Tokoh :
- Dinda : Ceria, Baik, Ramah.
- Bintang : Pendiam, Pintar.
- Iren : Lucu, Baik.
- Ditya : Baik, Penyayang.
- Keyla : Manis, Baik.
- Dita : Manis, Baik.
- Dimas : Cuek.
- Dion : Konyol.
- Ivan : Jahil.
- Vigo : Jahil.
Kelas
Dinda sedang duduk santai sambil membaca komiknya. Dia menjadi satu-satunya siswa yang tidak keluar kelas pada jam istirahat pertama ini. Lalu Iren datang.
Iren : Hai, Din! (Duduk di bangku sebelah Dinda)
Dinda : (Tersenyum) Hai, Ren!
Iren : Lo lagi baca buku apa?
Dinda : Komik. Judulnya "Sejuta Bintang".
Iren : Ohh... Ceritanya tentang apa?
Dinda : Keyakinan bahwa takdir pertemuan, hanya satu di antara jutaan bintang.
Iren : (Bingung) Maksudnya apa?
Dinda : (Tersenyum) Lo pikir aja sendiri, Bye!
Dinda beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju kantin. Dan Iren masih berkutat dengan bingungnya, sampai teman-temannya yaitu, Keyla, Dimas, Dita, dan Dion datang.
Keyla : Woy! (Memegang bahu Iren) Kenapa lo ngelamun?
Iren : (Kaget) Ini, gue lagi mikirin kata-katanya Dinda.
Dimas : Emang Dinda ngomong apa?
Iren : Keyakinan bahwa takdir pertemuan, hanya satu diantara jutaan bintang.
Dita : Apaan tuh maksudnya?
Iren : Gue juga gak tau, makanya gue bingung.
Dion : Tuh kalimat, dapet dari mana sih?
Iren : Dari komiknya Dinda. Judulnya "Sejuta Bintang".
Keyla : Dinda emang suka sama yang aneh-aneh ya.
Dimas : Bukan aneh-aneh, Key. Tapi menarik.
***
Kantin
Dinda duduk sendiri di salah satu meja kantin, dengan sebotol air mineral di sampingnya. Kemudian, seorang cowok lewat di depannya. Dinda langsung memanggil cowok itu.
Dinda : Bintang!
Bintang : (Menoleh pada Dinda) Ada apa?
Dinda : Sini deh! (Mengajak Bintang duduk bersamanya)
Bintang : (Duduk di sebelah Dinda)
Dinda : Ceritanya bagus. (Memperlihatkan komiknya)
Bintang : Udah selesai baca? Kalo udah, boleh aku minta lagi gak komiknya?
Dinda : Belum, Bin. Tapi bentar lagi selesai kok. Kalo udah selesai, pasti aku balikin ke kamu.
Bintang : Oh, ya udah. Aku kekelas duluan ya. (Berdiri dari duduknya)
Dinda : Iya. (Tersenyum)
Bintang : (Tersenyum, lalu pergi meninggalkan Dinda)
Setelah kepergian Bintang, Ivan dan Vigo datang menghampiri Dinda. Mereka berdua duduk menghimpit Dinda.
Ivan : (Mengambil komik di tangan Dinda) Buku apaan nih?
Vigo : Coba gue liat. (Merebut komik itu dari tangan Ivan)
Dinda : Apaan sih lo berdua. Sini balikin! (Mengambil kembali komiknya dari tangan Vigo)
Ivan : Buku apaan sih itu, Din?
Dinda : Komik!
Vigo : Komik? Boleh pinjem gak, Din?
Dinda : Gak boleh!
Vigo : Ah! Pelit lo, Din.
Dinda : Biarin! (Berdiri. Lalu pergi meninggalkan Ivan dan Vigo)
***
Kelas
Dinda kembali kekelas. Disana, Iren, Keyla, Dimas, Dita, dan Dion sudah menunggunya. Mereka lalu menarik tangan Dinda untuk segera duduk.
Dinda : (Bingung) Ada apaan sih?
Iren : (Tersenyum) Gue masih bingung sama kalimat lo yang tadi.
Dita : Iya, Din. Gara-gara denger omongan Iren tentang kalimat di komik lo itu, kita jadi ikut-ikutan penasaran.
