Monday, March 26, 2012

27 NOVEMBER TERINDAH UNTUK ABIM




“Sureprise!!” teriak Dinda.

Tepat jam 00.00 malam ini, Abim berulang tahun yang ke-17. Dinda sahabat Abim, menyiapkan pesta kejutan untuk Abim. Dan di bantu teman-temannya yang lain.

“Happy Birthday Abim!” teriak Dinda lagi.

Sebuah kue, nampak dibawa oleh Dinda, dengan 17 lilin. Abim yang hampir terlelap, akhirnya bangun. Dan dengan berat, ia membuka mata. Dia sangat tau, suara siapa yang berteriak barusan. Itu jelas milik Dinda, sahabatnya.

“Wah, makasih yaa Dinda.” Ujar Abim, sambil meniup lilin pada kue yang di bawa Dinda.
“Yeee…” anak-anak lain yang ada dalam pesta kejutanpun, ikut berteriak. “Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga!” teriak mereka lagi.

Abim memotong kuenya, dan memberikan potongan pertama itu untuk Dinda. Anak-anak langsung pada tuit tuit gak jelas. Setelah potongan pertama yang diberikan untuk Dinda, kue itu langsung di lempar ke mukanya Abim. Seketika, mukanya Abim jadi putih-putih belepotan kue. Dan Abim merasa kesal. Akhirnya, Abim balas melempar kue pada teman-temannya yang lain. Jadi deh, muka semuanya pada belepotan kue.

Semua itu terus berlangsung sampai subuh menjelang. Lalu semuanya pulang. Untung hari ini adalah hari minggu, jadi mereka bisa santai dan melanjutkan tidur mereka yang tertunda karena memberi sureprise pada Abim semalam. Kecuali Dinda. Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 07.00, Dinda kembali datang ke rumah Abim.

“Selamat pagi.” Sapanya penuh semangat, begitu Abim keluar membukakan pintu.
“Pagi.” Balas Abim yang masih sedikit ngantuk. “Ada apa, Din?”
“Buruan mandi, sana.” Perintah Dinda.
“Emangnya mau ngapain?” tanya Abim.
“Gue mau ngajakin lo pergi.” Jawab Dinda semangat.
“Pergi kemana?” tanya Abim lagi.
“ Aduh, lo banyak tanya banget sih. Udah, mandi sekarang pokoknya.” Dinda mendorong tubuh Abim sampai ke depan kamar mandi. “Gue tunggu di ruang tamu ya. Tiga puluh menit harus selesai.”
“Iya iya.” Ujar Abim pasrah. “Kalo mau minum atau makan, minta sama Bibi ya.” Teriak Abim dari dalam kamar mandi.”
“Iya.” Jawab Dinda dari ruang tamu.

Abim memang tinggal bersama kedua orang tuanya dirumah ini, tapi orang tuanya sering pergi keluar kota untuk urusan kerja. Jadi yaa, rumah besar yang ditempatinya ini jadi begitu sepi.

Tiga puluh menit kemudian, Abim sudah siap. Dia mengejutkan Dinda yang sedang asik nonton TV diruang tamu.

“Udah siap?” tanya Dinda.
“Udah. “ jawab Abim. “ Tapi emangnya kita mau kemana sih, Din?” kini dia yang balik bertanya pada Dinda.
“Seharian ini, sampai jam 12 malem nanti, gue bakal kasih lo tujuh belas kejutan. Pokoknya, 27 November tahun ini, bakalan jadi 27 November terindah buat lo.” Ujar Dinda penuh semangat.

Abim tersenyum tipis, lalu memeluk Dinda. “Makasih ya Dinda.” Ujarnya.
“Bilang makasihnya entar aja, kali. Kan gue belum ngasih kejutannya.” Ujar Dinda.

Perjalanan pun dimulai. Tempat pertama yang mereka datangi adalah warteg. Abim sangat suka makan di warteg. Karena itu, Dinda membawanya kesini. Ini adalah kejutan kedua, setelah kejutan pesta ulang tahun semalam.

