Wednesday, March 21, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 15

Find New Love


It's gonna be another day with the sunshine. Lagu itu menggema di telingaku.
Selamat pagi dunia! Pagi ini, sinar matahari cukup terik menyinari.

Aku sadar aku telah kehilangan banyak cinta. Tapi aku bahagia, cintaku telah mendapatkan kebahagiaannya. Wish hari ini adalah find new love.

Begitu aku keluar dari mobil kak Yudha, sesampainya disekolah, kak Rangga tiba-tiba sudah ada dibelakangku. Dan itu membuatku terkejut. Apa lagi yang dia ingin lakukan padaku.

"Hai." sapanya.
"Hai." jawabku.

Aku menoleh pada Devand. Devand hanya diam, lalu pergi duluan menuju kelas.

"Bisa ngomong sebentar?" tanya kak Rangga, begitu Devand sudah meninggalkan kami.
"Bisa." jawabku.

Kak Rangga mengajakku duduk ditaman sekolah.

"Udah lama banget ya, kita gak ngobrol." kak Rangga memulai pembicaraan.
"Iya." ujarku singkat.
"Gimana kabar lo?" kak Rangga berbicara seperti kami adalah teman, bukan saudara.
"Gue baik." jawabku. "Lebih baik setelah terlepas dari lo." Aku sadar, aku harus keras pada kak Rangga. Dia tidak boleh terus-terusan begini padaku. Mengapa dia masih belum bisa mengerti.

Kak Rangga hanya tersenyum tipis. Kemudian suasana menjadi hening. Aku melirik jam ditanganku. Lima menit lagi, bel masuk akan berbunyi. Aku meraih tasku yang tadi ku taruh di kursi sebelah kak Rangga. Lalu aku berniat pergi. Tapi kak Rangga menahanku. Dia memegang tasku. Memaksaku untuk menatap kearahnya lagi.

"Andai aja, kita gak terlahir sebagai saudara." kak Rangga berkata serius. "Gue mungkin gak akan patah hati kayak gini."
"Find new love. Itu yang harus lo lakuin sekarang." ujarku juga serius. "Gue yakin lo bakal nemuin cinta baru, yang bisa lo milikin, tanpa terlarang."

Aku menarik tasku dari genggaman kak Rangga, lalu segera pergi. Aku rasa, setelah hari ini, aku tak akan bisa menatapnya lagi. Aku tidak mau membenci kakak ku sendiri. Bagaimanapun, aku harus bisa menyadarkannya. Kami tidak bisa menjadi satu. Dia harus menemukan cinta yang baru.

Bel masuk sudah berbunyi. Dan aku baru saja memasuki kelas. Keyra tersenyum manis padaku. Dia pasti sedang bahagia. Dia salah satu wanita paling beruntung yang kutemui. Dia memiliki Jonash. Sang guardian angel. Aku menatap kagum padanya.

"Lo gak apa-apa?" tanyanya.
"Nggak kok." jawabku sembari tersenyum.
"Yakin?" tanyanya lagi. "Soalnya tadi gue denger dari Devand, lo disamperin sama kak Rangga."

Aku menoleh ke belakang. Menatap ke arah Devand. Dasar si mulut ember. Devand langsung salah tingkah, lalu memalingkan muka.
Aku kembali pada Keyra. Dia masih sabar menunggu jawabanku.

"Dia cuma ngajak gue ngobrol kok." jawabku.
"Oh." Keyra menarik nafas lega. Lalu dia berniat menatap ke meja pacarnya, Jonash. Tapi pandangannya malah tertuju pada Ruben yang ternyata sedang menatap ke arah mejanya dan aku. Ruben yang menyadari kalau dia tertangkap sedang memperhatikan seseorang dimeja ini, langsung memalingkan wajahnya.

Keyra tersenyum curiga. Lalu menepuk bahuku.

"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Kayaknya tadi Ruben ngeliatin elo deh." terka Keyra.
"Masa sih?" aku menoleh ke meja Ruben. Tapi yang aku liat, saat ini dia sedang ngobrol asik dengan Kenzi, Jonash dan Idon. "Nggak kok, Key. Perasaan lo aja, kali."
"Ya ampun, Nay. Gue tuh gak mungkin salah." Keyra tetap yakin akan apa yang dia liat.
"Ya udahlah, lupain aja." ujarku tak ambil pusing.
"Kayaknya dia naksir elo deh, Nay." Keyra berpendapat.

Aku hanya diam. Tapi hatiku berharap, kalo pendapat Keyra itu memang benar. 

Bu Murni masuk kelas. Dan jam pelajaran pertamapun dimulai.

***

Jam istirahat tiba. Keyra, Radit, dan Jonash sudah duluan pergi kekantin. Sementara aku masih mencatat pelajaran yang diberikan bu Murni tadi. Dan Ruben menghampiriku.

"Hai, Nay." sapanya.
"Hai, Ben." aku membalas sapaan Ruben sambil terus mencatat.
"Ada yang mau gue omongin nih sama lo." ujarnya ragu-ragu.
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Ehm." Ruben terdiam sebentar. "Gak jadi deh. Lain kali aja ngomongnya."

