Thursday, May 10, 2012

CEMARA



Tiga sahabat baik, yaitu Celia, Mario, dan Rafka, sangat menyukai pohon cemara. Setiap hari minggu pukul 07:00 pagi, ketiganya sering bertamasya ke desa Cemara yang ada di daerah pegunungan. Mereka bertiga selalu melewatkan hari minggu dengan pergi ke sana dan melihat pohon-pohon cemara yang tumbuh rapi dan hijau. Mereka juga menamai persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil itu, dengan nama CEMARA. Yang artinya, CE = Celia, MA = Mario, RA = Rafka. Pohon cemara berada di tempat yang tinggi. Semakin tinggi  pohon cemara tumbuh, semakin kencang juga angin yang menerpanya. Tapi pohon cemara tetap kuat, seperti persahabatan yang terjalin begitu erat. Begitulah persahabatan Celia, Mario, dan Rafka.

Pada suatu hari, ketiganya pulang sekolah bersama. Sekarang, mereka sudah kelas satu SMP. Mario berencana ingin mengajak Celia dan Rafka untuk pergi ke Desa Cemara, hari rabu besok.

"Temen-temen, besok kita ke Desa Cemara yuk." ajak Mario.
"Loh, kenapa gak hari minggu aja, Mar?" tanya Rafka. "Kan biasanya, kita selalu ke sana tiap hari minggu."
"Iya, Mar." Celia menimpali. "Lagian kan, hari jum'at nanti, kita udah bagi rapor. Terus abis itu kita libur. Nanti bisa sepuasnya deh kita main kesana. Sekalian kemah juga."
"Jadi, kalian gak mau ya?" Mario tampak sedih.
"Aku bukannya gak mau, Mar." ujar Celia lembut. "Tapi besok, aku mesti nemenin kak Cissa ke toko buku. Maaf ya."
"Ya udah deh, gak apa-apa." Mario memaksakan senyum. "Aku pergi sendiri aja."
"Siapa bilang, kamu bakalan pergi sendiri?" Rafka tersenyum tipis. "Besok, aku yang akan nemenin kamu kesana."
"Beneran?" Mario memastikan.
"Iya." Rafka mengangguk mantap.
"Makasih ya, Raf." Mario memeluk Rafka erat. Erat sampai Rafka sulit bernafas.
"Aku titip salam aja buat pohon cemaranya ya." ujar Celia sambil nyengir.

Mereka semuapun tertawa. Siapa yang menyangka, mungkin saja ini adalah tawa bersama mereka yang terakhir.

Meski Mario cukup bahagia karena ada yang menemaninya ke Desa Cemara, besok. Tapi ada sedikit kekecewaan yang dia rasakan, dan tak dia katakan pada kedua sahabatnya. Dia sedih, mengapa Celia tak bisa ikut pergi bersama mereka. Padahal ada sesuatu yang penting, yang ingin dia katakan pada kedua sahabatnya itu.

***

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, Mario dan Rafka segera memacu sepeda mereka menuju Desa Cemara. Yang bisa di tempuh selama 45 menit perjalanan menggunakan sepeda. Jalannyapun menanjak.

Sementara itu, Celia pergi menemani kakaknya ketoko buku. Tapi selama di toko buku, Celia malah sering sekali kikuk. Dia menjatuhkan buku-buku yang sudah tertata rapi.

"Cel, kamu kenapa sih?" tanya Cissa, kakaknya.
"Gak tau nih, kak." jawab Celia. "Aku kok tiba-tiba ngerasa gak enak gitu ya, gara-gara gak nemenin Mario sama Rafka ke Desa."
"Mungkin karena kamu gak terbiasa kalo gak ke Desa sama mereka." ujar Cissa menenangkan.
"Iya kali ya, kak." Celia mencoba tenang.

Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya Mario dan Rafka sampai juga di Desa Cemara. Mereka segera pergi untuk melihat pohon cemara seperti biasa. Rafka melihat kalau Mario agak berbeda hari ini. Mario keliatan sangat menikmati keberadaannya di sini.

