Gue Gak Bisa !
Jam istirahat tiba. Keyra dan anak-anak yang lain, mengajakku ke kantin.
"Mau pada pesen apa nih? Biar gue sama Vivian yang mesenin." ujar Kenzi.
"Tumben lo berdua baik banget." ejek Radit.
"Udah deh, jangan sampai gue sama Kenzi berubah pikiran nih." omel Vivian.
"Iya deh. Kalo gitu kita pesen yang kayak biasa aja. Pada tau kan?" ujar Devand.
"Oh, iya gue tau." Kenzi dan Vivian pun bergegas memesan.
"Yang biasa itu apa, Vand?" tanyaku bingung.
"Ya makanan yang biasa kita makan setiap ke kantin ini." jawab Devand.
"Kalo lo, sukanya sama siomay, Nay." Keyra menunjukku.
"Ohh." aku mengangguk-angguk.
Dan pesanan kamipun datang. Anak-anak langsung pada rebutan. Aku memakan bagianku. Menu yang enak, tapi asing untukku. Aku menatap satu per satu wajah teman-temanku. "Nayla" yang dulu, ternyata adalah orang yang sangat beruntung, menurut penilaian "Nayla" yang sekarang. Hanya saja, "Nayla" yang dulu, tak pernah mengaggapnya seperti itu. Apakah itu berarti, aku harus tetap menjadi "Nayla" yang sekarang?
"Nay, kok lo diem sih? Makan dong." ucapan Jonash membuyarkan lamunanku.
"Oh, ehm, iya." aku hampir lupa dengan makanan yang ada di depanku ini.
Selesai makan di kantin, kami semua duduk-duduk di taman sekolah. Ruben duduk di sampingku.
"Hari minggu besok, ada acara nggak?" tanyanya padaku.
"Nggak." aku menggeleng. "Kenapa?"
"Gue mau ngajakin lo jalan." ujar Ruben.
"Kemana?"
"Ke tempat-tempat yang pernah kita datengin sama-sama, dulu."
"Buat apa?"
"Buat bantu lo ingat semuanya."
"Gak perlu."
"Kenapa?"
"Karena gue gak yakin, kalo tempat-tempat yang lo tulis di Diary itu, beneran ada."
"Gue gak nyangka lo punya pemikiran kayak gitu."
"Gue tetep harus hati-hati kan, Ben."
Ruben tertawa mendengar ucapanku. "Oke. Jadi soal besok, gimana?"
"Iya, gue mau."
Aku dan Ruben tersenyum lembut.
"Hayoo, lo berdua kenapa tuh senyum-senyum." Karin mengejutkan aku dan Ruben.
"Jangan-jangan, kalian berdua kesambet yah?" terka Kiran.
"Bisa jadi tuh." Idon membenarkan. "Kesambet setan cinta, pohon taman sekolah."
"Huuuuu....."
Anak-anak menyoraki dan menertawakan Idon. Radit bahkan menjotos kepala Idon, dan Devand mendorong-dorongnya.
Menyenangkan, batinku. Bagaimana bisa kak Rangga mengatakan kalau aku harus hati-hati pada mereka semua!
Tempat pertama adalah pemakaman. Ruben mengajakku ke tempat pemakaman Mamanya.
"Ya makanan yang biasa kita makan setiap ke kantin ini." jawab Devand.
"Kalo lo, sukanya sama siomay, Nay." Keyra menunjukku.
"Ohh." aku mengangguk-angguk.
Dan pesanan kamipun datang. Anak-anak langsung pada rebutan. Aku memakan bagianku. Menu yang enak, tapi asing untukku. Aku menatap satu per satu wajah teman-temanku. "Nayla" yang dulu, ternyata adalah orang yang sangat beruntung, menurut penilaian "Nayla" yang sekarang. Hanya saja, "Nayla" yang dulu, tak pernah mengaggapnya seperti itu. Apakah itu berarti, aku harus tetap menjadi "Nayla" yang sekarang?
"Nay, kok lo diem sih? Makan dong." ucapan Jonash membuyarkan lamunanku.
"Oh, ehm, iya." aku hampir lupa dengan makanan yang ada di depanku ini.
Selesai makan di kantin, kami semua duduk-duduk di taman sekolah. Ruben duduk di sampingku.
"Hari minggu besok, ada acara nggak?" tanyanya padaku.
"Nggak." aku menggeleng. "Kenapa?"
