Sunday, August 5, 2012

TWENTY DAYS WITH POPULAR BOY - 5

"Day 8"

Ah, pagi datang lagi. Aku segera bangun dari tidurku. Sangat lelah. Kemarin, seharian aku menghabiskan waktu bersama si popular boy itu didanau. Itu sangat menyenangkan. Untuk pertama kalinya, aku merasa sangat senang bersama Willy. Kemarin, dia benar-benar berubah dari sifat yang biasanya sangat menyebalkan. Aku bisa melihat sebuah keceriaan yang kembali, setelah lama menghilang. Aku suka Willy yang seperti kemarin.

Selesai sarapan, kudengar suara klakson mobil Willy didepan rumah. Ibu tersenyum menatapku, kemudian mengisyaratkan aku untuk segera keluar menemui Willy. Aku menuruti sesuai perintah Ibu, untuk menemui Willy setelah pamit dengan Ibu.

Willy melambaikan tangan kanannya menyapaku. Dia berdiri sambil menyender dimobilnya. Aku tersenyum padanya.

"Masih jam 06:10." aku melirik jam ditanganku. "Ini bukannya terlalu pagi ya?"
"Sekali-kali jadi siswa yang baik, gak apa-apa kan?" Willy tersenyum jahil.
"Bagus, malah." aku menepuk pundak Willy.
"Yuk, berangkat!" Willy membukakan pintu mobilnya untukku.
"Berlebihan." aku segera masuk kedalam mobil Willy, begitupun Willy.

Sekarang, kami berdua sudah berada didalam mobil, dan siap berangkat.

Lima belas menit perjalanan menuju sekolah, lalu kami sampai. Sekarang baru jam 06:25. Sekolah masih sedikit sepi. Belum banyak anak-anak yang datang. Aku dan Willy berjalan menuju kelas.

Dikelas...

"Udah sarapan?" tanyaku.
"Belum." Willy menggelengkan kepalanya.
"Kok belum?" aku menatap Willy tajam. "Gue beliin roti dikantin ya." aku akan beranjak pergi kekantin, tapi Willy menahan tanganku.
"Gak usah." ujarnya ragu. "Gue mau lo nemenin gue keruang musik, sekarang. Mau gak?" tanya Willy.
"Sejak kapan lo nanya gue mau apa nggak?" aku sedikit terkejut. "Lo lupa? Gue ini kan asisten lo. Gue diharuskan untuk nurutin semua yang lo minta. Gue gak bisa bilang gak mau." aku tersenyum manis pada Willy.
"Lo lupa?" tanya Willy. "Kita ini temen, sekarang." Willy tersenyum manis.

Aku menatap Willy tak percaya. Dan... kenapa ini? Kenapa jantungku berdetak lebih cepat, saat melihat senyuman Willy? Willy. Mungkin inilah Willy yang sesungguhnya.

Willy segera menarik tanganku menuju ruang musik. Begitu sampai, dia menyodorkan sebuah gitar yang ada diruang musik padaku.

"Apa?" tanyaku bingung.
"Mainin satu lagu, buat gue." Willy tersenyum lagi. Ah, sepertinya aku akan cepat mati, bila terus melihat Willy tersenyum seperti itu. Karena, jantungku bisa berdetak lebih cepat setiap melihatnya.

Aku mengambil gitar itu, lalu memainkannya. Willy mendengarkan dengan tenang. Aku menyanyikan lagu You Are Not Alone nya Michael Jackson dengan akustik. Awalnya, aku hanya bernyanyi sendiri. Tapi kemudian, Willy juga ikut bernyanyi di bagian tengah sampai akhir lagu. Suara kami menggema di seluruh sudut ruang musik. Hingga lagu selesai. Willy bertepuk tangan.

"Bagus." komentarnya.

Aku tersenyum, kemudian meletakkan gitar itu disampingku. Tak lama, terdengar suara tepukan tangan dari arah pintu ruang musik. Aku dan Willy menoleh bersamaan keasal suara tepukan tangan itu.

"Bu Arini?" ujar aku dan Willy serentak.

