Tuesday, March 6, 2012

HAI !!!




Setiap hari, selalu saja ada yang membuat Lia kesal. Terutama dengan computer-nya itu. Sudah ratusan kali Lia meminta pada Ayahnya, untuk membelikannya computer yang baru. Tapi lagi-lagi, permintaan itu ditolak.

·         Itukan masih bisa dipakai.
·         Kita tidak boleh boros.
·         Kalo cuma rusak sedikit, bisa diperbaiki.
·         Mendingan uang untuk membeli komputernya, kita tabung untuk biaya kuliahmu nanti.

Dan masih banyak lagi daftar alasan ayahnya untuk tidak mengganti kan computer itu dengan yang baru. Lia sungguh kesal mendengarnya. Padahal dia sudah kelas 3 SMA. Banyak tugas menantinya. Banyak yang ingin dia cari tau dari internet. Tapi jika computer itu terus berulah, bagaimana Lia bisa  belajar dengan baik.
Ini sudah yang kesekian kalinya, computer Lia harus masuk ke tempat service-nya mang Unang. Mang unang pun sudah hafal dengan wajah sang pemiliknya.

“Rusak lagi, Lia?” Tanya mang Unang untuk kesekian kalinya.
“Iya, Mang. Tapi bisa lebih cepat gak memperbaikinya? Ada banyak tugas yang harus saya selesaikan.” Lia meminta keistimewaan dari mang Unang.
“Wah, ya tidak bisa begitu dong, Lia.” Kata mang Unang keberatan. “Kamu harus mengantri sama pelanggan mamang yang sudah lebih dulu daripada kamu.”
“Yah, terus tugas-tugas saya gimana dong, Mang?” Lia malah menanyakan itu pada mang Unang.
“Lah, mana saya tau.” Kata mang Unang sambil mengangkat kedua tangannya. “Tapi kalo tidak salah, diseberang jalan sana ada Warnet.”
“Terus urusannya sama saya apa?” Lia mengerutkan keningnya, bingung.
“Kamu kan mau bikin tugas. Nah berhubung computer kamu sedang diperbaiki, jadi kamu bisa ke Warnet itu saja untuk membuatnya. Karena saya sedang banyak pelanggan. Komputer kamu bakalan lama sembuhnya.” Mang Unang menjelaskan panjang lebar.

                Lia melirik kearah Warnet diseberang jalan itu. Dia berfikir sebentar, lalu memutuskan untuk menyetujui ide mang Unang. Keesokan harinya, Lia mulai berkunjung ke Warnet itu. Warnet itu tidak terlalu ramai. Bisa dibilang sangat sepi. Lia memilih Client no.7. Disebelahnya ada seorang cowok yang Lia perkirakan berumur 19 tahun. Anak kuliahan.
                Kini Lia mulai sibuk dengan tugas-tugasnya. Sudah hampir dua jam dia disini. Cowok disebelahnya sudah selesai. Dan dia langsung berdiri untuk membayar. Lia menatapnya sekilas.

“Hai!” sapa cowok itu.

                Lia hanya terdiam dan tak membalas sapaan itu. Pertama, karena Lia sama sekali tidak mengenal cowok itu. Kedua, karena Lia tidak suka meladeni orang yang tidak dia kenal. Lia kembali serius dengan tugasnya.
                Selesai tugas yang satu, tugas berikutnya datang lagi. Lia menanyakan komputernya pada mang Unang. Tapi Lia disuruh menunggu lagi. Karena mang Unang masih harus menyelesaikan barang milik orang sebelum Lia.
                Jadi hari ini, Lia kembali ke Warnet itu. Lagi-lagi dia menempati Client no.7. Kali ini cowok yang kemaren itu tidak ada. Tapi setelah setengah jam Lia berada disini, cowok itu datang.

“Hai.” Sapanya lagi, sambil tersenyum. Lalu dia menempati computer disebelah Lia. Dan Lia tetap bersikeras untuk tidak membalas sapaan itu. Dia beralih lagi ketugasnya.

                Tugas Lia sudah selesai. Tapi dia belum mau beranjak dari Warnet ini. Jadi dia memilih untuk bersocial network ria. Pertama-tama, Lia membuka Facebook-nya. Lalu berlanjut pada Twitter-nya. Setelah puas menyapa teman-teman dunia mayanya, Lia memilih untuk pulang. Tapi saat ingin membayar, dia bertemu lagi dengan si cowok “HAI”.

“Hai.” Cowok itu menyapa Lia lagi. Kali ini Lia membalasnya dengan senyuman.

