Monday, March 26, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 17

Ketahuan !!


Aku gak bisa ngebayangin, kalo sampai Mama-Papa dan om Agustira mengetahui hubunganku dengan Ruben. Aku mungkin akan sangat sakit, andai mereka menentang dan meminta aku dan Ruben mengakhiri hubungan ini. Maka untuk ketiga kalinya, aku harus kehilangan orang yang aku cintai.

Aku berjalan gontai menuju kelas, setelah sampai di sekolah. Tiba-tiba seseorang mengejutkanku. Memainkan boneka tangan elmo yang lucu dari balik tembok. Menyapaku.

"Halo Mipel. Selamat pagi. Perkenalkan, namaku Elmo. Ini pasti akan jadi hari yang buruk. Karena masih terlalu pagi, Miss Pelupa sudah murung." boneka itu seolah benar-benar bisa bicara. "Ayolah Mipel, tersenyum seperti aku. Maka aku yakin, harimu akan indah. Ayo senyum, senyum."

Aku tertawa geli melihat boneka tangan yang aku tak tau siapa yang memainkannya.

"Hmm Mipel." serunya lagi. "Aku menyuruhmu tersenyum. Bukan tertawa. Jika kau tertawa, maka hari ini akan menjadi hari yang mengejutkan."
"Hmm." aku berdehem. "Aku akan tersenyum, jika kamu mau memperlihatkan, siapa wajah yang ada dibalik tubuhmu itu." ujarku.
"Siapa?" tanyanya dengan suara yang lucu. "Tidak ada siapa-siapa dibelakangku."
"Hmm ok. Karena Elmo bohong, aku gak mau lagi ngomong sama Elmo. Dahh, Elmo." aku membalikkan tubuhku untuk segera pergi.

"Tunggu." kini yang mengatakan itu, adalah sungguh-sunggu suara si pemain boneka tangan Elmo. Aku tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah suara itu.

Tau siapa yang ternyata ada dibalik Elmo tadi? Yup, benar buat kamu yang jawab 'Ruben'. Sekarang dia sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Menatap malu padaku. Aku hanya tersenyum tipis, lalu berjalan mendekatinya.

"Hai Elmo." sapaku.
Ruben tertawa geli. "Suka gak sama pertunjukkan Elmo tadi?"
"Suka gak yaa..." 

Aku melirik Ruben. Dia tersenyum puas. Yaa aku tau, aku tak perlu lagi mengatakan jawabanku. Karena Ruben sudah tau jawabannya.
Lalu dia memasukkan boneka tangan Elmo itu ke dalam tasnya, dan mengajakku masuk kelas bersama. Ruben menggandeng tanganku, sampai kekelas.

Saat sudah sampai kelas, semua mata tertuju padaku dan Ruben. Ruben tersadar, lalu melepaskan tanganku dari genggamannya.

"Weits.. ada apaan nih?" Idon langsung menatap curiga. "Jadi ada pasangan baru lagi disekolah ini?'

Aku dan Ruben hanya diam membeku di depan kelas. Aku tidak pernah merasa se gugup ini. Semua mata memandang kami curiga. Semuanya. Seisi kelas ini. Ah, betapa malunya.

"Kalo kalian diem, berarti bener kan? Kalian udah jadian." Idon menyimpulkan seenaknya.
"Ini beneran, Nay?" tanya Keyra.
"Jangan diem dong. Kasih kepastian jawaban ke kita semua." Radit menatap penasaran. Sementara Jonash hanya tersenyum tipis.
"Gue yakin, sahabat kecil gue udah menemukan cintanya yang baru." Jonash menatapku lembut.

Aku tersenyum padanya. Ruben menggenggam tanganku lagi. "Gak ada yang keberatan kan?" tanyanya. Anak-anak keliatan shock banget, kecuali Jonash. Dia masih diam dengan senyum manis dibibirnya. Kelas menjadi hening.

