Wednesday, April 18, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 21

Pertikaian Dua Keluarga


Aku tak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Masalah ini menjadi bertambah rumit karena ulah kak Rangga. Semalaman, aku membaca Diary pemberian Ruben. Ternyata ada banyak kejadian yang telah aku lupakan. Terutama, saat dihari pertama aku bertemu dengan Ruben. Rasanya memang seperti takdir.

Semua sudah berkumpul di meja makan. Pagi yang cukup cerah. Hari ini, aku harus kembali ke sekolah. Menghadapi segala apapun yang anak-anak akan lakukan padaku.

"Kamu udah gak apa-apa kan, sayang?" tanya Mama lembut.

Aku hanya menggeleng pelan, lalu duduk dikursiku untuk segera sarapan. Kak Rangga masih menatap sinis padaku.

"Ingat ya, Nay. Papa gak mau kamu berhubungan lagi dengan anaknya Agustira itu." Papa mengingatkan. Sedang aku hanya diam, sambil mulai melahap rotiku.

Selesai sarapan, kak Yudha mengantarku ke sekolah. Terjadi percakapan antara aku dan kak Yudha, di dalam mobil menuju sekolah.

"Kamu jangan sedih lagi ya, Nay."
"Aku gak sedih kok, kak. Aku cuma kecewa. Kenapa harus ada permusuhan kayak gini."
"Kakak juga sebenernya gak setuju sama penentangan yang Papa dan om Agustira lakukan. Bukan salah kalian kan, kalo kalian saling sayang dan pacaran."
"Tapi kita gak bisa apa-apa kan, kak?"
"Maafin kakak ya, Nay. Kakak gak bisa bantu kamu."
"Gak apa-apa kok, kak. Seenggaknya kakak jauh lebih baik dari kak Rangga, dalam menghadapi masalah ini."
"Kakak bingung deh sama kamu dan Rangga. Kok kayaknya ada yang kalian berdua sembunyiin yah!"

Aku tersentak dengan pernyataan kak Yudha. Jadi aku hanya diam. Dan tak ada percakapan lagi antara kami. Karena memang, beberapa detik kemudian, aku sudah sampai di sekolah.
Aku berjalan pelan menuju kelas. Semua mata menatap sinis padaku. Mereka berbisik-bisik membicarakanku. Begitu cepat berita tentang hubunganku dan kak Rangga yang sebenarnya ini menyebar. Aku mencoba tetap kuat dan terus berjalan menuju kelas.

"Nayla." Keyra berteriak memanggil namaku, saat aku sudah sampai di kelas.

Ruben langsung memelukku. Diiringi sorak sorai dari anak-anak sekelas.

"Ben, muka kamu..."
"Udah gak apa-apa kok."
"Aku minta maaf ya."
"Udah. Sekarang kita gak usah mikirin itu lagi. Mendingan sekarang kita menciptakan kejadian-kejadian yang menyenangkan, terus kamu tulis dalam Diary yang aku kasih itu."
"Hmm, iya."

Suasana yang tenang dikelas, tiba-tiba tegang oleh kedatangan Radit.

"Nay, Nay..." seru Radit.
"Ada apa, Dit?" tanyaku bingung.
"Gawat, Nay. Gawat!" seru Radit lagi.
"Apanya yang gawat, Dit?" aku jadi penasaran.
"Kak Rangga." ucapan Radit semakin tidak jelas.
"Radit. Kalo ngomong yang jelas dong." Keyra jadi kesal melihat Radit.
"Kak Rangga dipanggil ke ruang kepala sekolah. Terus ada dua polisinya juga yang mau bawa kak Rangga." ujar Radit, terbata-bata.
"Apa?" seisi kelas meneriakkan kata itu.

Aku segera berlari menuju ruangan kepala sekolah, diikuti oleh anak-anak yang lain.

