Tuesday, March 13, 2012

MIPEL (MISS PELUPA) Bagian 11

Holiday


Pagi ini, suasana kelas ribut banget. Anak-anak lagi pada kesenengan. Mau tau alasannya? Yaa, apalagi kalo bukan karena hari ini bu Asti sakit, jadi jam pelajaran pertama kosong. Jonash mengajak ku ngobrol.

"Nay, ada yang mau lo ceritain lagi gak sama gue?"
"Cerita apaan ya. Kayaknya gak ada deh, Jo."
"Gak ada, atau lupa?"

Aku cuma nyengir sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatel. Kemudian aku melirik sebentar pada Ruben. Dia terlihat sibuk dengan laptopnya.

"Ngeliatin apa sih?" tanya Jonash, mengejutkanku.
"Ehm, gak liat apa-apa kok." jawabku berkilah.
"Gimana perasaan lo sekarang?" Jonash bertanya lagi. "Soal Kenzi." katanya berbisik saat menyebut nama itu.
"Oh, udah gak apa-apa kok." kali ini jawabanku jujur. Aku memang sudah tidak apa-apa lagi.

Lagi-lagi, bel yang paling dinanti berbunyi juga. Perutku sudah tidak tahan ingin diisi. Jadi kami semua langsung pergi menuju kantin. Tapi saat ingin keluar kelas, langkah kami dihadang oleh Vivian dan si kembar.

"Hai semua." Vivian menyapa kami. Lalu berlanjut pada pacarnya. "Hai, Kenzi."
"Hai." jawab kami serentak.
"Mau ngantin bareng Kenzi ya, Vi?" tanya Idon.
"Mau ngajak kalian semua juga kok." jawab Vivian ramah. Baru kali ini aku merasa Vivian bukan orang yang menyebalkan. Dia lebih terlihat manis dengan gayanya yang seperti ini.
Vivian melanjutkan ucapannya, "Oh iya, buat malam ini sama hari minggu besok, pada ada acara nggak?"
"Gue sih nggak." jawab Devand pasrah.
"Yaah, lo sih ketauan banget jomblonya, Vand." ejek Idon. " Jangan terlalu jujur gitu, kenapa! Gue aja yang aslinya gak punya acara, bakal bilang punya. Biar gak malu-maluin."

Kami semua tertawa mendengar penuturan Idon.

"Ok. Kalo semuanya pada diem, dan cuma Idon doang yang jual mahal, berarti gue anggap, lo semua pada gak ada acara ya." Vivian menyimpulkan. Sedangkan kami pun hanya pasrah. Karena itu memang adanya. Kami gak punya acara di malam minggu dan hari minggu. Ok, itu emang miris banget.
"Emangnya ada apaan sih, Vi?" kali ini, Radit yang bertanya.
"Gini, rencananya gue mau ngajakin kalian buat liburan ke Villa gue." ternyata itulah rencana Vivian.
"Sekalian buat ngerayain jadiannya elo sama Kenzi ya, Vi." terka Ruben. Aku gak tau kalo Ruben bakalan ngomong. Aku pikir, dia bakalan cuma diem aja. Secarakan, Ruben belum kenal-kenal banget sama Vivian. Jonash aja, dari tadi cuma diem disebelah gue.
"Yup." Vivian membenarkan terkaan Ruben. "Jadi kalian pada mau nggak? Kalo mau, kita berangkat sore ini."
"Mauuuu." kita semua teriak barengan.

Gitu deh, akhirnya kita yang para jomblo ngenes, dapat acara juga di Satnite and Sunday. Sstt, beberapa saat setelah kita selesai ngomongin rencana buat liburan itu, kan anak-anak langsung pada nyerbu kantin. Nah, aku ketoilet dulu sama Vivian yang juga kebetulan lagi kebelet pipis. Pas ditoilet, kita ada sedikit pembicaraan gitu.

"Nay, gue mau minta maaf ya."
"Minta maaf buat apa, Vi?"
"Yaa, kan selama ini, hubungan kita kurang baik. Terus, gue juga sering banget ngejek lo Mipel. Jadi gue mau minta maaf sama lo."
"Santai aja kali, Vi. Gue udah lupain kok soal itu."
"Heum, ternyata untung juga ya, kalo punya temen pelupa kayak lo. Hehe."
"Uh, tetep deh ya, ngejeknya."
"Hehe, sorry deh. Jadi sekarang kita temenan ya?"
"Iyaa."

