Friday, April 6, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 19

My Birthday


Tujuh belas februari. Yeay!!
Ini adalah hari ulang tahunku. Alhamdulillah, hari ini umurku bertambah menjadi 16 tahun. Aku begitu bahagia. Dan aku harap, tidak ada yang akan menghancurkan hari bahagiaku ini.
Malam ini akan ada perayaan pesta ulang tahunku. Kemarin, aku sudah menyebar undangan untuk Birthday Party-nya.

Aku terbangun oleh dering handphone ku di pagi ini. Ternyata ada sms yang masuk. Dan aku segera membukanya. Sms nya masuk bergantian. Entah dari siapa saja.

From : Keyra Leanitha
17 Februari 2010
06:00
Happy B'day, Nayla!!
Semoga panjang umur dan makin manis pastinya :*

From : Raditya Akbar
17 Februari 2010
06:01
Met Ultah, Nayla.
Semoga tambah cantik dan gak suka lupa lagi, hehe

From : Jonash Raykal
17 Februari 2010
06:02
Selamat ulang tahun, sahabat kecilku.
Semoga selalu diberi ketabahan.

From : Kenzi Pramana
17 Februari 2010
06:03
HBD Nayla.
Semoga selalu diberikan kesehatan.

From : Vivian Kenisha
17 Februari 2010
06:04
Happy Birthday, Nayla.
Do'a gue dihari special lo ini,
Semoga lo gak sering lupa lagi. hehe

From : Dony Satria
17 Februari 2010
06:05
Selamat ulang tahun, Mipel !!
Gue tunggu traktirannya yaa :p

Aku tertawa geli melihat isi sms dari Idon. Disaat semua orang mendo'akan yang terbaik untukku, dia malah minta traktiran. Dasar!!

Tapi aku sedikit kecewa, pagi ini. Kenapa? Karena gak ada sms ataupun telpon dari Ruben. Dia gak mungkin ketularan lupa aku kan? Dia pasti ingat kalo hari ini aku ulang tahun.

Aku beranjak dari tempat tidurku, menuju kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Semua sudah menunggu di ruang makan.

"Selamat ulang yahun ya, sayang." Mama memeluk dan mencium keningku.
"Selamat bertambah usia ya, putri kecil Papa." Papa juga mencium keningku.
"Happy birthday, adikku tersayang." kini giliran kak Yudha yang mencium keningku.

Aku menatap ke arah kak Rangga. Dia hanya diam mematung di kursinya. Mungkin dia tidak akan mengucapkan ulang tahun untukku, seperti Mama, Papa, dan kak Yudha, pikirku. Tapi ternyata aku salah. Dia yang menyadari tatapanku, langsung bangkit dari duduknya.

"Selamat ulang tahun." dia mencium pipi kiriku. Astaga!!

Aku diam membeku, seperti es. Bagaimana bisa kak Rangga berani mencium pipiku, disaat yang lain tidak melakukan itu. Tapi yang lain melihat biasa saja pada hal itu. Iya, mungkin itu biasa saja bagi kakak-adik. Tapi bila mereka tau apa yang sedang terjadi pada perasaan kak Rangga, ini menjadi bukan hal yang biasa.

Aku memohon pada Papa dan Mama, agar hari ini aku diantar oleh kak Yudha. Alasannya, karena aku kangen diantar sama kak Yudha. Dan mereka menyetujui itu.

***

Aku masuk kelas, seperti biasa. Tapi aneh, hari ini kelas begitu sepi. Entah kemana teman-temanku itu. Lalu aku menemukan kertas yang bertuliskan :

"Pohon besar, taman sekolah"

Aku tidak tau apa maksud dari tulisan di kertas ini. Tapi aku menyimpulkan, kalo aku harus datang ketempat yang dituliskan pada kertas itu. Dan aku bergegas pergi ke pohon besar yang ada ditaman sekolah. Tempat dimana aku dan Ruben sering bertemu diam-diam.

