Good Bye, My First Love !!
Aku harap ini sudah berakhir. Kak Rangga tak akan bertingkah bodoh lagi. Kini semuanya menjadi normal kembali. Hanya saja ada sesuatu yang berbeda. Kak Rangga. Dia menjadi orang yang lebih pendiam. Sikap ini dia tunjukkan saat kami sedang makan malam bersama dirumah.
"Kenapa, Ga? Masakan tante gak enak?" tante Mery merasa tidak enak saat melihat kak Rangga hanya mengaduk-aduk nasi dipiringnya.
"Enak kok, tante." jawabnya sembari tersenyum.
"Kalo gitu, dimakan dong, Ga." ada nada perintah dari ucapan kak Yudha.
"Gue udah kenyang, kak." kak Rangga meninggalkan meja makan begitu saja.
"Dia kenapa sih?" kak Yudha bertanya padaku.
Aku hanya mengangkat kedua bahuku, pertanda tidak tau. Lalu suasana diruang makan, kembali biasa. Ini untuk malam kesekian, kami hanya makan berlima. Tanpa Papa dan Mama. Papa dan Mama belum pulang sejak kepergian mereka hari itu. Jadi tante Mery lah yang mengurus kami. Rasanya tidak terlalu berbeda. Karena tante Mery benar-benar orang yang baik, ramah, dan penyayang.
***
Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa. Bersama Devand dan kak Yudha, tentunya. Kak Rangga sudah berangkat duluan.
Sesampainya disekolah, aku disambut oleh Kenzi. Aneh. Kenzi tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tapi berhubung aku lupa pada hal-hal yang terjadi pada aku dan Kenzi biasanya, jadi yaa aku pikir ini masih biasa saja.
"Hai, Nay." sapanya dengan ramah. Kini dia menjejeri langkahku.
"Hai, Ken." jawabku sembari tersenyum.
"Udah ngelakuin omongan kita yang kemaren belum?" pertanyaan Kenzi benar-benar membingungkanku.
"Omongan apa ya, Ken?" tanyaku, yang membuat Kenzi tersenyum geli. Ya, jawabannya lagi-lagi 'aku lupa'.
"Itu loh, kemaren kan kita sepakat buat menyatakan sesuatu untuk seseorang." Kenzi mengingatkan. "Lo akan ngomong sama kak Rangga, dan gue sama.... yaa someone."
"Oh, mungkin maksud lo yang gue omongin sama kak Rangga kemaren ya?" tumben banget aku ingat.
"Yup." Kenzi membenarkan. "Jadi lo udah ngomong sama kak Rangga?" tanyanya lagi.
"Udah." jawabku. "Tapi gue lupa deh, Ken. Lo kemaren ngomong apa ya, soal lo mau nyatain perasaan itu."
"Ehm." Kenzi hanya berdehem. Lalu dengan malu-malu dia bilang, "Gue gak bisa ngomong sekarang sama lo, Nay. Nanti aja deh."
Aku hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis. Entah apa maksud dari perkataan Kenzi barusan. Yang jelas, aku lupa pada sebagian percakapan aku dengannya kemarin.
Aku dan Kenzi masuk kelas bersama. Dan kami disambut oleh senyuman semua sahabat kami. Keyra, Radit, Jonash, Devand, Idon, dan Ruben. Aku menatap Ruben, lalu membalas senyumannya.
"Cie ciee." Idon menggoda aku dan Kenzi. "Si Mipel, mentang-mentang udah putus sama kak Rangga, langsung berpindah sama Kenzi lagi. Hati-hati loh, dilabrak si Vivian tuh nanti."
Sumpah, aku gak tau kalo berita soal putusnya aku dan kak Rangga udah meleber kemana-mana. Dan pasti ini ulah mulut embernya Keyra dan Radit. Uh, dua kuman itu selalu kayak gitu.
"Apaan sih lo, Don." Kenzi menyeringai kesal pada Idon. "Orang gue sama Nayla cuma temen kok. Ya nggak, Nay?"
Aku menjawab dengan anggukan. Ya, aku tau. Dari dulu, aku dan Kenzi memang hanya sebatas teman. Kenzi hanya menganggapku teman baiknya. Tapi itu perasaan Kenzi. Sedangkan aku, aku mencintai Kenzi. Dia cinta pertamaku. Dan dia tak tau betapa sakitnya hatiku, saat dia bilang "kita cuma teman".
Aku duduk dibangkuku, sebelah Keyra. Begitupun Kenzi, duduk dibangkunya, sebelah Ruben.
"Pagi, Nay." sapa Keyra basa basi.
"Gue gak nyangka loh, satu sekolah pada tau soal gue sama kak Rangga." kataku menyindir Keyra.
"Ehm." Keyra melirik kearah Radit yang langsung nyengir.
