Backstreet
Setelah menemukan cinta yang baru, maka aku juga harus bersiap dengan masalah yang baru. Aku memandangi liontin pemberian Ruben. Kini kami sudah pacaran. Tapi berhubung orang tua kami menentang, kami terpaksa harus backstreet.
Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku tersentak.
"Nay, ini kak Yudha." ujar si pengetok pintu. "Kakak boleh masuk gak?"
"Oh, iya. Masuk aja kak. Gak di kunci kok." jawabku dari dalam kamar.
Kak Yudha membuka perlahan pintu kamarku, dan masuk. Dia tersenyum, lalu duduk di sampingku.
"Belum makan malam kan?" tanyanya.
"Belum." aku menggeleng pelan.
"Makan malam diluar yuk." ajaknya.
"Boleh." aku setuju. "Kita cuma berdua, kak?"
"Nggak." kak Yudha menggeleng. "Sama tante Mery, Devand, dan Rangga."
Aku benci mendengar nama terakhir yang disebutkan oleh kak Yudha.
"Ya udah, ganti baju, sana." perintah kak Yudha. "Kakak tunggu di luar ya."
Aku mengangguk. Lalu kak Yudha pergi. Aku segera mengganti bajuku, dan bersiap untuk pergi.
"Belum makan malam kan?" tanyanya.
"Belum." aku menggeleng pelan.
"Makan malam diluar yuk." ajaknya.
"Boleh." aku setuju. "Kita cuma berdua, kak?"
"Nggak." kak Yudha menggeleng. "Sama tante Mery, Devand, dan Rangga."
Aku benci mendengar nama terakhir yang disebutkan oleh kak Yudha.
"Ya udah, ganti baju, sana." perintah kak Yudha. "Kakak tunggu di luar ya."
Aku mengangguk. Lalu kak Yudha pergi. Aku segera mengganti bajuku, dan bersiap untuk pergi.
***
Semua turun dari mobil yang dikendarai kak Yudha. Kami sudah sampai di Restoran tujuan. Aku menoleh kesebrang jalan. Ada gedung. Aku mencoba mengingat-ingat gedung itu. Sebab rasanya, aku pernah kesana bersama seseorang. Tapi lagi-lagi aku lupa.
Aku tersentak. Seseorang menepuk pundakku. Dan aku langsung menoleh. Ternyata kak Rangga.
"Lihat apa?" tanyanya lembut. "Yuk, masuk."
Aku mengangguk. Mengikuti langkahnya, masuk ke dalam Restoran. Ternyata yang lain sudah masuk lebih dulu, dan hanya tersisa aku dan kak Rangga.
Kami duduk bersama di salah satu meja Restoran itu, lalu memesan makanan. Dan sambil menunggu makanannya datang, kami mengobrol.
"Gak apa-apa kan kita makan malam di luar, hari ini?" tanya tante Mery.
"Gak apa-apa kok, tante." jawab kak Yudha lembut.
"Oh ya, gimana sekolah kalian?" tanya tante Mery padaku, Devand, dan kak Rangga.
"Gitu-gitu aja, Ma." Devand yang menjawab. "Biasalah. Ya nggak, Nay?"
Aku hanya tersenyum, lalu mengangguk pelan atas jawaban Devand.
"Kalo kamu, Ga?" tante Mery beralih ke kak Rangga. "Sebentar lagi sudah mau ujian kan?"
"Iya tante. Makanya sekarang jadi lebih sibuk belajar sama temen." jawab kak Rangga, lembut.
Tante Mery tersenyum tipis mendengar jawaban kak Rangga. Dan tiba-tiba, Handphone-ku berdering. Ada telepon. Aku segera meraih Handphone-ku dari dalam tas, dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata Ruben. Semua menatapku penuh tanya. Dan itu benar-benar membuatku gugup.
"Ehm, Nayla ke belakang bentar ya." ujarku. "Mau terima teleponnya dulu."
"Iya." kak Yudha yang menjawab. Sedangkan tante Mery hanya mengangguk.
Aku berjalan menuju toilet, lalu segera menerima telepon itu.
"Halo, Ben."
"Nay, kamu lagi dimana?"
"Aku lagi dinner sama keluarga. Kenapa?"
"Oh. Nggak, tadinya kalo kamu lagi gak ada acara, aku mau ngajakin jalan."
"Aduh, maaf ya. Aku gak enak kalo harus pergi dari sini. Nanti mereka bisa curiga, terutama kak Rangga."
"Iya. Gak apa-apa kok. Next time aja."
"Sekali lagi aku minta maaf ya."