“Lo tau aja nih, kalo gue belum sarapan.” Ujar Abim.
“Iya dong. Sekarang silahkan lo pesen dan makan sepuas lo. Gue yang bayar.” Kata Dinda.
“Siaappp.” Abim segera memesan.
Saking lapernya, Abim sampai menghabiskan dua piring nasi beserta lauknya. Lalu dia memesan lagi untuk piring yang ketiga.

“Lo gak mau, Din?” tawar Abim. “Dari tadi gue cuma makan sendiri nih.”
“Udah, lo nikmatin aja makanannya. Gue udah kenyang kok.” Ujar Dinda sambil memainkan handphonenya.
“Gak bisa gitu dong. Lo tetep harus makan. Biarpun cuma satu sendok.” Abim menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya pada Dinda. Dan Dinda tak bisa menolak. Dia menerima suapan dari Abim.

Selesai makan di warteg, Dinda mengajak Abim ke tempat biasa mereka kumpul dengan teman-teman yang lain. Disana sudah ada teman-teman band Abim yang bersiap untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan alat-alat band mereka. Ini adalah kejutan yang ke 3.

Setelah teman-teman Abim itu nyanyi, mereka memberikan sebuah gitar untuk Abim.

“Kok gitarnya dikasih ke gue sih?” tanya Abim bingung.
“Ini kejutan yang ke 4.” Ujar Dinda. “Gue sengaja beliin gitar ini buat lo. Kan waktu itu, lo bilang lo pengen banget punya gitar ini.”
“Hah! Serius?” Abim setengah percaya. “Wah, makasih banget ya, Din.”
“Iya. Ayo sekarang ikut gue ke tempat dan kejutan berikutnya.” Ajak Dinda.

Kejutan ke 5 adalah anak-anak jalanan yang bernyanyi untuk Abim. Mereka adalah pengamen yang kemaren emang udah di mintai bantuan oleh Dinda, untuk kejutan ke 5 ini. Abim terharu banget liatnya. Dan setelah anak-anak jalanan itu bernyanyi. Kini Abim lah yang ingin membalasnya dengan bernyanyi untuk para anak jalanan ini. Dan kemudian mereka pergi.

“Mereka keren ya.” Yang di maksud Dinda adalah para anak jalanan yang tadi.
“Iya.” Abim membenarkan. “Mereka bukan sekedar anak jalanan, Din. Tapi bagi gue, mereka adalah musisi jalanan yang hebat. Gue bahkan mau belajar banyak dari mereka. Makasih ya, lo udah kasih kejutan yang tadi.”
“Iya.” Dinda tersenyum lembut.

Hari sudah siang. Dinda masih akan memberikan kejutan berikutnya kepada Abim. Tujuan mereka selanjutnya adalah taman kota. Disana, Dinda meminta Abim untuk mencari kejutannya sendiri. Dinda sudah menyiapkan kejutannya di sekitar taman ini. Dan Abim harus mencari dan menemukannya.

Setelah cukup lama mencari, akhirnya Abim menemukan kotak kecil berwarna merah. Dan didalamnya berisi sebuah cincin.

“Ini gak mungkin buat gue kan, Din?” tanya Abim bingung. “Apa gue salah nemuin kejutan?”
“Nggak kok, Bim. Itu emang buat lo.” Ujar Dinda yakin.
“Tapi ini kan cincin buat cewek. Terus juga gak muat sama gue.” Abim masih bingung.
“Gue ngasih ini ke elo, tapi bukan buat lo.” Dinda menjelaskan. “Tapi buat seseorang yang lo cinta, dan bakalan lo milikin nantinya.”
“Gue gak ngerti.” Abim menggaruk-garuk kepalanya.
“Udah lah simpen aja. Nanti juga lo tau apa tujuan gue ngasih cincin ini sama lo.”

Yang itu adalah kejutan ke 6 untuk Abim. Dan dia tidak sabar lagi untuk kejutan ke 7.

“Kejutan ke 7 nya apa?” tanya Abim penasaran.
“Siniin gitar lo.” Dinda meminjam gitar yang tadi di belikannya untuk Abim. Dan dengan tampang yang aneh dan masih bingung, Abim meminjamkannya.

