Thursday, March 15, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 12

Selalu Menjagamu


Pagi datang lagi. Hari ini adalah hari senin. Aku harus kembali menjalani aktivitas sebagai seorang siswa, setelah liburan hari minggu kemarin.
Semua sudah bersiap dimeja makan, untuk sarapan. Senyum lembut tante Mery menyambut kami.

"Selamat pagi." sapanya.
"Pagi, tante." kami juga balas menyapa, bersamaan.
"Ayo sarapan." tante Mery memasak nasi goreng untuk menu sarapan pagi ini. Meskipun ada bi Minah. Tapi untuk makan kami, tante Mery lah yang ingin mamasaknya setiap hari.
"Papa sama Mama, kok gak bisa ditelfon ya, tante." kak Yudha membuka obrolan pagi ini.
"Mereka lagi sibuk, Yud." jawab tante Mery. "Kemaren Mama kalian sempet telfon, buat nanyain kabar kalian. Sekalian bilang, kalo mereka akan berada satu minggu lagi disana."
"Yaahh." aku menghela nafas panjang. Lesu. "Padahal aku kan udah kangen banget." ujarku.
"Jangan manja gitu deh." kak Rangga sewot. "Lo gak perlu khawatir gak ada yang merhatiin atau jagain lo, tanpa Papa-Mama. Kan masih ada gue."
"Dan gue juga." kak Yudha menimpali, sambil mengelus lembut rambutku.
"Makasih ya, kak." aku hanya mengucapkan kata itu untuk kak Yudha. Jadinya kak Rangga manyun.

Tiba-tiba Handphone-ku berbunyi. Ada sms dari Keyra.

From : Keyra Leanitha
January 12, 2010
06.25
Mipel ! Gue jemput ya!
Hari ini gue bawa mobil.

Kemudian sms itu ku balas.

From : Nayla Anggitha
January 12, 2010
06.27
Ok! Gue tunggu !

"Kak, hari ini aku berangkatnya sama Keyra aja ya." ujarku pada kak Yudha.
"Oh ya udah deh." kata kak Yudha sembari tersenyum.
"Loh, gak berangkat sama gue aja, Nay?" tanya kak Rangga, tiba-tiba.
"Berangkat sama lo?" tanyaku bingung. "Males banget."

Devand cekikikan mendengar ucapanku pada kak Rangga. Kak Rangga kesal, lalu melirik sinis padanya. Dan dengan cepat, Devand menutup mulutnya.

Tiba-tiba bi Minah memanggilku dan mengatakan bahwa Keyra sudah menunggu didepan. Aku segera beranjak dari meja makan dan melangkah cepat menuju halaman rumah, menemui Keyra. Ternyata kak Rangga mengikuti langkahku dari belakang. Dia menarik tanganku, ketika aku baru saja ingin membuka pintu depan.

"Gue minta maaf." ujarnya sungguh-sungguh. "Gue tau gue salah. Tapi gue mohon sama lo, jangan ngehindar terus dari gue. Gue gak minta lebih kok. Gue cuma pengen minta izin buat selalu menjaga lo."

Aku terdiam sesaat. Lalu tersenyum lembut kepadanya. Kak Rangga terlihat bahagia melihat senyum yang terukir dibibirku. Kemudian dia melangkah pergi untuk mengambil motornya. Aku sendiri kembali melangkah menuju halaman depan rumah.

"Hai Mipel." sapa Keyra begitu melihatku sudah keluar dari rumah.
"Hai." balasku. "Tumben bawa mobil sendiri? Emangnya udah punya SIM?" tanyaku.
"Belum sih." Keyra nyengir. "Tapi gue mohon-mohon sama Papa buat kali ini aja."
"Dan bokap lo ngizinin?" tanyaku lagi.
"Iya dong. Buktinya sekarang gue udah ada didepan lo dengan mobil ini." ujar Keyra bangga.
"Dasar, lo." umpatku. "Ya udah deh. Ayo berangkat!"
"Tunggu." Devand datang sambil tergesa-gesa.
"Ada apa, Vand?" tanyaku.
"Gue nebeng ya." ujarnya polos. "Gak juga kalo minta dianter kak Yudha, tapi gak ada elonya, Nay."
"Gimana, Key?" tanyaku pada Keyra, yang kemudian mengangguk pelan.

