Aku Benci Kak Rangga !!
Malam itu, aku tak henti-hentinya menangis. Rasanya ingin mati. Pesta ulang tahunku hancur, akibat ulah kakakku sendiri. Kini aku benar-benar tidak berani menatap teman-temanku. Hari itu, semuanya telah terbongkar. Aku malu. Kak Rangga keterlaluan. Jika dia berfikir aku akan memaafkannya. Dia salah. Aku sudah cukup bersabar. Kali ini, aku tidak tahan lagi. Tak akan kuberi maafku untuk kak Rangga. Aku benci kak Rangga.
Karena menangis terus semalaman, mataku jadi bengkak. Dan aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah, hari ini. Untunglah Mama dan Papa mengizinkan aku untuk bolos satu hari.
Tok.. tok.. tok...
Seseorang mengetuk pintu kamarku.
Seseorang mengetuk pintu kamarku.
"Nay, ini tante Mery." ujar seseorang yang mengetuk pintu kamarku tadi. "Boleh tante masuk?"
"Masuk aja, Tante. Gak dikunci kok." ujarku masih terisak.
Tante Merypun membuka perlahan pintu kamarku. Berjalan menuju tempat tidurku. Tempat dimana aku berbaring lesu, sekarang. Senyum lembutnya menenangkanku.
"Kamu gak apa-apa kan, sayang?" tanyanya penuh perhatian. "Tante sengaja datang kesini pagi-pagi, untuk liat keadaan kamu."
"Nayla udah gak apa-apa kok, Tante." aku menghapus air mataku yang hampir mengering. "Tapi Nayla malu buat kesekolah, dalam keadaan kayak gini."
"Iya, tante ngerti." tante Mery memelukku. "Kamu istirahat saja dulu."
Aku mengangguk pelan. Tante Mery sengaja datang kesini, karena diminta oleh Mama dan Papa untuk menjagaku. Karena Mama dan Papa sedang bekerja di kantor.
"Semuanya udah pada berangkat ya, Tante?" tanyaku.
"Iya. Kak Yudha juga barusan berangkat ke kampus. Awalnya sih dia gak mau ngampus, karena mau nemenin kamu dirumah. Tapi tante larang. Biar tante aja yang nemenin kamu." jawab tante Mery lembut.
"Makasih ya, tante." aku sedikit lebih tenang, sekarang.
"Iya." tante Mery mengangguk. "Oh iya, kamu mau sarapan apa? Nanti tante bikinin."
"Gak usah, tante." aku menggeleng pelan. "Nayla gak laper kok. Nanti aja."
"Loh! Tapi kan kamu belum makan dari semalem. Nanti sakit loh." tante Mery mengingatkan.
"Emmm," aku berfikir sebentar. "Ya udah deh, tante. Iya, Nayla mau makan."
"Nah, gitu dong. Tante bikinin sandwich yah." tawar tante Mery.
Aku mengangguk, pertanda setuju. Tante Mery segera beranjak keluar dari kamarku, menuju dapur untuk membuatkan sandwich. Aku kembali membaringkan tubuh ke kasur. Rasanya lelah.
Aku meraih handphone-ku, yang tak ku aktifkan semalaman. Barulah kembali aku aktifkan pagi ini. Dan Tiba-tiba handphone-ku berdering. Pertanda ada sms yang masuk. Aku segera meraih ponsel itu, dan membuka beberapa pesan yang masuk. Yang mungkin sudah dikirim sejak semalam atau tadi.
From : Keyra Laenitha
18 Februari 2010
06:30
Nay! Hari ini lo masuk, nggak?
Jangan nangis terus yaa.
From : Raditya Akbar
18 Februari 2010
07:15
Nay, kok lo gak masuk sih?
From : Dony Satria
18 Februari 2010
07:20
Mipel!!
Masih sedih yaa?
Udah dong! Dunia gak bakal kiamat kalii.
Meski pesta ultah lo ancur.
Semangat :)
From : Kenzi Pramana
18 Februari 2010
07:30
Jangan sedih berlarut!
Lo punya gue dan sahabat-sahabat lo yang lain.
