Monday, January 9, 2012

I LOVE YOU, KAK LANGIT



Alvin yg adalah seorang anak berumur 13 tahun, jatuh cinta pada Langit yang adalah anak SMA kelas 2 yang berumur 16 tahun. Usia Alvin yang belum seharusnya merasakan cinta, membuat Robin bingung dibuatnya. Karena Alvin jatuh cinta pada pacarnya, yaitu Langit. Sebagai kakak Alvin, Robin tidak ingin Alvin sakit hati. Karena itu, Robin membiarkan saja Alvin untuk dekat dengan Langit.

Alvin pertama kali jatuh cinta pada Langit, saat dia melihat Langit yang mengantarkan adiknya yang bernama Bintang kesekolah. Bintang adalah adik Langit yang berada satu sekolah dengan Alvin.

Tapi akhir-akhir ini, Robin menjadi sangat kesal pada perlakuan Alvin pada Langit. Setiap Langit datang kerumah mereka, Alvin selalu menyambutnya dengan berkata "I Love You, Kak Langit" sambil memeluk dan mencium pipi Langit. Langit tidak mampu berbuat apa-apa. Karena bila ia menolak apalagi marah akan perlakuan Alvin kepadanya, Alvin bisa sakit hati. Dan Langit tidak mau Alvin sakit hati dikali pertamanya jatuh cinta.

"Kamu cemburu?" tanya Langit pada Robin sore itu, saat mereka sedang makan bersama di sebuah Kafe.
"Ya ngga sih. Cuma risih aja liat pacar Aku di gituin." jawab Robin cemberut.

Tapi Langit malah tertawa. "Ayolah Bin, Alvin itu masih anak kecil. Dan ini pasti cuma Cinta Monyetnya doang. Nanti juga dia bakal nyadarin dan akan ngelupain perasaan dia sama Aku." katanya.

"Iya sih. Tapi kenapa coba, dia harus jatuh cintanya sama kamu? Padahalkan dia tau sendiri kalo Kamu itu pacar Aku." Robin masih tetap kesal.
"Jatuh cinta kan bisa sama siapa aja. Dan Aku juga mana tau kalo Alvin jatuh cintanya sama Aku." Langit berusaha untuk meyakinkan Robin.

Hari ini Langit akan menjemput Bintang disekolahnya. Dan Robin juga akan menjemput Alvin. Akhirnya mereka memutuskan buat makan siang sama-sama setelah menjemput kedua adik mereka.

Sampai di Restoran tempat mereka akan makan siang, Alvin segera mengambil tempat untuk duduk di sebelah Langit.

"Alvin, kok Kamu duduk disitu sih? Itukan tempat Aku." kata Bintang.
"Kamu duduk di sebelah Kak Robin aja deh. Biar Aku duduk disini." bujuk Alvin.
"Ngga mau ah. Kan yang Kakak aku itu, Kak Langit. Bukan Kak Robin. Kak Robin kan Kakak kamu, jadi kamu aja gih yang duduk disebelah dia." paksa Bintang.
"Iya, Vin. Kamu duduk sini aja sama Kakak. Biar Bintang yang duduk sama Kak Langit." Robin juga ikutan membujuk Alvin.
"Ah, ya udah deh." Akhirnya Alvin mengalah dan membiarkan Bintang yang duduk di sebelah Langit.

Setelah makan siang bersama, mereka pulang. Langit pulang bersama Bintang, dan Robin pulang bersama Alvin. Mereka pulang kearah yang berbeda.

Besoknya disekolah, Alvin menghampiri Bintang dikelasnya.

"Hai, Bintang." sapanya.
"Alvin, mau ngapain Kamu kesini?" tanya Bintang, sedikit curiga.
"Kamu kan adiknya Kak Langit. Mau ga aku mintain tolong buat ngasi surat ini sama Kak Langit?" Alvin menyerahkan sepucuk surat dengan amplop berwarna Pink pada Bintang.
"Surat apaan nih?" tanya Bintang sambil memperhatikan surat itu.
"Ada deh, mau tau aja. Pokoknya jangan lupa ngasihin surat ini ke Kak Langit ya." pinta Alvin.
"Ini surat cinta ya, Vin?" Bintang masih penasaran.
"Mungkin bisa dibilang begitu." jawab Alvin ragu.
"Wah keren. Boleh aku baca ga, Vin?" tanya Bintang.
"Eh, mana boleh. Itu surat kan buat Kak Langit, bukan buat kamu." jawab Alvin ketus.
"Ih, tapi kan aku pengen tau isinya, Vin. Ayolah. Boleh ya?" bujuk Bintang.
"Ngga boleh!"

Jawaban Alvin itu membuat Bintang menyerah dan memutuskan untuk mengabulkan permintaan Alvin untuk menyampaikan surat itu pada Kakaknya, Langit.

Sepulangnya Langit sekolah, Bintang segera menghampiri kamarnya untuk memberikan surat dari Alvin itu.

"Kak, ini ada surat buat Kakak." Bintang memberikan surat itu pada Langit.
"Surat? Dari siapa, dek?" tanya Langit bingung.
"Dari Alvin." jawab Bintang, yang kemudian pergi meninggalkan kamar Langit.

Langitpun segera membuka surat itu dan kemudian membacanya.