Kami langsung masuk kedalam mobil. Lalu Keyra melajukan mobilnya keluar halaman rumahku. Kami berangkat menuju sekolah.

Sesampainya disekolah, Radit dan Jonash sudah menunggu kami di parkiran.

"Weits, keren nih." komentar Radit. "Jadi sekarang udah dibolehin bawa mobil, Key." tanyanya.
"Cuma boleh buat satu hari ini aja, Dit." ujar Keyra lemas.
"Pagi, Jonash." aku langsung menyapa Jonash.
"Pagi, Nay." balas Jonash.
"Wah, Nayla pilih kasih nih." umpat Radit.
"Apa lagi sih, Dit?" tanyaku tak mengerti.
"Yang disapa cuma Jonash doang. Gue nya nggak." Radit manyun.
Aku menarik nafas panjang, lalu mengucapkan, "Hai sahabatku yang paling baik sepanjang masa. Raditya Akbar."

Radit cuma cengar-cengir gak jelas. Lalu kami semua berjalan masuk menuju kelas. Dikelas ribut banget. Terutama oleh permainan gitarnya Kenzi. Ternyata dia kecanduan nyanyi sambil main gitar, gara-gara pas di Villa kemaren.

"Pagi semua." sapaku.
"Pagi, Nay." jawab Kenzi, Idon, dan Ruben bersamaan.
"Wah, Kenzi bawa gitar ya?" tanyaku.
"Bukan punya gue, Nay. Punyanya si Ruben." Kenzi menunjuk Ruben yang duduk disebelahnya.
"Dia mau nyanyi buat Vivian tuh, Nay." ujar Idon.
"Oh ya? Lagu apa, Ken?" tanyaku.
"Kata Ruben sih, lagu yang pas terus maknanya juga dalem banget itu, lagunya Keyla Band yang judulnya Selalu Menjagamu." Kenzi memainkan nada pertamanya.
"Selalu menjagamu?" tiba-tiba aku teringat sesuatu dari kata itu.
"Coba nyanyiin dong, Ken." pinta Devand.
 "Ok." Kenzi mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi.

Kata-kata yang dipakai dalam lagu ini emang manis banget. Jadi deh suasana kelas tenang banget denger suaranya Kenzi. Mumpung guru mata pelajarannya belum dateng, jadi kita bisa nyanyi-nyanyi dulu. Tapi pikiranku masih terisi dengan kata 'selalu menjagamu'. Karena aku merasa, pernah ada yang mengucapkan kata-kata itu padaku. Tapi aku tak ingat siapa.

***

Jam istirahat tiba. Kenzi akan mulai beraksi dengan gitarnya. Dia menuju kelas Vivian.

"Kenzi." Vivian kaget melihat Kenzi yang sudah ada didepannya.

Kenzi hanya diam lalu mulai memainkan gitarnya dan menyanyi. Vivian keliatan sangat senang dengan apa yang dilakukan oleh Kenzi ini.

Aku mulai berfikir dalam hati. Entah kapan aku bisa berada seperti di posisi Vivian. Memiliki seseorang yang dicintai dan mencintai. Menerima perlakuan manis yang tak terlupakan. Dijaga dan dilindungi setiap waktu.

Tapi setidaknya aku bisa merasakan itu, meski bukan dari orang yang berstatus pacar. Aku bisa merasa dicintai dan mencintai oleh kedua orang tuaku. Aku punya Jonash yang akan selalu melindungiku. Aku punya kak Rangga yang sering berlaku manis padaku. Aku punya sahabat seperti Keyra dan Radit yang begitu setia. Aku punya teman seperti Devand yang selalu bisa menjaga perasaanku. Aku punya Idon yang selalu bisa membuatku tertawa meski dengan cara yang gak biasa. Aku punya kak Yudha yang selalu bisa membuatku merasa istimewa. Aku punya Kenzi yang selalu senantiasa memberi motivasi. Aku punya mereka semua. Dan aku bahagia.

Kenzi selesai menyanyi dan kemudian mendapat tepuk tangan dari anak-anak yang menyaksikan hal itu.