Bu Arini tersenyum, lalu menghampiri aku dan Willy. Bu Arini adalah guru seni disekolah ini. Aku baru saja mengenalnya, dua hari yang lalu. Saat kelas kami ada pelajaran seni.

"Perfect combination." ujar Bu Arini.

Aku dan Willy, menatap bu Arini, bingung.

"Ibu baru saja melihat sebuah pertunjukan yang bagus." bu Arini menatap pada aku dan Willy. Aku dan Willy masih sangat bingung pada maksud ucapan bu Arini.
"Maksud ibu?" tanyaku akhirnya.
"Nyanyian kalian tadi." bu Arini menunjuk pada aku dan Willy. "Menakjubkan." pujinya.

Aku dan Willy jadi salah tingkah oleh pujian bu Arini.

"Kalian tau kan? Sepuluh hari lagi adalah ulang tahun sekolah." bu Arini melanjutkan ucapannya. Willy mengangguk pertanda tau. Tapi tidak denganku. Aku tidak tau sama sekali tentang ulang tahun sekolah yang tinggal sepuluh hari lagi itu. Akukan anak baru disekolah ini. Bu Arini tesenyum padaku.

"Ah, Ibu lupa. Sakura kan anak baru." bu Arini mengangguk-angguk paham. "Biar Ibu jelaskan." bu Arini melipat kedua tangannya didada, kemudian mulai menjelaskan. "Ulang tahun sekolah, tepatnya akan dirayakan sepuluh hari lagi. Dan setiap tahunnya, kita selalu merayakan ulang tahun sekolah itu dengan malam dansa bagi siswa-siswi sekolah ini. Kemudian, akan diumumkan, siapa murid paling berprestasi, dan paling popoler disekolah ini. Dan tahun kemarin, Willy lah yang mendapat predikat siswa paling populer." bu Arini menunjuk pada Willy. Yang ditunjukpun hanya tersenyum bangga. Aku melirik Willy sekilas, kemudian kembali fokus pada penjelasan bu Arini.

"Tapi tahun ini, Ibu berencana akan membuat sesuatu yang beda, untuk perayaan ulang tahun sekolah." bu Arini kembali menjelaskan. "Ibu akan membuat sebuah drama musikal." ujar bu Arini antusias.
"Drama musikal?" ujarku dan Willy bersamaan.
"Iya. Dan ibu akan menunjuk kalian sebagai tokoh utamanya." bu Arini menunjukku dan Willy. Aku dan Willy sangat terkejut mendengarnya.
"Kok kita sih, bu?" tanya Willy.
"Karena kalian berdua, adalah kombinasi yang sempurna." bu Arini tersenyum tipis. "Besok, kita akan mengaudisi para pemain lain untuk drama musikal kita. Ibu akan mengumumkan tentang audisi, siang ini." usai mengatakan itu, bu Arinipun meninggalkan aku dan Willy yang masih kebingungan.

Tak lama setelah kepergian bu Arini dari ruang musik, aku dan Willy saling menatap tak percaya.

"Kita bisa bilang nggak kok, kalo lo gak mau." ujar Willy, saat kami sedang dalam perjalanan menuju kelas dari ruang musik.
"Sebenernya sih, gue belum yakin. Gue bisa atau nggak." aku menggigit bibir.
"Gue yakin, lo pasti bisa. Kita kan masih bakal latihan." Willy memberiku semangat.
"Emangnya lo mau?" tanyaku pada Willy.
"Kenapa nggak?" Willy tersenyum. Ah, senyuman itu lagi.
"Kalo gitu, gue bakalan coba deh." aku membalas senyuman Willy.
"Sip." Willy mengacungkan kedua jempol tangannya padaku.

Aku dan Willypun mempercapat langkah kami menuju kelas.

Siangnya, anak-anak mulai berebut untuk melihat mading. Disana sudah tertulis dengan jelas, pengumuman untuk audisi drama musikal ulang tahun sekolah. Disitu juga sudah tertulis namaku dan Willy sebagai peran utama.

Aku sedang berkumpul dengan Willy dan ketiga temannya di taman sekolah, kemudian Lulu datang.