"Bukan kita kok, Nay." Radit langsung membela diri.
"Iya, Nay." Keyra menimpali.
"Bukan gue juga, Nay." Devand ikut-ikutan membela diri.
"Ok. Gue gak mencurigai siapapun kok." kataku bijak. "Yang pasti, pelakunya udah jelas ada diantara kalian. Karena yang tau soal ini kan cuma kalian."
Keyra, Radit, dan Devand terdiam. Mereka cuma saling lirik-lirikan aja. Lalu Jonash datang menghampiri kami.
"Lagi pada ngomongin apa sih?" kedatangan Jonash mencairkan suasana.
"Gak ngomongin apa-apa kok, Jo." Keyra yang menjawab.
Sedang aku hanya diam. Dan berfikir.
Lalu kenzi melanjutkan ucapannya. "Aku suka sama kamu."
"Hai, Nay." sapanya dengan ramah. Kini dia menjejeri langkahku.
"Hai, Ken." jawabku sembari tersenyum.
"Udah ngelakuin omongan kita yang kemaren belum?" pertanyaan Kenzi benar-benar membingungkanku.
"Omongan apa ya, Ken?" tanyaku, yang membuat Kenzi tersenyum geli. Ya, jawabannya lagi-lagi 'aku lupa'.
"Itu loh, kemaren kan kita sepakat buat menyatakan sesuatu untuk seseorang." Kenzi mengingatkan. "Lo akan ngomong sama kak Rangga, dan gue sama.... yaa someone."
"Oh, mungkin maksud lo yang gue omongin sama kak Rangga kemaren ya?" tumben banget aku ingat.
"Yup." Kenzi membenarkan. "Jadi lo udah ngomong sama kak Rangga?" tanyanya lagi.
"Udah." jawabku. "Tapi gue lupa deh, Ken. Lo kemaren ngomong apa ya, soal lo mau nyatain perasaan itu."
"Ehm." Kenzi hanya berdehem. Lalu dengan malu-malu dia bilang, "Gue gak bisa ngomong sekarang sama lo, Nay. Nanti aja deh."
Aku hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis. Entah apa maksud dari perkataan Kenzi barusan. Yang jelas, aku lupa pada sebagian percakapan aku dengannya kemarin.
Aku dan Kenzi masuk kelas bersama. Dan kami disambut oleh senyuman semua sahabat kami. Keyra, Radit, Jonash, Devand, Idon, dan Ruben. Aku menatap Ruben, lalu membalas senyumannya.
"Cie ciee." Idon menggoda aku dan Kenzi. "Si Mipel, mentang-mentang udah putus sama kak Rangga, langsung berpindah sama Kenzi lagi. Hati-hati loh, dilabrak si Vivian tuh nanti."
Sumpah, aku gak tau kalo berita soal putusnya aku dan kak Rangga udah meleber kemana-mana. Dan pasti ini ulah mulut embernya Keyra dan Radit. Uh, dua kuman itu selalu kayak gitu.
"Apaan sih lo, Don." Kenzi menyeringai kesal pada Idon. "Orang gue sama Nayla cuma temen kok. Ya nggak, Nay?"
Aku menjawab dengan anggukan. Ya, aku tau. Dari dulu, aku dan Kenzi memang hanya sebatas teman. Kenzi hanya menganggapku teman baiknya. Tapi itu perasaan Kenzi. Sedangkan aku, aku mencintai Kenzi. Dia cinta pertamaku. Dan dia tak tau betapa sakitnya hatiku, saat dia bilang "kita cuma teman".
Aku duduk dibangkuku, sebelah Keyra. Begitupun Kenzi, duduk dibangkunya, sebelah Ruben.
"Pagi, Nay." sapa Keyra basa basi.
"Gue gak nyangka loh, satu sekolah pada tau soal gue sama kak Rangga." kataku menyindir Keyra.
"Ehm." Keyra melirik kearah Radit yang langsung nyengir.
"Bukan kita kok, Nay." Radit langsung membela diri.
"Iya, Nay." Keyra menimpali.
"Bukan gue juga, Nay." Devand ikut-ikutan membela diri.
"Ok. Gue gak mencurigai siapapun kok." kataku bijak. "Yang pasti, pelakunya udah jelas ada diantara kalian. Karena yang tau soal ini kan cuma kalian."
Keyra, Radit, dan Devand terdiam. Mereka cuma saling lirik-lirikan aja. Lalu Jonash datang menghampiri kami.
"Lagi pada ngomongin apa sih?" kedatangan Jonash mencairkan suasana.
"Gak ngomongin apa-apa kok, Jo." Keyra yang menjawab.
Sedang aku hanya diam. Dan berfikir.