"Ya jelas nggak lah, Ben." jawab Kenzi, memecah keheningan. "Malah kita bahagia banget denger kabar bahagia ini dari kalian." tambahnya.
"Dan kita mau ngucapin selamat buat kalian." Devand juga menambahkan.

Keyra menghampiri, lalu memelukku erat. Sedang yang lain, memberikan selamat pada Ruben.

"Bagus ya, kenapa gak cerita sama gue sih." ujar Keyra sedikit kesal.
"Gue malu, Key. Terus, takut ketahuan kak Rangga juga." itu pembelaanku.
"Hmm ok. Kalo gitu selamat ya Mipel. Akhirnya lo punya pacar beneran. Bukan cuma yang pura-pura." Keyra memelukku lagi.

***

Jam istirahat tiba. Aku tidak tau ada perjanjian apa yang dibuat oleh para cowok-cowok ini. Yang pasti, kini Ruben diminta untuk mentraktir mereka makan dikantin. Idon yang paling bersemangat untuk ini. Ya, Idon selalu yang akan paling semangat kalo dapet traktiran kayak gini.

"Mipel." Idon merangkulku. "Gue lupa ngucapin selamat nih. Selamat ya."
"Iya." ujarku pelan.
"Jangan sampai lupa loh. Sekarang, Mipel udah gak jomblo lagi. Lo udah punya pacar. Nama pacarnya adalah Ruben Agustira." Idon mengingatkan, agar aku tidak lupa. Yaa, itu usaha yang baik. Mudah-mudahan aku tidak lupa.
"Iya, Idon." aku mengacak-acak rambut Idon.

Anak-anak yang melihat kejadian itu, tertawa. Idon manyun. Lalu kami kembali melanjutkan langkah menuju kantin. Kini, peserta traktirannya bertambah tiga. Ada Vivian dan si kembar Kiran-Karin juga. Ruben menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dan anak-anak malah tertawa.

"Janji deh, Ben. Kita gak akan makan yang banyak kok." ujar Kiran.
"Iya." Karin menimpali. "Paling cuma tiga mangkok doang per orangnya."

Tawa kembali terdengar karena ucapan Karin barusan. Ruben manyun. Aku rasa, uang jajannya minggu ini, akan langsung ludes.

Vivian menghampiriku. "Selamat ya." ucapnya tulus, padaku. "Semoga, kali ini hubungannya langgeng dan gak bermasalah."
"Amin." 

Akhirnya kami sampai juga dikantin. Dan kita semua langsung memesan makanan. Ketika semua makanan sudah berada diatas meja, Idon langsung mengangkat gelas berisi es jeruk miliknya.

"Sebelum mulai makan, kita bersulang dulu dong buat pasangan baru kita." teriaknya yang langsung mendapat perhatian dari seluruh penghuni kantin.
"Setuju." anak-anak langsung ikut mengangkat gelas minuman mereka.
"Buat Ruben dan Nayla. Yeay!!" kita semua bersulang.

Dasar Idon. Suka berlebihan dan konyol banget. Tapi dia selalu menjadi teman yang menyenangkan bagi kami semua. Dia bisa memberi tawa pada kami. Dia bisa mengubah sedih menjadi gembira. Mengubah marah menjadi reda. Itulah Dony Satria.

"Apa?" terdengar suara itu dari meja sebrang. Ada yang berteriak terkejut atas ucapan Idon barusan.

Tau siapa? Itu adalah kak Rangga. Suasana menjadi hening karenanya. Anak-anak terdiam. Aku berusaha cuek dengan reaksi kak Rangga barusan. Lalu aku menyeruput es jeruk milikku. Aku baru mulai waspada, ketika kak Rangga melangkahkan kakinya, berjalan menuju meja kami. Ruben menggenggam erat tanganku. Dan itu sangat menguatkanku.

"Nayla." kak Rangga memanggil namaku.
"Apa!." aku berdiri dari dudukku. Berjalan kearah kak Rangga, dan berdiri angkuh didepannya. "Jangan rusak kebahagiaan gue." aku berbisik pada kak Rangga.