Didalam surat itu, Alvin menyatakan semua perasaannya pada langit. Dengan kata-kata polosnya yang membuat Langit tertawa membacanya. Alvin juga memberi pesan dalam surat itu, meminta Langit untuk menemuinya ditaman, sore ini.

Langit tak memberi tau Robin tentang surat itu dan tentang kebersediaannya untuk datang menemui Alvin ditaman pada sore ini.

Pukul empat, Langit segera beranjak pergi untuk menemui Alvin.

"Kakak mau kemana?" tanya Bintang.
"Mau jalan-jalan bentar ketaman." jawab Langit yang kemudian langsung pergi.

Sesampainya di taman, Langit melihat Alvin sudah menunggu di bangku taman. Dan Langit langsung menghampirinya.

"Selamat sore, Alvin." sapa Langit.
"Selamat sore, Kak Langit." Alvin membalas sapaan Langit dengan lembut.
"Ada apa kamu ngajakin Kakak kesini?" tanya Langit.
"Kak Langit udah baca surat Alvin?" Alvin tampak gusar.
"Udah." jawab Langit.
"Jadi gimana Kak?" tanya Alvin lagi.
"Gimana apa, Vin?" Langit belum mengerti maksud Alvin.
"Tentang surat itu." Alvin tak sabar mendengar jawaban Langit.
"Oh, suratnya bagus. Kamu berbakat bikin surat cinta. Lain kali, kamu ajarin Kak Robin ya. Soalnya dia payah banget kalo disuruh bikin yang begituan." jawaban Langit membuat Alvin kesal.
"Kakak lagi mempermainkan aku ya?" Alvin marah. "Jadi Kakak anggap, surat itu cuma mainan? Kak Langit jahat banget tau ga. Kakak pikir, perasaan aku ke kakak itu ga serius? Aku serius, Kak. Aku cinta sama Kak Langit."
"Tapi itu ga mungkin Alvin. Kamu itu masih kecil. Dan kamu juga tahu sendiri kan, kalo kakak itu pacarnya Kak Robin." Langit mencoba memberi pengertian pada Alvin.

Tapi Alvin tak bisa menerima. Dia sangat marah pada Langit, dan kemudian lari pergi meninggalkan Langit. Langitpun lalu mengejarnya, untuk tetap memberi pengertian pada Alvin.

Tapi disaat Alvin akan menyebrang jalan, sebuah mobil hampir menabrak Alvin. Untunglah Langit segera mendorong tubuh Alvin ke pinggir jalan. Dan Langitlah yang menjadi korban tabrakan itu.

"Kak Langiiitttt!" Alvin berteriak sangat keras saat melihat tubuh Langit yang terkulai berlumuran darah.

Robinpun datang dan mendapati Langit yang sudah terkapar tak berdaya. Dia yang dibantu oleh orang-orang disitu, menggotong Langit kemobilnya dan segera membawa Langit kerumah sakit. Robin mengetahui bahwa Langit ada ditaman, dari Bintang. Dan Alvin hanya terdiam dipinggir jalan itu.

Sudah dua minggu setelah kejadian itu, Langit belum juga sadar dari komanya. Selama itu, Alvin tidak pernah berani menampakan mukanya untuk menjenguk Langit. Alvin benar-benar merasa bersalah. Sedangkan Robin selalu setia disamping Langit, untuk merawatnya dan menemaninya disetiap hari-hari Langit terbaring dirumah sakit.

Satu bulan berlalu, Langit belum juga siuman. Akhirnya Dokter dan Keluarga Langit sepakat untuk membawa Langit berobat ke Australia. Dan Robin memutuskan untuk ikut. Dia akan meneruskan SMA nya disana. Semua keluarga Langit ikut, kecuali Bintang. Dia ingin tetap disini. Alvin tak mengetahui tentang rencana itu, sampai hari keberangkatan mereka ke Australia. Bahkan, untuk menatap Langit seperti dulupun, Alvin tak mampu.

Dua tahun berlalu. Akhirnya Langit dan Robinpun kembali. Dan kini langit sudah sembuh seperti sedia kala. Sekarang Alvin sudah menjadi anak SMA. Langitpun memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya yang dulu tertunda. Alvin dan Langit berada dalam satu sekolah. Awalnya, Alvin masih takut untuk menemui Langit. Tapi Langit berusaha memberi pengertian. Dan Alvin menyetujui jika mereka menjadi teman.

Alvin sudah bisa memahami dan mengerti akan perasaan Langit. Dia sadar bahwa apa yang dulu dia rasakan itu memang hanya cinta monyet. Tidak sama seperti besarnya cinta Robin untuk Langit yang selama dua tahun ini begitu setia menjaga dan menemani Langit melewati hari-harinya yang berat.

"I Love You, Kak Langit." Langit terkejut mendengar kata-kata Alvin itu. "Tapi aku sadar, kakak bukan untukku. Dan seseorang telah menyadarkanku, bahwa cinta bukan sekedar kata "I Love You" tapi lebih kepada sejauh mana kau bisa menjaga cinta itu agar dia tak sakit. Agar dia bisa merasa nyaman, menjadi bagian dari perasaanmu."
"Siapa orang yang udah menyadarkan kamu itu?" tanya Langit.
"Bintang." jawab Alvin.



-END-

No comments:

Post a Comment