"Rasanya ada yang kurang ya, Raf." ujar Mario lesu.
"Karena gak ada Celia?" tanya Rafka.
Mario mengangguk. "Sebenernya, ada yang mau aku omongin sama kalian berdua, Raf. Makanya aku ajak kalian kesini. Tapi Celia malah gak bisa."
"Mau ngomong apa, Mar?" tanya Rafka.
"Aku, kedua orang tuaku, dan bang Erick, akan pindah ke Thailand." ujar Mario ragu.
"Apa?" Rafka kaget.
"Papa di minta untuk meneruskan usaha Restoran keluarga kami yang ada di sana." Mario menjelaskan lagi. "Bang Erick juga akan masuk di Universitas yang ada disana. Jadi, aku akan ikut pindah."
"Kenapa harus Papa kamu sih yang nerusin Restoran itu?" tanya Rafka.
"Karena Papaku anak pertama." jawab Mario. "Semenjak Oma meninggal satu bulan lalu, Opa gak bisa mengurus Restoran itu sendirian. Jadi, Opa meminta Papa untuk membantunya."

Merekapun diam. Rafka sangat sedih mendengar berita ini. Mereka sudah bersama-sama sejak kecil, dan sekarang, mereka malah harus berpisah.

"Tolong kamu bilangin soal ini ke Celia ya, Raf." pinta Mario. "Rumah kalian kan tetanggaan. Soalnya mulai besok, aku gak akan masuk sekolah lagi. Aku harus beres-beres."
"Kapan kamu akan berangkat?" tanya Rafka.
"Hari sabtu." jawab Mario.
"Oke. Nanti aku akan bilang sama Celia." Rafka menepuk bahu Mario.

Mereka saling tersenyum, meski di dalam hati sedih.

***

Tiga hari kemudian. Waktunya Mario untuk berangkat. Tapi Mario masih menunggu Celia dan Rafka untuk mengucapkan selamat tinggal.

Salah satu dari yang Mario harapkan, akhirnya datang. Rafka datang sendirian, tanpa Celia.

"Celia mana, Raf?" tanya Mario.
"Aku udah bilang sama dia, Mar. Tapi dia gak mau datang. Dia marah dan gak terima sama keputusan kamu. Dia bilang, kamu tega meninggalkan dia dan persahabatan kita." jawab Rafka.

Mario tertunduk sedih. Dia bisa mengerti jika Celia bersikap seperti itu. Butuh waktu untuk membuat Celia mengerti. Dan Mario berjanji, suatu saat nanti dia akan kembali, dan menjelaskan semuanya pada Celia. Tapi sekarang, dia tidak bisa. Dia sudah harus pergi.

Mario dan Rafkapun berpelukan. Pelukan perpisahan. Entah kapan mereka akan bertemu lagi.

"Hati-hati ya, Mar." pesan Rafka.
"Iya." Mario menepuk bahu Rafka. "Aku pergi dulu, ya."

Rafka mengangguk sedih. Mario masuk ke dalam mobilnya, dan bersiap untuk pergi. Tak lupa, Mario melambaikan tangannya pada Rafka, sampai mobil itu menghilang di tikungan. Disebrang jalan, seseorang memperhatikan mereka. Itu adalah Celia. Dia menguatkan diri untuk melihat Mario pergi, tapi tak ingin menemuinya, apalagi mengucapkan selamat tinggal.

***

Sepanjang hari, minggu, bulan, hingga tahun telah Celia dan Rafka lewati bersama, tanpa Mario lagi. Tak terasa, ini adalah tahun kelima. Celia dan Rafka baru saja merayakan hari kelulusan mereka dari SMA. Celia yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang manis dan baik, bahkan menjadi idola di SMA mereka. Dan Rafka yang selalu setia menjaga dan melindungi Celia dari cowok-cowok yang akan mengganggunya. Rafka juga sudah tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan tubuhnya tinggi tegap.

