Tuesday, March 6, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 6

Anak Baru (Lagi)


Bel masuk sudah berbunyi. Aku dan anak-anak sudah duduk manis dikelas, menunggu guru mata pelajaran pertama masuk kelas. Kecuali anak-anak cowok brandal yang memilih buat bolos, daripada mengikuti mata pelajaran yang amat membosankan. Yaaahh, disekolah manapun, pasti selalu ada anak-anak bandel kayak gitu. SMA oh SMA.

Mata pelajaran pertama dikelasku adalah Matematika. Good!! Masih pagi, udah dihadapin sama angka-angka yang bikin pusing kepala. Itulah alasan kenapa sebagian anak cowok dikelasku memilih untuk bolos aja. Bu Sinta (guru mata pelajaran matematika) masuk kedalam kelas bersama seorang anak cowok. Owh, siapa lagi ini? Ternyata lagi-lagi, kelasku kedatangan anak baru. Gak tau kenapa, semua anak baru harus masuk ke kelas ini.

"Hai semua." cowok itu memulai perkenalan dirinya, setelah mendapat izin dari bu Sinta. "Nama gue Jonash Raykal. Panggil aja gue Jonash."

Aku berfikir keras, menatap kearah anak baru itu. Karena kayaknya, aku kenal sama nama itu.

"Hai Nayla. Apa kabar?" anak baru itu menyapaku.

Apa? Dia tau nama gue? astaga.. astaga.. dia.. diakan.., batinku.

Satu kelas pada menatap ke arahku. Keyra juga menyenggol tanganku, memberi isyarat kalau aku berhutang sebuah penjelasan padanya. Yup! Sekarang aku ingat siapa cowok yang menyapaku barusan. Iya, dia Jonash. Jonash si monyet, eh cinta monyet -_- yang udah ngilang hampir empat tahun. Entah gimana bisa, dia balik lagi ke sini. Kekota yang sempat ia tinggalkan.

"Baiklah, Jonash. Silahkan kamu duduk disebelah Idon." perintah bu Sinta.
"Iya, bu. Terima kasih." Jonash lalu berjalan ke meja yang yang ditunjuk oleh bu Sinta.

Jonash sempat melirik kearahku. Tapi aku malah memalingkan muka.

***

Bel istirahat berbunyi. Ini nih, bel yang paling ditunggu sama seluruh anak disekolah. Bu Sinta mengakhiri pelajaran matematika hari ini, dan langsung keluar kelas. Disusul oleh anak-anak lain yang dari tadi udah gak sabar banget untuk keluar dari.. yaa sebut saja kelas itu menjadi nerakanya mereka. Padahal ada satu hal yang tidak mereka sadari, bahwa sekolah adalah hal terpenting dalam hidup dan masa depan mereka.

"Hai Nay. Apa kabar?" tau siapa yang memanggilku? Yup, itu Jonash. sekarang dia sudah berdiri disebelah mejaku.
"Baik." jawabku singkat. Sebenarnya, dia adalah masa lalu yang tak ingin ku lihat lagi.
"Kalian udah saling kenal ya?" akhirnya Keyra menanyakan hal yang dari tadi sangat membuatnya penasaran.
"Iya." Jonash menjawab lembut. "Kenalin, gue Jonash."
"Gue Keyra." mereka berjabat tangan.
"Gue Radit." Radit juga gak mau ketinggalan.
"Oh, jadi ini ya, Nay. Si cinta monyet, yang suka lo ceritain pas SMP itu?" tanya Keyra, padaku.

Aku terkejut mendengar pertanyaan Keyra barusan. Aku menatap Jonash yang senyum-senyum gak jelas.

Ya ampun, Key. Lo bikin malu gue aja tau gak! batinku.

"Ohh, jadi..." Jonash menatapku curiga.
"Itukan dulu, Jo." aku membentak Jonash, lalu keluar meninggalkan kelas.

Ternyata, Keyra, Radit dan Jonash malah asyik ngobrol, sepeninggalanku.

"Key, emangnya si Nayla sering cerita apa tentang gue?" Jonash penasaran.
"Yaa, dia bilang lo itu cute banget. Suka ngasih dia permen." Keyra mulai bercerita.
"Terus ya, Nayla juga pernah bilang ke kita, kalo dulu kalian itu juga sering banget berantem." Radit menambahkan.