"Makasih ya, Ken." Vivian memeluk Kenzi.
"Weits weits weits." Idon langsung masuk ditengah-tengah mereka. Memaksa Vivian melepas pelukannya pada Kenzi.
"Kenapa sih, Don?" tanya Kenzi kesal.
"Ini sekolahan. Gak pantes kalian peluk-pelukan kayak gitu." Idon mengingatkan. Tapi kedua tangannya malah merangkul bahu Kiran dan Karin. Dasar Idon!
"Iih Idon." si kembar melepas rangkulan Idon. Sementara Idon cuma nyengir konyol. Dan kita semua tertawa melihatnya.
"Kantin aja yuk!" ajak Vivian pada kami semua.
"Yuuukkk!" jawab kami serentak.

Kita semua makan dikantin. Dan tiba-tiba, Idon mulai memikirkan sesuatu yang gila.

"Ben, gitar lo boleh gue pinjem gak?" tanyanya.
"Buat apa?" Ruben balik bertanya.
"Yang pasti buat sesuatu yang positif dan menguntungkan." jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Jangan, Ben. Entar gitar lo abis sama dia." ujar Keyra.
"Enak aja. Nggak kok." Idon membela diri. "Boleh ya, Ben." pintanya sambil memelas.
"Ya udah, boleh." Ruben memberikan gitarnya pada Idon.

Idon cuma nyengir, lalu mulai berjalan dari meja ke meja untuk nyanyi-nyanyi didepan anak-anak kantin. Ternyata dia pake itu gitar buat ngamen. Kita semua ketawa liat tingkah Idon. Ini anak selalu punya ide-ide konyol dan gila. Dan itulah istimewanya Idon. Tapi acara ngamennya dia hari ini gak bisa berjalan dengan lancar. Ada beberapa kakak kelas cowok kelas tiga yang marahin dan nyuruh Idon pergi waktu Idon mau ngamen didepan mereka. Heum, kakak kelas selalu kayak gitu. Suka semena-mena, mentang-mentang dia kakak kelas. Tapi bukan Idon namanya, kalo nyerah gitu aja. Terus-terusan aja tuh Idon ngegangguin mereka.

"Ah, resek banget sih lo." kakak kelas tiga itu hampir aja mau nonjok Idon. Kita semua langsung khawatir banget. Untung aja ada kak Rangga. Kak Rangga nolongin Idon yang hampir ditonjok. Aku sama anak-anak langsung nyamperin Idon.
"Don, lo gak apa-apa?" tanyaku khawatir.
"Gak apa-apa kok, Nay." jawab Idon.

"Lo apa-apaan sih, Ga." kakak kelas itu marah sama kak Rangga, karena kak Rangga menahannya untuk nonjok Idon.
"Elo tuh yang apa-apaan." kak Rangga balas membentak. "Kenapa lo pake mau nonjok dia segala?"
"Ya dianya nyebelin. Gangguin gue yang lagi makan." kakak kelas itu mengutarakan ketidaksukaannya pada perbuatan Idon.
"Ya tapi gak harus langsung mau nonjok gitu juga kan?" kak Rangga tetep keukeuh ngebelain Idon.
"Udah kak, gak apa-apa kok." ujar Idon pada kak Rangga. "Gue juga yang salah. Maaf ya, kak." Idon meminta maaf pada kakak kelas itu. Dan masalah selesai.

Anak-anak bawa Idon balik ketempat duduk. Sementara aku masih ditempat si kakak kelas tiga. Aku tersenyum tipis pada kak Rangga.

"Makasih ya, kak." ucapku kemudian.
"Iya." kak Rangga mengangguk pelan.

Kemudian aku juga kembali ke tempat dudukku dikantin. Bersama anak-anak.

"Elo sih, Don. Pake punya ide ngamen-ngamen segala." Vivian memarahi Idon.
"Iya deh. Gue emang salah. Gue minta maaf juga sama lo semua." Idon menyadari kesalahannya. "Tapi gue udah dapet lumayan banyak loh. Sembilan ribu lima ratus." katanya bangga. Seolah itu adalah prestasi yang baik untuk hidupnya.
"Ok. Lo emang jempol deh kalo soal bikin keributan dan kekonyolan, Don." ujar Radit sinis.
"Untung ada kak Rangga ya, Nay." ujar Jonash tiba-tiba. "Dia emang kakak..." ucapan Jonash terhenti setelah Keyra menginjak sepatunya.
"Kakak kelas yang paling baik." Keyra yang melanjutkan.