"Sasa." serunya.
"Eh. Hai, Lu." sahutku.
"Kacamata, mau ngapain lo?" tanya Bima ketus. Aku menyikut lengan Bima. Yang disikut hanya nyengir tak jelas.
"Sasa, lo udah liat pengumuman dimading?" tanya Lulu tanpa memperdulikan pertanyaan Bima. Bima menjadi kesal dibuatnya.
"Belum sih. Tapi gue tau kok, itu pasti pengumuman tentang audisi drama musikal untuk ulang tahun sekolah kan?" aku memastikan.
"Iya. Dan disitu, ada nama lo sama namanya Willy sebagai peran utama." Lulu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aku tersenyum menatapnya.
"Kita emang peran utamanya kok." Willy merangkulku. Aku tersentak.
"Hah?" Lulu dan ketiga teman Willy menatap tak percaya.
"Gak usah kaget gitu, kali." Willy tersenyum jahil. "Bu Arini sendiri kok yang nunjuk gue sama si kura-kura."
"Wah, kalian keren banget." ujar Lulu takjub.
"Emm... Lu. Gimana kalo lo ikutan audisi juga?" usulku. "Kalian bertiga juga." aku menunjuk Lucky, Bima, dan Bian.
"Boleh juga." Lucky mengangguk setuju.
"Gue juga mau. Kayaknya seru tuh. Baru kali ini kan, ulang tahun sekolah dirayain dengan pertunjukan drama musikal." Bian juga setuju.
"Kalo kalian ikut, berarti gue juga harus ikut." Bima tak mau kalah.
"Gimana, Lu?" aku menunggu jawaban Lulu.
"Gue gak bisa, Sa. Lagian, gue udah pasti gak bakalan diterima pas audisi nanti." Lulu nampak sedih.
"Dari mana lo tau kalo gak bakalan diterima, kalo lo belum nyoba?" tanya Willy, yang berhasil membuat Lulu salah tingkah.
"Willy bener. Coba dulu aja, Lu." ujar Lucky.

Aku dan Lulu menatap Lucky tak percaya. Lucky? Dia memanggil Lulu dengan nama aslinya. Bukan dengan sebutan 'kacamata' lagi. Ah, setidaknya, ada satu teman Willy yang sudah memanggil Lulu dengan benar.

"Iya, Lu." aku menimpali.
"Ya udah deh. Gue akan coba." Lulu tersenyum yakin.
"Oke. Kalo gitu lo harus siap-siap. Audisinya besok loh." aku tersenyum pada Lulu. Lulupun mengangguk.

Kemudian aku menatap pada Lucky, Bima, dan Bian, lalu terakhir, aku menatap Willy. Ternyata, Willy juga sedang menatap kearahku. Kami sama-sama tersenyum.

***

"Day 9"

Pagi ini benar-benar mengejutkan. Ketika aku selesai beres-beres dan berniat untuk sarapan. Kulihat seseorang yang sangat ku kenal sedang duduk dimeja makan bersama Ayah dan Ibuku. Mereka sedang asik sarapan dan berbincang.

"Eh, sayang. Kamu sudah siap? Ayo, sini sarapan." ajak Ibu.
"Pagi sayang." sapa Ayah.
"Pagi, Yah." sahutku sambil menatap seseorang yang duduk disebelah Ayah.

Aku duduk disebelah Ibu, dan berhadapan dengan tamu mengejutkan pagi ini. Yah, siapa lagi kalau bukan cowok populer yang baru saja menjadi temanku itu. Dia, Willy. Cowok penuh kejutan, yang telah berhasil membuat hari-hariku menjadi berubah 180 derajat dari sebelumnya. Cowok yang diam-diam telah membuatku terpesona dengan senyumannya. Semoga dia tak mengubah hidupku, lebih dari itu.

