Sunday, May 13, 2012

BERHENTI BAHAGIA




Sejak Jossi meninggal, Grey seperti sudah tidak punya semangat hidup lagi. Jossi adalah gadis yang paling Grey cintai. Tapi tiga bulan lalu, Jossi meninggal oleh sakit Leukimia yang di deritanya. Grey yang dulunya adalah vocalis sekaliagus gitaris dari sebuah band, kini seperti mati. Dia tak pernah lagi merasakan apa itu bahagia, sejak bahagianya pergi karena Leukimia, untuk selamanya.

Orang tua, keluarga, dan juga teman-teman Grey, sudah tidak tau lagi, bagaimana caranya membuat Grey kembali seperti dulu. Yang ceria, yang selalu bahagia, yang menyenangkan, yang selalu semangat. Semuanya berubah, sejak Jossi meninggal.

Hingga suatu hari, Keluarga dari teman Papanya Grey datang untuk makan malam di rumah. Papa dan Mama Grey lah yang mengundangnya.

“Thomas, apa kabar?” tanya Papa Grey, sambil memeluk sahabatnya itu.
“Aku baik.” Jawab seseorang yang bernama Thomas itu. “Bagaimana dengan kau dan keluargamu?”
“Aku dan istriku baik.” Jawab Papa Grey. “Tapi Grey, tidak.”
“Ada apa dengan Grey?” tanya istri dari Thomas.
“Sejak kekasihnya meninggal tiga bulan lalu, dia jadi tidak punya semangat lagi.” Jawab Mama Grey sedih.
“Oh, kami turut prihatin, mbak.” Ujar Thomas.
“Iya.” Papa Grey mengangguk. Lalu melirik pada anak perempuan temannya itu. “Ini Aninda?” tanyanya.
“Ah iya, ini anakku, Aninda.” Thomas memperkenalkan anak perempuan yang sedari tadi berdiri diam di sampingnya itu.
“Halo, om, tante.” Sapa gadis manis yang bernama Aninda itu.

Setelah berbincang sebentar, dua keluarga ini pun memulai makan malam. Dan Grey juga diajak. Mereka makan malam dengan tenang. Dan sepanjang mereka semua makan di meja makan, Aninda terus menatap Grey. Grey yang menyadari itu, merasa sangat risih. Diapun memutuskan untuk menyudahi makannya, dan segera beranjak dari meja makan. Meski Papa dan Mamanya tak mengizinkan, dia tetap pergi. Aninda tertawa di buatnya. Pada dasarnya, Aninda adalah gadis yang jahil. Dan yang barusan dia lakukan pada Grey adalah menjahilinya.

Selesai makan, kedua keluarga ini berbicang di ruang tengah. Aninda yang tau bahwa dia akan bosan mendengar orang-orang dewasa ini membicarakan sesuatu yang tidak dia mengerti, memutuskan untuk menghampiri Grey yang sedang duduk termenung di gazebo belakang rumahnya.

“Hai.” Sapa Aninda.
“Ngapain lo disini?” tanya Grey ketus.
“Mau ngobrol sama lo.” Jawab Aninda santai.
“Gue lagi gak mau diajak ngobrol.” Ujar Grey masih dengan nada ketus.
“Ya udah, kalo gitu lo maunya diajak apa?” tanya Aninda tak mau menyerah.
“Gue maunya lo pergi.” Bentak Grey.

Aninda malah tertawa. Grey makin bingung. Kemudian Aninda melihat sebuah gitar yang berada di sebelah Grey. Aninda mengambil gitar itu, dan mencoba memainkannya. Tapi berhubung Aninda tidak bisa bermain gitar, permainan gitarnya jadi hancur, dan hanya membuat kuping Grey yang mendengarnya jadi sakit. Grey yang tidak tahan, lalu menyuruh Aninda untuk berhenti dan merebut gitarnya.

“Kalo gak bisa main, mendingan gak usah deh. Jadinya ancur banget tau gak.” Ujar Grey ketus.
“Seenaknya aja lo ngatain permainan gitar gue ancur. Nah, lo sendiri gimana?” Tanya Aninda sinis. “Jangan-jangan, lebih parah dari gue.” Ejek Aninda.
“Enak aja.” Grey menjadi kesal. “Gue bakal tunjukin permainan gitar gue sama lo.”
“Coba. Mana, gue pengen denger.” Tantang Aninda.

Grey pun mulai memainkan gitarnya. Secara dia emang udah jago banget, bagusnya mah jangan di tanya lagi. Dan ini adalah pertama kalinya lagi, Grey mau diajak bicara dan berinteraksi pada manusia lain, selain Papa dan Mamanya.

