- Stefan William as Steve
- Yuki Kato as Yuki
- Dinda Kirana as Dinda
- Adipati Dolken as Adit
Cerita ini dibuat, karena saya mengidolakan kedua pasangan dalam sinetron remaja ini. Stefan William dan Yuki Kato (Arti Sahabat). Adipati Dolken dan Dinda Kirana (Kepompong). \(´▽`)/
KISAH TENTANG PERSAHABATAN DAN CINTA EMPAT ORANG REMAJA!
Steve berlari menuju sahabatnya, Dinda. Hari ini adalah hari kelulusan anak-anak SMP Bintang. Sebentar lagi, mereka akan menjadi anak SMA.
"Din, gue lulus, Din. Gue LULUS!" ujar Steve berulang-ulang.
"Iya, Steve. Iya." Dindapun sampai harus menjawab berulang-ulang pula.
"Abis ini, kita bakalan jadi siswa SMA Pelangi." Steve semakin bersemangat.
Dinda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Steve. Dinda dan Steve sudah bersahabat sejak kelas satu SD. Mereka sudah seperti saudara. Sebenarnya, umur mereka hanya berbeda dua bulan saja. Steve lahir pada bulan Januari, sedangkan Dinda lahir pada bulan Maret. Tapi meski begitu, sikap Dinda lebih dewasa bila dibandingkan dengan Steve.
Dinda adalah pecinta warna biru. Dan Steve adalah pecinta warna merah. Warna biru di ibaratkan langit. Dan warna merah di ibaratkan hati.
"Steve. Kalau suatu saat nanti kita berpisah dan lo merindukan gue, maka lihatlah langit. Dan rasa rindu lo akan terlepaskan." Dinda tersenyum lembut.
"Dinda. Kalau suatu saat nanti kita berpisah dan lo merindukan gue, maka peluklah bantal hati ini. Dan rasa rindu lo akan terlepaskan." Steve tersenyum, sambil memberikan bantal hati itu pada Dinda.
***
Sementara itu di SMP yang lain, dua orang sahabat yaitu Yuki dan Adit juga sedang berbahagia bisa lulus dari SMP Mulia.
"Selamat ya, Ki. Lo jadi murid dengan nilai ujian tertinggi disekolah." Adit menjabat tangan sahabatnya itu.
"Makasih ya, Dit. Gue juga gak nyangka banget." Yuki tersenyum bangga.
"Setelah ini, kita akan jadi siswa SMA Pelangi." Adit mulai membayangkan indahnya jadi anak putih abu-abu.
Yukipun ikut membayangkan hal yang sama seperti Adit. Yuki dan Adit sudah bersama sejak mereka kecil. Mereka berdua adalah cucu dari kakek yang sama, tapi nenek yang berbeda. Kakek mereka memiliki dua orang istri. Dan Yuki juga Adit, menganggap hubungan mereka ini adalah sahabat. Mereka lahir pada bulan yang sama, yaitu Februari. Adit pada tanggal sebelas. Sedangkan Yuki pada tanggal dua puluh satu.
Yuki adalah pecinta warna putih. Dan Adit adalah pecinta warna hijau. Warna putih di ibaratkan kertas. Dan warna hijau di ibaratkan daun.
"Adit. Kalau suatu saat nanti kita berpisah dan lo merindukan gue, maka tulislah nama gue dikertas putih ini. Dan rasa rindu lo akan terlepaskan." Yuki tersenyum, sambil memberi kertas putih itu pada Adit.
"Yuki. Kalau suatu saat nanti kita berpisah dan lo merindukan gue, maka lihatlah daun. Dan rasa rindu lo akan terlepaskan." Adit tersenyum lembut.
***
Masa Orientasi Siswa (MOS) akan segera dilaksanakan. Semua calon siswa SMA Pelangi sudah berkumpul dilapangan, menghadap pada seniornya. Kali ini, Steve dan Dinda, juga Adit dan Yuki berbeda kelas. Tapi entah apa yang membuat mereka seolah berjodoh. Steve, Yuki, Dinda, dan Adit, sama-sama menjadi siswa yang harus dihukum memunguti sampah di halaman SMA Pelangi.
"Loh, Dinda. Lo dihukum juga?" tanya Steve terkejut.