"Pagi kur... eh Sakura." Willy tersenyum padaku.
"Hmm... pagi, Will." aku memaksakan senyum.
"Willy sudah datang pagi-pagi sekali. Jadi, Ibu ajak dia untuk sarapan disini saja. Karena Ibu yakin, kalau dia jemput kamu sepagi ini, pasti dia belum sarapan." terang Ibu padaku.
"Willy baik sekali, mau menjemput kamu kesekolah setiap pagi." ujar Ayah padaku.
"Saya seneng kok, Om." Willy melirikku. Aku membuang muka, tak mau melihatnya.
"Semoga tidak merepotkan." ujar Ayah tak enak.
"Nggak kok, Om." Willy tersenyum tipis, sambil melahap rotinya.

Selesai sarapan, aku dan Willy pamit pada Ayah dan Ibu untuk segera berangkat kesekolah.

Disekolah....
Anak-anak mulai sibuk berlatih untuk audisi hari ini. Syarat audisi adalah, mereka harus menampilkan bakat mereka semua dibidang seni. Seperti menari, menyanyi, bermain musik, dan tentunya akting. Aku menghampiri Lulu yang sedang sibuk melatih vokalnya.

"Gimana?" tanyaku pada Lulu.
"Gue deg-degan nih, Sa." Lulu menarik nafas berat.
"Tenang ya. Gue yakin, seorang Lucia pasti bisa kok." aku meyakinkan Lulu.
"Thanks ya, Sa." Lulu memelukku.

Tak lama, Willy dan ketiga temannya juga menghampiri aku dan Lulu.

"Hei, mau tau gak?" Bian bertanya pada aku dan Lulu.
"Apa?" aku dan Lulu penasaran.
"Kalo kita berempat (Lucky-Bima-Bian-Lulu) berhasil lolos audisi hari ini, Willy bakalan ngadain acara makan-makan dirumahnya, nanti malem." ujar Bian antusias.
"Beneran, Will?" tanyaku pada Willy. Willypun hanya mengangguk.
"Jadi gue harap, Lucky, Bima, Bian, sama si 'kacamata' bisa lolos. Biar kita bisa kerja bareng buat drama musikal ini." Willy tersenyum lembut.
"Gue akan berusaha." ujar Lulu bersemangat.
"Semangat." ujar kami semua serentak.

Waktu audisipun dimulai. Aku dan Willy ikut melihat proses audisi, meski kami bukan jurinya. Sesekali, bu Arini juga meminta pendapatku dan Willy untuk memilih anak-anak yang lolos atau tidak. Semua siswa menampilkan bakat-bakat yang mereka punya. Semua antusias untuk berpartisipasi dalam drama musikal ini.

Setelah tiga jam berlalu, akhirnya proses audisi selesai juga. Bu Arini sudah mendapatkan 30 orang anak yang akan ikut berpartisipasi dalam drama musikal ini. Dan dari ke-30 siswa itu, ada nama Lucky, Bima, Bian, dan Lulu. Aku sangat senang. Meskipun, sangat susah bagi bu Arini untuk memilih. Karena siswa yang ikut audisi ada lebih dari seratus orang. Dan semuanya berasal dari anak kelas satu dan dua. Anak kelas tiga sudah tidak diperbolehkan berpartisipasi lagi. Mereka hanya akan menonton pertunjukkan dari para junior mereka.

"Willy, Sakura." panggil bu Arini.
"Iya, Bu." sahutku dan Willy.
"Besok kita mulai latihan ya." ujar bu Arini. "Kita akan latihan di Aula, setiap pulang sekolah. Agar tidak mengganggu proses belajar mengajar." jelas bu Arini.
"Baik, bu." aku dan Willy mengangguk mengerti.

Setelah mengatakan itu, bu Arinipun berlalu meninggalkan aku dan Willy. Ketika bu Arini sudah pergi, Lulu dan ketiga teman Willy segera menghampiri kami.

"Sasa." Lulu langsung memelukku.
"Selamat ya." aku menepuk punggung Lulu.
"Gue gak nyangka, dan seneng banget." Lulu hampir menangis.
"Gue kan udah bilang, lo itu pasti bisa." aku menyeka air mata Lulu yang sudah mengalir dipipi putihnya.
"Udah ah, jangan sedih-sedihan gitu." Lucky tersenyum padaku dan Lulu.
"Iya. Kan nanti malam, kita bakal ngerayain lolosnya kita hari ini dirumahnya Willy." Bima menimpali.
"Kura-kura, pas pulang sekolah nanti, lo ikut gue kerumah ya. Kita siapin pesta buat malam ini." ujar Willy padaku.
"Oh, oke." aku mengangguk mengerti.