"Gue mau ngajakin lo jalan." ujar Ruben.
"Kemana?"
"Ke tempat-tempat yang pernah kita datengin sama-sama, dulu."
"Buat apa?"
"Buat bantu lo ingat semuanya."
"Gak perlu."
"Kenapa?"
"Karena gue gak yakin, kalo tempat-tempat yang lo tulis di Diary itu, beneran ada."
"Gue gak nyangka lo punya pemikiran kayak gitu."
"Gue tetep harus hati-hati kan, Ben."
Ruben tertawa mendengar ucapanku. "Oke. Jadi soal besok, gimana?"
"Iya, gue mau."
Aku dan Ruben tersenyum lembut.
"Hayoo, lo berdua kenapa tuh senyum-senyum." Karin mengejutkan aku dan Ruben.
"Jangan-jangan, kalian berdua kesambet yah?" terka Kiran.
"Bisa jadi tuh." Idon membenarkan. "Kesambet setan cinta, pohon taman sekolah."
"Huuuuu....."
Anak-anak menyoraki dan menertawakan Idon. Radit bahkan menjotos kepala Idon, dan Devand mendorong-dorongnya.
Menyenangkan, batinku. Bagaimana bisa kak Rangga mengatakan kalau aku harus hati-hati pada mereka semua!
***
Hari yang di maksudpun tiba. Aku sengaja tak memberitahu kak Rangga tentang kepergianku bersama Ruben hari ini. Ruben yang memintanya.
Pagi-pagi, sekitar pukul delapan, aku dijemput oleh Ruben. Saat itu, kak Rangga belum bangun. Ruben sudah menungguku di depan rumah.
"Yuk." Ruben memberikan helm padaku. Kami pergi naik motor. "Lo tau gak sih?"
"Apa?" tanyaku.
"Dulu, kita juga pernah jalan sembunyi-sembunyi gini loh dari kak Rangga." Ruben tertawa geli.
"Masa sih?" aku mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Ya karena..." ucapan Ruben terhenti.
"Karena apa?" aku jadi penasaran.
"Nggak. Gak karena apa-apa kok." Ruben tak ingin memberitahuku. "Yuk, kita berangkat."
Meskipun penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin Ruben katakan, tapi aku tidak berniat untuk menanyakannya. Aku langsung naik ke boncengan motor Ruben, dan kami pergi.
Tempat pertama adalah pemakaman. Ruben mengajakku ke tempat pemakaman Mamanya.
"Sini, Nay." Ruben mengajakku berjongkok di depan makam. Tanpa aku bertanya, Ruben sudah menyebutkan, makam siapa ini. "Ini makam nyokap gue."
"Ohh." aku mengangguk-angguk.
"Dulu, gue pernah bawa lo kesini." Ruben mengingat kejadian itu. "Dulu, gue perkenalin lo ke nyokap gue, sebagai pacar gue. Tapi sekarang, gue bingung mesti ngenalin lo sebagai apa. Lo aja udah lupa semuanya."
Ruben menatap kearahku. Dan aku hanya diam, sambil tertunduk.
"Lo gak lagi berfikir kalo cerita ini cuma karangan gue aja, kan?" tanya Ruben sinis.
"Gue percaya kok." aku tersenyum tipis.
Ruben juga tersenyum, lalu matanya tertuju pada kalung yang masih melingkar indah di leherku.
"Makasih ya, lo masih terus pake liontin itu."
"Hah." aku terkejut, lalu menatap ke arah liontin itu. "Ini dari lo?"
"Iya." Ruben mengerutkan keningnya. "Emangnya, lo pikir itu dari siapa?"
"Di dalam liontin ini, ada ukiran huruf "R & N". Gue pikir, ini dari kak Rangga." aku menatap bingung pada Ruben.
Ruben tersenyum tipis, "Arti huruf "R&N" itu, bukan Rangga dan Nayla. Tapi Ruben dan Nayla."
Aku kembali terdiam. Sedangkan Ruben mulai bicara pada nisan Mamanya.
"Ma, ini Nayla. Mama masih ingat kan? Nayla adalah cewek yang sangat Ruben sayang. Dan setau Ruben, dia juga sayang sama Ruben. Tapi sekarang keadaannya udah beda, Ma. Nayla udah jadi Miss Pelupa selamanya."
