Tuesday, March 20, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 14

Selamat Tinggal, Cinta Monyet !!


Bel pulang sekolah berbunyi. Jonash menghadang langkahku, Keyra, dan Radit yang akan segera pulang.

"Ada apa?" tanyaku.
"Ikut gue bentar, mau gak?" ajak Jonash.
"Kemana?" tanyaku lagi.
"Entar juga tau. Mau atau nggak?" Jonash keliahatan sangat serius.
"Sama mereka juga, nggak?" aku menunjuk kearah Keyra dan Radit.
"Ya nggak lah, Nay. Jonash pastinya cuma mau pergi sama lo." Keyra yang menjawab.
"Iya, Nay. Keyra bener." Jonash membenarkan.
"Ya udah deh." aku dan Jonash segera pergi.

Sementara itu, Keyra dan Radit masih terdiam dikelas.

"Pulang yuk." ajak Radit pada Keyra.
"Mereka mau kemana yah?" Keyra masih menatap kearahku dan Jonash.
"Mana gue tau." jawab Radit. "Merekakan udah lama kenal dan dekat. Mungkin, sekarang Jonash bakalan nembak Nayla."

Ucapan Radit membuat Keyra kesal. Dia segera pergi setelah mendorong dengan keras tubuh Radit.

"Loh, Key. Kenapa?" Radit bingung dibuatnya.

Memang tak banyak yang tau, kalau sebenarnya Keyra naksir Jonash. Tapi dia gak pernah bilang sama siapapun, termasuk aku dan Radit. Dia lebih memilih menyimpannya sendiri. Seperti aku. Yang menyimpan sendiri perasaan sukaku pada Kenzi.

Motor Jonash melaju pelan menuju sebuah jalan yang masih aku ingat kemana arahnya. Ini jalan menuju SD kami dulu. Meskipun aku masih ragu, apakah motor Jonash memang akan membawa kami kesana, tapi saat ini, yang pasti aku yakini memang adalah arah menuju sekolah.

Cuaca mendung menghiasi langit siang ini. Kini, aku dan Jonash sudah berada ditempat tujuan. Aku benar, tujuan kami adalah sekolah kami yang dulu. Aku segera turun dari boncengan motor Jonash. Menatap sekolah itu, sambil mencoba mengingat-ingat kenangan yang pernah ada disana. Aku dan Jonash berdiri didepan gerbangnya. Banyak yang telah berubah setelah hampir empat tahun kami tinggalkan.

"Ada kenangan yang lo ingat nggak?" tanya Jonash setelah kami puas memandangi sekolah ini.
"Ada. Tapi mungkin gak semua." jawabku tanpa memalingkan pandangan dari sekolah ini.
"Nih." Jonash memberiku permen yang seperti biasa. "Siapa tau, lo bisa mengingat lebih banyak kenangan kalo makan permen ini."

Aku tersenyum, lalu mengambil permen itu. Jonash juga membuka sebungkus permen yang sama dan mengulumnya. Kami serasa kembali kemasa lalu. Kemasa yang paling menyenangkan dan gak ribet kayak sekarang. Masa dimana kami adalah anak kecil yang polos, tak banyak memiliki masalah.

"Kalo lo mau tetep merasakan indahnya masa lalu kita, harusnya lo simpen semua itu dihati lo. Jangan di pikiran lo. Biar gak lupa."Jonash mengusap pelan rambutku, yang saat itu dikuncir satu.

Aku tersentak mendengar kata-kata Jonash. Aku merasa, pernah ada yang mengatakan itu padaku, sebelum Jonash. Tapi siapa?Aku lupa!

"Gue selalu nyoba banyak cara untuk menyimpan semuanya dalam hati, Jo." ujarku serius. "Tapi gak mudah. Sebab hati gue sering terluka karena kenangan yang menyakitkan."
"Seperti masalah lo dan kak Rangga?" terka Jonash.
"Iya." aku mengangguk pelan.
"Mau mengulang masa lalu nggak?" Jonash tersenyum licik, lalu menarik pita pengikat rambutku dan membawanya lari bersamanya.

Aku ingat kejadian ini. Hampir setiap hari Jonash melakukan ini, dulu. Ketika kami SD. Dan setelah itu, aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak mau menguncir rambutku lagi. Tapi setelah beberapa tahun berlalu tanpa Jonash, aku lupa pernah berjanji itu. Dan kini, Jonash kembali mengingatkannya.