Dinda : (Tertawa geli) Hmm... Gue juga gak terlalu paham sih. Kan bacanya belum sampai selesai. Yang ngerti isinya tuh, pasti si Bintang. Soalnya gue pinjem komik ini dari dia.
Dimas : Bintang? Anak IPA-1 yang pendiem banget itu?
Dinda : (Mengangguk)
Dion : Kok bisa sih lo pinjem buku itu dari dia. Padahalkan, buat di ajak ngomong aja, dia susah banget.
Dinda : Iya sih. Tapi waktu itu di perpustakaan....
Dindapun bercerita tentang awal mula dia bertemu Bintang dan meminjam komik itu darinya.
***
Perpustakaan
Ketika Dinda sedang mencari buku di perpustakaan, dia melihat Bintang berjalan terburu-buru, keluar dari perpustakaan. Dan tanpa sadar, Bintang menjatuhkan salah satu buku yang di bawanya. Dinda yang melihatnya, segera mengambil buku yang jatuh itu. Dinda membuka buku itu, lalu membaca tulisan di halaman pertamanya. Kemudian Dinda berlari mengejar Bintang, untuk mengembalikan buku tersebut.
Dinda : (Berlari mengejar Bintang) Bintang!
Bintang : (Menolah ke belakang)
Dinda : Ini buku lo. Tadi jatuh waktu lo buru-buru keluar dari perpustakaan. (Memberikan buku itu pada Bintang)
Bintang : (Mengambil buku itu) Makasih!
Dinda : (Tersenyum) Iya. Eh, tapi tadi gue sempet baca tulisan yang ada di halaman pertama buku itu. Ehm... Apa ya tadi kata-katanya???
Bintang : Keyakinan bahwa takdir pertemuan, hanya satu diantara jutaan bintang.
Dinda : Ah iya. Kayaknya, buku lo itu menarik deh. Boleh gue pinjem gak?
Bintang : Nih! (Memberikan buku itu pada Dinda)
Dinda : (Mengambil buku itu) Makasih ya.
Bintang : (Tersenyum, lalu pergi)
***
Kelas
Dinda : Nah, gitu ceritanya.
Keyla : Wah, gue yakin nih ya. Pasti kalimat terpanjang yang pernah Bintang ucapin itu adalah "Keyakinan bahwa pertemuan, hanya satu diantara jutaan bintang".
Dion : (Tertawa) Bener banget tuh. Dia kan jarang banget ngomong.
Dita : Iya yah. Dia pendiem banget. Kalo ngomong, pasti cuma seperlunya aja.
Dimas : Gue bahkan belum pernah denger suaranya dia.
Iren : Selain itu, Bintang juga gak pernah punya temen. Satu-satunya temen dia, ya buku.
Dinda : (Melamun. Teringat seseorang)
***
Taman
Ini adalah kejadian tiga tahun yang lalu. Ketika itu, Dinda masih kelas dua SMP. Dinda duduk manis sambil mendengarkan sahabatnya Ditya, bermain gitar. Ditya menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah. Dan suaranya juga sangatlah merdu.
Dinda : (Tepuk tangan) Lagunya bagus banget.
Ditya : (Tersenyum) Ini lagu buatan aku sama adik aku loh.
Dinda : Adik? Kamu punya adik? Kok aku gak pernah ketemu sih?
Ditya : Iya. Adik aku itu seumuran sama kamu. Tapi dia orangnya pendiem banget. Dia gak punya temen disekolahnya.
Dinda : Kenapa gitu?
Ditya : Dulu dia pernah punya temen, tapi ternyata temennya itu cuma mau temenan sama dia, karena dia pinter. Jadinya selama bertahun-tahun mereka berteman, adik aku cuma di manfaatin sama temennya itu. Bahkan selama mereka berteman, adik aku itu selalu di kerjain sama temen-temennya yang lain. Dan ternyata, yang nyuruh temen-temennya itu ngerjain adik aku, adalah sahabat adik aku sendiri.
Dinda : Ya ampun, kasian banget sih adik kamu.
Ditya : Iya. Makanya, sekarang adik aku gak pernah mau punya temen lagi. Dia trauma.
Dinda : Aku mau kok jadi temennya dia. Dan aku janji, aku akan membuat dia sembuh dari traumanya. Bahwa gak semua persahabatan, sama seperti yang dia alami. Buktinya, aku sama kamu.
Ditya : (Tersenyum, sambil mengelus rambut Dinda) Nanti aku kenalin kamu sama dia ya.
