Tuesday, March 6, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 7

Putus?


Hari ini, seperti biasa, aku berangkat sekolah dengan kak Rangga. Tapi sebelum pergi, dia mengajakku ngobrol sebentar.

"Kemaren kemana aja? Gue tunggu dikantin, gak nongol-nongol? Gue samperin ke kelas, juga gak ada! Sebenarnya lo kemana sih?" kak Rangga bertanya panjang lebar.
"Gak tau, lupa!" jawabku singkat. Tapi cukup membuat kak Rangga naik darah.
"Lagi-lagi." kata kak Rangga sinis.
"Udah ah, mending berangkat sekarang aja yuk. Ntar kita telat." ajakku.
"Tunggu dulu. Gue belum selesai ngomong." kak Rangga menatap serius.
"Lo gak ketemuan sama anaknya om Agustira itu kan?" tanyanya curiga.
"Nggak kok." aku benar-benar tidak tertarik dengan obrolan ini. "Udah deh, kalo lo masih nanya-nanyain gue kayak gini, mending gue berangkat sama kak Yudha aja."
"Eh, jangan." kak Rangga segera menahanku. "Iya-iya, kita berangkat sekarang."

Akupun segera naik diboncengan motor kak Rangga. Dan motor itu membawa kami melaju menuju sekolah. Dalam perjalanan, tak ada satupun kata yang terucap dari mulutku dan kak Rangga. Kami hanya diam.

Sesampainya disekolah, aku langsung ingin pergi menuju kelas. Tapi kak Rangga menahanku.

"Gue anter." katanya sambil menggandeng tanganku.
"Gak usah." aku melepaskan tanganku dari genggaman kak Rangga.
"Kenapa?" tanyanya dengan nada kesal.
"Gue bisa sendiri." kataku sinis. "Gue gak lupa kok sama jalan ke kelas gue."

Aku langsung berjalan cepat meninggalkan kak Rangga. Sedangkan kak Rangga hanya diam. Dia tidak lagi mencoba untuk menahanku. Dia hanya menarik nafas panjang, dan duduk dimotornya. Lalu kak Andre menghampirinya.

"Hai, bro." sapa kak Andre.
"Ehm." kak Rangga hanya merespon sapaan kak Andre dengan berdehem.
"Ada apa sama lo dan Nayla?" tanya kak Andre. "Kalian berantem?"
"Nggak kok." jawab kak Rangga singkat.
"Lucu juga ya." kak Andre tertawa renyah. "Kalian kok jadi kayak orang yang pacaran beneran. Ada mesranya, ada cemburunya, ada marahannya juga."

Kak Rangga hanya diam mendengar penuturan kak Andre. Dia menatap ke arahku yang masih terlihat olehnya, karena belum sampai kekelas. Lalu dia tersenyum tipis. Ada sesuatu yang terpikir diotaknya, tapi tak tau apa.

***

Aku masuk ke kelas. Lalu duduk ditempatku. Aku melirik sebentar ke arah Ruben dan Kenzi. Kenzi tersenyum tipis. Sedangkan Ruben hanya diam.

"Hai, Nay." sapa Keyra.
"Hai." balasku.

Devand baru saja datang dan langsung duduk dikursinya, tepat dibelakangku dan disebelah Radit.

"Nay, nih buat lo." dia memberikanku sebuah kotak bekal. "Itu dari Mama." tambahnya.
"Apaan nih?" aku mengambil kotak bekal itu dari Devand.
"Itu bekal yang dibuat sama Mama buat lo. Soalnya tadi, kata Mama, lo sarapannya cuma dikit banget." kata Devand menjelaskan. Mama yang dimaksud Devand adalah tante Mery, Mamanya Devand.
"Oh, makasih ya." kataku sambil membuka kotak bekal itu untuk mengetahui isinya. Ternyata roti isi. Biasanya Mama yang membuatkan ini untukku. Tapi berhubung sekarang Mama lagi pergi, jadi tante Mery yang membuatnya.

"Kayaknya enak tuh, Nay." Radit mendekatkan kepalanya, melihat kearah kotak bekalku.
"Lo mau?" tanyaku, yang kemudian dibalas anggukan cepat oleh Radit. "Ya udah, kalo gitu kita makan sama-sama. Berhubung rotinya ada dua."
"Sip sip." katanya.
"Hemm dasar lo, Dit." Keyra menjotos kepala Radit.
"Yeee.. bilang aja lo juga mau, Key." terka Radit.
"Nggak kok." kata Keyra cepat.

***

Jam istirahat, aku memilih untuk membaca buku diperpustakaan. Sebenarnya, Keyra, Radit dan Jonash mengajakku untuk makan dikantin, tapi aku menolak. Karena juga masih kenyang, abis makan roti dari tante Mery tadi. Sementara aku diperpustakaan, ternyata kak Rangga mencariku kekelas. Dan disana, dia hanya bertemu sama Keyra, Radit dan Jonash.

"Dit, Key, Nayla mana?" tanya kak Rangga.
"Katanya sih tadi mau keperpus kak." jawab Keyra.
"Oh, ya udah deh. Makasih ya." kak Rangga langsung pergi menyusulku ke perpustakaan.

Sepeninggalan kak Rangga, Jonash yang sedari tadi cuma diam aja dan gak diajak ngomong sama kak Rangga, mencoba bertanya sama Keyra dan Radit.

