Saturday, April 21, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 22

Perdamaian


"Lukanya lumayan parah, pak." ujar dokter Tedi. "Benturan di kepalanya sangat keras."
"Apakah itu akan membahayakannya, Dok?" tanya Papa khawatir. "Apakah dokter bisa menyembuhkannya?"
"Saya belum bisa memastikan." dokter Tedi tampak ragu. "Saya akan memeriksanya lagi, nanti. Jika dia sudah siuman, akan saya beritahu bapak, secepatnya."
"Apakah kami sudah bisa menemuinya, Dok?" tanya Papa lagi.
"Boleh, pak." dokter Tedi mengangguk.

Papa keluar dari ruangan dokter Tedi, dan berjalan gontai menuju kekamar rawatku. Sekarang aku sudah di pindahkan kekamar rawat.

"Apa kata Dokter, Pa?" tanya Mama penasaran.
"Benturan di kepalanya sangat keras, dan mungkin akan membahayakannya." jawab Papa lesu.
"Ya tuhan, Nayla." Mama kembali menangis.
"Apa kita sudah bisa menemuinya, Gara?" tanya tante Mery.
"Sudah." 

Meski suster tidak mengizinkan semua yang ada disini untuk masuk kekamarku, tapi semuanya nekat masuk. Susterpun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berpesan, agar tidak ribut. Karena bisa mengganggu.
Kenzipun berinisiatif untuk menelepon Ruben.

"Lo dimana, Ben?"
"Di kantor polisi, Ken. Ada yang harus gue urus."
"Urus apa? Nayla udah boleh di temuin nih. Lo gak mau liat dia?"
"Dia udah siuman?"
"Belum sih. Tapi apa lo gak mau ada di saat Nayla siuman nanti?"
"Gue mau banget, Ken. Tapi gue gak bisa. Maaf ya."
"Ya udah deh. Gue cuma mau kasih tau itu aja."
"Iya. Thanks ya, Ken."
"Iya."

Ruben menutup teleponnya. Dan Kenzi segera menyusul yang lain, masuk keruang rawatku. Aku hanya terbaring diam di sana. Mama terus menangis dalam pelukan Papa. Kepalaku di perban. Juga banyak luka kecil yang lain, di tangan dan kakiku.
"Nay, ini gue. Keyra." Keyra mulai mengajakku bicara. "Lo harus kuat ya. Lo harus bangun, demi kita semua. Kita semua yang sayang banget sama lo."

Tangis anak-anak mulai pecah. Kak Yudha menggenggam erat tanganku. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya.

***

Sementara itu dikantor polisi, Ruben bertengkar dengan om Agustira.

"Papa liat Nayla kan?" bentak Ruben. "Dia udah rela buat jadi korban dari permusuhan Papa dan om Anggara."

Om Agustira hanya diam.

"Tolong, Pa. Hentikan semua ini." Ruben meminta dengan sungguh-sungguh. "Papa hanya perlu mengikhlaskan kepergian yang bukan salah siapa-siapa ini. Mama meninggal, itu atas kehendak yang kuasa, Pa. Bukan salah om Anggara atau siapapun."
"Mengapa kamu tidak bisa membenci mereka saja, Ben?" ujar om Agustira tenang. "Gadis yang kamu cintai itu, adalah anak dari orang yang sangat Papa benci."
"Ruben gak bisa, Pa. Ruben sayang banget sama Nayla. Papa gak akan ngerti sama perasaan yang Ruben rasakan saat ini. Ruben sakit, Pa. Ruben gak kuat waktu liat Nayla pingsan berlumuran darah." Ruben tertunduk lesu. "Mama di sanapun pasti sedih dengan sikap Papa ini."
"Anggara tetap harus membayarnya." om Agustira geram.

Ruben diam. Dia sudah tidak tau lagi harus bagaimana. Pikirannya melayang memikirkanku.
Kak Rangga juga terdiam di dalam ruangan polisi. Meski dia tidak menyaksikan secara langsung, apa yang telah menimpaku. Tapi dia tau, aku pasti sangat menderita karena ini.

