Saturday, February 25, 2012

APA YANG KAU RASA?




Sudah hampir dua tahun,  Lila memendam perasaannya pada Rio. Tapi dia tidak mampu mengatakannya. Selain karena mereka berdua sahabat dan Lila tidak ingin merusak persahabatan itu. Lila juga selalu merasa, dia tidak pantas menjadi pendamping Rio. Tapi Lila sungguh ingin tahu apa perasaan yang tersimpan dihati Rio.
Meskipun dihatinya menyimpan tanya besar, Lila tetap enggan untuk menanyakan kepastiannya. Mereka sahabat. Tapi Lila merasa, Rio juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. Rio mungkin juga mencintainya. Tapi terkadang, perlakuan Rio membuyarkan perkiraannya itu. Rio bisa saja tiba-tiba memberikan perhatian dan seperti menginginkan Lila. Tapi diwaktu yang lain, tiba-tiba saja Rio bersikap dingin dan bertingkah seperti orang yang tak pernah mengenal Lila. Lila jadi bingung dibuatnya.
Suatu malam, lagi-lagi Rio membuat Lila bagai terbang diawang kebahagiaan. Sms dari Rio tiba-tiba datang. Rio menanyakan kabar Lila, menanyakan apa yang kini sedang Lila lakukan dirumah. Dan di akhir sms mereka, Rio menyuruh Lila agar segera tidur dan mengucapkan kata-kata indah.
Tapi keesokan harinya.
“Hai Rio.” Lila menyapa Rio dan duduk disebelahnya.
“Hai.” Wajah Rio tak tampak senang saat menerima sapaan dari Lila.
“Semalem..” Lila belum sempat melanjutkan ucapannya.
“Gue mau kekantin dulu.” Rio pergi begitu saja meninggalkan Lila.

Saat jam pelajaran berlangsung, Rio datang menghampiri meja Lila, dan duduk dibangku sebelahnya.

“Gue boleh gabung kan?” tanyanya dengan ramah.
“Boleh.” Lila masih tak habis pikir dengan hati orang yang saat ini berada disebelahnya. Dia menatap wajah itu lekat-lekat. Benarkah orang yang berada disampingnya ini adalah Rio Prasetyo. Bagaimana mungkin ada orang yang selalu berubah setiap waktunya. Apakah Rio sedang mencoba bermain dengan hati Lila?

“Rio.” Kali ini Lila benar-benar sudah tidak tahan. Dia harus menanyakan apa yang ingin dia tahu.
“Ssttt.” Rio menaruh jari telunjuk dibibirnya. “Jangan berisik. Nanti pak Anto marah.”

Lagi-lagi Lila harus menyimpan pertanyaan dihatinya. Ataukah, tuhan memang tak mengizinkan Lila untuk menyatakannya? Atau tuhan tak mau Lila sakit hati, jika nanti Lila tahu bahwa jawabannya memang tidak sesuai dengan keinginan Lila?

Bel istirahat pertama berbunyi. Lila enggan mengikuti ajakan teman-temannya untuk pergi kekantin. Dia memilih tetap dikelas. Menulis sesuatu pada bukunya. Entah apa yang akan dia tulis. Tapi saat ini, Lilapun benar-benar tidak sedang ingin berpikir. Berpikir hanya akan membuatnya bertambah bingung dengan perasaan Rio.

Dan yang sedang tidak ingin dipikirkan itu pun datang.
“Hai, Lila.” Sapa Rio dengan ramah.
“Rio.” Lila menarik nafas berat. Mengapa lagi-lagi Rio mengacaukan suasana hatinya. “Ada apa?”
“Ada yang mau gue omongin nih sama lo.” Tatapan Rio begitu dalam. Itu menunjukan bahwa dia serius dengan apa yang akan dia katakan.
“Apa?” Lila memaksakan bertanya. Tapi sebenarnya dia enggan untuk mendengarkan apa yang akan Rio katakana padanya.
“Gue..” Rio diam sejenak. “Sebenernya, gue..”

Rio menatap Lila. Dan tatapan itu membuat Lila menjadi salah tingkah.

“Gue sakit kanker.” Rio tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan hal itu. Dia merasa senang, karena sudah sukses mengelabui Lila. Tapi Lila masih berusaha untuk tenang.
“Amin.” ujar Lila santai.
“Hah!” Rio terkejut mendengarkan penuturan Lila. “Yah, La. Jangan ngomong gitu dong. Gue kan Cuma bercanda.”
“Bercadaan lo sama sekali gak lucu.” Lila jengah, dan memilih untuk pergi meninggalkan Rio.

Lila tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Mengapa Rio selalu membuatnya galau? Apa yang sebenarnya ada didalam hati Rio? Bagaimanapun, Lila tidak suka dipermainkan seperti ini.

***
Keesokan harinya. Lila bertambah heran. Hari ini, Rio jarang terlihat dikelas. Tidak ada yang tahu dimana dia. Lila hanya melihatnya saat dikelas, pada jam pelajaran. Tapi setelah itu, Rio hilang entah kemana. Tapi Lila tak mau memikirkan hal itu. Setidaknya, Rio sudah memberinya kesempatan untuk membuang perasaan cinta Lila padanya.

Saat jam pulang sekolah, Lila berjalan pelan menuju gerbang sekolah. Dia akan menunggu ayah menjemputnya, seperti biasa. Seluruh siswa sudah hampir habis, meninggalkan sekolah. Dan Lila melihat sosok yang paling dicintainya itu, melaju dengan motornya bersama seorang gadis yang Lila tahu adalah adik kelas mereka. Lila terkejut. Tapi dia tetap mencoba untuk tegar.