Aku hampir meneteskan air mata, tapi sekuat tenaga aku menahannya agar tak jatuh di pipi. Entah kenapa, aku sedih mendengar ucapan Ruben. Terlebih juga, karena aku merasa bersalah dalam mengartikan ukiran huruf di liontin ini.
Setelah dari makam Mamanya, Ruben membawaku ke sebuah gedung.
"Ngapain kita kesini?" tanyaku bingung.
"Ini adalah salah satu tempat kenangan kita." jawab Ruben. "Yuk, kita masuk." Ruben menarik tanganku untuk masuk kedalam gedung itu. Awalnya aku menolak, tapi Ruben sukses menarik tanganku, tanpa aku bisa melawan lagi.
Dengan hati-hati, agar tidak ketahuan orang-orang dan satpam yang berjaga di gedung ini, kamipun berhasil menyusup dan naik ke lantai paling atas alias atap gedung ini.
"Huh." aku menghela nafas lega. "Gila ya lo, Ben. Gue deg-degan banget tau gak. Takut ketahuan."
Tanpa sadar, aku tersenyum lepas pada Ruben. Artinya, Ruben telah berhasil membuatku nyaman bersamanya. Dan Ruben menyadari itu. Dia sangat senang, lalu memelukku.
"Ben, lo apa-apan sih?" aku merasa risih dengan pelukan Ruben. "Lepasin gue."
"Satu menit aja, Nay." Ruben memohon. "Gue kangen sama lo. Gue kangen banget sama kebersamaan ini. Tolong izinin gue, meski cuma satu menit."
"Iya." akupun akhirnya balas memeluk Ruben dengan erat. Lebih dari satu menit, waktu yang di minta Ruben.
Ruben mengajakku duduk di pinggir atap gedung itu. Dari sini, kami bisa melihat keramaian kota.
"Kalo kita kesininya pas malem-malem, pasti pemandangannya bakalan lebih seru ya, Ben." ujarku lembut. "Kalo sekarang sih panas."
"Iya yah, sekarang udah panas banget." Ruben mendongak ke atas. "Udah siang nih. Lo pasti laper plus haus kan?"
Aku mengangguk.
"Ya udah, yuk kita turun. Kita cari makanan." ajak Ruben.
Aku dan Rubenpun turun. Ruben menggandeng tanganku. Dan aku membiarkannya saja. Kami saling tatap, lalu tersenyum tipis. Dan akhirnya, tanpa kami sadari, kami ketahuan sama satpam.
"Hei, ngapain kalian disini?" tanya satpam yang satu.
"Kalian kan bukan karyawan sini." ujar satpam yang satunya lagi.
"Gawat nih, Ben." ujarku panik.
"Kaburrr!" Ruben segera menarik tanganku dan berlari menuju pintu keluar.
Satpam itu masih mengejar kami sampai keluar. Aku dan Ruben memutuskan untuk bersembunyi dari para satpam itu. Setelah puas mencari dan tak menemukan, akhirnya kedua satpam itu menyerah juga. Aku dan Rubenpun keluar dari tempat persembunyian, dan berjalan menuju tempat motor Ruben di parkir. Tanganku dan tangan Ruben masih saling bergandengan, sampai aku menyadarinya lebih dulu.
"Ehm, Ben." aku melirik kearah kedua tangan kami.
"Oh iya, sorry." Ruben segera melepas genggamannya.
Kamipun makan di salah satu warung makan yang ada di dekat gedung tadi. Aku hanya diam, dan Ruben yang memesan. Ini adalah warung makan yang dulu kami kunjungi bersama. Meskipun aku telah lupa, tapi Ruben masih sangat mengingatnya. Dari tempat duduk, makanan yang kami pesan, sampai topik yang dulu kami obrolkan. Begitu banyak yang sudah aku lupakan.
"Abis ini, kita mau kemana lagi, Ben?" tanyaku di sela-sela waktu makan kami.
"Danau." jawab Ruben. "Jauh banget dari sini. Kemungkinan, kita bakal pulang malem."
"Malem?"
"Gak apa-apa kan?"
"Gimana yah? Gue takut kena marahin sama Papa nih."
"Kalo itu sih lo santai aja. Gue udah izin kok sama orang tua lo."
"Hah! Serius?"
"Iya."
Oke. Jelas aja Mama sama Papa ngizinin Ruben dengan mudahnya. Secarakan, mereka taunya Ruben itu pacar gue. Dan mereka juga gak ada masalah lagi sama Papanya Ruben.