Kita pasti bakalan dukung lo :)
From : Vivian Kenisha
18 Februari 2010
08:45
Naylaaa...
Sepi deh, kalo lo gak masuk :'(
From : Jonash Raykal
18 Februari 2010
08:55
Kalo lo ada disini.
Gue pasti bakalan kasih lo permen.
Biar lo gak nangis lagi :)
Aku tersenyum tipis, membaca sms dari Jonash. Aku tau dia akan mengatakan itu. Tapi kini aku bukan anak SD lagi. Masalah yang aku hadapi sekarangpun, bukan masalah kecil seperti yang aku hadapi saat SD. Tapi aku tetap menghargai itu. Jonash selalu akan menjadi malaikat pelindungku.
Tapi aku sangat kecewa. Mengapa tak ada sms ataupun telfon dari Ruben? Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia tidak menghubungiku, setelah apa yang terjadi semalam?
Tiba-tiba handphone-ku kembali berdering. Ada sms baru lagi yang masuk. Mudah-mudahan yang ini dari Ruben.
From : Keyra Leanitha
18 Februari 2010
09:15
Nay, lo tau gak?
Hari ini Ruben gak masuk loh.
Aku terkejut membaca sms yang datang dari Keyra itu. Dan kini aku mulai panik. Jangan-jangan, terjadi sesuatu pada Ruben, akibat pukulan kak Rangga semalam. Kalau sampai benar seperti itu, aku tidak akan memaafkan kak Rangga.
Beberapa menit kemudian, masuklah sms dari orang yang baru saja aku maki dalam hati, tadi.
From : Rangga Alvindra
18 Februari 2010
09:20
Si brensek itu gak masuk.
Emang dasar cowok pengecut!
Arrgghhh... aku benar-benar kesal membaca sms dari kak Rangga itu. Dan aku segera membalasnya.
From : Nayla Anggitha
18 Februari 2010
09:21
Aku benci kak Rangga !!!
Aku kembali menangis. Kak Rangga masih bisa memberitahukan tentang ini, setelah apa yang sudah dia lakukan semalam. Keterlaluan!!
Dan tante Merypun datang dengan membawa nampan berisi dua potong sandwich dan segelas susu. Dia terkejut melihatku kembali menangis. Tante Mery segera menghampiriku.
"Sayang, kamu kenapa? Kok nangis lagi?" tanyanya panik.
"Aku gak apa-apa kok, tante." jawabku sambil terisak.
"Ya udah. Sekarang kamu makan dulu ya. Ini tante udah bawain." tante Mery memberikan sepotong sandwich itu padaku.
Aku benar-benar sedang tidak ingin memakannya. Tapi aku tidak enak dengan tante Mery. Tante Mery sudah susah payah membuatkan ini untukku. Aku harus memakannya.
"Tante tinggal sebentar, gak apa-apa kan sayang." tanya tante Mery ragu.
"Gak apa-apa kok, tante." jawabku lembut.
"Tante akan pergi kekantor sebentar. Karena ada yang harus tante urus. Tapi tante gak bakalan lama kok. Kalo kamu butuh apa-apa, minta sama bi Minah yah." ujar tante Mery.
Aku pun mengangguk. Dan tante Mery segera bergegas pergi.
Dan lagi-lagi, handphone-ku berdering. Ada sms yang masuk. Entah dari siapa.
From : Ruben Agustira
18 Februari 2010
09:45
Aku selalu sayang kamu.
Jangan sedih terus yaa.
Apapun yang terjadi, aku gak akan ninggalin kamu.
Aku terkejut sekaligus bahagia menerima sms dari Ruben. Aku juga sayang dia. Sangat sayang. Meskipun hubungan ini mendapat penentangan, tapi aku akan tetap mempertahankannya.
***
Aku terbangun oleh dering handphone-ku lagi. Dengan mata yang masih mengantuk, aku membaca sebuah sms yang masuk.
From : Keyra Leanitha
18 Februari 2010
14:05
Nay, gue sama anak-anak otw rumah lo nih.