"Cowok itu, siapa?" tanyanya.
"Itu kak Rangga." jawab Radit. "Dia cowoknya Nayla."
"Oh, jadi dia yah cowoknya Nayla." Jonash mencoba mengingat sesuatu. "Tapi.."
"Tapi apa, Jo?" tanya Keyra.
"Gue kok kayak pernah kenal yah sama dia." Keyra dan Radit langsung tegang mendengar penuturan Jonash.
"Perasaan lo aja kali, Jo." kata Radit cepat.
"Nggak, Dit. Kalo gak salah, nama abangnya Nayla yang kedua itu juga Rangga kan?" Jonash mengira-ngira.

Radit dan Keyra cuma diam sambil liat-liatan. Terang aja Jonash curiga. Jonash yang lebih dulu mengenal Nayla, ketimbang Radit dan Keyra. Dia tau Nayla punya dua abang. Dan salah satunya, yang bernama Rangga.

"Ah gue inget. Dia beneran kak Rangga kan? Abangnya Nayla." Jonash berkata mantap. "Tapi kok bisa sih?"
"Ehm," Keyra akan berusaha menjelaskan. "Iya, Jo. Itu emang abang kandungnya Nayla. Tapi please, lo jangan bilang sama siapa-siapa yah. Mereka cuma pura-pura pacaran kok."
"Hah!" Jonash kaget banget dengernya. "Tapi kenapa, Key. Buat apa mereka ngelakuin itu?"
"Kata kak Rangga sih, ini buat ngehindarin dia dari cewek-cewek yang ngejar-ngejar dia. Kalo dia punya pacar kan, cewek-cewek itu gak bakal ngejar-ngejar dia lagi." kata Keyra menjelaskan.
"Aneh deh." ujar Jonash sinis. "Mana ada yang kayak gitu."

Jonash tidak bisa menerima alasan kak Rangga dan aku melakukan hal itu. Dia masih tak habis pikir dengan ini semua.

***

Aku sedang mencari-cari buku dideretan rak buku di perpustakaan. Dan ternyata, buku yang kucari, ada dideretan paling atas. Aku tidak dapat mengambilnya. Aku mencoba meloncat, tapi tetap tak bisa. Tiba-tiba Ruben datang dan membantuku mengambil buku itu.

"Nih." dia memberikan buku itu padaku.
"Makasih ya, Ben." aku menerima buku itu. Ruben hanya mengangguk pelan.

Dan disaat yang sama, kak Rangga datang. Dia marah melihatku bersama Ruben. Dan tanpa ampun, dia langsung mendorong tubuh Ruben dan berniat memukulnya. Tapi beruntung aku masih bisa menahannya. Anak-anak yang berada di perpustakaan terkejut melihat hal itu. Penjaga perpustakaan langsung menyuruh kami untuk keluar.

Begitu sudah diluar, kak Rangga kembali mencoba untuk memukul Ruben. Dan lagi-lagi aku menahannya. Agar ini tak berlanjut, aku segera membawa kak Rangga pergi. Halaman belakang sekolah adalah tujuanku membawa kak Rangga. Disini aku dan kak Rangga bebas berbicara.

"Kak Rangga kenapa sih, kayak gitu sama Ruben?"
"Karena gue gak suka sama dia. Gue gak suka dia deket-deket sama lo."
"Kenapa? Masih soal dia anaknya om Agustira?"
"Bukan cuma itu. Tapi karena..."
"Karena apa? Karena lo cemburu sama dia? Kak Rangga, gue rasa lo gak lupa kalo kita ini kakak-adik dan kita cuma pura-pura pacaran."
"Nayla."

Kak Rangga langsung memelukku. Dan dengan cepat aku melepaskan pelukannya.

"Kak Rangga."
"Iya, Nay. Lo bener. Gue ga lupa kok kalo kita kakak-adik. Tapi gue lupa, bagaimana harusnya gue menyayangi seorang adik. Karena yang gue rasakan sekarang, adalah menyayangi seorang cewek."

Aku terdiam mendengar ucapan kak Rangga.

"Kak, supaya ini gak jadi lebih gila dan ngawur lagi, mendingan sandiwara ini kita akhiri aja."
"Maksud kamu, kita putus?"
"Kita gak pernah beneran jadian kak."

Aku mengatakan hal itu dengan nada membentak pada kak Rangga. Lalu aku segera pergi meninggalkannya. Aku kembali kekelas sambil menangis. Sepanjang aku berlari dikoridor-koridor kelas, anak-anak pada ngeliatin aku nangis. Tapi aku gak peduli. Kali ini aku benar-benar marah pada kak Rangga.

Sampai dikelas, aku langsung memeluk Keyra. Keyra mencoba menenangkanku. Dia, Radit, Jonash, Devand maupun Kenzi, sudah mengetahui apa yang terjadi di perpustakaan tadi. Ruben hanya terdiam membeku di tempat duduknya, bersama Kenzi. Kini anak-anak satu sekolah mulai berfikir, ada cinta segitiga antara aku, kak Rangga dan Ruben.

"Kak Rangga, Key." aku ingin menceritakan apa yang terjadi pada Keyra. Tapi ini bukan waktu yang tepat.
"Iya, Nay, iya. Lo yang sabar ya."

Tangisku berhenti, setelah guru mata pelajaran berikutnya, masuk kelas. Tapi kali ini aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan serius. Pikiranku melayang. Mengapa bisa-bisanya kak Rangga berfikir kita putus, sedangkan ini cuma pura-pura pacaran.

***


No comments:

Post a Comment