"Iya. Jadi lo juga?" Dinda tertawa.
Kemudian mereka menoleh pada dua orang yang bernasib sama seperti mereka.
"Astaga, Yuki. Lo dihukum juga?" tanya Adit tak percaya.
"Iya. Lo juga kan?" Yuki nyengir.
Steve dan Dinda menghampiri Adit dan Yuki.
"Hai, kalian." sapa Steve.
"Hai." sahut Adit dan Yuki.
"Kalian dihukum juga?" tanya Dinda.
"Iya nih." jawab Adit.
"Eh, kenalan dulu dong." Steve mengulurkan tangannya pada Yuki. "Gue Steve."
"Gue Yuki." Yuki menjabat tangan Steve.
"Gue Adit." Adit mengulurkan tangannya pada Dinda.
"Gue Dinda." Dinda menjabat tangan Adit.
Mereka semuapun saling tersenyum. Tapi kemudian senyum itu lenyap, karena mereka mendapatkan teriakan dari senior.
"Woi, kalian." teriak senior cowok itu. "Gue itu nyuruh kalian mungutin sampah, bukannya ngobrol."
"Iya, kak." sahut empat sekawan itu serentak.
"Pokoknya kalian gak boleh istirahat, sampai seluruh halaman ini bersih." perintah si senior.
Steve, Yuki, Dinda, dan Adit hanya mengangguk lesu, lalu mulai memunguti sampah-sampah yang berserakan.
Hari pertamapun berlalu penuh warna. Meski kesal karena dihukum memunguti sampah, tapi hari empat sahabat ini juga menyenangkan karena bertemu dua orang baru. Begitulah sampai dua hari berikutnya, hingga MOS selesai. Steve, Yuki, Dinda, dan Adit mulai nyaman menjadi teman.
***
Ini adalah hari pertama masuk sekolah. Hari pertama memakai seragam putih abu-abu. Steve dan Adit terlihat tampan. Sedangkan Yuki dan Dinda terlihat begitu cantik. Dan seolah memang sudah menjadi takdir, mereka berempat satu kelas.
"Hei, kantin yuk!" ajak Adit.
"Yuk!" sahut Steve, Yuki, dan Dinda.
Sesampainya dikantin, Adit dan Dinda yang bersedia memesan makanan untuk mereka berempat pada ibu kantin. Sementara Steve dan Yuki menunggu di meja.
"Sejak kapan lo sahabatan sama Adit?" tanya Steve pada Yuki.
"Sebenernya sih, kita itu bukan sekedar sahabat." jawab Yuki. "Tapi..."
"Makanan datang." teriak Dinda sambil membawa nampan berisi empat mangkok bakso.
"Minuman juga datang." Adit menimpali. Dia membawa nampan berisi empat gelas es jeruk.
"Waktunya makan." ujar Yuki, sambil melahap bakso miliknya.
Mereka semuapun mulai makan, kecuali Steve. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya. Memikirkan tentang hubungan Yuki dan Adit, yang katanya tak hanya sekedar teman. Lalu apa? Steve memberantakan rambutnya.
"Lo kenapa, Steve?" tanya Dinda bingung. "Dari tadi, kok baksonya cuma diaduk-aduk gitu?"
"Gue gak apa-apa kok. Cuma masih kenyang aja." jawab Steve sekenanya.
"Kalo masih kenyang, kenapa tadi ikutan pesen?" tanya Yuki.
"Tadi sih ada rasa laper, tapi sekarang udah nggak." jawab Steve sambil memaksakan senyum.
"Labil banget sih perut lo, Steve." Adit tertawa.
Selesai makan, mereka berempat berjalan-jalan keliling sekolah. Lalu sampai di sebuah ruangan, yaitu ruang musik.
"Wah, ruang musik, Steve." teriak Dinda.
"Siapa yang bisa main alat musik nih?" tanya Adit.
"Steve." Dinda menunjuk pada Steve.
"Wah, sama dong. Adit juga bisa main alat musik." Yuki melirik Adit. Aditpun tersenyum.
"Ya udah, kita masuk yuk!" ajak Steve.
"Yuk!" semua menyetujui.
Merekapun masuk keruang musik. Steve dan Adit segera mengambil dua buah gitar yang tersedia disana. Yuki dan Dinda yang menyanyi.
