Tamu Istimewa
Sebelumnya aku belum pernah cerita ya, kalo aku punya dua kakak cowok. Namanya Yudha Aprian dan Rangga Alvindra. Kak Yudha itu orangnya lembut, ramah, baik, dan sayang banget sama aku. Dia kuliah jurusan hukum semester empat. Kalo kak Rangga itu, SMA kelas tiga. Umurnya cuma beda dua tahun dariku. Dan kita satu sekolah. Kak Rangga berbanding terbalik sama kak Yudha. Kak Rangga itu galak dan cuek, tapi dia juga sayang sama aku. Yaa.. walaupun dia sering sebel dan bete setiap penyakit lupaku kambuh.
Kata Papa dan Mama, hari ini akan ada tamu istimewa yang datang kerumah kami. Siapa ya?
Papa minta agar saat pulang sekolah nanti, aku dan kak Rangga segera pulang kerumah. Sedangkan kak Yudha diminta untuk menjemput tamu istimewa itu dibandara.
"Nay, buruan dong sarapannya! Gue udah mau berangkat nih. Kalo nggak, lo gue tinggal." kak Rangga berteriak sambil memakai sepatunya.
"Hah! Lo ngajakin gue berangkat bareng?" aku terkejut dan bingung.
"Ya iyalah. Kalo nggak, lo mau berangkat sama siapa?" kak Rangga mulai naik darah.
"Ya berangkat sama kak Yudha lah, kayak biasa." jawabku santai.
Aku melirik kearah kak Yudha yang malah senyum-senyum aja sambil geleng-geleng kepala.
Kak Rangga tambah kesal. "Lo pasti amnesia lagi deh. Kan kak Yudha disuruh Papa buat jemput tamu istimewanya."
"Oh iya yah!" aku menggaruk-garuk kepala yang gak gatal, sambil nyengir ke kak Rangga.
"Ayo buruan!" kak Rangga menarik tanganku.
"Berangkat ya kak!" aku melambaikan tangan pada kak Yudha yang masih sarapan dimeja makan.
"Iya!" katanya sambil tersenyum tipis. "Hati-hati." tambahnya.
***
Sesampainya disekolah, aku langsung turun dari motor kak Rangga yang baru saja nyampe diparkiran. Keyra melambaikan tangannya dan memanggilku. Akupun langsung berlari menuju Keyra, tanpa pamit pada kak Rangga.
"Tumben lo berangkat bareng kak Rangga?" Keyra tampak heran.
Tentu saja. Ini merupakan pemandangan yang jarang banget terjadi. Karena memang, meskipun aku dan kak Rangga satu sekolah dan adalah kakak adek, kita jarang banget saling sapa ataupun ngobrol apalagi berangkat bareng. Soalnya kak Rangga selalu berangkat sekolah sama kak Andre, sahabatnya. Bahkan, teman-teman disekolah gak ada yang tahu kalo aku dan kak Rangga itu adek-kakak. Kecuali Keyra, Radit, dan tentunya kak Andre. Soalnya, Keyra dan Radit adalah sahabatku sejak SMP. Sedangkan kak Andre, adalah sahabatnya kak Rangga.
"Soalnya hari ini kak Yudha gak bisa nganterin. Jadi gue berangkat sama kak Rangga deh." jawabku.
"Ohh, tumben lo inget! Gue kira tadi lo mau bilang lupa, alasan kenapa lo bisa berangkat bareng kak Rangga." ejek Keyra.
"Lo sih gitu Key. Gue gak lupa, diejek. Gue lupa, diejek juga. Maunya apa sih?" umpatku, kesal.
"Iya deh, sorry!" Keyra merangkul bahuku. "Yuk kita masuk kelas."
"Eh tunggu. Radit mana?" tanyaku, baru menyadari kekurangan satu orang sahabat.
"Dia gak masuk." jawab Keyra. "Tadi dia sms gue, katanya sih dia sakit.
"Ohh.." aku manggut-manggut.
Aku dan Keyra melanjutkan langkah menuju kelas.
***
Jam istirahat tiba..
"Key, kantin yuk!" ajakku pada Keyra.
"Nggak ah!" Keyra menulis sesuatu dibukunya. "Tadi gue uda sarapan dirumah."
"Oh iya yah, tadikan tumbenan banget lo dateng kesekolahnya gak telat." ejekku.