"Kak Rangga!" aku terkejut saat melihat kak Rangga keluar dari ruang kepala sekolah, dan di bawa oleh dua orang polisi.

"Pak, kakak saya kenapa?" tanyaku pada kedua polisi itu.
"Kami mendapat laporan dari bapak Agustira, kalo kakak adek ini telah melakukan pemukulan pada anak dari pak Agustira." salah satu dari polisi itu yang menjelaskan.
"Jadi kami akan membawa kakak adek ke kantor, untuk di periksa." polisi yang satunya lagi menambahkan.

Kak Rangga menatap sayu padaku. Untuk pertama kalinya, aku melihat tatapan itu. Aku terdiam. Begitupun Ruben. Dia seperti sangat terpukul dengan kejadian ini. Tanpa terasa, air mataku menetes. Aku menangis untuk kak Rangga. Ini benar-benar terasa berat. Meski pernah ku ucapkan bahwa aku membencinya. Tapi jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, dia tetap kakak yang aku sayangi.

"Nay." Keyra memelukku.
"Yang sabar ya, Nay." Vivian ikut menguatkanku.
"Maafin aku, Nay. Ini pasti ulah Papa." Ruben tertunduk lesu.
"Udahlah, Ben. Semuanya udah terjadi. Sekarang aku harus kasih tau Mama sama Papa aku tentang masalah ini." aku berjalan gontai menuju kelas.

Anak-anak termasuk Ruben, ingin mengejarku. Tapi di halangi oleh Jonash.

"Dia pasti butuh waktu buat sendiri dulu. Kita harus percaya sama dia." ujar Jonash. Dan anak-anak setuju dengan itu.

Mama dan Papa benar-benar terkejut mendengar berita dariku. Dan mereka segera menuju kantor polisi. Akupun begitu. Aku segera meraih tasku, lalu pergi dari sekolah. Tapi langkahku masih terhalang oleh Ruben.

"Nay, kamu mau kemana?"
"Aku harus kekantor polisi sekarang, Ben. Aku mau liat kak Rangga."
"Jangan, Nay. Biar ini jadi urusan kedua orang tua kita."
"Gak bisa, Ben. Orang tua kita yang udah bawa kita kedalam masalah ini. Jadi, ini juga udah jadi urusan kita, sekarang."

Aku segera berlari menuju gerbang sekolah. Tapi langkahku, lagi-lagi terhalang. Dan kali ini oleh pak satpam.

"Buka gerbangnya, pak! Saya mau pergi." pintaku pada pak satpam.
"Ndak bisa. Kamu sudah izin sama guru apa belum?" pak satpam tidak mau membukakan gerbangnya.
"Ini masalah darurat, pak. Tolong buka pintunya, dan biarin Nayla pergi." Ruben datang untuk membantuku.
"Tapi, nanti saya bisa diomelin sama kepala sekolah." pak satpam jadi serba salah.
"Biar nanti saya yang ngatur soal izinnya, pak. Saya janji. Dan sekarang, tolong biarin Nayla pergi."

Berkat Ruben, akhirnya pak satpam mau juga membukakan pintu itu untukku. Aku segera berlari ke jalan, untuk memanggil taksi. Aku pergi tanpa berkata sepatah katapun pada Ruben. Dan itu membuat Ruben menjadi sangat sedih.

***

Sesampainya di kantor polisi, aku menyaksikan pertengkaran Papa dan om Agustira. Juga ada tante Mery disana. Ia mencoba menenangkan Mama.

"Agustira! Aku akan bayar berapapun yang kau mau. Asalkan kau mencabut tuntutanmu pada anakku." bentak Papa.
"Aku tidak butuh uangmu, Anggara." ujar om Agustira angkuh. "Tidak semudah itu kau meminta aku untuk melepaskan putramu yang kurang ajar itu."
"Apa kau bilang?" Papa semakin kesal. "Justru anakmulah yang kurang ajar. Sudah tau dia tidak diterima untuk masuk kedalam keluarga kami, tapi dia masih saja nekat untuk datang ke pesta putriku."
"Itu salah putrimu. Seharusnya dia tidak mengundang putraku." om Agustira tak mau kalah. "Dengar, Anggara! Kau yang telah membunuh istriku. Maka sebagai gantinya, anakmulah yang akan ku biarkan membusuk dipenjara."