Aku dan Vivian pelukan. Ternyata, semuanya jadi membaik setelah Vivian jadian sama Kenzi. Alhamdulillah deh :)

***

Begitu pulang sekolah, gue sama Devand langsung sibuk beres-beres buat berangkat ke Villa sore ini. Dan tante Mery yang bantuin kita. Tante Mery juga gak lupa kasih wejangan ke kita. Kayak "jangan lupa bawa jaket, biar nanti gak kedinginan". Terus, "Makannya jangan sampai telat dan sembarangan." dan masih banyak lagi wejangan dari tante Mery yang lain.

"Sorry ya, Nay. Nyokap gue emang suka berlebihan gitu." Devand memberi pengertian kepadaku.
"Gak apa-apa kok. Vand. Orang tua kan emang gitu. Gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kita. Wajar aja lah. Nyokap gue juga biasa gitu kok." kataku mengerti.

Devand tersenyum tipis. Dan begitu selesai beres-beres, dan udah waktunya berangkat, aku dan Devand langsung jalan menuju teras depan. Tapi pas lewat kamarnya kak Rangga, aku liat kak Rangga juga udah bawa tas yang gede banget.

"Lo mau kemana?" tanyaku.
"Mau ke Villanya Vivian." jawabnya.
"Apa?" Devand juga ikutan kaget.
"Kok bisa sih? Lo diajak?" tanyaku masih tak percaya.
"Ya bisa lah, Vivian sendiri kok yang tadi siang ngajakin gue sama Andre." jawab kak Rangga, sedikit emosi.

Aku sama Devand cuma bisa lirik-lirikan. Aku gak bisa ngebayangin, gimana kalo kak Rangga harus berada disana juga. Si Vivian emang bener-bener deh. Kayaknya dia emang mau bikin acara liburan kita berantakan.

"Lo pergi sama siapa?" tanya kak Rangga, kemudian.
"Gue sama Devand, berangkat pake mobilnya Radit. Sama Keyra juga." jawabku.
"Oh. Ya udah deh. Lagian kita juga mesti kerumahnya Vivian dulu kan." kak Ranggapun pergi duluan. Tapi sebelum dia sempat naik kemotornya, aku menahannya.

"Ada apa?" tanyanya.
"Gue mohon jangan bikin masalah ya." pintaku sungguh-sungguh. "Lo gak mau kan bikin gue malu dan ngancurin acaranya Vivian."
"Ok." jawaban kak Rangga benar-benar membuatku lega. Setelah itu, barulah dia ku biarkan pergi untuk menjemput kak Andre.

Menit berikutnya, mobil Radit pun datang untuk menjemputku dan Devand. Didalamnya juga sudah ada Keyra. Tanpa menunggu waktu lama, kamipun segera berangkat menuju rumah Vivian. Aku menceritakan tentang kak Rangga yang ikut, pada Radit dan Keyra. Mereka kaget banget dan memiliki ke khawatiran yang sama denganku. Takut kak Rangga berulah.

***

Akhirnya kami sampai juga di Villa keluarganya Vivian. Waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam. Sampai disana, kami disambut oleh suami-istri yang menjaga Villa itu. Vivian memperkenalkan kami pada dua orang yang ramah itu. Kardi dan Sri nama kedua suami-istri itu.

Kemudian Vivian menunjukan kamar-kamar untuk kami. Setelah mandi dan ganti baju, kami diajak makan malam. Semua terlihat makan malam dengan tenang. Vivian dan Kenzi pamer kemesraan di depan kita semua. Jonash melirik kearah ku. Dan aku langsung mengisyaratkan bahwa aku tidak apa-apa. Idon sedikit bikin ribut karena kejahilannya pada si kembar yang kompak banget itu. Huh, Idon selalu kayak gitu. Nggak piringnya si Kiran lah yang ditarik-tarik. Nggak lauknya si Karin lah yang diambilin sama dia. Tapi berkat dia, suasana makan malam ini tidak begitu tegang.

Selesai makan malam, kami duduk bersama dikolam renang belakang Villa ini, dengan ditemani cemilan. Dan Vivian lagi-lagi mengajakku untuk bicara.

"Hai, Nay."
"Hai, Vi."
"Gimana? Suka gak satnite-an di Villa gue?"
"Suka banget, Vi. Makasih ya udah ngajakin gue."
"Ehm, lo pasti kaget kenapa juga ada kak Rangga ya?"
"Iya."
"Sorry ya. Sebenernya sih, ini usulnya si kembar itu. Yah, lo tau sendiri kan, mereka ngefans banget sama kak Rangga."