Mataku langsung terbuka lebar, membaca sms dari Keyra. Jam sudah menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Yang aku ingat, setelah mendapat sms penenangan dari Ruben, aku tertidur dan baru terbangun sekarang. Aku segera bergegas mandi, karena emang belum mandi dan ganti baju dari semalem -_-
"Naylaaaaa." Keyra langsung memelukku, diringi anak-anak cewek yang lain.
"Lo udah gak apa-apa kan, Nay?" tanya Vivian.
"Gua baik-baik aja kok, Vi." jawabku.
"Nay, tadi gue liat kak Rangga dirumah ini." ujar Kiran polos.
"Ya iyalah lo liat dia, Rin. Kan dia emang tinggal disini." Idon nyolot.
"Dia Kiran, tau. Gue yang Karin." Karin mengkoreksi kesalahan Idon.
"Iya deh, maaf. Gue kan gak tau. Orang muka kalian sama." itulah pembelaan dari Idon.
Aku tertawa geli melihat tingkah mereka. Kenzi benar, sedihku akan hilang bila ada sahabat-sahabatku disini. Meskipun tanpa Ruben.
"Nay, jadi...." Vivian ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Soal kak Rangga?" terkaku.
"Iya." Vivian mengangguk ragu.
"Malu-maluin banget kan?" ujarku lesu. "Gue emang cewek paling bodoh di dunia, Vi. Mau-maunya aja gue pura-pura jadi pacarnya kakak gue sendiri."
"Nay, lo gak boleh ngomong gitu." ujar Kenzi lembut.
"Iya, Nay." Vivian menimpali. "Lo gak perlu malu sama kita dan anak-anak yang lain di sekolah. Inikan bukan salah lo."
"Iya. Ini salah kak Rangga." ujarku sinis.
"Bukan salahnya kak Rangga juga sih, Nay." Jonash mulai berbicara.
"Terserah, Jo." aku tertunduk lesu. "Yang pasti, sekarang gue benci banget sama kak Rangga. Gue gak mau lagi liat mukanya dia. Gue gak mau lagi ngomong sama dia."
"Gak boleh gitu, Nay." Jonash memegang kedua bahuku. Memaksaku menatap kematanya. "Dengerin gue. Biar gimanapun, dia itu kakak kandung lo. Lo gak boleh ngebenci dia."
Kami semua diam. Tanpa kami tau, ada seseorang dibalik pintu kamarku, sedang mendengarkan percakapan kami. Dia adalah kak Rangga. Kini wajahnya terlihat sedih.
Banyak hal aneh yang terjadi padaku dan kak Rangga. Meskipun hal yang kusebut aneh itu, dulu membuatku sangat bahagia. Tapi itu dulu. Bagaimanapun dulu aku menyayangi kak Rangga sebagai kakakku. Bagaimanapun aku senang melakukan kepura-puraan itu. Bagaimanapun aku menyukai sosok kak Rangga yang dingin tapi penyayang. Itu semua buyar dalam seketika. Aku benar-benar membencinya.
Aku sadar ini salah. Iya. Perasaan kami berdua memang salah. Aku sangat membenci kakak kandungku sendiri. Dan kak Rangga sangat mencintai adik kandungnya sendiri. Tidakkah ini terlalu rumit? Aku tidak sanggup menjalani hari-hari yang seperti ini. Tapi keadaan memaksaku.
"Nay," Radit menyadarkan aku dari lamunan. Aku tersentak.
"Ok. Mendingan kita gak usah ngebahas masalah ini lagi." ujar Devand.
"Terus kita bahas apa dong, Vand?" tanya Idon.
"Gimana kalo kita buka-bukain kado yang sempet di dapat sama Nayla semalem." usul Devand.
"Setuju." seru Keyra bersemangat.
"Ya ampun, gue sampai lupa soal itu." ujarku.
"Ah, lo kan emang ratunya lupa, Nay." umpat Keyra.
Anak-anak membantuku membuka kado-kado itu. Dan aku segera mencari-cari kado dari Ruben.
"Nay, ini yang dari Ruben kan?" Kenzi menunjukkan sebuah kado padaku.
"Eh iya, sini buka." Vivian langsung merebut kado itu dari tangan Kenzi.
