Siapa Aku, Mereka, Dan Semuanya?
Dua hari berlalu. Dan aku belum juga sadar dari tidur panjangku. Ruben selalu setia datang ke rumah sakit untuk menjagaku. Begitu juga yang lain. Mereka selalu sabar menungguku untuk bangun. Seperti hari ini, sepulang dari sekolah, Ruben dan anak-anak menjengukku bersama-sama.
"Hai, Nay." sapa mereka pada tubuh tak berdayaku.
Keyra mengganti bunga yang sudah layu di kamarku itu, dengan yang baru. Harusnya sih di ganti tadi pagi, tapi Keyra gak sempet.
Ruben menarik nafas. "Sore datang lagi, Nay. Dan aku belum juga bisa liat mata kamu terbuka." ujarnya.
Kenzi memberikan gitar kepada Ruben.
"Buat apa, Ken?" tanya Ruben bingung.
"Ya nyanyi buat Nayla lah." Kenzi tersenyum tipis.
"Ah iya, Ben. Hibur Nayla." Radit menimpali.
Rubenpun menuruti, dan mulai memainkan gitarnya sambil bernyanyi.
"Semoga kamu ingat lagu ini." ujar Ruben.
Ruben menyanyaikan lagu yang sama, seperti yang dulu pernah dia nyanyikan untukku. Yaitu, Selalu Menjagamu dari Group Band Keyla. Anak-anak yang lain, ikut menikmati permainan gitar dan suara Ruben. Bahkan mereka juga ikut bernyanyi bersama. Suara mereka menggema di seluruh sudut kamar rawatku. Suara dan permainan gitar yang indah dan merdu.
Ketika nyanyian itu berakhir, semua diam. Hening. Lalu Vivian melihat jari tanganku yang bergerak sedikit.
"Gue gak salah liat kan? Jari tangan kirinya Nayla, gerak." suara Vivian mengejutkan yang lain.
"Iya, bener." Kiran juga melihat itu.
"Ya udah tunggu apa lagi? Panggilin dokter Tedi dong." ujar Karin panik.
"Bentar, gue panggil dulu." Devand langsung berlari menuju ruangannya dokter Tedi, dan memberitahukan soal keadaan yang dia lihat.
Dokter Tedi bergegas menuju kamarku, dan memeriksa keadaanku. Jonash segera menghubungi keluargaku.
Perlahan aku membuka mata, ku dengar seseorang menyerukan sebuah nama.
"Nay." panggil Keyra. "Ya ampun, akhirnya lo sadar juga."
"Nayla, apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya dokter Tedi.
"Pusing." jawabku dengan suara parau. Aku masih belum bisa melihat dengan jelas, orang-orang yang berdiri mengelilingi tempat tidurku ini. "Kalian siapa?"
"Siapa?" Keyra mengerutkan keningnya. "Aduh, jangan bercanda deh, Nay. Waktunya gak tepat."
"Ngomong apaan sih?" aku melirik Keyra, sinis. "Aku siapa? Terus ini dimana?"
"Nay, lo lagi bercanda kan?" Jonash terlihat bingung.
"Kalian ngomong apa sih?" aku memegangi kepalaku yang pusing.
"Masa sih, Mipel lo ampe separah itu, Nay. Sampai gak ngenalin kita lagi." ujar Radit sinis.
Mama, Papa, tante Mery, kak Yudha, dan kak Ranggapun datang. Mama berjalan dengan tergesa-gesa, lalu memelukku.
"Nayla, Mama senang sekali, akhirnya kamu siuman juga." Mama tersenyum bahagia.
"Bagaimana keadaannya Nayla sekarang, Dok?" tanya Papa pada dokter Tedi.
"Sepertinya, dia...."
"Kamu siapa?" aku menujukan pertanyaan itu pada Mama. Dan senyum itupun lenyap dari bibir Mama.
"Dokter, ada apa ini?" tanya Mama bingung.
"Maaf pak, bu. Sepertinya, Nayla kehilangan ingatannya, akibat benturan di kepalanya itu." ujar dokter Tedi ragu.
"Apa?" semua menyerukan kata itu, serentak.
"Jadi maksudnya, Nayla mengalami Amnesia, dok?" tanya kak Yudha. Dan dokter Tedi menjawabnya dengan anggukan.
Semua orang terdiam menatapku. Kini aku benar-benar menjadi MIPEL alias Miss Pelupa. Tapi kini, aku lupa segalanya. Lupa siapa aku. Siapa mereka yang sekarang ada di hadapanku. Lupa semua hal.
***
Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang. Luka-lukaku sudah sembuh. Ini hari kelima, setelah aku kembali membuka mata. Dan melihat dunia yang sangat asing bagiku. Aku sudah bisa membiasakan memanggil wanita cantik yang berusia 40 tahun itu, dengan sebutan Mama. Dan laki-laki tampan berusia 41 tahun itu, dengan sebutan Papa. Juga cowok berusia 19 tahun dan 17 tahun itu, dengan sebutan kakak.
