Wednesday, May 2, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 27

Without You


Anak-anak membawaku pulang ke rumah. Mereka panik saat aku pingsan di bandara. Begitu tersadar, bi Minah langsung memberikan minum untukku. Setelah minum, aku melihat kesekitar. Aku melihat wajah teman-temanku satu per satu.

"Jadi ini bukan mimpi." ujarku sambil kembali menangis. "Ternyata Ruben beneran pergi."
"Udah ya, Nay." Keyra menenangkanku.
"Dia pasti pergi gara-gara gue." aku menyalahkan diriku sendiri.
"Kenapa lo bisa mikir gitu?" tanya Jonash.
"Ya pasti karena dia ngerasa udah gak bisa bareng sama gue lagi. Makanya dia mutusin buat pergi." jawabku sambil terisak.
Idon tertawa. "Nayla, Nayla, lo ge'er banget sih."
"Mungkin itu juga adalah alasan kenapa dia mau pergi." ujar Kenzi. "Tapi bukan semata-mata karena itu kok, Nay. Ini semua juga buat masa depannya Ruben."
"Gitu yah." aku menghela nafas lega.
"Lo gak berniat buat nyusul, Nay?" tanya Kiran.
"Iya, Nay." Karin menimpali. "Pasti seru deh. Lo bisa barengan terus sama Ruben. Jadinya kalian berdua gak akan terpisahkan deh."
"Ih males banget." ujarku gengsi. "Ngapain juga gue nyusulin dia. Mendingan gue nyusulin kak Rangga."
"Hmmm." Radit mencolek dagu ku. "Gak usah gengsi deh, Nay. Kita udah tau kok, kalo lo tuh suka sama Ruben."
"Nggak kok." aku terus menyangkal.
"Yang bener?" Devand menggodaku. "Gimana yah kalo nanti, pas di Singapore, Ruben nemu cewek yang cantik, baik, ramah, dan gak pelupa pastinya. Terus Ruben jatuh cinta, dan mereka jadian, tunangan, abis itu nikah deh."
"Nggak." tanpa sadar aku berteriak. "Itu nggak boleh terjadi. Dan gue yakin itu gak mungkin terjadi."
"Kenapa gak mungkin?" tanya Vivian sinis.
"Ya karena...." aku tak melanjutkan ucapanku.
"Karena apa, Nay?" tanya Jonash. "Karena dia cinta mati sama lo?"
"Huh! Kalo gue jadi Ruben sih. Buat apa mikirin cinta cewek yang sama sekali gak pernah nganggep gue." Idon melirik sinis. "Mendingan gue ngeraih cinta yang udah nyata ada di depan gue."

Aku pun menangis mendengar ucapan Idon.

"Yah, Nay. Kok lo nangis sih." Idon mulai khawatir.
"Elo sih, Don." Keyra memukul bahu Idon.
"Kok gue yang di salahin sih?" Idon mengelus-elus bahunya yang habis di pukul Keyra.
"Ya soalnya omongan lo tadi udah pasti bikin Nayla sedih." ujar Radit.
"Aduh, kalo gitu kata-katanya gue tarik lagi deh, Nay." Idon merasa bersalah. "Kalo yang berbuat kayak tadi itu udah pasti gue. Kalo Ruben mah gak mungkin, gue yakin dia pasti setia kok."
"Nah itu baru bener." Devand tertawa mendengar ucapan Idon. "Akhirnya lo ngaku juga kalo lo kayak gitu, Don."
"Ah, rese lo, Vand." Idon kesal.

Setelah kondisiku membaik, semua teman-temanku pulang. Mereka bilang, Ruben gak akan pergi selamanya. Suatu saat, Ruben pasti akan kembali. Dan aku hanya perlu menunggu. Aku sendiri belum benar-benar yakin dengan perasaanku ini. Karenanya, aku rasa kepergian Ruben ini memanglah yang terbaik. Agar dia tidak terus-terusan tersakiti oleh perasaanku.