Hari ini, mereka kembali pergi ke Desa Cemara.

"Udah lima tahun Mario pergi." ujar Rafka. "Lo udah maafin dia kan, Cel."
"Gue gak pernah benar-benar marah sama Mario, Raf." Celia tersenyum tipis. "Dulu itu, gue cuma kesal aja. Kan gue masih kecil juga waktu itu. Jadi pikirannya masih childish."
"Sekarangpun, lo juga childish banget." ejek Rafka.
"Ih, apaan sih." Celia mendorong Rafka.
Rafka tertawa. "Cel, lo kangen gak sih sama Mario?"
"Pertanyaan lo gak bermutu banget deh, Raf." ejek Celia. "Kalo itu sih jangan di tanya lagi. Gue kangen banget. Andai Mario gak pernah kembali lagi, gue pasti bakalan sedih banget. Hari itu, gue bahkan gak bilang selamat tinggal sama dia. Dia juga pasti mikir kalo gue tuh benci banget sama dia."

Hari ini, Mario belum juga kembali. Padahal, Celia sangat berharap agar Mario kembali. Ada banyak hal yang ingin dia katakan.

"Kalo Mario balik, apa yang bakal lo lakuin?" tanya Rafka.
"Gue mau ngucapin banyak banget kata." jawab Celia.
"Kata apa?"
"Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf......"

Celia baru berhenti mengucapkan kata itu, setelah Rafka menutup mulutnya. Lalu Celia menangis. Seiring dengan jatuhnya air hujan ke tanah bumi. Celia dan Rafkapun berteduh di bawah pohon cemara, hingga hujan reda.

"Pulang yuk, Raf." ajak Celia.
"Yuk."

Mereka berjalan pelan meninggalkan pohon-pohon cemara yang masih basah itu. Dan langkah mereka terhenti, karena seseorang yang saat ini sedang tersenyum manis, berdiri di depan mereka. Seseorang itu adalah cowok dengan tubuh yang tinggi, putih, dan tampan, berbaju hijau. Wajahnya mirip seseorang di masa lalu yang pergi.

"Mario?" Celia memastikan siapa yang berada di depannya ini.

Ya, itu Mario. Rafka yang bahagia melihat kedatangan Mario itu, langsung memeluknya. Sementara Celia hanya diam.

Setelah Rafka dan Mario berpelukan dan bercanda-tawa, barulah Celia berani menghampiri Mario.

"Hai, Cel." sapa Mario.
"Maaf." ujar Celia. "Maafin gue, Mar. Waktu itu...." ucapan Celia terhenti, karena Mario menuntup mulutnya.
"Gak apa-apa kok." Mario tersenyum tipis.

Celia langsung memeluk Mario.

"Makasih ya, Mar." ujar Celia.
"Makasih buat apa?" tanya Mario.
"Makasih karena udah kembali lagi." Celia tersenyum tipis.
"Aku kembali, karena aku punya hutang penjelasan sama kamu."
"Iya, gue ngerti kok."

Rafka memeluk kedua sahabatnya.

Berita bahagia di bawa oleh Mario. Selain kedatangannya kembali ke Indonesia, Mario juga akan menetap disini. Dia akan kuliah bersama Celia dan Rafka. Mereka akan menjalin persahabatannya seperti dulu lagi. Selalu akan pergi ke Desa Cemara setiap hari minggu pagi dengan sepeda. Melakukan banyak hal bersama-sama. Melihat pohon-pohon cemara itu tumbuh semakin banyak.

Persahabatan Cemara terjalin selamanya. Hingga mereka sama-sama memiliki kehidupan dengan keluarga baru, sampai akhir hidup mereka. Bahkan saat mereka meninggal, mereka di kuburkan di Desa Cemara, di antara pohon-pohon Cemara yang indah.

-END-


No comments:

Post a Comment