"Jonash." aku berlari mengejar Jonash disekeliling halaman sekolah. Mencoba mengambil kunciran rambutku darinya. Sama seperti dulu. Tapi dulu, bila tidak bisa mendapatkannya, aku akan menangis.

Aku terdiam sebentar ditengah lapangan. Memejamkan mata. Mencoba mengingat semua yang indah dan tanpa beban. Gerbang sekolah memang masih terbuka, karena itu, aku dan Jonash bisa masuk. Jonash berdiri disebelahku. Menatapku yang masih memejamkan mata.
"Nayla." panggilnya, yang membuatku harus membuka mata.
"Ya." kataku sambil menatapnya.
"Aku jatuh cinta." ujarnya pelan. Lalu tersenyum tipis. Akupun juga tersenyum lembut padanya.
"Aku juga." jawabku.

Jonash langsung memelukku. Banyak hal yang terkadang tak pernah kita sadari. Seperti teman lama yang tak terduga. Seperti cinta yang bisa datang tiba-tiba, dimana saja dan kapan saja. Akupun memeluk Jonash erat. Pikiranku masih melayang dimasa lalu.

"Sama siapa?" tanyaku yang masih dalam pelukan Jonash.
Jonash melepas pelukannya, lalu memegang kedua tanganku. "Sama sahabat lo." jawabnya.
"Keyra?" tanyaku memastikan.
"Iya." Jonash mengangguk pelan. "Kalo lo?" tanyanya.
"Ruben." jawabku.

Aku dan Jonash terdiam sesaat. Lalu saling pandang, dan kemudian tertawa. Jonash mengembalikan kunciran rambutku. Lalu menggandeng tanganku menuju gerbang sekolah. Aku hanya diam dan tidak bertanya, kemanakah Jonash akan membawaku pergi.

Langkah kami berhenti di depan seorang laki-laki paruh baya yang menjual sesuatu yang dulu sangat aku dan Jonash sukai, didepan sekolah. Jonash mengalihkan pandangannya padaku.

"Masih inget?" tanyanya.
"Kerak telor." aku menyebut nama makanan itu. "Ya, gue inget. Ini makanan kesukaan gue pas jaman SD."
"Dan kemudian juga jadi makanan kesukaan gue, gara-gara gue penasaran sama makanan yang paling lo suka ini." lagi-lagi, kami membicarakan masa lalu.
"Oh ya? Gue gak tau kalo lo juga suka kerak telor." ujarku.
"Tuh kan, lo lupa nih pasti." Jonash hanya tersenyum.
"Kayaknya sih gitu." aku nyengir.

Lalu kami segera memesan kerak telor itu pada si kakek. Ini masih kakek yang sama. Yang dulu menjual kerak telor untuk kami didepan sekolah. Tapi biasanya, kalau sudah jam segini, dagangannya sudah habis. Sedangkan hari ini, masih banyak. Yah, anak-anak SD jaman sekarang, mungkin tidak menyukai lagi makanan seperti ini. Beda dengan aku dan Jonash dulu. Semuanya memang sudah berubah. Termasuk perasaan aku dan Jonash.

"Kek, masih ingat kita, nggak?" tanya Jonash pada si kakek.

Si kakek memperhatikan wajahku dan Jonash dengan seksama. Lalu kemudian dia menggeleng. Itu adalah jawaban dari pertanyaan Jonash. Kakek itu sudah tak ingat kami lagi. Kami yang dulu selalu menjadi pelanggan setianya.

Aku dan Jonash tersenyum.

"Si kakek udah sama kayak lo, Nay." ujar Jonash tiba-tiba.
"Maksudnya?" aku tak mengerti dengan pernyataan Jonash barusan.
"Kalian sama." jawabnya. "Sama-sama pelupa." Jonash langsung tertawa setelah mengucapkan itu.

Aku mencubit lengan Jonash. Dan Jonash tetap tertawa. Dasar!

"Gue gak ngebayangin deh, Nay." dia melanjutkan. "Lo yang masih muda gini udah pelupa. Gimana kalo pas udah tua kayak si kakek."