"Wah, gak nyangka. Ternyata suara lo bagus ya, Din." puji Adit.
"Makasih." Dinda tersenyum manis.
"Yuki juga bagus." ujar Steve malu-malu.
Yuki tersenyum malu.
Hari pertamapun berlalu. Mereka berempat pulang sekolah bersama. Yuki membonceng di sepedanya Adit. Sedangkan Dinda, membonceng di sepedanya Steve. Sebelum pulang kerumah, mereka main dulu ketaman bunga dekat sekolah.
Mereka berempat berbaring diatas hamparan rumput yang hijau, dan bunga-bunga indah berwarna-warni.
"Kalau liat daun, pasti itu Adit." ujar Yuki memulai percakapan.
"Kalau liat kertas putih ini, pasti itu Yuki." Adit mengambil kertas putih pemberian Yuki di tasnya.
"Kalau liat bantal hati ini, pasti itu Steve." ujar Dinda sambil memeluk bantal hati itu.
"Kalau liat langit, pasti itu Dinda." Steve menatap pada langit. "Tapi hari ini, langitnya mendung."
"Jadi, kalian juga punya perumpamaan kayak gitu ya?" tanya Adit terkejut.
"Iya." Dinda mengangguk. "Merah, berarti hati. Itu adalah Steve. Biru berarti langit. Dan itu adalah gue."
"Kita juga kayak gitu." Yuki melirik pada Adit.
"Putih, berarti kertas. Itu adalah Yuki. Hijau, berarti daun. Dan itu adalah gue." terang Adit.
"Warna favorit?" tanya Steve.
Mereka semua mengangguk. Detik kemudian, mereka tertawa bersama.
"Wah, gak nyangka. Ternyata suara lo bagus ya, Din." puji Adit.
"Makasih." Dinda tersenyum manis.
"Yuki juga bagus." ujar Steve malu-malu.
Yuki tersenyum malu.
Hari pertamapun berlalu. Mereka berempat pulang sekolah bersama. Yuki membonceng di sepedanya Adit. Sedangkan Dinda, membonceng di sepedanya Steve. Sebelum pulang kerumah, mereka main dulu ketaman bunga dekat sekolah.
Mereka berempat berbaring diatas hamparan rumput yang hijau, dan bunga-bunga indah berwarna-warni.
"Kalau liat daun, pasti itu Adit." ujar Yuki memulai percakapan.
"Kalau liat kertas putih ini, pasti itu Yuki." Adit mengambil kertas putih pemberian Yuki di tasnya.
"Kalau liat bantal hati ini, pasti itu Steve." ujar Dinda sambil memeluk bantal hati itu.
"Kalau liat langit, pasti itu Dinda." Steve menatap pada langit. "Tapi hari ini, langitnya mendung."
"Jadi, kalian juga punya perumpamaan kayak gitu ya?" tanya Adit terkejut.
"Iya." Dinda mengangguk. "Merah, berarti hati. Itu adalah Steve. Biru berarti langit. Dan itu adalah gue."
"Kita juga kayak gitu." Yuki melirik pada Adit.
"Putih, berarti kertas. Itu adalah Yuki. Hijau, berarti daun. Dan itu adalah gue." terang Adit.
"Warna favorit?" tanya Steve.
Mereka semua mengangguk. Detik kemudian, mereka tertawa bersama.
***
Malam harinya, Steve berencana ingin mengajak Yuki pergi. Sementara Adit juga berencana untuk datang kerumah Dinda.
Steve berjalan pelan memasuki rumah bercat putih itu. Halamannya luas, ditanami bunga melati putih dan lili. Itu adalah rumah Yuki. Steve sudah sampai ditempat tujuannya. Lalu dia mengetuk pintu. Yukilah yang membukakannya.
"Selamat malam." sapa Steve pada Yuki.
"Malam." Yuki tersenyum tipis.
Steve terpukau melihatnya. Yuki sangat anggun dengan gaun putih selutut, di tambah aksen bunga warna merah dibagian dadanya. Steve juga tampak keren dengan baju warna putih polos, dibalut kemeja merah kotak-kotak yang di biarkan tak dikancing.
"Yuk, berangkat!" ajak Steve.