"Iya. Ya udah, dilanjut deh makan malamnya."
"Ok. Sampai ketemu besok ya."
"Iya. Bye."
"Bye."
Ruben menutup telepon itu. Dan aku langsung keluar dari toilet untuk kembali ke meja makan. Tapi begitu aku keluar dari pintu toilet, ada seseorang yang berdiri di depan pintu itu. Dia menatap sinis. Dan aku berusaha untuk tidak menanggapinya, lalu berniat pergi. Tapi dia menahan langkahku. Oh, tidak ada orang yang semenyebalkan ini, kecuali kak Rangga. Bisa-bisanya dia nekat menyusulku ke toilet.
"Telepon dari siapa?" tanyanya.
"Temen." jawabku sekenanya.
"Bohong." ujarnya sinis.
"Lo kenapa gak ngerti juga sih." aku mulai kesal. "Gue kan udah bilang, jangan pernah campurin urusan gue lagi."
"Gue cuma pengen tau, siapa orang yang nelpon lo barusan." bentaknya.
"Gue, lupa." ujarku santai.
"Nayla. Jangan jadiin itu alasan buat gak ngasih tau gue." kak Rangga juga mulai kesal.
Aku hanya diam. Dan tanpa ku sadari, mata kak Rangga tertuju pada liontin yang ada di leherku.
"Apa nih." tanyanya sambil memegang liontin itu.
"Jangan pegang!" aku menepis tangan kak Rangga.
"Nayla, ini apa?" kak Rangga mulai lelah bertanya. Sekarang, matanya menyiratkan kalo dia benar-benar ingin tau jawabannya. Dan memohon padaku, untuk memberitahunya. "Ini dari siapa?"
"Dari cinta baru gue." aku berusaha tetap tenang.
"Siapa?" kak Rangga bertanya lagi.
Aku kembali diam.
"Dari Ruben?" terka kak Rangga. "Bener, Nay? Cinta baru lo adalah Ruben?"
Kak Rangga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu melanjutkan ucapannya, "Sampai kapanpun, gue gak akan ngebiarin lo pacaran sama dia. Gue bakalan bilang soal ini sama Mama-Papa."
"Terserah." aku langsung pergi. Kak Rangga hanya menatapku kesal. Wajahnya memerah. Dia benar-benar marah.
Aku kembali ke meja makan Restoran. Makanan kami sudah datang. Bahkan Devand sudah lebih dulu melahap bagiannya. Aku sudah tidak bernafsu lagi untuk memakan makanan ini.
Kak Rangga datang beberapa detik setelah aku. Lalu duduk membisu dikursinya. Dan itu membuat kak Yudha dan tante Mery merasa aneh.
Ruben mengelus pelan papan nisan itu. Dan aku berjongkok disebelahnya.
Aku tersentak. Seseorang menepuk pundakku. Dan aku langsung menoleh. Ternyata kak Rangga.
"Lihat apa?" tanyanya lembut. "Yuk, masuk."
Aku mengangguk. Mengikuti langkahnya, masuk ke dalam Restoran. Ternyata yang lain sudah masuk lebih dulu, dan hanya tersisa aku dan kak Rangga.
Kami duduk bersama di salah satu meja Restoran itu, lalu memesan makanan. Dan sambil menunggu makanannya datang, kami mengobrol.
"Gak apa-apa kan kita makan malam di luar, hari ini?" tanya tante Mery.
"Gak apa-apa kok, tante." jawab kak Yudha lembut.
"Oh ya, gimana sekolah kalian?" tanya tante Mery padaku, Devand, dan kak Rangga.
"Gitu-gitu aja, Ma." Devand yang menjawab. "Biasalah. Ya nggak, Nay?"
Aku hanya tersenyum, lalu mengangguk pelan atas jawaban Devand.
"Kalo kamu, Ga?" tante Mery beralih ke kak Rangga. "Sebentar lagi sudah mau ujian kan?"
"Iya tante. Makanya sekarang jadi lebih sibuk belajar sama temen." jawab kak Rangga, lembut.
Tante Mery tersenyum tipis mendengar jawaban kak Rangga. Dan tiba-tiba, Handphone-ku berdering. Ada telepon. Aku segera meraih Handphone-ku dari dalam tas, dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata Ruben. Semua menatapku penuh tanya. Dan itu benar-benar membuatku gugup.
"Ehm, Nayla ke belakang bentar ya." ujarku. "Mau terima teleponnya dulu."
"Iya." kak Yudha yang menjawab. Sedangkan tante Mery hanya mengangguk.
Aku berjalan menuju toilet, lalu segera menerima telepon itu.
