Friday, April 27, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 25

Maaf, Aku Mencintainya !


Setelah memastikan Ruben pulang, aku segera beranjak masuk ke kamar untuk tidur. Tapi kak Rangga mengahadangku.

"Kak Rangga!"
"Ngapain kamu jalan sama Ruben?"
"Pengen aja."
"Dia bilang apa aja sama kamu?"
"Banyak hal."
"Misalnya?"
"Kakak kenapa sih? Cemburu ya?"
"Iya."

Aku terdiam. Mata kak Rangga terus menatapku. Membuatku salah tingkah.

"Aku..." aku menatap kak Rangga. "Aku jatuh cinta."
"Sama siapa?" tanya kak Rangga.
"Kakak." aku mencium pipi kak Rangga, lalu segera memasuki kamarku dan menutup pintunya.
"Nayla." kak Rangga mengetuk pintu kamarku. "Kakak juga, cinta sama kamu."

Duarrr!! Petir seperti akan menyambar rumahku. Dan hujanpun turun. Aku masih berdiri membelakangi pintu kamarku. Dan kak Rangga juga melakukan hal yang sama di depan pintu kamarku. Senyum bahagia, terukir di bibir kami. Aku membuka pintu kamar, dan memeluk kak Rangga.

***

Kak Rangga sudah menungguku di halaman, untuk segera pergi ke sekolah. Senyum lembut, terukir di bibirnya. Aku naik ke boncengan motor kak Rangga, dan kami pergi kesekolah.

Sesampainya di sekolah, aku dan kak Rangga bergandengan tangan menuju kelas. Dan itu membuat heboh satu sekolah. Kejadian itu terulang lagi. Radit yang melihat hal itu, langsung lari duluan menuju kelas, untuk memberitahukan ini pada anak-anak.

"Guys." seru Radit saat sudah menyampai kelas.
"Apa sih, Dit?" tanya Keyra.
"Nayla. Sama. Kak Rangga." Radit menekankan setiap kata.
"Maksud lo apaan sih, Dit?" tanya Ruben. "Kalo ngomong yang jelas dong."
"Iya, Dit." Devand menimpali. "Nayla sama kak Rangga, kenapa?"
"Mereka mesra banget, kayak waktu masih pura-pura pacaran dulu." ujar Radit, akhirnya.
"Apa?"

Anak-anak langsung berlari keluar untuk melihatnya. Dan kebetulan, aku dan kak Rangga sudah sampai di dekat kelasku. Tangan kami masih bergandengan.

"Nayla." Kenzi memanggil namaku.
"Hai, selamat pagi temen-temen." sapaku.
"Ehm, Nay, kakak masuk kelas dulu ya." kak Rangga bergegas pergi. Aku mengangguk pelan.
"Tunggu!" Ruben mengejar kak Rangga.
"Mau ngapain lo?" aku menahan langkah Ruben.
"Gue ada urusan sama dia." Ruben kembali mengejar kak Rangga.
"Ruben." aku berniat menahan Ruben lagi, tapi Jonash memegang tanganku, dan membawaku masuk ke kelas.

Kak Rangga hampir mencapai kelasnya, tapi Ruben menarik bahunya dan memukul wajah kak Rangga.

"Brensek" kak Rangga berniat membalas pukulan Ruben. Tapi di halangi oleh kak Andre.
"Jangan, Ga." kak Andre segera menahan tubuh kak Rangga, agar tak mendekat pada Ruben.
"Dia udah kurang ajar sama gue, Dre." bentak kak Rangga.
"Iya, gue tau." ujar kak Andre. "Tapi ya udah lah, gak usah di bales."
"Iya, Ga. Jangan di bales." kata Ruben sinis. "Kan gue baru sekali ini mukul lo. Sedangkan lo,"

Kak Rangga kesal mendengar ucapan Ruben, dia sekuat tenaga melepaskan pegangan kak Andre dan segera melayangkan pukulannya pada Ruben. Ruben membalasnya, hingga terjadilah perkelahian disana. Kak Andre tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sedangkan anak-anak kelas lain, malah mengadu mereka.

"Pukul terus, pukul terus." teriak mereka kompak.

Aku yang mendengar berita itu, langsung berlari menuju tempat kejadian, di susul anak-anak yang lain. Sesampainya di sana, aku melihat kak Rangga sudah babak belur di pukuli Ruben. Bisa di bilang, kali ini Ruben yang menang.

"Ruben." teriakku.

Rubenpun menghentikan pukulannya pada kak Rangga. 

"Lo apa-apaan sih?" aku mendorong tubuh Ruben, lalu menolong kak Rangga yang tubuhnya tergeletak di lantai.

Darah segar mengalir di pelipis mata, bibir dan hidung kak Rangga.

"Gue juga bisa main kasar kayak lo, Ga." ujar Ruben puas.
"Lo keterlaluan, Ben." aku berdiri dan langsung menampar Ruben.
Ruben tersenyum sinis. "Lo tau, Nay? Dulu lo yang ngelakuin hal ini (menampar), sama Rangga."