Yukipun mengangguk.
Steve membawa motornya keluar dari halaman rumah Yuki. Lalu berhenti diatas bukit. Disini sangat gelap, hanya cahaya bulan dan bintang yang menyinari.
"Kita mau ngapain kesini?" tanya Yuki bingung.
"Liat bintang." jawab Steve, yang lalu mengajak Yuki duduk pada hamparan rumput.
Yuki menurut saja, meski masih sedikit bingung. Disini begitu gelap. Yuki juga merasa kedinginan.
"Lo akan melihat sinaran bintang yang paling indah, kalo berada di tempat yang gelap." Steve terus menatap kelangit.
"Biasanya, sinar bintang-bintang ini tertutupi oleh lampu-lampu kota yang ramai." Yuki ikut mendongak kelangit.
"Kalo mau liat bintang, kesini aja ya." Steve tersenyum lembut. Yuki mengangguk.
"Adit gak bakalan marah kan, kalo gue ajak lo kesini?" tanya Steve hati-hati.
"Ya nggaklah." Yuki tersenyum tipis.
"Tadi siang, lo bilang Adit itu bukan hanya sekedar sahabat lo, lalu apa?" tanya Steve lagi.
"Kita itu saudara." Yuki tersenyum lagi. Senyuman yang selalu berhasil membuat Steve terpesona.
"Ohh." Steve tertawa, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Kirain, kalian berdua pacaran."
"Kalo lo sama Dinda?" giliran Yuki yang bertanya.
"Kita sahabat baik." jawab Steve jujur. "Gue udah kenal Dinda dari kelas satu SD. Kita udah kayak saudara."
"Ohh." Yuki juga tertawa. Seolah sangat lega mendengar jawaban Steve.
***
Sementara itu, Adit baru sampai di rumah Dinda. Dinda yang mendengar suara motor Adit, langsung keluar membukakan pintu. Adit juga segera turun dari motornya, dan menghampiri Dinda yang sudah menunggunya di pintu.
"Yuk, masuk!" ajak Dinda.
Dinda mempersilahkan Adit duduk, dan memberinya minum.
"Ini gitarnya." Dinda mengulurkan gitar warna biru itu pada Adit.
"Kita jangan bilang-bilang soal ini ke Yuki sama Steve ya." Adit melihat-lihat gitar itu.
"Nanti kalo mereka curiga gimana?" Dinda tak begitu yakin.
"Sebisa mungkin, kita gak boleh bikin mereka curiga." Adit meyakinkan. "Gue belum siap kasih tau mereka sekarang. Nanti aja, kalo udah satu bulan."
"Oke deh." Dinda mengangguk mantap.
"Sekarang kita latihan dulu ya." ajak Adit.
Adit mulai memainkan gitarnya, sementara Dinda yang menyanyi.
***
Keesokan harinya, Dinda pergi kesekolah sendiri, tanpa Steve. Adit dan Yuki yang melihat itu, langsung menghampiri Dinda.
"Steve mana? Kok lo gak berangkat bareng dia sih, Din?" tanya Yuki.
"Steve harus kerumah sakit. Abis dari rumah sakit, dia baru kesekolah." jawab Dinda.
"Steve sakit?" tanya Adit.
"Cuma cek kesehatan doang kok. Disuruh sama om nya Steve yang dokter." jawab Dinda santai.
"Ohh." Yuki tampak tegar, meski sebenarnya dia khawatir dengan keadaan Steve.
Pada jam istirahat pertama, Steve sudah berada di sekolah dan langsung menemui ketiga sahabatnya di kantin.
"Apa kata dokter, Steve?" tanya Dinda.
"Belum ada hasilnya. Katanya sih lusa baru bisa di lihat." jawab Steve santai.
"Emangnya, kenapa harus diperiksa-periksa sih, Steve?" tanya Yuki.
"Gak tau juga. Om gue yang nyuruh." Steve hanya tersenyum santai.
"Kalo sampai harus di periksa, berarti ada hal yang serius tentang kesehatan lo, Steve." terka Yuki.
"Lo khawatir ya, kalo gue sakit." goda Steve.
"Maksudnya bukan gitu." Yuki tersipu malu. Steve, Dinda, dan Adit menertawakannya.
