Mengertilah !!
Kak Rangga nekat mengajakku berangkat bareng, pagi ini. Seisi rumah kembali ribut kayak dulu. Aku dan kak Rangga berantem kayak tikus dan kucing lagi.
"Aduh, udah dong." kak Yudha melerai kami. "Kalian kok kayak gini lagi sih?"
"Dia yang mulai duluan, kak." aku membela diri. "Padahal aku gak mau berangkat sama dia, tapi dianya maksa banget."
"Iya, oke. Emang gue yang duluan bikin masalah." kak Rangga mengalah. "Tapi emangnya salah ya? Kalo gue mau pergi kesekolah bareng lo?"
"Itu emang gak salah. Tapi gue gak mau." aku menolak mati-matian.
"Sebenernya ini kenapa sih? Kemaren-kemaren, kalian akur banget." kak Yudha menuntut penjelasan.
"Pokoknya Nayla gak mau lagi berangkat sama dia, kak." aku menunjuk pada kak Rangga, sambil memalingkan muka.
"Ya udah, kalo gitu kamu berangkat sama kakak aja." kata kak Yudha lembut. "Lo denger kan, Ga! Dan kakak yakin lo ngerti."
Kak Rangga terlihat sangat marah karena keputusanku. Tapi bila kak Yudha yang sudah memintanya untuk mengerti, maka itu artinya, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dari dulu, memang hanya kak Yudha yang bisa membuat suasana perangku dengan kak Rangga menjadi reda. Dia kakak yang bijaksana. Kak Ranggapun hormat padanya.
Tante Mery hanya terdiam di dapur bersama Devand. Tidak satupun dari mereka berniat untuk ikut campur. Tante Mery dan Devand tau, ini bukan bagian mereka. Meskipun Devand tau apa yang terjadi, tapi dia tetap enggan ikut campur.
Suara motor kak Rangga sudah menghilang keluar halaman rumah. Dia memilih pergi, setelah aku menolak ajakannya. Aku duduk acuh di meja makan. Selesai sarapan, aku dan Devand berangkat kesekolah diantar kak Yudha.
Sesampainya disekolah, aku melihat kak Rangga diam membisu diparkiran, bersama kak Andre. Aku anggap, semua ini sudah berakhir. Kak Rangga harus melupakan perasaannya, seperti aku.
Aku berjalan pelan bersama Devand, menuju kelas. Dan dia mencoba mengajakku ngobrol, demi membunuh suasana yang dingin ini.
"Nay, udah nyelesain tugas Bahasa Inggris belum?"
"Udah, Vand. Lo?"
"Gue juga udah. Semalem sih, rencananya mau ngajakin lo ngerjain bareng. Tapi ternyata, lo-nya gak ada."
"Oh, iya. Sorry ya."
"Iya."
Aku dan Devand, sampai dikelas. Dan Keyra langsung menarik tanganku cepat. Dia menatapku serius.
"Ada apa sih?" tanyaku bingung.
"Kemaren, lo kemana sama Ruben?" pertanyaan Keyra membuatku ingat sesuatu.
"Lo tau darimana?" aku balik bertanya.
"Kemaren, gue liat pas lo naik ke boncengan motornya Ruben. Terus kalian pergi. Gue fikir, dia cuma mau ngaterin lo pulang. Tapi pas malemnya, kak Rangga nelfon gue dan nanyain lo, gue baru tau, kalo kalian pergi berdua." Keyra menjelaskan panjang lebar.
Aku hanya diam. Dan tiba-tiba, Radit memajukan kepalanya ditengah-tengah aku dan Keyra.
"Gue jamin, Nayla pasti lupa." terka Radit.
"Gue inget kok, meski gak semuanya." kataku lesu.
"Apa aja yang lo inget?" Keyra masih penasaran.
"Gue inget, semalem kita nyelinap masuk ke sebuah gedung, terus naik ke atapnya." kataku sambil membayangkan kejadian semalam.
"Hah!" Keyra dan Radit terkejut.
"Terus, apa lagi yang lo inget?" Keyra masih mencoba mencari tau.
"Kalo gak salah sih, kita ngobrol-ngobrol gitu." aku mencoba mengingat lagi.
"Ngobrolin apa?" tanya Radit.
"Apa yah. Yang gue ingat sih, dia minta gue buat menyimpan hari itu dalam hati. Biar gue bisa terus ngerasainnya." kataku masih dengan usaha yang keras untuk mengingat setiap kata dan kejadian yang terjadi semalam.
"Waahh, pasti semalem so sweet banget ya, Nay." Keyra menyimpulkan.
"Alah, percuma juga kalo so sweet. Orang Nayla gak inget semuanya." ujar Radit sinis.
"Ya abis, mau gimana lagi, Dit. Lo kan tau gue." aku mengharapkan kemakluman Radit.