Dinda lalu menyanyikan sebuah lagu untuk Abim, sambil memainkan gitar. Padahal setau Abim, Dinda tidak bisa bermain gitar. Tapi Abim hanya diam saking terpesonanya dengar nyanyian dan permainan gitar Dinda. Dia mendengarkan, sampai Dinda selesai menyanyi.

“Gue gak tau kalo lo bisa main gitar.” Kata Abim setelah Dinda selesai.
“Gue cuma belajar buat satu lagu ini aja kok.” Kata Dinda santai. “Gue udah pelajarin ini dari satu bulan yang lalu.”
“Dan ini semua lo lakuin buat gue?” tanya Abim tak percaya.

Dinda mengangguk pelan, sembari tersenyum.  Berikutnya adalah kejutan ke 8. Dinda mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Tebak apa yang bakal gue kasih sama lo, untuk kejutan ke 8 ini?” Dinda meminta Abim menebaknya.

Abim berfikir. Lalu menjawab asal, “Novel.” Ujarnya sembari tertawa.
“Ih, kok lo tau sih?” Dinda menunjukkan novel yang tadi ngumpet di tasnya. “Gak seru ih.”
“Hah.” Abim terkejut. “Gue tadi nebaknya ngasal aja loh. Karena gue pikir, lo gak mungkin ngasih ini.”
“Emangnya kenapa kalo gue ngasih lo ini?” tanya Dinda sinis.
“Ya karena lo tau kalo gue gak suka baca.” Jawab Abim.
“Gue tau kok kalo lo gak suka baca.” Ujar Dinda. “Tapi untuk kali ini, gue mau lo buat baca novel itu. Tapi bacanya nanti ya,  setelah lo nyampe dirumah.”
“Emangnya ada apa sama novel ini?” tanya Abim yang masih bingung.
“Gue mau tau komentar lo tentang novel buatan gue ini.” Jawaban Dinda benar-benar mengejutkan Abim.
“Lo nerbitin novel?” tanya Abim.
“Itu baru draft novel yang mau gue kasih ke penerbit. Tapi gue mau lo jadi orang pertama yang bacanya, terus kasih komentar deh.” Ujar Dinda.
“Oh, ok.”

Lalu mereka meneruskan perjalanan untuk kejutan yang ke 9. Tempat berikutnya adalah sebuah rumah. Disana Dinda memperkenalkan Abim pada sahabatnya yang bernama Romi.

“Rom, tolong lukis sahabat gue ini yah.” Dinda menunjuk kearah Abim.
“Ok.” Jawab Romi. “Bentar ya, gue siapin alatnya dulu.”

Abim cuma diem aja kayak patung, saat sedang dilukis. Ini adalah kejutan ke 9. Romi melukis wajah Abim. Dan jadinya keren banget.

“Gimana?” tanya Dinda pada Abim.
“Keren banget.” Abim sanget suka pada hasilnya.
“Tapi lukisannya belum bisa di bawa pulang sekarang ya.” Ujar Romi. “Itu belum selesai semua.”
“Iya.” Ujar Abim.
“Ok. Kalo gitu sekarang kita beralih ketempat berikutnya, yuk.” Ajak Dinda. “Makasih ya, Rom.” Ujarnya pada Romi.
“Iya.” Jawab Romi.

Selanjutnya, Dinda membawa Abim ke tempat tantenya. Disana tante Dinda sudah menyambut mereka.

“Udah jadi kan, tante?” tanya Dinda pada tantenya.
“Udah dong, Din. Bentar ya, tante ambil dulu.” Tantenya Dinda lalu kebelakang untuk mengambil kejutan ke 10 untuk Abim. Dan.. taraaaa….. Gelas bergambarkan wajah Abim, dan bertuliskan namanya juga. Tante Dinda lah yang membuatnya, atas permintaan Dinda. Dan Abim sangat senang menerimanya.

“Makasih ya, Din.” Ini sudah yang kesekian kalinya, Abim mengucapkan kata itu pada Dinda. Dan Dinda akan selalu membalasnya dengan senyuman lembut.

Selanjutnya untuk kejutan ke 11, Dinda membelikan topi untuk Abim.  Berikutnya, Dinda memberikan sebuah syal yang ia rajut sendiri, sebagai kejutan yang ke 12.

