I'm In Love
Aku dan Devand diantar pulang oleh Keyra. Saat pulang sekolah, rumah terlihat sepi.
"Bi, Mama mana?" tanya Devand pada bi Minah.
"Katanya mau pergi sebentar, den. Ada urusan." jawab bi Minah.
"Oh." Devand hanya mengangguk-anggukan kepala. "Ya udah deh, makasih ya bi."
"Iya, den."
Devand berjalan masuk menuju kamarnya. Setelah Devand, kini aku yang bertanya kepada bi Minah.
"Kalo kak Yudha, dimana bi?" tanyaku.
"Den Yudha belum pulang kuliahnya, non." jawab bi Minah polos. Aku juga sih yang nanyanya gak mikir dulu. Ya iyalah pasti kak Yudha masih dikampus. Aku memang sering lupa kalo kak Yudha itu mahasiswa. Aku malah berfikir kalo kak Yudha itu pengangguran yang kerjanya cuma anter jemput aku sekolah -_-
Setelah mendapat jawaban dari bi Minah, aku masuk ke kamar untuk segera mengganti seragamku dengan baju santai. Selesai ganti baju, aku duduk diruang tengah untuk menonton TV. Tak ada seorangpun dari aku dan Devand yang berniat untuk makan siang. Kalo kak Rangga, aku gak liat dia dari tadi. Karena dia memang belum pulang. Maklumlah, anak kelas tiga. Karena sebentar lagi mau ujian, dia pasti belajar bareng dirumah temannya.
Tiba-tiba Devand datang menghampiriku.
"Nay, ini handphone lo kan?" Devand memperlihatkan sebuah handphone padaku.
"Eh iya." aku langsung meraih handphone itu dari tangan Devand. "Gue cari ini kemana-mana. Lo nemu dimana, Vand?"
"Gue nemu di meja kecil yang ada deket kamar lo." jawab Devand. "Dari tadi nih Handphone bunyi terus, dan gak ada yang ngegubris. Pas gue liat, ternyata handphone lo."
"Aduh, iya Vand. Tadi pas pulang sekolah, gue lupa dimana naronya." ujarku polos. "Makasih ya, Vand."
"Iya. Cepetan liat tuh missed call-nya. Siapa tau dari nyokap lo." Devand menyarankan. "Gue balik ke kamar dulu ya." tambahnya.
Aku mengangguk, lalu segera memeriksa panggilan tak terjawab tadi. Dari nomor yang tak ada namanya. Aku mencoba mengingat ini nomornya siapa, tapi tetap tak tau. Karena setauku, aku menyimpan semua nomor handphone semua sahabatku. Termasuk Jonash yang baru dua hari ini, kumiliki nomornya.
Saat sedang kebingungan memikirkan siapa pemilik nomor ini, sipemilik nomorpun kembali memanggil. Dan aku segera menerimanya.
"Halo."
"Halo, Nay. Ini gue, Ruben."
"Oh, Ruben. Hai, ada apa, Ben?"
"Lo lagi sibuk gak?"
"Nggak. Kenapa?"
"Gue mau ngajakin lo belajar bareng, mau gak?"
"Boleh. Tapi dimana?"
"Yang pasti gak dirumah lo. Soalnya ada hal lain yang pengen gue omongin juga sama lo."
"Kita cuma berdua aja nih?"
"Iya. Ditaman kota, gimana?"
"Ok, deh. Gue siap-siap dulu."
"Tapi sorry, gue gak bisa jemput ya."
"Oh gak apa-apa kok. Gue bisa pergi sendiri."
"Ya udah, sampai ketemu ditaman."
"Iya."
Tut.. tut.. tut.. Telfon ditutup. Aku segera beranjak dari ruang tengah dan berjalan menuju kamar, untuk ganti baju dan mempersiapkan buku-buku untuk belajar. Setelah semua siap, aku segera pergi menuju taman kota dengan menggunakan taksi.
Sesampainya disana, dengan cepat aku bisa menemukan Ruben yang sedang duduk sambil membaca buku. Dan aku segera menghampirinya.
"Hai, Ben." sapaku, begitu sampai.
"Hai, Nay." balasnya.
"Sorry ya. Pasti lo udah lama nunggu deh." terkaku. "Tadi gue abis cari-cari buku gitu. Soalnya gue lupa nyimpennya dimana."
"Gak apa-apa kok." ujar Ruben maklum. "Tadinya gue malah mikir, kalo lo bakalan lupa sama janji ini."