"Malam ini pada ada acara gak?" tanya Steve kemudian.
"Emang ada apa, Steve?" Dinda balik bertanya.
"Mau ngajakin kalian datang ke peresmian kafe barunya tante gue." jawab Steve.
"Gue sih gak ada acara apa-apa." Yuki melirik Adit.
"Gue ada acara." ujar Adit cepat.
"Gue juga." Dinda menimpali.
"Oh, ya udah. Ki, entar lo gue jemput ya." Steve mengedipkan matanya.
Yuki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Adit dan Dinda saling melirik, lalu tersenyum.
Jam pulang sekolah, mereka berempat pergi ketaman bunga lagi. Tempat ini telah menjadi tempat favorit mereka untuk berkumpul.
"Apa sih, yang bikin kita jadi deket gini?" Dinda yang membuka percakapan.
"Hukuman." jawan Adit.
"Iya." Steve menimpali. "Gara-gara sama-sama dihukum pas MOS, kita jadi saling kenal, menjalin hubungan sebagai teman, lalu dekat kayak sahabat."
"Dan juga karena kita sama-sama punya misi yang sama pada persahabatan." Yuki menambahkan.
"Kalo diantara kita ada yang jatuh cinta sama sahabatnya sendiri, gimana?" tanya Steve ragu.
"Emangnya lo jatuh cinta sama siapa Steve?" tanya Dinda terkejut.
"Ada deh. Jadi sahabat tuh gak boleh kepo." Steve tersenyum licik.
"Hanya kematian yang bisa memisahkan kita dan persahabatan kita." ujar Yuki lembut.
"Dan kematian itu pasti akan datang." Adit menatap langit biru. "Hari perpisahan itu, pada akhirnya akan tiba juga."
"Kok jadi pada ngomongi kematian sih?" Dinda mengerutkan keningnya.
Steve, Yuki, dan Adit tertawa. Dinda hanya memanyunkan bibirnya. Sorepun datang, dan mereka bergegas untuk pulang.
Malam harinya, Steve dan Yuki sedang dalam perjalanan menuju kafe tantenya Steve. Sementara Adit dan Dinda juga sedang dalam perjalanan menuju tempat yang berbeda. Dinda membawa gitar birunya.
Tak lama kemudian, Adit dan Dinda sampai di sebuah kafe bernuansa klasik. Adit dan Dinda masuk kedalam, sambil berpegangan tangan. Mereka lalu disambut oleh sang manager kafe. Mereka berbincang sebentar, lalu Adit dan Dinda di persilahkan naik keatas panggung kecil yang menghadap pada semua pengunjung kafe.
Adit lalu memainkan gitarnya, mengiringi nyanyian Dinda. Mereka menghibur semua pengunjung kafe dengan lagu-lagu romantis, seperti Just the way you are - Bruno Mars. Adit dan Dindapun mendapatkan tepuk tangan yang banyak dari para penonton.
Selesai menghibur para tamu di kafe, Adit dan Dinda pergi untuk berjalan-jalan disekitar pusat kota.
"Hari pertama kita kerja jadi penyanyi kafe nih." Adit tersenyum tipis.
"Ternyata seru yah, menghibur orang-orang." Dinda tersenyum bangga.
"Lo gak nyesel kan?" tanya Adit.
"Ya nggak lah. Malah gue seneng. Ini adalah pengalaman yang paling mengesankan." Dinda tersenyum lembut.
"Dulu gue pernah ngajak Yuki, tapi dia gak mau. Dia lebih suka belajar." Adit tertawa.
"Kan biar tambah pinter." Dinda ikut tertawa. "Pulang yuk!"
"Yuk!"
Adit dan Dindapun memutuskan untuk pulang. setelah berjalan-jalan sebentar. Begitupun Steve dan Yuki, usai acara peresmian kafe, mereka juga pulang.
"Gimana, acaranya seru gak?" tanya Steve, begitu mereka sudah sampai dirumahnya Yuki.
"Seru banget." Yuki mengangkat kedua jempolnya. "Adit sama Dinda pasti nyesel deh gak ikut kita malam ini."
"Iya." Steve tertawa. "Kalo gitu, gue pulang dulu ya."
"Hati-hati ya." Yuki melambaikan tangannya.