Kak Rangga hanya diam, sambil menahan marah. Dia mengepal kedua tangannya.

"Kalo lo emang kakak yang baik dan sayang sama gue, biarin gue bahagia." aku melanjutkan ucapanku, masih berbisik. Agar anak-anak yang lain tak mendengar.

Aku mundur perlahan dari hadapan kak Rangga, dan kembali ke tempat dudukku. Akhirnya ketahuan juga. Aku bisa menebak apa yang akan kak Rangga lakukan setelah dia mengetahui ini semua. Dan aku sudah bersiap untuk menerima konsekuensinya.

Kak Rangga masih diam mematung ditempatnya berdiri tadi. Sampai kak Andre datang, lalu mengajaknya pergi.

Suasana makan yang tadinya meriah dan menyenangkan dimeja kami, kini menjadi sepi dan semua diam. Idon yang tadinya bersemangatpun, kini jadi diam membeku di tempat duduknya.

Perayaan yang buruk, batinku.

Selesai makan, aku dan Ruben duduk dibawah pohon seperti biasa. Kami diam cukup lama. Sementara aku hanya mengusap-usap liontin pemberian Ruben.

"Kita ketahuan." ujar Ruben, setelah cukup lama kami diam.
"Iya." aku tersenyum. "Sekarang ataupun nanti, aku tau ini pasti akan terjadi."
"Dan aku gak bisa ngebayangin, apa yang akan kak Rangga lakukan setelah dia mengetahui semuanya." Ruben tertunduk lesu.
"Kita akan melewati ini semua bareng-bareng kan, Ben?" aku menggenggam tangan Ruben.
"Pasti." jawabnya mantap.

Aku menyandarkan kepalaku dibahu Ruben. Aku tidak tau, seperti apa kak Rangga akan menghancurkan kebahagiaanku ini. Tapi aku tau dia akan kejam untuk hal ini. Oh tuhan, apa yang harus aku lakukan?

***

Ruben meminta padaku, untuk mengantarku pulang. Tapi aku menolaknya. Aku belum siap. Aku takut kak Yudha melihat, dan dia akan kecewa padaku. Dan syukurlah Ruben mengerti. Dia mengurungkan niatnya.

Aku pulang bersama Devand dengan menggunakan taksi. Karena kak Yudha masih dikampus.

Sesampainya dirumah,

"Sureprise!"
Tau siapa yang berteriak itu? Itu adalah Mama dan Papa. Inikah akhir hubunganku dan Ruben. Kini Mama dan Papa sudah pulang. Dan kak Rangga menatap dingin padaku.

"Sayang." Mama memelukku. "Kok kamu keliatan tegang gitu sih?"
"Mungkin dia kaget karena kita pulang tanpa memberitahunya, Ma." ujar Papa.
"Oh. Iya sayang. Mama dan Papa sengaja pulang cepat setelah menyelesaikan pekerjaan kami. Supaya Mama dan Papa bisa menyiapkan pesta ulang tahun kamu." ujar Mama bersemangat.
Aku tersenyum, "Nayla kangen banget sama Mama dan Papa."

Mama kembali memelukku. Mungkin kak Rangga belum menceritakan tentang hubunganku dan Ruben, sehingga Mama masih bisa memelukku penuh kasih seperti ini.

Malamnya, kami semua makan malam bersama. Aku masih melihat ketenangan diwajah Mama dan Papa. Berarti kak Rangga belum mengatakannya.

"Mery, aku makasih banget loh sama kamu. Karena kamu sudah menjaga anak-anakku." ucap Mama tulus.
"Iya, Mel. Aku senang kok bisa menjaga mereka. Mereka sudah ku anggap seperti anakku sendiri." tante Mery juga berkata tulus.
"Selama kami pergi, tidak ada kejadian yang buruk kan, Mer?" tanya Papa pada tante Mery.
"Nggak ada kok, Gar." jawab tante Mery.

Papa dan Mama tersenyum lega.