Setelah kepergian Ruben, aku terus menjalani hidupku dengan normal. Ingatanku tak juga kembali. Tapi aku beruntung, aku punya teman-temanku yang selalu senantiasa membantuku mengingat sedikit demi sedikit. Mereka menceritakan semua hal. Dan ternyata, ada satu hal yang tak pernah berubah dari ku. Aku tetaplah seorang Mipel. Mungkin itu memang sudah takdirku. Selamanya menjadi Mipel si Miss Pelupa.

Sekarang, aku adalah anak SMU kelas dua. Aku masih sekelas dengan Keyra, Radit, Devand, dan Idon. Tapi aku berpisah kelas dari Kenzi dan Jonash. Keyralah yang paling sedih dengan perpisahan kelas ini.

"Yeay, ternyata kita emang jodoh ya, Key. Kita sekelas lagi." ujarku penuh semangat.
"Iya, gue seneng. Tapi juga sedih nih." ujar Keyra manyun. "Soalnya gue harus pisah sama Jonash."
"Ya ampun, Key." aku menepuk jidatku. "Kan cuma pisah kelas."
"Tau nih kamu." Jonash mengelus rambut Keyra. "Kita kan cuma beda kelas. Nah, si Nayla sama Ruben malah udah beda negara."
"Ah, lo bikin gue jadi sedih aja, Jo." ujarku.
"Berarti sekarang gue yang paling bahagia dong." ujar Vivian. "Kan gue sekarang udah satu kelas sama Kenzi."
"Huuuuu...." anak-anak menyoraki Vivian.

Oke, semuanya menjadi lebih baik, sekarang. Meskipun aku harus menjalani hari-hariku tanpa Ruben, tapi aku tetap merasa bahagia. Karena aku punya mereka semua. Teman-temanku, keluargaku, dan juga om Agustira. Aku sering sekali berkunjung ke kantornya om Agustira. Kami sudah seperti teman. Om Agustira juga menganggapku seperti anaknya sendiri. Apalagi setelah Ruben pergi, om Agustira jadi merasa kesepian. Om Agustira juga menceritakan banyak hal padaku. Tentang pertikaian itu. Tentang cintaku dan Ruben. Sampai kisah kak Rangga yang di laporkan kekantor polisi. Juga kecelakaan yang membuatku kehilangan ingatanku. Cerita jujur dari om Agustira benar-benar membantuku menjadi Nayla yang dulu.

Om Agustira juga bercerita tentang almarhum istrinya, yaitu tante Arinda, yang sangat jago memasak. Sejak itu, aku juga mulai belajar memasak, lalu memberikan hasil masakanku pada om Agustira. Om Agustiralah yang menjadi saksi dari beragan masakanku yang gagal, sampai yang sedikit berhasil alias lumayan.

Om Agustira juga semakin sering datang kerumah untuk makan malam bersama keluarga kami. Sambil membicarakan usaha Restoran mereka yang baru berjalan dua bulan. Om Agustira juga sering mengajakku untuk mengunjungi makam tante Arinda, istri dari om Agustira yang juga adalah Mamanya Ruben. Dan meski om Agustira sudah memberiku nomor telepon Ruben yang di Singapore, tapi aku tak pernah sekalipun berani menghubunginya. Aku akan membiarkan Ruben menjalani dengan tenang, pendidikannya di Singapore.

Ada lagi kabar bahagia lainnya. Sejak kak Yudha putus dari pacarnya, Papa menjodohkan kak Yudha dengan kak Viona, anaknya om Faisal, yang dulu sempat akan di jodohkan dengan kak Rangga. Dan kak Yudha maupun kak Viona menyetujui perjodohan itu. KakViona bilang, andai dulu dia jadi di jodohkan dengan kak Rangga, dia tak akan menyetujuinya. Sebab dia tidak menyukai kak Rangga. Dia malah lebih menyukai kak Yudha yang dewasa dan bijaksana. Kak Yudha juga mulai menyukai kak Viona. Pokoknya, aku yakin mereka akan jadi pasangan yang bahagia.