“Lumayanlah.” Komentar Aninda saat Grey sudah selesai memainkan gitarnya.
“Yang kayak tadi, lo bilang lumayan?” Grey bertambah kesal. “Huh, terserah deh.”

Grey meletakkan kembali gitar itu disampingnya dengan kesal. Dan Aninda tertawa geli melihat reaksi Grey dengan komentarnya itu.

“Eh, lo mau tau gak, apa yang sekarang lagi diomongin kedua orang tua kita.” Aninda mengajak Grey bicara lagi.
“Apa?” Grey bertanya setengah hati.
“Mereka lagi ngomongin masalah perjodohan kita.”
“Apa? Gak mungkin!”
“Yah, gak percaya. Ini beneran tau. Lo sama gue itu mau di jodohin.”
“Tau darimana lo?”
“Tadi, pas lo pergi duluan dari meja makan, mereka bilang soal itu sama gue.”
“Bohong!”
“Terserah, kalo lo gak mau percaya.”
“Kok lo santai banget sih sama berita ini?”
“Ngapain juga di bawa ribet.”
“Emangnya lo mau, di jodohin sama gue? Lo gak takut cowok lo marah?”
“Gue gak keberatan kok. Lagian, gue juga gak punya cowok.”
“Huh! Ya iyalah. Mana ada yang mau jadi cowok lo.”

Tiba-tiba, Mamanya Aninda memanggil Aninda dan mengajaknya pulang.

“Gue pulang dulu ya.” Pamit Aninda.
“Pulang aja sono. Jangan dateng-dateng lagi ya.” Ujar Grey.
Aninda tertawa. “Lo gak mau nganter gue sampe depan?”
“Ih, males banget.” Grey memalingkan wajahnya.

Aninda tertawa, lalu pergi meninggalkan Grey. Dia dan kedua orang tuanya berpamitan pulang pada kedua orang tua Grey.

“Kami pulang dulu ya.” Pamit Papa Aninda.
“Iya.” Papa Grey mengangguk pelan.
“Om, Tante.” Seru Aninda. “Kalo besok Aninda mau main kesini lagi, boleh gak?”
“Nggak.” Grey yang menjawab begitu.
“Grey.” Seru Papa Grey dengan kesal.
“Boleh kok, Nin.” Ujar Mama Grey lembut.
“Makasih ya, Tante.” Aninda menatap licik pada Grey. “Daah, Grey. Sampai ketemu besok.”

Grey tertunduk lesu. Lalu berjalan masuk ke kamarnya.

***

Keesokan harinya, Grey akan berangkat kesekolah. Dan dia terkejut oleh keberadaan Aninda di depan rumahnya. Aninda memakai seragam yang sama dengan Grey. Dia juga sudah siap dengan sepedanya.

“Ngapain lo disini?” Tanya Grey.
“Mulai hari ini, kita satu sekolah. Dan mulai hari ini juga, gue sama lo bakal berangkat sekolah bareng.” Jawab Aninda semangat.
“Kok bisa?”
“Ya bisa lah. Kan kepsek sekolah lo itu adalah om gue. Jadi, gue bisa dengan cepat masuk kesekolah lo.”
“Aduh, buat apa sih lo kayak gini?”
“Biar lebih menjiwai perjodohan kita.”

Grey menggaruk-garuk kepalanya bingung. Lalu dia mengambil sepedanya, dan segera berangkat kesekolah bersama Aninda.

Sesampainya di sekolah, Aninda meminta untuk satu meja dengan Grey. Dan dia menyuruh teman sebangku Grey yang sebelumnya untuk pindah.

Aninda juga selalu mengikuti kemanapun Grey pergi.  Begitulah seterusnya. Sampai tanpa terasa, kebersamaan itu sudah berjalan selama seminggu. Meskipun Grey merasa sangat risih, tapi dia tidak memungkiri, kalau sejak kedatangan Aninda, hidupnya jadi kembali berwarna. Semangat hidup Grey kembali.  Dan itu membuat keluarga dan teman-teman Grey merasa senang.

“Heh!” Aninda menyenggol bahu Grey.
“Ada apa?” Tanya Grey.
“Lo sadar gak sih, udah satu minggu ini loh kita bareng. Tapi kita belum pernah kenalan, dan gak saling tau nama masing-masing. Selama ini, kita cuma ngomong lo-gue.”
“Gue kan udah tau nama lo.”
“Iya. Tapi kita belum kenalan secara resmi. Belum jabatan tangan.”
“Harus ya?”
“Ya harus lah.”

Aninda mengulurkan tangannya pada Grey.

“Gue Aninda. Biar lebih singkat, panggil aja gue Anin.”
“Gue Grey.”

