Thursday, January 26, 2012

RIKI BUKAN RIKO



Kesedihan Swita belum juga berakhir disatu bulan meninggalnya Riko. Riko adalah pacar Swita sejak mereka sama-sama kelas 2SMP. Sudah dua tahun lebih Swita dan Riko berpacaran. Satu bulan yang lalu, Riko meninggal karena penyakit Leukimia yang dideritanya sejak dua tahun belakangan. Swita tak pernah tahu kalau Riko menderita Leukimia. Sampai saat Riko meninggal dunia, orang tua Riko akhirnya mengatakan tentang penyakit Riko itu pada Swita.

"Kami mohon maaf, Swita." kata Mama Riko sambil menahan tangis. "Sebenarnya Riko mengidap Leukimia sudah cukup lama."
"Riko ga pernah bilang kalo dia mengidap Leukimia, Tante." akhirnya tangis Swita pecah. "Padahal kita udah pacaran lama."
"Sebenarnya tante mau bilang ini ke kamu, Ta. Tapi Riko melarangnya." Mama Riko memeluk Swita. "Katanya, dia ga mau kamu sedih." tambahnya.

Sejak hari meninggalnya Riko, Swita menjadi sering uring-uringan dan suka melamun. Selama satu bulan meninggalnya Riko, setiap hari sabtu, Swita selalu mengunjungi makam Riko. Entah sudah berapa banyak air mata tumpah di tanah makam Riko yang keluar dari mata Swita. Begitu hancurnya hati Swita saat menerima kenyataan bahwa orang yang sangat berarti untuknya itu, ternyata harus pergi selamanya. Bahkan Swita telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa tak seorangpun bisa menggantikan posisi Riko dihatinya.

Suatu hari, Swita datang kerumah Riko untuk mengunjungi ibu Riko. Swita mengetuk pintu rumah itu. Dan seseorang membuka pintu itu. Swita terkejut melihat siapa yang membukakan pintu untuknya. Seorang laki-laki yang wajahnya sudah tidak asing lagi bagi Swita.

"Riko!" tanpa sadar Swita menyebut nama itu.

Laki-laki yang tadi membukakan pintu untuk Swita itu, hanya terdiam menatap Swita. Kemudian Ibu Riko datang.

"Swita, ayo masuk!" Ibu Riko mempersilahkan Swita masuk. Swita hanya terdiam dan terus menatap wajah laki-laki itu.
"Tante, dia siapa?" tanya Swita tanpa memalingkan tatapannya dari laki-laki itu.
"Loh, memangnya Riko ga pernah bilang tentang Riki?" Ibu Riko balik bertanya.
"Riki? Riko ga pernah cerita apapun sama Swita, Tante." Ibu Riko terdiam mendengar jawaban Swita.
"Emm begini Swita." Ibu Riko mulai bercerita. "Sebenarnya Riko punya saudara kembar, namanya Riki. Tapi Riki ini, sejak umur sepuluh tahun, sudah ikut tinggal dengan Omanya di Melbourne. Dan seminggu yang lalu, Oma meninggal. Jadi Riki kembali ke Indonesia. Sekalian menjenguk tante dan melihat makam Riko."
"Jadi kamu yang namanya Swita?" tanya Riki tiba-tiba.
"Lo tahu gue?" Swita sedikit terkejut mendengar pertanyaan Riki.
"Riko sering cerita tentang kamu sama aku, setiap aku dan dia chatting atau telfonan." jawab Riki.
"Ternyata banyak banget ya, hal yang ga gue tahu tentang Riko. Kenapa sih, hidup dia tuh penuh rahasia banget?" Swita terlihat kesal.
"Aku juga ga ngerti kenapa Riko mgerahasiain ini ke kamu. Tapi aku yakin Riko punya alasan untuk ini semua."

Riki sangat berbeda dari Riko. Riki adalah laki-laki yang ramah dan lembut. Sedangkan Riko adalah laki-laki yang sangat cuek, tapi begitu menyayangi Swita. Entah kenapa, saat melihat Riki, Swita langsung merasa suka. Mungkin karena wajah riki yang sangat mirip dengan Riko.