“Lo keliatan niat banget ya kasih kejutan ke gue. Sampai bikin syal rajutan lo sendiri gini buat gue.” Kata Abim kagum.
“Apa sih yang nggak buat sahabat gue ini.” Ujar Dinda, sambil merangkul bahu Abim.

Hari sudah malam. Kini Dinda membawa Abim kesebuah studio musik. Dan disana, Dinda mempertemukan Abim dengan band favorite-nya. Siapakah? Mereka adalah Pee Wee Gaskin. Abim ngefans banget sama band ini. Dinda susah payah banget buat ngasih sureprise yang ini. Tapi dengan usaha yang keras banget, akhirnya Dinda bisa mempertemukan Abim dengan band idolanya. Dan ini sebagai kejutan yang ke 13.

Setelah puas ngobrol-ngobrol seputar musik dengan idolanya, Abim dan Dinda pun memutuskan untuk pergi.

“Din, kejutan yang tadi itu bener-bener deh. Gak bakalan bisa gue lupain.” Ujar Abim takjub.
“Kejutan yang ke 14 sampai 17 nya juga pasti gak bakalan lo lupain kok.” Dinda menarik tangan Abim, menyebrang jalan dan naik ke atas sebuah gedung dengan 15 lantai. Mereka naik keatapnya.
Dan disini, Abim di buat terkagum lagi. Diatap gedung ini, Dinda sudah menyiapkan satu meja penuh makanan dan dua kursi.

“Lo mau ngajakin gue candle light dinner?” tanya Abim.
“Lo emang bakalan candle light dinner. Tapi bukan sama gue.” Dinda tersenyum lembut.

Ini adalah kejutan ke 14.

“Terus sama siapa dong?” Abim melihat di sekelilingnya. Tak ada orang lain selain mereka berdua disini.
“Yang bakalan dinner sama lo ini adalah kejutan ke 15.” Jawab Dinda.

Tapi Dinda sudah tidak bersemangat seperti tadi lagi. Dia mulai lelah berjalan seharian tadi.

“Dua jam lagi, jam 12 malam.” Dinda melirik jam di tangannya. “Itu artinya, tugas gue hampir selesai.”
“Makasih ya, Din.” Abim memeluk Dinda.

Lalu kejutan ke 15 pun datang.

“Chaca.” Seru Abim tak percaya.
“Itu kejutan ke 15 lo.” Dinda menunjuk ke arah Chaca.

Chaca adalah gadis yang sangat disukai Abim, tapi Abim tidak pernah berani mengatakan cintanya hingga saat ini.

“Hai Bim, selamat ulang tahun ya.” Chaca tersenyum lembut.
“Hmm iya, makasih ya, Cha.” Abim malu-malu.

Dinda meminta mereka untuk segera makan malam. Tapi sebelum itu, Dinda ingin memberikan kejutan yang ke 16. Dinda mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Itu scrapbook. Di dalamnya ada banyak foto-foto Abim. Dari sewaktu ia berumur satu tahun, sampai sekarang.

“Dinda.” Abim benar-benar terharu.
“Sekarang bukan saatnya buat terharu. Sana, dinner sama Chaca. Terus tembak dia. Dan kasih dia cincin yang tadi gue kasih sebagai kejutan ke 6.” Dinda berbicara agak berbisik, agar Chaca tak mendengar.

Sekarang Abim tau, apa maksud Dinda memberikannya cincin. Ternyata ini untuk Abim berikan ke Chaca.

“Ok. Nikmati dinner lo sama Chaca ya. Sekarang gue udah harus pergi.”
“Loh. Tapi kan lo belum kasih kejutan ke 17.”
“Kejutan ke 17 adalah jawaban Chaca. Dan kita sama-sama belum tau apa jawaban Chaca untuk pernyataan cinta lo nanti. Jadi, siap-siap deg-degan buat kejutan ke 17 ya. Bye.”

Dinda segera pergi. Dan Abim kembali ketempat duduknya, di depan Chaca.