"Huu rese lo!" Keyra mendorong bahuku.
Tiba-tiba Vivian dan sikembar Kiran Ayunda dan Karin Ayunda, datang kekelasku.
"Hei Keyra, Hei Mipel. Ups!" Vivian menutup mulutnya. "Eh maksud gue, hei Nayla."
"Mau ngapain lo kesini?" bentak Keyra. "Kalo lo kesini cuma buat ngejek temen gue, mendingan sekarang lo pergi. Sebelum sepatu gue ini pindah kemuka lo."
"Wow takut!" kata si kembar bersamaan.
"Apaan lo berdua?" bentak Keyra pada si kembar.
"Udah Key." aku menenangkan Keyra.
"Apaan sih lo, Key!" Kiran nyolot. "Biasa aja dong. Temen lo aja ga apa-apa."
"Iya!" Karin menimpali. "Lagian, temen lo si Nayla itu kan udah biasa dipanggil Mipel."
"Udah dong guys." Vivian menengahi. "Ok. Gue minta maaf karena tadi gue udah manggil Nayla kayak gitu. Tapi tujuan gue kesini, buat nyari Kenzi. Dia ada nggak?"
"Menurut lo?" kalo sudah berhubungan dengan Kenzi, aku yang harus turun tangan. "Lo ngerasa liat Kenzi nggak, disini?"
"Nggak sih!" Vivian melihat sekeliling kelas yang kosong dan hanya ada aku, Keyra dan mereka.
"Ya udah." aku menggebrak meja. "Kalo gitu lo boleh pergi dari sini sekarang. Karena kedatangan lo disini tuh ganggu banget."
"Santai aja kali, Nay. Iya kita pergi sekarang." Vivian berbalik ingin keluar, namun diurungkannya. Dia kembali menatapku sinis. "Oh ya, gue mau tanya. Kok bisa sih tadi pagi lo berangkat bareng kak Rangga?"
Aku diam dan tak menjawab pertanyaan Vivian. Bukan karena aku takut menjawabnya, tapi karena aku pun lupa jawabannya.
Vivian memegang bahuku. "Hati-hati lo, Nay! Lo gak takut apa, kena amukan kakak-kakak kelas dua sama tiga? Mereka itu kan, ngefans banget sama kak Rangga. Kalo mereka liat lo deket-deket sama kak Rangga, lo bisa abis."
"Iya." si kembar menimpali. "Kita berdua juga ngefans banget sama kak Rangga."
"Terserah!" jawabku, sambil menepis tangan Vivian yang tadi berada dibahuku.
"Ok." Vivian tersenyum licik. "Bagus deh kalo lo sama kak Rangga. Daripada ntar lo ambil Kenzi gue."
"Awas lo Mipel." si kembar bersamaan menggebrak meja. Dan Keyra memelototi mereka.
Aku terdiam sekaligus terkejut mendengar ucapan Vivian.
Apa jangan-jangan Vivian tahu kalo gue naksir Kenzi? Tapi.. Vivian tahu darimana? Pertanyaan itu terlintas dibenakku.
"Nay!" Keyra membuyarkan lamunanku. "Lo kenapa sih? Kok bengong?"
"Ga apa-apa kok, Key." kataku semabari tersenyum.
"Lo masih mikirin omongan Vivian yang tadi?" pertanyaan Keyra membuatku tersentak. "Udahlah. Lo ga perlu takut. kak Rangga kan abang lo."
Mendengar ucapan Keyra selanjutnya, akupun langsung tersenyum lega.
"Iya, Key. Gue gak takut kok." kataku tersenyum tipis.
***
Saat pulang sekolah, Keyra mengajakku untuk menjenguk Radit. Dan aku menyetujuinya. Tanpa meminta izin pada kak Rangga, akupun langsung pergi kerumah Radit bersama Keyra dengan menggunakan Taksi.
Ternyata disekolah, kak Rangga mencari-cariku. Dia bertanya pada semua teman sekelasku. Tapi mereka semua menjawab "Gak tahu, kak!"
Sampai kak Rangga bertemu dengan Vivian dan sikembar.
"Hei, kalian!" kak Rangga memanggil Vivian dan si kembar. "Liat Nayla, nggak?"
