Golden Memory, 17 Oktober
Hai, namaku Nayla Anggitha. Aku biasa dipanggil Nayla, atauu.. MIPEL alias Miss Pelupa. Aku adalah seorang pelajar kelas satu SMA. Hobiku adalah bikin orang kesel. Jiah! tapi itu bukan kesengajaan kok. Orang-orang biasanya kesel karna aku sering lupa. hehe
Tapi pelupaku gak akut-akut banget kok. Buktinya aku gak lupa sama cinta monyetku si Jonash dan cinta pertamaku si Kenzi, ho ho ho. Aku udah lama banget gak ketemu sama Jonash si monyet, eh si cinta monyet, hehe. Aku ingat banget kalo nama aslinya itu adalah Jonash Raykal. Tapi kayaknya aku lupa sama tampang cute-nya. *parah !!! :D
Nah, kalo sama Kenzi Pramana, aku always remember. Ya iya lah! kan kita satu sekolah, satu kelas pula. Awal pertama kali aku naksir Kenzi itu..
Waktu lagi kikuk dan ribetnya bawa buku seabrek dan ngelewatin koridor kelas, gak sengaja aku nabrak Kenzi. Alhasil, buku-buku yang kubawa jatuh semua.
"Aduh! Maaf ya, Ken." kataku penuh penyesalan. "Gue gak sengaja."
"Iyah! Gak apa-apa kok, Nay." Kenzi membantu memunguti buku-buku ku yang jatuh. "Gue juga yang salah, gak liat lo." lanjutnya.
Parah!! Masa gue yang segede gini gak diliat! umpatku dalam hati.
Setelah membereskan buku-buku ku yang jatuh, Kenzi pergi sembari melayangkan senyuman manis dibibirnya kepadaku.
OMG!! senyumnya manis banget.. aduh! bisa copot nih jantung gue! bisik ku masih dalam hati.
Sejak saat itu, aku merasa ada sesuatu yang beda tiap aku liat Kenzi. Aku jatuh cinta! its my first love. Aku inget banget, hari itu adalah hari Sabtu, 17 Oktober 2009. Hari pertama aku jatuh cinta. Owh! sok sweet, eh so sweet! Aku bahkan gak pernah lupa ama hari dan kejadian itu.
Sayangnya, aku gak mungkin bisa memiliki Kenzi. Aku gak punya keberanian untuk bilang cinta padanya. Pengecut banget ya? So, aku hanya bisa mengagumi cowok cakep, cool dan cute itu dalam hati. Dia juga cuma menganggap aku sahabat baiknya.
Seorang gadis cantik, pinter dan tajir, sangat mencintai Kenzi. Dan mungkin, Kenzi juga mencintainya. Gadis itu adalah Vivian Kenisha. Kenzi beda banget tiap menatap Vivian. Sumpah! Sedih banget tahu kenyataan itu. Tapi ya mau gimana lagi. Vivian yang adalah bintang sekolah, gak mungkin tersaingi oleh aku yang hanya anak SMU biasa, gak cantik, otak biasa aja dan gak tajir-tajir amat. Aku bukan siapa-siapa di SMU ini. Orang-orang mengenalku bukan karena prestasi atau kepopuleranku. Melainkan karna aku adalah Mipel si Miss Pelupa, julukan untukku dari anak-anak satu sekolah.
Uups!! But aku gak boleh putus asa. Cayoo Nayla! Suatu saat, mungkin aku akan menemukan kebahagiaanku. Dan aku berharap penyakit pelupa ku akan hilang. Akan aku tunjukan ke anak-anak satu sekolah yang sering ngejek aku, kalo aku akan sembuh dari penyakit aneh ini. Huh!
Kenzilah satu-satunya orang disekolah ini, yang gak pernah manggil aku si MIPEL. Tuh kan, aku jadi makin cinta nih. Gubrak!!
Saat sedang asik melamun, tiba-tiba dua kuman resek, si Keyra Leanitha dan Raditya Akbar datang mengejutkanku.
"Hayooo!!" Radit menepuk bahuku. "Lagi ngelamunin apa lo?"
"Akh, kalian! Ngagetin aja!" umpatku kesal. "Nggak ngelamunin apa-apa kok."