Selain itu, semenjak kepergian kak Rangga ke London, akhirnya Papa mulai mempekerjakan seorang sopir untuk mengantar kemanapun aku pergi. Karena kak Yudha udah gak mungkin lagi bisa mengantarku seperti dulu. Initinya, sekarang kak Yudha udah pensiun jadi sopirku, haha. Soalnya, sekarang kak Yudha udah mulai sibuk dengan kuliahnya yang mungkin selesai dalam dua tahun lagi.

***

"Nayla." Vivian memanggilku. "Rencana kita udah lo laksanain, belum?"
"Rencana apa?" tanyaku.
"Aduh Nayla. Jangan bilang, lo lupa!" terka Vivian.
"Apaan sih, Vi?" tanyaku panasaran.
"Nayla, hari ini tuh hari ulang tahunnya Kenzi. Kan kemaren gue udah bilang, lo mesti pura-pura minta di temenin sama dia ke danau. Dan nanti disana, kita bakal kasih dia kejutan." Vivian menjelaskan.
"Astaga, Vi." aku menepuk jidatku sendiri. "Gue lupa."
"Tuh kan. Lo gimana sih, Nay." Vivian mulai kesal.
"Ya udah, kalo gitu, sekarang gue nyamperin Kenzi buat bilang gitu." aku segera berlari untuk mencari Kenzi.
"Jangan sampai salah ngomong ya, Nay." Vivian berteriak. Tapi aku sudah berlari terlalu jauh, dan tak mendengar teriakan Vivian.
"Aduh, Nayla bisa gak ya?" Vivian bertanya pada dirinya sendiri. "Semoga gue gak salah nyuruh orang deh."

Vivianpun segera berlalu dari tempatnya berdiri, setelah berusaha meyakinkan keputusannya.

Akupun akhirnya menemukan Kenzi yang sedang duduk sambil membaca buku di perpustakaan.

"Hai, Ken." sapaku.
"Eh, hai Nay." wajah Kenzi langsung sumringah melihat kedatanganku. "Ada apa?" tanyanya.
"Ehm, gue mau minta di temenin sama lo nih." jawabku sembari tersenyum.
"Oh." Kenzi menarik nafas berat. Wajahnya tak lagi secerah tadi. Mungkin tadi, Kenzi berfikir kalau aku datang untuk memberinya ucapan selamat ulang tahun. Karena sampai saat ini, aku dan teman-temanku, belum satupun ada yang memberi ucapan selamat pada Kenzi. Kami sengaja pura-pura lupa. Tapi kalau aku, ya udah pasti lupa beneran lah. "Minta di temenin kemana?" tanya Kenzi setengah hati.
"Ke danau." jawabku.
"Ngapain?"
"Yaa gue lagi pengen aja. Soalnya gue kangen banget sama tempat itu. Itu kan tempat favorite-nya Ruben."
"Kan dua hari yang lalu lo baru aja kesana. Danau kan jauh, Nay."
"Yaa, kok lo gitu banget sih, Ken. Masa lo gak mau nemenin gue."
"Kenapa gak minta di temenin Keyra atau yang lain aja sih?"
"Mereka pada sibuk semua, Ken. Cuma lo yang sore ini free."

Kenzi berfikir sebentar, lalu dengan setengah hati bilang, "Oke, gue temenin."

"Yeay, makasih ya Kenzi Pramana." aku memeluk Kenzi. "Lo itu emang sahabat gue yang paling baik."
"Gak pake peluk-peluk kali, Nay." Kenzi melepaskan pelukanku. "Entar kalo Vivian liat, di sangkanya kita ada apa-apa."
"Ya gak mungkinlah, Ken. Kan ini juga Vivian yang nyuruh." *ups aku segera menuntup mulutku yang keceplosan ngomong ini.
"Vivian yang nyuruh? Maksudnya?" Kenzi bertanya sinis.
"Ehm, maksud gue, emang Vivian yang nyuruh gue buat ngajakin lo. Soalnya Vivian bilang, cuma lo yang hari ini free. Kan yang lain pada ada acara semua." ujarku ragu. Semoga Kenzi percaya dengan jawabanku ini.
"Oh." Kenzi hanya mendesah pelan.