"Gak tahu tuh, kak!" jawab Vivian acuh. "Tapi kayaknya sih dia pulang duluan. Soalnya takut di damprat sama fans-nya kakak."
"Maksud lo apa?" kak Rangga tak mengerti maksud pembicaraan Vivian.
"Kakak ngapain sih nyariin si Mipel itu?" tanya Kiran, manyun. "Kakak suka ya sama dia?"
"Jangan sampe suka deh kak." tambah Karin. "Nayla itu kan orangnya pelupa banget. Mending kakak sama aku aja." katanya dengan gaya centil.
"Apaan sih kalian?" kak Rangga semakin tak mengerti. " Gue nanya apa, kalian jawabnya apa. Percuma deh gue nanya sama kalian. Buang-buang waktu aja tau gak."
Kak Rangga sebal dengan Vivian dan teman-temannya. Dia pun segera memutar balik arah motornya dan memacu santai menuju gerbang sekolah. Dan akhirnya dia memutuskan untuk menelfonku.
"Halo Nay! Lo dimana sih?"
"Dirumah Radit, kak. Ada apa?"
"Ada apa? Dasar! Lo pasti lupa lagi deh. Kita kan disuruh Papa langsung pulang abis dari sekolah. Karena kita bakalan kedatangan tamu istimewa."
"Astaga! Iya kak, gue lupa! Maaf ya!"
"Maaf, maaf. Udah buruan pulang."
" Iya, gue pulang sekarang."
Kak Rangga menutup telfonnya dengan kesal.
"Ada apa, Nay?" Keyra bingung melihatku yang langsung panik begitu selesai menerima telfon dari kak Rangga.
"Aduh! Mampus gue, Key!" aku menepuk jidat. "Gue lupa kalo tadi Papa nyuruh gue pulang cepet. Soalnya bakalan ada tamu istimewa gitu dirumah."
"Wah, parah lo, Nay." Keyra ikut-ikutan panik. "Masa bisa lupa. Dasar Mipel lo."
Aku tak menghiraukan ucapan Keyra, dan langsung pulang setelah berpamitan dengan Radit.
***
Saat sampai dirumah, semua sudah berkumpul diruang tamu. Termasuk tamu istimewa Papa dan Mama.
"Nayla. kamu itu kemana saja? Kenapa pulangnya bisa sampai telat. Kan tadi Papa sudah peringatkan untuk pulang cepat." tanya Papa sedikit kesal.
Aku cuma nyengir mendengar ucapan Papa.
"Biasa Pa, Nayla lupa!" kak Rangga memberi jawaban yang sangat tepat. "Untung sama alamat rumah ini, dia gak lupa!"
Papa menggelengkan kepala.
"Ya sudah." Mama menarik tanganku. "Sini, Nay. Mama kenalin sama tamu istimewa kita."
Aku tersenyum semanis mungkin sembari menjabat tangan si tamu istimewa sambil bilang "Nayla". Tamu istimewa itu lalu balas menjabat tanganku sambil bilang "Tante Mery". Dan satu orang lagi yang juga memperkenalkan dirinya dengan nama "Devand Wiratama". Yang berkenalan terakhir adalah anak dari tante Mery. Dia seumuran denganku.
Tante mery adalah orang yang berjasa dalam menyatukan cinta Mama dan Papa. Karena itulah, Papa dan Mama menyebut tante Mery sebagai tamu istimewa mereka. Dan mulai hari ini, tante Mery dan Devand akan tinggal sementara dirumahku, sampai tante Mery mendapatkan rumah yang cocok untuk tempat tinggal barunya. Sedangkan Devand juga akan bersekolah di sekolah yang sama denganku.
Tante Mery terpaksa pindah dari Batam ke Jakarta, karena tante Mery di mutasi kerja disini. Tante Mery menjadi single parent sejak suaminya meninggal dua tahun yang lalu.
"Ya sudah." Papa mengakhiri ceritanya tentang siapa itu tante Mery kepadaku dan kedua kakakku. "Nanti lagi ceritanya. Sekarang kita makan siang dulu. Bi Minah sudah menyiapakannya."
Kamipun langsung menuju ruang makan untuk segera makan siang. Saat sedang makan siang bersama, kak Rangga tak henti-hentinya menatapku.
Mungkin dia kesel gara-gara kejadian tadi! pikirku.
***
No comments:
Post a Comment