Andai aja kakak bisa menggantikan posisi kamu, Nay, batinnya.

***

Semua orang yang berada di rumah sakit, terkejut oleh kedatangan om Agustira, kak Rangga, dan tentunya Ruben.

"Agustira." Papa berlutut dikaki orang yang namanya dia sebut itu. "Aku mohon maafkanlah aku. Aku mengaku salah. Dan bila maumu adalah memenjarakan aku, aku bersedia."
"Om." Ruben mengangkat tubuh Papa. Memimta Papa untuk berdiri. "Tidak perlu seperti ini, om." ujar Ruben lembut.
"Ini. Ku kembalikan anakmu." om Agustira tetap dengan angkuhnya. "Ruben telah menyadarkanku. Aku sudah ikhlas dengan kematian istriku."
"Jadi?" Papa bertanya ragu.
"Lupakanlah." ujar om Agustira tanpa menatap Papa. "Aku memaafkanmu. Mari kita mulai hidup yang baru sebagai teman, bukan sebagai musuh."

Barulah seutas senyum, terlukis dibibir om Agustira. Dia meraih tubuh Papa, dan memeluknya. Yang lain masih bingung dan tidak tau harus mengeluarkan ekspresi apa.

"Tapi kau tetap harus membayarnya, Gara." om Agustira melepaskan pelukannya pada Papa.
"Bayar dengan apa?" tanya Papa bingung.
"Kau harus merestui hubungan Ruben dengan Nayla." jawab om Agustira.
"Tentu, Gus. Nayla pasti senang dengan hal ini." Papapun memeluk om Agustira.

Semua tersenyum bahagia, menyambut damainya dua keluarga yang pernah berseteru ini. Tapi senyum itu tak tampak di wajah kak Rangga. Dia hanya menatap sedih kedalam kamar rawatku.

"Melanie, maafkan aku." ujar om Agustira pada Mama. Mamapun mengangguk pelan, sembari memberi senyum.
"Nayla pasti sangat bahagia." ujar tante Mery. "Pengorbanannnya tak sia-sia."
"Iya, Mer." Mama dan tante Merypun berpelukan.

Jonash meminta Ruben agar melihat keadaanku di dalam. Tapi kak Rangga juga meminta hal yang sama pada Papa dan Mama. Akhirnya Papa meminta agar Ruben dan kak Rangga melihatku bersama-sama. Tapi Ruben menolak.

"Lo duluan." ujar Ruben sambil menepuk bahu kak Rangga.

Kak Rangga hanya memperlihatkan wajah datar. Lalu masuk kadalam kamar rawatku. Anak-anak langsung menarik tangan Ruben, dan menyidangnya, waktu itu juga.

"Lo gimana sih, Ben. Kok nyuruh kak Rangga duluan?" omel Vivian.
"Biar gimanapun, dia kakaknya Nayla. Dan dia pasti yang paling terpukul dengan kejadian ini." ujar Ruben bijak.
"Iya juga sih. Ruben bener." Jonash setuju. "Siapa tau, dengan kayak gini, kak Rangga juga jadi bisa ngerelain Ruben sama Nayla.
"Bener banget tuh." Idon sok ngerti.
"Ih, gue sih gak yakin kalo kak Rangga bakalan semudah itu ngerelain Ruben sama Nayla." ujar Devand sinis.
"Kok lo ngomongnya gitu sih, Vand?" tanya Kiran.
"Tau nih." Karin menimpali. "Kan sekarang keluarganya Nayla sama Ruben udah damai, kak Rangga udah gak bisa berbuat apa-apa lagi dong."
"Semoga aja kayak gitu." ujar Devand masih dengan nada sinis.

Sementara itu di dalam kamar rawatku, kak Rangga mulai mengoceh banyak hal.

"Lo pasti bakal seneng denger ini. Hubungan lo sama Ruben itu akhirnya di restuin. Tapi jujur, gue bener-bener marah dengernya. Gue gak bisa terima ini. Tapi gue juga gak bisa apa-apa. Kalo aja waktu bisa di putar, gue mau minta supaya gue ini gak terlahir sebagai kakak lo."