***
Setelah dua jam berkutat dengan pelajaran, akhirnya waktu istirahatpun tiba. Tidak bisa disangkal lagi, tujuan seluruh siswa adalah kantin. Termasuk aku, Keyra, Radit, Devand, Jonash, dan Idon. Sepanjang perjalanan menuju kantin, Idon memain-mainkan rambutku. Uh, Idon selalu aja jahil.
"Dony Satria." panggilanku membuat Idon menghentikan kegiatan konyolnya. Lalu dia cekikikan dibelakangku. Gak tau kenapa, namanya yang udah jelas-jelas keren, malah harus disapa 'Idon'.
Tiba-tiba aku terfikir pada sesuatu. Sejak keluar kelas tadi, aku gak liat Kenzi dan Ruben. Mereka kemana yah?
Sesampainya dikantin, aku langsung duduk disalah satu bangku. Sedangkan anak-anak langsung memesan makanan. Aku memesan makanan lewat Keyra. Jadi sekarang, aku duduk sendiri menunggu makananku datang. Dan tiba-tiba, Vivian dan si kembar Kiran-Karin datang menghampiriku.
"Mipel." sapa si kembar berbarengan. Dan itu membuat kupingku sakit. Suara mereka, kalo ngomong barengan, pasti arrgggh berisik banget.
"Apaan sih lo berdua." aku kesal. "Biasa aja dong manggilnya."
"Oh, sorry deh, Mipel." si Kiran ngomong sorry-nya gak ikhlas banget. Dasar!
"Eh, Mipel. Beneran ya, lo udah putus sama kak Rangga?" tanya Karin to the point.
"Iya." kataku lesu.
"Ya ampun, Mipel. Itu tuh keputusan yang paling bener tau gak." Kiran kesenengan banget.
"Lagian lo itu emang gak cocok sama kak Rangga." komentar Karin bener-bener bikin nyesek.
"Lagian lo itu emang gak cocok sama kak Rangga." komentar Karin bener-bener bikin nyesek.
Aku hanya diam. Berharap anak-anak yang lain cepet dateng bawa makanan, dan dua kembar rese ini cepat pergi.
"Kenapa sih, lo harus putus sama kak Rangga, Nay?" aku hampir lupa kalau juga ada Vivian disana. Karena tadi dia cuma diam, dan baru ngomong sekarang.
"Gue gak bisa bilang alasannya, Vi." jawabku sekenanya. "Yang pasti, ini adalah keputusan yang terbaik."
"Tapi setelah lo putus sama kak Rangga, lo gak berniat buat ngejar Kenzi kan?" pertanyaan Vivian membuatku terdiam. Dan jadi salah tingkah banget. Gimana mesti jawabnya tuh.
"Ngomong apa sih lo, Vi." aku berusaha tetap tenang.
Beruntung banget Keyra dkk, akhirnya datang.
"Ngapain kalian disini?" tanya Keyra, yang selalu kesal kepada tiga orang itu.
"Santai aja kali Key nanyanya." Kiran sewot.
"Kalian pasti mau ngegangguin Nayla lagi kan?" Keyra tetap sinis.
"Nggak kok." Karin menjawab cepat.
Tiba-tiba...
Anak-anak sekantin (gak enak banget deh bahasanya -_-) langsung pada heboh. Gimana nggak, Kenzi yang adalah anak yang pendiem dan pemalu banget, sekarang lagi berdiri dimeja kantin sambil bawa dua balon di kedua tangannya. Ditangan kiri ada balon warna hijau, dan ditangan kanan ada balon warna merah.
"Vivian." sebuah nama terucap dari bibir Kenzi. Dan itu langsung membuat aku sakit hati. Kayaknya aku tau apa yang bakal Kenzi lakuin sekarang. Vivian terlihat kaget. Mungkin dia gak nyangka, seorang Kezi akan ngelakuin ini.
Lalu kenzi melanjutkan ucapannya. "Aku suka sama kamu."
Kata-kata Kenzi langsung bikin heboh anak-anak. Sedangkan Vivian cuma diam sambil tersenyum malu.
"Apa kamu mau jadi pacar aku?" Kenzi melanjutkan kata-katanya. "Kalo kamu terima aku, pecahin balon yang warna hijau, dan ambil yang warna merah. Tapi kalo kamu tolak aku, pecahin kedua balon ini."
