A Day With Ruben
Pada jam pulang sekolah, aku berusaha menghindar dari kak Rangga. Aku melihat dia sempat mencariku dikelas. Tapi aku sudah lari jauh menuju gerbang sekolah. Aku benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengannya. Andai saja, kami beda rumah -_-
Tiba-tiba terdengar suara klakson motor dibelakangku. Bagitu aku menoleh, ternyata ada Ruben disana. Dia tersenyum tipis padaku.
"Mau pulang?" tanyanya.
"Iya." jawabku singkat.
"Mau gue anter?" tawarnya kemudian.
"Gak ngerepotin?" tanyaku ragu.
"Yaa, asalkan lo mau nemenin gue jalan-jalan bentar." katanya sambil tertawa.
Aku berfikir sejenak. Mungkin ini adalah cara yang tepat untuk menghindar dari kak Rangga. Agar aku tak harus bertemu dengannya dirumah. Agar aku tak harus mendengar omelannya. Jadi aku putuskan untuk menerima ajakan Ruben.
"Ok." kataku mantap.
Aku langsung naik diboncengan motor Ruben, begitu mendapat izin darinya. Kami melaju santai keluar gerbang sekolah. Beruntunglah kak Rangga tak melihat kepergianku itu. Aku segera mengambil Handphone-ku, lalu mengirim sms untuk kak Yudha. Aku mengatakan akan pulang telat, karena ada tugas yang harus aku selesaikan dengan teman. Dan dia bisa memakluminya.
"Kita makan dulu ya." ajaknya. Dan ku balas dengan anggukan.
Warung makan yang sangat sederhana, tapi begitu nyaman. Disini tersedia banyak menu makanan. Dan aku memilih salah satunya.
"Sering makan disini ya, Ben?" tanyaku disela-sela waktu menunggu makanan datang.
"Iya." jawabnya. "Makanan disini enak-enak loh."
"Tempatnya juga nyaman banget ya." komentarku sambil melihat seisi warung ini.
"Lo gak apa-apa kan gue ajak makan disini?" tanyanya tiba-tiba.
"Ya gak apa-apa lah, Ben." ujarku santai.
Dan makanan kamipun datang. Aku dan Ruben segera mencicipi makanan yang kami pesan itu. Ruben sempat menawarkan untuk menyuapiku, tapi aku menolaknya. Dan betapa cerobohnya aku, sampai ada sisa makanan yang menempel dipinggir bibirku.
"Sorry ya, Nay." Ruben mengelap sisa makanan dibibirku itu dengan tisu. Dan aku jadi mendadak salah tingkah.
Selesai makan, Ruben mengajakku berjalan lagi dengan motornya. Tujuan berikutnya adalah Mall. Gak jauh-jauh deh. Kemanapun jalan-jalannya, pasti mentok-mentoknya ke Mall juga -_-
Kami berjalan mengitari Mall. Dan tangan Ruben tak lepas menggandengku. Kami melihat-lihat barang. Mencoba-coba topi. Ruben bahkan sempat bertingkah aneh saat disuatu toko, kami melihat topi berbentuk wajah monyet. Ruben memakainya, lalu menirukan gaya khas hewan itu. Dan itu membuatku tertawa ngakak. Dia juga membelikan es krim untukku. Ini untuk pertama kalinya, aku merasa, jalan-jalan ke Mall bukanlah hal yang membosankan (bila bersama Ruben).
"Cari apaan disini?" tanyaku sinis.
"Ada yang mau gue beli." jawab Ruben sambil melihat-lihat barang.
"Beli apa? tanyaku lagi. "Buat siapa?"
"Beli boneka." jawab Ruben lembut. "Buat Nayla Anggitha si Miss Pelupa."
Ruben tersenyum tipis menatapku yang langsung terdiam. Ditangannya sudah ada sebuah boneka Mickey Mouse berukuran besar yang lucu. Dan dia menunjukkannya padaku.
"Suka gak?"
"Ultah gue masih dibulan Februari loh, Ben."
"Oh, jadi gue baru boleh ngasih lo hadiah, pas lo ultah?"
"Gak gitu juga sih."
"Udah, terima aja! Sorry ya, tapi gue maksa. Anggap aja, ini sebagai hadiah perkenalan kita."
"Ya udah deh."
Aku sedikit malu membawa-bawa boneka Mickey Mouse yang gede ini selama berjalan sepanjang Mall. Ditambah lagi, saat Ruben merangkulku sampai diparkiran.
"Udah jam tujuh malem nih." kataku sambil melirik jam ditangan. "Pulang aja yuk."
"Yaah." Ruben menghela nafas berat. "Tapi gue masih mau ngajakin lo kesuatu tempat lagi."
"Kemana?" tanyaku penasaran.
"Ke atas Gedung itu." Ruben menunjuk sebuah gedung dengan 20 lantai. Aku terkejut melihatnya. Aku memang tidak phobia pada ketinggian. Tapi ngeri juga kalo harus berada diatap gedung setinggi itu.