Kak Yudha mengantarku kesekolah. Setelah absen selama satu minggu lebih, akhirnya aku kembali kesekolah yang sebenarnya sangat asing bagiku. Dengan ramah, kak Rangga membantuku keluar dari mobil kak Yudha, dan membawaku kekelas.
"Jadi, di sini tempat aku bersekolah, kak?" tanyaku sambil melihat kiri-kanan.
"Iya." jawab kak Rangga lembut. "Nah, yang ini kelas kamu."
"Kelas?"
"Iya, tempat kamu belajar."
Keyra segera menyambutku di pintu kelas.
"Yuk masuk, Nay." ajak Keyra.
"Kakak tinggal dulu ya." ujar kak Rangga.
"Loh, kakak mau kemana?" aku terus memegangi tangan kak Rangga.
"Kakak harus kekelas kakak." kak Rangga tersenyum tipis.
"Kita gak satu kelas ya?" tanyaku polos.
"Ya nggak dong." kak Rangga mengelus lembut rambutku. "Kamu baik-baik sama Keyra ya."
"Iya." aku mengangguk.
"Key, jagain Nayla ya." ujar kak Rangga pada Keyra.
"Itu pasti, kak." Keyra mengangguk mantap.
Lalu aku dan Keyra masuk kedalam kelas. Keyra membawaku duduk di bangku yang ada di sampingnya. Aku melihat sekeliling, dan mataku bertemu dengan mata Ruben. Dia tersenyum lembut padaku, dan aku membalasnya dengan senyum yang sama.
"Nay," Keyra menepuk bahuku. "Kalo soal pelajaran, nanti gue bakal ngejelasinnya sama lo pelan-pelan ya."
"Iya, makasih ya Key." aku tersenyum tipis. "Oh, iya. Ada yang mau gue tanyain sama lo."
"Tentang apa, Nay?" tanya Keyra penasaran.
"Tentang...." aku mengambil sebuah buku dari dalam tasku. "Buku ini."
"Ohh, inikan buku Diary yang di kasih Ruben buat lo." ujar Keyra.
"Ruben?" aku menoleh pada seseorang yang aku ketahui sebagai pemilik nama itu.
"Lo udah baca bukunya, belum?" tanya Keyra. "Kata dokter Tedi kan, lo cuma lupa sama orang-orang yang ada di sekitar lo, dan kejadian-kejadian di masa lalu. Tapi lo gak lupa sama semua kemampuan yang udah lo miliki sebelum kecelakaan itu."
"Iya." kepalaku mulai terasa pusing. "Tapi gue cuma rada aneh aja. Kenapa buku ini bisa ada di tas sekolah gue. Padahalkan, ini gak berhubungan sama pelajaran."
Keyra menarik nafas panjang, lalu menceritakan semuanya. Tapi tetap saja, aku tak mengingat apapun tentang Diary ini.
Semua orang mengatakan kalo Ruben adalah pacarku. Orang yang sangat aku sayangi. Tapi aku tak bisa mengingatnya. Terlebih ketika kak Rangga mengatakan kalau semua orang telah berbohong mengenai hubunganku dengan Ruben. Kak Rangga adalah satu-satunya orang yang mengatakan kalau Ruben bukanlah pacarku. Aku juga tidak merasakan perasaan apapun pada Ruben, jadi ku rasa, aku lebih mempercayai perkataan kak Rangga.
***
Pulang sekolah, aku membaca Diary itu di kamar. Semua kejadian yang tertulis pada buku itu, tak satupun bisa ku ingat.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Ternyata itu adalah kak Rangga. Aku menyuruhnya masuk, dan duduk bersamaku.
"Ngapain kamu baca buku ini, Nay?"
"Aku gak tau. Tapi aku rasa, aku perlu baca buku ini. Mungkin buku ini bisa membantu aku mengingat sesuatu."
"Percuma, Nay. Tulisan yang ada di buku ini, bohong. Buku ini kan bukan kamu yang nulis, tapi Ruben. Dan itu pastinya cuma karangan Ruben aja. Kamu jangan mudah percaya ya. Semua orang yang ada di sekitar kamu itu, palsu."
"Terus, siapa dong yang bisa aku percaya?"
"Cuma kakak. Kak Rangga. Kamu tau, Nay? Kak yang selama ini mencintai kamu dengan tulus. Kakak yang selama ini berusaha membuat kamu bahagia. Kakak yang udah benar-benar menyayangi kamu."
"Iya. Aku bisa liat itu kok."
Aku meyimpan kembali buku Diary itu di dalam tas. Aku sudah tak berniat lagi untuk membacanya. Tapi aku tau, tempat buku itu selalu di situ. Di dalam tasku.
Kak Rangga mengajakku jalan-jalan. Sore itu, aku lewati dengan penuh semangat bersama kak Rangga. Kami melakukan banyak hal. Dan aku sangat bahagia menjalaninya. Tapi aku merasa aneh. Bersama dengan kak Rangga, semakin membuatku bertanya, siapa aku, mereka, dan semuanya?