***
Dinda sedang duduk di depan kelas, sambil membaca novelnya, lalu Yuki datang.
"Baca apaan, Din?" tanya Yuki.
"Novel." jawab Dinda santai.
"Ih, bukannya baca buku pelajaran, malah baca novel." Yuki sewot.
"Biarin." Dinda menjulurkan lidahnya pada Yuki.
Lalu Steve dan Adit datang menghampiri Yuki dan Dinda. Steve duduk disebelah Yuki, dan Adit duduk disebelah Dinda.
"Keruang musik, yuk!" ajak Adit.
"Yuk!" Dinda langsung semangat.
"Gue males ah." ujar Yuki. "Gue mau belajar aja."
"Kalo gitu, gue nemenin Yuki belajar aja deh." Steve menimpali.
"Ya udah." Adit dan Dinda pergi ke ruang musik.
Sementara itu, Steve menemani Yuki belajar.
"Lo beneran cuma mau nemenin nih, Steve?" tanya Yuki.
"Iya." Steve mengangguk.
"Kenapa gak ikut belajar aja sih?" Yuki menyodorkan buku biologi pada Steve. "Gue bakalan seneng banget, kalo lo mau ikutan belajar sama gue."
"Oke, kalo gitu gue bakalan ikut belajar." Steve langsung bersemangat.
Mereka saling tanya jawab dalam pelajaran.
"Ki, besok pagi lo mau gak nemenin gue liat hasil cek kesehatan gue dirumah sakit?" tanya Steve, begitu mendapat sela untuk bicara.
"Yah, gue gak bisa Steve." Yuki menyesal untuk itu. "Kan, besok kita udah mulai belajar. Sorry ya."
"Oh ya udah, gak apa-apa. Biar gue sendiri aja." Steve memaksakan senyum.
Yuki bisa melihat rona kekecewaan dari wajah Steve, saat mendapat jawaban penolakan itu dari Yuki. Tapi Yuki tetap tidak bisa ikut. Yuki hanya berdoa, semoga tidak terdapat sesuatu yang buruk dengan kesehatan Steve.
Adit dan Dinda terus saja latihan di ruang musik., untuk penampilan mereka di kafe besok malam. Karena dalam satu minggu, Adit dan Dinda hanya bernyanyi selama tiga hari saja. Yaitu hari senin, rabu, dan sabtu.
"Nanti nyanyi lagu apa ya, Dit?" Dinda nampak bingung.
"Asal jangan lagu-lagu yang galau aja." Adit tertawa.
"Kalo gitu gue mau nyanyiin lagunya Raisa yang Could it be aja." Dinda melirik Adit.
"Oke. Lagu itu bagus." Adit setuju. "Kalo gitu, sekarang kita latihan dulu."
***
Seperti biasa, setiap pulang sekolah, empat sahabat ini selalu berkumpul di taman bunga dekat sekolah. Tapi hari ini, langit sangat mendung.
"Kok langitnya mendung." Dinda menatap sedih pada langit itu.
"Kayaknya bakalan hujan deh." terka Adit. "Kalo pulang sekarang, kita bisa kehujanan dijalan."
"Kita duduk di kursi-kursi tenda itu aja yuk." ajak Yuki.
"Yuk!" Steve berlari menuju tenda itu, sambil merangkul Yuki.
Tak lama kemudian, hujanpun turun.
"Din, liat deh." Adit menunjuk pada dedaunan yang basah tersiram air hujan. "Daunnya keliatan seger banget ya, kalo lagi disiram air hujan gitu."
"Iya." Dinda mengangguk, sambil menatap pada dedaunan yang ditunjuk Adit.
"Iya." Dinda mengangguk, sambil menatap pada dedaunan yang ditunjuk Adit.
"Abis hujan nanti, langit lo pasti akan kembali biru lagi, Din." Adit tersenyum tipis. Dan Dinda membalas senyumnya.
"Pertanyaannya, kapan nih hujan berhenti." Steve nyeletuk. "Padahalkan udah sore, kita tuh mesti pulang."
"Sabar, Steve." Yuki memegang bahu Steve. "Nanti kalo hujan gak mau turun lagi, bisa kemarau negara kita."