"Kekantin yuk, Nay!" ajak Keyra. "Gue laper nih. Tadi pagi gak sempet sarapan."
"Elo kan emang gak pernah sarapan. Berangkat sekolah aja, telat mulu. Gimana bisa sarapan." umpatku masih dengan nada kesal.
"Nayla hebat yah. Meskipun pelupa, tapi tetep inget sama kebiasaan buruknya Keyra."
Radit tertawa. Tapi kemudian mengurung untuk tertawa lebih lama, karena mendapat pelototan dari Keyra.
"Gitu banget sih lo, Nay." rengek Keyra.
"Ah udah! Kita ke kantin aja yuk!" Radit menarik tanganku dan Keyra.
Dalam perjalanan ke kantin, aku, Keyra, dan Radit berpapasan dengan Kenzi. Dan Kenzi melemparkan senyumnya padaku. Owh senangnyaaa.
Tapi tiba-tiba Vivian datang bersama kedua sahabatnya, si kembar Kiran dan Karin. Vivian lalu menyapa Kenzi. Kenzi terdiam sesaat, kemudian membalas sapaan Vivian.
Gue makin yakin kalo Kenzi itu naksir Vivian! batinku.
Aku terus menoleh kebelakang sambil melihat gelagat Kenzi dan Vivian. Dan tiba-tiba..
Auw!! Aku memegangi jidatku yang bego banget, pake nabrak dinding beton segala. Dan Dony Satria alias Idon, yang melihat kejadian itu malah tertawa diatas kesakitanku.
"Makanya Mipel, kalo jalan tuh liat ke depan. Jangan liat kebelakang. Nabrak kan lo!" Idon masih terus menertawakanku.
"Akh, rese lo Don!" kataku kesal, sambil memegangi jidatku yang merah dan agak benjol karena abis tabrakan sama dinding beton.
"Loh, kok gue sih yang lo bilang rese?" Idon mengerutkan keningnya. "Dinding beton tuh yang rese. Pake pengen adu kuat sama jidat lo!"
Haloo please deh Idon. Malah nyalahin dinding beton yang gak berdosa itu! umpatku dalam hati.
"Lo mau kemana sih?" pertanyaan Idon itu membuatku bingung.
"Kemana?" aku mulai berfikir. "Ya mau ke kelas lah!" jawabku, akhirnya.
"Yaelah! Kelas mah arahnya kesono, bukan kesoni. Eh kesini maksud gue." Idon mengingatkan dengan gaya lawaknya.
"Makasih!" kataku sedikit tak rela mengucapkan kata itu pada Idon.
Akupun berjalan menuju kelas, sambil terus berfikir.
Kayaknya ada yang salah deh. Perasaan, gue gak lagi mau kekelas. Tapi kemana yah? batinku.
Tapi pelupaku gak akut-akut banget kok. Buktinya aku gak lupa sama cinta monyetku si Jonash dan cinta pertamaku si Kenzi, ho ho ho. Aku udah lama banget gak ketemu sama Jonash si monyet, eh si cinta monyet, hehe. Aku ingat banget kalo nama aslinya itu adalah Jonash Raykal. Tapi kayaknya aku lupa sama tampang cute-nya. *parah !!! :D
Nah, kalo sama Kenzi Pramana, aku always remember. Ya iya lah! kan kita satu sekolah, satu kelas pula. Awal pertama kali aku naksir Kenzi itu..
Waktu lagi kikuk dan ribetnya bawa buku seabrek dan ngelewatin koridor kelas, gak sengaja aku nabrak Kenzi. Alhasil, buku-buku yang kubawa jatuh semua.
"Aduh! Maaf ya, Ken." kataku penuh penyesalan. "Gue gak sengaja."
"Iyah! Gak apa-apa kok, Nay." Kenzi membantu memunguti buku-buku ku yang jatuh. "Gue juga yang salah, gak liat lo." lanjutnya.
Parah!! Masa gue yang segede gini gak diliat! umpatku dalam hati.
Setelah membereskan buku-buku ku yang jatuh, Kenzi pergi sembari melayangkan senyuman manis dibibirnya kepadaku.
OMG!! senyumnya manis banget.. aduh! bisa copot nih jantung gue! bisik ku masih dalam hati.