Saat om Agustira mengatakan hal itu, Rubenpun datang dan mendengar semuanya. Ternyata dia juga nekat untuk datang menyusulku.

"Apa?" Ruben terlihat sangat terkejut.
"Om bohong!" aku benar-benar tak percaya dengan ini semua. "Kenapa om menuduh papa aku kayak gitu?"
"Aku tidak menuduh. Ini kenyataan. Dan kaupun perlu mengetahui semua ini, Ruben." om Agustira menjadi serius dengan apa yang akan dia katakan. "Papamulah yang menyebabkan istriku meninggal. Dan dengan kekayaan yang dia punya ketika itu, dia jadi tidak berhubungan dengan hukum."
"Gak mungkin!" ucapku getir, sambil menggigit bibir, menahan tangis.
"Papa ngomong apa sih? Ruben gak ngerti." Ruben mulai bingung. "Bukannya Papa bilang, kalo Mama itu meninggal karena ditabrak orang."
"Dan kau tau siapa yang menabrak Mamamu itu?" tanya om Agustira sinis.
"Aku tidak sengaja, Gus." Papa tertunduk. "Lagipula, kau dulu telah membalasku dengan membuat bangkrut perusahaan ayahku. Dan akhirnya beliau meninggal."
"Itu belum cukup, Anggara." mata om Agustira mulai memerah. "Aku tau, sejak kejadian itu, kau telah sangat membenciku. Tapi kita belum impas. Kau perlu tau, kalau sesungguhnya, saat itu istriku tengah mengandung 2 bulan, anak keduaku. Kau telah merenggut dua nyawa."

Kini semua orang yang ada di sini, bertambah kaget oleh penuturan om Agustira. Papa tak pernah tau bahwa saat itu istri om Agustira tengah mengandung.

"Jadi, kau ingin mengambil satu nyawa lagi dari keluargaku?" tanya Papa getir.
"Tentu!" ujar om Agustira lantang. "Nyawa harus dibayar dengan nyawa."
"Kalau begitu, ambillah nyawaku. Jangan pernah kau mengganggu keluargaku." Papa benar-benar pasrah.
"Tidak! Aku tidak mau kau." ujar om Agustira. "Aku ingin kau melihat dan merasakan penderitaan, bila kehilangan keluargamu."
"Kalau begitu, bunuhlah aku Om." ujarku sembari terisak. "Asalkan om berjanji tidak akan mengusik keluargaku."

Tanpa menunggu jawaban dari om Agustira, aku berlari menuju jalanan. Berharap akan ada motor atau mobil yang akan menabrakku hingga mati. Maka, lunaslah hutang Papa pada om Agustira.
Beruntunglah tuhan mengabulkan do'aku. Sebuah mobil mercy berwarna silver, melaju kencang dan menabrak tubuhku.

"Naylaaa...." semua orang meneriakkan namaku.

Tubuhku terkulai lemah di tengah jalan. Semua kendaraan yang melaju, terhenti. Darah segar, keluar dari sela-sela kulitku yang terbuka. Papa, Mama, tante Mery dan om Agustira, terdiam. Hanya Ruben yang langsung menghampiri tubuhku dan menangis. Kemudian Papa segera membawaku menuju Rumah Sakit. Sedang om Agustira masih berdiri mematung di tempatnya. Tidakkah ini sudah terbalaskan, Om? Rasanya ingin sekali aku menyerukan kalimat itu.

Mercy yang menabrakku, segera di bawa ke kantor polisi beserta pengemudinya.