Jonash kembali tertawa. Sedang aku hanya diam, karena kesal. Ok. Aku bisa memaklumi. Jonash bukan orang pertama yang berpikiran begitu terhadapku. Aku memang pelupa. Lalu? Kenapa?

Tak lama kemudian, dua kerak telorpun jadi. Dan si kakek langsung memberikannya pada aku dan Jonash. Kami langsung melahap kerak telor itu. Ahh, entah sudah berapa lamu aku tidak memakan ini, pikirku.

Saking lamanya gak makan makanan favorit kita ini, akhirnya aku menghabiskan tiga kerak telor sekaligus. Sedangkan Jonash menghabiskan lima. Kebetulan kami memang belum makan siang dari sepulang sekolah tadi.

Selesai melahap kerak telor. Aku dan Jonash kembali ketempat dimana motor Jonash diparkir, tadi.

"Udahan ya flashbacknya." kata Jonash padaku. "Sekarang gue anterin lo pulang."
"Ehm, tunggu dulu Jo." aku menahan Jonash. "Gue mau tau soal lo yang naksir Keyra."
"Ohh." Jonash tersenyum tipis. " Iya. Sejak pertama lo kenalin gue sama dia waktu itu, gue udah tertarik sama dia. Dan sekarang, puncaknya, gue cinta sama dia."
"Terus? Kapan lo bakalan nembak dia?" tanyaku penasaran.
"Gue juga belum tau, Nay. Gue masih belum berani ngomong sekarang." Jonash menatap kearahku.
"Lo butuh bantuan gue?" aku bisa langsung tau maksud tatapan Jonash tadi.

Dia mengangguk pelan, lalu tersenyum. Aku berfikir sebentar.

"Lo berniat buat ngomong sekarang, nggak?" tanyaku, kemudian. Setelah selesai berfikir.
"Hah!" Jonash kaget. "Ya, nggak lah, Nay. Masa sekarang. Gue belum ada persiapan."
"Emangnya butuh persiapan yang kayak gimana?" tanyaku bingung.
"Yaaa, gue mesti mempersiapakan mental gue. Terus juga mesti nyiapain kata-kata yang romantis. Sama harus ngasih penembakan yang berkesan." ujar Jonash panjang lebar.
"Lo gak perlu itu." kataku yakin. "Ayo ikut gue sekarang."
"Kemana?" tanya Jonash.
"Kerumah Keyra." jawabku. "Ayo cepetan."
"Tapi, Nay..."

Jonash tidak bisa menolak lagi, aku segera menyuruhnya untuk melajukan motornya menuju rumah Keyra. Tapi sebelumnya, kita beli bunga dulu.

"Beli bunga apa, Nay?" tanya Jonash. Dia bingung melihat banyaknya bunga yang terpajang di kios bunga.
Aku mengambil sebuket bunga. Dan memberikannya pada Jonash. "Nih. Keyra suka banget sama bunga anggrek."
"Bunga anggrek?" Jonash mengerutkan keningnya. "Tapi inikan bunga lili, Nay."
"Hah, masa sih?" aku memperhatikan bunga itu. "Tapi gue liat, waktu itu di pernah beli bunga ini. Dan dia bilang kalo bunga ini adalanh bunga kesukaannya. Tapi ya, gue emang gak tau apa nama bunganya."
"Jadi dia suka sama bunga ini?" tanya Jonash, memastikan.
"Iya." aku mengangguk yakin.
"Ok. kalo gitu gue beli bunga yang ini." Jonash membayar pada mbak si penjual bunga. "Perlu lo simpen diotak lo itu, kalo nama bunga ini adalah bunga lili, bukan bunga anggrek."
"Iya." kataku pasrah. "Abisnya gue kan gak tau nama-nama bunga."
Jonash hanya menghela nafas. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Keyra.
Sesampainya disana, aku langsung nyuruh Jonash untuk berdiri dihalaman rumahnya Keyra.
"Gue harus ngapain nih, sekarang?" tanya Jonash.
"Teriak yang kenceng biar dia keluar. Terus bilang kalo lo cinta sama dia." perintahku.
"Ah gila lo, Nay." umpat Jonash. "Bisa diusir sama bapak/ibunya, ntar."
"Gak akan." ujarku yakin. "Setau gue, hari ini ortunya Keyra lagi pergi ke Bandung. Dan baru pulang besok. Jadi lo aman."
Jonash percaya aja, dan langsung teriak sambil megang bunga ditangannya.
"Keyraaaaaa..."
Jonash terus-terusan manggil nama Keyra, sampai yang punya nama keluar.
"Jonash." Keyra langsung nyamperin Jonash yang udah betuk-batuk gara-gara teriak-teriak.
"Keyra. Nih buat kamu." Jonash ngasihin bunga ke Keyra.
"Makasih ya." Keyra melirik kearahku. Dan aku hanya tersenyum tipis.
"Key." Jonash memegang kedua tangan Keyra. "Aku gak tau harus mulai ngomong dari mana. Tapi aku sadar, suara aku udah gak memungkinkan lagi buat ngomong panjang lebar, karena rasanya udah mau abis. Jadi aku mau bilang kalo aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kalo kamu juga punya perasaan yang sama kayak aku, apakah kamu mau jadi pacar aku?"

