Sejak Jossi meninggal,
Grey seperti sudah tidak punya semangat hidup lagi. Jossi adalah gadis yang
paling Grey cintai. Tapi tiga bulan lalu, Jossi meninggal oleh sakit Leukimia
yang di deritanya. Grey yang dulunya adalah vocalis sekaliagus gitaris dari
sebuah band, kini seperti mati. Dia tak pernah lagi merasakan apa itu bahagia,
sejak bahagianya pergi karena Leukimia, untuk selamanya.
Orang tua, keluarga, dan
juga teman-teman Grey, sudah tidak tau lagi, bagaimana caranya membuat Grey
kembali seperti dulu. Yang ceria, yang selalu bahagia, yang menyenangkan, yang
selalu semangat. Semuanya berubah, sejak Jossi meninggal.
Hingga suatu hari,
Keluarga dari teman Papanya Grey datang untuk makan malam di rumah. Papa dan
Mama Grey lah yang mengundangnya.
“Thomas, apa kabar?” tanya
Papa Grey, sambil memeluk sahabatnya itu.
“Aku baik.” Jawab seseorang
yang bernama Thomas itu. “Bagaimana dengan kau dan keluargamu?”
“Aku dan istriku baik.” Jawab
Papa Grey. “Tapi Grey, tidak.”
“Ada apa dengan Grey?”
tanya istri dari Thomas.
“Sejak kekasihnya
meninggal tiga bulan lalu, dia jadi tidak punya semangat lagi.” Jawab Mama Grey
sedih.
“Oh, kami turut prihatin,
mbak.” Ujar Thomas.
“Iya.” Papa Grey
mengangguk. Lalu melirik pada anak perempuan temannya itu. “Ini Aninda?”
tanyanya.
“Ah iya, ini anakku,
Aninda.” Thomas memperkenalkan anak perempuan yang sedari tadi berdiri diam di
sampingnya itu.
“Halo, om, tante.” Sapa gadis
manis yang bernama Aninda itu.
Setelah berbincang
sebentar, dua keluarga ini pun memulai makan malam. Dan Grey juga diajak. Mereka
makan malam dengan tenang. Dan sepanjang mereka semua makan di meja makan,
Aninda terus menatap Grey. Grey yang menyadari itu, merasa sangat risih. Diapun
memutuskan untuk menyudahi makannya, dan segera beranjak dari meja makan. Meski
Papa dan Mamanya tak mengizinkan, dia tetap pergi. Aninda tertawa di buatnya. Pada
dasarnya, Aninda adalah gadis yang jahil. Dan yang barusan dia lakukan pada
Grey adalah menjahilinya.
Selesai makan, kedua
keluarga ini berbicang di ruang tengah. Aninda yang tau bahwa dia akan bosan
mendengar orang-orang dewasa ini membicarakan sesuatu yang tidak dia mengerti,
memutuskan untuk menghampiri Grey yang sedang duduk termenung di gazebo belakang
rumahnya.
“Hai.” Sapa Aninda.
“Ngapain lo disini?” tanya
Grey ketus.
“Mau ngobrol sama lo.” Jawab
Aninda santai.
“Gue lagi gak mau diajak
ngobrol.” Ujar Grey masih dengan nada ketus.
“Ya udah, kalo gitu lo maunya
diajak apa?” tanya Aninda tak mau menyerah.
“Gue maunya lo pergi.” Bentak
Grey.
Aninda malah tertawa. Grey
makin bingung. Kemudian Aninda melihat sebuah gitar yang berada di sebelah
Grey. Aninda mengambil gitar itu, dan mencoba memainkannya. Tapi berhubung
Aninda tidak bisa bermain gitar, permainan gitarnya jadi hancur, dan hanya
membuat kuping Grey yang mendengarnya jadi sakit. Grey yang tidak tahan, lalu
menyuruh Aninda untuk berhenti dan merebut gitarnya.
“Kalo gak bisa main,
mendingan gak usah deh. Jadinya ancur banget tau gak.” Ujar Grey ketus.
“Seenaknya aja lo ngatain
permainan gitar gue ancur. Nah, lo sendiri gimana?” Tanya Aninda sinis. “Jangan-jangan,
lebih parah dari gue.” Ejek Aninda.
“Enak aja.” Grey menjadi
kesal. “Gue bakal tunjukin permainan gitar gue sama lo.”
“Coba. Mana, gue pengen
denger.” Tantang Aninda.
Grey pun mulai memainkan
gitarnya. Secara dia emang udah jago banget, bagusnya mah jangan di tanya lagi.
Dan ini adalah pertama kalinya lagi, Grey mau diajak bicara dan berinteraksi
pada manusia lain, selain Papa dan Mamanya.
“Lumayanlah.” Komentar Aninda
saat Grey sudah selesai memainkan gitarnya.
