Dua Anak Baru
Sekarang rumahku penghuninya bertambah. Dulu, hanya ada aku, Papa, Mama, kak Yudha, dan kak Rangga. Kini sudah bertambah dengan datangnya tante Mery dan Devand. Dan pagi ini, kami sarapan pagi bersama.
"Anak-anak!" Papa menunjukan panggilan itu padaku dan kedua kakakku. "Nanti siang, Mama dan Papa akan pergi ke Singapore untuk urusan kerja. Jadi kalian akan dijaga sama tante Mery selama Mama dan Papa pergi."
"Berapa lama Mama dan Papa disana?" itu pertanyaan yang baru saja ingin aku ajukan, tapi sudah keduluan kak Yudha.
"Mungkin sekitar lima hari atau seminggu." Papa mengira-ngira.
"Yaaah, lama banget." rengekku, manja.
"Ga apa-apa sayang." Mama memelukku. "Kan ada tante Mery, kak Yudha, kak Rangga dan Devand yang bakal jagain kamu."
"Iya, Nay." tante Mery menimpali. "Tante akan jaga kamu kok."
Selesai sarapan, aku, kak Rangga, dan Devand, berangkat sekolah. Sementara kak Yudha akan berangkat kekampusnya. Tapi seperti biasa, aku berangkat bersama kak Yudha dengan menggunakan mobil. Sedangkan kak Rangga berangkat menggunakan motornya, bersama kak Andre. Hari ini ada yang berbeda didalam mobil kak Yudha, karena ada Devand disana.
"Vand, jangan diem aja dong. Ngobrol." kak Yudha membuka pembicaraan kami dimobil, pagi ini.
"Eh, iya kak. Tapi ngomongin apa ya?" Devand menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Gimana kalo lo ceritain soal sekolah lo yang di Batam, Vand?" kataku memberi topik.
"Oh itu. Apa ya, Nay. Perasaan, ga ada yang menarik deh dari kehidupan sekolah gue yang dulu." Devand masih tampak malu-malu untuk mengenal lebih jauh denganku dan kak Yudha.
"Ya udah, ga apa-apa." kak Yudha tersenyum tipis. "Udah nyampe nih sekolahannya. Jagain adek gue ya, Vand."
"Iya, kak." Devand segera keluar dari mobil. Aku juga.
Setelah mengantarku dan Devand, kak Yudha melajukan mobilnya kearah kampusnya.
"Yuk, Vand. Gue anter lo keruang kepala sekolah." ajak ku pada Devand.
"Ah iya." katanya. Dia sibuk memperhatikan setiap sisi lingkungan disekolah barunya. Bagaimanapun, disinilah nanti dia kan menunutut ilmu selama dua tahun lebih sisa masa SMA nya.
Aku mengantar Devand sampai kedepan ruang Kepala Sekolah. Dan setelah itu, aku melanjutkan langkah menuju kelas.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Semua siswa SMU ini, segera masuk kekelas masing-masing. Beberapa menit kemudian, Bu Murni masuk kekelas dengan membawa Devand dan seorang anak laki-laki lagi yang tak ku kenal. Dan ternyata, laki-laki itu juga adalah siswa baru seperti Devand. Mereka berdua disuruh memperkenalkan diri oleh Bu Murni.
"Pagi semua." Devand menyapa kami. "Nama gue Devand Wiratama. Kalian bisa panggil gue Devand. Gue pindahan dari Batam."
Anak-anak dikelas pada manggut-manggut mendengar perkenalan diri Devand. Dan bagi para siswa centil termasuk sahabat gue Keyra, menyapa Devand sambil melambaikan tangan.
Sumpah! Aku baru tahu kalo si Devand itu lumayan centil juga. Dia membalas sapaan anak-anak cewek dikelasku dengan gaya narsis dan sok cool. Huh! Padahal pas dirumah sampai tadi pagi dimobil, dia pendiem banget. Devand, Devand.
Nah, sekarang giliran anak baru satunya lagi yang memperkenalkan diri. Siapa ya namanya?
"Pagi." sapanya seperti Devand tadi. "Nama gue Ruben Agustira. Panggil aja gue Ruben. Gue pindahan dari Jakarta."
"Hah!" anak-anak pada kaget denger Ruben bilang dia pindahan dari Jakarta.
Kirain, si Ruben pindahan dari kota lain. Tapi tahunya, dari Jakarta juga.
Ruben. Ruben. Ruben. Perlu digaris bawahi tuh nama. Tampangnya sih lumayan. Tapi kayaknya, orangnya jutek abis! benakku.
"Baiklah." kini giliran bu Marni yang bicara. "Devand, kamu duduk dengan Radit. Dan kamu Ruben, kamu duduk dengan Kenzi."