"Halo, Ben."
"Nay, kamu lagi dimana?"
"Aku lagi dinner sama keluarga. Kenapa?"
"Oh. Nggak, tadinya kalo kamu lagi gak ada acara, aku mau ngajakin jalan."
"Aduh, maaf ya. Aku gak enak kalo harus pergi dari sini. Nanti mereka bisa curiga, terutama kak Rangga."
"Iya. Gak apa-apa kok. Next time aja."
"Sekali lagi aku minta maaf ya."
"Iya. Ya udah, dilanjut deh makan malamnya."
"Ok. Sampai ketemu besok ya."
"Iya. Bye."
"Bye."
Ruben menutup telepon itu. Dan aku langsung keluar dari toilet untuk kembali ke meja makan. Tapi begitu aku keluar dari pintu toilet, ada seseorang yang berdiri di depan pintu itu. Dia menatap sinis. Dan aku berusaha untuk tidak menanggapinya, lalu berniat pergi. Tapi dia menahan langkahku. Oh, tidak ada orang yang semenyebalkan ini, kecuali kak Rangga. Bisa-bisanya dia nekat menyusulku ke toilet.
"Telepon dari siapa?" tanyanya.
"Temen." jawabku sekenanya.
"Bohong." ujarnya sinis.
"Lo kenapa gak ngerti juga sih." aku mulai kesal. "Gue kan udah bilang, jangan pernah campurin urusan gue lagi."
"Gue cuma pengen tau, siapa orang yang nelpon lo barusan." bentaknya.
"Gue, lupa." ujarku santai.
"Nayla. Jangan jadiin itu alasan buat gak ngasih tau gue." kak Rangga juga mulai kesal.
Aku hanya diam. Dan tanpa ku sadari, mata kak Rangga tertuju pada liontin yang ada di leherku.
"Apa nih." tanyanya sambil memegang liontin itu.
"Jangan pegang!" aku menepis tangan kak Rangga.
"Nayla, ini apa?" kak Rangga mulai lelah bertanya. Sekarang, matanya menyiratkan kalo dia benar-benar ingin tau jawabannya. Dan memohon padaku, untuk memberitahunya. "Ini dari siapa?"
"Dari cinta baru gue." aku berusaha tetap tenang.
"Siapa?" kak Rangga bertanya lagi.
Aku kembali diam.
"Dari Ruben?" terka kak Rangga. "Bener, Nay? Cinta baru lo adalah Ruben?"
Kak Rangga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu melanjutkan ucapannya, "Sampai kapanpun, gue gak akan ngebiarin lo pacaran sama dia. Gue bakalan bilang soal ini sama Mama-Papa."
"Terserah." aku langsung pergi. Kak Rangga hanya menatapku kesal. Wajahnya memerah. Dia benar-benar marah.
Aku kembali ke meja makan Restoran. Makanan kami sudah datang. Bahkan Devand sudah lebih dulu melahap bagiannya. Aku sudah tidak bernafsu lagi untuk memakan makanan ini.
Kak Rangga datang beberapa detik setelah aku. Lalu duduk membisu dikursinya. Dan itu membuat kak Yudha dan tante Mery merasa aneh.
***
Keesokan paginya, aku sudah bersiap untuk berangkat kesekolah. Kak Yudha dan Devand sudah menungguku diluar. Dan lagi-lagi, langkahku harus terhalang oleh kak Rangga.
"Hari ini, lo berangkat sama gue." ujarnya.
"Gak mau." kataku cepat.
"Harus mau." paksanya. "Karena gue harus ngawasin lo. Lo gak boleh deket-deket sama yang namanya Ruben."
"Gue bilang, jangan pernah campurin urusan gue." bentakku. Lalu aku segera berlari menuju mobil kak Yudha, dan berangkat.
Sesampainya disekolah, aku langsung berlari menuju kelas. Sebelum kak Rangga menahan langkahku lagi. Dan memaksaku untuk mengikuti permainannya.
Di kelas, mataku langsung tertuju pada Ruben. Dia menatapku lembut. Lalu aku segera duduk dibangkuku, sebelah Keyra. Kak Rangga datang. Tapi sebelum dia sempat berbicara padaku, bel masuk berbunyi. Aku bisa bernafas lega.
Kak Ranggaa mengurungkan niatnya untuk bicara padaku. Dan memilih untuk segera masuk kekelasnya. Ruben menatap aneh. Tapi aku tau dia mengerti dengan apa yang akan kak Rangga lakukan. Dan kami harus berhati-hati. Aku dan Ruben harus menutupi hubungan ini dari siapapun. Belum saatnya anak-anak yang lain mengetahui soal ini.