Aku tertawa pelan, "Ya gak mungkin la, Ben. Gue gak sepikun itu kali. Gue emang sering lupa. Tapi sama hal-hal kecil. Bukan hal-hal besar kayak gini."
"Hal besar?" Ruben mengerutkan keningnya. "Wah, gue gak nyangka kalo rencana belajar bareng sama gue hari ini, lo jadiin sesuatu yang istimewa banget."
Aku terdiam. Yang tadi itu, murni keceplosan.
"Udah ah. Yuk, mulai belajarnya." aku segera mengalihkan pembicaraan.
"Iya." Ruben segera memulai pelajaran kami.
Kami membahas tentang pelajaran yang tidak kami mengerti. Supaya kalo tiba-tiba ada ulangan mendadak lagi, kami bisa mengerjakannya. Tidak ku sangka, ternyata Ruben berbakat pinter. Aku lebih bisa mudah mengerti pada pelajaran yang dijelaskannya, dari pada yang dijelaskan oleh bu Murni, bu Asti, bu Sinta dan ibu/bapak guru disekolah lainnya.
"Oh, jadi gini cara penyelesaiannya ya, Ben?" tanyaku yang mulai paham. "Ternyata gampang banget ya. Kalo bu Asti ngasih 100 soal beginian sih, gue pasti betul semua." ujarku, sok.
Ruben tersenyum tipis. "Jadi gimana? Udah ngerti kan?"
"Udah. Makasih ya pak guru, untuk bimbingan belajarnya hari ini." ujarku tulus.
"Iya, muridku yang sering lupa." ejeknya. "Pelajaran hari ini jangan sampai dilupain ya."
"Siap." aku hormat pada Ruben, seperti hormat pada atasan dalam kepolisian atau semacamnya. Dan itu mengundang tawa bagi Ruben.
"Laper gak?" tanyanya.
"Banget. Tadi pas dirumah, belum makan siang." ujarku sambil mengelus-ngelus perutku.
"Sekarang sih bukan makan siang lagi. Tapi udah makan sore." Ruben melihat kearah langit yang sudah berwarna jingga. Matahari akan segera tenggelam. Dan kami memutuskan untuk makan di salah satu Kafe terdekat dari taman kota ini.
Sambil menunggu makanan kami datang, Ruben mengajakku ngobrol.
"Masih ingat gak, tadi ditelfon gue sempet bilang kalo ada yang mau gue omongin sama lo?" tanya Ruben.
Aku berfikir sebentar, lalu menggelengkan kepala. "Gue gak inget." ujarku santai.
"Gue mau tanya sama lo. Lo tau gak, soal kedua orang tua kita yang adalah saingan bisnis?" tanya Ruben, kini dia terlihat sangat serius memulai pembicaraan.
"Iya gue tau." ujarku. "Kak Rangga pernah bilang."
"Kak Rangga?" Ruben bingung mendengar nama itu. "Emang apa hubungannya masalah ini sama kak Rangga?"
Aku terdiam. Menutup mulutku yang keceplosan. "Ben, gue..". Aku berfikir sebentar, sebelum benar-benar yakin untuk mengungkapkan rahasia ini pada Ruben. Ruben juga diam dan menungguku melanjutkan ucapanku yang tertunda.
"Gue gak tau lo bakal mikir apa soal ini. Tapi gue rasa, gue harus ceritain ini sama lo." aku mulai bersiap untuk menceritakan semuanya. Semua yang masih bisa ku ingat dalam otakku. "Sebenernya, gue sama kak Rangga itu, kakak-adik."
"Apa?" Ruben kaget banget dengernya. Semua mata yang saat itu sedang berada di kafe pun ikut kaget dengan teriakan Ruben. Dan mereka menatap aneh ke meja kami. Kemudian pelayan kafe datang mengantarkan pesanan kami. Kami tak peduli soal pesanan ini. Kami sedang bicara serius dan aku yakin makanan ini akan sia-sia begitu saja.
"Maksudnya apa, Nay?" Ruben menuntut penjelasan.
"Gue gak inget semuanya. Yang pasti, kita pura-pura pacaran buat menghindarkan kak Rangga dari cewek-cewek di sekolah yang ngejar-ngejar dia." aku menjelaskan seingatku.
"Dia gila, Nay." umpat Ruben.
"Ben, please. Gue mohon sama lo, jangan kasih tau tentang hal ini sama anak-anak yang lain." aku memohon pada Ruben.