Sejak saat itu, aku merasa ada sesuatu yang beda tiap aku liat Kenzi. Aku jatuh cinta! its my first love. Aku inget banget, hari itu adalah hari Sabtu, 17 Oktober 2009. Hari pertama aku jatuh cinta. Owh! sok sweet, eh so sweet! Aku bahkan gak pernah lupa ama hari dan kejadian itu.
Sayangnya, aku gak mungkin bisa memiliki Kenzi. Aku gak punya keberanian untuk bilang cinta padanya. Pengecut banget ya? So, aku hanya bisa mengagumi cowok cakep, cool dan cute itu dalam hati. Dia juga cuma menganggap aku sahabat baiknya.
Seorang gadis cantik, pinter dan tajir, sangat mencintai Kenzi. Dan mungkin, Kenzi juga mencintainya. Gadis itu adalah Vivian Kenisha. Kenzi beda banget tiap menatap Vivian. Sumpah! Sedih banget tahu kenyataan itu. Tapi ya mau gimana lagi. Vivian yang adalah bintang sekolah, gak mungkin tersaingi oleh aku yang hanya anak SMU biasa, gak cantik, otak biasa aja dan gak tajir-tajir amat. Aku bukan siapa-siapa di SMU ini. Orang-orang mengenalku bukan karena prestasi atau kepopuleranku. Melainkan karna aku adalah Mipel si Miss Pelupa, julukan untukku dari anak-anak satu sekolah.
Uups!! But aku gak boleh putus asa. Cayoo Nayla! Suatu saat, mungkin aku akan menemukan kebahagiaanku. Dan aku berharap penyakit pelupa ku akan hilang. Akan aku tunjukan ke anak-anak satu sekolah yang sering ngejek aku, kalo aku akan sembuh dari penyakit aneh ini. Huh!
Kenzilah satu-satunya orang disekolah ini, yang gak pernah manggil aku si MIPEL. Tuh kan, aku jadi makin cinta nih. Gubrak!!
Saat sedang asik melamun, tiba-tiba dua kuman resek, si Keyra Leanitha dan Raditya Akbar datang mengejutkanku.
"Hayooo!!" Radit menepuk bahuku. "Lagi ngelamunin apa lo?"
"Akh, kalian! Ngagetin aja!" umpatku kesal. "Nggak ngelamunin apa-apa kok."
"Kekantin yuk, Nay!" ajak Keyra. "Gue laper nih. Tadi pagi gak sempet sarapan."
"Elo kan emang gak pernah sarapan. Berangkat sekolah aja, telat mulu. Gimana bisa sarapan." umpatku masih dengan nada kesal.
"Nayla hebat yah. Meskipun pelupa, tapi tetep inget sama kebiasaan buruknya Keyra."
Radit tertawa. Tapi kemudian mengurung untuk tertawa lebih lama, karena mendapat pelototan dari Keyra.
"Gitu banget sih lo, Nay." rengek Keyra.
"Ah udah! Kita ke kantin aja yuk!" Radit menarik tanganku dan Keyra.
Dalam perjalanan ke kantin, aku, Keyra, dan Radit berpapasan dengan Kenzi. Dan Kenzi melemparkan senyumnya padaku. Owh senangnyaaa.
Tapi tiba-tiba Vivian datang bersama kedua sahabatnya, si kembar Kiran dan Karin. Vivian lalu menyapa Kenzi. Kenzi terdiam sesaat, kemudian membalas sapaan Vivian.
Gue makin yakin kalo Kenzi itu naksir Vivian! batinku.
Aku terus menoleh kebelakang sambil melihat gelagat Kenzi dan Vivian. Dan tiba-tiba..
Auw!! Aku memegangi jidatku yang bego banget, pake nabrak dinding beton segala. Dan Dony Satria alias Idon, yang melihat kejadian itu malah tertawa diatas kesakitanku.
"Makanya Mipel, kalo jalan tuh liat ke depan. Jangan liat kebelakang. Nabrak kan lo!" Idon masih terus menertawakanku.
"Akh, rese lo Don!" kataku kesal, sambil memegangi jidatku yang merah dan agak benjol karena abis tabrakan sama dinding beton.
"Loh, kok gue sih yang lo bilang rese?" Idon mengerutkan keningnya. "Dinding beton tuh yang rese. Pake pengen adu kuat sama jidat lo!"