Pada saat jam istirahat, tanpa ketahuan dari anak-anak dan kak Rangga, aku menemui Ruben di taman sekolah. Di bawah pohon yang biasa. Dan Ruben sudah disana. Duduk santai sambil membaca bukunya.
"Ben." sapaku.
"Nayla." dia tersenyum tipis. Memberi tempat untukku duduk disampingnya.
"Ini lebih sulit dari yang aku pikirin, Ben." ujarku sedikit putus asa. "Kak Rangga ngancem bakal ngelaporin ini sama Mama dan Papa."
"Jadi dia udah tau soal hubungan kita?" tanya Ruben.
"Dia sih cuma nebak. Dan aku gak pernah bilang 'bener' ataupun 'salah'. Tapi aku yakin, dia udah tau jawabannya."
Aku menatap Ruben. Dia cakep, baik, dan juga pengertian. Dia idaman banyak cewek. Tapi kenapa dia memilih aku. Aku yang pelupa. Serta sulit untuk dia miliki. Kenapa dia rela menderita seperti ini, demi untuk mempertahanku.
Ruben mengelus lembut pipiku. "Apapun yang terjadi. Aku gak akan ngelepasin kamu." ujarnya sungguh-sungguh.
"Makasih." kataku terharu. "Tapi kenapa, Ben? Kenapa memilih aku?" tanyaku.
"Karena aku cinta kamu." jawabnya mantap.
"Tapi kita harus backstreet." ujarku.
"Gak masalah." Ruben memelukku.
Aku tau ini sulit. Tapi untuk saat ini, aku masih bisa bertahan. Ini demi cintaku dan Ruben. Meskipun harus pacaran diam-diam dari semua orang.
***
Aku dan Ruben segera berlari cepat menuju parkiran sekolah, begitu bel masuk berbunyi. Kami harus cepat pergi, sebelum kak Rangga melihat.
"Nay." Keyra memanggil-manggil namaku. Tapi tak ku hiraukan.
"Tuh anak kok kayaknya buru-buru banget ya." terka Radit.
"Tau tuh. Padahal kan gue mau ngajakin dia jalan ke Mall." ujar Keyra.
"Udahlah. Mungkin dia lagi ada urusan penting." ujar Jonash.
Tiba-tiba Devand lewat. Dan Keyra langsung berinisiatif buat nanya.
"Vand, Nayla mau kemana sih? Kok buru-buru banget?" tanya Keyra.
"Gak tau. Dari kemaren dia aneh banget. Kayak orang yang lagi nutupin sesuatu gitu." jawab Devand.
"Kok dia gak cerita apa-apa sama gue ya." ujar Keyra kesal.
"Eh, diantara kalian, ada yang bersedia ngasih gue tumpangan gak?" tanya Devand tiba-tiba. "Gue gak di jemput nih."
"Eh, dasar lo, Vand." umpat Radit.
"Ya udah, pulang sama gue aja Vand." ajak Jonash.
"Loh, tapi kan kamu bilang mau nemenin aku ke Mall." kata Keyra pada Jonash.
"Kamu ditemenin Radit aja yah. Aku mau ngaterin Devand." ujar Jonash sambil membelai lembut rambut Keyra.
"Nah, itu baru bener." ujar Radit senang.
Keyra manyun. Dia tau, Radit pasti sering minta ditraktir makan, setiap harus nemenin Keyra ke Mall. Tapi Keyra terpaksa nerima aja. Bagaimanapun, Radit yang selalu setia dan gak pernah ngeluh setiap harus nemenin Keyra ke Mall.
Dan tiba-tiba kak Rangga datang sambil tergesa-gesa.
"Liat Nayla gak?" tanyanya.
"Tadi sih, dia bu..." ucapan Radit terhenti, karena Jonash menginjak kakinya.
"Kita gak liat, kak." ujar Jonash.
"Oh ya?" kak Rangga curiga dengan Jonash. "Lo siapa? Gue gak tau kalo lo temennya Nayla juga."
"Mungkin lo lupa, kak." ujar Jonash sinis. "Gue adalah teman SD nya Nayla."
Kak Rangga terdiam, dan memilih untuk segera pergi. Mungkin dia menyadari, kalo Jonash pastinya tau kalau dia adalah kakak kandungnya Nayla. Jadi kak Rangga mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Keyra, Radit, maupun Devand.
