninggal karena kanker paru-paru yang di deritanya sejak satu tahun lalu. Vino tak pernah memberitahu siapapun, hingga dia bertemu Livia, dan jatuh cinta padanya. Itulah alasan Vino meninggalkan rumah dan hidup mandiri, karena dia tak mau keluarganya terlalu mengkhawatirkannya. Karena Livialah, Vino bisa bertahan hingga hari ini. Hanya Livia yang tau perihal penyakit Vino. Dan Livia tak pernah memberi tau siapapun, atas permintaan Vino sendiri. Inilah alasan mengapa Livia lebih memilih Vino, daripada Jovand.
Setelah suasananya tenang, dan Jovand sudah tak sekalut kemarin, Ara berniat menghampirinya. Tapi yang lain mendahului Ara, hingga Ara terpaksa mengalah dan pergi.
Livia menghampiri Jovand yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Nih." Livia memberikan sebuah amplop putih pada Jovand.
"Apaan nih?" Jovand menatap amplop itu.
"Kak Vino bilang, kalo sudah tiba waktunya dia untuk pergi, gue harus ngasihin amplop ini sama lo." Livia menjelaskan sambil menahan tangisnya.
Jovand mengambil amplop itu, membukanya, dan membaca tulisan pada sebuah kertas yang ada di dalam amplop itu.
Dear Jovand,
Sekarang gue udah pergi. Dan gue mau minta tolong sama lo, untuk jaga seseorang yang paling gue sayang. Namanya Livia. Dia seumuran dengan lo. Lo bisa liat fotonya di dalam amplop ini.
Setelah suasananya tenang, dan Jovand sudah tak sekalut kemarin, Ara berniat menghampirinya. Tapi yang lain mendahului Ara, hingga Ara terpaksa mengalah dan pergi.
Livia menghampiri Jovand yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Nih." Livia memberikan sebuah amplop putih pada Jovand.
"Apaan nih?" Jovand menatap amplop itu.
"Kak Vino bilang, kalo sudah tiba waktunya dia untuk pergi, gue harus ngasihin amplop ini sama lo." Livia menjelaskan sambil menahan tangisnya.
Jovand mengambil amplop itu, membukanya, dan membaca tulisan pada sebuah kertas yang ada di dalam amplop itu.
Dear Jovand,
Sekarang gue udah pergi. Dan gue mau minta tolong sama lo, untuk jaga seseorang yang paling gue sayang. Namanya Livia. Dia seumuran dengan lo. Lo bisa liat fotonya di dalam amplop ini.
-Vino-
Jovand mengambil sebuah foto yang berada dalam amplop itu. Itu benar-benar foto Livia.
"Kak Vino minta gue buat jagain lo." ujar Jovand sambil memberikan amplop itu pada Livia.
Livia ikut membaca surat itu, lalu menangis.
"Gue sayang sama dia, Vand." ujar Livia sambil menangis. "Tapi gue sedih, karena perasaan sayang gue, sebenarnya lebih besar buat lo."
Jovand terkejut mendengar ucapan Livia. Dia senang mendengar kalau ternyata, selama ini Livia juga sangat mencintainya. Hanya saja, Livia lebih memilih bersama kak Vino, dan menemani kak Vino di hari-hari terakhirnya.
Sejak hari itu, hubungan Jovand dan Livia membaik. Mereka kembali menjadi teman. Tapi sejak hari itu juga, Jovand tak pernah lagi melihat Ara. Ara tak pernah ada di sekolah. Tak ada di taman. Dan itu membuat Jovand bingung. Dia mencoba bertanya pada orang-orang di sekolah dan sekitar taman, tapi tak ada seorangpun yang tau tentang Ara. Ara memang orang yang tertutup. Untuk menghubunginya pun, Jovand tak memiliki nomor ponsel, apa lagi alamat rumah Ara. Ara seperti hilang di telan bumi. Tak ada yang tau dimana Ara saat ini.
Ini adalah hari ke tujuh hilangnya Ara. Dan hari ini, Jovand ke taman bersama Livia.
"Lo kangen banget sama dia ya, Vand?" tanya Livia.
"Iya, Liv." Jovand menghela nafas berat. "Hidup gue serasa mati tanpa dia. Dia orang yang udah bantu gue buat bangkit dari keterpurukan gue selama ini."