Meski bahagia, tapi aku merasa ini bukan duniaku. Kebersamaanku dengan kak Rangga, semakin membuatku asing dengan kejadian di masa lalu. Aku bisa merasakan sayang dan cinta kak Rangga padaku. Tapi aku tak bisa merasakan sayang dan cintaku untuk kak Rangga. Kenapa?
Meski bahagia, tapi aku merasa ini bukan duniaku. Kebersamaanku dengan kak Rangga, semakin membuatku asing dengan kejadian di masa lalu. Aku bisa merasakan sayang dan cinta kak Rangga padaku. Tapi aku tak bisa merasakan sayang dan cintaku untuk kak Rangga. Kenapa?
Aku seperti hanya berusaha bahagia.
***
Esoknya, aku kembali bersekolah. Dan mulai hari ini, aku berangkat bersama kak Rangga.
"Nayla." sapa teman-temanku.
"Hai." aku tersenyum lembut.
"Ruben mau ngomong nih, Nay." ujar Jonash.
"Sama gue?" aku menunjuk padaku sendiri.
"Ya iya dong, Nay." Vivian memperjelas.
"Mau ngomong apa?" tanyaku pada Ruben.
"Ngomongnya gak disini juga kali." Radit mendorongku dan Ruben untuk segera pergi.
Dan Ruben mengajakku untuk duduk di bawah pohon besar, di taman sekolah.
"Masih ingat tempat ini?" tanya Ruben. Dan ku jawab dengan gelengan.
"Pertama-tama aku mau jelasin sama kamu, soal Diary yang kemaren kamu tanyain sama Keyra." Ruben menarik nafas, lalu kembali berbicara. "Semua hal yang tertulis di situ, adalah daftar kebersamaan yang udah pernah kita lewatin bareng, Nay."
"Maaf, Ben. Tapi gue gak inget." ujarku pelan. "Dan gue juga gak bisa sepenuhnya percaya sama buku ini."
"Kenapa?"
"Karena semua yang tertulis di Diary ini, bukan gue yang nulis."
"Tapi yang tertulis dalam Diary itu adalah kenyataan, Nay."
"Oh ya? Kenapa gue gak bisa ngira kalo isi Diary ini cuma karang-karangannya lo aja. Gue amnesia, Ben. Dan gue gak percaya apapun di masa lalu gue dengan cuma denger apa kata orang."
"Terus kenapa lo bisa percaya dengan omongannya kak Rangga?"
"Karena gue yakin dia bener."
"Darimana lo bisa yakin, sementara seharusnya dalam keadaan kayak gini, gak ada yang bisa lo percaya."
"Gila ya, sekarang lo malah nuduh kalo kak Rangga itu bukan orang yang terpercaya."
"Dan secara gak langsung, lo juga udah nuduh gue kayak gitu kan?"
Aku dan Ruben terdiam. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi sekarang. Bertengkar dengan orang asing? Bagaimana bisa aku merasa lebih dekat dengannya, gara-gara pertengkaran ini. Siapa Ruben? Siapa orang yang seharusnya aku percaya?
"Nih." aku mengembalikan Diary itu pada Ruben.
Ruben hanya diam dan tidak mau mengambil Diary itu.
"Jangan mempersulit gue deh. Cepetan ambil Diary ini. Inikan punya lo." aku memaksa Ruben mengambil Diary itu. Tapi Ruben malah memegang tanganku dengan keras.
"Nayla, please. Percaya sama gue." Ruben berkata sungguh-sungguh. "Demi apapun, jangan buang Diary ini. Gue gak apa-apa kalo lo gak percaya sama gue. Tapi lo harus percaya sama isi Diary ini."
"Oke. Gue akan simpan Diary ini."
Ruben tersenyum lega. "Makasih." ujarnya.
"Ben, soal yang tadi, gue minta maaf." ujarku lembut. "Gue gak berniat buat nyakitin siapapun. Apalagi, gue ini cuma orang yang gak tau apa-apa. Gue juga takut salah bertindak."
"Iya, Nay. Gue ngerti kok. Gue juga minta maaf." Ruben tertunduk.
"Ehmm, gue udah baca sebagian isi Diary ini." ujarku ragu.
"Terus?"
"Menyenangkan."
"Sayangnya, itu semua cuma bakal jadi tulisan gak berarti, Nay. Karena lo udah ngelupain semuanya."
"Gue bingung, Ben."
"Ehmm, gue udah baca sebagian isi Diary ini." ujarku ragu.
"Terus?"
"Menyenangkan."
"Sayangnya, itu semua cuma bakal jadi tulisan gak berarti, Nay. Karena lo udah ngelupain semuanya."
"Gue bingung, Ben."
Lama kami diam, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi duluan meninggalkan Ruben. Aku memegang erat Diary itu. Aku tidak bisa mempercayai isi Diary ini, karena akupun belum tau siapa diriku. Siapa mereka? Siapa orang yang bisa aku percaya? Dan mengapa semua hal ini ada bersamaku?
***
No comments:
Post a Comment