***
Motor Ruben melaju pelan dijalan. Aku tidak tau kemana dia akan membawaku pergi. Tapi aku sadar, kami sudah melaju cukup jauh dari sekolah. Mudah-mudahan, kak Rangga tak bisa menemukan kami.
Kami berhenti di TPU (Tempat Pemakaman Umum). Dan aku segera turun dari boncengan motor Ruben.
"Kita ngapain kesini, Ben?" tanyaku bingung.
"Aku mau ngenalin kamu sama Mama aku." ujarnya. "Ayo."
Ruben menggandeng tanganku memasuki wilayah pemakaman itu. Meskipun tidak mengerti maksud Ruben membawaku kesini, tapi aku menurut saja. Dan kami berhenti di sebuah kuburan dengan nisan yang bertuliskan nama Arinda. Siapa ini?
Ruben mengelus pelan papan nisan itu. Dan aku berjongkok disebelahnya.
"Ini makam siapa, Ben?" aku memberanikan diri bertanya.
"Makam Mama aku." jawab Ruben.
"Mama kamu, udah meninggal?" tanyaku lagi.
"Iya." jawab Ruben sedih. "Sejak umurku dua tahun. Mama meninggal karena kecelakaan."
Aku memeluk Ruben.
"Ma, ini Nayla." Ruben berbicara pada nisan itu. "Dia pacar Ruben. Cantik kan, Ma?"
Aku tersenyum mendengar ucapan Ruben.
"Ruben sayang banget sama dia, Ma." Ruben mulai bicara lagi. "Dan Ruben takut. Ruben takut banget kehilangan dia. Karena Papa menentang hubungan kami. Padahal hanya gara-gara urusan sepele."
Ruben terus berbicara pada nisan Mamanya. Aku hampir menangis. Tapi ku coba menahannya. Aku tidak mau terlihat lemah. Ruben menceritakan semuanya. Tentang penentangan yang kami alami, sehingga memaksa kami untuk backstreet.
"Nay." Ruben memanggil namaku. "Apa ada yang mau kamu katakan sama Mama aku?"
Aku mengangguk, "Halo, tante." sapaku. "Aku Nayla. Aku pacarnya Ruben. Dan aku sayang banget sama dia. Meskipun kita gak sempet ketemu, aku yakin, tante adalah seorang ibu yang hebat. Melahirkan anak laki-laki seperti Ruben. Dia pemberani, tante. Dia juga bukan orang yang gampang menyerah. Itulah yang aku lihat dari diri Ruben sekarang. Karena kami memang belum kenal lama. Tapi aku cinta sama Ruben, tante. Aku harap, tante merestui kami."
Aku mengakhiri kata-kataku. Dan Ruben terharu mendengarnya. Dia memegang erat tanganku.
"Ma, Ruben sama Nayla pulang dulu ya." ujar Ruben pada nisan bertuliskan nama Arinda itu.
Aku memutuskan untuk pulang sendiri. Karena tidak mungkin bila Ruben mengantarku.
Sesampainya dirumah, kak Rangga sudah menatap sinis padaku. Tapi aku tidak memperdulikannya.
"Lo jalan sama Ruben kan?" tanyanya sinis.
"Bukan urusan lo." bentakku.
"Gue serius ya, Nayla. Gue bakal laporin ini ke Mama sama Papa." ancamnya.
"Silahkan." tantangku.
Aku langsung pergi kekamar, meninggalkan kak Rangga yang masih ingin bicara denganku. Aku tidak peduli pada ancamannya. Bagaimanapun juga, dia tidak punya bukti. Aku dan Ruben akan terus menutupi hubungan ini. Kami akan mempertahankan hubungan ini, meski harus backstreet. Sampai suatu saat, semua orang yang menentang hubungan kami, bisa menerimanya.
Aku memutuskan untuk pulang sendiri. Karena tidak mungkin bila Ruben mengantarku.
Sesampainya dirumah, kak Rangga sudah menatap sinis padaku. Tapi aku tidak memperdulikannya.
"Lo jalan sama Ruben kan?" tanyanya sinis.
"Bukan urusan lo." bentakku.
"Gue serius ya, Nayla. Gue bakal laporin ini ke Mama sama Papa." ancamnya.
"Silahkan." tantangku.
Aku langsung pergi kekamar, meninggalkan kak Rangga yang masih ingin bicara denganku. Aku tidak peduli pada ancamannya. Bagaimanapun juga, dia tidak punya bukti. Aku dan Ruben akan terus menutupi hubungan ini. Kami akan mempertahankan hubungan ini, meski harus backstreet. Sampai suatu saat, semua orang yang menentang hubungan kami, bisa menerimanya.
***
No comments:
Post a Comment