Begitu sampai di pohon yang dimaksud, disini sangat sepi. Aku melihat sekeliling. Dan aku tak menemukan seorangpun. Sampai terdengar suara seseorang yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Aku menoleh keasal suara itu, dan disana ada Ruben. Dia bernyanyi sambil membawa kue dengan enam belas lilin. Lalu anak-anak yang lain juga datang dari arah-arah yang berbeda. Aku benar-benar terkejut.

Happy birthday, Nayla. Happy birthday, Nayla. Happy birthday, happy birthday, happy birthday MIPEL !!

Anak-anak serentak menyanyikan lagu itu untukku. Dan aku terharu sekali. Aku tidak menyangka mereka akan memberiku kejutan seperti ini. Awalnya, ku pikir mereka akan datang kerumah pada jam 12 malam tadi.

"Tiup lilinnya, Nay." ujar Kenzi.

Aku pun segera meniup lilin itu, lalu riuh tepuk tangan terdengar dari anak-anak yang ada disini. Setelah lilin pada kue itu ku tiup, Ruben lalu meminta Keyra untuk memegang kue itu. Dan Ruben berjalan mendekatiku.

"Selamat ulang tahun, ya." Ruben memegang tanganku. "Aku mendo'akan semua yang terbaik untuk kamu, dan untuk hubungan kita." Ruben mengecup keningku.
"Cieeee...." anak-anak menggoda aku dan Ruben. Dan kami berdua tersipu malu.

Tanpa aku dan anak-anak yang lain sadari, ada dua orang disana yang menatap kearah kami semua dengan raut wajah tak suka. Salah seorangnya mengepal jari-jarinya lalu menghantamkan ke tembok. Sementara yang satunya lagi hanya diam dan berusaha menenangkan temannya.

***

Jam pulang sekolah, anak-anak (kecuali Ruben) datang kerumahku untuk ikut membantu (sebenernya sih buat ngeberantakin) mempersiapkan segala yang diperlukan untuk pestaku malam ini.

"Eh, eh udah. Kalian istirahat saja dulu." Mama datang dengan membawa minuman dinampan. "Biar itu dikerjain sama tukangnya aja. Nih tante bawain minum buat kalian."
"Wah, makasih tante." ujar anak-anak serentak.
"Tante tau aja nih, kalo kita lagi butuh yang seger-seger." ujar Idon.
"Huuuu... dasar lo, Don!" anak-anak mendorong badan Idon.
"Ya udah, Don. Kalo kamu mau minumannya lagi, tinggal minta sama bi Minah ya." Mama pamit ke dapur setelah mengatakan itu.

Idon nampak senang dengan ucapan Mama yang tadi (yaiyalah, namanya juga Idon -_-)

Diantara semua keseruan yang tercipta sore ini, aku merasa sedih. Karena Ruben gak ada di sini. Dia memilih mengalah untuk tidak ikut anak-anak kerumahku. Dari pada harus membuat suasana menjadi buruk karena kebencian keluargaku terhadapnya.

Aku duduk termenung di tepi kolam renang yang sudah dihias dengan banyak lilin warna warni (tapi belum dinyalain ya lilinnya). Anak-anak masih asyik ngobrol dan mendengar bacotan Idon yang udah pasti ngawur (tapi tetep aja didengerin -_-). Vivian dan Kenzi, juga Keyra dan Jonash memilih untuk duduk santai berdua di kursi-kursi yang ada dihalaman belakang rumahku ini. Dan aku benar-benar sendiri. Biasanya, bila tak ada Ruben yang menghiburku, maka ada Jonash. Tapi kini, aku tau Jonash tak bisa selalu ada untukku lagi. Dia sudah memiliki Keyra. Dan aku memang pernah lupa akan hal itu, sampai aku kembali melihat kebersamaan mereka saat ini.