Hari-hari berikutnya, Riki dan Swita melawati waktu bersama. Riki meminta Swita untuk mengantarnya berjalan-jalan keliling kota Jakarta. Swita sudah kembali ceria seperti dulu, sejak pertemuannya dengan Riki.

Satu bulan berlalu, Riki harus kembali ke Melbourne untuk menyelesaikan pendidikan SMA nya yang masih tersisa satu tahun disana.

"Riki, aku mohon kamu jangan kembali ke Melbourne."
"Maaf Swita. Tapi aku harus kembali kesana. Untuk menyelesaikan study aku."
"Kenapa kamu ga pindah sekolah disini aja?"
"Prosesnya ribet, Ta."
"Aku ga mau kehilangan Riko buat yang kedua kalinya. Please jangan pergi, Riki."
"Apa maksud kamu?"
"Aku bisa kembali ceria karna kamu. Aku merasa, kamu adalah Riko aku. Dan aku ngerasa bahagia ngejalanin hari-hari sama kamu yang wajahnya mirip Riko. Jadi kalo kamu pergi, maka aku akan kehilangan Riko."
"Jadi kamu mau jalan sama aku, cuma karena wajah aku mirip Riko?"
"Iya. Sampai kapanpun, aku akan tetap menganggap kamu sebagai Riko aku."
"Kamu itu sama aja kayak Mama tau ga. Selalu menganggap aku ini Riko. Mama selalu memberikan aku semua hal yang disukai Riko. Padahal aku adalah Riki. Aku bukan Riko. Dan aku ga mau jadi bayang-bayang Riko. Aku nyesel datang ke Indonesia, tau ga."

Riki segera pergi setelah berbicara seperti itu pada Swita. Dan Swita menjadi sangat merasa bersalah akan itu semua. Dia berusaha untuk meminta maaf pada Riki di keesokan harinya. Tapi dia sudah terlambat. Riki sudah pergi ke Bandara, dan akan segera kembali ke Melbourne. Swita menceritakan semua yang dialaminya kemaren pada Ibu Riko. Dan Ibu Riko juga menjadi sangat merasa bersalah karna selalu menganggap Riki adalah Riko.

Setahun berlalu. Swita sesekali datang kerumah Riko untuk menanyakan tentang kabar Riki pada Ibunya. Tapi ternyata Riki tidak pernah memberi kabar, sejak hari kepergiannya kembali ke Melbourne. Swita semakin merasa bersalah dibuatnya.

Suatu hari, Swita mencoba mengikuti saran teman-temannya untuk chatting. Siapa tahu, bisa sedikit mengurangi beban perasaan dihatinya. Dan benar saja. Swita chatting dengan seseorang yang tak dia kenal, Swita menceritakan semua masalahnya pada orang itu. Termasuk masalah pada hatinya yang telah jatuh cinta pada kembaran pacarnya.

Sampai pada suatu ketika, mereka memutuskan untuk bertemu. Atau bahasa kerennya itu adalah Kopi Darat. Swita pun menyetujuinya. Dan mereka berjanji bertemu disuatu tempat. Swita begitu bersemangat untuk hari pertemuannya itu. Dalam hatinya tersirat, bahwa mungkin sudah saatnya dia melupakan Riko juga Riki, dan memulai hidupnya yang baru.

"Swita!" seseorang memanggil nama Swita. Swita pun langsung menoleh. Ternyata, yang memanggilnya itu adalah teman chatting-nya.
"Riki!" Swita begitu terkejut saat melihat wajah orang yang selama ini menjadi tempat curhatnya.
"Kok Riki? Aku pikir, pas kamu liat aku, kamu bakal sebut aku Riko." goda Riki.

Swita hanya tersenyum dan kemudian memeluk Riki. "Setahun ini, aku belajar untuk tidak terus terpuruk dengan kematiannya Riko. Aku sadar kalau Riko sudah meninggal. Dia ga mungkin lagi kembali."
"Lalu menurut kamu, siapa orang yang ada di depan kamu ini?" tanya Riki.
"Orang yang ada di depan aku ini, adalah orang yang aku cintai. Dia adalah Riki." Riki tersenyum mendengar jawaban Swita.
"Bukan Riko?" tanyanya lagi.
"Kamu Riki, kamu bukan Riko. Riko adalah masa lalu aku. Dan Riki adalah masa depan aku."



-END-

No comments:

Post a Comment