Kami semuapun larut dalam suasana yang bahagia. Begitu menyenangkan bila seperti ini.

***

Pulang sekolah, dirumah Willy....
Ini rumah Willy? Aku membelalakan mata tak percaya. Rumah Willy begitu besar, mirip seperti istana. Aku tidak berlebihan, tapi itulah kenyataannya.

"Yuk, masuk!" Willy menarik tanganku untuk masuk kedalam rumahnya. Aku hanya diam, dan ikut kemana Willy akan membawaku.

Willy mengajakku kedapur rumahnya, lalu bertemu dengan tiga orang pembantunya.

"Tolong siapin makanan ya. Saya mau mengadakan pesta, malam ini." ujar Willy pada para pembantunya.
"Baik, Tuan." jawab ketiga pembantu itu.
"Lo, ikut gue." Willy menarik tanganku lagi.

Kali ini, dia membawaku kesebuah ruangan. Sepertinya ini adalah kamar.

"Ngapain lo bawa gue kesini?" tanyaku.
"Lo, bantu gue buat ngehias taman belakang rumah, buat pesta kita nanti malem." ucapan Willy sama sekali tak memberikan jawaban dari pertanyaanku.
"Terus maksudnya lo bawa gue keruangan ini, apa?" tanyaku sedikit kesal.
"Ini kamar kakak gue. Dan dilemari itu, ada baju-baju kakak gue, yang bisa lo pake. Tenang aja, baju-baju itu belum pernah dipake kakak gue kok. Itu cuma stok dia aja. Lo bisa pilih salah satu dari baju-baju itu. Dan kalo lo mau mandi, itu kamar mandinya." jelas Willy panjang lebar.
"Lo, punya kakak?" tanyaku.
"Iya. Tapi dia gak tinggal disini. Dia cuma sesekali aja nginep disini. Soalnya, dia udah berkeluarga, jadi tinggal dirumah suaminya." jawab Willy.
"Oh." aku hanya mengangguk.
"Ya udah, cepet mandi sana. Gue tunggu dihalaman belakang." ujar Willy, lalu meninggalkanku sendiri didalam kamar besar ini.

Sepeninggalan Willy, aku menatap takjub pada ruangan besar yang disebut kamar ini. Setelah puas melihat-lihat, aku membuka lemari pakaian yang tadi ditunjuk Willy. Melihat semua pakaian itu, aku jadi bingung akan memilih yang mana. Meski kakak Willy sudah menikah, tapi semua pakaian yang ada dilemari ini, masih pantas dipakai anak remaja sepertiku. Setelah memilih baju, aku menuju kamar mandi, kemudian mandi.

Selesai mandi dan berpakaian, aku keluar dari kamar itu, lalu mencari tempat yang disebut Willy 'halaman belakang'.

"Dimana halaman belakangnya?" aku melirik setiap sudut rumah Willy. "Aduh, nih rumah terlalu besar. Gimana gue bisa nemuin halaman belakangnya?"
"Nona." panggilan itu mengejutkanku. Aku segera menoleh keasal suara itu. Dan begitu kulihat, ternyata yang memangilku itu adalah seorang bapak yang waktu itu menjemputku dirumah. Ya, dia sopir Willy.
"Bapak?" aku tersenyum padanya.
"Nona mau kemana?" tanya bapak itu ramah.
"Anu... itu... saya mau kehalaman belakang, pak." aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.
"Oh, mari saya antar." bapak itupun segera berjalan didepanku. Aku terus mengikutinya, hingga kami sampai di halaman belakang rumah Willy. "Ini, Non." ujar bapak itu.
"Oh iya, terima kasih ya, pak." aku tersenyum.
"Saya permisi dulu." bapak itupun pergi.

Aku melihat sekeliling, lalu mendapati Willy sedang sibuk menata meja beserta pernak pernik lainnya, dibantu oleh beberapa orang pembantunya yang lain. Aku tersenyum, lalu berjalan kearah Willy. Halaman belakang ini benar-benar sangat luas.