***
Aku melihat Kenzi sedang duduk sendiri di taman sekolah. Beberapa hari ini, dia hampir terlupakan olehku. Dan hari ini, aku akan mengajaknya ngobrol.
"Hai, Ken." sapaku semanis mungkin.
"Hai, Nay." dia balas menyapa.
"Lagi ngapain sendirian disini?" tanyaku basa-basi.
"Lagi mikir." jawabnya, yang mengundang tanya bagi ku.
"Mikir apa?" aku jadi penasaran.
"Nay."
Kenzi duduk menghadap padaku. Lalu menatapku, cukup lama.
"Menurut lo, kalo orang punya rasa sayang sama orang, perlu gak sih buat ngungkapinnya?" tanya Kenzi padaku.
"Emm..." aku berfikir. "Kalo menurut gue sih, kayaknya perlu banget, Ken. Biar orang itu tau."
Mungkin seharusnya, kata-kata yang ku ucapkan barusan itu, adalah untukku sendiri. Aku mencintai Kenzi, dan aku seharusnya mengatakan itu, agar dia tau. Tapi kenyataannya, aku tidak berani.
"Emm, gitu ya, Nay." kini Kenzi mulai sibuk dengan pikirannya sendiri. "Lo sendiri?" dia bertanya lagi padaku.
"Apanya?" tanyaku polos.
"Lo sendiri kan lagi ada masalah sama kak Rangga. Pasti lo juga ada perasaan yang lo simpan. Apa lo akan mengatakan itu sama kak Rangga? Biar dia tau apa yang lo rasain." kata-kata Kenzi benar-benar membuat ku terdiam. Tapi satu hal yang tidak pernah Kenzi tau. Aku bukan orang yang bisa mengungkapkan sesuatu begitu saja. Selain karena aku bisa dengan cepat melupakannya. Ini juga karena aku tidak bisa mengungkapkannya pada kak Rangga. Sebab kak Rangga tak akan pernah mengerti.
"Nay." Kenzi menepuk pundakku. "Kok lo diem sih?"
"Oh, ehm, iya. Sorry, Ken. Tadi gue abis mikirin kata-kata lo." kataku jujur.
"Gue liat, kak Rangga sayang banget sama lo." Kenzi berpendapat. "Apapun masalah yang ada sama kalian sekarang, mestinya kalian selesain."
"Percuma, Ken." aku mulai lelah memikirkan semuanya. "Dia nggak akan ngerti."
"Nggak akan ngerti, kalo gak lo kasih pengertian." jawaban Kenzi benar-benar bijak. "Kayaknya kita baru aja saling menyarankan deh, Nay." katanya lagi.
"Maksud lo?" tanyaku bertambah bingung.
"Lo baru aja nyaranin gue buat ngungkapin perasaan sayang gue sama seseorang. Dan gue nyaranin lo buat ngasih pengertian sama kak Rangga. Itu pasti sama-sama yang terbaik untuk kita, Nay." Kenzi berbicara penuh keyakinan.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Entah mengapa, aku berfikir, apa yang dikatakan Kenzi itu benar. Mungkinkah sekarang ini, Kenzi juga sedang memberikan pengertian kepadaku, bahwa kami akan lebih baik jika menjadi seorang sahabat?
***
Aku memberanikan diri menemui kak Rangga dikelasnya. Seisi kelas itu menatapku sinis. Aku memberi isyarat untuk menyuruhnya keluar dari kelas dan ikut denganku.
Sepanjang jalan, dia hanya diam. Sampai kami berada ditempat yang aman. Halaman belakang sekolah. Aku langsung memeluknya.
"Aku bisa melupakan satu hari yang begitu indah." aku memulai percakapan. "Tapi aku tidak bisa melupakan begitu saja, perasaan terlarang seorang kakak kepadaku."
Kak Rangga hanya diam. Aku masih memeluknya, lalu melanjutkan ucapanku. "Percayalah kak, itu bukan perasaan seorang laki-laki pada perempuan. Tapi itu benar-benar perasaan cinta yang sangat besar untuk seorang adik. Sampai kakak berkesimpulan, itu cinta."
Kak Rangga masih diam. Dan aku masih akan melanjutkan kata-kataku. "Kita masih bisa seperti dulu kan? Bersama sebagai kakak-adik. Mengertilah kak, kakak tidak mungkin bisa memutuskan tali persaudaraan yang sudah terikat kuat. Aku punya cintaku sendiri. Dan kakak pasti juga akan menemuinya nanti."
Kak Rangga melepaskan pelukanku. Dia tersenyum tipis. Membelai lembut pipiku. Aku bisa melihat matanya yang memerah. Aku tau, aku tidak akan bisa merasakan indahnya cinta bersama cowok lain, kalo cinta kak Rangga masih mengikatku.
Ingat kejadian semalam? Ruben mencium keningku. Tapi pikiranku malah terisi oleh bayangan kak Rangga.
Semoga kak Rangga bisa mengerti.
***
No comments:
Post a Comment