Berawal dari pertemuan Alisa dan Rian, yang akhirnya membuat mereka menjadi dekat. Karena Alisa yang baru saja di tinggalkan sang kekasih ke luar kota, untuk melanjutkan sekolahnya. Bertemu dengan Rian yang saat itu baru saja putus cinta dari Dilla.
Alisa yang saat itu juga sedang sedih karena harus Long Distance dengan Leo, pacarnya. Tanpa sengaja menjatuhkan kalung yang diberikan Leo padanya. Yang kemudian ditemukan Rian.
Keesokan harinya, di tempat yang kemarin Alisa berdiam sedih, di lihat nya Rian sedang memegang kalung pemberian Leo itu. Karena merasa mengenal kalung yang bersama Rian, Alisa menghampirinya. Dan kemudian duduk disamping Rian.
"Ehm." Alisa berdehem. "Gue boleh liat kalungnya gak?"
"Boleh." Rian memberikan kalung itu pada Alisa.
"Darimana lo dapet kalung ini?" tanya Alisa.
"Kemarin, pas gue kesini, gue nemuin kalun ini." jawab Rian. "Karena gue pikir, orang yang punya pasti bakal nyariin kalung ini, makanya hari ini gue dateng lagi kesini. Buat cari tau siapa pemiliknya."
"Makasih ya." ujar Alisa. "Kalung ini, punya gue."
"Hah!" Rian kaget. "Wah, pas banget dong ya."
"Sekali lagi, makasih ya." Alisa tersenyum manis. "Kalo lo gak nemuin kalung ini, mungkin gue bakal kehilangan kalung ini selamanya."
"Kayaknya, kalung ini berarti banget ya buat lo." komentar Rian.
"Iya." Alisa mengangguk mantap. "Ini pemberian cowok gue."
"Pantesan lo sayang banget sama kalung itu." Rian tersenyum tipis. "Sekarang pacar lo kemana? Kok gak nemenin lo kesini?"
"Dia pindah ke luar kota, seminggu lalu." jawab Alisa sedih.
Rian jadi tak enak. Akhirnya dia memilih diam.
"Eh, kita kan belum kenalan." Alisa kembali bicara. "Gue Alisa."
"Gue Rian." Rian menjabat tangan Alisa. "Oh ya, sorry ya. Kayaknya gue udah bikin lo sedih deh. Abisan gue banyak tanya banget."
"Gak apa-apa kok." ujar Alisa tulus. "Lo sendiri, cewek lo mana?"
"Gue baru aja putus, seminggu lalu." kini giliran Rian yang tertunduk sedih.
"Aduh, sorry ya. Sekarang, gue lagi yang bikin lo sedih." Alisa jadi tak enak.
"Kalo gitu, kita sama-sama sedih dong." Rian tertawa.
"Iya nih." Alisa ikut tertawa.
Suasanapun berubah. Alisa yang awalnya sedih, kini tak menunjukkan rasa sedihnya lagi, karena candaan Rian. Obrolan ringan seputar sekolah, pergaulan, sampai soal temen masing, jadi topik yang asyik untuk di bahas. Mereka sudah tidak merasa canggung lagi, meski baru beberapa menit kenal. Rian orang yang humoris. Dan Alisa sangat senang mendapatkan teman seperti Rian. Sejenak, mereka bisa melupakan kesedihan oleh orang-orang yang mereka cintai.
Tidak hanya hari itu, di hari-hari berikutnyapun, mereka sering bertemu di tempat yang sama. Membicarakan banyak hal. Hingga kedekatan itu terjalin. Kedekatan merekapun mengundang cemburu Dilla, mantan pacar Rian. Karena sebenarnya, Dilla masih sangat menyayangi Rian. Dillapun kesal, dan nekat datang menemui Alisa di sekolahnya.
"Alisa." tegur Dilla.
"Dilla?" Alisa kaget melihat kedatangan Dilla. "Kok lo bisa ada disini? Ini kan bukan sekolahan lo."
"Gue peringatin ya sama lo, jangan coba-coba ngedeketin Rian lagi." ujar Dilla berang.
"Maksud lo apaan sih, Dil?" Alisa bingung. "Emangnya, Rian siapanya elo?"
"Jangan belaga gak tau gitu deh, Al." bentak Dilla. "Gue kira, setelah kita beda sekolah, gue bakal terbebas saingan sama lo. Tapi ternyata, beda sekolah sama sekali gak merubah keadaan. Lo selalu aja ngedapetin apa yang gue mau. Lo ngalahin gue di pemilihan ketua OSIS. Lo ngalahin gue sebagai juara umum di sekolah. Sekarang, lo juga mau rebut Rian dari gue. Lo emang gak pernah berubah ya, Al."
"Gak gitu, Dil." ujar Alisa. "Gue sama sekali gak ada niat buat ambil semua yang lo mau. Gue juga gak nyangka kalo ternyata, selama ini lo ngerasa kesaing sama gue. Kalo itu yang lo rasain, gue minta maaf. Tapi beneran, gue gak ada niat buat nyaingin siapapun."
"Al, gue terima atas semua kemenangan lo selama ini." ujar Dilla tulus. "Tapi gue gak terima, kalo sampai urusan cowokpun, harus lo yang menang. Gue gak akan ngebiarin itu. Rian itu milik gue. Gue gak rela, dia jadi milik lo."
"Tapikan, lo sama Rian udah putus." ujar Alisa ragu.
"Tapi gue masih sayang sama dia. Gue mau dia balik lagi sama gue. Sampai kapanpun gue gak rela, kalo lo menangin hatinya Rian." bentak Dilla. "Atau jangan-jangan, Rian mutusin gue gara-gara lo!"