"Ok." dia menyetuju"inya. "Jadi alasan selama ini dia benci gue itu, karena dia tau gue adalah anak saingan bisnis papa kalian? Bukan karena dia cemburu ceweknya gue deketin?"
Aku mengangguk. Dan Ruben hanya terdiam. Dia menatapku.
"Nay." wajah Ruben kembali serius. "Sebenernya gue udah lama tau soal papa-papa kita. Dan gue mengenal lo pun, jauh sebelum ini. Gue pernah liat foto lo di meja kantor bokap lo, waktu gue nemenin bokap gue kesana. Tapi gue emang gak liat Rangga ataupun kakak lo yang satunya. Dan sejak liat foto lo itu, gue jatuh cinta sama lo. Gue berusaha cari tau tentang lo. Makanya gue sengaja pindah kesekolah kita sekarang. Itu semua gue lakuin supaya gue bisa lebih dekat sama lo." Ruben bercerita panjang lebar. Dan aku terharu dengan ini semua. Dia mencintaiku sejak pertama kali liat fotoku.
Aku tak pernah menyangka, Rubenlah yang tuhan kirim untukku. Untuk mencintaiku, setelah aku kehilangan orang yang aku sayang, yaitu Kenzi.
"Ben," aku menggenggam tangan Ruben. "Lo tau apa artinya ini semua?"
"Cinta kita akan ditentang sama keluarga kita." jawab Ruben lesu.
"Cinta kita?" aku mengerutkan kening. "Emangnya lo yakin kalo gue juga punya rasa yang sama kayak lo?"
"Ok. Gue tau lo pasti cintanya sama Jonash." Ruben terlihat sangat sedih.
"Jonash?" aku semakin bingung dengan perkiraan-perkiraan Ruben yang tidak jelas. "Gue sama Jonash itu cuma temen. Gue udah kenal dia dari masih SD. Iya, kita dulu emang sama-sama suka. Tapi itu dulu. Dan itu cuma cinta monyet."
"Jadi?" Ruben semakin tak mengerti.
"Jadi, kita makan aja dulu makanannya." aku segera menyantap makananku. Ruben hanya tersenyum, lalu ikut menyantap makanannya.
Ruben hanya tersenyum dan tidak bertanya lagi. Akupun tidak tau pasti dengan apa yang aku rasakan sekarang. Apakah aku benar-benar telah mencintai Ruben? Apakah Ruben benar-benar mengatakan hal yang jujur tentang perasaannya? Ya udahlah ya, ngapain mikirin ini sekarang. Mending makan aja dulu. Kan sayang udah dipesen, tapi gak dimakan.
"Nay." wajah Ruben kembali serius. "Sebenernya gue udah lama tau soal papa-papa kita. Dan gue mengenal lo pun, jauh sebelum ini. Gue pernah liat foto lo di meja kantor bokap lo, waktu gue nemenin bokap gue kesana. Tapi gue emang gak liat Rangga ataupun kakak lo yang satunya. Dan sejak liat foto lo itu, gue jatuh cinta sama lo. Gue berusaha cari tau tentang lo. Makanya gue sengaja pindah kesekolah kita sekarang. Itu semua gue lakuin supaya gue bisa lebih dekat sama lo." Ruben bercerita panjang lebar. Dan aku terharu dengan ini semua. Dia mencintaiku sejak pertama kali liat fotoku.
Aku tak pernah menyangka, Rubenlah yang tuhan kirim untukku. Untuk mencintaiku, setelah aku kehilangan orang yang aku sayang, yaitu Kenzi.
"Ben," aku menggenggam tangan Ruben. "Lo tau apa artinya ini semua?"
"Cinta kita akan ditentang sama keluarga kita." jawab Ruben lesu.
"Cinta kita?" aku mengerutkan kening. "Emangnya lo yakin kalo gue juga punya rasa yang sama kayak lo?"
"Ok. Gue tau lo pasti cintanya sama Jonash." Ruben terlihat sangat sedih.
"Jonash?" aku semakin bingung dengan perkiraan-perkiraan Ruben yang tidak jelas. "Gue sama Jonash itu cuma temen. Gue udah kenal dia dari masih SD. Iya, kita dulu emang sama-sama suka. Tapi itu dulu. Dan itu cuma cinta monyet."
"Jadi?" Ruben semakin tak mengerti.