                Keesokan harinya, Lia kembali ke Warnet itu. Kali ini bukan untuk membuat tugas, tapi untuk sekedar internet-an saja.  Seperti biasa, Lia masih bermain dikomputer yang sama, Client no.7. Disebelahnya, sudah ada cowok “HAI”. Tapi kali ini dia tidak menyapa. Mungkin dia tidak mengetahui kedatangan Lia. Karena sebuah HeadPhone melekat ditelinganya.
                Dan sibuklah Lia dengan social Network miliknya. Pertama-tama, dia membuka Facebook-nya. Lia membuka notification yang masuk. Seseorang mengirim wall padanya. Lia segera membukanya. Seorang laki-laki dengan user name “Seno Setiawan” (ini cuma user name boongan. Yang saya pake untuk keperluan cerita. Kalo beneran ada, mohon maaf ya ._.v) menulis “HAI” pada wall-nya. Lia sangat terkejut membacanya. Apakah cowok yang mengirim wall padanya, adalah cowok “HAI” yang ada disebelahnya? Tapi Lia tidak memperdulikannya. Lia hanya memberi “Like” untuk wall itu.
                Selanjutnya Lia beralih pada twitternya. Dia membaca sekilas, tweet-tweet yang ada di Timeline-nya. Lalu me-Retweet beberapa dari tweet-tweet itu. Lalu Lia memeriksa apakah ada mention yang masuk. Ternyata ada. Sebuah mention dari user name @senosetiawan (yang ini juga username boongan). Disitu tertulis kata “HAI” (lagi). Lia terkejut membacanya. Kemudian dia memberanikan diri untuk melihat ke cowok “HAI” yang tadi ada disebelahnya. Tapi cowok itu sudah tidak ada. Lia sedikit takut, jadi dia memutuskan untuk segera pulang dan membayar pada si penjaga Warnetnya.

“Berapa, bang?” Tanya Lia.
“Udah dibayarin tadi.” jawab si abang penjaga Warnet.
“Hah!” Lia terkejut. “Siapa yang bayar?” Tanya Lia bingung.
“Cowok yang suka main dikomputer sebelah eneng. Dia tadi ngasih uang lima puluh ribu. Terus gak mau dikasih kembalian. Katanya biar sekalian bayarin yang punyanya eneng.” Penjaga Warnet itu menjelaskan.
“Oh, ya udah deh.” Meskipun bingung, tapi Lia membiarkan saja. Dia pun segera pulang kerumahnya.

                Kesokan harinya lagi, Lia enggan untuk menanyakan perihal komputernya ditempat service mang Unang. Lia memilih langsung pergi keWarnet itu. Hari ini dia bertekat untuk menyapa cowok “HAI” itu dan mengucapkan terima kasih untuk traktiran Warnetnya yang kemaren.
                Lia tetap bermain ditempatnya yang biasa. Tapi cowok itu belum ada. Lia berfikir, mungkin dia belum datang. Tapi sudah hampir dua jam Lia disini, cowok itu tetap belum ada. Lia telah memeriksa Facebook dan Twitter-nya. Dan tidak ada wall maupun mention disana. Lia sedikit kecewa, dan memutuskan untuk pulang.

“Berapa, bang?” Lia ingin membayar pada penjaga Warnetnya.
“Nggak usah, neng.” Ujar si penjaga Warnet. “Masih ada uang sisa dari cowok yang bayarin eneng  kemaren.”
Lia hanya tersenyum dan memasukan lagi uang yang akan dibayarkannya. “Ya udah deh, makasih ya, bang.”
Lia pun pulang.
Dan keesokan harinya Lia datang lagi. Padahal hari ini computer Lia sudah selesai diperbaiki.

“Hai bang.” Lia menyapa si penjaga Warnet.
“Eh, hai neng.” Abang penjaga Warnet itu membalas sapaan Lia.
“Ehm, cowok yang bayarin saya kemaren itu, pernah dateng gak, bang?”
“Wah, udah dua hari ini dia gak datang neng. Padahal dulu, dia selalu datang setiap hari.”
“Emm, abang tau gak, namanya dia siapa?”
“Oh, dari nama yang suka dia tulis setiap bermain di warnet ini sih, namanya Seno, neng. Dia juga pernah menanyakan nama eneng. Dan saya bilang kalo nama eneng adalah Lia. Sesuai dengan yang ditulis pada Client computer yang eneng pakai.”