“Gue sama sekali gak tau soal ini. Ini semua ulahnya Dinda.” Abim mulai bicara pada Chaca.
“Hmm iya. Dia juga cuma bilang kalo gue harus kesini dan ngucapin ultah sama lo. Gue gak tau kalo ada candle light dinner segala.” Chaca malu-malu.
“Ya udah. Kita makan yuk.” Ajak Abim.

Abim dan Chaca makan tanpa berbicara sekalipun. Barulah setelah mereka selesai makan, Abim kembali berbicara. Menuruti ucapan Dinda. Menanti kejutan ke 17 nya. Abim memainkan gitarnya yang tadi di berikan Dinda. Dia juga memakai Topi dan Syal pemberian Dinda. Keren sudah penampilan Abim sekarang. Dia menyanyi untuk Chaca. Dan tanpa Abim dan Chaca ketahui, Dinda masih disini. Mengintip mereka dari pintu.

Abim mengeluarkan cincin dari saku celananya. Lalu berlutut di depan Chaca.

“Chaca. Gue suka sama lo. Udah lama banget. Dan gue baru berani buat ngomong sekarang. Apa lo mau jadi pacar gue?” Abim membuka kotak cincin itu.
“Aku mau, Bim.” Jawaban Chaca membuat Abim sangat senang. Tapi membuat Dinda sedih.

Abim memeluk Chaca, lalu memasangkan cincin itu pada jari Chaca. Dan dari balik pintu, tangis Dinda pecah.

“Tugasku selesai.” Ujar Dinda pada dirinya sendiri sambil terisak. “Semoga engkau bahagia sahabatku.”

Lalu Dinda pergi. Keluar dari gedung ini. Kemudian, Abim dan Chaca juga turun dari gedung ini, beberapa menit setelah Dinda.

Dan saat sudah berada diluar gedung, Abim dan Chaca terkejut oleh kerumunan orang yang ada di tengah jalan. Ternyata baru saja terjadi kecelakaan disini. Abim dan Chaca melihat kearah kerumunan itu. Dan betapa terkejutnya mereka. Orang yang baru saja tertabrak itu adalah Dinda. Abim segera menganggkat kepala Dinda, meletakkannya pada pangkuan Abim. Dinda masih bisa berbicara.

“Sekarang tepat jam 12.” Ujar Dinda terbatah-batah. “Gue bener kan, ini bakal jadi 27 november terindah buat lo.”
“Dinda.” Abim menangis.
“Selamat ya, lo udah jadian sama Chaca.” Dinda bicara lagi dengan terbatah-batah. Sorry, tadi gue ngintipin kalian.”

Tangis Abim semakin keras. Orang di sekitar itu ikut sedih melihat Abim dan Dinda.

“Abim. Sebenernya, gue cinta sama lo. Dari sejak kita masih kecil. Tapi gue tau, lo cuma menganggap gue sebagai sahabat. Dan gue tetep seneng akan hal itu. Makasih ya, udah jadi sahabat terbaik gue selama ini.”

Seketika, Dinda menghembus nafas terakhirnya. Abim benar-benar terpukul dengan kejadian ini. Tapi untunglah, sebelum Dinda pergi, Dinda memberi Chaca untuk Abim. Jadi Chaca bisa mengobati kesedihan Abim, dan menguatkannya.

Seminggu setelah kematian Dinda, Abim mengirimkan draft novel Dinda ke penerbit. Abim telah selesai membacanya.

“Dia hebat, Cha.” Ujar Abim pada Chaca.
“Iya, Bim.” Chaca membenarkan.

Sekarang mereka sedang ada di tempat pemakaman Dinda. Abim mengusap nisan itu lembut.

“Terima kasih untuk 27 November terindahnya ya, Din. Meskipun, dari segala keindahan yang lo kasih itu, lo juga kasih gue kesedihan. Yaitu kepergian lo. Itu seperti menjadi hari terburuk buat gue, Din.” Abim tak bisa menahan tangisnya.
“Itu benar hari terindah, Bim. Karena saat Dinda meninggalkan kita untuk selamanya. Arah jam sudah melewati angka dua belas. Jadi 27 November itu sudah berlalu.” Chaca menghapus air mata Abim.
“Sekali lagi, terima kasih sahabatku.” Ucap Abim.


-END-


No comments:

Post a Comment