"Apa yang bisa gue bantu?" tanyaku pada Willy.
"Nih." Willy mengulurkan sebuah kabel panjang digulung yang bertabur banyak lampu kecil warna-warni.
"Ini diapain?" tanyaku bingung.
"Pasangin kepohon itu." Willy menunjuk sebuah pohon rindang yang ada dihalaman belakang rumahnya ini. "Itu buat penerangan." tambahnya.
"Yang itu, biar saya saja yang kerjakan, Tuan." ujar seorang pembantu laki-laki pada Willy. Dia menunjuk pada kabel yang kupegang. "Berbahaya jika Nona ini yang melakukannya." ujar pembantu itu khawatir.
"Nggak usah. Kura-kura ini jago kok, jadi gak akan bahaya." Willy tersenyum jahil.
"Hmm... iya Kang, saya bisa kok." ujarku pada pembantu itu. Willy hanya tertawa mendengar panggilan 'Kang' yang kutunjukkan pada pembantunya. Memangnya apa yang salah?

Detik berikutnya, aku mulai bersiap untuk naik keatas pohon dengan tangga yang diberikan oleh pembantu Willy yang lain. Aku mulai fokus pada apa yang aku kerjakan. Awalnya, ini masih mudah. Tapi begitu aku harus memasangnya keranting pohon yang lebih tinggi, aku sedikit kesulitan. Tangga ini tak cukup tinggi untuk membawaku keranting itu. Aku melirik Willy, berniat meminta pertolongan darinya. Tapi ku lihat, dia juga sedang sibuk, begitupun yang lainnya. Jadi aku putuskan untuk mengerjakannya sendiri dengan ide gila ku. Aku menjinjit agar bisa memasangnya pada ranting itu. Tapi kurasa, nasib sial menimpaku. Aku terpeleset dari tangga, dan tentu saja aku terjatuh.

"Aaaa...." teriakku.

BRUK

Jangan tanya rasanya. Anak bodoh sekalipun, akan tau kalo rasanya sangat sakit. Tapi, apakah aku bodoh? Rasanya sama sekali tak sakit. Aku membuka mataku yang tadinya terpejam karena takut pada rasa sakit yang akan aku rasakan. Ouw.. Ouw.. aku sangat terkejut begitu membuka mata. Pantas saja rasanya tak sakit, karena Willy yang menahan tubuhku. Aku jatuh tepat diatasnya.

"Ceroboh." umpat Willy.
"Ma... maaf, Will." aku segera bangkit dari jatuhku, menjauh dari tubuh Willy.
"Tuan? Tuan tidak apa-apa?" para pembantu Willy segera menghampiriku dan Willy.
"Saya gak apa-apa." Willy ikut bangkit dari jatuhnya, lalu menatapku.
"Nona bagaimana?" tanya pembantu Willy padaku.
"Saya juga gak apa-apa." jawabku sambil sedikit takut pada tatapan Willy.
"Gantiin tugas dia." perintah Willy pada salah satu pembantunya. "Lo, ikut gue." Willy menarik tanganku.

Dia membawaku masuk kedalam rumahnya, lalu kami duduk diruang tamu. Willy menatapku lagi. Aku tak mengerti mengapa dia begitu, tapi tatapannya itu benar-benar membuatku ngeri.

"Maaf." ujarnya tiba-tiba.
"Eh?" aku tak mengerti maksud Willy. Mengapa dia mengatakan maaf?
"Gue hampir aja bikin lo celaka, dengan nyuruh lo ngelakuin hal kayak tadi. Maafin gue ya, kura-kura." Willy memelukku.
"I... iya. Gak apa-apa kok, Will. Itu juga salah gue yang gak hati-hati." ujarku gugup. Juga sedikit sesak dengan pelukan Willy yang begitu erat.

Beberapa menit kemudian, Willy melepas pelukannya.

"Bodoh." ujarnya sambil mengacak-acak rambutku. "Lain kali hati-hati." tambahnya.