"Nay." seseorang menepuk bahuku.
Aku segera menoleh. Dan aku melihat Devand disana. Dia segera duduk disampingku.
"Ngelamun aja sih lo." ujarnya. "Harusnya kan hari ini jadi hari yang bahagia buat lo."
"Hmm iya, Vand." aku tersenyum tipis.
"Pasti gara-gara gak ada Ruben ya?" tanya Devand hati-hati.
"Gue gak mau ahh cerita sama lo lagi, Vand." ujarku sinis.
"Kenapa?" tanya Devand bingung.
"Soalnya lo ember sih." kataku kesal.
"Yah, lo mah gitu Nay." Devand menarik nafas berat. "Gue kan bukannya ember. Tapi ya kalo anak-anak nanya dan gue tau jawabannya, ya gue jawab."
"Itu sama aja kali, Vand." aku mendorong bahu Devand. Dia hanya tertawa, sambil mengangkat dua jarinya (peace ._.v)

***

Malampun tiba. Sebagian teman-temen yang aku undang telah datang. Sedangkan sisanya... mungkin masih dalam perjalanan untuk datang, atau memang tidak akan datang. Keyra datang bersama Jonash.

"Nayla, selamat ulang tahun." Keyra memelukku, dan memberikan kadonya.
"Makasih ya, Key." ujarku lembut. Dan Keyra mengangguk.
"Selamat ulang tahun ya." kini giliran Jonash yang memberikanku ucapan selamat dan memberi kado.

Lalu dilanjutkan dengan Radit, dengan melakukan hal yang sama (seperti Keyra dan Jonash). Kenzi datang sambil menggandeng pujaan hatinya, Vivian. Dan Idonpun gak mau kalah. Dia datang dengan menggandeng si kembar Kiran-Karin yang keliatan risih banget. Kiran-Karin berusaha melepaskan gandengan Idon, tapi gagal.

"Lo berdua kenapa?" tanyaku pada si kembar.
"Oh my god, Nayla. Ya lo pasti taulah ya jawabannya." Kiran melirik pada gandengan Idon.
"Kita risih banget sama si Idon ini. Mana pake maksa, lagi." Karin menimpali.

Aku melirik pada Idon sambil tertawa geli. Sedangkan Idon malah langsung nyengir.

Diantara banyak tawa dan kebahagian yang aku dapat malam ini, aku masih menunggu satu kebahagiaan lagi, untuk datang kepestaku. Yaitu Ruben. Tapi sampai jam segini, dia belum datang juga. Ya tuhan, apa jadinya pesta ini tanpa dia.

"Kayaknya... pesta lo harus di mulai sekarang deh!" suara itu mengagetkanku. Aku tersentak. Suara itu milik kak Rangga.
"Bentar lagi." ujarku tanpa menoleh padanya.
"Bentar lagi, gimana?" meski terlihat kesal, kak Rangga berusaha tenang. "Ini udah hampir jam setengah sembilan, Nayla. Lo mau temen-temen lo bubar."
"Temen-temen gue baru pasti bakal bubar, kalo lo bikin masalah di pesta ini." aku masih enggan untuk berbicara sambil menatap wajah kak Rangga.
"Lo masih nungguin siapa lagi sih? Temen-temen lo kan udah pada datang semua." kini suara kak Rangga mulai terdengar membentak. "Jangan bilang, lo masih nungguin si brengsek Ruben itu."

Aku menoleh pada kak Rangga. Ucapannya kali ini benar-benar keterlaluan. "Yang brengsek itu, elo!" bentakku pada kak Rangga.
"Kalian apa-apaan sih. Gak sadar diliatin orang, apa?" kak Yudha menyadarkan kami.

Aku melihat sekeliling. Benar saja, aku dan kak Rangga kini menjadi pusat perhatian anak-anak yang ada di pesta. Tamat sudah riwayatku.