Ruben memegangi pipinya yang ku tampar, lalu pergi. Aku terdiam, dan kembali duduk di sebelah kak Rangga yang masih terbaring di lantai. Aku menaruh kepalanya di pangkuanku, menoleh pada teman-temanku. Tapi mereka malah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan pergi.

Aku yang hanya di bantu oleh kak Andre, membawa kak Rangga ke UKS, dan mengobatinya. Kak Andre melarangku untuk melaporkan kejadian ini pada guru.

Setelah kak Rangga baikan, aku kembali ke kelas ku. Ku lihat Ruben sudah tidak ada di kelas. Dan semua teman-temanku menatap sinis. Aku duduk di bangkuku, sebelah Keyra. Dan Keyra langsung memalingkan wajahnya. Begitupun anak-anak yang lain. Hanya Kenzi yang masih memberi senyum, meski sebenarnya terpaksa. Rasanya ingin menangis melihat teman-temanku yang bersikap seperti ini.

Bel istirahat tiba, aku langsung menahan langkah anak-anak yang akan segera pergi ke kantin.

"Ruben mana?" tanyaku.
"Ngapain lo masih nanyain dia?" tanya Keyra sinis.
"Gue..." ucapanku terhenti.

Tiba-tiba Vivian dan si kembar datang kekelas kami. Mereka juga bersikap sama dengan teman-temanku yang lain. Menatapku, sinis.

"Kalian kenapa sih?" tanyaku bingung.
"Elo yang kenapa, Nay." bentak Vivian.
"Gue?" aku bingung.
"Iya." Vivian mengangguk. "Kecelakan itu ternyata udah mengubah lo seratus delapan puluh derajat."
"Orang yang dulunya lo benci, sekarang malah berbalik lo cintai. Sedangkan orang yang dulu lo cintai, sekarang malah berbalik lo benci." Kenzi yang tadinya hanya diam, sekarang mulai mau ikut berbicara.
"Terus gue mesti gimana?" aku mulai menangis. "Siapa yang mesti gue percaya?"
"Hati lo, Nay. Karena hati lo gak akan pernah bohong." ujar Jonash bijak.
"Dan hati gue bilang, kalo gue harus percaya sama kak Rangga." ujarku sambil terisak.
"Hati lo yang mana?" tanya Idon sinis. "Hati lo yang udah mencintai kak Rangga?"
"Maaf." hanya itu yang bisa aku ucapkan.
"Nayla, Nayla." Idon tak habis pikir. "Oke, gue tau kalo gue sama anak-anak gak bisa sepenuhnya nyalahin lo. Karena kita tau, lo kayak gini, karna lo lupa semuanya. Tapi coba deh lo pikir lagi. Apa pantas, lo ngerasain cinta yang lebih, sama kakak kandung lo sendiri?"
"Wajarlah Nay, kalo Ruben ngelakuin hal kayak tadi sama kak Rangga." ujar Devand. "Karena kak Rangga udah ngerebut orang yang paling dia cinta. Dan kak Rangga juga udah mencuci otak lo."
"Kalian gak ngerti." ujarku, lalu segera pergi.
"Sampai kapanpun, kita emang gak bakalan pernah ngerti." aku mendengar ucapan itu keluar dari mulut Vivian. Tapi aku tak lagi menghiraukannya.

***

Pulang sekolah, kak Rangga mengajakku jalan-jalan.

"Kenapa gak langsung pulang aja sih, kak?" tanyaku. "Kan kakak juga lagi sakit gini."
"Justru itu, Nay. Kakak gak mau Mama sama Papa liat muka kakak yang kayak gini. Jadi, kita jangan langsung pulang dulu ya?" bujuk kak Rangga.

Aku pun akhirnya menuruti permintaan kak Rangga. Kami tidak langsung pulang, tapi jalan-jalan dulu. Entah kemana?

Kak Rangga terus melajukan motornya tanpa tujuan, sampai akhirnya hujan turun. Sepertinya sedang musim hujan, karena sejak kemarin, hujan terus turun. Akhirnya aku dan kak Rangga berteduh di sebuah warung makan pinggir jalan.

"Kamu pasti laper. Sekalian makan yuk." ajak kak Rangga. Berhubung kami sudah berhenti di depan warung makan ini.

Aku mengangguk pertanda setuju. Kamipun segera masuk kedalam warung makan ini. Dan warung ini sangat ramai. Beruntunglah masih ada meja yang kosong, dan kami segera menempatinya. Aku sangat terkejut ketika menyadari tempat dan meja yang aku dan kak Rangga tempati ini. Ini warung makan dan meja yang sama, sewaktu aku makan dengan Ruben kemaren. Pelayannya pun tersenyum ramah padaku. Dan dia melirik bingung pada kak Rangga yang sekarang makan bersamaku. Entah bagaimana aku di pikirannya. Akupun tersenyum malu.

Selesai makan, aku dan kak Rangga tak langsung pergi, kami masih menunggu hujan reda. Sambil menunggu, aku memikirkan sesuatu. Hujan, warung makan ini, meja ini, mengingatkanku pada Ruben. Aku melihat keluar, ada pemandangan sebuah gedung yang tinggi menjulang, yang ku ketahui, aku pernah berada di tingkat paling atasnya, yaitu di atap gedung itu, bersama Ruben. Tanpa sadar, aku tersenyum. Dan kak Rangga bingung melihat gelagat anehku itu.