“Yang kayak tadi, lo
bilang lumayan?” Grey bertambah kesal. “Huh, terserah deh.”
Grey meletakkan kembali
gitar itu disampingnya dengan kesal. Dan Aninda tertawa geli melihat reaksi Grey
dengan komentarnya itu.
“Eh, lo mau tau gak, apa
yang sekarang lagi diomongin kedua orang tua kita.” Aninda mengajak Grey bicara
lagi.
“Apa?” Grey bertanya
setengah hati.
“Mereka lagi ngomongin
masalah perjodohan kita.”
“Apa? Gak mungkin!”
“Yah, gak percaya. Ini
beneran tau. Lo sama gue itu mau di jodohin.”
“Tau darimana lo?”
“Tadi, pas lo pergi duluan
dari meja makan, mereka bilang soal itu sama gue.”
“Bohong!”
“Terserah, kalo lo gak mau
percaya.”
“Kok lo santai banget sih
sama berita ini?”
“Ngapain juga di bawa ribet.”
“Emangnya lo mau, di
jodohin sama gue? Lo gak takut cowok lo marah?”
“Gue gak keberatan kok.
Lagian, gue juga gak punya cowok.”
“Huh! Ya iyalah. Mana ada
yang mau jadi cowok lo.”
Tiba-tiba, Mamanya Aninda
memanggil Aninda dan mengajaknya pulang.
“Gue pulang dulu ya.” Pamit
Aninda.
“Pulang aja sono. Jangan dateng-dateng
lagi ya.” Ujar Grey.
Aninda tertawa. “Lo gak mau
nganter gue sampe depan?”
“Ih, males banget.” Grey
memalingkan wajahnya.
Aninda tertawa, lalu pergi
meninggalkan Grey. Dia dan kedua orang tuanya berpamitan pulang pada kedua
orang tua Grey.
“Kami pulang dulu ya.” Pamit
Papa Aninda.
“Iya.” Papa Grey
mengangguk pelan.
“Om, Tante.” Seru Aninda. “Kalo
besok Aninda mau main kesini lagi, boleh gak?”
“Nggak.” Grey yang
menjawab begitu.
“Grey.” Seru Papa Grey
dengan kesal.
“Boleh kok, Nin.” Ujar Mama
Grey lembut.
“Makasih ya, Tante.”
Aninda menatap licik pada Grey. “Daah, Grey. Sampai ketemu besok.”
Grey tertunduk lesu. Lalu
berjalan masuk ke kamarnya.
***
Keesokan harinya, Grey
akan berangkat kesekolah. Dan dia terkejut oleh keberadaan Aninda di depan
rumahnya. Aninda memakai seragam yang sama dengan Grey. Dia juga sudah siap
dengan sepedanya.
“Ngapain lo disini?” Tanya
Grey.
“Mulai hari ini, kita satu
sekolah. Dan mulai hari ini juga, gue sama lo bakal berangkat sekolah bareng.” Jawab
Aninda semangat.
“Kok bisa?”
“Ya bisa lah. Kan kepsek
sekolah lo itu adalah om gue. Jadi, gue bisa dengan cepat masuk kesekolah lo.”
“Aduh, buat apa sih lo
kayak gini?”
“Biar lebih menjiwai
perjodohan kita.”
Grey menggaruk-garuk
kepalanya bingung. Lalu dia mengambil sepedanya, dan segera berangkat kesekolah
bersama Aninda.
Sesampainya di sekolah,
Aninda meminta untuk satu meja dengan Grey. Dan dia menyuruh teman sebangku
Grey yang sebelumnya untuk pindah.
Aninda juga selalu
mengikuti kemanapun Grey pergi. Begitulah seterusnya. Sampai tanpa terasa,
kebersamaan itu sudah berjalan selama seminggu. Meskipun Grey merasa sangat
risih, tapi dia tidak memungkiri, kalau sejak kedatangan Aninda, hidupnya jadi
kembali berwarna. Semangat hidup Grey kembali.
Dan itu membuat keluarga dan teman-teman Grey merasa senang.
“Heh!” Aninda menyenggol
bahu Grey.
“Ada apa?” Tanya Grey.
“Lo sadar gak sih, udah
satu minggu ini loh kita bareng. Tapi kita belum pernah kenalan, dan gak saling
tau nama masing-masing. Selama ini, kita cuma ngomong lo-gue.”
“Gue kan udah tau nama lo.”
“Iya. Tapi kita belum
kenalan secara resmi. Belum jabatan tangan.”
“Harus ya?”
“Ya harus lah.”
Aninda mengulurkan tangannya
pada Grey.
“Gue Aninda. Biar lebih
singkat, panggil aja gue Anin.”
“Gue Grey.”