"Tapi memang sempet ada yang aneh sama kedua anakmu ini." yang dimaksud tante Mery adalah aku dan kak Rangga.
"Kenapa sama mereka, Mer?" tanya Mama.
"Sering banget berantem." jawab tante Mery.
"Oh, kalo itu sih sudah biasa, Mer." Papa memaklumi. "Rangga dan Nayla ini memang sering sekali berantem, hanya karena masalah-masalah kecil."
"Tapi kali ini, kita berantem bukan karena masalah kecil, Pa." kak Rangga mulai bicara.

Oh tidak. Tuhan, tolonglah aku. Jangan sekarang. Aku belum siap. Jangan biarkan kak Rangga mengatakannya sekarang, ya tuhan.

"Memangnya ada masalah apa sih, Ga?" tanya Mama.
"Nayla pacaran sama Ruben, Pa. Anaknya om Agustira." kak Rangga benar-benar mengatakannya. Ini bukan mimpi.
"Apa?"

Kini suasana di meja makan menjadi tegang. Aku meremas jari-jariku. Tante Mery menatap ngeri pada wajah Papa yang berang. Devand melirikku iba. Mungkin dia sungguh menyesali kejujuran kak Rangga. Kak Yudha hanya diam. Dia juga terkejut dengan berita ini. Tapi dia tau, dia tidak bisa marah.

"Nayla! Apa benar kamu pacaran sama anaknya om Agustira?" Mama meminta kepastian. Tapi aku hanya diam membisu.
"Nayla! Jawab!" bentak Papa.
"Iya." jawabku. "Aku cinta sama Ruben. Apa aku salah?"
"Jelas salah!" bentak Papa lagi.
"Apanya yang salah?" tanyaku sambil menahan tangis.
"Agustira itu musuh Papa. Dia saingan bisnis Papa." Papa berteriak. "Jadi kamu tidak boleh dekat dengan siapapun yang masih ada hubungan darah dengan om Agustira. Apalagi anaknya."
"Tapi, Pa. Nayla sayang dia. Dan dia juga sayang Nayla." aku masih sekuat tenaga menahan tangis.
"Apa kamu yakin?" Papa berteriak lagi. "Jangan-jangan dia memang sengaja mendekati kamu, untuk menghancurkan Papa."
"Nggak, Pa. Ruben gak kayak gitu." akhirnya tangisku pecah.

Tante Mery mencoba menenangkan Papa. "Sudahlah Anggara. Jangan memarahi Nayla lagi. Kasihan dia."
"Tapi dia sudah keterlaluan, Mer." Papa tetap tak bisa terima.
"Sayang, Mama mohon. Lupakan apa yang kamu bilang itu 'cinta'. Karena bukan hanya Mama dan Papa yang akan menentang ini semua. Tapi om Agustira juga." Mama berusaha memberi pengertian padaku.

Aku tetap diam di tempat dudukku.

"Kamu harus menjauhi dia. Sampai kapanpun, Papa tidak akan membiarkan kamu pacaran sama dia." Papa sungguh-sungguh pada ucapannya.
"Papa jahat." aku berlari menuju kamar, meninggalkan mereka semua.

Kak Yudha berniat mengejarku, tapi dihalangi oleh Papa. Mama menangis. Papa tertunduk lesu. Tante Mery dan Devand hanya diam. Mereka sadar, ini bukan bagian mereka. Sementara kak Rangga terlihat sangat puas. Dia merasa, apa yang dia katakan barusan adalah hal yang paling benar.

Aku menangis di kamar, memandangi liontin pemberian Ruben. Aku tak tega memberitahunya sekarang. Hubungan kami sudah ketahuan oleh kedua orang tuaku. Dan aku mulai takut. Apa yang akan terjadi besok? Mengapa cinta selalu sulit untukku?

Kupejamkan mataku perlahan. Semoga tidur bisa membuatku lebih tenang, dan lebih tegar menghadapi hari esok. Semoga.

***


No comments:

Post a Comment