Aku melirik pada kak Rangga yang duduk bersama kak Andre. Dan disana juga ada si kembar yang mengajaknya ngobrol. Tapi yang ku lihat, dia sangat tidak menikmati obrolan itu. Karena 99 % obrolan itu, di isi oleh suara berisiknya si kembar. Aku dan Vivian tertawa geli.

"Kasian kak Rangga ya, Nay."
"Apa? Kasian? Gue sih nggak. Biar tau rasa tuh dia."
"Kenapa sih? Lo masih marahan sama dia?"
"Nggak kok."
"Baikanlah, Nay. Walaupun kalian udah putus, kan tetep bisa jadi temen."

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Vivian. Sesaat kemudian, kami semua terpaku pada permainan gitarnya Ruben. Semua mata tertuju pada Ruben. Dia bermain gitar sambil menyanyikan lagu Right Here Waiting nya Richard Marx. Romantis banget!

"Nay, ini cuma perasaan gue atau apa yah?" Vivian mengajakku bicara lagi, setelah kami sempat terpaku beberapa detik oleh suara merdu Ruben.
"Kenapa, Vi?" tanyaku bingung.
"Kayaknya mata Ruben tertuju sama lo deh." Vivian mengira-ngira.

Aku segera memastikan. Dan ternyata Vivian benar. Sambil nyanyi yang bagian "Wherever you go, whatever you do, i will be right here waiting for you" mata Ruben tertuju kepadaku. Aku jadi deg degan dan salah tingkah.

"Perasaan lo aja kali, Vi." ujarku, kemudian.
"Nggak, Nay. Gue yakin banget." Vivian kekeuh. "Kayaknya dia emang nyanyi buat lo deh, Nay. Iih so sweet banget sih."

Aku tau yang dikatakan Vivian itu benar. Tapi aku berharap itu tidak benar. Anak-anak langsung tepuk tangan untuk nyanyian Ruben barusan, kecuali kak Rangga. Ya, aku tau apa alasannya melakukan itu. Masih sama, karena Ruben adalah anaknya om Agustira.

"Lagi dong, Ben." pinta Keyra.
"Iya, Ben." Kenzi menimpali.
"Gimana kalo lo aja yang main, Ken." tantang Ruben. "Buat Vivian tuh. Kan baru aja jadian."

Usul Ruben mendapat dukungan dariku dan anak-anak yang lain. Kenzi tidak bisa menolak lagi. Diapun menyetujui untuk memainkan sebuah lagu untuk Vivian. Aku menyenggol bahu Vivian yang langsung malu. Kenzi mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi lagu Especially for you nya Mymp. Kami semua menikmatinya, sampai selesai.

Hari semakin malam, angin disini juga bertiup semakin kencang, Akhirnya kami memutuskan untuk masuk kedalam. Di dalam, kami melanjutkan satnite ini dengan menonton DVD film. DVD film romantis yang ada disini, jadul semua. Setelah dipilih-pilih, akhirnya kita nonton  The Notebook. Aku nonton sampai ketiduran di bahunya Jonash. Begitupun anak-anak lain, semuanya pada ketiduran satu-satu diruang tengah. Gak ada yang nonton filmnya sampe abis. Parah!

***

Pagipun datang. Mang Kardi dan istrinya langsung membangunkan kami. Pagi minggu yang mendung di sini. Langit berwarna kelabu. Angin berhembus kencang. Aku berjalan menuju teras dengan segelas teh hangat ditangan. Hembusan angin yang dingin menerpa tubuhku. Aku menatap sendu pada langit kelabu. Alangkah indahnya, pikirku. Aku merapatkan jaketku ketubuh, agar angin dingin ini tak mendapat celah untuk masuk. Ku hirup teh yang kubawa tadi. Mang Kardi sudah sibuk membersihkan halaman yang penuh sampah, akibat daun pohon yang sudah kering berjatuhan diterpa angin. Aku berjalan menghampirinya.

"Pagi, mang." sapaku.
"Pagi, neng." balasnya ramah. "Eneng kenapa disini? Diluarkan dingin, neng. Nanti masuk angin." mang Kardi mengingatkan.
"Tapi kalo cuma berdiam didalam gak bisa liat pemandangan, mang." ujarku, bandel.

Mang Kardi hanya tersenyum tipis, lalu melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba Ruben datang.