Keyra cuma diam, dan lagi-lagi menatap kearahku. Aku jadi aneh.

"Bukannya lo naksir Nayla, ya?" pertanyaan Keyra, mengejutkan aku dan Jonash.
"Ya ampun, Key, kan waktu itu gue udah pernah bilang, kalo gue sama Jonash itu cuma temen. Perasaan suka yang dulu itu, cuma cinta monyet." aku menjelaskan.
"Iya, Key." Jonash menimpali. "Aku serius, aku cinta sama kamu."
"Ehm, sebenernya.." Keyra menarik nafas sebentar. "Gue juga suka sama lo, Jo. Malah gue cemburu banget, pas tadi lo ngajakin Nayla jalan berdua."
"Oh. Gue ngajakin Nayla jalan, ya buat bilang ke dia, kalo gue naksir lo. Jadi gimana?" Jonash keliatan tegang.
"Tadi kan gue udah bilang, kalo gue juga naksir sama lo. Jadi yaa, lo udah tau kan jawabannya." ujar Keyra malu.
"Itu artinya, lo diterima, Jo." ake berteriak pada Jonash.

Jonash senyum, dan langsung meluk Keyra. Mereka jadian. Yeay, aku ikut senang. Bertambah lagi satu pasangan dari sahabat-sahabatku. Aku senang mereka bahagia.

"Makasih ya." ujar Jonash, setelah melepas pelukannya.
"Iya." Keyra mengangguk pelan.
"Suka gak sama bunganya?" Jonash bertanya malu-malu. "Kata Nayla sih, ini bunga kesukaan kamu."
"Hah?" Keyra kaget. "Dasar Nayla! Jelas-jelas, aku pernah bilang kedia kalo aku suka mawar putih."
"Ah, tuh kan. Aku udah duga dari awal, kalo dia pasti lupa." Jonash menggeleng-gelengkan kepalanya. Betapa bodohnya, dia masih percaya pada pendapatku yang udah pasti itu gak bener, karena aku lupa kenyataannya.
"Ya udahlah gak apa-apa. Nayla kan emang selalu kayak gitu." Keyra memaklumi.
"Tapi aku tetep harus bilang makasih sama dia, untuk ide gilanya." Jonash menghela nafas. "Untung dia gak nyuruh aku buat ngasih kamu bunga kamboja. Kan sama-sama putih, tuh."

Keyra tertawa geli mendengar ucapan Jonasah. Jonash lalu meninggalkan Keyra dan berjalan menghampiriku.
"Lo salah." ujarnya.
"Salah apa?" tanyaku bingung.
"Keyra itu, suka mawar putih. Bukan lili putih." aku cuma nyengir dengar ucapannya Jonash.
"Maaf ya." ujarku.
"Berhubung gue lagi seneng, jadi lo gue maafin." kata Jonash tulus.
"Dan sekarang, waktunya gue buat bilang, selamat tinggal cinta monyet." aku tertawa.
Jonash tersenyum sambil mengusap lembut rambutku. Dia tau aku baru saja mengucapkan selamat tinggal untuk cinta pertamaku. Dan sekarang, aku juga harus mengatakan ini padanya. Selamat tinggal cinta monyet. Semoga kau bahagia. Terima kasih karena selalu melindungi dan menjagaku.

***


No comments:

Post a Comment