Ruben langsung pergi setelah mengatakan itu. Uhh, aku kesel banget. Dia benar-benar membuatku penasaran. Kenzi yang melihat kejadian barusan itu, langsung menghampiriku.

"Ruben ngomong apa?" tanyanya.
"Dia bilang dia gak jadi ngomong. Katanya, ngomongnya lain kali aja. Apa coba, maksudnya." jawabku kesal.

"Aneh banget sih, si Ruben." Kenzi tertawa. "Tapi kayaknya, dia naksir elo deh, Nay."
"Ngawu aja deh lo, Ken." kataku cuek.
"Kalo dia beneran naksir lo, gimana?" Kenzi berandai-andai. "Udah saatnya lah Nay, lo cari yang baru. Jangan terus-terusan terpuruk gara-gara putus sama kak Rangga."

Aku hanya diam menanggapi omongan Kenzi itu. Lalu Vivian dan si kembar, datang. Mereka mau mengajak Kenzi buat kekantin bareng.

"Lo gak mau ikut, Nay?" tanya Vivian.
"Nanti gue nyusul deh." jawabku. "Mau nyelesain catatan dulu."
"Ya udah, kalo gitu kita duluan ya." ujar Vivian ramah. "Yuk, Ken."
"Daahh Mipel." si kembar mengatakan itu bersamaan sambil melambaikan tangan.

Aku hanya menghela nafas. Dasar kembar centil.

Selesai mencatat pelajaran, aku pergi ketaman sekolah dan duduk disalah satu bangku yang ada disana. Aku hanya diam sambil menikmati angin yang berhembus. Menyejukkan.

"Find new love." aku tersentak. Jonash yang mengatakan kalimat itu. Sekarang dia sudah duduk disampingku
"Gue nyariin lo kemana-mana." Jonash melanjutkan ucapannya. "Kenapa gak ikut kita kekantin?" tanyanya.
"Lagi males." jawabku sekenanya.
"Oh. Kirain, lo lupa jalan menuju kantin." Jonash menggoda.
Aku hanya tersenyum tipis. "Tadi lo bilang apa? 'find new love'?"
"Iya." Jonash mengelus lembut rambutku. "Menurut gue, lo bakalan nemuin keceriaan lo yang dulu, kalo lo bisa nemuin cinta yang baru. Secarakan, lo baru aja kehilangan Kenzi."
"Kayaknya, gue juga pernah ngomong itu sama seseorang deh." aku mengingat-ingat. "Tapi ke siapa yah?"
"Ah, bilang aja lo lupa." itu adalah jawaban paling tepat, Jonash. "Oh iya, tadi Ruben nanyain lo ke gue."
"Nanyain apa?" aku bersemangat mendengar berita dari Jonash.
"Ya, dia nanya lo dimana. Kan tadi lo gak gabung sama kita dikantin." ujar Jonash, menjelaskan.

Aku berfikir sebentar. Sepertinya aku perlu menemui Ruben. Entah kenapa, tapi aku ingin.

"Jo, gue pergi dulu ya." aku segera berlari menuju pohon besar ditaman sekolah ini.
"Loh, mau kemana?" pertanyaan Jonash barusan, sudah tak kudengar lagi. Aku sudah berlari jauh menuju pohon itu. Pohon yang ku yakini, ada orang yang kucari disana. Ya, aku tau. Setiap selesai makan dikantin, orang itu selalu duduk dibawah pohon ini.

"Ruben." sapaku. Ruben ada disana. Dibawah pohon yang ku maksud. Dia bersama bukunya. Selalu seperti itu.
"Nayla." Ruben terkejut akan kedatanganku.
"Ternyata tebakan gue bener, ya. Lo pasti ada disini." ujarku bangga.
"Ada apa?" tanyanya.
"Loh, pertanyaan itu kan, seharusnya buat lo." aku mengerutkan kening, dibalik poniku. "Kata Jonash, tadi lo nanyain gue."
"Oh iya yah." Ruben tersenyum malu. "Ehm, gua cuma pengen ngomong sama lo."
"Ngomong apa?" aku berusaha tetap tenang. Padahal tegang banget. Apa yang akan Ruben bicarakan padaku. Apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku?
"Gue sih udah pernah ngomong ini sama lo. Tapi gue gak tau lo masih ingat atau nggak." Ruben terlihat serius.

Aku berfikir sebentar. Apa yang pernah Ruben katakan padaku. Aku tak ingat lagi dengan apa yang pernah dia ucapkan. Ahh, mengapa aku selalu lupa. Padahal mungkin, yang pernah dia katakan itu, memang adalah kata yang aku ingin dengar. Tapi aku lupa.

"Gue sayang sama lo, Nay."Ruben memegang tanganku dan menatapku. Ada yang baru saja aku sadari. Genggaman Ruben begitu hangat. Tatapannya meneduhkan. Inilah orang yang aku cintai.

