Tuesday, February 21, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 4

Rencana Kak Rangga


Aku gak tahu kenapa kak Rangga aneh banget hari ini. Dari masih sarapan dimeja makan, dia ngeliatin aku terus. Dan pas mau berangkat sekolah, dia malah maksa aku buat berangkat bareng dia.

"Tapi kak Andrenya gimana?" aku masih super duper bingung dengan perubahan sikap kak Rangga.
"Gampang." katanya meyakinkan. "Tadi gue udah sms dia. Dia bakalan berangkat naik ojek."
"Kak." aku menatap kak Rangga. "Lo kesambet ya?"
"Apa lo bilang?" kak Rangga menjotos kepalaku. "Gue mau berniat baik, malah lo katain kesambet. Gimana sih lo."
"Ya abisnya gue bingung, kenapa lo bisa baik kayak gini?" aku menatap curiga pada kak Rangga. "Atau jangan-jangan, lo ada maunya yaa? Gue curiga nih!"
"Nggak kok!" kak Rangga langsung salah tingkah. "Udah, ayo buruan berangkat!"

Akupun akhirnya menyerah, dan mengikuti ajakan kak Rangga buat berangkat bareng dia.

***

Sesampainya disekolah, seperti biasa, aku langsung pergi meninggalkan kak Rangga begitu motornya sudah sampai diparkiran.

"Duluan ya, kak!" aku langsung berlari kearah kelas. Kak Rangga hanya mengangguk pelan.

Lima menit lagi, bel masuk akan berbunyi. Aku masih asyik ngobrol sama Keyra. Aku menceritakan tentang keanehan pada kak Rangga.

"Bagus dong!" komentar Keyra. "Dari pada dia dingin kayak es, terus galak banget sama lo. Mendingan dia berubah baik dan perhatian gini sama lo."
"Iya sih, Key." aku membenarkan. "Tapi gue curiga. Jangan-jangan, ada apa-apa dibalik ini semua."
"Yaelah." Keyra tertunduk lesu. "Elo tuh ya, sama kakak sendiri aja masa mikirnya kayak gitu."
"Tau nih." kak Rangga tiba-tiba datang dan menimpali perkataan Keyra.
"Kak Rangga. Ngapain lo disini?" tanyaku bingung.
"Yaah mau ketemu lo lah." jawaban kak Rangga membuatku semakin tak percaya.

Ting..ting..ting.. bel masuk berbunyi. Semua siswa berhamburan masuk kekelas masing-masing.

"Udah bel tuh." aku mengingatkan kak Rangga. "Sana, masuk kelas lo."

Kak Rangga hanya diam. Aku dan Keyra meninggalkannya, dan berjalan masuk menuju kelas. Tapi tepat dipintu kelas, kak Rangga menarik tanganku, agar tubuhku mendekat padanya. Lalu ia mengelus rambutku, dan mencium keningku.

"Selamat belajar ya." katanya. Kemudian dia melepas genggaman tangannya perlahan, dan pergi.

Aku masih terdiam. Keyra juga. Radit segera menghampiri aku dan Keyra. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia ikutan bingung melihat aku dan Keyra yang terdiam seperti patung.

Walaupun kak Rangga sangat jarang melakukan ini, bahkan tidak pernah. Tapi aku gak merasa aneh. Cuma gak nyangka aja, dengan perubahan sikap kak Rangga. Radit menarik tanganku dan Keyra untuk segera masuk kelas. Anak-anak satu kelas, menatap sinis padaku. Akupun langsung duduk dibangkuku, begitupun Keyra.

"Tuh kan, aneh." kataku akhirnya. "Dia gak pernah kayak gitu sebelumnya. Ngajak gue ngobrol aja jarang. Sekarang malah bersikap kayak gitu didepan anak-anak satu sekolah."
"Oh my god, Nayla." Keyra menatapku tak percaya. "Adegan kayak tadi itu, bikin gue pengen banget punya kakak cowok."
"Apaan sih lo, Key. Gak nyambung banget." umpatku.