Greypun menjabat tangan Aninda.

Hari demi hari berlalu. Grey dan Aninda semakin dekat. Grey bahkan sudah tak segan menceritakan sosok Jossi yang di cintainya pada Aninda. Sejak mengenal Aninda, Grey mendapatkan lagi hidupnya yang dulu. Grey bisa menemukan lagi kebahagiaannya yang sempat hilang. Aninda tak pernah lelah memberinya bahagia.

“Makasih ya, Nin.”
“Makasih buat apa?”
“Buat semua kebahagiaan yang lo kasih ke gue selama dua bulan ini.”
“Iya.”
“Semenjak Jossi meninggal, gue berhenti bahagia. Gue pikir, gak akan ada yang bisa bikin gue bahagia, kecuali kembalinya Jossi ke dunia ini. Tapi semenjak lo datang, gue sadar, kalo gue masih bisa bahagia, meski tanpa Jossi. Sekarang gue juga sadar, kalo kepergian Jossi adalah kehendak yang maha kuasa. Yang perlu gue lakuin, hanya ikhlas dan menerimanya.”
“Bagus deh kalo lo udah sadar.”
“Oh iya, ngomong-ngomong, perjodohan kita gimana ya?”
“Hah!”
“Kok orang tua kita gak ada rencana buat nyuruh kita tunangan, atau apaan gitu.”
“Ehm, Grey. Sebenernya, ada yang perlu lo tau, tentang perjodohan kita ini.”
“Apa?”
“Perjodohan kita itu, gak pernah ada.”
“Maksudnya?”
“Ya gue bohong mengenai perjodohan itu. Sebenernya, orang tua kita sama sekali gak ada rencana buat ngejodohin kita. Itu cuma karang-karangan gue aja, buat ngerjain lo. Abisnya waktu pertama kali kita ketemu itu, lo dingin banget.”

Grey terdiam mendengar pengakuan Aninda. Karena kesal, akhirnya dia memutuskan untuk pergi meniggalkan Aninda, tanpa berkomentar apapun mengenai pengakuan Aninda itu. Aninda tidak bisa berbuat apa-apa. Dia membiarkan saja Grey pergi.

Maaf Grey, kayaknya gue baru aja bikin lo berhenti bahagia lagi, batin Aninda

***

Sejak pengakuan Aninda itu, Grey sama sekali tak pernah mau bicara pada Aninda. Grey kembali seperti dulu, menjadi sosok yang dingin. Aninda benar-benar merasa bersalah.
Pada suatu hari, saat Aninda pulang sekolah dengan sepedanya, dia melamun. Sampai-sampai tak sadar, ada mobil yang melaju kencang, menabraknya.
Aninda segera di bawa kerumah sakit, dan dokter langsung memeriksanya. Lukanya tidak terlalu parah, bisa di sembuhkan. Tapi, Aninda mengalami koma. Selama itu, Grey selalu menemaninya. Bermain gitar dan bernyanyi untuknya.
“Nin, gue janji. Begitu lo bangun, gue bakal ngajarin lo main gitar. Biar permainan gitar lo gak berantakan lagi. “ Grey mengoceh di depan tubuh Aninda yang masih koma. “Dan soal perjodohan itu, gue udah gak marah lagi kok sama lo. Malahan kalo lo bangun, gue bakal minta orang tua kita, buat ngejodohin kita beneran.”
Grey menangis. “Anin, kalo lo pergi ninggalin gue, sama kayak Jossi, maka gue akan berhenti bahagia.”
Aninda masih belum bangun dari komanya. Dokter sudah mengupayakan banyak hal, tapi semuanya gagal. Sedangkan dalam dunia tidurnya, Aninda bertemu dengan sosok putih yang wajahnya tak terlihat.
“Kamu siapa?” Tanya Aninda.
“Waktu hidupmu akan segera habis. Kau akan kembali ketempat pertama kali kau tercipta. Tapi kamu berhak meminta satu permintaan terakhir. Katakanlah!”
“Aku, aku mau Grey gak berhenti bahagia.”

***

“Apa?” semua terkejut mendengar berita dari dokter.
“Ini benar-benar keajaiban.” Ujar dokter yang menangani Aninda itu.

Aninda berhasil bangun dari komanya, di saat semua orang berpikir bahwa tak ada lagi harapan untuk Aninda.

Semua langsung memeluk Aninda. Ini benar-benar sebuah keajaiban. Dan keajaiban itu tercipta dari permintaan terakhir yang di ucapkan oleh Aninda. Aninda tak ingin Grey berhenti bahagia. Dan kebahagiaan Grey adalah bersama Aninda.

-END-


No comments:

Post a Comment