Haloo please deh Idon. Malah nyalahin dinding beton yang gak berdosa itu! umpatku dalam hati.
"Lo mau kemana sih?" pertanyaan Idon itu membuatku bingung.
"Kemana?" aku mulai berfikir. "Ya mau ke kelas lah!" jawabku, akhirnya.
"Yaelah! Kelas mah arahnya kesono, bukan kesoni. Eh kesini maksud gue." Idon mengingatkan dengan gaya lawaknya.
"Makasih!" kataku sedikit tak rela mengucapkan kata itu pada Idon.
Akupun berjalan menuju kelas, sambil terus berfikir.
Kayaknya ada yang salah deh. Perasaan, gue gak lagi mau kekelas. Tapi kemana yah? batinku.
***
"Lo kemana aja sih, Nay?" tiba-tiba Keyra bertanya ketus padaku. "Kita tungguin di kantin, gak nongol-nongol juga."
"Kantin?" Aku mengerutkan kening, pertanda tak mengerti maksud ucapan Keyra. "Ngapain lo berdua nungguin gue di kantin?" tanyaku.
"Aduh! Please deh, Nayla." Radit menepuk jidatnya. "Kitakan tadi mau ke kantin, buat nemenin Keyra makan. Tapi pas gue sama Keyra nyampe kantin, lo nya malah ilang."
"Oh, sorry deh. Gue lupa!" kataku santai.
"Yaah, ok lah. Kita emang harus selalu ngertiin alasan lo itu." kata Radit maklum.
"Tuh jidat kenapa?" Keyra menunjuk jidatku yang benjol.
"Nah itu dia." aku menjentikan jari. "Gue lupa."
"Dasar Mipel!!!" Keyra dan Radit serentak menyorakiku.
"Lo itu ya, Nay. Apa-apa lupa." Keyra menggelengkan kepalanya. "Dulu, lo lupa alamat rumah, lupa kelas, lupa pake sepatu, lupa bikin PR, dan gak terhitung lagi deh lupa-lupa yang pernah lo alamin itu."
"Dan lupa yang paling parah adalah, yang waktu itu lo lupa nama pacarnya ka Yudha." Radit mengingatkan.
"Kenapa lupa yang itu, yang lo bilang paling parah?" tanyaku bingung.
"Ya iya lah, Nay. Secara, waktu pacarnya ka Yudha main kerumah lo. Lo tanya dia siapa. Trus dia bilang, dia pacarnya ka Yudha. Trus lo absenin deh nama-nama cewek-cewek yang lo sendiri aja gak tau itu siapa didepan pacarnya ka Yudha. Sampai tuh cewek mikir kalo ka Yudha itu pacarnya banyak. Dan akhirnya mereka putus." Radit ngoceh panjang lebar.
"Dan gue gak abis fikir, kenapa waktu itu ka Yudha masih bisa bersikap manis dan gak marah sama lo, padahal dia udah kehilangan cewek yang paling dia cinta cuma gara-gara lo lupa nama." tambah Keyra.
Gue terdiam denger ceritanya Radit dan Keyra. Bukan karena gue merasa bersalah sama ka Yudha saat diingetin soal kejadian itu, tapi karena gue mikir : emangnya iya yah, gue pernah berbuat itu? Gubrak!!!
"Kenapa diem, Nay?" tanya Keyra. "Apa perlu, kita ceritain kejadian-kejadian lain tentang penyakit lupa lo itu?"
"Ga usah lah, Key. Karena gue yakin dia gak bakalan inget. Kan otaknya Nayla, emang gak ada Memory nya." tuduh Radit, sinis.
"Enak aja!" aku tidak terima dengan apa yang dituduhkan Radit. "Ada satu kejadian yang gak akan pernah gue lupain."
"Apa?" Keyra dan Radit serentak ingin tahu.
"Golden Memory, 17 Oktober." kataku bersemangat.
"Apaan tuh?" Keyra semakin penasaran.
"Rahasia dong!" kataku licik.
Huu... Keyra dan Radit menjotos kepalaku. Dan aku tertawa puas karena sudah bisa membuat mereka penasaran.
***
kerennn ceritanya..
ReplyDeletebuat yang banyak lagi ya mbakk :P
makasihhh :p
Deletesiaaapppp :D