"Pagi, Ben." sapaku.
"Pagi." jawab Ruben. "Wah, lo pasti ngegangguin mang Kardi kerja ya, Nay." tuduhnya.
"Nggak kok." jawabku cepat.
"Neng ini cuma ngajak saya ngobrol sebentar kok, den. Gak ganggu." mang Kardi membelaku.
"Denger tuh." ujarku kesal, pada Ruben.

Ruben hanya tertawa geli. Lalu dia mengajakku masuk kedalam untuk sarapan.

Bi Sri sudah memasak nasi beserta lauknya untuk makan pagi kami. Makanan yang cukup berat untuk pagi kami disini. Mungkin karena bi Sri memang memakan nasi untuk setiap makan pagi mereka. Tak hanya itu yang membuat kami terheran. Bi Sri juga membuatkan sambal yang sangat pedas. Aku menyendokkan nasi kepiringku, lalu memilih lauk yang tersedia.

"Jangan pake sambel, Nay. Nanti lo sakit perut, kayak waktu itu." ucapan kak Rangga mengejutkanku.

Aku mungkin lupa pada kejadian beberapa bulan lalu, yang membuatku harus masuk rumah sakit gara-gara diare. Itu kejadian paling menyebalkan. Dan aku tidak mau lagi mengalaminya.

"Iya, Nay. Jangan." Keyra ikut mengingatkan. "Ntar lo bisa masuk rumah sakit lagi."
"Kapan gue pernah masuk rumah sakit gara-gara sambel?" tanyaku.
"Ok. Nayla gak bakal inget soal itu." Radit menyimpulkan.

Dan aku memutuskan untuk tidak memakan sambel itu. Karena tiba-tiba saja, aku ingat kalo perutku gak kuat makan pedas. Tapi kata-kata kak Rangga tadi, membuat anak-anak yang tidak tau kami kakak-adik, pastinya bingung mengapa kak Rangga tau soal aku yang anti makan pedes.

"Wah kak Rangga masih tetep perhatian ya sama Nayla. Padahalkan udah putus." ujar Vivian, kemudian.
"Iya nih." Kenzi menimpali. "Kalian kenapa gak balikan aja sih."

Fuh! Makanan dimulutku langsung menyembur ke muka Radit yang duduk disebelahku. Habisnya aku kaget banget denger kata-kata Kenzi.

"Aduh. Kenapa mesti ke muka gue sih Nay?" tanya Radit sambil membersihkan makanan yang ada di wajahnya.
"Sorry, Dit." kataku sambil ikut membersihkan wajah Radit. "Soalnya gue gak enak kalo harus nyembur ke mukanya Jonash."

Jonash tertawa mendengar ucapanku. Ya, aku memang duduk diantara Radit dan Jonash. Dan aku memilih untuk menyembur Radit. Suasana diruang  makan jadi berisik karena anak-anak yang menertawakan Radit. Keyra dan Idon yang tertawa paling keras. Dasar!

Selesai makan, Vivian mengajak kami berjalan-jalan disekitar Villa. Udaranya sejuk banget. Langit sudah tidak mendung lagi. Dan juga tidak panas. Teduh. Aku berjalan sambil merangkul Keyra. Dan tiba-tiba, mataku bertemu dengan mata Ruben. Kami sama-sama terdiam, lalu tersenyum.

Setelah lima belas menit berjalan, kami berhenti di sebuah danau. Tempatnya indah. Ada dua buah sampan. Juga rumah pohon. Rumah pohon? Haha yang satu ini nih yang menarik perhatianku. Meskipun terlihat sudah agak rapuh, tapi aku nekat menaikinya. Beruntung rumah pohon ini masih kuat menahan berat tubuhku. Diatas sini, anginnya makin kencang berhembus. Sementara aku disini, anak-anak yang lain main-mainan air, sama nyoba-nyobain ngedayung sampannya sampai ke tengah danau.

Aku melihat Ruben yang cuma duduk sendirian. Jadi aku memutuskan untuk mengajaknya ikut naik ke rumah pohon bersamaku.

"Wah, pantesan lo gak gabung sama anak-anak. Ternyata dapet tempat yang lebih keren toh." kata Ruben begitu sampai diatas.

Aku hanya tersenyum. Ruben lalu duduk disampingku. Kami melihat tingkah anak-anak, dari atas sini. Sebenarnya, kak Rangga liat kalo aku lagi duduk sama Ruben. Tapi pas dia mau nyamperin, si kembar langsung nahan dia dan gak ngebiarin dia pergi. Haha susah deh kalo punya fans yang agresif kayak si kembar.