Aku mengalihkan pandangan ke meja Kenzi dan Ruben. Tapi, ow.. ow.. mereka menatapku sinis.

Kenapa sih, orang-orang bisa sampai sebegitunya cuma gara-gara gue dicium sama kakak gue sendiri? batinku.

***

Begitu bel istirahat berbunyi, aku, Keyra dan Radit langsung pergi menuju kantin. Tapi baru selangkah aku berjalan keluar pintu kelas, tiba-tiba langkahku dihadang oleh segerombolan cewek-cewek yang aku tahu mereka adalah kakak-kakak kelas tiga. Seangkatan dengan kak Rangga. Mereka langsung mendorong tubuhku, hingga aku jatuh.

Auw! aku berteriak kesakitan. Keyra dan Radit malah pergi gak tahu kemana. Dasar gak setia kawan.

"Bangun lo." kakak kelas super galak itu, menarik kerah bajuku. "Denger ya cewek kecentilan, Rangga itu pangerannya kita semua. Gak ada satupun orang yang boleh milikin dia. Apalagi cuma anak kelas satu kayak lo."
"Tapi kak, aku sama kak Rangga itu...", belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, kakak kelas itu langsung menampar pipi kiriku.

Auw! aku mengaduh kesakitan lagi. Kakak kelas itu kembali mendorong tubuhku kedinding. Anak-anak yang melihat kejadian itu, meringis. Tak tega melihatku. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kepala ku yang terbentur dinding karena didorong, terasa sangat sakit. Pandanganku tiba-tiba gelap, kepalaku pusing. Dan seketika itu juga aku terbaring dilantai kelas, tak sadarkan diri.

Kemudian kak Rangga beserta Keyra dan Radit datang. Kak Rangga segera mengangkat tubuhku yang pingsan tak berdaya.

"Lo bakalan nyesel udah ngelakuin ini sama orang yang gue sayang." kak Rangga membentak kakak kelas yang membuatku pingsan. "Kalo sampai terjadi apa-apa sama Nayla. Gue bakal bikin perhitungan sama lo."

Keyra dan Radit mengikuti langkah kak Rangga yang menggendongku menuju UKS. Kak Andre yang melihat hal itu, langsung menjejeri langkah kak Rangga.

"Ga, Nayla kenapa?" tanya kak Andre.
"Ntar gue ceritain." kak Rangga mempercepat langkahnya. "Sekarang gue mau cepet-cepet bawa Nayla ke UKS."

Kak Andre tidak puas dengan jawaban kak Rangga. Dia mengalihkan pertanyaan itu pada Keyra.

"Key, Nayla kenapa?" tanyanya penasaran.
"Dia dilabrak sama kakak kelas tiga, Kak." jawab Keyra.

Setelah itu, kak Andre tak bertanya lagi. Dia diam dan ikut menjejeri langkah kak Rangga untuk membawaku ke UKS.

***

"Maafin gue ya, Nay." kak Rangga mengusap rambutku. "Padahal gue cuma mau, agar cewek-cewek centil itu berhenti ngejar-ngejar gue. Gue mau mereka ngira kalo lo itu adalah cewek gue, jadi mereka bisa berhenti buat ngejar gue. Tapi ternyata..."
"Sabar ya, Ga." kak Andre menenangkan kak Rangga.
"Harusnya gue bilang dulu sama Nayla soal rencana ini." kak Rangga sangat menyesal.

Aku masih pingsan ditempat tidur UKS, ditemani kak Rangga, kak Andre, Keyra, dan Radit.

"Udah bel." kak Rangga melirik jam ditangannya. "Key, Dit. Kalian masuk kelas duluan aja, sana. Biar gue sama Andre yang jaga Nayla."