Aku menarik nafas lega. Untung aja Kenzi gak curiga. Dan untung aja, otakku ini dengan cepat bisa memberikan ide untuk meyakinkan kecurigaan Kenzi.

Pulang sekolah, aku langsung mengajak Kenzi untuk pergi ke danau.

"Loh Nay, kita gak pulang kerumah dulu nih?" tanya Kenzi.
"Aduh, kalo kita pulang kerumah dulu, nanti bisa-bisa, kita nyampe danaunya kesorean. Kan lo sendiri yang bilang, danau tuh jauh." aku terus menarik tangan Kenzi.
"Tapikan kita mesti ganti seragam dulu, Nay." Kenzi menunjuk seragamnya.
"Gak usah deh, Ken. Kitakan buru-buru."

Kenzi tak bisa menolak lagi, aku segera menarik tangannya menuju gerbang sekolah. Disana sopirku sudah menunggu, dan kamipun segera berangkat menuju danau.

Seperti biasa, satu jam lebih perjalanan, akhirnya aku dan Kenzi sampai di danau. Kami berjalan masuk melewati jalan kecil menuju danau. Aku membawa Kenzi menuju ke tepi Danau. Di sanalah, anak-anak keluar dari tempat persembunyiannya dan mengejutkan Kenzi. Vivian membawa sebuah kue dengan lilin yang membentuk angka tujuh belas.

"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday Kenzi." kami semua bersama-sama menyanyikan lagu itu untuk Kenzi.

Kenzi keliatan sangat senang. Dan Vivian meminta Kenzi untuk meniup lilin di kue itu.

"Makasih ya semuanya." ujar Kenzi pada aku dan anak-anak. "Makasih ya, Vi." Kenzi mencium kening Vivian.
"Cieeee..." aku dan anak-anak menggoda mereka.
"Nah Ken, jadi ini tuh rencananya Vivian. Dia nyuruh gue buat ngajakin lo kesini." aku menjelaskan pada Kenzi. "Sekali lagi, selamat ulang tahun ya. Pokoknya, gue do'ain yang terbaik buat lo."
"Makasih ya, Nay." Kenzi tersenyum lembut.
"Oke, sekarang waktunya makan-makan." ujar Idon bersemangat.

Kamipun memakan makanan yang sudah di siapkan oleh Vivian. Disaat semua teman-temanku makan bersama di pinggir danau, aku malah memilih untuk makan di atas rumah pohon. Aku tak pernah bosan untuk datang ke tempat ini. Terutama ke rumah pohon ini. Mengunjungi tempat ini secara rutin, bisa sedikit mengobati kerinduanku pada Ruben.

"Nay." suara panggilan itu mengejutkanku.
"Hai, Vand." ternyata yang memanggil ku itu adalah Devand.
"Gue boleh ikutan naik keatas gak?" tanyanya.
"Ya boleh lah. Ayo sini." ujarku lembut.

Devandpun naik keatas rumah pohon.

"Hemm, pantesan lo seneng banget ada di sini. Ternyata, duduk di sini enak banget." komentar Devand. "Bisa liat pemandangan danau yang keren. Hembusan anginnya juga lebih kenceng. Adem banget lah."
"Iya dong." aku tersenyum bangga.
"Lo kangen gak sama Ruben?" tanya Devand.
"Kangen banget lah, Vand."
"Kalo sama kak Rangga?"
"Itu sih apalagi."
"Oh iya, Nay. Gue baru inget."
"Inget apaan?"
"Waktu kak Rangga mau pergi, dia sempet ngasih pesan ke gue."
"Pesan apa?"
"Katanya, gue harus bantu lo untuk jadi lo yang dulu. Tapi gue gak mau."
"Kenapa gak mau?"
"Karena gue pikir, lo yang sekarang itu lebih baik."
"Maksudnya?"
"Gue contohin satu ya. Misalnya kayak hubungan lo sama kak Rangga. Lo yang dulu itu kan benci banget sama kak Rangga. Dan gue rasa, itu gak baik buat hubungan kakak-adik lo berdua. Masa saudara saling benci. Nah, lo yang sekarang kan udah sayang banget sama kak Rangga. Dan udah ngelupain apa yang terjadi dulu. Ya meskipun sayang lo ke kak Rangga emang agak gak wajar."
"Kalo soal itu sih lo tenang aja. Gue sama kak Rangga udah memutuskan untuk ngelupain perasaan itu kok."
"Nah, makanya, gue rasa lo yang sekarang emang lebih baik dari lo yang dulu."
"Meskipun perasaan gue sama Ruben udah berubah?"
"Ya kalo soal cinta lo sama Ruben, gue percaya kok, kalo kalian emang jodoh, kalian pasti bakal bersatu lagi kayak dulu."
"Iya. Lo bener, Vand."