"Eh..." Radit merebut lagi kado itu dari Vivian. "Kok jadi elo yang buka sih, Vi. Harusnya kan, Nayla."
Radit segera memberikan kado itu padaku. Sebuah kado yang terbungkus dengan kertas kado warna pink. Dan juga ditambah sebuah pita cantik dengan warna yang sama. Aku menatap lembut kado itu. Lalu membukanya. Anak-anak menunggu dengan tampang penasaran. Aku melihat isi kado itu.
"Diary." ujarku pelan. Itulah isi dari kado yang terbungkus manis itu.
"Ya ampun, keren banget." ujar Kiran kagum.
"Iya yah. Diary-nya bagus banget." Karin menimpali.
"Kok Ruben ngasihnya Diary yah?" ujar Keyra bingung.
"Dari pada ngasih buku tulis satu pack." lagi-lagi Idon nyolot.
"Gak gitu juga kali, Don." Keyra menjotos kepala Idon.
"Tapi kalo satu pack mah kedikitan, Don." ujar Kiran polos.
"Ah, Kiran. Gue malu ih punya sodara kembar kayak lo." ujar Karin.
"Ah, Kiran. Gue malu ih punya sodara kembar kayak lo." ujar Karin.
Anak-anak langsung tertawa mendengar penuturan Karin. Sepertinya, kali ini si kembar itu tidak saling sepakat seperti biasanya.
"Mungkin Ruben mau lo buat nulis semua hal yang lo alamin dalam buku itu, Nay." terka Jonash.
"Iya, Nay. Biar lo gak lupa sama semua kenangan manis kalian." Kenzi membenarkan.
"Tapi tunggu deh. Di dalam buku ini udah ada tulisannya." aku membaca sedikit tulisan dalam buku itu.
Ini bukan Diary kosong. Ini Diary yang sudah di isi Ruben dengan setiap hal yang pernah kita lewati bareng. Mulai dari pertama kali kita ketemu, sampai saat sebelum pesta yang hancur semalam.
Keyra meraih buku itu dari tanganku dan membacanya.
"Ternyata Ruben suka nulis Diary juga yah." ujar Vivian.
"Mungkin bukan suka." Jonash berpendapat. "Tapi ini emang Ruben tulis khusus untuk Nayla. Dan kayaknya ini berguna banget. Karena Naylakan pasti udah lupa sama hal-hal ini."
"Oh, jadi tempat favorite-nya kalian berdua buat pacaran itu, di pohon taman sekolah, Nay." Keyra mengangguk-angguk sambil terus membaca buku itu.
"Liontin? Mana liontinnya, Nay? Gue mau liat dong." kini giliran Vivian yang serba ingin tau. Dan aku terpaksa menunjukkan liontin itu. "Iiih, Ruben romantis banget sih."
Dan pada halaman kesekian, Keyra membaca sebuah tulisan. Ini adalah tulisan terakhir Ruben. Sedang masih ada banyak kertas yang kosong setelahnya.
"Kamu hanya perlu meneruskannya"
"Nay, ini artinya, Ruben minta lo buat nulisan kejadian-kejadian indah setelah ini." ujar Keyra.
Aku tersenyum tipis. Dan Keyra mengembalikan buku Diary itu padaku.
Aku pasti akan meneruskannya, Ben. Aku gak sabar menunggu hal-hal indah setelah ini, dan menuliskannya pada Diary ini, batinku.
Hari sudah sore. Dan anak-anakpun pamit pulang.
"Bye, Naylaaa." anak-anak melambaikan tangan padaku.
Aku kembali masuk kedalam rumah, lalu menuju dapur untuk mengambil minum. Dan disana, aku bertemu kak Rangga. Aku mengurungkan niatku untuk mengambil minum, dan berbalik menuju kamar. Tapi kak Rangga menghalang langkahku.
"Lo marah sama gue?" tanya kak Rangga.
"Gue benci sama lo." aku segera pergi meninggalkan kak Rangga.
Kak Rangga tak mencoba untuk menahanku lagi. Dia tau, aku serius dengan ucapanku barusan. Aku membencinya.
***
No comments:
Post a Comment