Jonash hampir aja keceplosan bilang kalo kak Rangga adalah kakak kandungku. Meskipun itu memang kenyataannya. Tapi tetap saja aku gak siap kalo harus ketahuan sekarang sama anak-anak. Mau ditaruh dimana mukaku. Apa kata anak-anak kalo sampai mereka tau kalo aku pernah pacaran sama kakak kandungku sendiri. Meskipun itu cuma pura-pura. Tapikan gak ada yang tau.

"Sorry." ujar Jonash pelan.

***

Jam pelajaran kedua, ada ulangan dadakan dari bu Murni. Good! Kita yang kemaren ikut liburan ke Villanya Vivian, pastinya gak belajar dan gak mengulang pelajaran yang diberikan bu Murni minggu kemaren. Ok. Kalo gitu siap-siap aja dapet nilai dibawah rata-rata.

"Sebagai siswa, seharusnya kalian siap untuk ulangan kapan saja." kita tau banget kalo bu Murni bakalan ngomong gitu.

Bu Murni mulai membagikan soalnya. Jeng jeng jeng. Kita semua mematung. Tau artinya apa? KITA GAK BISA JAWAB. Sekian dan terima kasih.

"Kumpulkan." perintah bu Murni setelah satu jam berlalu. Oh my god!!

Aku keluar kelas dengan kesal, lalu berjalan menuju taman sekolah. Dan aku melihat Ruben juga ada disana. Dia duduk sendiri sambil bersenandung kecil dengan gitarnya. Aku segera menghampirinya. Duduk diam disebelahnya, sambil manyun. Dan Ruben tertawa melihat tingkahku itu.

"Kok lo ketawa sih?" tanyaku kesal.
"Abisnya lo aneh banget. Tiba-tiba datang. Duduk sebelah gue, sambil manyun gitu. Ya gue luculah liatnya." jawab Ruben.
"Gue kesel, Ben."
"Kesel kenapa?"
"Soal ulangan dadakan tadi, Ben. Gue kan gak belajar. Terus pelajaran yang diakasih sama bu Murni minggu kemaren itu, gue udah lupa semua."

Lagi-lagi Ruben tertawa. Dan aku semakin kesal dibuatnya.

"Ya udah deh. Biarin aja. Lupain soal ulangan yang tadi. Gue juga tadi gak bisa jawab." kata Ruben santai.
"Kok lo biasa aja sih, meski gak bisa jawab?" tanyaku bingung.
"Ya karena gue tau. Elo sama anak-anak yang lain, juga gak bisa jawab." Ruben tersenyum puas.
"Dasar lo." umpatku.
"Udah, jangan dipikirin lagi." katanya. "Gimana biar lo gak sedih lagi, gue nyanyi buat lo?"
"Boleh boleh" kataku cepat.

Dan Rubenpun mulai memainkan gitarnya. Dari nada pertama yang Ruben mainkan, sepertinya aku mengenal lagu yang akan dinyanyikannya ini.

Hidupku mungkin tak terasa indah
Jika kau tak ada di sisiku
Kangenku kini telah berganti terang
Sejak kau di sini
Warnai hidupku
Pegang janjiku ‘tuk selalu menjagamu
Dalam setiap langkahmu
Jiwaku aku relakan untukmu
Jika kau tak ada tinggalkan dunia
Pegang janjiku ‘tuk selalu menjagamu
Dalam setiap langkahmu
Genggam erat tanganku saat kau rapuh
Ku kan ada
Hidupku aku relakan untukmu

Aku tersenyum. Bahagia. Itu lagu yang sama, seperti yang Kenzi nyanyikan untuk Vivian. Lagu dengan kata-kata yang manis dan romantis.

"Terima kasih, Ruben." ujarku penuh haru.
"Iya." jawabnya. "Itu gue nyanyiin dari hati loh, Nay. Gue serius. Gue akan selalu ngenjagain lo."

Terima kasih tuhan. Telah mengirimkanku seseorang yang seperti Ruben. Dialah orang yang akan selalu menjagaku. Semoga untuk selamanya. Iya. Kini, aku punya Ruben yang akan selalu menjagaku.

"Balik kekelas yuk!" ajak Ruben.
"Yuk."

***


No comments:

Post a Comment