Perut udah kenyang. Waktunya lanjut perjalanan. Ternyata Ruben bener, tempat yang kita tuju kali ini, jauh banget. Kita baru nyampe disana, sore. Dan berhubung motor gak bisa masuk ke jalan yang menuju danau, jadinya aku dan Ruben jalan kaki. Tapi gak sia-sia deh, pas nyampe, mata udah di manjain sama pemandangan danau yang keren. Angin yang sejuk. Pohon-pohon yang bikin suasana teduh. Pokoknya keren abis. Ditambah lagi sama rumah pohon yang ada diatas salah satu pohon besar.
"Oke, Ben." aku mulai bicara, setelah lama kami diam dan hanya menikmati pemandangan di tempat ini. "Jadi, apa sejarah tempat ini?"
"Dulu, kita sama anak-anak yang lain pernah ke sini." Ruben mulai berkisah. "Kita liburan bareng ke Villanya Vivian yang gak terlalu jauh dari sini. Terus kita juga kesini."
"Ohh." aku mengangguk-angguk. "Rumah pohonnya keren ya, Ben."
"Iya. Naik yuk." Ruben menarik tanganku.
"Eh, tunggu."
"Kenapa?"
"Lo yakin rumah pohonnya gak bakalan roboh kalo kita naik ke atas?"
Ruben tertawa.
"Kok lo malah ketawa sih, Ben?"
"Lo tenang aja. Rumah pohonnya masih kuat kok buat kita naikin berdua. Kan dulu kita juga pernah duduk berdua di sana."
Ruben kembali menarik tanganku, dan kamipun naik ke atas Rumah pohon itu. Disini anginnya semakin berhembus kencang.
Tanpa aku sadari, ternyata sedari tadi, Ruben terus menatap wajahku. Sementara aku, sibuk melihat kesana kemari. Melihat pemandangan.
"Nay." Ruben memegang tanganku. "Gue sayang sama lo. Sayang banget. Meskipun sekarang lo udah lupa semua kenangan indah kita, gue tetep sayang sama lo."
"Maaf, Ben." aku menarik tanganku dari genggaman Ruben. "Gue gak bisa!"
"Kenapa, Nay?"
"Jujur, sebenernya, gue udah jatuh cinta sama cowok lain."
"Siapa?"
"Gue rasa lo gak perlu tau sampai bagian itu."
"Tapi gue cinta sama lo, Nay. Lo gak tau, gimana perjuangan gue biar bisa ngedapetin lo, dulu?"
"Itu dulu kan, Ben? Maaf. Tapi sekarang perasaan gue udah beda. Gue gak bisa sama-sama lo lagi."
"Please, Nay. Kasih gue kesempatan buat bisa bikin lo jatuh cinta lagi sama gue."
"Gue gak bisa, Ben."
"Lo belum coba, tapi kenapa lo langsung bilang gak bisa?"
"Ruben, gue gak bisa! Lo ngerti gak sih. Gue. Gak. Bisa."
Aku segera turun dari rumah pohon itu, karena kesal dengan Ruben. Tapi karena gak hati-hati, aku malah terjatuh saat menuruni tangga gantung rumah pohon itu.
"Nayla." Ruben juga segera turun untuk menolongku.
"Auw. Kaki gue." aku memegagangi kakiku yang sakit.
Tanpa meminta persetujuanku lebih dulu, Ruben segera menggendongku di pundaknya. Saat itu juga, hujan turun. Ruben terus menggendongku. Dia sedikit berlari, agar hujan tak lebih lama membasahiku. Tapi aku tidak tega melihatnya seperti itu.
"Pelan-pelan aja, Ben."
"Gak bisa, Nay. Nanti lo bisa basah kuyup kalo kita gak cepet nyampe motor gue dan pergi."
Aku tidak bicara lagi. Aku segera memegang erat leher Ruben, untuk memudahkan gendongan Ruben. Tapi siapa sangka, hujan terlalu deras dan memburamkan pandangan Ruben. Ruben tersandung batu dan kami jatuh.
"Ben, lo gak apa-apa?" tanyaku panik.
Ruben malah tertawa. "Sekarang kita sama, Nay. Sama sakit kakinya. Dan gak bisa jalan."
Aku ikut tertawa. Kami duduk di rumput hijau itu tanpa berteduh. Hujan terus membasahi tubuhku dan Ruben. Kami basah kuyup, sekarang.