"Jadi, kita makan aja dulu makanannya." aku segera menyantap makananku. Ruben hanya tersenyum, lalu ikut menyantap makanannya.
Ruben hanya tersenyum dan tidak bertanya lagi. Akupun tidak tau pasti dengan apa yang aku rasakan sekarang. Apakah aku benar-benar telah mencintai Ruben? Apakah Ruben benar-benar mengatakan hal yang jujur tentang perasaannya? Ya udahlah ya, ngapain mikirin ini sekarang. Mending makan aja dulu. Kan sayang udah dipesen, tapi gak dimakan.
***
Aku heran kenapa sampai sekarang, Papa gak pernah mau mempekerjakan supir untuk mengatarku kesekolah. Papa malah menyerahkan tugas itu pada kak Yudha. Seperti pagi ini, kak Yudha buru-buru pergi setelah mengantar aku dan Devand ke sekolah. Karena dia harus segera sampai dikampus.
Aku dan Devand masuk kelas. Begitu sampai kelas, mataku langsung tertuju pada Ruben. Dia melemparkan senyum padaku, dan aku membalasnya. Aku duduk dibangkuku. Dan tiba-tiba teringat dengan kejadian kemarin saat bersama Ruben. Sedikit flashback, kemarin, setelah aku pulang dari makan sore bersama Ruben, aku tak bisa melupakan ucapan Ruben. Tapi aku sendiri belum yakin dengan perasaanku. Benarkah aku juga jatuh cinta pada Ruben? Tapi rasanya menyenangkan bila berada didekat Ruben. Sudah lama aku menyadari ini. Tapi aku tak pernah memperdulikan soal perasaan ini.
Lamunanku buyar oleh kedatangannya bu Asti kekelas. Aku sampai tak sadar kalau bel masuk sudah berbunyi dari tiga menit yang lalu.
"Hari ini, kita ulangan." ujar bu Asti. Suara riuh langsung menggema diseisi kelas. Tapi aku tidak. Untuk pertama kalinya aku merasa tidak takut menghadapi ulangan dadakan seperti ini. Aku menoleh pada Ruben yang juga santai menanggapi ucapan bu Asti. Ya, tentu saja. Materi pelajaran ini, sudah kami ulang, kemarin. Insyaallah jika aku tidak lupa, aku akan bisa mengerjakannya.
Bu Asti segera membagikan soal. Wajah tak ikhlas, terukir pada semua siswa dikelas ini.
"Nay, kok lo biasa aja sih pas bu Asti bilang kita ada ulangan dadakan?" tanya Keyra.
"Kebetulan, kemaren gue udah belajar." jawabku bangga.
"Hah! Serius lo belajar?" Keyra kaget banget.
"Keyra Leanitha." bu Asti yang memanggil nama itu. "Diam dan segera kerjakan soal itu." perintah bu Asti.
"Baik, bu." ujar Keyra.
Dan suasana kelas menjadi tenang. Semua terfokus pada soal yang sedang mereka kerjakan. Alhamdulillah aku bisa mengisinya. Begitu bel istirahat berbunyi, satu per satu kami mengumpulkan kertas ulangan itu pada bu Asti. Lalu kami bebas untuk istirahat, sekarang. Aku segera mengejar Ruben yang sudah berjalan keluar kelas, menuju kantin.
"Ruben." langkah Ruben terhenti setelah mendengar panggilanku.
"Hai, Nay." sapanya. "Gimana? Bisa gak ngerjain soalnya?"
"Bisa." jawabku. "Ehm, Ben. Gue.. gue mau bilang makasih sekali lagi."
"Iya." Ruben tersenyum sambil mengelus rambutku.
"Ehm, lain kali, mau gak kalo kita belajar bareng lagi?" tawarku.
"Wah, gue sih mau dengan senang hati banget." wajah Ruben langsung sumringah.
"Ok. Sampai nanti ya." kataku yang kemuadian pergi menuju Keyra dan yang lain.
Ya tuhan, aku tau. Aku baru menyadarinya sekarang. Aku, aku jatuh cinta. Dan itu, pada Ruben. Beberapa hari sejak aku mengenalnya. Sejak dia memberiku satu hari terindah. Setelah beberapa kali dia bilang kalau dia cinta (meski aku tak pernah mengingatnya), kini aku baru menyadari. Rasa itu juga telah tumbuh didalam hatiku. Aku jatuh cinta. I'm in love.
***
No comments:
Post a Comment