***

Semua orang, termasuk teman-temanku disekolah, masih menunggu dengan tegang di luar ruangan UGD.

"Aku gak mau Nayla kenapa-kenapa, Jo." ujar Keyra sambil memeluk Jonash.
"Nayla pasti akan baik-baik aja kok, Key. Kita harus berdo'a untuk itu." Jonash mencoba menenangkan kekasihnya.
"Iya, kita harus berdo'a buat Nayla." Idon menimpali.

Mama menangis, dan tante Mery menenangkannya. Papa duduk mematung dikursi. Ruben tak henti-hentinya berjalan bolak-balik di depan ruang UGD itu. Dokter masih memeriksa dan mengobati luka-luka kecilku.

"Ini semua salahku." Papa mulai bersuara. "Kenapa harus Nayla yang jadi korban. Dia sama sekali tidak tau dan tidak mengerti dengan masalah ini. Tapi dia malah yang menjadi korban."
"Semuanya sudah terjadi, Gara." tante Mery mencoba bijak. "Jika ada yang harus disalahkan, mungkin itu adalah pertikaian antara kau dan Agustira itu. Mengapa kalian harus melibatkan anak-anak kalian."
"Aku menyesal, Mer." Papa tertunduk lesu.
"Nayla membutuhkan do'amu, Gar. Bukan penyesalanmu." ujar tante Mery lembut.

Semua kembali diam. Dan kak Yudhapun datang dengan tergesa-gesa.

"Gimana keadaan Nayla?" tanyanya panik.
"Kita juga belum tau, kak. Nayla masih di tangani sama dokter." hanya Devand yang menjawab. Yang lainnya hanya diam.
"Rangga gimana?" kak Yudha bertanya lagi.
"Dia masih di kantor polisi, kak." jawaban itu masih keluar dari mulut Devand.

Kak Yudha tertunduk lesu. Pikirannya melayang. Mengingat semuanya masih baik-baik saja, tadi pagi. Tapi kemudian, masalah datang beruntun. Semuanya memang benar-benar rumit. Pertikaian ini telah mengubah semuanya. Disaat semua orang mendo'akan kesembuhanku, aku malah berharap ingin mati saja.

Tiba-tiba handphone Ruben berbunyi. Memecah keheningan. Ada telepon, dan dia segera menerimanya. Dia hanya berbicara sedikit. Dan tidak ada yang tau, apa yang sedang dibicarakannya dengan si penelepon.
Setelah menutup telepon itu, Ruben beranjak pergi.

"Lo mau kemana, Ben?" tanya Kenzi.
"Gue harus pergi, sekarang. Tapi nanti gue pasti balik lagi kok." setelah itu Ruben benar-benar pergi, tanpa ada yang menghalangi langkahnya lagi.

Entah kemana dia pergi.

Dan dokter Tedipun keluar. Dokter Tedi adalah orang yang memeriksaku.

"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Papa tak sabaran.
"Mari ikut saya keruangan, Pak." ajak dokter Tedi. "Saya akan menjelaskannya disana."
"Baik, Dok." Papa mengikuti langkah dokter Tedi, menuju ruangannya.

Sementara Mama masih terus menangis.

"Aku seperti ingin mati, Mer." ujar Mama sambil terisak.
"Jangan bicara begitu, Mel." tante Mery mengusap lembut kedua bahu Mama.
"Sekarang kedua anakku sedang dalam keadaan yang tidak baik, Mer. Aku benar-benar tidak kuat." air mata Mama semakin deras mengalir.
"Sudahlah, Melanie. Aku mengerti perasaanmu. Tapi kita bisa apa. Semuanya sudah terjadi." tante Mery menghapus air mata Mama.

Kak Yudha dan teman-temanku yang lain, ikut menangis. Apalagi yang akan terjadi setelah pertikaian ini?

***


No comments:

Post a Comment