Ruben terus menerus menatapku. Meski air hujan terus membasahi kami, tapi aku bisa melihat kalau saat ini Ruben menangis. Aku segera menghapus air matanya. Dan dia memelukku erat.
"Satu menit aja." ujarnya.
Aku hanya tersenyum dan membalas pelukan Ruben dengan erat. Aku tau, ini tak akan hanya satu menit.
Hari semakin gelap, dan hujanpun reda. Kaki Ruben sudah tidak terlalu sakit lagi. Jadi kami memutuskan untuk kembali berjalan menuju motor Ruben. Tapi kakiku masih sakit, jadi Ruben berusaha menopang tubuhku, padahal kakinya juga masih sakit.
Ruben mengantarku pulang. Dan kami baru sampai di rumah, saat jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku segera turun dari boncengan motor Ruben.
"Makasih buat hari ini ya, Ben."
"Iya. Ehm, Nay. Soal perasaan yang tadi gue bilang saam lo, itu gue sungguh-sungguh."
"Iya. Gue tau kok kalo lo sungguh-sungguh. Tapi maaf ya, Ben. Gue bener-bener gak bisa. Gue yakin kok, lo pasti bisa dapetin yang lebih dari gue. Dan pastinya, juga yang lebih lo sayang dan cintai."
"Gue gak yakin bisa."
"Pasti bisa."
"Lo bilang, gua pasti bisa. Tapi kenapa lo gak bisa?"
Aku terdiam.
"Nayla." tiba-tiba saja kak Rangga membuka pintu dan memanggilku. "Masuk." perintahnya.
"Iya, kak." aku menoleh pada Ruben sebentar, lalu segera masuk ke dalam rumah.
Rubenpun juga segera pergi.
Kita sama, Nay. Gue juga gak bisa. Gak bisa mencintai cewek lain selain lo, batin Ruben.
"Danau." jawab Ruben. "Jauh banget dari sini. Kemungkinan, kita bakal pulang malem."
"Malem?"
"Gak apa-apa kan?"
"Gimana yah? Gue takut kena marahin sama Papa nih."
"Kalo itu sih lo santai aja. Gue udah izin kok sama orang tua lo."
"Hah! Serius?"
"Iya."
Oke. Jelas aja Mama sama Papa ngizinin Ruben dengan mudahnya. Secarakan, mereka taunya Ruben itu pacar gue. Dan mereka juga gak ada masalah lagi sama Papanya Ruben.
Perut udah kenyang. Waktunya lanjut perjalanan. Ternyata Ruben bener, tempat yang kita tuju kali ini, jauh banget. Kita baru nyampe disana, sore. Dan berhubung motor gak bisa masuk ke jalan yang menuju danau, jadinya aku dan Ruben jalan kaki. Tapi gak sia-sia deh, pas nyampe, mata udah di manjain sama pemandangan danau yang keren. Angin yang sejuk. Pohon-pohon yang bikin suasana teduh. Pokoknya keren abis. Ditambah lagi sama rumah pohon yang ada diatas salah satu pohon besar.
"Oke, Ben." aku mulai bicara, setelah lama kami diam dan hanya menikmati pemandangan di tempat ini. "Jadi, apa sejarah tempat ini?"
"Dulu, kita sama anak-anak yang lain pernah ke sini." Ruben mulai berkisah. "Kita liburan bareng ke Villanya Vivian yang gak terlalu jauh dari sini. Terus kita juga kesini."
"Ohh." aku mengangguk-angguk. "Rumah pohonnya keren ya, Ben."
"Iya. Naik yuk." Ruben menarik tanganku.
"Eh, tunggu."
"Kenapa?"
"Lo yakin rumah pohonnya gak bakalan roboh kalo kita naik ke atas?"
Ruben tertawa.
"Kok lo malah ketawa sih, Ben?"
"Lo tenang aja. Rumah pohonnya masih kuat kok buat kita naikin berdua. Kan dulu kita juga pernah duduk berdua di sana."
Ruben kembali menarik tanganku, dan kamipun naik ke atas Rumah pohon itu. Disini anginnya semakin berhembus kencang.
Tanpa aku sadari, ternyata sedari tadi, Ruben terus menatap wajahku. Sementara aku, sibuk melihat kesana kemari. Melihat pemandangan.