Steve tersenyum malu. Satu jam berlalu, akhirnya hujanpun reda. Empat sahabat ini memutuskan untuk segera pulang, karena hari sudah semakin sore.
"Hei, lihat!" Steve menunjuk pada langit. "Ada pelangi."
"Eh iya." Adit menatap ke langit.
"Hujan dan pelangi itu, seperti perjalanan hidup pada setiap manusia." Dinda tersenyum, sambil menatap pada langit.
"Maksudnya apa, Din?" tanya Yuki.
"Hujan itu seperti cobaan bagi kehidupan." Dinda mulai menjelaskan. "Apapun yang terjadi, kita harus menghadapinya. Kita bisa berteduh untuk mencari aman, atau hujan-hujanan untuk menjalaninya. Dan ketika hujan itu reda, kita pasti akan mendapatkan hikmah berupa pelangi. Kita melihat keindahan pada akhirnya."
"Indah pada waktunya." Adit menyimpulkan.
"Hujan dan pelangi itu, seperti persahabatan." kini giliran Yuki yang bersuara.
"Maksudnya, Ki?" tanya Dinda.
"Rintikan hujan yang turun itu, seperti jutaan orang yang kita kenal dan menjadi teman." Yuki mulai menjelaskan. "Tapi pada akhirnya, hanya beberapa warna pada pelangilah yang benar-benar menjadi orang-orang terbaik yang kita sebut sahabat."
"Dalam jutaan, hanya beberapa yang benar-benar tulus." Steve menyimpulkan.
Mereka menatap langit, tersenyum, sambil berpegangan tangan. Alangkah indahnya sebuah persahabatan, bila selalu lengkap dan selalu bersama-sama.
"Hei, lihat!" Steve menunjuk pada langit. "Ada pelangi."
"Eh iya." Adit menatap ke langit.
"Hujan dan pelangi itu, seperti perjalanan hidup pada setiap manusia." Dinda tersenyum, sambil menatap pada langit.
"Maksudnya apa, Din?" tanya Yuki.
"Hujan itu seperti cobaan bagi kehidupan." Dinda mulai menjelaskan. "Apapun yang terjadi, kita harus menghadapinya. Kita bisa berteduh untuk mencari aman, atau hujan-hujanan untuk menjalaninya. Dan ketika hujan itu reda, kita pasti akan mendapatkan hikmah berupa pelangi. Kita melihat keindahan pada akhirnya."
"Indah pada waktunya." Adit menyimpulkan.
"Hujan dan pelangi itu, seperti persahabatan." kini giliran Yuki yang bersuara.
"Maksudnya, Ki?" tanya Dinda.
"Rintikan hujan yang turun itu, seperti jutaan orang yang kita kenal dan menjadi teman." Yuki mulai menjelaskan. "Tapi pada akhirnya, hanya beberapa warna pada pelangilah yang benar-benar menjadi orang-orang terbaik yang kita sebut sahabat."
"Dalam jutaan, hanya beberapa yang benar-benar tulus." Steve menyimpulkan.
Mereka menatap langit, tersenyum, sambil berpegangan tangan. Alangkah indahnya sebuah persahabatan, bila selalu lengkap dan selalu bersama-sama.
***
Steve mengendarai motornya, keluar dari rumah. Tapi dia tak menuju sekolah. Steve menuju Rumah Sakit, untuk menanyakan hasil cek kesehatannya dua hari lalu.
Steve mengetuk pintu sebuah ruangan. Lalu masuk, begitu dipersilahkan. Disana, omnya yang adalah seorang dokter, sudah menunggunya.
"Selamat pagi, om." Steve menyalami tangan omnya.
"Pagi, Steve." sahut om Dokter, sembari mempersilahkan Steve duduk.
"Gimana hasil cek kesehatan saya, om?" tanya Steve to the point. "Saya sehat kan?"
"Steve." panggil om Dokter, serius. "Om sudah mencurigai ini sejak dulu. Makanya, om memintamu untuk mengikuti cek kesehatan."
"Memangnya ada apa, om?" tanya Steve penasaran.
"Kamu menderita komplikasi hati, Steve." om Dokter tertunduk lesu.
"Apa?" Steve terkejut. "Lalu bagaimana, om?"
"Kamu harus menjalani transplantasi hati, Steve."