Jonash tertawa. Apa yang dikatakan Radit itu sangat benar. Dan pikiran Jonash langsung melayang ke masa-masa itu. Dimana tidak pernah ada hari tanpa berantem antara aku dan dia. Ah tapi sudahlah, itu cuma masa lalu.

"Eh pada laper gak?" Jonash mengalihkan pembicaraan.
"Banget!" jawab Keyra sambil memegangi perutnya.
"Ya udah, ke kantin yuk!" ajak Jonash. "Karena ini hari pertama gue, jadi gue bakal traktir kalian."
"Yeay.. ini nih, namanya temen baru yang asyik." kata Radit.

***

Aku berjalan kesal menuju taman sekolah. Dan disana, aku melihat Ruben yang duduk sendiri sambil membaca buku. Dan aku langsung menghampirinya.

"Hai, Ben." sapaku.
"Eh, hai, Nay." Ruben membalas sapaanku. "Tumben lo gak lupa nama gue."
"Iih kok lo ngejek gue sih?" aku mendorong pelan tubuh Ruben. Dan dia hanya tertawa.

Kemudian dia terus menatapku. Dan itu membuatku jadi salah tingkah.

"Nay." Ruben memegang tanganku. "Ada yang mau gue omongin sama lo."
"Ngomong apa?" aku menatap Ruben serius. Meskipun aku sedikit risih karena dia memegang tanganku.
"Gue suka sama lo." aku terkejut mendengar pernyataan itu.
"Apa?" aku menarik tanganku dari genggaman Ruben. "Sorry, Ben. Kayaknya gue harus balik kekelas, sekarang."

Ruben menahan tanganku, agar tak pergi. Dan aku berusaha untuk melepaskannya. Tapi gagal, genggaman Ruben terlalu kuat. Aku tidak bisa pergi.

"Jangan pergi, Nay." Ruben memelukku dari belakang. Dan lagi-lagi, aku berusaha untuk melepaskannya.
"Ruben, lepasin gue." aku memohon.
"Kenapa? Lo takut ketahuan Rangga? Lo takut dia marah dan salah paham?" Ruben tetap memelukku erat.

Aku baru saja ingin mengatakan suatu hal. Tapi Ruben tak memberiku kesempatan. Dia kembali mengambil alih pembicaraan.

"Gue gak peduli walau dia mau mukul gue lagi. Gue gak peduli dia mau marah. Gue gak peduli sama dia, Nay. Dan gue harap, lo juga."

Aku hanya terdiam, cukup lama aku dan Ruben diam tanpa suara. Dan akhirnya, Ruben melepas pelukannya. Aku berbalik untuk menatapnya. Dia hanya tersenyum tipis. Lalu aku memilih untuk pergi meniggalkannya, kembali kekelas. Tapi dalam perjalanan menuju kelas, aku tak sengaja menabrak Jonash.

"Nay, lo kenapa?" Jonash melihat air mata mengalir dipipiku.
"Jonash." aku langsung memeluk tubuh Jonash, erat.

Jonash hanya diam dan tak bertanya lagi. Dia tau aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi. Dia tau aku hanya memerlukan tempat untuk bersandar. Dan sekarang aku baru menyadari, mengapa tuhan mengirim Jonash kembali ke kota ini. Meskipun dulu aku dan Jonash selalu bertengkar, tapi Jonash selalu senantiasa melindungiku. Dia akan memarahi semua anak yang menggangguku disekolah. Dan dia akan memberiku permen, agar aku berhenti menangis.

"Mau permen?" Jonash menawarkan sebungkus permen kepadaku. Aku hanya tersenyum, lalu mengambil permen itu. Permen tangkai, rasa melon. Kesukaanku.
"Jangan nangis lagi yah." tambahnya. Aku hanya mengangguk pelan. Jonash menghapus air mataku.
"Denger-denger, sekarang lo udah punya pacar ya?" tanya Jonash.
"Iya." jawabku sambil mengulum permen. "Namanya Rangga."
"Terus yang gue denger lagi, sekarang lo jadi cewek yang pelupa banget ya?" Jonash bertanya lagi.
"Tau darimana?" aku balik bertanya.
"Keyra sama Radit." jawabnya sambil merangkulku.
"Dasar!" aku mengatakan itu untuk Keyra dan Radit.
"Udah banyak banget yang berubah yah." ujar Jonash tanpa maksud.
"Apanya?" tanyaku.
"Elo." jawabnya singkat.
"Elo juga." kataku tak mau kalah.

Kami sama-sama tertawa, lalu berjalan menuju kelas.

***


No comments:

Post a Comment