Belum juga suasana ini menjadi tenang, kak Rangga sudah ribut lagi oleh kedatangan Ruben. Tapi kali ini, bukan kak Rangga saja yang kesal pada keberanian Ruben untuk datang kepestaku, tapi Mama dan Papa juga.

"Ruben." ujarku pelan. Ruben datang dengan kado ditangannya. Dia tersenyum menatapku.
"Ternyata bener dugaan gue! Lo emang nungguin dia kan." kak Rangga menunjuk kesal pada Ruben.

Kak Rangga berjalan menuju Ruben.

"Lo mau apa?" aku menahan tangan kak Rangga. Kak Rangga hanya diam. Dia menarik tangannya dari genggamanku, lalu melayangkan pukulan kewajah Ruben. Alhasil, Ruben jatuh tersungkur.
"Lo apa-apaan sih." aku mendorong tubuh kak Rangga dan mencoba mengangkat Ruben. Kak Yudha menahan kak Rangga yang kembali akan melayangkan pukulannya pada Ruben. Papa dan Mama yang melihat kejadian itu, terdiam.
"Selamat ulang tahun, Nayla Anggitha." ujar Ruben dengan darah segar yang keluar dari pelipis matanya. "Aku tau, kejadiannya pasti bakal kayak gini kalo aku dateng. Waktu mau kesini pun, Papa juga udah ngehalangin aku. Tapi aku nekat. Aku gak mungkin gak datang ke pesta ulang tahun cewek yang paling aku sayang. Meskipun aku tau, kalo kedatangan aku cuma akan bikin rusak pesta ini."
"Kamu gak bolah ngomong gitu, Ben." air mataku mengalir. "Justru karena kedatangan kamulah, aku ngerasa kalo pesta ini bener-bener berarti."
"Jangan nangis dong." Ruben menghapus air mataku. "Ini kado buat kamu."
"Makasih ya." aku mengambil kado itu, dan memeluk Ruben. "Yuk, kita obatin luka kamu."

Aku menopang tubuh Ruben, untuk membawanya kedalam dan mengobati lukanya. Tapi kak Rangga kembali berhasil memukul wajah Ruben.

"Ruben!!!" kak Rangga langsung menarik tanganku, menjauh dari tubuh Ruben yang kembali jatuh. Dan... Plak!!! aku menampar pipi kak Rangga.

"Nayla." Papa meneriakan namaku. "Apa-apaan kamu. Kenapa kamu malah menampar kakak kamu sendiri. Anak Agustira itu, memang pantas mendapat pukulan dari Rangga."

Aku menangis. Dan kak Rangga terlihat puas dengan pembelaan dari Papa. Aku tidak tahan lagi dengan semua ini. Semuanya jadi berantakan. Sekarang anak-anak sudah tau kalo kak Rangga itu adalah kakak kandungku. Hanya saja, kini aku seperti enggan untuk mengakuinya.

"Temen-temen, maaf." aku menguatkan diri untuk bicara. "Kalian harus melihat kisah konyol ini. Gue rasa, gak ada lagi yang bisa di lakuin dengan pesta yang berantakan ini. Jadi maaf, gue gak bisa ngelanjutin pesta ini."

Aku melirik sinis pada kak Rangga.

"Jo.." aku melirik pada Jonash, dan langsung mendapat anggukan mengerti darinya. Ya, terima kasih Jonash. Kau adalah sahabatku yang paling terbaik. Jonash segera menganggkat tubuh Ruben, dan membawanya pergi. Sedangkan aku, langsung berlari menuju kamar. Aku benar-benar tak sanggup menatap Ruben. Semua tamu pun pulang.

Aku menangis di dalam kamar. Mama, Papa, tante Mery dan kak Yudha membujukku untuk keluar. Tapi aku tetap ingin berada di kamar. Aku terus menangis sepanjang malam.

Terima kasih, karena sudah menghancurkan hari yang seharusnya indah untukku ini, kak Rangga, batinku.

***


No comments:

Post a Comment