Keyra dan Radit mengangguk pelan. Baru saja keduanya akan pergi meninggalkan UKS, akupun tersadar. Keyra dan Radit tidak jadi pergi kekelas. Mereka berbalik untuk melihatku.

"Aduh." aku memegangi pipiku yang sakit. "Kok gue disini?"
"Tadi lo pingsan." jawab Radit.
"Pingsan?" aku terperangah. "Kok bisa? Terus pipi gue kenapa sakit banget?"
"Duh, Nay." Keyra menepuk jidatnya. "Jangan bilang, lo lupa."
"Kayaknya sih, gitu." kataku santai.

Kak Rangga tersenyum tipis. Ini pertama kalinya kak Rangga gak sebel dengan lupaku.

"Maafin kakak, ya?" katanya kemudian.
"Maaf buat apa?" tanyaku bingung.

Kak Rangga menarik nafas. "Pokoknya minta maaf deh. Dimaafin gak?"

"Yaudalah." kataku, tak mau ambil pusing.
"Gitu dong." ujar kak Rangga, lega. "Kalo gitu, lo mau kan nolongin gue?"
"Nolongin apa?" aku menatap curiga.
"Pura-pura jadi cewek gue ya. Mau kan? Please." pinta kak Rangga sambil memohon.
"Ogah." kataku cepat. "Cari aja noh cewek lain. Mereka pasti dengan senang hati mau jadi cewek lo."
"Aduhhh, gak bisa Nay." suara kak Rangga memelas. "Gue minta tolong sama lo itu, justru karna gue gak mau pacaran sama siapapun dulu. Ayolah, tolongin gue. Cuma elo satu-satunya orang yang bisa bantuin gue."

Aku berfikir sejenak.

"Kenapa mesti gue?"
"Karena lo adek gue."
"Terus? Apa hubungannya?"
"Yaa berhubung lo adek gue. Jadi kecil kemungkinan gue bisa suka beneran sama lo. Dengan begitu, gue aman buat nyari cewek lain yang benar-benar gue cinta, tanpa diganggu sama cewek-cewek centil yang ngejar-ngejar gue itu."
"Kalo ketahuan, gimana?"
"Tenang aja. Kan ga ada yang tahu ini, kalo lo itu adek gue. Palingan, yang tahu cuman Andre, Radit, Keyra, sama Devand."

Aku diam dan berfikir lagi.

"Jadi gimana?" tanya kak Rangga memastikan. "Lo mau kan?"
"Yaudah deh." kataku akhirnya.
"Nah, gitu dong. Itu baru namanya adek gue." kak Rangga memelukku. "Tapi lo jangan sampai lupa ya. Dan jangan sampai orang lain tau soal rencana ini, kecuali mereka-mereka yang ada disini."
"Kalo Devand, biar ntar gue yang kasih tau." Radit menimpali.
"Ok. Thanks ya, Dit." kata kak Rangga.

Setelah menyadari bahwa kami sudah terlalu lama berdiam diruang UKS ini, kami pun segera bubar dan berjalan menuju kelas masing-masing.

"Susah ya Nay, punya abang keren kayak kak Rangga." dari dulu, Keyra memang mengagumi kak Rangga.
"Keren apaan." aku membantah ucapan Keyra. "Buta tuh, cewek-cewek yang pada naksir dia."
"Parah lo, Nay." kini giliran Radit yang berbicara. "Abang sendiri, lo katain gitu."
"Itu fakta, Dit." kataku tak mau kalah.
"Terserah lo, deh." Radit mengalah.

Kami meneruskan langkah menuju kelas. Sesampainya dikelas, Bu Murni mempersilahkan kami duduk untuk segera mengikuti pelajaran. Aku menoleh kearah meja Kenzi. Tapi yang terkena pandanganku, adalah Ruben. Dia melirik sebentar, kemudian kembali sibuk pada catatan dibukunya. Sedangkan Kenzi sama sekali tak melihat kearahku.

***

No comments:

Post a Comment