Tapi keesokan harinya, pemandangam itu kembali terjadi didepan mata Lila. Rio bersama gadis itu lagi. Gadis itu adalah Tammy. Gadis manis, pintar dan sangat ramah. Lila tak pernah tahu, bahwa gadis itulah yang menjadi impian Rio selama ini. Apakah ini artinya, Lila sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya selama ini tentang perasaan Rio. Lila tersentak. Air matanya hampir jatuh. Dan Lila sekuat tenaga menahannya.

Hari ini, Lila tampak tak bersemangat untuk masuk kesekolah. Ia hanya diam. Duduk menyendiri. Berfikir sampai kepalanya pusing. Dan lagi-lagi, Rio datang. Andai dia bisa bertanya. Andai dia bisa memohon. Mungkin sekarang ini, Lila akan meneriakan semua uneg-unegnya.

“Hai, La.” Rio duduk dibangku sebelah Lila.
“Hai.” Lila membalas sapaan itu dengantidak begitu semangat.
“Tumben, lo sendirian disini. Gak kekantin.” Rio memulai percakapan seperti biasanya.
“Males.” Lila menjawab sekenanya. “Lo sendiri, tumben ada disini. Gak sama Tammy.”
“Ehm, eh lo udah ngerjain tugas PKN belum?” Rio mengalihkan pembicaraan.
“Belum.” Lila mencoba tetap tenang.
“Ya udah. Kalo gitu gue mau kekelas aja. Mau ngerjain tugas.” Rio pergi meninggalkan Lila. Selalu begitu. Dan Lila tahu, dia memang harus memaklumi sifat Rio yang seperti itu. Pada semua orang? Tidak! Rio hanya berprilaku seperti itu pada Lila. Entah mengapa? Dan karena itulah, Lila sangat ingin mengetahuinya.

Beberapa kali setiap Lila membahas tentang Tammy. Rio selalu mengalihkan pembicaraan. Enggan untuk membahas tentang Tammy, bila sedang bersama Lila. Begitulah seterusnya, sampai Lila lupa, kapan terakhir kali dia bisa berbicara sedekat itu dengan Rio. Lila tak tahu kapan terakhir kali dia saling menyapa dengan Rio. Rio semakin menjauh, setelah dia memiliki Tammy. Tapi selalu menghindar setiap Lila membahas Tammy.

Mereka sudah bukan seperti sahabat lagi. Bahkan benar-benar seperti orang yang tak pernah saling mengenal. Diakhir masa SMA, Rio dan Lila benar-benar berpisah. Mungkin Rio sudah memiliki jalannya yang lain. Tapi Lila tahu, hingga saat ini, Tammy masih tetap berada disisi Rio. Mereka masih sepasang kekasih. Dan Lila masih memendam rasa itu. Dia selalu akan mencintai Rio, sampai dia tahu apa perasaan Rio yang sebenarnya. Sedangkan Rio akan selalu mencintai Tammy. Yang begitu berharga dan sangat disayangi oleh Rio.

Suatu hari, setelah hampir satu tahun tak bertemu setelah hari perpisahan sekolah waktu itu. Lila bertemu dengan Rio kembali. Rio melihatnya, tapi enggan untuk menyapa Lila. Lila hanya tersenyum. Lila tahu perasaannya pada Rio tak pernah berkuang, apalagi hilang. Tapi hari ini, Lila akan menyapanya sebagai seorang sahabat. Bukan sebagai seseorang yang sangat mencintai Rio.

“Hai. Rio.” sapa Lila seramah mungkin. “Apa kabar?”
“Hai, La.” Rio membalas sapaan Lila dan memaksakan senyum. “Gue baik. Lo sendiri?”
“Hem, iya. Sama. Gue juga baik.” Lila berusaha tenang.
“Ga nyangka ya, udah hampir satu tahun kita gak ketemu.” katanya mencoba tetap ramah.
“Tepatnya sembilan bulan.” Lila tertawa renyah. Rio juga. Mereka berusaha membuat nyaman suasana.
“Kalo ibu-ibu hamil, mungkin sekarang udah waktunya lahiran yah?” Rio mencoba memulai lagi candanya yang dulu. Yang selalu dia lakukan untuk membuat Lila tertawa.

Dan benar saja, Lila kini bisa tertawa lepas. Seperti dulu. Dan Rio bahagia melihatnya.

“Tammy apa kabar?” Lila menanyakanpertanyaan yang paling dihindari Rio.
“Lo tambah cantik ya, sekarang.” Lagi-lagi Rio mengalihkan pembicaraan. “Pasti udah punya pacar ya?”
“Makasih.” Lila hanya tersenyum. “Tapi sampai saat ini, gue masih jomblo.”
“Nanti juga lo pasti bakal ngedapetin cowok yang bener-bener lo sayang dan sayang sama lo.” Kata-kata Rio adalah jawaban yang cukup untuk Lila.

Iya. Rio memang pernah mencintai Lila. Tapi itu dulu. Rio tidak pernah bisa mengatakannya pada Lila. Hanya Lila yang bisa membuatnya begitu gugup. Tapi sekali lagi, itu dulu. Sekarang Rio sudah mempunyai Tammy. Orang yang sangat dicintainya. Tapi dia takut Lila terluka karena itu. Jadi Rio tak pernah bisa membahas Tammy didepan Lila.

“Terima kasih.” Lila tersenyum lega. “Meskipun terlambat mengetahuinya. Tapi aku bahagia, karena kini, aku tahu apa yang kau rasa."

-END-

No comments:

Post a Comment