"Nggak, Dil." sangkal Alisa cepat. "Gue kanal Rian, setelah dia putus sama lo."
"Ah, udahlah, Al." Dilla mendorong bahu Alisa. "Lo kan udah punya cowok. Kenapa sih, masih ngedeketin Rian juga? Pokoknya gue janji, gue bakal bikin lo nyesel karena udah berani ngedeketin Rian. Gue juga bakal bikin Rian kembali lagi sama gue. Jadi mendingan, lo simpen dalam-dalam perasaan di hati lo itu."
Setelah berhasil mengancam Alisa, Dillapun pergi. Alisa hanya tertunduk lesu, kemudian menangis. Alisa baru saja menyadari bahwa sebenarnya, ada cinta di hatinya untuk Rian. Tapi itu tidak boleh terjadi. Alisa sudah memiliki Leo, yang selalu setia dan menerima dia apa adanya. Tidak seharusnya, dia mencintai Rian.
Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan. Dilla benar, aku sudah punya kekasih. Jadi,aku tidak boleh mencinyai Rian. Mungkin aku memang harus memendam rasa ini untuk ku sendiri. Karena rasa ini memang tak seharusnya ada. Aku harus menjauhi Rian. Karena Rian adalah milik Dillla. Tak seharusnya aku jatuh cinta pada Rian, hanya karena dia telah mengisi kesepianku saat Leo pergi, batin Alisa.
Sudah seminggu setelah kejadian itu, Alisa tak pernah lagi datang menemui Rian di tempat mereka menghabiskan waktu bersama. Alisa benar-benar menjauhi Rian. Rian sangat sedih, dan merasa kehilangan. Meski Alisa tak pernah datang lagi, Rian selalu setia datang ketempat itu setiap hari. Sambil berharap, Alisa datang untuk mengucapkan selamat tinggal jika memang dia pergi. Atau mengatakan sudah tidak mau bertemu Rian lagi karena benci. Rian butuh penjelasan. Tapi pada siapa dia harus bertanya.
Rian berusaha mencari Alisa. Dia berharap mendapat sedikit saja informasi dari gadis yang telah membuatnya jatuh cinta. Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun Rian mencari, dia tetap tak menemukan Alisa. Rianpun lulus SMA, dan pindah keluar kota. Harapannya untuk bertenu dengan Alisa lagi, tak pernah pudar. Dia selalu mencari.
Sesulit itukah menemukanmu, Al, batin Rian.
Seperti Rian yang tanpa henti mencari Alisa. Dilla juga tanpa henti mengejar cinta Rian. Dia ikut kemanapun Rian pergi. Selalu setia mendampingi Rian. Selalu setia menunggu perasaan Rian berubah. Berharap suatu saat Rian sadar, ada cinta yang tak pernah lelah membuatnya bahagia, disaat Rian malah mengharapkan cinta lain yang tak pasti.
"Rian." tegur Dilla.
"Iya, Dil." jawab Rian.
"Lo belum makan, kan?" tanya Dilla. "Nih, gue bawain makanan buat lo." Dilla memberikan kotak bekal berwarna hijau itu pada Rian.
"Makasih ya, Dil." Rian mengambil kotak bekal itu.
"Sampai kapan lo mau mencari?" tanya Dilla.
"Sampai gue ngedapetin apa yang gue cari." jawab Rian.
"Gimana kalo yang lo cari, gak pernah lo temuin?"
"Gue gak akan pernah tau soal itu, Dil. Tapi gue akan terus mencari sampai gue gak mampu lagi."
"Kalo gitu, gue juga."
"Juga apanya?"
"Gue juga akan menunggu, sampai gue gak mampu lagi."
Rian memandangi Dilla penuh haru. Rian juga tak tega dengan perasaan Dilla yang sudah dia sia-siakan. Tapi bagaimana? Rasa cinta untuk Dilla itu sudah tak lagi ada.
"Kalo kayak gini terus, kita bisa selamanya jomblo ya, Dil." ujar Rian.
Dilla tertawa. "Ya, mau gimana lagi."
Berhari-hari Rian dan Dilla lalui di kota barunya ini. Menjadi seorang mahasiswa. Sambil belajar, rasanya akan mengurangi kelelahan mereka dalam mencari dan menunggu. Lagi pula, mereka sama-sama saling menguatkan.
Suatu hari, Rian menemukan sebuah kalung. Kalung yang sama, dan mungkin juga dimiliki oleh orang yang sama. Rian mengambil kalung itu, lalu tersenyum. Sepertinya sudah takdir, kalung itu menjadi milik Rian. Setelah menemukan kalung itu, Rian selalu duduk di tempat dimana dia menemukannya. Tapi sang pemilik tak pernah datang untuk mengambil.
Rian sadar, Alisa mungkin sudah merelakan kalung itu. Seperti dia merelakan perasaannya. Rianpun akan terus menyimpan perasaan cintanya. Meski dia masih ingin diberikan kesempatan untuk mengatakannya. Dia pasti akan terus mencari.
Mungkin yang dilakukan Rian, berbeda dengan Alisa. Alisa memilih untuk memendam perasaannya. Dan tak membiarkan siapapun mengetahui perasaannya itu. Alisa juga telah menemukan kebahagiaannya pada Leo. Sejak awal, cintanya memang sudah untuk Leo. Meski dia tak memungkiri, perasaan itu sempat terbagi untuk laki-laki lain. Rian adalah orang yang pernah mengisi hatinya di saat Leo pergi.
-END-

No comments:
Post a Comment