Ya, sekarang aku bisa lebih tabah meski ingatanku tak akan pernah kembali. Karena dulu ataupun sekarang, aku selalu di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu.

"Woy, ngapain lo berdua di situ?" Radit menujukan pertanyaan itu pada aku dan Devand. "Sini dong, gabung sama kita."
"Iya, iya." ujar Devand. "Yuk, Nay. Kita turun."
"Yuk."

Aku dan Devandpun turun dari rumah pohon. Dan bergabung dengan anak-anak yang lain, di tepi danau.

"Nay, tetep semangat ya. Meskipun lo harus ngejalanin hari-hari lo tanpa Ruben, tapi kan lo masih punya kita. Dan lo juga harus yakin, Ruben pasti bakal kembali, suatu saat nanti." Jonash menguatkanku.
"Siap." ujarku semangat.

***

Ini adalah malam minggu. So? Haha. Ya ini malam kayaknya emang cuma buat mereka-mereka yang punya pasangan. Kayak kak Yudha sama kak Viona. Malam ini, mereka bakalan dinner di salah satu Restoran. Sedangkan aku, malah menghabiskan malam minggu ini dengan nonton DVD di rumah.

"Selamat malam." sapa kak Viona.
"Eh kak Viona, selamat malam." aku balas menyapanya. "Mau pergi sama kak Yudha ya, kak?"
"Iya. Tadi sih dia udah jemput kakak, eh malah balik lagi kesini." ujar kak Viona.
"Loh, emangnya kenapa, kak?" tanyaku.
"Dompetnya kak Yudha ketinggalan." jawab kak Viona.
"Ah dasar tuh kak Yudha." umpatku.
"Apa, dasar-dasar?" kak Yudha tiba-tiba nongol. "Huu... kamu ngomongin kakak ya?"
"Nggak kok." kilahku. "Udah ah, sana-sana pergi."
"Kamu sendiri gak jalan, Nay?" tanya kak Viona.
"Dia kan jomblo, Vi. Mana ada yang mau ngajakin dia jalan. Malam minggunya kelabu." ejek kak Yudha.
"Uh, kak Yudha nyebelin." aku melempar bantalku pada kak Yudha. Tapi dia berhasil menghindar, lalu segera pergi bersama kak Viona.

Dan tinggallah aku sendirian di rumah. Sebenernya sih, tadi aku udah inisiatif ngajakin temen-temen aku buat jalan-jalan. Tapi ternyata mereka pada punya acara sendiri sendiri. Kayak si Keyra sama Jonash, mereka jalan berdua. Vivian sama Kenzi juga. Idon sama Devandpun gak mau kalah, mereka ngajakin si kembar Kiran-Karin buat jalan bareng mereka. Disaat aku pikir Radit mungkin aja bernasib sama kayak aku, ternyata aku salah besar. Pas aku mau ngajakin dia buat jalan, eh ternyata dia udah ada janji sama cewek SMU sebelah. Arggghhh. Jadilah aku cuma nonton DVD sendirian di rumah.

Yah, beginilah hari-hari gue tanpa lo Ruben, batinku.

***


No comments:

Post a Comment