"Nay." Ruben memegang tanganku. "Gue sayang sama lo. Sayang banget. Meskipun sekarang lo udah lupa semua kenangan indah kita, gue tetep sayang sama lo."
"Maaf, Ben." aku menarik tanganku dari genggaman Ruben. "Gue gak bisa!"
"Kenapa, Nay?"
"Jujur, sebenernya, gue udah jatuh cinta sama cowok lain."
"Siapa?"
"Gue rasa lo gak perlu tau sampai bagian itu."
"Tapi gue cinta sama lo, Nay. Lo gak tau, gimana perjuangan gue biar bisa ngedapetin lo, dulu?"
"Itu dulu kan, Ben? Maaf. Tapi sekarang perasaan gue udah beda. Gue gak bisa sama-sama lo lagi."
"Please, Nay. Kasih gue kesempatan buat bisa bikin lo jatuh cinta lagi sama gue."
"Gue gak bisa, Ben."
"Lo belum coba, tapi kenapa lo langsung bilang gak bisa?"
"Ruben, gue gak bisa! Lo ngerti gak sih. Gue. Gak. Bisa."
Aku segera turun dari rumah pohon itu, karena kesal dengan Ruben. Tapi karena gak hati-hati, aku malah terjatuh saat menuruni tangga gantung rumah pohon itu.
"Nayla." Ruben juga segera turun untuk menolongku.
"Auw. Kaki gue." aku memegagangi kakiku yang sakit.
Tanpa meminta persetujuanku lebih dulu, Ruben segera menggendongku di pundaknya. Saat itu juga, hujan turun. Ruben terus menggendongku. Dia sedikit berlari, agar hujan tak lebih lama membasahiku. Tapi aku tidak tega melihatnya seperti itu.
"Pelan-pelan aja, Ben."
"Gak bisa, Nay. Nanti lo bisa basah kuyup kalo kita gak cepet nyampe motor gue dan pergi."
Aku tidak bicara lagi. Aku segera memegang erat leher Ruben, untuk memudahkan gendongan Ruben. Tapi siapa sangka, hujan terlalu deras dan memburamkan pandangan Ruben. Ruben tersandung batu dan kami jatuh.
"Ben, lo gak apa-apa?" tanyaku panik.
Ruben malah tertawa. "Sekarang kita sama, Nay. Sama sakit kakinya. Dan gak bisa jalan."
Aku ikut tertawa. Kami duduk di rumput hijau itu tanpa berteduh. Hujan terus membasahi tubuhku dan Ruben. Kami basah kuyup, sekarang.
Ruben terus menerus menatapku. Meski air hujan terus membasahi kami, tapi aku bisa melihat kalau saat ini Ruben menangis. Aku segera menghapus air matanya. Dan dia memelukku erat.
"Satu menit aja." ujarnya.
Aku hanya tersenyum dan membalas pelukan Ruben dengan erat. Aku tau, ini tak akan hanya satu menit.
Hari semakin gelap, dan hujanpun reda. Kaki Ruben sudah tidak terlalu sakit lagi. Jadi kami memutuskan untuk kembali berjalan menuju motor Ruben. Tapi kakiku masih sakit, jadi Ruben berusaha menopang tubuhku, padahal kakinya juga masih sakit.
Ruben mengantarku pulang. Dan kami baru sampai di rumah, saat jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku segera turun dari boncengan motor Ruben.
"Makasih buat hari ini ya, Ben."
"Iya. Ehm, Nay. Soal perasaan yang tadi gue bilang saam lo, itu gue sungguh-sungguh."
"Iya. Gue tau kok kalo lo sungguh-sungguh. Tapi maaf ya, Ben. Gue bener-bener gak bisa. Gue yakin kok, lo pasti bisa dapetin yang lebih dari gue. Dan pastinya, juga yang lebih lo sayang dan cintai."
"Gue gak yakin bisa."
"Pasti bisa."
"Lo bilang, gua pasti bisa. Tapi kenapa lo gak bisa?"
Aku terdiam.
"Nayla." tiba-tiba saja kak Rangga membuka pintu dan memanggilku. "Masuk." perintahnya.
"Iya, kak." aku menoleh pada Ruben sebentar, lalu segera masuk ke dalam rumah.
Rubenpun juga segera pergi.
Kita sama, Nay. Gue juga gak bisa. Gak bisa mencintai cewek lain selain lo, batin Ruben.
***
No comments:
Post a Comment