Aku hanya mengangguk, lalu tersenyum menatap Willy. Setelah itu, Willy tak mengizinkanku lagi untuk ikut membantu dihalaman belakang. Akhirnya, aku memutuskan untuk membantu para pembantu wanita didapur, untuk menyiapkan makanan.

"Maaf, Nona." salah satu pembantu yang masih terlihat sangat muda itu menatapku. "Apakah Nona pacarnya tuan Willy?" tanyanya.

Pertanyaannya sukses membuatku salah tingkah.

"Bu... bukan kok." jawabku gugup.
"Nona temannya?" tanya pembantu itu lagi.
"Iya." aku mengangguk.
"Sejak kapan Nona berteman dengan tuan Willy?" tanya pembantu itu lagi dan lagi. Sebenarnya aku agak risih dengan pertanyaan-pertanyaan dari pembantu Willy ini. Tapi ya sudahlah. Tinggal jawab saja, tidak susah kan?
"Baru 9 hari ini." jawabku jujur.
"Wah, baru 9 hari, dan Nona sudah diajak untuk kerumahnya?" pembantu yang satunya lagi ikut nimbrung.
"Dulu, kami hanya melihat tuan Lucky, tuan Bima, tuan Bian, dan nona Clara yang sering dibawa tuan Willy kerumah ini. Selebihnya, tak ada lagi." ujar pembantu yang lain.
"Clara?" aku mengernyitkan dahi.
"Nona belum tau?" tanya pembantu itu. Aku menggeleng. Kemudian pembantu itu menarik nafas, dan mulai bercerita. "Nona Clara adalah pacar tuan Willy. Tapi, semenjak Nona Clara meninggal tiga bulan yang lalu, tuan Willy menjadi pemurung dan sangat dingin. Padahal sebenarnya, tuan Willy adalah orang yang baik dan ramah. Sepertinya, nona Clara benar-benar memiliki seluruh hati dari tuan Willy. Karena tuan Willy tak pernah mau dekat dengan wanita lain, sejak nona Clara meninggal. Dan nona Sakura, adalah wanita pertama, sejak tiga bulan lalu. Berarti, nona adalah wanita yang special untuk tuan Willy." jelas pembantu itu panjang lebar.
"Jadi ini yang kalian lakuin disela-sela kerja?" tiba-tiba suara Willy terdengar. Aku terkejut, lalu menatapnya yang sedang berdiri di pintu dapur.
"Willy?" aku terkejut mendapati Willy dengan tatapan tajamnya.
"Tuan?" para pembantu itu menunduk takut.
"Lo." Willy menunjuk pada pembantu yang tadi bercerita tentang Clara padaku. "Dipecat!" Willy langsung menarik tanganku menjauh dari para pembantunya.
"Will," aku menoleh pada pembantu yang tadi ditunjuk Willy. Dia menangis.

Willy membawaku kesebuah ruangan. Aku tak tau ini ruangan apa. Terlalu banyak ruangan dirumah ini. Willy menatapku tajam. Aku tak berani menatapnya, dan aku memilih mengedarkan pandanganku kearah lain.

"Gue benci, lo harus denger ucapan pembantu-pembantu itu." Willy menatapku tajam.
"Maaf." aku tertunduk.
"Dan gue benci, karena apa yang dikatakan pembantu itu tentang gue, adalah bener." Willy menghela nafas.
"Maksud lo?" aku menatap Willy, bingung.
"Lo emang cewek pertama yang gue bawa kerumah ini setelah Clara." Willy berjalan kearah jendela, lalu menatap keluar. "Dan emang bener, lo itu adalah cewek yang special buat gue." kata-kata Willy benar-benar membuatku sangat terkejut.

Willy terus menatap keluar jendela. Aku hanya menatapnya sekilas, lalu menunduk. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa jantungku semakin cepat berdetak, saat mendengar ucapan Willy? Aku hanya bisa diam. Suasana diruangan ini menjadi begitu dingin dan membuatku tak nyaman. Aku mencoba untuk melihat kearah Willy. Dan ternyata, dia sedang menatapku lembut. Bagaimana ini?


-to be continued-

No comments:

Post a Comment