"Baik, bu." ujar Devand dan Ruben bersamaan.
Devand dan Ruben berjalan menuju tempat duduknya masing-masing. Devand duduk dibelakang mejaku dan Keyra, bersama Radit. Sedangkan Ruben duduk di meja seberang kiriku, bersama Kenzi.
Uuhh! Si Ruben jadi ngalangin gue buat meratiin si Kenzi nih! benakku kesal.
Aku terdiam saat Ruben menatapku. Dia sempat tersenyum tipis, sebelum aku mengalihkan pandanganku kedepan. Aku tak sempat membalas senyumnya yang kuakui sangat manis. Meskipun dia tetap tidak bisa mengalahkan senyumnya Kenzi yang bagaikan malaikat. Tapi senyum Ruben barusan, sudah mematahkan perkiraan ku kalau dia itu cowok yang jutek. Justru senyum tadi menandakan kalau Ruben adalah orang yang ramah.
Aku beralih menoleh kebelakang. Radit dan Keyra sudah berkenalan dengan Devand secara sah. Mereka saling menjabat tangan. Dan kini Devand sudah mengetahui siapa nama teman sebangkunya, dan seorang gadis yang menjadi teman sebangkuku, yaitu Keyra.
***
Bel tanda istirahat berbunyi. Semua anak-anak kelasku langsung berhamburan keluar, begitu bu Murni menutup pelajaran pagi ini. Sementara aku masih terus mencatat pelajaran yang diberikan bu Murni, tadi.
"Ya ampun, Nay." Keyra menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nyatat yang begituan aja kok lama banget. Dari tadi gak selesai-selesai."
"Iya nih." Radit menimpali. "Buruan dong, Nay. Gue udah laper nih, mau kekantin."
"Ya udah." aku menatap Keyra dan Radit yang mulai jenuh menungguku. "Lo berdua duluan aja. Nanti gue nyusul. Soalnya gue mau nyelesain catetan gue ini."
"Ah, palingan ntar lo lupa lagi buat nyusulin kita." tuduh Keyra.
"Nggak bakalan." kataku pede. "Kalo perut gue ini udah teriak-teriak minta dikasih makan, pasti gue tahu gue harus kemana."
"Ya udah deh. Kalo gitu kita duluan ya." ujar Radit. "Tapi jangan lupa, nanti nyusul ya." tambahnya.
"Iye, iye." ujarku sambil terus mencatat.
Kini kelas menjadi sepi. Hanya ada aku sendiri yang masih sibuk mencatat. Tiba-tiba seseorang datang dan duduk dikursi kosong yang ada disampingku. Aku tersentak dan segera menoleh. Ternyata itu Ruben si anak baru.
"Hai." sapanya.
"Hai." jawabku.
"Kok masih nyatet? Gak kekantin?" tanyanya.
"Nggak." jawabku singkat.
"Oh ya. Kita belum kenalan." Ruben mengulurkan tangannya padaku. "Gue Ruben."
"Gue Nayla." kataku sambil menjabat tangan Ruben.
"Kayaknya lo pinter nih." terkanya. Gue boleh dong belajar sama lo. Gue kan baru disini. Jadi gak tahu siapa yang bisa gue mintain tolong buat belajar. Gue cuma baru kenal sama Devand doang, karena tadi kita ketemu pas diruang kepsek. Sementara si Devand kan juga anak baru."
"Eh. Lo salah, lagi." kataku panik. Gila aja, anak sepertiku dibilang pinter. Otak aja sering lupa-lupa. "Yang pinter itu, temen sebangku lo, si Kenzi."
Aduh! Males banget deh ngeladenin nih cowok. Mesti cari cara nih, biar bisa kabur! pikirku.
Ting.. Ting.. Ting.. bel masuk bunyi. Aku boleh bernafas lega, sekarang. Karena tak harus meladeni si Ruben lagi. Semua siswa kelasku, satu per satu masuk kedalam kelas. Dan akhirnya Rubenpun kembali ketempat duduknya. Keyra dan Radit yang paling belakangan masuk kekelas.
"Nay. Kok lo nggak nyusulin kita kekantin sih?" tanya Keyra, setelah duduk disampingku.
"Tau nih." Radit ikut-ikutan nimbrung dari arah belakang. "Padahal kita udah mesenin siomay favorite lo. Jadi mubazir deh tuh siomay."
"Astaga." aku menepuk jidat. "Sorry guys. Gue lupa."
Keyra dan Radit langsung bete mendengar jawabanku. Lalu bu Asti datang untuk memulai pelajaran jam kedua.
***
No comments:
Post a Comment