Aku tersenyum. Dan kami saling diam. Aku berfikir lagi. Jonash benar. Aku harus menemukan cintaku yang baru. Dan sekarang, cinta itu ada didepanku.

"Nayla Anggitha." Ruben memanggil namaku. "Maukah kamu menjadi pacarku?"
Aku diam lagi. Lalu tersenyum. "Iya, Ruben Agustira. Aku mau jadi pacar kamu."
Ruben tersenyum tak percaya. Dia mengelus pipiku. Benarkah yang ada didepannya ini adalah aku, Nayla Anggitha. Yang baru saja membalas cintanya. Dia mencium lembut keningku. "Terima kasih." ujarnya.

Aku mengangguk pelan. Ruben mengambil sesuatu dari saku celana abu-abunya. Mengeluarkan liontin berbentuk hati, dan memasangkannya padaku.

"Aku udah lama bikin liontin ini untuk kamu." katanya lembut. "Buka deh, didalamnya ada tulisan huruf, inisial nama aku dan nama kamu."

Aku membuka liontin hati itu, disana terukir huruf 'R' dan 'N'. Inisial nama aku dan dia. Ruben dan Nayla.

"Makasih." kataku terharu. "Kalo kayak gini, aku harap aku gak akan pernah lupa, kalo aku punya kamu. Karena inisial nama kamu, ada di hati aku dan di liontin hati ini."

Ruben memelukku. "Semoga." ujarnya pelan. Hampir tak bisa ku dengar.

Aku masih memegangi liontin itu. Sambil berdo'a kepada Tuhan. Jangan pernah ambil hari ini. Jangan biarkan aku melupakan hari ini. Bantu aku menyimpannya dalam hati.

"Nay." Ruben memanggil namaku lagi. Kami masih duduk bersama dibawah pohon ini.
"Iya." jawabku.
"Gimana ya, kalo orang tua kita tau soal hubungan kita ini?" tanya Ruben.
"Aku gak tau, Ben." jawabku. "Yang pasti, aku gak akan pernah mengakhiri hubungan ini, meski mereka menentangnya." kataku sungguh-sungguh.
Ruben tersenyum. "Aku juga." katanya kemudian. "Hubungan ini hanya akan berakhir, kalo udah gak ada lagi cinta diantara kita."

Aku tersenyum mendengar ucapan Ruben. Terima kasih Tuhan. Atas cinta baru yang KAU beri. Akhirnya aku menemukannya. Dan aku berjanji akan menjaganya. Ku harap, seseorang disana juga bisa menemukan cintanya yang baru.

***

Kak Rangga menahan langkahku. Sekarang kami sudah ada dirumah. Kami sudah pulang sekolah. Dan sialnya, hari ini di rumah sedang sepi. Hanya ada aku dan kak Rangga. Tante Mery pergi bersama bi Minah ke supermarket, untuk membeli bahan makanan. Kak Yudha masih dikampus. Sedangkan Devand, pergi dengan Idon dari pulang sekolah tadi.

Kak Rangga menatap sinis padaku. Dan aku berusaha santai menanggapinya.

"Mau apa lagi?" tanyaku.
"Gue gak akan bisa menemukan cinta yang baru." ujarnya.
"Kasihan banget ya." ujarku sinis. "Ternyata gue lebih beruntung dari pada lo. Karena gue baru aja nemuin cinta gue yang baru."
"Siapa?" tanya kak Rangga kesal.
"Lo gak perlu tau." ujarku masih dengan nada sinis. "Mulai sekarang, lo gak boleh usik urusan gue. Dan gue juga gak akan usik urusan lo."

Kak Rangga mulai berang. Wajahnya memerah. Aku tau dia akan marah besar. Tapi aku akan membiarkannya. Aku tau, dia akan merasa lebih baik, jika dia mengeluarkan amarahnya.

"Kalo lo gak bisa anggap gue sebagai adek lo, gue pun sama." aku melanjutkan. "Gue gak akan anggap lo kakak gue. Tapi gue bakal anggap lo, sebagai musuh gue."
"Apa? Nggak. Lo gak bisa gitu." kak Rangga benar-benar marah.
"Oh ya?" aku tetap berusaha tetap santai. "Tapi ini bukan mau gue kan? Ini semua berawal dari lo. Jadi salahin aja diri lo sendiri."
"Nayla!" kak Rangga tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia berteriak menyebut namaku.
"I find my new love." ujarku sok inggris. Lalu aku segera meninggalkan kak Rangga. Masuk ke kamarku, dan mengunci pintu.

Ku hempaskan tubuh ke tempat tidurku. Kemudian menangis. Rasanya ingin sekali berteriak. Tolong lupakan aku. Carilah cinta yang baru. Kau pasti akan menemukannya. Harusnya kau sadar. Sebesar apapun cintamu padaku, itu semua akan sia-sia dan hanya akan menyakitimu. Jadi, berhentilah menyimpan cinta itu. Find your new love, like me. I find him. My new love. Ruben.

***


No comments:

Post a Comment