"Kamu kenapa? Kok senyum-senyum gitu?" tanya kak Rangga.
"Ehm, gak apa-apa kok, Kak." kilahku.
"Nay." kak Rangga memegang kedua tanganku. "Kamu beneran cinta sama kakak kan?"
"Tentu dong, kak." aku tersenyum lembut.
"Kamu siap kan, mengahadapi hambatan apa aja yang bakalan kita lalui demi mempertahankan cinta kita ini?" tanya kak Rangga serius.
"Iya, kak." ujarku lembut.

Setelah hujan reda, aku dan kak Ranggapun memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, ternyata Mama dan Papa belum pulang kerja. Yang ada hanya kak Yudha yang asyik bermain dengan laptopnya.

"Eh, kalian udah pulang." ujarnya lembut. "Loh, Ga. Muka lo kenapa? Kok memar-memar gitu."
"Gak apa-apa kok, Kak." kak Rangga segera masuk ke kamarnya.
"Dia kenapa?" kak Yudha melemparkan pertanyaan itu padaku.
"Abis berantem." jawabku jujur.
"Sama siapa?" tanya kak Yudha lagi.

Tapi aku enggan untuk menjawabnya, dan langsung berlari menuju kamarku.

Malam harinya, saat kami makan malam bersama.

"Muka kamu kenapa, Ga?" tanya Papa.

Kak Rangga hanya diam.

"Katanya abis berantem ya?" tanya Papa lagi.
"Iya, Pa." akhirnya kak Rangga menjawab.
"Sama Ruben?" terka Papa.
"Kok Papa tau?" tanyaku.
"Huh! Pantaslah Ruben melakukan itu sama kamu." ujar Papa. Kak Rangga kembali terdiam.
"Kok Papa mgomongnya gitu?" tanyaku lagi.

Papa hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku. Tentu saja aku sudah lupa kalau kak Rangga juga pernah melakukan hal yang sama pada Ruben, sebelumnya.

"Ga, Papa akan menjodohkan kamu dengan Viona, anaknya om Faisal." ujar Papa tiba-tiba.

Sesendok nasi yang akan ku lahap, terjatuh kembali ke piring, beserta sendoknya. Kak Rangga juga tersedak, dan aku segera memberinya minum.

"Papa apa-apaan sih? Pokoknya Rangga gak mau." ujar kak Rangga.
"Kenapa?" tanya Papa sinis. "Kamu kan belum punya pacar."
"Iya. Lagi pula, kalian kan seumuran, Ga." Mama menimpali. "Viona juga adalah anak yang cantik dan baik. Dia juga pintar."
"Pokoknya Rangga gak mau." kak Rangga membanting sendok makannya. "Rangga udah jatuh cinta sama cewek lain. Dan Rangga gak akan ninggalin dia."
"Siapa gadis itu, Ga?" tanya Mama.

Kak Rangga bangkit dari duduknya, lalu menggenggam erat tanganku. Akupun ikut berdiri.

"Apa-apaan ini?" tanya Papa.
"Rangga cinta sama Nayla, Pa, Ma." ujar kak Rangga.
"Rangga. Nayla." kak Yudha terkejut mendengar pengakuan kak Rangga. Begitu juga Mama dan Papa.
"Rangga mohon, Pa." pinta kak Rangga sungguh-sungguh.
"Rangga, tapi itu gak mungkin, Nak." ujar Mama sambil menangis.
"Maaf, Ma. Aku mencintai Nayla." kak Rangga mempererat genggamannya.
"Nayla." kak Yudha memegang pundakku.
"Maaf, kak. Aku cinta sama kak Rangga." aku tertunduk.

Kak Yudha terdiam mendengar ucapanku. Papa tak bisa mengatakan apapun. Papa benar-benar shock dengan pengakuanku dan kak Rangga.

"Kamu gila, Rangga." Papa berjalan gontai sambil memegangi dadanya yang sesak. Mama segera membantu Papa yang berjalan menuju kamarnya.

Kak Yudha menunjukkan wajah kecewanya padaku dan kak Rangga. Diapun ikut pergi meninggalkan meja makan, tanpa mengatakan apapun. Bi Minah yang sedari tadi menyaksikan kejadian ini, ikut kecewa. Kini, hanya tinggal aku dan kak Rangga yang ada di meja makan. Aku masih terdiam. Dan kak Rangga langsung memelukku.

"Aku takut, kak." tangisku pun pecah.
"Kamu tenang aja ya." kak Rangga mempererat pelukannya. "Apapun yang terjadi, kakak gak akan ngelepasin kamu. Kakak cinta sama kamu."

Aku hanya diam. Entah mengapa, aku menjadi takut. Perasaanku pada kak Rangga telah menyakiti banyak orang. "Maaf" hanya itu yang bisa aku ucapkan pada semua orang yang telah aku kecewakan. "Aku mencintainya" salahkah perasaanku itu?

***


No comments:

Post a Comment