"Lo, cinta sama Ara?" tanya Livia hati-hati.
Jovand menatap Livia bingung. Jovand baru sadar, kalau dia benar-benar sangat merindukan Ara. Dia tak pernah berhenti memikirkan Ara. Apakah, Jovand telah jatuh cinta pada Ara?
"Gue gak tau, Liv." Jovand tertunduk lesu.
"Gue cinta sama lo, Vand." ujar Livia sungguh-sungguh. "Dan lo juga pernah bilang kalo lo cinta sama gue kan? Gimana kalo kita pacaran?"
Jovand sangat senang mendengarnya. Sejak dulu, Jovand memang menantikan saat-saat ini. Tapi, tiba-tiba saja dia ragu. Tiba-tiba Jovand berfikir, andai saja Ara yang mengatakan kalimat itu padanya.
"Vand." Livia menepuk bahu Jovand. "Gimana?"
"Iya, Liv. Gue juga cinta sama lo." Jovand tersenyum tipis. "Tapi maaf, gue gak bisa."
"Karena Ara?"
"Gue juga gak tau. Tapi jujur, gue sayang sama dia."
"Kalo gitu lo harus cari dia, Vand. Bilang semuanya tentang perasaan lo ini."
"Terus, gimana sama lo?"
"Mungkin gue butuh waktu untuk mencari cinta yang lain, setelah gue kehilangan kak Vino dan elo."
Jovand memeluk Livia. "Makasih ya, Liv. Gue tetep akan nepatin janji gue sama kak Vino buat jagain lo."
Dan Jovandpun pergi meninggalkan Livia. Livia sangat sedih, tapi dia sadar, sejak awal dia memang tidak di takdirkan untuk Jovand.
Jovand mencari dan terus mencari, hingga pada hari ke sepuluh, seorang wanita berumur empat puluh tahunan, datang ke rumah Jovand.
"Selamat siang." wanita tua itu tersenyum manis.
"Siang." Jovand membalas tersenyum.
Jovandpun mempersilahkan Ibu itu untuk masuk dan duduk. Awalnya Jovand juga menawarkan untuk minum apa, tapi Ibu itu menolak.
"Kamu, Jovand Aditya?" tanya Ibu itu.
"Iya." Jovand mengangguk. "Ada apa ya, Bu?" tanya Jovand.
"Saya mencari tau alamat rumah kamu, dari data sekolah." Ibu itu memulai ke topik pembicaraan. "Saya ingin memberikan surat ini untuk kamu." Ibu itu memberikan sepucuk surat kepada Jovand. "Bacalah!" perintahnya.
Perlahan, Jovand membuka lipatan surat itu, dan membaca isinya.
Dear Jovand Aditya...
Kalo lo baca surat ini, itu artinya, gue udah gak ada lagi di dunia ini. Lo liat siapa wanita yang membawa surat ini buat lo? Dia Bunda gue. Dan supaya lo gak bingung, gue kasih tau alasan mengapa gue pergi untuk selamanya. Gue mengidap tumor, sejak enam bulan lalu. Dan saat gue tulis surat ini, gue udah ngerasa capek dengan tumor ini. Karena itu, gue minta bunda untuk kasih surat ini sama lo, ketika gue meninggalkan dunia ini. Makasih. Makasih banget lo udah mau jadi temen gue. Gue harap, lo bahagia bersama Livia. Dan kalo sampai nanti gue ketemu sama kak Vino, gue bakal gantiin posisi Livia untuk menjaganya. Karena gue dan kak Vino punya dunia yang sama, sekarang. Begitupun elo dan Livia. Jangan pernah nangis lagi ya. Lo kan cowok.
Satu hal lagi, gue sayang sama lo. Sebagai sahabat, juga sebagai cewek ke seorang cowok. Maaf.
-Ara-
Jovand menangis membaca surat dari Ara. Dia mendekap erat surat itu di dadanya.
"Tante, tolong bawa saya ke makamnya Ara." pinta Jovand sambil terisak.
"Iya." Bunda Ara ikut menangis.
Merekapun pergi ke makam Ara, yang ternyata berada tepat di samping makam Vino. Jovand mengusap lembut nisan itu.
"Aku juga cinta kamu, Ara." air mata Jovand semakin deras mengalir. "Sebagai sahabat, juga sebagai cowok ke seorang cewek."
-END-

No comments:
Post a Comment