Aku tau itu bukan pilihan yang sulit untuk Vivian. Aku bahkan sudah tau jawabannya. Ruben memberikan sebuah jarum pada Vivian. Mungkin ide penembakan ini, adalah idenya Ruben. Ruben kan emang suka ngelakuin hal yang gila. Dan sekarang, gilanya dia, dia tularin deh ke Kenzi -_-
Vivian maju mendekati Kenzi. Dia tersenyum, lalu dengan pelan, menusuk balon yang warna hijau. Disini anak-anak langsung tegang banget. Kalo sampai Vivian juga mecahin balon yang warna merah, berarti Kenzi bakalan tetep jomblo -_-
Tapi ternyata tuhan sayang sama Kenzi. Jadi, udah tau kan jawabannya? Yup, Vivian ngambil balon warna merahnya. Dan itu berarti, mereka jadian. Jadian woy, jadian. Apa perlu aku eja, J.A.D.I.A.N. Kurang jelas? Jadian! *teriak pake toa masjid (ok, abaikan yang ini).
Dan tentunya ini semua bikin aku pahat hati :'(
Kenzi tersenyum menatapku. Aku mungkin gak ingat kalo akulah yang menyarankan ke Kenzi untuk bilang tentang perasaannya sama orang yang dia suka. Andai aja aku ingat percakapan kemaren, aku bakalan bunuh diri aja. Karena betapa bodohnya aku, menyarankan hal itu. Terkadang, pelupaku ini memang ada untungnya juga.
Aku membalas senyuman Kenzi, lalu berjalan keluar kantin. Dan aku rasa, gak ada yang tau tentang kepergianku ini, karena semuanya masih terfokus pada pasangan baru itu. Kenzi sih senengnya gak usah ditanya lagi. Dan aku juga, sedihnya gak usah ditanya lagi.
Aku berjalan menuju taman sekolah. Dan gak sadar, kalau ternyata, Jonash ngikutin.
"Jonash." aku kaget banget pas liat Jonash yang udah berdiri dihadapanku. Lalu beralih duduk disebelahku.
"Disaat semua orang senang dengan kejadian dikantin tadi, gue liat satu orang yang sedih. Jadi, apa lo mau cerita tentang alasannya?" Jonash bertanya tanpa memaksa meminta jawabannya.
Aku tersenyum, lalu menjawab, "Lo orang kedua setelah tuhan, yang bakal gue kasih tau soal ini."
Jonash membenarkan posisi duduknya. Dan bersiap mendengarkan ceritaku. Aku bercerita panjang lebar tentang kejadian 17 Oktober itu. Tentang bagaimana aku merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya pada Kenzi. Sudah ku bilang, bagaimanapun pelupanya aku, aku tidak pernah lupa akan hari itu.
Jonash tersenyum tipis setelah mendengar ceritaku.
"Kenzi hebat ya." dia mulai berkomentar. "Seorang Nayla yang pelupa pun, bahkan gak pernah lupa pada hari dimana dia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya."
Jonash kemudian memberiku permen. Dan itu membuatku bingung.
"Gue kan gak lagi nangis." kataku heran. Karena biasanya, Jonash baru akan memberiku permen, kalau aku menangis.
"Lo emang gak boleh nangis." Jonash menguatkanku. "Lo harus terima pilihan Kenzi. Dan ucapin selamat tinggal buat cinta pertama lo itu."
Aku tersenyum. Entah kenapa, Jonash memang selalu ada untuk melindungiku. Seperti sekarang, dia ada untuk melindungi hatiku. Agar tak hancur berantakan. Dan sepertinya dia benar. Aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk cinta pertamaku yang kini sudah menemukan kebahagiaannya.
Aku menyandarkan kepalaku dibahu Jonash. Membuka bungkusan permen, lalu mengulumnya. Itu masih permen dengan merk yang sama (merknya sih gak usah disebutin ya). Yang beberapa hari lalu pernah diberikannya untukku.
"Good bye, my first love." ujarku pelan, sambil menutup mata. Tapi ucapanku masih bisa didengar oleh Jonash. Dan dia hanya tersenyum.
Ketika bel masuk berbunyi, aku dan Jonash masuk ke kelas. Didepan kelas, Kenzi dengan senyum yang lebar, menahan langkahku. Jonash mengerti, dan langsung masuk duluan ke kelas.
"Nayla." aku berharap, nama itulah yang disebut oleh Kenzi saat dikantin tadi.
"Selamat ya." kataku seikhlas mungkin.
"Iya. Makasih ya. Gue seneng banget hari ini." ya, aku bisa melihat rasa senang yang banget itu dari raut wajah Kenzi. Dan mudah-mudahan, Kenzi gak ngeliat rasa sedih yang banget itu dari raut wajahku.
"Gue juga ikut seneng, Ken." ujarku, yang jelas-jelas itu bohong banget.
Lalu Kenzi memelukku. Ok. Anggap aja ini sebagai pelukan perpisahan untuk cinta pertamaku. Kalo ditanya rela apa nggak? Huh, pasti jawabannya adalah nggak. Tapi ya mau gimana lagi. Kenyataannya udah kayak gini. Bagaimanapun caranya, aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk cintaku. Cinta pertamaku!
***
No comments:
Post a Comment