Kisah hidup Kiran adalah inspirasi bagi semua cerpen dan puisi yang dibuatnya. Kiran bercita-cita menjadi seorang penulis, yang nanti tulisannya bisa menjad motivasi dan pembelajaran untuk orang lain.
Kiran hidup disebuah desa terpencil bernama Desa Mimpi. Bagi semua orang yang tinggal di desa Mimpi, cita-cita dan harapan memang hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang tak pernah jadi kenyataan. Tak ada seorangpun yang mampu bercita-cita seperti Kiran.
Ayah Kiran bahkan pernah mengatakan pada Kiran bahwa "Bagi setiap manusia yang terlahir didesa ini, cita-cita dan impian itu hanyalah sebuah mimpi". Namun perkataan itu, tak pernah dihiraukan Kiran. Kiran terus optimis dan berusaha keras untuk menggapai cita-citanya. Kiran berusaha untuk memotivasi teman-temannya yang lain, agar tak putus asa dan terus berusaha mewujudkan mimpi mereka.
"Eh Kiran, mimpi kamu itu udah ketinggian. Kalo gak kesampaian, nanti kamu bisa jadi gila!" bentak Vita sahabatnya, dengan kasar.
Kiran tak memperdulikan ucapan Vita. Dia terus saja menulis cerpennya yang hampir selesai. Semua kisah hidupnya, bahkan kisah tentang Desa Mimipi yang terkadang amat kejam memupuskan mimpi banyak orang yang ada didalamnya. Bersama buku Hijau tebal pemberian ibunya saat hari ulang tahunnya, Kiran mengukir kisah demi kisah. Buku itu selalu berada dalam genggaman Kiran, dimanapun ia berada.
Bertahun-tahun Kiran berusaha untuk mewujudkan cita-citanya. Namun cita-cita itu tak kunjung tergapai. Mimpi Kiran untuk menjadi penulis, seolah benar-benar hanya akan menjadi Mimpi belaka.
Kini kedua orang tua Kiran sudah meninggal. Usianya sudah menginjak 24 tahun. perlahan kiran mencoba melupakan cita-citanya. ia berhenti menulis. Dulu Kiran memiliki motto hidup "Cita-citaku, Masa Depan ku", dan sekarang pemikirannya tentang itu semua berubah buram. Kini dia beranggapan bahwa " cita-citaku, mimipi kosongku". Benarkah harapan didesa Mimpi, hanyalah sebuah Mimpi?
Kiranpun memutuskan untuk meninggalkan Desa mimpi dan pindah ke kota Pengwujud mimpi, yaitu kota Jakarta. Di Jakarta, Kiran menjalani hidup dalam bayang-bayang mimpi buruknya. Buku hijau yang berisi karya-karya memukau itu, kini sudah usang dan berdebu. sejak dua tahun lalu, buku itu tak pernah lagi ditulisi Kiran dengan karya-karyanya. ia sudah benar-benar membuang mimpinya.
namun pada suatu hari, entah mengapa Kiran kembali menuliskan sesuatu pada buku itu. Setelah menulis di beberapa lembar buku itu, Kiran segera menutupnya. dan membawa buku itu bersama dengannya. Kiran melangkah meninggalkan rumahnya, dan buku itu mengiringi langkah Kiran dlam genggamannya seperti dulu.
Kiran terus berjalan, menundukan kepalanya. Diwajahnya terlukis sebuah kelelahan yang sudah tidak bisa dia atasi. Tiba-tiba sebuah mobil yangmelaju kencang, menabrak tubuhnya. Tubuh itu kini lemah tak berdaya.
Satu minggu berlalu, Kiran tidur dalam ketenangan diranjang rumah sakit. Matanya enggan terbuka. seorang laki-laki duduk disampingnya sambil membaca lembar demi lembar, apa yang tertulis dibuku hijau milik Kiran. Laki-laki itu adalah Kevin, orang yang sudah menabrak KIran. Setelah lembar demi lembar dibaca Kevin, kini tibalah Kevin pada lembar yang terakhir. Lembar terakhir yang menjadi akhir dari cerita yang dimuat Kiran. Lembar yang hari itu, baru ditulis Kiran, setelah sekian lama ia melupakannya.
Dan disaat yang bersamaan, mata Kiran pun terbuka.
"Kiran!" sapa Kevin, sambil memegang tangannya.
Kevin segera memanggil Dokter. Sedang Kiran hanya diam. Matanya tertuju pada buku hijau miliknya.
"Hanya untuk kisah ini, aku mampu membuka mata." ucapnya dengan nada tersenggal-senggal.
Kemudian Kiran kembali menutup matanya, dan melepas genggamannya dari buku itu. Sekejap itu juga, Kiran menghembus nafas terakhirnya.
"Semoga kisah ini bisa menjadi motivasi bagi kita semua. Cita-cita bukanlah mimpi yang tak akan menjadi nyata, tapi cita-cita adalah sebuah mimpi untuk pembelajaran yang nyata." ucap Kevin pada Launching buku yang dibuat Kiran.
Setelah Kiran meninggal, Kevin memutuskan untuk mengirim Draft Novel Kiran ke Penerbit. Dan penerbitpun setuju untuk menerbitkan buku itu.
"Penulis buku ini sudah tiada." lanjutnya. "Tapi dia sangat berharap bahwa buku yang berjudul "Cita-citu, Masa depanku" ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Bahwa kita tidak perlu ragu untuk bercita-cita. Karena tak ada yang tak mungkin." tambah Kevin pada sambutannya.
Meskipun Kiran tak bisa hidup dalam masa depannya yang gemilang, namun dialam sana dia pasti tahu bahwa mimpinya kini telah menjadi kenyataan.
-END-

No comments:
Post a Comment