                Lia mengangguk lesu. Dia segera pulang, setelah mengucapkan terima kasih pada si penjaga warnet. Dan setelah hari itu, Lia tidak pernah lagi datang ke Warnet. Berhubung komputernya sudah selesai diperbaiki, jadi Lia bisa membuat tugasnya dirumah. Tidak perlu ke warnet lagi.
                Suatu hari, saat sedang dalam perjalanan pulang sekolah, Lia bertemu seorang ibu yang keberatan membawa belanjaannya dari supermarket.

“Boleh saya bantu, bu?” Lia menawarkan bantuan.
“Oh, boleh nak. Terima kasih ya.” Jawab ibu itu.
“Belanjanya banyak banget bu?”
“Iya, nak. Soalnya saking sibuknya ibu menjaga anak ibu dirumah sakit, ibu sampai lupa belanja mingguan. Barang-barang dikulkas sudah pada abis.”
“Anak ibu dirawat dirumah sakit?”
“Iya, nak. Dua minggu yang lalu, dia tertabrak mobil saat akan menyebrang. Dan sampai saat ini, dia masih koma.”
“Ya ampun. Emm kalo boleh saya tau, nama anak ibu siapa ya, bu?”

                Ntah kenapa, tiba-tiba Lia ingin menanyakan siapa nama anak ibu itu. Padahal dia tidak kenal sama sekali.

“Nama anak ibu itu, Seno, nak.”
“Seno?”
“Iya.”

                Lia terkejut mendengar nama itu. Dia jadi teringat pada cowok “HAI” yang bertemu dengannya di warnet waktu itu. Jadi Lia meminta izin untuk menjenguk anak ibu itu. Dan ibu itu langsung menyetujuinya dengan senang hari.

“Boleh sekali, nak. Tapi sekarang ibu ingin pulang dulu untuk memasak. Kamu pergi duluan saja ya. Dia dikamar 247.”
“Oh iya, baik bu.”

                Lia pergi sendirian menuju rumah sakit. Dan langsung masuk keruangan 247. Lia begitu kaget saat melihat sosok cowok yang terbaring diranjang rumah sakit itu. Dia benar si cowok “HAI”. Kecelakaan yang menimpanya itu, tepat dihari terakhir Lia bertemu dengannya. Saat hari itu, cowok “HAI” ini mentraktir biaya warnetnya. Lia berjalan perlahan mendekati tempat tidur cowok itu.

“Hai.” Lia menyapanya.

                Ekspresi cowok itu sama seperti ekspresi yang dikeluarkan Lia, saat pertama kali cowok itu menyapanya. Dia hanya diam. Karena tentu saja, dia masih koma. Lia memberanikan diri memegang tangan cowok itu.

“Hai Seno.” Lia kembali menyapanya dan mengajaknya bicara. “Ini gue. Cewek warnet, yang sering lo sapa dulu. Nama gue Lia. Udah lama banget ya kita gak ketemu. Dan udah lama banget, gue gak denger sapaan “HAI” dari lo. Bangun dong, jangan tidur terus. Lo harus kembali lagi. Lo harus main Warnet di sebelah gue. Lo harus bilang “HAI” lagi tiap kita ketemu. Please, bangun ya Seno.”

                Jari tangan yang dipegang oleh Lia itu bergerak. Lia kaget dan langsung memanggil dokter. Begitu dokter datang, Seno langsung diperiksa. Dan disaat yang sama, ibu Seno juga datang.
                Setelah diperiksa, Dokter memastikan Seno sembuh. Selain lukanya juga sudah membaik, Seno juga dinyatakan sembuh, karena dia berhasil terbangun dari komanya.
                Ibu Seno mengajak Lia masuk ke dalam kamar Seno. Dan Seno sangat terkejut melihat ada Lia bersama Ibunya.

“Hai.” Sapa Lia.
“Hai.” Seno membalas sapaan itu. “Gue denger.” Lanjutnya.
“Denger apa?” Tanya Lia bingung.
“Gue denger ada seseorang yang bilang kalo dia pengen gue sapa “HAI” lagi, waktu gue masih koma.” Seno tertawa renyah. Lia juga. Tapi Lia sedikit malu.

                Ibu Seno hanya tersenyum melihatnya. Biarlah dia mengetahui penjelasannya nanti. Dan sekarang, ia akan membiarkan putranya untuk menyelesaikan apa yang pernah tertunda dulu.

“Gue Seno.” Seno mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri.
“Gue Lia.” Lia menjabat tangan itu.
“Hai, Lia.”
“Hai, Seno.”


-END-

No comments:

Post a Comment