"Diatas sana keren banget loh." tambahnya. "Kita bisa liat pemandangan kota ini dimalam hari."
"Tapi kita naiknya gimana?" tanyaku tak yakin.
"Itu sih masalah gampang." Ruben tersenyum licik. "Ayo buruan."
Aku dan Ruben menyelinap masuk tanpa ketahuan. Butuh perjuangan untuk sampai diatap gedung ini. Tapi begitu sampai, ternyata tak seburuk yang ku kira. Disini benar-benar keren. Ruben mengajakku duduk ditepi atap, agar bisa melihat pemandangan lalu lintas kota dimalam hari. Tapi disini sangat dingin, Anginnya berhembus kencang banget. Aku memeluk erat boneka dari Ruben.
"Gue selalu kesini setiap lagi ada masalah." Ruben memulai pembicaraan.
"Jadi ini bukan yang pertama kalinya lo disini?" tanyaku, terkejut.
"Bukan." jawabnya. "Nah, berhubung sekarang ini elo lagi ada masalah, jadi gue bawa lo kesini."
"Gue?" aku mengerutkan dahi. "Gue gak lagi ada masalah kok, Ben."
Ruben tertawa. "Mungkin lo udah lupa. Tapi gue ingetin ya. Tadi disekolah, lo sama kak Rangga sempet berantem gara-gara gue. Dan lo juga nangis. Itu masalahnya."
"Ooh, iya." aku belagak ingat.
Ruben hanya tersenyum. Dia tau aku sudah lupa semuanya. Tapi dia yakin, aku tidak lupa pada suatu hal. Dan karena itu, dia menanyakannya.
"Kalo gue boleh tau, apa sih yang terjadi antara lo sama kak Rangga tadi?"
"Emm, kita putus."
"Hah! Pasti gara-gara gue ya?"
"Emm, gimana ya Ben. Gue juga udah lupa apa masalahnya."
Ruben tertawa geli mendengar ucapanku.Tentu saja. Bagaimana mungkin, hal sepenting ini bisa terlupa olehku. Tapi Ruben masih bisa memakluminya.
"Jangan-jangan, lo juga udah lupa sama apa yang pernah gue bilang sama lo." kata Ruben tiba-tiba.
Perkataan Ruben membuatku bingung. Iya, aku memang sudah lupa. "Emangnya, lo perrnah bilang apa sama gue, Ben?"
"Bukan hal yang penting sih. Jadi lupain aja lah." Ruben terlihat sedih.
"Oh iya, makasih ya buat bonekanya." aku mengalihkan pembicaraan.
"Iya." Ruben menjawab sambil mengangguk pelan.
"Ben,"
"Nay," belum sempat aku meneruskan ucapanku, Ruben langsung memotong. "Tolong jangan pernah lupain hari ini yah. Karena gue takut, kita gak akan pernah dapet hari ini lagi."
Aku terdiam mendengar ucapan Ruben. Aku tidak bisa memastikan hal itu. Aku pelupa. Sekuat apapun aku mencoba untuk tidak seperti ini, tapi lagi-lagi semuanya selalu gagal.
"Gue pun juga pengen hal yang sama, Ben." kataku serius. "Tapi gue takut. Gue takut, setelah gue bangun besok pagi, gue lupa semuanya."
"Simpan hari ini dihati lo, jangan diotak lo." Ruben menatapku penuh harap. "Agar sampai kapanpun, lo tetep bisa merasakannya."
Aku tidak tau apa yang aku rasakan sekarang. Tapi aku memang tidak ingin melupakan hari ini. Ini terlalu indah. Dan tak terduga. Karena sekarang ini, bibir Ruben telah menyentuh keningku.
Aku memejamkan mata. Mencoba menyimpannya didalam hatiku. Tapi dilubuk hatiku yang paling dalam, aku mengingat kak Rangga. Aku merasa dia juga pernah melakukan ini padaku. Aku melihat bayangannya ada diantaraku dan Ruben.
Kenapa sih gue? Gue lagi sama Ruben, tapi gue malah mikirin kak Rangga, batinku.
"Kak Rangga." ucapanku barusan, membuat Ruben menjauhkan bibirnya dari keningku. Lalu dia tersenyum hambar.
Sebegitu cintanya lo sama Rangga ya, Nay. Sampai-sampai, disaat lo lagi menghabiskan waktu sama gue, lo tetap mengingat Rangga, batin Ruben.
"Ben, gue..."
"Mau pulang sekarang?" tanya Ruben, setelah memotong ucapanku. Aku tak bisa apa-apa, dan aku hanya mengangguk pelan.
Aku dan Ruben turun dari atap gedung, lalu pulang. Sesampainya dirumah, aku melihat kak Rangga sedang duduk diruang tengah sambil menonton TV. Dia tidak melihat kedatanganku, karna aku berhasil masuk kamar tanpa sepengetahuannya.
Gue janji, Ben. Gue gak akan ngelupain hari ini, batinku.
Aku meletakkan boneka dari Ruben disampingku dan memeluknya, lalu beranjak ke alam mimpi.
***
No comments:
Post a Comment