Waktu lagi liat-liat anak-anak yang dibawah, gak sengaja mataku tertuju pada Jonash. Dia melambaikan tangannya, lalu tersenyum. Dan aku juga membalas seperti itu. Aku juga mengisyaratkan untuk memintanya naik ke atas sini bersamaku dan Ruben. Tapi dia menggelengkan kepalanya pertanda tidak mau.

"Lo keliatan deket banget sama Jonash ya, Nay?" ujar Ruben tiba-tiba.
"Ya gitu deh." jawabku. "Kan dia itu temen gue dari kecil."
"Wah, beruntung banget si Jonash, udah kenal sama lo dari kecil." komentar Ruben.
"Biasa aja kali, Ben." ujarku sinis.
"Nay." Ruben menggenggam tanganku. "Masih inget kejadian yang diatas gedung?"

Aku menggelengkan kepala. Ruben tertunduk lesu, lalu tertawa pelan dan melepaskan genggaman tangannya. Aku menjadi bingung dibuatnya.

"Apa lo juga bakal ngelupain liburan yang indah ini, Nay?" tanyanya setelah diam beberapa saat.
"Berharap sih nggak, Ben." jawabku lembut. "Karena dalam liburan ini, ada elo."

Ruben terkejut mendengar ucapanku. Dia tersenyum. Kemudian berniat untuk memelukku. Tapi gagal, karena Devand manggil-manggil aku dan Ruben buat nyuruh turun. Kami akan segera pergi dari tempat ini, karena hari sudah tak bersahabat lagi. Hujan mulai turun, dan kami harus segera kembali ke Villa.

Kami berlarian meninggalkan danau. Meskipun sudah susah payah berlari cepat untuk menyampai Villa, tapi tetap saja kami basah kuyup. Dalam perjalanan pulang ke Villa, Ruben membuka jaketnya dan memayungkannya kekepalaku. So sweeet gak tuh. Ahahahahah

Setelah lari-larian, akhirnya kamipun sampai di Villa. Semuanya basah kuyup. Kami kedinginan. Mang Kardi dan bi Sri khawatir melihat kami. Tapi kami malah tertawa. Ini liburan yang paling menyenangkan. Basah kuyup bareng. Capek bareng. Lari-larian bareng. Segala hal yang tidak boleh untuk dilupakan. Entah bagaimana aku akan berusaha untuk tidak melupakannya.

Bi Sri membuatkan kami semua teh hangat. Kini kami sudah berganti dengan baju yang kering. Tapi rasa dingin tetap menyelinap. Aku meminum tehku perlahan. Diluar, hujan masih turun sangat deras. Padahal nanti sore, kami sudah harus kembali pulang ke rumah, jika tidak mau bolos sekolah massal, besok.

***

Satu jam berlalu, akhirnya hujanpun reda. Kami sudah mulai membereskan barang, untuk segera pulang. Meskipun hujan sudah reda, tapi dinginnya masih terasa menusuk.

Sebelum pulang, Vivian mengajak kami berkumpul diruang tengah.

"Nah, biar liburan kali ini gak terlupakan gitu aja, apalagi oleh si Mipel itu," Vivian menunjukku. "Kita foto bareng yah, buat kenang-kenangan." pinta Vivian.

Kamipun menyetujui rencana Vivian. Kami segera menuju halaman depan untuk berfoto bersama. Mang Kardilah yang bertindak sebagai photografernya. Tapi sebelumnya, mang Kardi diajarkan terlebih dahulu, bagaimana cara menggunakan kamera milik Vivian. Setelah pelajaran kilat dari Vivian, akhirnya mang Kardipun mengerti dan segera mempraktekan ilmu dari Vivian itu kepada kami. Mang Kardi bergaya seperti photografer yang sudah ahli. Lalu, jeprat jepret pun dimulai. Kami bergaya macam-macam. Mulai dari yang bergaya manis, sampai muka konyol gak karuan. Ahahahahah

Puas jeprat jepret, kamipun berpamitan pulang kepada mang Kardi dan bi Sri. Mereka terlihat sedih, karena Villa ini akan kembali sepi jika kami pergi. Kamipun sebenarnya berat untuk mengakhiri liburan ini. Tapi mau gimana lagi, kami tetap harus pulang.

Dalam perjalanan pulang, kami semua tidur, kecuali buat para supir yang nyetir. Ahahahah

Satu kata, ini benar-benar liburan yang menyenangkan.
***

No comments:

Post a Comment