Kak Rangga ngomong panjang lebar. Semua hal yang selama ini sangat ingin dia katakan padaku. Hanya saja dia tidak pernah punya kesempatan untuk mengatakannya, karena aku tidak ingin mendengarnya.

"Nayla Anggitha, I Love You. Always and Forever." kak Rangga mencium keningku.

Dia tersenyum tipis, lalu berjalan keluar, meninggalkanku keluar dari kamar rawat.
Meski kak Rangga tak mengisyaratkan agar Ruben masuk, tapi Ruben tau, ini gilirannya.

Ruben membuka pintu itu perlahan, seolah benar-benar tak ingin mengganggu istirahatku. Lalu diapun duduk dikursi yang ada di sebelah ranjangku. Ruben menggenggam erat tanganku, lalu menciumnya. Dia mengusap lembut rambutku, sebelum akhirnya berbicara.

"Kamu tau? Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan, sekaligus membahagiakan buat aku. Menyedihkan, karena kamu harus jadi korban dan terbaring tak sadarkan diri disini. Membahagiakan, karena akhirnya hubungan kita direstui oleh kedua orang tua kita. Sekarang mereka sudah berdamai."

Ruben diam sejenak. Menarik nafas, lalu kembali bicara.

"Meskipun aku baru saja mengetahui sebuah kenyataan pahit kalo ternyata Mama aku meninggal karena ketabrak sama Papa kamu, tapi aku belajar untuk merelakan semua itu. Karena itu cuma masa lalu."

Ruben mencium jariku yang pucat. Dia belum ingin melangkah pergi. Dia memandang wajahku lekat-lekat. Lalu bersuara lagi.

"Aku mencintaimu, Nayla. Kita akan bersama-sama menyadarkan kak Rangga, kalau sampai kapanpun, cintanya tidak akan pernah bisa menyatukannya dengan kamu. Dia harus segera melupakan perasaannya."

Setelah selesai berbicara padaku yang masih belum siuman, akhirnya Ruben keluar dari ruang rawatku.

"Sudah selesai, Ben?" tanya om Agustira.
"Udah, Pa." Ruben mengangguk.
"Kalau begitu, sekarang giliran Papa."

Om Agustirapun masuk kedalam ruang rawatku, lalu duduk di kursi yang tadinya juga ditempati oleh kak Rangga dan Ruben. Semua yang berada diluar, terkejut mendengar om Agustira yang ingin menemui Nayla. Mereka bertanya-tanya, apa yang ingin om Agustira lakukan? Tapi semuanya berpositive thinking.

"Halo, Nayla. Ini om Agustira. Papanya Ruben. Maaf kalau perkenalan kita harus seperti ini. Dan maaf juga, karena om sudah membuat kamu jadi seperti ini. Sekarang om sadar, om terlalu egois dan pendendam."

Om Agustira menahan air matanya yang hampir menetes.

"Kamu adalah gadis yang cantik dan baik. Om bangga sama kamu. Pilihan Ruben sungguh tepat. Tidak sia-sia dia mempertahankan cintanya sama kamu, karena kamu memang pantas untuk di pertahankan. Om harap, kalian tidak akan pernah saling menyakiti."

Om Agustira sudah selesai dalam bicaranya, dan diapun keluar.

"Setelah dia siuman nanti, aku harus meminta maaf padanya secara langsung." ujar om Agustira pada semua orang yang ada disini.
"Karena itu, Nayla harus cepat siuman dan sembuh." ujar Papa.

Semua memutuskan untuk pulang, kecuali tante Mery. Karena untuk hari ini, tante Merylah yang akan menjagaku di rumah sakit. Aku mendapat keistimewaan untuk boleh di tunggui selama 24 jam, karena dokter Tedi sudah kenal dekat dengan keluargaku.

Aku sungguh bersyukur dengan keadaan ini. Karena akhirnya, Perdamaian itupun kami dapatkan. Papa dan om Agustira bahkan akhirnya memutuskan untuk merintis usaha Restoran bersama. Damai itu memang indah.

***


No comments:

Post a Comment