Greypun menjabat tangan
Aninda.
Hari demi hari berlalu.
Grey dan Aninda semakin dekat. Grey bahkan sudah tak segan menceritakan sosok
Jossi yang di cintainya pada Aninda. Sejak mengenal Aninda, Grey mendapatkan
lagi hidupnya yang dulu. Grey bisa menemukan lagi kebahagiaannya yang sempat
hilang. Aninda tak pernah lelah memberinya bahagia.
“Makasih ya, Nin.”
“Makasih buat apa?”
“Buat semua kebahagiaan
yang lo kasih ke gue selama dua bulan ini.”
“Iya.”
“Semenjak Jossi meninggal,
gue berhenti bahagia. Gue pikir, gak akan ada yang bisa bikin gue bahagia,
kecuali kembalinya Jossi ke dunia ini. Tapi semenjak lo datang, gue sadar, kalo
gue masih bisa bahagia, meski tanpa Jossi. Sekarang gue juga sadar, kalo kepergian
Jossi adalah kehendak yang maha kuasa. Yang perlu gue lakuin, hanya ikhlas dan
menerimanya.”
“Bagus deh kalo lo udah
sadar.”
“Oh iya, ngomong-ngomong,
perjodohan kita gimana ya?”
“Hah!”
“Kok orang tua kita gak
ada rencana buat nyuruh kita tunangan, atau apaan gitu.”
“Ehm, Grey. Sebenernya,
ada yang perlu lo tau, tentang perjodohan kita ini.”
“Apa?”
“Perjodohan kita itu, gak
pernah ada.”
“Maksudnya?”
“Ya gue bohong mengenai
perjodohan itu. Sebenernya, orang tua kita sama sekali gak ada rencana buat
ngejodohin kita. Itu cuma karang-karangan gue aja, buat ngerjain lo. Abisnya
waktu pertama kali kita ketemu itu, lo dingin banget.”
Grey terdiam mendengar
pengakuan Aninda. Karena kesal, akhirnya dia memutuskan untuk pergi meniggalkan
Aninda, tanpa berkomentar apapun mengenai pengakuan Aninda itu. Aninda tidak
bisa berbuat apa-apa. Dia membiarkan saja Grey pergi.
Maaf Grey, kayaknya gue
baru aja bikin lo berhenti bahagia lagi, batin Aninda
***
Sejak pengakuan
Aninda itu, Grey sama sekali tak pernah mau bicara pada Aninda. Grey kembali
seperti dulu, menjadi sosok yang dingin. Aninda benar-benar merasa bersalah.
Pada suatu
hari, saat Aninda pulang sekolah dengan sepedanya, dia melamun. Sampai-sampai
tak sadar, ada mobil yang melaju kencang, menabraknya.
Aninda
segera di bawa kerumah sakit, dan dokter langsung memeriksanya. Lukanya tidak
terlalu parah, bisa di sembuhkan. Tapi, Aninda mengalami koma. Selama itu, Grey
selalu menemaninya. Bermain gitar dan bernyanyi untuknya.
“Nin, gue
janji. Begitu lo bangun, gue bakal ngajarin lo main gitar. Biar permainan gitar
lo gak berantakan lagi. “ Grey mengoceh di depan tubuh Aninda yang masih koma. “Dan
soal perjodohan itu, gue udah gak marah lagi kok sama lo. Malahan kalo lo
bangun, gue bakal minta orang tua kita, buat ngejodohin kita beneran.”
Grey
menangis. “Anin, kalo lo pergi ninggalin gue, sama kayak Jossi, maka gue akan
berhenti bahagia.”
Aninda masih
belum bangun dari komanya. Dokter sudah mengupayakan banyak hal, tapi semuanya
gagal. Sedangkan dalam dunia tidurnya, Aninda bertemu dengan sosok putih yang
wajahnya tak terlihat.
“Kamu siapa?” Tanya Aninda.
“Waktu hidupmu akan segera
habis. Kau akan kembali ketempat pertama kali kau tercipta. Tapi kamu berhak
meminta satu permintaan terakhir. Katakanlah!”
“Aku, aku mau Grey gak
berhenti bahagia.”
***
“Apa?” semua terkejut
mendengar berita dari dokter.
“Ini benar-benar
keajaiban.” Ujar dokter yang menangani Aninda itu.
Aninda berhasil bangun
dari komanya, di saat semua orang berpikir bahwa tak ada lagi harapan untuk
Aninda.
Semua langsung memeluk
Aninda. Ini benar-benar sebuah keajaiban. Dan keajaiban itu tercipta dari
permintaan terakhir yang di ucapkan oleh Aninda. Aninda tak ingin Grey berhenti
bahagia. Dan kebahagiaan Grey adalah bersama Aninda.

No comments:
Post a Comment