Dinda : (Mengangguk)
***
Kelas
Dinda terus saja melamun, teringat akan cerita Ditya tentang adiknya yang mungkin bernasib sama seperti Bintang. Tidak mempunyai teman. Dinda ingin sekali bertemu dengan adiknya Ditya. Tapi rasanya sulit. Karena Dinda ingin bertemu dengan orang yang tak pernah di kenalnya. Apalagi sekarang... Ditya sudah meninggal. Meskipun Dinda dan Ditya sudah bersahabat cukup lama, tapi Ditya baru menceritakan bahwa dia memiliki seorang adik, di hari terakhir mereka bertemu. Sebelum akhirnya Ditya meninggal oleh penyakit yang di deritanya.
Saat sedang melamun, Dinda dikejutkan oleh Dion.
Dion : Woy, kenapa lo jadi ngelamun gini?
Dinda : (Kaget)
Dita : Ngelamunin apa sih, Din?
Dinda : (Tersenyum) Bukan apa, kok. Gue ke toilet bentar ya. (Pergi)
Keyla : Dinda kenapa sih? Kok tiba-tiba aneh gitu?
Dimas : Tau. Kesambet kali.
Dimas : Tau. Kesambet kali.
***
Taman Sekolah
Dinda sedang berjalan ditaman sekolah. Lalu dia melihat Bintang sedang duduk sendiri, sambil bermain gitar dan menyanyikan sebuah lagu yang tak asing lagi bagi Dinda. Dindapun menghampiri Bintang.
Dinda : Kamu... (Menunjuk Bintang)
Bintang : (Mengerutkan kening) Ada apa?
Dinda : (Diam)
Bintang : (Bingung) Kamu kenapa sih?
Dinda : Lagu yang kamu mainin itu...
Bintang : Oh, ini lagu ciptaan aku sama abangku.
Dinda : Ditya?
Bintang : (Kaget) Kamu kenal bang Ditya?
Dinda : (Mengangguk) Aku temennya.
Bintang : Oh, jadi kamu yang bang Ditya bilang sahabat terbaiknya.
Dinda : (Diam)
Bintang : Sebelum dia meninggal, dia pesen sama aku untuk nemuin kamu. Katanya, kamu bisa jadi teman yang baik buat aku. Tapi aku sendiri juga bingung mau nemuin kamu dimana, kenal aja nggak. Tau rumah kamu juga nggak.
Dinda : Sekarang aku ngerti apa maksud dari kalimat di halaman pertama komik ini. Keyakinan bahwa takdir pertemuan, hanya satu diantara jutaan bintang. Diantara jutaan orang yang mungkin adalah adiknya Ditya, cuma ada satu yang pasti. Dan sekarang, aku menemukan bintang yang sebenarnya. Yang aku cari selama ini.
Bintang : Diantara jutaan bintang yang bersinar, aku pasti bisa menemukanmu. Itu adalah kalimat di halaman akhir cerita komik itu.
Dinda : Nah, sekarang, aku akan bantu kamu buat nemuin jutaan bintang yang lain. Yang bisa tulus menjadi sahabat.
Bintang : (Tersenyum)
Dinda : Ayo ikut aku. (Menarik tangan Bintang)
Kelas
Dinda membawa Bintang kekelasnya.
Dinda : Disini, kamu bisa nemuin jutaan bintang.
Bintang : Maksudnya?
Dinda : Guys, sini deh! (Memanggil Iren, Keyla, Dita, Dimas, Dion, Ivan, dan Vigo)
Iren : Ada apa, Din?
Dinda : Nah, Bin. Sekarang kamu bukan cuma nemuin satu bintang yang kamu cari, tapi sebentar lagi, kamu akan menemukan sejuta bintang yang benar-benar tulus mau berteman dengan kamu.
Bintang : (Tersenyum) Makasih ya, Din.
Dinda : (Menangis) Iya. Ditya di surga, pasti ikut seneng liat adiknya yang sudah menemukan banyak bintang. Aku percaya kok, Bin. Sahabat kamu yang dulu itu, pasti cuma satu-satunya bintang dengan sinar yang palsu diantara jutaan bintang yang sinarnya terang.
Mereka semua saling berpegangan tangan. Bersama-sama menjadi satu, diantara jutaan bintang.
-SELESAI-
No comments:
Post a Comment