"Kalau tidak?" tanya Steve ragu.
"Kamu tidak akan bisa bertahan hidup." om Dokter menatap sedih pada Steve.
"Maksud om, saya akan meninggal?" Steve menyimpulkan.
"Om akan berusaha mencari donor hati untuk kamu, Steve." janji om Dokter.
"Tapi itukan gak mudah, om." Steve pesimis.
"Om akan berusaha." ujar om Dokter tegas.
"Om akan berusaha mencari donor hati untuk kamu, Steve." janji om Dokter.
"Tapi itukan gak mudah, om." Steve pesimis.
"Om akan berusaha." ujar om Dokter tegas.
Om dokterpun tertunduk sambil menahan tangis, sementara Steve masih tetap tegar.
***
Jam istirahat pertamapun tiba. Tapi Yuki, Dinda, dan Adit belum melihat keberadaan Steve. Seharusnya, dia sudah kembali dari Rumah Sakit sejak tadi. Yuki sudah berusaha menghubunginya, tapi ponsel Steve tidak aktif. Dinda juga sudah menelepon kerumahnya, tapi menurut pembantunya, Steve sudah berangkat ke Rumah Sakit sejak tadi pagi.
"Aduh, Steve kemana sih?" Yuki semakin khawatir.
"Steve tuh gak pernah kayak gini sebelumnya." Dinda merasa aneh.
"Berarti ada yang gak beres sama Steve." Adit menyimpulkan.
"Mungkin gak ya, kalo dia pergi ketaman bunga?" Yuki melirik Adit dan Dinda.
"Gimana kalo kita cek aja?" usul Adit.
"Gue setuju." angguk Dinda mantap.
"Kalian gak berniat bolos kan?" Yuki curiga.
"Masa lo gak mau berkorban demi sahabat sih, Ki." bujuk Adit.
"Huh!" Yuki berpikir sebentar. "Ya udah deh." ujar Yuki akhirnya.
Mereka bertigapun langsung keluar diam-diam dari sekolah, lalu pergi menuju taman bunga. Sesampainya disana, semua tampak sepi. Lalu Dinda melihat seorang anak laki-laki dengan seragam SMA Pelangi, berbaring dirumput.
"Lihat, deh!" Dinda meminta Yuki dan Adit untuk melihat kearah yang ditunjuknya.
"Kayak Steve, ya." Adit mengira-ngira.
"Itu beneran Steve, kali." Yuki langsung berlari menuju anak laki-laki yang sedang berbaring itu.
Setelah didekati, ternyata itu memang Steve. Dia sedang teridur.
"Ya ampun nih anak." Yuki mengeleng-gelengkan kepalanya. "Dicariin kemana-mana, ternyata malah enak-enakkan tidur disini."
"Woi Steve, bangun lo." teriak Adit.
"Steve, bangun." Dinda menggoyang-goyangkan tubuh Steve.
Akhirnya Stevepun bangun.
"Apaan sih kalian?" Steve membenarkan posisi tidurnya. "Gangguin gue tidur aja."
"Kebangetan ya nih anak. Steve!" Dinda menarik tangan Steve, untuk menyuruhnya bangun.
"Ada apa sih?" teriak Steve, kasar.
"Kenapa lo gak kesekolah?" tanya Adit.
"Gak disuruh masuk sama pak satpam." jawab Steve sekenanya.
"Kenapa handphone lo gak aktif?" tanya Yuki.
"Baterainya abis." jawab Steve santai.
Sikap Steve yang seperti ini, membuat Adit curiga. Adit berencana akan menyelidikinya nanti.
"Ya udah, balik kesekolah yuk." ajak Yuki.
"Gue gak mau." tolak Steve, tegas.
"Kenapa, Steve?" tanya Dinda.
"Gue mau disini aja, sama lo semua." Steve tersenyum lembut.
"Lo aneh, Steve." komentar Adit.
Meski merasa bahwa permintaan Steve ini sangat aneh, mengingat Steve adalah anak yang anti bolos, tapi Dinda masih bisa memakluminya. Sementara Yuki, meskipun tidak suka dengan keputusan Steve untuk bolos, tapi dia menurutinya juga.
-to be continued-

I will wait for the next story
ReplyDelete